Get Adobe Flash player
10 October 2009

Kuasa pemulihan yang dahsyat

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam Khotbah Minggu |

tarianC10.  Kuasa pemulihan yang dahsyat

Ada dua sosok perempuan yang tercatat dalam Alkitab, memiliki peran besar bagi perkembangan kejayaan umat pilihan Allah. Mereka adalah Rut dan Ester.

Dalam kebijakan-Nya, Tuhan Allah merancangkan kebahagian bagi mereka dan berdampak bagi bangsa Israel pada masanya, meski dengan latar belakang kehidupan yang berbeda.

Rut adalah perempuan keturunan Moab -Non Yahudi-, ia disisipkan masuk dalam kelompok Yahudi. Ester sebaliknya, ia adalah seorang Yahudi yang ditempatkan pada komunitas non Yahudi, untuk kelak menyelamatkan orang Yahudi dari rencana kemalangan.

Dari Kedua sosok perempuan tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan di dalam Kitab Suci sangat berarti -signifikan-, bahkan bila melihat jauh kebelakang pada saat zaman Musa. Tabernakel yang diperintahkan oleh Allah untuk dibangun, didukung dengan sepenuh hati oleh kaum perempuan pada masa itu, hingga terwujud dengan baik sama seperti yang digambarkan oleh Allah kepada Musa.

Dari kejauhan akan nampak karya perempuan Israel, berupa tudung pada Tabernakel. Masuk ke dalam komplek Tabernakel maka akan dijumpai Bejana Pembasuhan yang dihasilkan dari persembahan cermin-cermin rias kaum perempuan di kala itu. Bejana yang dihasilkan dari cermin-cermin rias para perempuan itu adalah tempat yang menjadi simbolisasi untuk membersihkan diri sebelum seseorang beranjak lebih lanjut  untuk memuliakan Dia di kemah pertemuan.

1. Pilihan yang salah

Rut 1:1 , “Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.”

Setelah memasuki negeri perjanjian, bangsa Israel memasuki babak baru dalam kehidupan mereka. Waktu berlalu, setelah Yosua mangkat, bangsa Israel dipimpin oleh para hakim. Pada masa kepemimpinan para hakim inilah, sejarah berlanjut.

Di suatu masa di zaman para hakim memerintah, terjadilah kelaparan hebat di tanah Israel. Seorang dari Betlehem Yehuda -tanah warisan suku Yehuda- bernama Elimelekh berinisiatif pergi ke Moab, sebagai upayanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Ia lalu pergi bersama dengan seorang istri dan dua anak laki-lakinya :

Tinggalkan Bethelem – Moab

Kepergian itu sendiri sangat disayangkan, setelah bangsanya dituntun keluar dari Mesir oleh Allah hingga masuk ke negeri perjanjian. Tapi dengan kehendak sendiri, keluarga ini meninggalkan negerinya dan menuju negeri lain, negeri Moab -negeri dari orang-orang yang tidak menyembah Allah yang hidup-

Elimelekh memilih melaksanakan pilihannya. Ia punya pertimbangan sendiri, dan tidak meminta petunjuk dari-Nya. Berbalikan jauh dengan namanya sendiri “Elimelekh” yang berarti Allah itu rajaku, ia tidak tempatkan Allah sebagai raja tetapi melangkah dengan keinginannya yang se-enak-nya sendiri.

Elimelekh mewakili sikap kebanyakan orang dari bangsa Israel kala itu, yang memilih jalannya sendiri-sendiri. Saat terjadi bencana, memilih tinggalkan negerinya. Tidak mau memeriksa hati, tidak sudi mengkoreksi diri, apa yang menjadi Janji Tuhan bagi Israel.

Ingat !

Ulangan 28:1-13.

Janji Tuhan

Dalam gulungan perintah-Nya, Janji itu telah diucapkan dan ditulis oleh Musa bagi bangsa Israel, dan diperkatakan kembali pada masa Yosua. Ayat 1 dituliskan, “mendengar dan melakukan Firman Tuhan …maka Ia akan memberikan berkat-Nya“, ayat 13 lebih lanjut menegaskan bahwa Ia akan mengangkat bangsa pilihan-Nya menjadi kepala, lebih unggul dibanding dengan bangsa lain.

Tapi Israel saat itu tidak jadi kepala, tidak lebih baik dari negeri lainnya. Di negerinya sendiri terjadi bala kelaparan, kenapa? Karena bangsa ini berjalan sekehendak hatinya sendiri, maka yang diterima bukan berkat melainkan kutuk.

Banyak orang Israel yang menduakan Tuhan, sekilas nampak beribadah tapi hatinya menjauh dari-Nya.

Buah dari “kutuk” yang diperoleh, masa yang sulit terjadi ditengah bangsa Israel. Orang-orang Israel, yang tidak segera berbalik kepada-Nya, berjalan tanpa arah, tanpa kendali. Semuanya bergerak menurut arah yang baik menurut apa yang baik dalam pikiran mereka masing-masing.

2. Akibatnya  – The effect

Rut 1:3-5 , “Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. 5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya .”

Harapan kehidupan yang lebih baik selepas pindah ke Moab, pada kenyataannya menunjukan fakta berbeda.

Elimelekh kepala keluarga itu mati, istrinya lalu hidup dengan kedua anak laki-lakinya yang masing-masing menikahi perempuan Moab. Namun tak lama berselang, kedua anak laki-lakinya mati pula. Di negeri asing, keluarga itu justru :

Semakin menderita

sebuah suasana yang sangat tidak mengenakkan, masa yang suram karena garis keturunan keluarga Elimelekh dapat dianggap berakhir -karena secara hukum Israel tidak ada lagi anak laki-laki yang meneruskan pewarisan generasi tersebut.

Tapi ada kelanjutan kisah pada keluarga ini :

3. Tindakan yang bijak – The wise action

Rut 1:6-7 , “Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. 7Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda

Pilihan yang salah membuat kondisi jauh lebih sulit. Hidup jauh lebih menderita dibanding sebelumnya dan itulah yang dirasakan oleh Naomi, istri dari Elimelekh. Kemalangan yang dirasakannya, akhirnya membawanya pada suatu tindakan bijak, menjadi titik balik perubahan bagi keluarga ini. Naomi mengambil tindakan :

Kembali ke Bethelem

Ketika ada kesempatan, bergegas ia kembali ke negerinya. Ia pulang ke kotanya. Kepulangan itu didasari dengan beberapa alasan.

Mengapa?

A. Rut 1:6b , “sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.

Ia mengambil keputusan dan berujung pada tindakannya setelah ia :

Mendengarkan berita baik

Kitapun bersyukur bila masih mendengar kabar baik (Firman Allah) lalu melakukannya dengan setia, maka akan ada kesuksesan (Lukas 8:18).

Dari mendengar Firman lahirlah iman (Roma 10:17), dan iman itu yang mengalahkan dunia. Maka kabar baik -injil- perlu diperdengarkan dengan sejelas-jelasnya. Dibaca, diuraikan atau diterangkan dengan jelas sebab akan membawa dampak besar (Neh. 8:9,19; 9:3).

B. Rut 1:20-22 , “Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. 21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” 22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

Ketika Naomi menuju kotanya di Betlehem, ia sapa oleh beberapa orang yang pernah mengenalnya. Naomi menjawab sapaan mereka, namun ia berkata karena kemalangan yang ia alami kini, Naomi minta dipanggil Mara, sebagai ungkapan apa yang ia alami. Naomi telah merasakan suasana hidup yang penuh :

Kepahitan

Saat di Moab, Naomi mengalami hidup yang pahit. Namun Naomi tidak bertahan dalam suasana pahit terus. Lebih baik ia kembali ke negerinya, sebab tidak ada gunanya bertahan di negeri orang dalam keadaannya.

Ingat

Lukas 15:17-20 , “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa . 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Mirip dengan kisah Naomi, pada perjanjian baru Yesus mengajarkan kepada orang banyak dalam suatu perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). Sesaat setelah ia “nodong” warisan kepada bapanya, ia pergi ke negeri asing. Bersuka cita dan ber-ria-ria hingga habis harta warisannya.

Dalam kondisi yang tidak memiliki harta lagi, ia bekerja pada pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan baginya. Kelaparan dan tidak

ada sanak keluarga, iapun lalu :

Sadar dan bertindak

Saat semua hartanya telah habis, ia menjadi penjaga babi dan terbitlah kesadaran itu. Di rumahnya, bapanya mencukupi keperluan pekerjanya, apalagi kebutuhan anak-anaknya. Maka ia rindu pulang kerumah bapanya, dan benar saat ia pulang sang bapa  menyambutnya dengan sukacita.

Anak ini sadar akan keadaannya, bahwa ia telah mengecewakan bapanya. Ia berucap kepada bapanya untuk diterima menjadi pekerjanya saja, tidak layak menjadi anaknya. Tapi Sang Bapa punya kebijakan-Nya, kepada yang kembali kepada-Nya dengan SEPENUH HATI maka Ia tetap akan menyayanginya dan tidak akan melepaskankan hak istimewanya.

Pertobatan yang diucapkan jangan dianggap sepele, sebab dengan hati dan mulut orang percaya ada pengakuan dari-Nya.

Maka tidak mengherankan pula, sebagai aktualisasi praktis para penatua Tabernakel telah mempraktekkan tradisi berdasar  pengajaran Alkibiah, sebelum melaksanakan komuni perjamuan Suci. Menyerukan terjadinya rekonsiliasi bila ada kepahitan dan pengakuan kepada sesama di hadapan-Nya, ber-beresan dan datang kembali kepada-Nya dengan keberanian percaya.

4. Akhir yang menyenangkan

Rut 4:14-17 , “Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel. 15 Dan dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih; sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” 16 Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya. 17 Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: “Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki”; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud .

Di masa tua hidup Naomi, akhirnya ia melihat betapa indah rancangan Tuhan baginya. Dari hidup yang menderita Tuhan ubahkan kepada kebahagiaan. Para perempuan pada masanya yang ada di sana mengungkapkan, Naomi memangku Obed, cucu laki-lakinya. Yang kelak akan tumbuh dewasa dan menjadi kakek dari Daud, raja besar Israel. Naomi merasakan :

Kebahagiaan yang luar biasa

Dari suatu situasi yang malang, suami dan anak-laki-lakinya mati, bila tidak ada penerusan garis keturunan, hukum Israel akan mencatat keluarga ini punah. Ketika Naomi mengambil tindakan bijak, dari hasil dari mendengar kabar baik, membuahkan akhir yang bahagia dalam hidupnya.

5. Penutup

Mazmur 30:11-13 , “Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!” 12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita, 13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Raja Daud pernah pula merasakan hal yang sama, ia pernah berada pada masa yang pahit. Saat dimana ia harus terusir dari istana karena pemberontakan anaknya sendiri. Dalam mazmurnya ia menyatakan hal yag ia rasakan, hingga ia lewati masa itu dan kerajaannya tetap tegak hingga masa ia menutup mata. Inilah mazmur bagi-Nya :

Kau ubah ratapanku

jadi tarian

Bila kita dengar-dengaran kepada perintah-Nya dan melakukannya dengan tekun dan setia. Maka tidak ada sesuatupun yang mustahil, suasana kehidupan yang penuh airmata digantikan menjadi kehidupan mata air yang membawa sukacita, berlimpah berkat Kasih setia-Nya. Ia membuat sesuatu yang berbeda!! (MC)

in English

C10. Tremendous power of recovery

Recorded in the Bible there are two figures of women who have a major role in the development of the glory of God’s chosen people. They are Ruth and Esther.

In its policies, the Lord God’s design for happiness for them and this affects the people of Israel at that time, although both come from backgrounds different life.

Ruth is a woman descended from Moab, Non-Jews, she is inserted into the Jewish group. Esther contrary, she was a Jew who was placed on  non-Jewish community, to eventually save Jews from the plans misfortune.

The two female figures indicate that the role of women in the Bible is very meaningful and significant, even when viewing far backward in the time of Moses. Tabernacle instructed by God to be built, supported wholeheartedly by the women in those days, until realized well the same as described by God to Moses.

From a distance would appear the work of Israeli women, the veil in the Tabernacle. Enter into the Tabernacle of the complex will be found washing vessels resulting from the offering vanity mirrors in the women at that time. Vessels resulting from vanity mirrors the women’s is the place to be a symbol to clean up before someone went further to praise Him in the camp meeting.

1. Wrong choice

Ruth 1:1, “In the days when the judges ruled there was a famine in the land of Israel. Then go one from Bethlehem-Judah with his wife and two sons to the Moab area to settle there as a foreigner. ”

After entering the treaty country, the people of Israel entered a new phase in their lives. Time passed, after Joshua died, the Israelites were led by the judges. During the leadership of these judges, history continues. At a time in the days when the judges ruled, there was great famine in the land of Israel. One of Bethlehem Judah, Judah inherited the land, named Elimelech took the initiative to go to Moab, as an attempt to seek a better life.

He then went with his wife and two sons:

Leave Bethelem – Moab

The departure itself is very unfortunate, after the nation was led out of Egypt by God to enter the land deal. But with the will of his own, the family left the country and into another country, the country of Moab, the country of people who do not worship the living God.

Elimelech choose implement choice. He has his own considerations, and not ask for guidance from Him. This is in contrast with his own name “Elimelech” which means God is my King, he does not put God as King, but went with his own desires at will.

Elimelech represents the attitude of most people of Israel at that time, who chose their own path. When disaster strikes, chose to leave the country. Do not want to check the heart, not going to correct myself, what is the promise of God  to Israel.

Remember!

Deuteronomy 28:1-13.

Promises of God

In his command scrolls, pledges have been spoken and written by Moses for the Israelites, and delivered back to the time of Joshua. verse 1 is written, “hearing and doing the Word of God … and He will give his blessing”, verse 13 further confirmed that he would raise his chosen people to be the head, is superior to other nations.

But Israel was not a head, no better than any other country. Occurred in his own country famine, why? Because of this people to walk as they please themselves, then received no blessing but a curse.

Many people of Israel are God’s timing, a quick look but his serve away from him.

Fruit of the “curse” is obtained, a difficult place in the midst of the Israelites. The people of Israel, who did not immediately turn to Him, walking with no direction, no control. Everything running as according to what is good in their thoughts of each.

2. Consequently

Ruth 1:3-5, “Then die Elimelech, Naomi’s husband, so she left with her two children. 4 They took the women of Moab: the first named Orpah, the second named Ruth; and they dwelled there about ten years old. 5 Then died also both of them, namely Mahlon and Kilyon, so she lost both her son and husband.

Hopes to get a better life after moving to Moab, it shows the different facts in the hope of beginning.

Elimelech’s family head died, his wife and lived with his sons, each married women of Moab. But this did not last long, not long ago, the two sons also died in a foreign country, the family was actually:

Increasingly suffer

an atmosphere very unpleasant, bleak period for Elimelech’s family lineage can be said to have ended, because Israeli law, no more sons as heirs to continue the generation.

But there rest of the story on this family:

3. Wise action

Ruth 1:6-7, “Then she arose with her daughters in law and she came home from the country of Moab, Moab area because she had heard that the Lord has watched his people and giving them bread. 7 therefore she arose from that place, together with two daughters in law. When they’re on the road to return to the land of Judah ”

The wrong choice to make conditions more difficult. Life is much more suffering than before and that’s what happened to Naomi, the wife of Elimelech. Misfortune she felt, finally took her to a wise action, a turning point for change in this family. Naomi take action:

Back to Bethelem

When the opportunity arose, she hurried back to her country. She returned to her city. Return is based on a number of reasons.

Why?

  1. Ruth 1:6 b, “because in the Moab area she heard that the Lord has watched his people and give food to them.”

She took the decision and immediately act upon it:

Listening to good news

We also thank if still hear the good news (the Word of God) and do it faithfully, then there will be success (Luke 8:18).

Because of hearing the Word was born of faith (Romans 10:17), and the faith that overcomes the world. So good news “gospel” should be preached with clarity. For a read, discussed or explained clearly would have an impact so large (Neh. 8:9,19; 9:3).

B. Ruth 1:20-22, “But she said to them:” Do not mention me Naomi; name it me Mara, because the Almighty has done a lot of bitterness to me. 21 With hands full I go, but with empty hands I repatriate the LORD. Why do you say I’m Naomi, because the LORD has risen witnesses against me and the Almighty has brought calamity to me. “22 So Naomi returned together with Ruth, the Moabite woman, daughter in law, which returned from the country of Moab. And they came to Bethlehem at the beginning of barley harvest. ”

When Naomi to Bethlehem her city, she was greeted by several people who never knew her. Naomi answered their greeting, but she said to them because of the misfortunes that she experienced now, Naomi called Mara asked, as an expression of what she experienced. Naomi has felt the atmosphere of a full life:

Bitterness

While in Moab, Naomi had a bitter life. But Naomi did not survive in an atmosphere of bitterness continues. Better she returned to his country, because there’s no point in the country people survive in such a state.

Remember the story of the lost child

Luke 15:17-20, “Then he realized it, he said: How many people my father hired an abundant food, but I’m here to die of starvation. 18 I’ll get up and go to my father and said to him: Father, I have sinned against heaven and against the father, 19 I’m no longer worthy father of the child mentioned; treat me as one of his father’s wage. 20 So he arose and went to his father. When he was still far away, his father saw him, and was moved with pity. His father ran to get him and then embraced and kissed him. ”

Similar to the story of Naomi, the new covenant Jesus taught the crowds in a parable of the prodigal son (Luke 15:11-32). Shortly after he “asked” inheritance to his father, he went to a foreign country. Rejoice and feast until exhausted all his estate.

Under conditions that do not own property, he had to work with the work that was not fun for him. Suffer from hunger and no relatives, then he began:

Conscious and act

When all his property had expired, he became keeper of swine, and arose awareness. In his home, his father enough for everything and workers, let alone the needs of children. So he missed his father to come home, and was right when he came home the father welcomed him with joy.

This child is aware of the situation, that he had disappointed his father. He was saying to his father to be admitted to the employees, not worthy of being his son. But the Father has his own policies, to the return to Him with all his heart and he will still love him and will not release privileges.

Repentance is said not to be taken lightly, because the hearts and mouths of people believe there will be forgiveness from Him.

Besides it is not surprising, as a practical actualization, the elders of the Tabernacle have been practicing the tradition by teaching from the scriptures, before taking Holy Communion meal. Called for reconciliation when there is bitterness to anyone, and mutual claims against one another in sin before Him, finish first every violation or bitterness that exists and only then with courage and confidence we receive the Body and Blood of Christ in Holy Communion.

4. End fun

Ruth 4:14-17, “Therefore the women said to Naomi:” Blessed be the Lord, who has been willing to help you on this day with a kinsman.  Be a famous presumably the boy’s name in Israel. 15 And he that will refresh your soul and keep you on time has white hair; cause-law who loves you had borne, a woman who is more to you than seven sons. “16 And Naomi took the child and placed it on her lap and she was the babysitting. 17 And women her neighbors gave to the boy’s name, he said: “In Naomi was born a boy”; and they called his name Obed. He was the father of Jesse, father of David. ”

In the old days of his life, Naomi finally able to see how beautiful God’s plan for him. Who suffer from life to God to change lives filled with happiness. The women in his time who were there expressed, Naomi lap Obed, her grandson. Who would grow up and become the grandfather of David, King of Israel. Naomi felt:

Extraordinary happiness

Of an unfortunate situation, my husband and son-brother died, when no forwarding lineage, Israeli law will record this family became extinct. When Naomi takes a wise move, because of hearing good news, led to a happy outcome of his life.

5. Closing

Psalm 30:11-13, “Hear, Lord, and mercy on me, Lord, be my helper!” 12 I have wept person you turn into dancing, have you open my mourning fabric, waist bind with joy, 13 so that my soul sings psalm to You and do not settle. O Lord my God, forever I want to sing thanksgiving to Thee. ”

King David had also felt the same way, he had been on a bitter period. When, where he had been driven from the palace because of her own rebellion. In Psalm he says what he feels, so he can pass the time and the empire remained upright until the time he closed his eyes. This hymn to Him:

You turn me from my lament into a dance

When we hear a rumor to His commands and do it diligently and faithfully. So nothing is impossible, the atmosphere of a life full of tears replaced the springs of life that brings joy, abundant blessings of His faithful love. He makes something different!! (MC)