Get Adobe Flash player
4 October 2009

MARI KITA KEMBALI KEPADA DIA

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam Khotbah Minggu |

09sept27r

C9.  PENGALAMAN PAHIT BANGSA ISRAEL – THE BITTER EXPERIENCE OF ISRAEL

A. MENOLAK SANG RAJA – REJECT THE KING

Hakim-Hakim 17:6, “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.

Hakim-Hakim 21:25 , “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri

Terjadilah masa-masa yang suram di dalam sejarah bangsa Israel. Masa di mana bangsa ini :

BERBUAT BENAR MENURUT PANDANGANNYA SENDIRI

DID WAS WHAT RIGHT IN HIS OWN EYES

Berbuat sekehendak hati mereka tanpa lagi memperdulikan perintah Allah. Bangsa Israel melakukan aktivitas  kesehariannya tanpa ketertiban di hadapan-Nya. Sudah tidak ada bedanya lagi menjadi bangsa pilihan,  hidup mereka menjadi sama dengan perilaku bangsa bangsa yang hidup di daerah Kanaan, orang-orang yang telah ada sebelum orang Israel ada di negeri ini.

Tuhan memerintahkan adanya ketertiban di dalam umat-Nya, diajarkan dalam pengajaran-Nya, supaya semuanya dapat berjalan dengan baik. Bila keseimbangan dalam hal ini, hidup tertib sebagai umat-Nya diabaikan maka pastilah akan terjadi kegaduhan bahkan kekacauan.

Demikian halnya dalam persekutuan umat Tuhan di hari ini, perlu ada pengajaran supaya ada ketertiban. Dari pengajaran yang sehat akan menciptakan pengaturan dan pola interaksi yang sehat pula diantara umat Tuhan, untuk tujuan memuliakan-Nya. Pengajaran akan mengajarkan banyak hal tentang masa lalu sebagai pelajaran untuk masa sekarang, dan mengenal ke arah mana akan menuju setelahnya di masa yang akan datang.

Kenal dengan benar dalam jalan kehidupan, kemampuan untuk menerima logos dari-Nya untuk bertumbuh lebih lagi dan men-transformasikannya menjadi rhema, atas kharisma Roh Kudus. Menjalankan homili –pelayanan imamat- yang lebih dari sekedar tata cara liturgis, tapi mengakar dengan hermeneutika –penfsiran- yang sepatutnya.

Bangsa Israel telah hidup tanpa komando, menolak Firman, menolak Tuhan Allah. Kebenaran yang dilakukan, bukan lagi kebenaran yang bersumber dari perintah Allah, tapi menurut pengertian sendiri-sendiri. Menurut kesenangan diri sendiri.

Dalam suatu bangsa ketertiban di mulai dari keluarga. Berawal dari sepasang suami istri yang hidup tertib, anak-anak membangun ketertiban dengan orang tuanya, dengan saudara-saudarinya. Berkembang dalam jalinan yang lebih luas, hingga pada peran dan posisinya di dalam masyarakat di suatu bangsa. Sejak zaman manusia pertama –Adam dan Hawa- hidup di Eden Tuhan telah ajarkan adanya ketertiban, supaya tidak hidup seenaknya sendiri

Manusia diminta mengelola taman yang indah, di dalamnya ada buah dari pohon yang boleh di makan namun ada juga yang tidak boleh. Tetapi manusia tidak menjalankannya dengan tertib, justru melanggar perintah ketertiban-Nya. Maka manusia terusir dari taman yang indah itu.

Pertumbuhan Gereja Tuhan hingga puncak-Nya kelak, telah pula di dasarkan oleh-Nya. Di bangun atas karya-Nya, dilanjutkan oleh Gereja-Nya dengan menempatkan Dia sebagai kepala Gereja (Ef. 1:10). Meski Gereja-Nya terdiri atas banyak anggota, tetapi bila mengarahkan segala geraknya pada komando dari kepala, maka Gereja akan dapat hidup dalam kehendak-Nya. Gereja akan hidup dan melangkah seturut rancangan-Nya, komando itu ada pada Firman Allah.

Tuhan Allah adalah raja bagi Israel, Ia di muliakan dalam KEMULIAAN-Nya. Ia punya KEDAULATAN dan KUASA. Titah-Nya ada pada Firman-Nya, hakekat-Nya Aku adalah Aku adalah keberadaan yang tidak bisa diduakan. Menolak Titah-Nya berarti menolak Dia sebagai junjungan manusia.

Dengan nada yang sama Kristus yang menerima Kuasa dari Bapa, adalah Dia yang diutus bagi kemuliaan-Nya. Di dalam diri-Nya ada kuasa-Nya. Dia-lah Firman yang menjadi manusia (wujud makna dari Tabernakel-Nya). Menolak Firman Tuhan berarti pula menolak raja dalam kehidupaan jemaat-Nya. Sebab Ia adalah kepala bagi jemaat-Nya. Kepala yang memiliki KEDAULATAN. Dialah yang menyandang gelar Raja Damai. Perihal Kristus sebagai Raja ditempatkan dalam urutan pertama dalam injil-Nya, dan di tampilkan kelak di akhir Kitab Suci dalam posisi-Nya sebagai Ratu Adil dalam Kerajaan Damai-Nya.

Mengikuti Firman-Nya (perintah-Nya), adalah tanda bahwa Ia berdaulat secara nyata di dalam Gereja-Nya. Bila Gereja telah dipersiapkan menjadi Mempelai perempuan-Nya, maka pekabaran Mempelai dan Pengajaran Mempelai akan Alkitabiah bila Kedaulatan Mempelai laki-laki Sorgawi di hormati dalam Sidang Mempelai-Nya.

Kedaulatan Mempelai Alkitabiah akan menjadi titik penting, Pengingkaran atau ketidak konsistenan dalam sikap melaksanakan kedaulatan-Nya, akan berimplikasi serius. Seorang Imam bagi kerajaan-Nya akan tidak menjadi pendamai, tapi dapat menjadi aktor bagi terjadinya perpecahan dalam kesatuan umat pilihan-Nya. Kerajaan Tuhan tergantikan dengan “kerajaan” sendiri-sendiri.

Bangsa Israel menolak raja, mereka tidak mendengarkan perintah-Nya. Ada yang mendengar tapi tidak melakukannya, yang dilakukan adalah BERBUAT BENAR MENURUT PANDANGANNYA SENDIRI. Ada kisah yang tragis, karena menolak Dia sebagai raja. Ada darah yang tertumpah sia-sia, buah dari pengertian yang tidak utuh kepada-Nya.

B. AKIBATNYA – THE EFFECT
Hakim-Hakim 17:1-5, “ Ada seorang dari pegunungan Efraim, Mikha namanya. 2 Berkatalah ia kepada ibunya: “Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kauucapkan kutuk — aku sendiri mendengar ucapanmu itu — memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya.” Lalu kata ibunya: “Diberkatilah kiranya anakku oleh TUHAN.” 3 Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada ibunya. Tetapi ibunya berkata: “Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.” 4 Tetapi orang itu mengembalikan uang itu kepada ibunya, lalu perempuan itu mengambil dua ratus uang perak dan memberikannya kepada tukang perak, yang membuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu; lalu patung itu ditaruh di rumah Mikha. 5 Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim, ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki, yang menjadi imamnya.

Bangsa Israel berbuat benar menurut pandangannya sendiri, dan hal itu tercatat dalam Kitab Suci. Tentang:

BERHALANYA MIKHA

MICAH’S IDOLATRY

Ucapan syukur yang ditujukan kepada Tuhan diterjemahkan dalam tindakan yang tidak benar. Terjadi pencampur adukan iman kepada Tuhan dengan praktek bangsa yang tidak mengenal Tuhan, berujung pada heresy –kesesatan.

Tidak mendengar dengan benar perintah yang telah Tuhan Allah perintahkan melalui Musa hamba-Nya, bahwa “jangan membuat bagimu patung …apapun” untuk kemudian disembah (Kej 20:4). Hukum Torat, loh batu pertama urut dua berbunyi demikian.

Ketika zaman Yosua, perihal ini diingatkan kembali supaya bangsa Israel WASPADA, tetapi yang terjadi adalah bangsa ini melanggarnya. Apa yang dibenci Allah dilakukan, penyembahan berhala menjadi fenomena yang mudah dijumpai.

Untuk alasan spritual sebuah benda ciptaan manusia di stanakan –ditempatkan- menggantikan posisi Allah yang hidup.

 Hakim-hakim 19 : 22 – 25 , “ Tetapi sementara mereka menggembirakan hatinya, datanglah orang-orang kota itu, orang-orang dursila, mengepung rumah itu. Mereka menggedor-gedor pintu sambil berkata kepada orang tua, pemilik rumah itu: “Bawalah ke luar orang yang datang ke rumahmu itu, supaya kami pakai dia.” 23 Lalu keluarlah pemilik rumah itu menemui mereka dan berkata kepada mereka: “Tidak, saudara-saudaraku, janganlah kiranya berbuat jahat; karena orang ini telah masuk ke rumahku, janganlah kamu berbuat noda. 24 Tetapi ada anakku perempuan, yang masih perawan, dan juga gundik orang itu, baiklah kubawa keduanya ke luar; perkosalah mereka dan perbuatlah dengan mereka apa yang kamu pandang baik, tetapi terhadap orang ini janganlah kamu berbuat noda.” 25 Tetapi orang-orang itu tidak mau mendengarkan perkataannya. Lalu orang Lewi itu menangkap gundiknya dan membawanya kepada mereka ke luar, kemudian mereka bersetubuh dengan perempuan itu dan semalam-malaman itu mereka mempermainkannya, sampai pagi. Barulah pada waktu fajar menyingsing mereka melepaskan perempuan itu

Kehidupan yang bersandar pada pengertian sendiri merebak luar biasa pada dinamika sosial bangsa yang disebut pilihan Allah ini.

Ada kekerasan simbolik yang diperlihatkan buah dari pencarian filsafat manusia yang –kembali lagi- menurut pengertian sendiri-sendiri. Penurunan bahkan lebih tepatnya ambruknya tatanan moral bangsa ini dihadapan Allah di catat oleh kitab Suci melalui perilaku Imam-Imam (Nya). Masa gelap tengah terjadi dari tinjauan ke-Tuhan-an.

Bermula dari kehidupan imam yang tidak sepatutnya, mengisahkan masa kesuraman Israel.

Kehidupan imam memiliki tanggungjawab lebih dibanding kaum awam. Ada panggilan dan harapan istimewa bila disandingkan dengan orang lain yang bukan atau belum menjadi imam. Imam adalah pemimpin –suami adalah imam bagi keluarganya- tindak tanduknya akan berdampak dalam hal keteladanan.

Seorang Lewi dalam catatan masa hakim-hakim di atas menjadi korban sekaligus aktor suatu peristiwa yang meng-giris-kan hati.

Kaum Lewi adalah kaum keturunan Israel yang secara khusus ditetapkan oleh sistem hukum pada bangsa-Nya sebagai pelayan bagi Tabernakel. Perannya tidak saja kena-mengena dengan perihal spiritual tapi ia adalah pemimpin bagi upaya pendamaian (utamanya dengan Sang Khalik) dan rekonsiliasi di dalam umat-Nya.

Seorang dari kaum Lewi tersebut, suatu kali saat ada dalam perjalanan dari suatu tempat hingga tibalah di suatu kota. Ia kemalaman dan menumpang pada seseorang yang menyambutnya dengan senang hati. Dalam kegembiraan tuan rumah menyambut tamu tersebut, datanglah se-gerombolan- orang jahat mengepung rumah di mana orang Lewi itu bermalam.

Se-gerombolan- yang lalu disebut orang-orang dursila itu memaksa tuan rumah menyerahkan tamunya “untuk dipakai“. Yang ditolak oleh si tuan rumah, dan dilanjutkan dengan menawarkan anaknya serta gundik dari si orang Lewi tersebut.

Rupanya orang Lewi yang singgah di rumah itu datang dengan seorang perempuan yang menjadi “istrinya” kata gundik tersebut merujuk pada status hukum pernikahan yang tidak sekokoh pernikahan yang sah. Bisa diterjemahkan kata gundik itu mengacu pada istri simpanan, istri ke-sekian dari si orang Lewi.

Seturut usulan tuan rumah, orang Lewi menyetujui kesepakatan dengan orang dursila yang mengepung kediaman mereka malam itu. Lalu diserahkanlah gundik orang Lewi, dan terjadilah :

PERZINAHAN

ADULTERY

Gundik orang Lewi itu dipaksa melayani orang dursila yang jumlahnya lebih dari seorang sepanjang malam, hingga saat fajar pagi menyingsing.

Kehidupan yang kacau, Imam yang semestinya menampilkan teladan hidup yang benar mengambil gundik, dan dengan se-ijinnya menyerahkan gundik itu untuk menerima perlakuan yang sangat jahat.

Kejahatan telah terjadi dihadapannya, hingga gundik itu mati. Bila menggunakan pengertian sendiri-sendiri maka kekacauan terjadi.

Ž Hakim-hakim 19 : 29 – 30 , “Sesampai di rumah, diambilnyalah pisau, dipegangnyalah mayat gundiknya, dipotong-potongnya menurut tulang-tulangnya menjadi dua belas potongan, lalu dikirimnya ke seluruh daerah orang Israel. 30 Dan setiap orang yang melihatnya, berkata: “Hal yang demikian belum pernah terjadi dan belum pernah terlihat, sejak orang Israel berangkat keluar dari tanah Mesir sampai sekarang. Perhatikanlah itu, pertimbangkanlah, lalu berbicaralah!

Kejahatan yang terjadi dan menempatkan orang Lewi itu sebagai korban, diteruslanjutkan dengan suatu hal :

PERBUATAN KEJI

BAD ACTION

Bauran antara kemarahan, kesedihan, rasa ketidak adilan, keinginan menuntut balas mengemuka dalam diri orang Lewi ini. Pertimbangan yang menjadi simpulan baginya adalah : kejahatan itu harus ditanggungkan kepada orang dursila yang telah menyebabkan dirinya menjadi korban.

Ia lalu me-mutilasi – memotong-motong bagian tubuh gundiknya yang telah mati, sebanyak jumlah suku-suku Israel. Ia mewartakan peristiwa kekejian itu kepada seluruh bangsanya, dan strategi komunikasi yang di lakukannya berbuah perhatian.

Cara yang “simpatik” ala orang Lewi itu membangkitkan solidaritas kemanusiaan di kalangan orang Israel yang pastilah memang mudah tersulut akibat beragam situasi yang ada pada masa itu.

Firman Tuhan yang benar tidak dipakai rujukan lagi untuk menghadapi kasus-kasus yang berkembang di dalam masyarakat bangsa ini. Lalu dimana para pemimpinnya? Pemimpinnya pastilah ada, tetapi bukan pemimpin yang benar. Karena tidak menyukai lagi pengajaran yang sehat, sistem moral sosial bangsa ini telah tergerus dan menghilangkan jati diri sejati bangsa Israel. Para ilah-ilah –penguasa udara- yang menguasai wilayah itu seakan menyetujui kekerasan yang akan terjadi, sebab akan ada tumbal yang menyukakan hati mereka.

Kengerian akan segera berlanjut.

 Hakim-hakim 20

Potongan tubuh yang dikirimkan kepada duabelas suku Israel itu ditanggapi  oleh sebelas suku Israel. Mereka berkumpul bersama, dan mendapati fakta adanya satu suku yang tidak sepaham.

Kelanjutan dari ketidaksepahaman tersebut berbuah :

PERANG SAUDARA

CIVIL WAR

Sebagai sesama keturunan Israel, bangsa ini adalah pilihan-Nya. Tapi di dalam kesatuan ber-bangsa itu telah terjadi perpecahan, dua belah pihak memiliki akar yang sama tetapi memegang paham yang berbeda.

Perbedaan prinsip itu menyebabkan ketidakrukunan, dan akhirnya perang tidak dapat dihindarkan, darah tertumpah di wilayah negeri perjanjian yang dinantikan oleh nenek moyang mereka.

Duapuluh enam ribu orang Benyamin maju menghadapi empat ratus ribu orang saudara sebangsanya, dari sebelas suku Israel lainnya.

Tragedi terjadi, akhir peperangan itu menyisakan kesedihan bagi suku benyamin. Duapuluh lima ribu orangnya mati terbunuh, sisa seribu orang, hampir punah suku ini dari bilangan bangsa Israel.

PERHATIKAN!

ATTENTION PLEASE!

A. ROMA 1 : 21 – 22 , “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. 22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh

Di zaman ini ada fakta yang menggejala, terlihat religius –beragama- tapi punya berhala, punya dukun-dukun, menandakan sedang terjadi perjinahan secara spiritual.

Tuhan Allah yang hidup di nomorduakan digantikan dengan hal lain yang menjadi nomor satu dalam kehidupannya. Artinya:

TIDAK MEMULIAKAN ALLAH

DID NOT GLORIFY GOD

Bangsa Israel waktu itu tidak menghormati Allah, perilaku bangsa ini mengingkari Allah. Hal ini membuat :

ROMA 1 : 18 , “ Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. “

DIA MURKA!

HE WAS ANGRY!

Allah marah dengan sangat! Kuasa-Nya yang kita kenali dalam kebaikan-Nya dapat berubah menjadi kengerian.

B. ROMA 1 : 23, “ Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar

Seperti bangsa Israel kala itu, di masa kini juga banyak terjadi. Ada orang-orang yang :

MENGGANTI KEMULIAAN ALLAH

CHANGE THE GLORY OF GOD

Perihal itu berlanjut pada :

ROMA 1 : 24 – 28 , “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. 25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. 27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. 28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:

MEREKA MELAKUKAN APA YANG TIDAK PANTAS

THEY DID THE THINGS WHICH ARE NOT FITTING

Ada rangkaian peristiwa yang terjadi, saat melupakan Allah dan menggantikannya dengan nafsu manusiawi, ujungnya adalah kesesatan. Semua menjadi gelap, dan melupakan bahwa mereka yang melakukannya akan menerima balasan yang setimpal.

Tindakan yang tidak pantas –tidak senonoh- bila tidak dihentikan dan kembali menuruti perintah Allah, akan mendatangkan akibat. Tidak saja kelak, di hari inipun terbukti banyak menimbulkan penyakit yang mematikan.

Ketika seseorang tidak menghormati lembaga pernikahan yang sakral dan menggatikannya dengan pola hidup berganti-ganti pasangan, timbullah penyakit AIDS.

C. Nasehat – Advice

Hosea 6:1-3 , “ Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”

Tuhan itu tertib, maka Ia menghendaki umat-Nya hidup dalam ketertiban-Nya. Ia ingin Gereja-Nya tertib, dan digambarkan dalam suatu tubuh Kristus yang rapi tersusun. Memiliki kesatuan, meski berbeda-beda fungsi dan peranannya. Hal itu bisa terjadi bila ada Firman Allah.

Bila Firman Allah ditolak, gereja tidak menempatkan pengajaran menjadi komando maka akan terjadi perpecahan, akan terjadi kesulitan buah dari konflik yang tidak bersedia diselesaikan.

Di dalam Firman-Nya, umat-Nya diserukan bersama :

MARI KITA KEMBALI KEPADA DIA

LET US RETURN TO HIM

Ialah yang memelihara jiwa umat-Nya. Sumber dari segala sumber sukacita, dan kesuksesan. Kenali Dia sungguh-sungguh dan itu memerlukan perjuangan. Kesediaan kita untuk tunduk kepada tuntunan Firman akan membukakan rahasia yang lebih besar bagi kehidupan kita, panggilan Imam yang sejati untuk turut menjadi alat pendamaian di dalam kerajaan-Nya.

Tuhan tidak bisa diduakan, Ia adalah Allah yang Hidup. Bukan hasil karya pemikiran manusia –filsafat- kritis manusia. Tapi Ia punya jati diri yang jelas, sejelas keber-ADAAN-NYA.

Keberadaan-Nya di dalam Kristus telah mempersatukan kita semua dalam ikatan Kasih yang sangat mulia, dirayakan oleh umat-Nya pada setiap komuni perjamuan Kudus. Perayaan itu memiliki arti yang sangat mendalam, bahwa Korban Kristus menyatukan semua umat-Nya di dalam Dia. Kita ada karena Dia, untuk mengenali-Nya, taatlah kepada Firman pengajaran-Nya!

Mc

——ooOOOoo—–