Get Adobe Flash player
24 October 2009

WSB # 1027, 25 Oktober 2009

Oleh bambang | Dalam WSB | Tag

“Tahun Kebijakan Tuhan”

Edisi No. 1027
Tahun XVIII
Minggu, 25 Oktober 2009

24 October 2009

Bukan Karena Melihat ( Because not See )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

second_comingSABTU, 24 OKTOBER 2009

YOHANES 20:24-29

“Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagia lah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (ayat 29). Tomas yang disebut Didimus atau si kembar, rupanya melewatkan peristiwa pertemuan Yesus yang pertama dengan murid-murid-Nya dan ia hanya mendapat beritanya saja. Ia tidak dapat mempercayainya sebelum ia sendiri membuktikan dengan mencucukkan jarinya pada bekas paku dan lambung Yesus. Maka demikian lah, delapan hari kemudian ketika semua murid berkumpul bersama, Yesus kembali datang dan berdiri ditengah-tengah mereka. Kedatangan-Nya saat itu juga disertai dengan tantangan secara pribadi kepada Tomas untuk membuktikan ucapannya. Sesuai dengan ketidakpercayaan dan bukti yang diinginkannya, disitulah tantangan dinyatakan dan Tomas tidak bisa berbicara apa-apa selain daripada pengakuan yang keluar dari bibirnya bahwa Dialah Tuhan dan Allahnya. Tomas tidak bisa seperti teman-temannya yang sekalipun tidak melihat waktu itu, namun percaya bahwa Yesus telah bangkit, tapi ia membutuhkan bukti. Padahal lebih berbahagia mereka yang tidak melihat namun percaya. Iman seperti murid-murid itulah yang Tuhan juga kehendaki dalam hidup kita, benar-benar yakin sekalipun tidak melihat. Inilah iman yang diberkati yang pada akhirnya akan mendatangkan kebahagiaan. Jika kita sekalipun belum pernah melihat Dia namun percaya dan mengasihi-Nya, kegembiraan karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan menjadi bagian hidup kita karena dengan iman seperti itu, kita mencapai tujuan iman, yakni keselamatan jiwa (1 Petrus 1:8). Jika kita tidak percaya, untuk apa kita beribadah kepada-Nya ?.

HIDUP KITA ADALAH HIDUP KARENA PERCAYA DAN BUKAN KARENA MELIHAT.

SATURDAY, 24 OCTOBER 2009
JOHN 20:24-29

“Jesus said to him:” Because you have seen Me, you have believed. Happy is they who have not seen and yet have believed “(verse 29). Thomas called Didimus or the twins, apparently missed the event the first meeting of Jesus with His disciples  and he only just got the news. He could not believe it until he proves himself by putting his finger on the nail marks and the stomach of Jesus. So that is, eight days later when all the disciples gathered together, Jesus again came and stood among them. His arrival was also accompanied by a personal challenge to Thomas to prove his words. In accordance with the distrust and the evidence he wanted, that is where the challenge is expressed and Thomas could not say anything other than the recognition that came out of his mouth that He is Lord and his God. Thomas could not be like his friends who even do not see the time, but believes that Jesus is risen, but he needed proof. Happier when they are not seen and yet have believed. Faith as the disciples that God also wants in our lives, really believe that not even see. This is a blessed faith which ultimately will bring happiness. If we have not even seen Him yet believe and love Him, the joy of the glorious joy unspeakable and became part of our lives because of such faith, we reach the goal of faith, the salvation of souls (1 Peter 1:8). If we do not believe, for what we worship Him?.

LIFE IS LIFE BECAUSE WE BELIEVE IN AND NOT BECAUSE OF SEEING.

23 October 2009

MEMBAWA BUKTI ( INTO EVIDENCE )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imagepostJUM’AT, 23 OKTOBER 2009

YOHANES 20:19-23

“Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan” (ayat 20). Suasana pasca penyaliban Yesus menjadi suasana yang tidak menyenangkan bahkan menakutkan bagi murid-murid. Itulah sebabnya ketika mereka berkumpul disuatu tempat setelah mengerti bahwa Yesus telah bangkit, mereka mengunci pintu-pintu karena takut kepada orang Yahudi. Dalam keadaan demikian Yesus hadir ditengah-tengah mereka dan menyapa mereka dengan salam damai sejahtera. Walau ucapan salam damai sejahtera adalah ucapan yang biasa, tapi apa yang diucapkan Yesus lebih dari sekedar salam karena didalamnya ada pemberian damai sejahtera dari Tuhan sendiri. Murid-murid tidak dapat menyangkal Dia karena Dia menunjukkan tanda-tanda penyaliban. Tubuh yang telah bangkit itu membawa bukti yang tidak dapat disangkal siapapun. Maka hanya ada sukacita seperti yang telah Yesus katakan sebelumnya, segala ketakutan dan penderitaan yang mereka alami tidak sebanding dengan sukacita yang mereka rasakan saat itu. Itulah saatnya dukacita berubah menjadi sukacita. Setelah Maria, kini giliran murid-murid merasakan kebahagiaan yang lebih lengkap lagi karena sebelumnya mereka telah percaya sekalipun tidak melihat.Yesus sendiri telah membuktikan bahwa Dia hidup, jika kita memang percaya maka seyogyanya kita harus bersukacita sekalipun belum melihat-Nya. Tapi, jika kita memang kurang yakin, wajarlah jika hidup kita tetap ditandai dengan suasana dukacita. Jadi inilah buktinya bahwa kita yakin dan percaya Yesus telah bangkit, yakni hidup kita ditandai dalam suasana sukacita, maka bersukacitalah senantiasa (Filipi 4:4).

ORANG BENAR BERSUKACITA KARENA TUHAN.

FRIDAY, 23 OCTOBER 2009
JOHN 20:19-23

And after saying this, He showed them His hands and His side to them. The disciples rejoiced when they saw the Lord “(verse 20). The atmosphere after the crucifixion of Jesus became an unpleasant atmosphere and even frightening for The disciples. That is why when they gather somewhere once understood that Jesus had risen, they locked the doors for fear of the Jews. In such circumstances Jesus is present among them and greeted them with a greeting of peace. Despite the peace greeting is a common saying, but what was spoken by Jesus more than just a greeting for a gift therein peace from God himself. The disciples could not deny Him because He showed signs of crucifixion. Body that has risen with the evidence that can not be denied anyone. So there is only joy as Jesus had said before, all the fear and suffering that they experience is not comparable to the joy they felt at that moment. That time of grief turned into joy. After Mary, now turn to the disciples feel more complete happiness because previously they had believed even if not seen. Jesus himself has proven that He lives, if we are to believe then we should not have rejoiced even see Him. But, if we are not sure, it is natural if we remain alive an atmosphere marked by grief. So here’s the proof that we trust and believe Jesus has risen, which marked our lives in an atmosphere of joy, then rejoice always (Philippians 4:4).
THE RIGHTEOUS REJOICE BECAUSE GOD.

22 October 2009

JANGAN LAMBAN ( Do Not be a Slow )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

NelayanKAMIS, 22 OKTOBER 2009

YOHANES 20:11-18

“Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan !” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya” (ayat 18). Iman telah datang kepada kedua murid yang pergi kekubur sekalipun mereka tidak melihat Yesus telah bangkit, tapi mereka mampu meyakini kebenaran firman Tuhan dengan fakta yang ada. Tetapi tidak demikian halnya dengan Maria, ia masih menganggap kubur yang kosong itu menandakan bahwa mayat Yesus telah dicuri orang. Kehadiran malaikat yang menantang imannyapun tidak mampu membuat dia sadar dan mengerti bahwa Yesus benar-benar sudah bangkit. Malaikat itu tidak menghibur atau memberi semangat kepada Maria yang sedang sedih, karena kebangkitan Yesus tidak seharusnya disambut dengan kesedihan, tapi dengan sukacita. Sampai akhirnya Yesus sendirilah yang datang kepada Maria yang walaupun demikian masih saja ia lambat menyadarinya, bahkan menganggap orang yang menyapanya adalah penunggu taman. Baru setelah Yesus menyapanya dengan namanya, Maria sadar bahwa Tuhanlah yang berbicara dengan dirinya. Sebagai ungkapan rasa bahagianya, Maria ingin memegang Yesus, tapi harus ia tahan karena Yesus sendiri tidak mengijinkannya. Namun demikian Allah memahami keadaan hatinya dan betapa bahagianya dia menjadi yang pertama melihat Tuhannya. Ada orang yang cepat tanggap dengan apa yang terjadi, ada pula yang membutuhkan waktu untuk membuktikannya. Namun alangkah baiknya jika kita berusaha untuk cepat tanggap sehingga kita tidak banyak kehilangan waktu dan ketinggalan. Tunjukkan kesungguhan iman kita supaya kita tidak menjadi lamban tapi menjadi penurut-penurut Allah sampai pada akhirnya pengharapan kita menjadi milik yang pasti (Ibrani 6:9-12).

JADILAH TANGKAS DALAM MENDENGAR DAN LAMBAN DALAM BERKATA-KATA.

THURSDAY, 22 OCTOBER 2009
JOHN 20:11-18

Mary Magdalene went and said to The disciples:” I have seen the Lord! “And also that He who says things to her” (verse 18). Faith has come to the two disciples who went to the grave even if they do not see Jesus has risen, but they were able to believe the truth of the word of God with the facts. But not so with Mary Magdalene, she still considers the empty tomb indicates that the body of Jesus had been stolen. The presence of the angel who challenged her faith was not able to make her aware and understand that Jesus really had risen. Angels do not entertain or give encouragement to Mary who was sad, because the resurrection of Jesus is not supposed to be greeted with sadness, but with joy. Until finally Jesus himself who comes to Mary Magdalene that even so she still slowly realizing it, even considered someone who greeted the park watchman. Only after Jesus was greeted by name, she realized that it was God who spoke to her. As an expression of feeling happy, she wanted to hold Jesus, but should she stand for Jesus himself did not allow. However, God understood the heart and how happy she was to be the first to see the Lord. There are people who quickly respond to what happens, there is also a need of time to prove it. But it would be nice if we try to respond quickly so we are not a lot of lost time and missed. Show sincerity of our faith so that we do not become sluggish, but being a submissive, obedient to God in the end we hope that would belong to (Hebrews 6:9-12).

BE HEARD AND APT TO SLOW TO SPEAK.

21 October 2009

Hanya Menduga ( Just Assumed )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

strengthaRABU, 21 OKTOBER 2009

YOHANES 20:1-10

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu dimana Ia diletakkan” (ayat 2). Sabatpun tiba, tidak ada aktifitas apapun pada hari itu, karena Sabat adalah hari yang kudus. Maka dihari pertama minggu itu, dengan tidak membuang-buang waktu, pagi-pagi benar Maria Magdalena telah pergi kekubur tempat mayat Yesus dibaringkan. Ketakutan melandanya manakala ia mendapati kubur itu telah terbuka, tapi ia tidak melihat lebih jauh, ia hanya menduga bahwa mayat Yesus telah dicuri orang. Itulah berita yang segera ia sampaikan kepada Petrus dan seorang murid yang lain yang juga segera berlari kekubur. Mereka masuk dan melihat semuanya, piranti yang dikenakan untuk orang yang mati ada ditempat itu tapi mayat Yesus tidak ada disana. Maka mengertilah mereka akan Kitab Suci dan merekapun percaya bahwa Yesus telah bangkit. Sebelum semuanya itu, mereka tidak mengerti kebenaran bahwa Yesus harus bangkit dari antara orang mati. Seharusnya Maria Magdalena bisa menjadi yang pertama sebagai saksi kebangkitan Yesus, tapi karena ia hanya menduga apa yang telah terjadi dan tidak mengingat kebenaran yang telah disampaikan oleh Yesus sendiri, maka ia didahului oleh yang lain. Jangan mengandalkan perasaan atau praduga dalam menyikapi suatu keadaan ataupun dalam melayani. Perasaan dan praduga seringkali tidak sesuai dengan kebenaran yang sedang terjadi. Sebaliknya jika kita mengerti benar akan kebenaran, kita tidak akan menduga-duga ataupun memainkan perasaan menghadapi sesuatu yang sedang terjadi. Yesus dikira kena tulah karena derita-Nya, padahal Dia sedang menanggung penyakit dan kesengsaraan kita, akankah hal itu kita ulangi lagi ?(Yesaya 53:4). BERPEGANGLAH PADA KEBENARAN DAN BUKAN DUGAAN.

WEDNESDAY, 21 OCTOBER 2009

JOHN 20:1-10

She came running to Simon Peter and another disciple whom Jesus loved, and said to them:” God has taken people from the grave and we do not know where He is placed “(verse 2). Sabbath arrived, there was no any activity on that day, because the Sabbath is a holy day. So on the first day of the week, with no wasted time, early in the morning Mary Magdalene went to the tomb where Jesus’ body was laid. Fear swept over her when she found the tomb had been opened, but she did not look any further, she just assumed that the body of Jesus had been stolen. That was the news she immediately goes to Peter and another disciple who also ran to the tomb. They came in and saw everything, the tools apply to people who died there place but the body of Jesus was not there. So is their understanding of Scripture and they also believe that Jesus had risen. Before all that, they do not understand the truth, that Jesus must rise from the dead. Mary Magdalene should have been the first as a witness to the resurrection of Jesus, but because she just guessed what had happened and did not remember the truth that has been delivered by Jesus himself, so she was in ahead of the others. Do not rely on feelings or prejudice in dealing with a situation or in the service. Feelings and preconceptions are often not in accordance with the truth that is happening. Conversely, if we understand correctly the truth, we will not speculate or even play against the feeling something was going on. Jesus thought the plague because of the pain hit Him, when He was to bear our misery and disease, we will repeat it again? (Isaiah 53:4).

STICK TO THE TRUTH AND NOT SUSPECTED.

20 October 2009

MELETAKKAN HARGA DIRI ( PUT THE PRIDE )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

jerucoloseumaSELASA, 20 OKTOBER 2009

YOHANES 19:38-42

“Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat” (ayat 40). Dalam peristiwa ini Yusuf dan Nikodemus memainkan peran mereka. Kedua orang besar tersebut adalah anggota Sanhedrin. Walaupun sebagai murid secara rahasia, namun setelah semua yang terjadi, Yusuf menjadi berani menunjukkan pelayanan dan pengabdiannya yang terakhir kepada Yesus. Bukan hal yang mudah bagi seorang anggota Sanhedrin untuk terang-terangan meminta mayat Yesus untuk dikuburkan dengan layak, namun Yusuf telah berani mengambil resiko itu. Demikian pula dengan Nikodemus yang membawa persembahan yang tidak sedikit. Campuran minyak mur dan minyak gaharu seberat lima puluh kati atau setara kurang lebih tigapuluh tiga kilo adalah bukti pengabdian Nikodemus yang mahal. Demikianlah kedua orang itu bekerja sama dalam memberikan pelayanan yang terakhir terhadap tubuh Yesus. Merupakan suatu hal indah bila dalam pelayanan bisa dikerjakan dalam suasana kerjasama seperti yang ditunjukkan oleh Yusuf dan Nikodemus yang tidak saling menganggap diri sebagai yang lebih baik. Kedudukan memang bisa membuat seorang menganggap diri lebih dari yang lain, tapi janganlah kembangkan hal itu dalam pelayanan. Contohlah kedua orang diatas yang sama-sama orang besar namun bisa bekerja sama dengan indah sekalipun persembahan mereka berbeda. Justru dengan kedudukan yang kita miliki, hendaklah itu bisa menjadi teladan bagi yang lain. Hanya dengan kerendahan hati kerjasama bisa dikembangkan dan diwujudkan (Efesus 5:21). Maka letakkan segala kebanggaan kita. CARILAH KEADILAN, CARILAH KERENDAHAN HATI.

TUESDAY, 20 OCTOBER 2009
JOHN 19:38-42

They took the body of Jesus, wearing a shroud of linen to Him and His sprinkle with spices according to Jewish custom to bury the corpse when” (verse 40). In this event Joseph From Arimatea and Nicodemus played their role. Both these great men were members of the Sanhedrin. Although as a student in secret, but after everything that happened, Joseph became bold indicate the service and devotion to Jesus last. It’s not an easy thing for a member of the Sanhedrin to openly ask for the body of Jesus to be buried in a decent, but Joseph had dared to risk it. Similarly with Nicodemus who bring offerings that are not little. Mixed nut oil and aloe oil weighing fifty or equivalent catty about thirty three pounds is evidence Nicodemus expensive service. So the two men worked together in providing the final service to the body of Jesus. It is a beautiful thing if the service can be done in an atmosphere of cooperation as demonstrated by Joseph Arimatea and Nicodemus who do not regard themselves as each other better. The position can make a considered themselves more than others, but do not develop it in the service. Examples of the above is the equally great but can work with beautiful despite their different offerings. It is precisely the position we have, let it be a role model for others. Only with humility cooperation can be developed and realized (Ephesians 5:21). So put all of our pride. LOOK FOR JUSTICE, LOOK FOR HUMILITY.

19 October 2009

Khotbah Minggu, 18 Oktober 2009

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam MP3 | Tag

audio-graphic-112x120

Audio Khotbah….
19 October 2009

TANDA-TANDA KELAHIRAN ( THE BIRTH OF MARK )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Sraff

livingwater2aSENIN, 19 OKTOBER 2009

YOHANES 19:31-37

“Tetapi seorang diantara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (ayat 34). Memelihara tuntutan-tuntutan upacara merupakan hal yang penting bagi orang Yahudi. Untuk itulah mereka tidak membolehkan mayat tetap ada dikayu salib ketika Sabat tiba, maka merekapun meminta kepada Pilatus untuk mematahkan kaki orang-orang yang sedang disalib supaya mereka dapat segera menurunkan mayatnya. Jadi mematahkan kaki seorang yang disalib bukanlah bagian dari proses hukuman salib, tapi merupakan upaya untuk mempercepat kematian seorang yang disalib. Maka para prajurit yang bertugas segera mematahkan kaki dua penjahat yang disalib disamping Yesus. Tapi ketika mereka sampai kepada Yesus, mereka melihat bahwa Yesus telah mati, jadi tidak perlu lagi dipatahkan kaki-Nya. Namun untuk memastikan bahwa Yesus sungguh-sungguh telah mati, seorang prajurit menusuk lambung Yesus dengan tombak, maka segeralah keluar darah dan air dari lambung-Nya. Dengan demikian genap lah apa yang tertulis dalam Kitab Suci bahwa tidak ada dari tulang-Nya yang dipatahkan dan juga bagaimana prajurit itu memandang kepada Dia yang telah ia tikam. Dalam arti rohani darah dan air yang keluar dari lambung Yesus merupakan tanda lahirnya gereja. Maka secara pribadi, kelahiran baru atau hidup baru seseorang juga harus ditandai dengan hal yang sama, darah dan air yakni pertobatan dan baptisan, maka kita akan dibenarkan oleh kasih karunia-Nya dan berhak menerima hidup kekal sesuai dengan pengharapan kita (Titus 3:3-7). TANPA KELAHIRAN KEMBALI, KITATIDAK DAPAT MELIHAT KERAJAAN ALLAH.

MONDAY, 19 OCTOBER 2009

JOHN 19:31-37

“But one of the soldier pierced him with a spear, and immediately there came out blood and water” (verse 34). Maintaining the demands of the ceremony is important for the Jews. For those that do not allow the bodies remain on the cross when the Sabbath came, then they asked Pilate to break the legs of those who were crucified so that they can be immediately lowered his body. So break the legs of the crucified one was not part of the punishment of the cross, but an attempt to accelerate the death of a crucified. So the soldiers on duty immediately break the legs of two criminals who were crucified beside Jesus. But when they came to Jesus, they saw that Jesus had died, so no longer need his broken leg. However, to ensure that Jesus really had died, a soldier pierced Jesus’ side with a spear, and immediately blood and water came out of his stomach. Thus is fulfilled what is written in Scripture that none of his bones broken and also how the soldiers looked to him that he had stabbed. In a spiritual sense of blood and water coming out of the stomach is a sign of the birth of Jesus Church. So personally, the new birth or new life, a person must also be marked with the same thing, blood and water that is repentance and baptism, then we would be justified by his grace, and heirs of eternal life in accordance with our expectations (Titus 3:3-7). REBIRTH NO, WE CAN NOT SEE THE KINGDOM OF GOD.

18 October 2009

WSB # 1026, 18 Oktober 2009

Oleh bambang | Dalam WSB | Tag

“Tahun Kebijakan Tuhan”

Edisi No. 1026
Tahun XVIII
Minggu
Tgl. 18 Oktober 2009

18 October 2009

Kebangkitan Yesus

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam Pendalaman Alkitab | Tag

A. Kebangkitan Yesus

Markus 16:1-8

A1. Persembahan yang hampa!

kubur01_htMarkus 16:1-3, “Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Sa-lome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. 2Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. 3Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?

Pada pagi-pagi benar setelah hari Sabat, ketiga perempuan itu datang ke kubur Yesus dengan membawa rempah-rempah serta minyak dengan tujuan meminyaki tubuh Yesus. Sayang, ketika sampai di sana mereka tidak menemui tubuh Yesus. Ini berarti bahwa segala yang mereka bawa, rempah-rempah dan minyak menjadi tidak berguna atau …

Sia-sia

Suatu bentuk persemba-han yang hampa, peng-orbanan yang terlambat dan sia-sia karena tubuh Yesus tidak ada. Ia sudah bangkit. Seharusnya itu mereka lakukan waktu Yesus masih hidup seperti yang dilakukan oleh be-berapa perempuan dan di antaranya adalah Maria Magdalena yang melayani Yesus serta murid-murid-Nya dengan kekayaannya (Lukas 8:1-3). Atau sebelum Yesus dikuburkan, seperti yang dilaku-kan Yusuf Arimatea dan Nikodemus sehingga sampai kini kedua nama mereka terukir dalam pemberitaan firman Tuhan.

Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Tangkap setiap peluang yang ada, jangan sampai terlam-bat sehingga menjadi sia-sia, tidak ada gunanya (mubazir). Kalau Tuhan telah berikan kita talenta, manfaatkan dan kembangkan talenta itu selagi masih ada kesempatan. Jangan tunggu atau tunda yang nantinya akan membuat kita menjadi menyesal.

A2. Kubur itu kosong

Markus 16: 4-6, “Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sang-at besar itu sudah terguling. 5Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Mereka pun sangat terkejut, 6tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.”

Andaikan mereka ingat firman Tuhan, tentu tidak akan datang ke kubur dan membawa persembahan yang akhirnya menjadi sia-sia. Mereka menjadi ketakutan ketika mendapatkan kubur itu kosong dan tubuh Yesus tidak ada di dalamnya. Setelah mendapat teguran dari malaikat Tuhan, baru teringatlah mereka akan kebangkitan Yesus (Lukas 24:5-8).Sebagaimana yang telah dikatakan Yesus se-waktu masih hidup bahwa pada hari ketiga …

Dia bangkit

Yesus telah bangkit dan nuansa ke-bangkitan-Nya membawa warna tersendiri bagi kita. Ibadah kita bukan mencari kubur yang kosong, tetapi untuk menikmati kuasa kebangkitan-Nya. Kematian dan kebangkitan-Nya telah membawa suatu lembaran yang baru bagi kita yang per-caya kepada-Nya. Kita masuk dalam suasana ibadah kebangkitan, datang dengan hati yang teguh dan saling memperhatikan seorang akan yang lain (Ibrani 10:19-25).

A3. Pergi ke Galilea

Markus 16:7-8, “Tetapi sekarang pergilah, kata-kanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.” 8Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.

Dampak/efek dari pengorbanan yang hampa (sia-sia) itu, ketika malaikat Tuhan meminta untuk menyampaikan kabar kebangkitan-Nya kepada murid-murid Yesus lainnya dan menunggu di Galilea, mereka menjadi …

Takut dan dahsyat

Mengapa? Karena mereka tidak siap dan sadar akan kebangkitan Yesus. Berbeda halnya kalau mereka sadar akan janji-janji kebangki-tan-Nya, tentu disambut dengan sukacita – gegap gempita. Fak-tanya, mereka belum sepenuhnya menerima akan berita itu, sehingga mereka pun tidak mengatakan apa-apa kepada siapa pun juga karena takut.

Peristiwa tentang kebangkitan-Nya sesung-guhnya merupakan kegenapan dari Kejadian 3:15, “kepala ular (kekuatan iblis) itu diremuk-kan”. Yesus telah bangkit, SHEKINAH GLORY (Cahaya kemuliaan Allah) itu melingkupi dunia. Karena itu suasana ibadah kita bukan didasari ketakutan, tetapi suasana ibadah yang ditandai kemenangan yang besar (I Korintus 15:53-55).

A4. Penutup – Ending

Yohanes 16:20-22, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan me-ratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. 21Seorang perempuan berdu-kacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. 22Demikian juga kamu sekarang diliputi du-kacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seo-rang pun yang dapat merampas kegembi-raanmu itu dari padamu.

Kematian Yesus telah membuat suasana su-kacita bagi dunia dan iblis, tetapi duka cita bagi murid-murid dan para pengikut-Nya. Karena dalam pandangan mereka, Yesus yang diharap-kan sebagai raja Israel yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi wafat. Padahal justru jauh lebih dari sebatas raja di bumi, Yesus disiapkan sebagai Raja yang Kekal.

Setelah Yesus bangkit, suasana menjadi ter-balik …

Duka cita jadi sukacita

Dunia dan iblis berduka cita, sebaliknya dukacita murid-murid dan para pengikut-Nya diganti men-jadi sukacita.

Kebangkitan-Nya telah membawa kemenangan yang besar, hanya kadang-kadang kita diijinkan melewati suatu proses, tantangan hidup. Tetapi jangan berkecil hati, proses itu suatu waktu akan lewat, duka cita kita akan diganti sukacita. Segala sesuatu ada masanya, ada rancangan-Nya. Lewat kuasa kebangkitan-Nya, kita menda-pat jaminan kemenangan yang abadi. (Mc-Sr)

  1. A. Resurrection of Jesus
    Mark 16:1-8
    A1. The empty offering!

    Mark 16:1-3, “After the Sabbath, Mary Magdalene and Mary the mother of James, and Salome bought spices to go to the tomb and anoint Jesus. 2 And very early on the first day of the week, after sunrise, they went to the tomb. 3 They said to each other: “Who will roll the stone for us from the door of the tomb?”

    In the early morning after the Sabbath, the three women came to the tomb with spices and oil to anoint the body of Jesus’ purpose. Unfortunately, when I got there they did not see the body of Jesus. This means that everything they carry, spices and oils to be useless or …

Futile

A blank form of sacrifice, lawyer-orbanan late and in vain because the body of Jesus was not there. He has risen. They should have done when Jesus was alive as practiced by some women and among them was Mary Magdalene who serve Jesus and his disciples with his wealth (Luke 8:1-3). Or before Jesus was buried, as did Joseph From Arimatea  and Nicodemus that until now both of their names engraved in preaching the word of God.

This is a lesson for us all. Capture every opportunity, do not be late, so be in vain, useless (redundant). If God has given us his Lenta, use and develop talent while still a chance. Do not wait or delay which will make us regret it.

A2. Empty tomb
Mark 16: 4-6, “But when they look closely, it appears, is the stone-at large had been overturned. 5 Then they went into the tomb and they saw a young man who wore a white robe sitting on the right. They were very surprised, but the 6 young men said to them: “Do not be afraid! You seek Jesus of Nazareth, who was crucified. He has risen. He is not here. Look! This is where they laid him.”

Had they remembered the word of God, would not have come to the tomb and bring offerings that eventually became useless. They became frightened when a grave was empty and the body of Jesus was not in it. After a warning from the angel of God, just remembered they were in the resurrection of Jesus (Luke 24:5-8).
As Jesus had said while still alive that on the third day …

He rose

Jesus has risen and the nuances of his resurrection brings color to our own. Worship we are not looking for an empty tomb, but to enjoy the power of his resurrection.

Death and resurrection has brought a new sheet for us who believe in Him. We entered in an atmosphere of worship resurrection, comes with a strong heart and consider how one another (Hebrews 10:19-25).
A3. Go to Galilee
Mark 16:7-8, “But now go, tell his disciples to him and to Peter: He is before you into Galilee there you will see him, as I said unto you.” 8 Then they came out and ran out of the tomb, for trembling and terrible happen to them. They did not say anything to anyone because of fear. In short, they convey those messages to Peter and his friends. After this, Jesus himself, through his disciples His preaching from East to West the holy and the news was not perish out of eternal salvation. ”
Impact / effect of the sacrifice that vacuum (in vain) that, when the angel of the Lord asked to break the news of his resurrection to his disciples the other and waited in Galilee, they become …

Scared and powerful

Why? Because they are not ready and aware of the resurrection of Jesus. Unlike the case if they were aware of the promises of resurrection, would be greeted with joy – went wild. In fact, they will not fully accept the news, so they did not say anything to anyone because of fear.

Event of His resurrection is actually the fulness of Genesis 3:15, “the head of the snake (evil forces) was crushed”. Jesus has risen, Shekinah GLORY (Light of the glory of God) that surrounds the world. Because the atmosphere of worship that we are not based on fear, but the atmosphere of worship that marked the great victory (I Corinthians 15:53-55).

A4. Closing
John 16:20-22, “I say to you, you will weep and weep, but the world will rejoice; you will mourn, but the grief will turn into joy. 21 A woman mourning at the time she gave birth, but after she gave birth to her child, she no longer remembers the anguish, for joy that a man is born into the world. 22 Remember that you now overwhelmed with grief, but I’ll see you again and your hearts will rejoice, and no one can take your joy from you. ”

The death of Jesus has made the atmosphere of joy for the world and the devil, but grief for students and his followers. Because in their view, Jesus is expected as the king of Israel who would liberate them from Roman rule dies. And it is much more than limited to the king on earth, Jesus was prepared as the Eternal King.

After Jesus rose, the atmosphere is reversed …

So joy sorrow

The world and the devil mourning, grief instead students and his followers changed into joy.
His resurrection has brought a great victory, just sometimes we are allowed through a process, the challenges of life. But do not be discouraged, the process was a time will pass, our grief will be replaced by joy. Everything there was a time, there was his design. Through the power of His resurrection, we receive assurance of eternal victory. (Mc-Sr)