C12. Kuasa merendahkan dan meninggikan
1. Mereka yang direndahka
1.1. I Samuel 2:12 , ”Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN”
Bapa memiliki kuasa yang luar biasa. Ia dapat merendahkan dan meninggikan orang seturut dengan kebijakan-Nya. Tetapi Kebijakan Tuhan yang diberlakukan juga ada dasar-Nya dan itu dinyatakan dalam Sabda-Nya.
Imam Eli, Imam yang memiliki kewenangan untuk menjadi pemimpin bagi umat Israel kala itu memiliki anak yang menjadi imam pula. Dalam tradisi Israel, menjadi seorang imam memiliki proses yang panjang. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan, dan diberikan secara spesifik bagi suku tertentu di dalam suku bangsa Israel. Pada kepercayaan itu terkandung tanggungjawab dan hak kepemimpinan yang telah diatur oleh-Nya. Ia memberlakukan kebijakan khusus berkenaan dengan disiplin bagi imam-imam-Nya.
Kita akan melihat tentang :
Kejahatan anak-anak Eli
Imam Eli masih menjadi imam ketika anak-anaknya terlibat juga dalam pelayanan bagi-Nya. Tetapi pelayanan yang dilakukan oleh anak-anak imam Eli tidak dilaksanakan dengan benar, bahkan sebaliknya mereka melakukan hal yang jahat di hadapan Tuhan.
A . I Samuel 2:13-17 , “ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya 14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo. 15 Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: “Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja.” 16 Apabila orang itu menjawabnya: “Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: “Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.” 17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN. ”
Sejak zaman Musa, para imam yang melayani di Rumah Tuhan sudah diberikan aturan dan tata cara yang harus dipatuhi. Di antaranya berkenaan dengan penugasan para imam dalam melayani persembahan yang dipersembahkan oleh jemaat Israel di Rumah Tuhan.
Ada hal yang boleh diambil bagi para Imam (batas hak para imam), bagi keturunan Harun, dan bagian utama dari persembahan korban bakaran yang harus dipersembahkan –dibakar- kehadapan Tuhan
Tetapi anak-anak imam Eli dengan menggunakan garpu –alat yang biasa dipakai dalam mezbah korban bakaran- mengambil daging persembahan tanpa aturan sebelum korban bakaran itu selesai dipersembahkan.
Tidak saja demikian, sebelum daging persembahan itu dibakar, mereka sudah memintanya. Sebagai imam-imam di Rumah Tuhan pastilah mereka telah mengetahui aturan pelayanan, tetapi aturan yang ada mereka langgar bahkan dilanggar dengan sengaja.
Tindakan yang telah anak-anak imam Eli lakukan menunjukkan bahwa mereka :
Merendahkan korban untuk Tuhan
Lebih keras lagi, tindakan itu sama dengan tidak menghormati firman Allah, karena Ia telah mengatur tata caranya.
Persembahan memiliki arti penting bagi umat Israel, para jemaat datang untuk beribadah kepada-Nya dengan harapan yang baik untuk memuliakan-Nya, datang dengan sukacita dan hati tulus gembira. Melalui persembahan yang dipersembahkan akan membuat keluarga Israel diperdamaikan dengan Allah.
Bisa dibayangkan bila jemaat datang untuk mempersembahkan korban ke Rumah Tuhan dengan sukacita tetapi yang dijumpai adalah pemaksaan dan penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, manusiawi bila ada jemaat yang menjadi kecewa dengan perilaku imam-Nya.
Anak-anak Imam Eli menuruti keinginan nafsu ragawi untuk menikmati persembahan yang seharusnya di persembahkan dengan hormat di hadapan-Nya. Tentu saja Tuhan menjadi tidak berkenan kepada mereka.
B. I Samuel 2:22 , “Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan”
Selain berlaku serakah, mengancam jemaat yang datang untuk mempersembahkan korban, seperti preman, anak-anak imam Eli juga :
Berzinah
Tindakan yang sangat tercela, perilaku dursila.Tubuh sebagai rumah Allah dicemarkan, dan itu anak-anak imam Eli lakukan, meski mereka adalah imam yang melayani di Rumah Tuhan.
Orang percaya kini telah ditebus dengan darah yang mahal maka jangan serahkan tubuh kita untuk alatnya kejahatan. Gunakan tubuh bagi kemuliaan Tuhan.
Perzinahan menjadi dosa yang telah ada sejak dulu kala, menjadi semakin meningkat di hari-hari ini. Hingga kelak, akan memuncak membentuk masyarakat yang terang-terangan memuja perzinahan, simbolnya adalah kota Babel – kota para pesundal.
Imam Eli mendengar perilaku anak-anaknya yang juga adalah imam, sebab nampaknya telah menjadi gunjingan umum di kalangan umat Israel. Ia berusaha menegur, dan menasehati anak-anaknya itu. Anak-anaknya tidak mengindahkan perkataan imam Eli.
C. Akibatnya
I Samuel 2:34 , “Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati.”
I Samuel 4:11 , “Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.”
Tuhan mengutus nabi untuk datang kepada Imam Eli, masih ada peringatan supaya dapat bertobat tapi sayang peringatan itu tidak diindahkan.
Imam Eli tidak bertindak tegas kepada anak-anaknya. Melayani di Rumah Tuhan tidak bisa sembarangan, maka menegurnyapun harus dengan bobot yang serius, bijak namun menyelamatkan.
Kebijakan Tuhan juga terjadi kepada orang yang merendahkan kuasa Firman. Kepada anak-anak Eli yang tetap berlaku dursila :
Keduanya mati
Saat peperangan terjadi antara orang Israel dan orang Filistin. Bangsa Israel dipukul kalah, lebih parah lagi Tabut Tuhan dirampas orang Filistin. Bangsa Israel membawa tabut ke medan peperangan, tetapi karena mereka tidak memuliakan Tuhan, mereka kalah dan anak imam Eli tewas.
1.2. I Samuel 2:29 , “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?”
Telah cukup lama imam Eli, menjadi seorang imam di tengah bangsa Israel. Tentunya waktu yang lama itu akan membawa imamatnya menjadi lebih peka pada kehendak Tuhan. Tetapi apa yang terjadi berkenaan dengan keluarganya membawa pada suatu penghukuman kepadanya :
Teguran Allah kepada Eli
Imam Eli telah pula bersikap tamak kepada korban persembahan, ia menikmati bagian dari persembahan yang seharusnya bukan menjadi haknya, tetapi milik-Nya, mengambil sekehendak hatinya.
Persembahan yang di bawa ke Rumah Tuhan itu adalah milik-Nya yang utama, bukan di bawa untuk seorang imam, meski bagi imam-imam telah Ia tetapkan bagiannya.
Imam Eli menjadi gemuk badannya, dampak dari banyaknya ia mengkomsumsi daging persembahkan umat Israel. Tuhan pastilah menghendaki setiap imam-imam yang melayani-Nya hidup berkecukupan, dan berbahagia. Tetapi tidak dengan cara melanggar ketetapan-Nya, apalagi dari hasil mengambil persembahan dengan sekehendak hati. Ya, jemaat mungkin tidak tahu, tetapi Tuhan pasti tahu!
Imam Eli ditegur pula, karena ia tidak memiliki wibawa di hadapan anak-anaknya. Dengan MEMBIARKAN hal yang jahat terjadi, -mengambil persembahan yang seharusnya untuk Tuhan- sama saja ia menghormati anak-anaknya melebihi Tuhan.
Sebagai pemimpin imam Eli tidak dapat mendisiplinkan tim pelayanannya. Ia sendiri mungkin merasa telah cukup berkarya dalam dunia pelayanan-Nya sehingga menjadi pasif, sekarang waktunya menikmati buah pelayanannya demikian pikirnya.
Tidak cepat bergerak dan bertindak untuk menyatakan bahwa anak-anaknya adalah imam yang memiliki peran dan tanggungjawab yang tidak mudah, bukan hanya sekedar hak dan keistimewaan yang disandangnya. Maka menjadi pelanggaran yang serius ketika semuanya telah mengetahui kebenaran –Kenal Firman-kenal Pengajaran- tetapi perilakukanya bukan praktek firman tapi praktek preman, dan tidak ada disiplin yang ditegakkan atas perihal itu.
Untuk menjadi imam ada syarat-syaratnya, khususnya hidup yang dibereskan dari dosa, ada pendamaian dengan-Nya.
I Samuel 2:30 , “Sebab itu — demikianlah firman TUHAN, Allah Israel — sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang — demikianlah firman TUHAN –: Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.”
Allah sudah memberikan janji-Nya kepada imam Eli dan keturunannya, akan memelihara imam Eli dan keturunannya bila mereka menghormati Tuhan.
Tetapi saat ia merendahkan Tuhan maka Tuhan menghukum dengan keras.
Allah membatalkan janji-Nya
Anak-anak imam Eli direndahkan, bahkan terjadi hal yang naas bagi imam Eli.
I Samuel 4:18 , “Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel.”
Saat mendengar tabut perjanjian dirampas dan anak-anaknya tewas, imam Eli yang telah tua dan berbadan gemuk terjatuh, lalu :
Eli mati
Seperti yang disabdakan sebelumnya, Imam Eli tidak melihat cucu, meski Pinehas sudah menikah dan akan melahirkan anak, istri Pinehas tak lama berselang melahirkan dalam keadaan kaget, lalu mati, namun anaknya lahir selamat (1 Sam 4:20-21). Cucunya lahir, lalu dinamai Ikabod, tapi tidak memiliki kakek.
Sejarah hidup yang kelam terjadi dalam kehidupan Imam Eli. Ia telah memulai dengan baik, tetapi tidak dapat menutup kisah hidupnya dengan baik (not finishing well). Ia tidak mempertahankan kepercayaan yang Tuhan percayakan kepadanya.
Pemimpin memiliki peran sebagai gembala. Apalagi sebagai seorang imam yang memang memiliki hak penyautan di hadapan-Nya. Ia dituntut memiliki keteladanan dalam seluruh aspek hidupnya. Menjadi gembala memiliki tantangan yang tidak mudah, tambah besar kawanan tambah banyak pergumulannya, ia diminta berjaga atas jiwa kawanan yang digembalakannya. Hal itu dimulai dari lingkup yang kecil, keluarganya.
Imam Eli dapat dikatakan bernasib tragis, bukan saja karena perilaku anaknya. Tetapi dengan kebijakannya yang nampak membiarkan –mentoleransi- suatu praktek pelayanan yang jahat terjadi dan ia tidak bertindak tegas terhadapnya. Dampak itu berimbas kepadanya sebab ia adalah pemimpinnya dan telah mengetahui kebenaran.
Tuhan menghentikan pemakaian sebagai imam-Nya, tidak saja berhenti sampai kematian ia dan anak-anaknya. Penolakan-Nya berlanjut hingga generasi kelima keturunannya (1 Raj. 2:27), imam Abyatar diganti imam Zadok pada masa pemerintahan Salomo.
2. Samuel ditinggikan
I Samuel 2:26, “Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.”
I Samuel 3:19 , “Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”
Bila kuasa-Nya mampu merendahkan orang yang mengesampingkan Firman-Nya. Maka sebaliknya Ia akan meninggikan orang yang memegang Firman-Nya yang berkuasa.
Hal itu berlaku dalam kehidupan Samuel. Terlahir dari permohonan seorang ibu yang dijawab doanya melalui kuasa yang didemonstrasikan oleh Tuhan. Saat ibunya telah dinyatakan tertutup kandungannya namun oleh kebijakan Tuhan, kandungan yang tertutup itu terbuka dan lahirlah Samuel.
Hingga waktunya tiba, Samuel lalu diserahkan ke Rumah Tuhan oleh orang tuanya yang sangat berbakti kepada-Nya. Bila menilik dari jenis persembahan yang dibawa oleh orangtuanya ke Rumah Tuhan di Silo, selintas dapat disimpulkan bahwa keluarga kandung Samuel termasuk keluarga berada. Tentu bila Samuel minta sesuatu kepada orangtuanya dapat dipenuhi oleh mereka.
Tetapi sesuai dengan nazar yang diucapkan ibunya, Samuel dikirim ke Rumah Tuhan untuk hidup bersama imam Eli.
Di Rumah Tuhan, Samuel berlaku dengan baik, ia penuh sopan-santun, baik kepada semua orang yang datang ke rumah Tuhan juga kepada imam Eli. Samuel berkenan tidak saja dihadapan manusia, tetapi juga di dihadapan Tuhan, Ia sangat menghormati Allah dengan Firman-Nya. Hingga ia diperbolehkan mengenakan baju efod meski usianya masih belia.
Bila anak-anak imam Eli rusak, dan membatalkan janji Tuhan bagi keluarga Eli. Tidak demikian dengan Samuel, tidak satupun Firman-Nya yang dibiarkan sehingga :
Tuhan menyertai dia
Di tengah perilaku saudara dan seniornya di “pastori” imam Eli, Samuel tetap berlaku benar. Ia dapat memilah mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak, ia tumbuh semakin dewasa, tidak saja secara ragawi tetapi secara rohani ia bertumbuh dan menyinarkan kemuliaan Tuhan sebagai imam dalam kehidupannya.
I Samuel 3:20 , “Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.”
Bila mengacu pada aturan ke-imamatan kaum Israel, maka yang berhak menjadi imam adalah keturunan suku Lewi, dan yang menjadi imam besar adalah keturunan Harun.
Tidak dituliskan bahwa Samuel bin Elkana adalah anak imam, namun karena kesetiaannya pada Firman-Nya, membuat :
Samuel jadi nabi Tuhan
Tuhan mempercayakan kepada Samuel untuk menjadi penerjemah maksud ilahi dari-Nya bagi bangsa Israel. Samuel menyuarakan kehendak-Nya kepada seluruh bangsa Israel.
I Samuel 7:15-17 , “Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya. 16 Dari tahun ke tahun ia berkeliling ke Betel, Gilgal dan Mizpa, dan memerintah atas orang Israel di segala tempat itu, 17 lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi TUHAN. ”
Tidak saja menjadi nabi, berbarengan dengan hal itu :
Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya
Tuhan memilihnya menjadi hakim, untuk menyelesaikan banyak kasus sosial kemayarakatan yang terjadi di tengah bangsanya. Waktu itu bangsa Israel belum mengenal sistem pemerintahan raja-raja. Maka jabatan hakim adalah jabatan tertinggi dalam komunitas bangsa Israel, di tangannyalah keputusan penting diambil. Hal itu dilakukan oleh Samuel, sebab ia memilki kebijaksanaan dari-Nya.
3. Nasihat
Roma 1:21 , “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.”
Ibrani 3:12-14 , “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. 13Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. 14 Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula . ”
Bangsa Israel mengenal Tuhan, bahkan Imam Eli, anak-anaknya melayani Tuhan di Rumah Tuhan, tetapi mata bathin mereka tidak memandang Dia dengan benar. Tidak menyadari kebijak-an Tuhan sebenar-benarnya.
Terlebih sebagai pelayan-Nya, ada tanggungjawab yang tidak mudah, tetapi tuntutan untuk terus menguduskan diri dalam melayani-Nya. Sebab Ia adalah Allah yang Kudus, maka pelayan-Nya juga harus dikuduskan. Bila hal itu dilanggar maka akan berbuah akibat yang fatal.
Ibadah mengarah kepada kekudusan, kepada kesempurnaan rancangan-Nya. Ia adalah Allah yang sempurna, senada dengan hal itu, Gereja dalam gerak-Nya mengarah pada kesempurnaan (Mat. 5:48), Ia telah kirimkan Firman dan Roh-Nya untuk itu, supaya gereja lahir baru, menjadi orang Kudus, hidup tekun pada pengiringan kepada-Nya hingga sempurna.
Bertekun dalam pengajaran Firman, dan tunduk dengan tuntunan Roh Kudus, supaya :
Jangan berhati jahat
Tidak merendahkan wibawa pengajaran, melayani Tuhan sekehendak hati tetapi membuka hati bagi kebijak-an-Nya yang membawa pada hidup yang berbahagia. Saling menasehati sebagai sesama orang percaya, sesama pelayan Tuhan untuk terus berjuang di dalam jalur-Nya Tuhan. Serta peka kepada kehendak-Nya, yang mengarah kepada kesempurnaan rancangan-Nya.
Di antara kita, dan bagi kita sendiri, Jangan ada yang keras hati karena tipu daya dosa seperti anak-anak imam Eli -dan imam Eli -, asal saja kita teguh berjuang maka Janji hidup berkemenangan itu akan dinikmati. Imam Eli dijanjikan kehidupan yang bahagia, asal saja ia berpegang pada Janji-Nya. Yang terjadi, Imam Eli dan anak-anaknya kalah, tidak bertahan melayani dengan benar sampai akhir.
Keinginan jasmani harus dikendalikan seturut Sabda-Nya, Daging harus disalut hingga tidak bersuara, sampai kelak Ia akan mengubahkan yang fana kepada yang tidak fana.
Kepada yang menang (Why 3:5) akan tampil cemerlang dan selamat. Bila ada yang menang, berarti ada yang kalah. Siapa yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan, maka teruslah berjuang untuk menang! (MC-Sr)
C12. Attorney lowered and raised
1. They are humiliated
1.1. I Samuel 2:12, “The sons of Eli were sons of belial; they did not heed the Lord”
Father has a great power. He can be lowered and raised one of his discretion. But the policy was also a God of his base and it is expressed in His Word. Priest Eli, the Priest who has the authority to be a leader for the people of Israel at that time have children who become priests as well. In the tradition of Israel, became a priest has a long process. Position is the belief that God has given, and given the specifics of particular interest in the tribes of Israel. In the belief that inherent leadership responsibilities and rights that have been arranged by him. He treats specific policies regarding discipline for priests of His.
We’ll see about:
Crimes of Eli’s Son
Priest Eli was a priest when the children are also involved in service to God. But the service performed by the children of Eli the priest was not carried out correctly, on the contrary they are doing evil things in the presence of the Lord.
A. I Samuel 2:13-17, “or limit the rights of priests to the nation. Every time someone offered sacrifices, while the meat is cooked, the priest came flunky carrying tridental fork in his hand 14 And he struck it into the pan, or kettle, or caldron, or pot; Everything is drawn with a fork it up, taken to the priest himself. Thus they treat all the people of Israel who came there, to the Silo. 15 Even before the fat was burned, flunky priest came and said to those who sacrifice it: “Give flesh to roast for the priest because he would not accept from you a cooked meat, raw only just.” 16 If the person answering : “Is not that fat must be burned first, and then take you as you please,” then he said to him: “Right now you owe, if not, I’ll take it by force.” 17 Thus a very great sin of these two young men before the Lord, because they look down on the victim to the LORD. ”
Since the days of Moses, the priests who serve in the House of God was given rules and procedures that must be obeyed. Among other assignments relating to the priests in the service offerings that are offered by the congregation of Israel in God’s House.
There are things that should be taken to the Priests (limit the rights of priests), for the descendants of Aaron. and the main part of the offering of burnt offerings to be offered by burning, in the presence of God But the children of Eli the priest with a fork / tools commonly used in the altar of burnt offering to take the meat offerings without rules, before the burnt offering was completed dedicated.
Not only so, before the meat offerings were burned, they have asked. As the priests at the temple, they must know the rules of service, but the rules they violated intentionally break even. Actions that have been the children of Eli the priest did indicate that they:
Lowered the sacrifices to the Lord
Even harder, it was tantamount to not respect the word of God, because He has set up procedures.
Offering a special significance for the people of Israel, the congregation came to worship the Lord with a good hope to glorify Him, comes with genuine joy and happy heart, Through the offering, which is dedicated to making Israel a family reconciled to God.
It is conceivable if the community came to offer sacrifices to the temple with joy but found the coercion and abuse of office for self interest, most human when there is the church that became disillusioned with the behavior of priests like that. Children follow Eli The Priest worldly desires to enjoy the offerings that should be on offer with respect before God. Of course, God be not pleasing to them.
B. I Samuel 2:22, “Eli was very old. When he heard everything that made his children to all the people of Israel and that they had slept with the women who serve in the front door of the tent of meeting ”
Besides applies greedy, threatening the community who came to offer sacrifices, like thugs, kids priest Eli also:
Adulterous
Highly reprehensible actions, scoundrels behavior. Body as a house of God corrupted, and that the children of Eli the priest did, even though they are priests who serve in the House of God.
People believe now been redeemed by the blood of expensive so do not leave our body to the instrument of evil. Use the body to the glory of God. The sin of adultery that has existed since before time, became increasingly in these days. Until one day, will culminate to form a community to worship openly adultery, is the city of Babylon, symbol of the adulterer.
Priest Eli heard the children’s behavior also was a priest, because it seems to have become common gossip among the people of Israel. He tried to rebuke, and advise their children’s. His children did not heed the words of the priest Eli.
C. Consequently
I Samuel 2:34, “This would be a sign for you, that is what will happen to both your son, Hofni and Phinehas: on the same day they will die.”
I Samuel 4:11, “Moreover, the ark of God taken away and the two sons of Eli, Hofni and Phinehas, died.”
God sent the prophet to come to the priest Eli, there’s a warning in order to repent, but unfortunately the warning was ignored.
Priest Eli did not act decisively to their children. Serving in God’s House could not arbitrary, then it must give warning of serious weight, but save wisely.
Privacy God also happens to people who abhorred the power of the Word. To Eli’s children who remain valid Scoundrels behavior:
Both dead
When the war between Israel and the Philistines. The people of Israel struck lose, even worse Ark of God taken from the Philistines. The people of Israel brought the ark into battle, but because they did not glorify God, they lost and the two childs of Eli The Priest were died.
1.2. I Samuel 2:29, “Why do you look with open-mouthed to My sacrifice and My offering, which I commanded, and why you respect your kids more than Me, while you fatten yourself with the best parts of each offering My people Israel? ”
Has been a long time Eli the priest, became a priest in the middle of Israel. Long course that will bring the priesthood became more sensitive to the will of God. But what happens with regard to his family brought him to a punishment:
Rebuke of God to Eli
Priest Eli has also been greedy to sacrifice, he enjoyed the part of the offerings that should not be right, but the rights of God, but it has taken its own course. Offerings brought to the temple that belongs to the Lord, not be brought to a priest, even for the priests had he set his share.
Priest Eli become fat body, the impact of the many he consumed meat offer the people of Israel. God must have wanted all the priests who served his affluent life, and be happy. But not by violating his decree, especially from the offering to take his own will. Yes, churches may not know, but God must know!
Priest reprimanded Eli did, because he did not have authority in the presence of her children. By let evil things happen, which should take offering to God, as he respects his children more than God.
As a leader, the priest Eli can not discipline his ministry team. He himself may feel has enough work in the ministry that it becomes passive, it’s time to enjoy the fruits of his ministry, so he thought.
Not move and act quickly to declare that their children are priests who have roles and responsibilities are not easy, not just the rights and privileges of her. This is the fault of the priest Eli, so be serious violations when they have to know the truth, Know the Word, know the Teaching, but not the practice attitude as the words of God, but the practice of thugs, and no discipline was enforced on the subject.
To be a priest is the terms, especially the life of sin dealt with, there is reconciliation with Him.
I Samuel 2:30, “Therefore – declares the Lord, the God of Israel – in fact I made a promise: Your family and your nation will live on forever before me, but now – declares the Lord -: be it far from me! Respect for who I am, will be respected, but who insulted me, would be considered low. ”
God has given His promise to the priest Eli and his descendants, will keep the priest Eli and his descendants if they honor God. But when he lowered his Lord and God punished severely.
God cancel His promise
Children of Eli the priest was lowered, even the unfortunate thing happened to the priest Eli.
I Samuel 4:18, “When he called the ark of God, Eli fell back from the chair beside the gates, his neck broken rod and he dies. For old and fat people. Forty years he reigned as a judge over Israel. ”
We heard the ark of the covenant and seized her children dead, the priest Eli who was old and fat body fell, then:
Eli died
It is spoken before, the Priest Eli did not see Eli’s grandson, Phinehas was married though and will give birth to children, Phinehas’s wife gave birth not so long ago in a state of shock, and death, but his son was born safely (1 Sam 4:20-21). Her grandson was born, and named Ikabod, but did not have a grandfather. The dark history of life occurred in the life of Eli the Priest. He has started well, but could not close the story of his life with good (not finishing well). He did not maintain the trust that the Lord has entrusted to him.
Leaders have a role as a shepherd. Moreover, as a priest who does have a right of reply before Him. He sued to have exemplary in all aspects of life. Being a shepherd has a challenge that is not easy, plus added a lot of parishioners struggle, he was asked to watch over the souls of the sheep were kept by them. It started from a small sphere, his family.
Priest Eli can say tragic, not only because of his behavior. But the policies that appeared to let a bad service practices happen and he did not act decisively against him. It reflects the impact of him because he is the leader and you know the truth.
God stopped his position as a priest, not just stop until death, he and her children. His refusal continues for a fifth generation descendants (1 Kings. 2:27), replaced Abiathar the priest Zadok the priest during the reign of Solomon.
2. Samuel elevated
I Samuel 2:26, “But the young Samuel, the bigger and more popular, both in the presence of the Lord and in the presence of humans.”
I Samuel 3:19, “And Samuel grew bigger and LORD was with him and none of his words had left his fall.”
If his power is able to humble those who ignore His Word. So instead he will raise those who hold His Word in power.
This is true in the life of Samuel. Born of a mother’s request that his prayer was answered by the power demonstrated by the Lord. When her mother had been declared closed by the policy of abortion but God, the womb is opened and closed was born Samuel. Until the time comes, Samuel and submitted to the House of God by his parents who are devoted to God. When you view the offerings of the type brought by his parents to the temple at Shiloh, a flash can be concluded that the biological family, including Samuel’s family. Of course when Samuel asked something to the parents can be met by them.
But according to his mother uttered vows, Samuel was sent to the House of God to live with the priest Eli.
In the House of God, Samuel applied properly, he was full of politeness, good to all people who come to the house of God also to the priest Eli. Samuel pleased not only of men, but also before God, He is honor God with His Word. Until he was allowed to wear clothes though efod young age.
When the children corrupted priest Eli, and cancel the Lord for the family of Eli. Not so with Samuel, not a single word of his left so that:
Lord was with him
In the middle and senior civil behavior in the “manse” priest Eli, Samuel holds true. He can discern what is pleasing to God and what is not, he grow older, not only physically but spiritually he was growing up, and the glory of God as a priest in his life.
I Samuel 3:20, “Then know all Israel from Dan to Bersyeba, that has been entrusted to the office of Samuel the prophet of the LORD.”
When referring to the rules of the leviticus of Israel, then the right to become priests are the descendants of the tribe of Levi, and who became the high priest was a descendant of Aaron.
No written that Samuel was the son of Elkanah son of a priest, but because of loyalty to His Word, create:
Samuel was the prophet of God
God entrusted to Samuel to become translators of the divine purpose for His people of Israel. Samuel voiced his will to the entire nation of Israel.
I Samuel 7:15-17, “Samuel’s reign as judge over Israel all his life. 16 Over the years he traveled to Bethel, Gilgal and Mizpa, and reigned over Israel in all places, 17 and then he went back to Rama, because that’s where his house and there he reigned over the children of Israel; and there he built an altar for the LORD.”
Not only were prophets, along with that:
Samuel’s reign as judge over Israel all his life
God chose to be judge, to resolve many social cases that occurred in the nation. At that time the people of Israel are not familiar with the system of government of kings. So judgeship is the highest position in the community of Israel, in his important decisions taken. This was done by Samuel, because he have the wisdom from Him.
3. Advice
Romans 1:21, “For although they knew God, they did not glorify Him as God or give thanks to Him. Instead their thoughts became futile and their foolish hearts were darkened. ”
Hebrews 3:12-14, “Beware, brethren, that in between you do not have a bad heart and who does not believe he was an apostate because of the living God. 13 But exhort one another every day, as long as it is called ‘today’ lest any of you be hardened by the deceitfulness of sin. 14 Because we have gain share in Christ, if only we hold fast until the end of our faith in the belief that original. ”
The people of Israel know God, even the high priest Eli, the children serve the Lord in the House of God, but their inner eyes do not look at him properly. God did not realize the policy correctly.
Moreover, as His servants, no responsibility is not easy, but the demand to continue to sanctify themselves in serving Him. For He is Holy God, then his servant should be sanctified. If it is broken it will be fatal. Worship leads to holiness, the perfection of His design. He is perfect God, in line with it, the Church in its growth leads to perfection (Matt. 5:48), He has sent his Word and his Spirit for it, so that the new born church, a holy man, live up to diligently follow Him perfect.
Persevere in teaching the Word, and subject to the guidance of the Holy Spirit, so that:
Do not be evil
Not lowered the prestige of teaching, serving the Lord at will but open our hearts for his policies which lead to a happy life. Advise each other as fellow believers, fellow servants of God to continue to fight in the plan of God. And sensitive to His will, which leads to the perfection of His design.
Among us, and for ourselves, not some hard-hearted by the deceitfulness of sin as a child of Eli the priest and the priest Eli himself, if only we firmly pledge to fight the victorious life that will be enjoyed. Priest Eli promised a happy life, so long as he holds to his promise. What happened, priest Eli and his sons to lose, do not survive to serve it right to the end. Physical desire must be controlled according to His Word, must be overlaid until the meat is not silent, until one day he will be changing this mortal be incorruptible. To a win (Rev. 3:5) will appear bright and safe. If there is a win, meaning there is a loser. Who would endure to the end will be saved, then continue to fight to win! (MC-Sr)