Get Adobe Flash player
23 November 2009

Tetap Mengasihi ( Still Loving )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imagepostSENIN, 23 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 7:54-60

Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka !” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia” (ayat 60). Mendengar kebenaran yang disampai-kan oleh Stefanus anggota-anggota Mahkamah Agama tetap tidak mampu menyadari kesalahan dan dosa yang mereka lakukan, sebaliknya mereka sangat tertusuk hatinya. Maka merekapun menyambut pembelaan Stefanus dengan gertakan gigi. Stefanus tetap tidak menjadi takut karena hal itu, bahkan ia memberi kesaksian akan kemuliaan Allah dan Yesus yang berdiri disebelah kanan-Nya. Dan sekalipun Stefanus diseret keluar kota dan dilempari dengan batu, ia tidak menjadi dendam ataupun marah atas perlakuan mereka, bahkan ia tetap mampu melepaskan roh pengampunan atas mereka yang telah menyiksa dan membunuhnya. Mulai dari peristiwa ini jugalah Saulus berperan dalam sejarah gereja mula-mula. Ketika kita juga mampu menyadari kehendak Allah dan melakukannya dengan kata lain mempunyai visi dan misi yang dari Allah, seberat apapun tantangan dan penderitaan yang kita alami karenanya, tidak akan membuat kita menaruh rasa benci atau dendam kepada mereka yang men-datangkan penderitaan itu. Kasih yang dari Allah justru akan memampukan kita untuk tetap mengam-puni orang yang bersalah kepada kita. Keberhasilan misi bukan hanya diukur dari apa yang dilihat dan dikatakan orang, tapi juga dari ketahanan untuk tetap hidup didalamnya. Namun jika kita tidak mengerti kehendak Allah, tidak punya visi dan misi, keluhan dan kebencian akibat dari perlakuan orang lain akan mudah menguasai kita. Hidup didalam kehendak Tuhan akan memampukan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tapi kita akan mengalahkannya melalui pengampunan (Roma 12:21).

AMPUNILAH SEPERTI TUHAN TELAH MENGAMPUNI KITA.

MONDAY, 23 NOVEMBER 2009
Acts 7:54-60

“Dropping to his knees he cried with a loud voice:” Lord, do not hold this sin against them! “And with these words, he was dead” (verse 60). Hear the truth delivered by Stephen the members of the Sanhedrin still not able to recognize mistakes and sins that they do, otherwise they are punctured his heart. So they welcomed the defense Stephen gnashing. Stephen would not be afraid because it was, even he would testify to the glory of God and Jesus is standing right next to him. And though Stephen was dragged out of the city and stoned, he was not a revenge or anger over their treatment, even he was still able to release the spirit of forgiveness for those who had tortured and killed. Starting from this event was also the history of Saul’s role in the early church. When we are also able to recognize the will of God and do it in other words have the vision and mission from God, any heavy challenges and suffering that we experience it, will not make us put hatred or vengeance upon those who had brought suffering. Love is from God it will enable us to continue to forgive those who trespass against us. The success of the mission is not only measured by what is seen and said to people, but also of the resilience to survive in it. But if we do not understand the will of God, do not have the vision and mission, complaints and hatred resulting from treatment of other people will easily overwhelms us. Life in the will of God will enable us to not return evil for evil, but we will defeat him through the forgiveness (Romans 12:21).
FORGIVE LIKE OUR GOD HAS FORGIVEN.

22 November 2009

Hidup Bebas Stres !!! (Matius 6:25-34)

Oleh bambang | Dalam Artikel | Tag

happy01Apakah mungkin hidup tanpa stress di dunia sekarang ini? Ini adalah pertanyaan yang bagus yang harus kita tanyakan pada diri masing-masing, karena stres merupakan hal yang umum terjadi di dunia sekarang ini. Kita hidup di dalam tekanan yang berat, di dalam persaingan yang ketat., di dalam kemajuan teknologi yang pesat, yang menciptakan perubahan yang cepat dan tuntutan yang semakin berat.

Dua pertanyaan yang patut kita ajukan, yaitu : Pertama, apakah Yesus menawarkan hidup yang bebas stres? Kedua, apakah Alkitab memberikan solusi agar kita dapat hidup bebas dari stress? Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah: Ya!

Definisi sederhana dari stress adalah sebuah keadaan dimana ada ketegangan tak berkesudahan yang muncul karena tekanan dari lingkungan, gesekan dengan sesama, dan tuntutan hidup yang terlalu berat. Gejala-gejala yang umum dari seseorang yang mengalami stress adalah kelelahan mental dan emosi, ketergantungan pada obat-obatan atau alkohol, kehilangan nafsu makan, keletihan secara fisik, tekanan darah tinggi, sering sakit kepala, mempunyai masalah dengan pencernaan dan hati, mengalami migrain, muncul bisul-bisul atau eksem, dan tidak bisa tidur.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar dapat berjalan di dalam kemenangan dan bebas stress adalah sebagai berikut:

1. Lihatlah segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Roma 8:28 mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi apapun yang seizin Tuhan terjadi dalam hidup kita, pastilah ada sisi baiknya yang bisa kita petik.

2. Bereskan dosa-dosa dan konflik. Dosa dan konflik yang tidak dibereskan akan menimbulkan tekanan dari dalam. Dosa-dosa dibereskan dengan pengakuan kepada Yesus, konflik-konflik dibereskan de-ngan sesama seperti yang dikatakan dalam Matius 5:23-24.

3. Kita harus mengatur waktu kita. Banyak orang menyia-nyiakan waktu mereka yang berujung pada kekacauan hidup yang mendatangkan stress (Efesus 5:15-16).

4. Bawalah segala sesuatu kepada Tuhan di dalam doa. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7).

5. Bersekutulah dengan sesama anak-anak Tuhan. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi dengan orang-orang yang dikasihi dan teman-teman seiman berpotensi mengurangi stress.

Yesus menawarkan hidup yang bebas stres. Solusinya ada dalam prinsip-prinsip Kerajaan Allah. Lakukanlah segala sesuatu seturut firmanNya dan Anda akan hidup bebas stress.

Mr.Bind/MS-Nov

22 November 2009

Jangan Berhati Jahat ( Do Not Be Evil )

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam Khotbah Minggu | Tag

jahat01C12. Kuasa merendahkan dan meninggikan

1. Mereka yang direndahka

1.1. I Samuel 2:12 , ”Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN

Bapa memiliki kuasa yang luar biasa. Ia dapat merendahkan dan meninggikan orang seturut dengan kebijakan-Nya. Tetapi Kebijakan Tuhan yang diberlakukan juga ada dasar-Nya dan itu dinyatakan dalam Sabda-Nya.

Imam Eli, Imam yang memiliki kewenangan untuk menjadi pemimpin bagi umat Israel kala itu memiliki anak yang menjadi imam pula. Dalam tradisi Israel, menjadi seorang imam memiliki proses yang panjang. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan, dan diberikan secara spesifik bagi suku tertentu di dalam suku bangsa Israel. Pada kepercayaan itu terkandung tanggungjawab dan hak kepemimpinan yang telah diatur oleh-Nya. Ia memberlakukan kebijakan khusus berkenaan dengan disiplin bagi imam-imam-Nya.

Kita akan melihat tentang :

Kejahatan anak-anak Eli

Imam Eli masih menjadi imam ketika anak-anaknya terlibat juga dalam pelayanan bagi-Nya. Tetapi pelayanan yang dilakukan oleh anak-anak imam Eli tidak dilaksanakan dengan benar, bahkan sebaliknya mereka melakukan hal yang jahat di hadapan Tuhan.

A . I Samuel 2:13-17 , “ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya 14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo. 15 Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: “Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja. 16 Apabila orang itu menjawabnya: “Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: “Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.” 17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.

Sejak zaman Musa, para imam yang melayani di Rumah Tuhan sudah diberikan aturan dan tata cara yang harus dipatuhi. Di antaranya berkenaan dengan penugasan para imam dalam melayani persembahan yang dipersembahkan oleh jemaat Israel di Rumah Tuhan.

Ada hal yang boleh diambil bagi para Imam (batas hak para imam), bagi keturunan Harun, dan bagian utama dari persembahan korban bakaran yang harus dipersembahkan –dibakar- kehadapan Tuhan

Tetapi anak-anak imam Eli dengan menggunakan garpu –alat yang biasa dipakai dalam mezbah korban bakaran- mengambil daging persembahan tanpa aturan sebelum korban bakaran itu selesai dipersembahkan.

Tidak saja demikian, sebelum daging persembahan itu dibakar, mereka sudah memintanya. Sebagai imam-imam di Rumah Tuhan pastilah mereka telah mengetahui aturan pelayanan, tetapi aturan yang ada mereka langgar bahkan dilanggar dengan sengaja.

Tindakan yang telah anak-anak imam Eli lakukan menunjukkan bahwa mereka :

Merendahkan korban untuk Tuhan

Lebih keras lagi, tindakan itu sama dengan tidak menghormati firman Allah, karena Ia telah mengatur tata caranya.

Persembahan memiliki arti penting bagi umat Israel, para jemaat datang untuk beribadah kepada-Nya dengan harapan yang baik untuk memuliakan-Nya, datang dengan sukacita dan hati tulus gembira. Melalui persembahan yang dipersembahkan akan membuat keluarga Israel diperdamaikan dengan Allah.

Bisa dibayangkan bila jemaat datang untuk mempersembahkan korban ke Rumah Tuhan dengan sukacita tetapi yang dijumpai adalah pemaksaan dan penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri sendiri, manusiawi bila ada jemaat yang menjadi kecewa dengan perilaku imam-Nya.

Anak-anak Imam Eli menuruti keinginan nafsu ragawi untuk menikmati persembahan yang seharusnya di persembahkan dengan hormat di hadapan-Nya. Tentu saja Tuhan menjadi tidak berkenan kepada mereka.

B. I Samuel 2:22 , “Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan

Selain berlaku serakah, mengancam jemaat yang datang untuk mempersembahkan korban, seperti preman, anak-anak imam Eli  juga :

Berzinah

Tindakan yang sangat tercela, perilaku dursila.Tubuh sebagai rumah Allah dicemarkan, dan itu anak-anak imam Eli lakukan, meski mereka adalah imam yang melayani di Rumah Tuhan.

Orang percaya kini telah ditebus dengan darah yang mahal maka jangan serahkan tubuh kita untuk alatnya kejahatan. Gunakan tubuh bagi kemuliaan Tuhan.

Perzinahan menjadi dosa yang telah ada sejak dulu kala, menjadi  semakin meningkat di hari-hari ini. Hingga kelak, akan memuncak membentuk masyarakat yang terang-terangan memuja perzinahan, simbolnya adalah kota Babel – kota para pesundal.

Imam Eli  mendengar perilaku anak-anaknya yang juga adalah imam, sebab nampaknya telah menjadi gunjingan umum di kalangan umat Israel. Ia berusaha menegur, dan menasehati anak-anaknya itu. Anak-anaknya tidak mengindahkan perkataan imam Eli.

C. Akibatnya

I Samuel 2:34 , “Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati.

I Samuel 4:11 , “Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.

Tuhan mengutus nabi untuk datang kepada Imam Eli, masih ada peringatan supaya dapat bertobat tapi sayang peringatan itu tidak diindahkan.

Imam Eli tidak bertindak tegas kepada anak-anaknya. Melayani di Rumah Tuhan tidak bisa sembarangan, maka menegurnyapun harus dengan bobot yang serius, bijak namun menyelamatkan.

Kebijakan Tuhan juga terjadi kepada orang yang merendahkan kuasa Firman. Kepada anak-anak Eli yang tetap berlaku dursila :

Keduanya mati

Saat peperangan terjadi antara orang Israel dan orang Filistin. Bangsa Israel dipukul kalah, lebih parah lagi Tabut Tuhan dirampas orang Filistin. Bangsa Israel membawa tabut ke medan peperangan, tetapi karena mereka tidak memuliakan Tuhan, mereka kalah dan anak imam Eli tewas.

1.2. I Samuel 2:29 , “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?

Telah cukup lama imam Eli, menjadi seorang imam di tengah bangsa Israel. Tentunya waktu yang lama itu akan membawa imamatnya menjadi lebih peka pada kehendak Tuhan. Tetapi apa yang terjadi berkenaan dengan keluarganya membawa pada suatu penghukuman kepadanya :

Teguran Allah kepada Eli

Imam Eli telah pula bersikap tamak kepada korban persembahan, ia menikmati bagian dari persembahan yang seharusnya bukan menjadi haknya, tetapi milik-Nya, mengambil sekehendak hatinya.

Persembahan yang di bawa ke Rumah Tuhan itu adalah milik-Nya yang utama, bukan di bawa untuk seorang imam, meski bagi imam-imam telah Ia tetapkan bagiannya.

Imam Eli menjadi gemuk badannya, dampak dari banyaknya ia mengkomsumsi  daging persembahkan umat Israel. Tuhan pastilah menghendaki setiap imam-imam yang melayani-Nya hidup berkecukupan, dan berbahagia. Tetapi tidak dengan cara melanggar ketetapan-Nya, apalagi dari hasil mengambil persembahan dengan sekehendak hati. Ya, jemaat mungkin tidak tahu, tetapi Tuhan pasti tahu!

Imam Eli ditegur pula, karena ia tidak memiliki wibawa di hadapan anak-anaknya. Dengan MEMBIARKAN hal yang jahat terjadi, -mengambil persembahan yang seharusnya untuk Tuhan- sama saja ia menghormati anak-anaknya melebihi Tuhan.

Sebagai pemimpin imam Eli tidak dapat mendisiplinkan tim pelayanannya. Ia sendiri mungkin merasa telah cukup berkarya dalam dunia pelayanan-Nya sehingga menjadi pasif, sekarang waktunya menikmati buah pelayanannya demikian pikirnya.

Tidak cepat bergerak dan bertindak untuk menyatakan bahwa anak-anaknya adalah imam yang memiliki peran dan tanggungjawab yang tidak mudah, bukan hanya sekedar hak dan keistimewaan yang disandangnya. Maka menjadi pelanggaran yang serius ketika semuanya telah mengetahui kebenaran –Kenal Firman-kenal Pengajaran- tetapi perilakukanya bukan praktek firman tapi praktek preman, dan tidak ada disiplin yang ditegakkan atas perihal itu.

Untuk menjadi imam ada syarat-syaratnya, khususnya hidup  yang dibereskan dari dosa, ada pendamaian dengan-Nya.

I Samuel 2:30 , “Sebab itu — demikianlah firman TUHAN, Allah Israel — sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang — demikianlah firman TUHAN –: Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.

Allah sudah memberikan janji-Nya kepada imam Eli dan keturunannya, akan memelihara imam Eli dan keturunannya bila mereka menghormati Tuhan.

Tetapi saat ia merendahkan Tuhan maka Tuhan menghukum dengan keras.

Allah membatalkan janji-Nya

Anak-anak imam Eli direndahkan, bahkan terjadi hal yang naas bagi imam Eli.

I Samuel 4:18 , “Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel.

Saat mendengar tabut perjanjian dirampas dan anak-anaknya tewas, imam Eli yang telah tua dan berbadan gemuk terjatuh, lalu :

Eli mati

Seperti yang disabdakan sebelumnya, Imam Eli tidak melihat cucu, meski Pinehas sudah menikah dan akan melahirkan anak, istri Pinehas tak lama berselang melahirkan dalam keadaan kaget, lalu mati, namun anaknya lahir selamat (1 Sam 4:20-21). Cucunya lahir, lalu dinamai Ikabod, tapi tidak memiliki kakek.

Sejarah hidup yang kelam terjadi dalam kehidupan Imam Eli. Ia telah memulai dengan baik, tetapi tidak dapat menutup kisah hidupnya dengan baik (not finishing well). Ia tidak mempertahankan kepercayaan yang Tuhan percayakan kepadanya.

Pemimpin memiliki peran sebagai gembala. Apalagi sebagai seorang imam yang memang memiliki hak penyautan di hadapan-Nya. Ia dituntut memiliki keteladanan dalam seluruh aspek hidupnya. Menjadi gembala memiliki tantangan yang tidak mudah, tambah besar kawanan tambah banyak pergumulannya, ia diminta berjaga atas jiwa kawanan yang digembalakannya. Hal itu dimulai dari lingkup yang kecil, keluarganya.

Imam Eli dapat dikatakan bernasib tragis, bukan saja karena perilaku anaknya. Tetapi dengan kebijakannya yang nampak membiarkan –mentoleransi- suatu praktek pelayanan yang jahat terjadi dan ia tidak bertindak tegas terhadapnya. Dampak itu berimbas kepadanya sebab ia adalah pemimpinnya dan telah mengetahui kebenaran.

Tuhan menghentikan pemakaian sebagai imam-Nya, tidak saja berhenti sampai kematian ia dan anak-anaknya. Penolakan-Nya berlanjut hingga generasi kelima keturunannya (1 Raj. 2:27), imam Abyatar diganti imam Zadok pada masa pemerintahan Salomo.

2. Samuel ditinggikan

I Samuel 2:26, “Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.

I Samuel 3:19 , “Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.

Bila kuasa-Nya mampu merendahkan orang yang mengesampingkan Firman-Nya. Maka sebaliknya Ia akan meninggikan orang yang memegang Firman-Nya yang berkuasa.

Hal itu berlaku dalam kehidupan Samuel. Terlahir dari permohonan seorang ibu yang dijawab doanya melalui kuasa yang didemonstrasikan oleh Tuhan. Saat ibunya telah dinyatakan tertutup kandungannya namun oleh kebijakan Tuhan, kandungan yang tertutup itu terbuka dan lahirlah Samuel.

Hingga waktunya tiba, Samuel lalu diserahkan ke Rumah Tuhan oleh orang tuanya yang sangat berbakti kepada-Nya. Bila menilik dari jenis persembahan yang dibawa oleh orangtuanya ke Rumah Tuhan di Silo, selintas dapat disimpulkan bahwa keluarga kandung Samuel termasuk keluarga berada. Tentu bila Samuel minta sesuatu kepada orangtuanya dapat dipenuhi oleh mereka.

Tetapi sesuai dengan nazar yang diucapkan ibunya, Samuel dikirim ke Rumah Tuhan untuk hidup bersama imam Eli.

Di Rumah Tuhan, Samuel berlaku dengan baik, ia penuh sopan-santun, baik kepada semua orang yang datang ke rumah Tuhan juga kepada imam Eli. Samuel berkenan tidak saja dihadapan manusia, tetapi juga di dihadapan Tuhan, Ia sangat menghormati Allah dengan Firman-Nya. Hingga ia diperbolehkan mengenakan baju efod meski usianya masih belia.

Bila anak-anak imam Eli rusak, dan membatalkan janji Tuhan bagi keluarga Eli. Tidak demikian dengan Samuel, tidak satupun Firman-Nya yang dibiarkan sehingga :

Tuhan menyertai dia

Di tengah perilaku saudara dan seniornya di “pastori” imam Eli, Samuel tetap berlaku benar. Ia dapat memilah mana yang berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak, ia tumbuh semakin dewasa, tidak saja secara ragawi tetapi secara rohani ia bertumbuh dan menyinarkan kemuliaan Tuhan sebagai imam dalam kehidupannya.

I Samuel 3:20 , “Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi TUHAN.

Bila mengacu pada aturan ke-imamatan kaum Israel, maka yang berhak menjadi imam adalah keturunan suku Lewi, dan yang menjadi imam besar adalah keturunan Harun.

Tidak dituliskan bahwa Samuel bin Elkana adalah anak imam, namun karena kesetiaannya pada Firman-Nya, membuat :

Samuel jadi nabi Tuhan

Tuhan mempercayakan kepada Samuel untuk menjadi penerjemah maksud ilahi dari-Nya bagi bangsa Israel. Samuel menyuarakan kehendak-Nya kepada seluruh bangsa Israel.

I Samuel 7:15-17 , “Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya. 16 Dari tahun ke tahun ia berkeliling ke Betel, Gilgal dan Mizpa, dan memerintah atas orang Israel di segala tempat itu, 17 lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi TUHAN.

Tidak saja menjadi nabi, berbarengan dengan hal itu :

Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya

Tuhan memilihnya menjadi hakim, untuk menyelesaikan banyak kasus sosial kemayarakatan yang terjadi di tengah bangsanya. Waktu itu bangsa Israel belum mengenal sistem pemerintahan raja-raja. Maka jabatan hakim adalah jabatan tertinggi dalam komunitas bangsa Israel, di tangannyalah keputusan penting diambil. Hal itu dilakukan oleh Samuel, sebab ia memilki kebijaksanaan dari-Nya.

3. Nasihat

Roma 1:21 , “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.

Ibrani 3:12-14 , “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. 13Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. 14 Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula .

Bangsa Israel mengenal Tuhan, bahkan Imam Eli, anak-anaknya melayani Tuhan di Rumah Tuhan, tetapi mata bathin mereka tidak memandang Dia dengan benar. Tidak menyadari kebijak-an Tuhan sebenar-benarnya.

Terlebih sebagai pelayan-Nya, ada tanggungjawab yang tidak mudah, tetapi tuntutan untuk terus menguduskan diri dalam melayani-Nya. Sebab Ia adalah Allah yang Kudus, maka pelayan-Nya juga harus dikuduskan. Bila hal itu dilanggar maka akan berbuah akibat yang fatal.

Ibadah mengarah kepada kekudusan, kepada kesempurnaan rancangan-Nya. Ia adalah Allah yang sempurna, senada dengan hal itu, Gereja dalam gerak-Nya mengarah pada kesempurnaan (Mat. 5:48), Ia telah kirimkan Firman dan Roh-Nya untuk itu, supaya gereja lahir baru, menjadi orang Kudus, hidup tekun pada pengiringan kepada-Nya hingga sempurna.

Bertekun dalam pengajaran Firman, dan tunduk dengan tuntunan Roh Kudus, supaya :

Jangan berhati jahat

Tidak merendahkan wibawa pengajaran, melayani Tuhan sekehendak hati tetapi membuka hati bagi kebijak-an-Nya yang membawa pada hidup yang berbahagia. Saling menasehati sebagai sesama orang percaya, sesama pelayan Tuhan untuk terus berjuang di dalam jalur-Nya Tuhan. Serta peka kepada kehendak-Nya, yang mengarah kepada kesempurnaan rancangan-Nya.

Di antara kita, dan bagi kita sendiri, Jangan ada yang keras hati karena tipu daya dosa seperti anak-anak imam Eli -dan imam Eli -, asal saja kita teguh berjuang maka Janji hidup berkemenangan itu akan dinikmati. Imam Eli dijanjikan kehidupan yang bahagia, asal saja ia berpegang pada Janji-Nya. Yang terjadi, Imam Eli dan anak-anaknya kalah, tidak bertahan melayani dengan benar sampai akhir.

Keinginan jasmani harus dikendalikan seturut Sabda-Nya, Daging harus disalut hingga tidak bersuara, sampai kelak Ia akan mengubahkan yang fana kepada yang tidak fana.

Kepada yang menang (Why 3:5) akan tampil cemerlang dan selamat. Bila ada yang menang, berarti ada yang kalah. Siapa yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan, maka teruslah berjuang untuk menang! (MC-Sr)

C12. Attorney lowered and raised
1. They are humiliated

1.1. I Samuel 2:12, “The sons of Eli were sons of belial; they did not heed the Lord”
Father has a great power. He can be lowered and raised one of his discretion. But the policy was also a God of his base and it is expressed in His Word. Priest Eli, the Priest who has the authority to be a leader for the people of Israel at that time have children who become priests as well. In the tradition of Israel, became a priest has a long process. Position is the belief that God has given, and given the specifics of particular interest in the tribes of Israel. In the belief that inherent leadership responsibilities and rights that have been arranged by him. He treats specific policies regarding discipline for priests of His.
We’ll see about:

Crimes of  Eli’s Son

Priest Eli was a priest when the children are also involved in service to God. But the service performed by the children of Eli the priest was not carried out correctly, on the contrary they are doing evil things in the presence of the Lord.

A. I Samuel 2:13-17, “or limit the rights of priests to the nation. Every time someone offered sacrifices, while the meat is cooked, the priest came flunky carrying tridental fork in his hand 14  And he struck it into the pan, or kettle, or caldron, or pot; Everything is drawn with a fork it up, taken to the priest himself. Thus they treat all the people of Israel who came there, to the Silo. 15 Even before the fat was burned, flunky priest came and said to those who sacrifice it: “Give flesh to roast for the priest because he would not accept from you a cooked meat, raw only just.” 16 If the person answering : “Is not that fat must be burned first, and then take you as you please,” then he said to him: “Right now you owe, if not, I’ll take it by force.” 17 Thus a very great sin of these two young men before the Lord, because they look down on the victim to the LORD. ”

Since the days of Moses, the priests who serve in the House of God was given rules and procedures that must be obeyed. Among other assignments relating to the priests in the service offerings that are offered by the congregation of Israel in God’s House.

There are things that should be taken to the Priests (limit the rights of priests), for the descendants of Aaron. and the main part of the offering of burnt offerings to be offered by burning, in the presence of God But the children of Eli the priest with a fork / tools commonly used in the altar of burnt offering to take the meat offerings without rules, before the burnt offering was completed dedicated.
Not only so, before the meat offerings were burned, they have asked. As the priests at the temple, they must know the rules of service, but the rules they violated intentionally break even. Actions that have been the children of Eli the priest did indicate that they:

Lowered the sacrifices to the Lord

Even harder, it was tantamount to not respect the word of God, because He has set up procedures.
Offering a special significance for the people of Israel, the congregation came to worship the Lord with a good hope to glorify Him, comes with genuine joy and happy heart, Through the offering, which is dedicated to making Israel a family reconciled to God.
It is conceivable if the community came to offer sacrifices to the temple with joy but found the coercion and abuse of office for self interest, most human when there is the church that became disillusioned with the behavior of priests like that. Children follow  Eli The Priest worldly desires to enjoy the offerings that should be on offer with respect before God. Of course, God be not pleasing to them.

B. I Samuel 2:22, “Eli was very old. When he heard everything that made his children to all the people of Israel and that they had slept with the women who serve in the front door of the tent of meeting ”
Besides applies greedy, threatening the community who came to offer sacrifices, like thugs, kids priest Eli also:

Adulterous

Highly reprehensible actions, scoundrels behavior. Body as a house of God corrupted, and that the children of Eli the priest did, even though they are priests who serve in the House of God.
People believe now been redeemed by the blood of expensive so do not leave our body to the instrument of evil. Use the body to the glory of God. The sin of adultery that has existed since before time, became increasingly in these days. Until one day, will culminate to form a community to worship openly adultery, is the city of Babylon, symbol of the adulterer.
Priest Eli heard the children’s behavior also was a priest, because it seems to have become common gossip among the people of Israel. He tried to rebuke, and advise their children’s. His children did not heed the words of the priest Eli.

C. Consequently

I Samuel 2:34, “This would be a sign for you, that is what will happen to both your son, Hofni and Phinehas: on the same day they will die.”
I Samuel 4:11, “Moreover, the ark of God taken away and the two sons of Eli, Hofni and Phinehas, died.”
God sent the prophet to come to the priest Eli, there’s a warning in order to repent, but unfortunately the warning was ignored.

Priest Eli did not act decisively to their children. Serving in God’s House could not arbitrary, then it must give warning of serious weight, but save wisely.
Privacy God also happens to people who abhorred the power of the Word. To Eli’s children who remain valid  Scoundrels behavior:

Both dead

When the war between Israel and the Philistines. The people of Israel struck lose, even worse Ark of God taken from the Philistines. The people of Israel brought the ark into battle, but because they did not glorify God, they lost and the two childs of  Eli The Priest were died.

1.2. I Samuel 2:29, “Why do you look with open-mouthed to My sacrifice and My offering, which I commanded, and why you respect your kids more than Me, while you fatten yourself with the best parts of each offering My people Israel?

Has been a long time Eli the priest, became a priest in the middle of Israel. Long course that will bring the priesthood became more sensitive to the will of God. But what happens with regard to his family brought him to a punishment:

Rebuke of God to Eli

Priest Eli has also been greedy to sacrifice, he enjoyed the part of the offerings that should not be right, but the rights of God, but it has taken its own course. Offerings brought to the temple that belongs to the Lord, not be brought to a priest, even for the priests had he set his share.
Priest Eli become fat body, the impact of the many he consumed meat offer the people of Israel. God must have wanted all the priests who served his affluent life, and be happy. But not by violating his decree, especially from the offering to take his own will. Yes, churches may not know, but God must know!

Priest reprimanded Eli did, because he did not have authority in the presence of her children. By let evil things happen, which should take offering to God, as he respects his children more than God.
As a leader, the priest Eli can not discipline his ministry team. He himself may feel has enough work in the ministry that it becomes passive, it’s time to enjoy the fruits of his ministry, so he thought.

Not move and act quickly to declare that their children are priests who have roles and responsibilities are not easy, not just the rights and privileges of her. This is the fault of the priest Eli, so be serious violations when they have to know the truth, Know the Word, know the Teaching, but not the practice attitude as the words of God, but the practice of thugs, and no discipline was enforced on the subject.
To be a priest is the terms, especially the life of sin dealt with, there is reconciliation with Him.

I Samuel 2:30, “Therefore – declares the Lord, the God of Israel – in fact I made a promise: Your family and your nation will live on forever before me, but now – declares the Lord -: be it  far  from me! Respect for who I am, will be respected, but who insulted me, would be considered low. ”

God has given His promise to the priest Eli and his descendants, will keep the priest Eli and his descendants if they honor God. But when he lowered his Lord and God punished severely.

God cancel His promise

Children of Eli the priest was lowered, even the unfortunate thing happened to the priest Eli.

I Samuel 4:18, “When he called the ark of God, Eli fell back from the chair beside the gates, his neck broken rod and he dies. For old and fat people. Forty years he reigned as a judge over Israel. ”

We heard the ark of the covenant and seized her children dead, the priest Eli who was old and fat body fell, then:

Eli died

It is spoken before, the Priest Eli did not see Eli’s grandson, Phinehas was married though and will give birth to children, Phinehas’s wife gave birth not so long ago in a state of shock, and death, but his son was born safely (1 Sam 4:20-21). Her grandson was born, and named Ikabod, but did not have a grandfather. The dark history of life occurred in the life of Eli the Priest. He has started well, but could not close the story of his life with good (not finishing well). He did not maintain the trust that the Lord has entrusted to him.

Leaders have a role as a shepherd. Moreover, as a priest who does have a right of reply before Him. He sued to have exemplary in all aspects of life. Being a shepherd has a challenge that is not easy, plus added a lot of parishioners struggle, he was asked to watch over the souls of the sheep were kept by them. It started from a small sphere, his family.

Priest Eli can say tragic, not only because of his behavior. But the policies that appeared to let a bad service practices happen and he did not act decisively against him. It reflects the impact of him because he is the leader and you know the truth.

God stopped his position as a priest, not just stop until death, he and her children. His refusal continues for a fifth generation descendants (1 Kings. 2:27), replaced Abiathar the priest Zadok the priest during the reign of Solomon.

2. Samuel elevated

I Samuel 2:26, “But the young Samuel, the bigger and more popular, both in the presence of the Lord and in the presence of humans.”
I Samuel 3:19, “And Samuel grew bigger and LORD was with him and none of his words had left his fall.”
If his power is able to humble those who ignore His Word. So instead he will raise those who hold His Word in power.

This is true in the life of Samuel. Born of a mother’s request that his prayer was answered by the power demonstrated by the Lord. When her mother had been declared closed by the policy of abortion but God, the womb is opened and closed was born Samuel. Until the time comes, Samuel and submitted to the House of God by his parents who are devoted to God. When you view the offerings of the type brought by his parents to the temple at Shiloh, a flash can be concluded that the biological family, including Samuel’s family. Of course when Samuel asked something to the parents can be met by them.
But according to his mother uttered vows, Samuel was sent to the House of God to live with the priest Eli.

In the House of God, Samuel applied properly, he was full of politeness, good to all people who come to the house of God also to the priest Eli. Samuel pleased not only of men, but also before God, He is honor God with His Word. Until he was allowed to wear clothes though efod young age.

When the children corrupted priest Eli, and cancel the Lord for the family of Eli. Not so with Samuel, not a single word of his left so that:

Lord was with him

In the middle and senior civil behavior in the “manse” priest Eli, Samuel holds true. He can discern what is pleasing to God and what is not, he grow older, not only physically but spiritually he was growing up, and the glory of God as a priest in his life.

I Samuel 3:20, “Then know all Israel from Dan to Bersyeba, that has been entrusted to the office of Samuel the prophet of the LORD.”

When referring to the rules of the leviticus of Israel, then the right to become priests are the descendants of the tribe of Levi, and who became the high priest was a descendant of Aaron.
No written that Samuel was the son of Elkanah son of a priest, but because of loyalty to His Word, create:

Samuel was the prophet of God

God entrusted to Samuel to become translators of the divine purpose for His people of Israel. Samuel voiced his will to the entire nation of Israel.

I Samuel 7:15-17, “Samuel’s reign as judge over Israel all his life. 16 Over the years he traveled to Bethel, Gilgal and Mizpa, and reigned over Israel in all places, 17 and then he went back to Rama, because that’s where his house and there he reigned over the children of Israel; and there he built an altar for the LORD.”
Not only were prophets, along with that:

Samuel’s reign as judge over Israel all his life

God chose to be judge, to resolve many social cases that occurred in the nation. At that time the people of Israel are not familiar with the system of government of kings. So judgeship is the highest position in the community of Israel, in his important decisions taken. This was done by Samuel, because he have the wisdom from Him.

3. Advice

Romans 1:21, “For although they knew God, they did not glorify Him as God or give thanks to Him. Instead their thoughts became futile and their foolish hearts were darkened. ”

Hebrews 3:12-14, “Beware, brethren, that in between you do not have a bad heart and who does not believe he was an apostate because of the living God. 13 But exhort one another every day, as long as it is called ‘today’ lest any of you be hardened by the deceitfulness of sin. 14 Because we have gain share in Christ, if only we hold fast until the end of our faith in the belief that original. ”

The people of Israel know God, even the high priest Eli, the children serve the Lord in the House of God, but their inner eyes do not look at him properly. God did not realize the policy correctly.
Moreover, as His servants, no responsibility is not easy, but the demand to continue to sanctify themselves in serving Him. For He is Holy God, then his servant should be sanctified. If it is broken it will be fatal. Worship leads to holiness, the perfection of His design. He is perfect God, in line with it, the Church in its growth leads to perfection (Matt. 5:48), He has sent his Word and his Spirit for it, so that the new born church, a holy man, live up to diligently follow Him perfect.
Persevere in teaching the Word, and subject to the guidance of the Holy Spirit, so that:

Do not be evil

Not lowered the prestige of teaching, serving the Lord at will but open our hearts for his policies which lead to a happy life. Advise each other as fellow believers, fellow servants of God to continue to fight in the plan of God. And sensitive to His will, which leads to the perfection of His design.

Among us, and for ourselves, not some hard-hearted by the deceitfulness of sin as a child of Eli the priest and the priest Eli himself, if only we firmly pledge to fight the victorious life that will be enjoyed. Priest Eli promised a happy life, so long as he holds to his promise. What happened, priest Eli and his sons to lose, do not survive to serve it right to the end. Physical desire must be controlled according to His Word, must be overlaid until the meat is not silent, until one day he will be changing this mortal be incorruptible. To a win (Rev. 3:5) will appear bright and safe. If there is a win, meaning there is a loser. Who would endure to the end will be saved, then continue to fight to win! (MC-Sr)

22 November 2009

WSB # 1031, 22 November 2009

Oleh bambang | Dalam WSB | Tag

“Tahun Kebijakan Tuhan”

Edisi No. 1031
Tahun XVIII
Minggu, 22 November 2009

21 November 2009

Tidak membenarkan diri ( Not Justify Ourself )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imamlewiSABTU, 21 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 7:1-53

Hai orang-orang yang keras kepala dan yang tidak bersunat hati dan telinga, kamu selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu” (ayat 51). Stefanus tidak gemetar atau ketakutan dihadapkan kepada Mahkamah Agama, sebaliknya ia tetap menunjukkan keberanian yang dari Allah. Stefanus mengungkap fakta bahwa orang Yahudi adalah umat yang keras kepala, tidak bersunat hati dan telinga. Dengan rinci Stefanus menceritakan bagaimana orang Yahudi menjadi sebuah bangsa. Dan mereka yang ada saat itu, mereka tidak berbeda dengan nenek moyangnya yang telah membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan kedatangan Orang Benar, Mesias yang dari Allah. Hukum Taurat yang mereka terima juga tidak mereka turuti. Mereka bebal, tidak mau belajar dari apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Pembelaan Stefanus atas apa yang dituduhkan kepadanya, bukan pembelaan untuk membenarkan diri sendiri, tapi ia menyatakan kebenaran Allah. Stefanus hidup diatas kebenaran Allah dan bukan diatas kebenaran diri sendiri, untuk itulah ia tidak takut menyatakan kebenaran Allah walau nyawa menjadi taruhannya. Jika kita juga memang benar-benar hidup diatas kebenaran Allah, kita juga tidak akan takut mengatakan kebenaran dan kita  juga tidak merasa tertuduh atas hal itu. Yang seringkali membuat kita masih belum berani mengatakan kebenaran adalah karena hati kita masih tertuduh. Jika kita memang hidup dalam kebenaran Allah, kita tidak akan bersikukuh membela diri dalam menghadapi berbagai tuduhan ,karena kebenaran itulah yang justru akan membela kita. Maka, jika kita mau hidup didalam Dia, jangan tegakkan kebenaran sendiri, tapi hiduplah dalam kebenaran Allah (Filipi 2:9).

MELAKUKAN KEBENARAN LEBIH DIKENAN ALLAH.

SATURDAY, 21 NOVEMBER 2009
Acts 7:1-53

O ye who are stubborn and not circumcised hearts and ears, you always resist the Holy Spirit, just as your ancestors, as well as you” (verse 51). Stephen did not tremble or fear brought before the Sanhedrin, instead he kept his courage from God. Stephen reveals the fact that the Jews are a stubborn people, not circumcised hearts and ears. Stephen tells in detail how the Jews became a nation. And they are there at the time, they are not different from their ancestors who killed the people who first proclaimed the coming of the Righteous, the Messiah of God. Law they receive they do not obey. They are ignorant, do not want to learn from what has been done by their ancestors. Stephen defense for what he was accused, not the defense to justify himself, but he expressed the truth of God. Stephen lives on the truth of God and not above self righteousness, for he was not afraid to express the truth of God even though life is at stake. If we are really living on the truth of God, we also will not be afraid to tell the truth and we also do not feel accused of it. Which often makes us still do not dare tell the truth is that our hearts are still defendants. If we indeed live in the truth of God, we will not insist defending himself against various charges, because the truth is that it will defend us. So, if we want to live in Him, do not hold your own truth, but live in the truth of God (Philippians 2:9).
DOING THE TRUTH WILL MAKE MORE PLEASING TO GOD.

20 November 2009

Hasut dan Fitnah ( Incitement and Slander )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) by Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

samson_htJUM’AT, 20 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 6:8-15

“Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: “Kami telah mendengar dia mengucap-kan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah” (ayat 11). Salah seorang diantara ketujuh orang yang terpilih untuk melayani meja, yakni Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan tanda-tanda dan mujizat dalam pelayanannya. Hal itu menimbulkan penasaran dari pihak orang-orang Yahudi, sebab sekalipun Stefanus bukan rasul, tapi dia juga mampu mengadakan tanda dan mujizat dalam pelayanannya dan merekapun tampil untuk bersoal jawab dengan Stefanus. Mereka tidak sang-gup melawan hikmat Stefanus, maka untuk menutupi kekurangannya, mereka bertindak dengan kelici-kan, yakni menghasut beberapa orang untuk menyebarkan fitnah terhadap Stefanus. Stefanuspun di-tangkap dan kembali harus berhadapan dengan saksi-saksi dusta. Kuasa Allah dinyatakan atas Ste-fanus sehinga muka Stefanus dilihat oleh penentangnya seperti muka seorang malaikat. Jika kepada rasul-rasul orang-orang Yahudi belum mengulurkan tangan mereka, tidak demikian halnya terhadap Stefanus, mereka tidak perlu menunggu, begitu ada kesempatan mereka langsung bertindak. Menghasut, memfitnah bukanlah hal yang baru, kata-kata itu akrab di telinga kita dan banyak orang yang melakukannya demi tercapainya apa yang mereka inginkan. Tapi itu bukanlah pakaian orang per-caya, seyogyanya orang percaya tidak melakukannya. Sebaliknya, milikilah cara hidup yang baik su-paya apabila kepada kita difitnahkan yang jahat, mereka dapat melihat kebenarannya dari hidup kita dan pembelaan Tuhan juga dinyatakan atas kita (1 Petrus 2:12). Jangan saling memfitnah dan menghasut, tetapi buanglah semuanya itu dari hidup kita.

APA YANG BAIK YANG KITA MILIKI JANGAN BIARKAN ITU DIFITNAH.

FRIDAY, 20 NOVEMBER 2009
Acts 6:8-15

“Then they incite some people to say:” We have heard him uttering blasphemous words against Moses and God “(verse 11). One of the seven people elected to serve the table, namely Stephen, full of grace and power, holding signs and miracles in his ministry. It raises the curiosity of the Jewish people, because even though Stephen was not an apostle, but he was also able to hold signs and wonders in his ministry, and they appear to cross swords with Stephen. They were not able to resist the wisdom of Stephen, then to cover up his shortcomings, they acted with cunning, of inciting some people to spread slander against Stephen. Stephen was arrested and returned to deal with false witnesses. Power of God revealed the face of Stephen, Stephen, thus seen by opponents as the face of an angel. If the apostles of the Jews had not reached them, is not the case against Stephen, they do not have to wait, so there is a chance they sprang into action. Inflammatory, defamatory is not new, the words were familiar to our ears, and many people who do it for the achievement of what they want. But that’s not the attitude of the believer, the believer should not do it. On the other hand, have a good way of life so that when we are falsely told that evil, they can see the truth of our lives and the defense of God also revealed to us (1 Peter 2:12). Do not slander and inciting each other, but throw all of our lives.
WHAT HAVE WE EITHER DO NOT LET THAT SLANDERED

19 November 2009

Kepemimpinan Majemuk (Pluralistic Leadership)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imageKAMIS, 19 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 6:1-7

“Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu” (ayat 3). Pelayanan rasul-rasul

terus berkembang dan menghasilkan murid yang terus bertambah. Ketidakberimbangan antara pelayan Tuhan dan jumlah orang yang harus dilayani, menimbulkan sedikit masalah, khususnya pelayanan untuk janda-janda orang Yahudi yang berbahasa Yunani yang sedikit terabaikan. Dengan berkem-bangnya pelayanan, rasul-rasul tidak lagi bisa mengurusi hal tersebut, maka merekapun memandang perlu untuk mengangkat orang untuk tugas tersebut sehingga rasul-rasul dapat memusat kan pikiran dalam doa dan pelayanan firman. Namun demikian bukan sembarangan orang yang bisa mengemban tugas tersebut, ada kriteria yang harus dipenuhi, diantaranya terkenal baik, penuh Roh dan hikmat. Dan pengangkatan mereka yang ditugasi untuk pelayanan meja tersebut menjawab dan menyelesaikan masalah yang timbul. Allah memberikan kepada tiap-tiap orang, terlebih kepada hamba-hamba-Nya, karunianya yang khas yang berbeda satu dengan yang lainnya (Roma 12:6-8).. Dengan karunia yang berbeda-beda, tugas dan pelayanan secara khususpun juga bisa berbeda. Allah menghargai kemaje-mukan, tapi segala sesuatunya harus berjalan dengan tertib. Rasul-rasul telah memberikan kete-ladanan yang baik bagi para pemimpin masa kini agar tidak haus akan kekuasaan namun mau belajar saling menghargai pemakaian Tuhan atas yang lain, dengan mempercayakan pelayanan yang tidak mungkin lagi untuk mereka gandar kepada mereka yang mampu menerima tanggungjawab pelayanan tersebut. Ingatlah, Tuhan tidak hanya memakai satu orang saja, tapi siapa saja yang mau Tuhan sang-gup memperlengkapinya untuk menjadi alat-Nya. PARA PEMIMPIN ADALAH TEMAN SEKERJA UNTUK KERAJAAN ALLAH.

THURSDAY, 19 NOVEMBER 2009
Acts 6:1-7

“Therefore, brothers and sisters, choose seven men from among you, the good-known, and full of the Spirit and wisdom, so we lift them up to the task” (verse 3). Messengers Services continue to develop and produce a growing disciple. Imbalance between the servant of God and the number of people who have served, causing a slight problem, especially service to the widows of the Greek-speaking Jews a little neglected. With the development of services, the messengers are no longer able to take care of these things, then they consider it necessary to appoint someone to the task so that the apostles could concentrate his mind in prayer and preaching. However, rather than random people who can carry out these tasks, there are criteria that must be met, including well-known, full of the Spirit and wisdom. And their appointment is assigned to the service desk to answer and resolve problems that arise. God gave each person, especially to the servants of his peculiar gifts that differ from one another (Romans 12:6-8) .. With the gift of different, tasks and special services can also be different. God respect to the pluralistic, but everything should be running with orderly. The apostles had to give a good modeling for today’s leaders not to thirst for power but want to learn to use God’s respect for others, with the ministry is no longer possible for them to drive a vehicle to those who are able to accept responsibility for these services. Remember, God does not just use one person, but anybody who would God could equip him to become his instrument.

THE LEADERS ARE ,   CO-WORKERS KINGDOM OF GOD.

18 November 2009

Dianggap Layak ( In a proper )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

second_comingRABU, 18 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 5:26-42

“Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah diang-gap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (ayat 41). Mereka yang ketakutan oleh karena lepasnya rasul-rasul dari penjara, begitu mendengar rasul-rasul itu ada di Bait Allah, segera pergi kesana untuk mengambil mereka, tapi tidak dengan kekerasan karena takut orang banyak akan melempari mereka dengan batu. Dihadapan Mahkamah Agama mereka kembali dilarang untuk menga-jar dalam Nama Yesus, tapi Petrus dengan penuh keberanian menjawab bahwa mereka harus lebih taat kepada Allah daripada taat kepada manusia. Alasannya adalah karena Yesus, yakni Dia yang telah dibangkitkan Allah untuk menjadi Pemimpin dan Juru selamat, telah begitu rupa menderita untuk kese-lamatan mereka. Dan penderitaan yang dialami oleh Yesus itu sendiri dilakukan oleh orang-orang Ya-hudi itu sendiri. Sidang itu tersinggung, mereka tertusuk hatinya dan bermaksud membunuh mereka. Namun setelah mendengar nasehat Gamaliel, mereka mengurungkan niatnya dan membebaskan rasul-rasul itu. Rasul-rasul begitu gembira, bukan hanya karena mereka dilepaskan, terlebih karena mereka telah dianggap layak untuk menderita karena Nama Yesus. Pengalaman itu tidak menghentikan pelaya-nan rasul-rasul, sebaliknya mereka tetap setia melakukan nya. Ketika kita mampu menghargai korban Kristus, sikap militan dalam iman juga pasti mampu kita tunjukkan. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu membuat kita mundur dari iman bahkan kita juga memperlengkapi pikiran kita untuk siap menderita bagi Injil-Nya, menderita karena kebenaran. Maka pencobaan bukan lagi sebagai sesuatu yang menakutkan, tapi kita anggap sebagai sebuah kebahagiaan karena hal itu justru akan menghasil-kan mahkota kehidupan (Yakobus 1:2-4, 12).

KEPADA KITA JUGA DIBERIKAN KARUNIA UNTUK MENDERITA BAGI KRISTUS.

WEDNESDAY, 18 NOVEMBER 2009
Acts 5:26-42

The apostles left the Sanhedrin trial with joy, because they have been considered worthy to suffer shame for His name Jesus” (verse 41). They are scared because of the loss of the apostles from prison, event they heard the apostles in the temple, immediately went there to take them, but not by force for fear people will be pelted them with stones. Sanhedrin before they return to Why forbidden jar in the Name of Jesus, but Peter boldly replied that they must obey God rather than obedience to men. The reason is because Jesus, that He who has been raised by God to be a leader and Savior, has been so much suffering for their safety. And suffering experienced by Jesus himself made by the Jews themselves. The trial was offended, they pierced his heart and meant to kill them. But after hearing the advice of Gamaliel, they thought better of it and free the other apostles. Apostles so excited, not only because they are released, especially since they have been deemed worthy to suffer for Jesus’ name. The experience did not stop the ministry apostles nan, otherwise they remain loyal to him. When we are able to appreciate the sacrifice of Christ, militant attitude of faith is also bound to our show. No power anything that could make us retreat from even our faith also equip our minds to be ready to suffer for His gospel, suffering because of righteousness. So the temptation is no longer as something scary, but we consider it as a joy because it will only produce a crown of life (James 1:2-4, 12).
FOR US  ALSO GIVEN IN THE BEHALF OF CHRIST,BUT ALSO TO SUFFER  FOR HIS  SAKE.

17 November 2009

Dalam tangan-Nya ( In His hands )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

air kehidupanSELASA, 17 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 5:17-25

“Tetapi datanglah seorang mendapatkan mereka dengan kabar: “Lihat, orang-orang yang telah kamu masukkan kedalam penjara, ada didalam Bait Allah dan mereka mengajar orang banyak” (ayat 25). Satu sisi pelayanan rasul-rasul yang luar biasa membuat banyak orang percaya kepada Tuhan, tapi disi lain pelayanan itu membuat gusar Imam Besar dan pengikut-pengikutnya, khusus nya orang-orang dari mazhab Saduki. Mereka dikuasai oleh iri hati dan merekapun mulai bertindak dengan menangkap rasul-rasul. Namun belum waktunya bagi kedua rasul yang ditangkap itu untuk mengalami penderitaan badani, mereka masih harus memberitakan firman hidup itu kepada orang banyak. Maka waktu malam Tuhan mengutus seorang malaikat-Nya untuk membuka pintu-pintu penjara dan membawa mereka keluar. Sementara kepala pengawal Bait Allah dan imam-imam kepala dilanda kecemasan oleh karena rasul-rasul itu tidak ada lagi dipenjara, rasul-rasul mentaati pesan yang disampaikan oleh malaikat Tu-han, mereka memberitakan firman Tuhan di Bait Suci. Hidup dan mati kita orang percaya ada ditangan Tuhan, maka ketika kita mau hidup dalam segala kehendak dan jalan-jalan-Nya, Allah bertanggung-jawab mengatur hidup kita. Tidak akan kita mengalami suatu yang buruk tanpa seijin Tuhan, dan kalau-pun kita harus mengalaminya, banyak cara Tuhan untuk melepaskan kita. Orang boleh mereka-rekakan yang jahat atas kita, satu yang pasti Allah sanggup melepaskan kita. Jangan takut, jika Allah dipihak kita, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap kita ? Dia sudah melepaskan kita dari dosa, maka Dia juga pasti akan melepas kan kita dari yang jahat (Galatia 1:3-4).Yang penting jangan melepaskan iman kita dalam masa kesesakan.

ALLAH BERKUASA MENJAGA KITA UNTUK TIDAK JATUH.

TUESDAY, 17 NOVEMBER 2009
Acts 5:17-25

“But there came a get them with the news:” Look, the people who have you entered into the prison, there is in their temple and teaching the people “(verse 25). One side of the ministry which the apostles made a lot of extraordinary people believe in God, but the other conditions of service that makes upset the high priest and his followers, his special people from the school of the Sadducees. They are ruled by envy, and they begin to act by arresting the apostles. But not yet time for the two apostles who were arrested were to experience physical suffering, they still have to preach the word of life to the people. So when the night God sent His angel to open the prison doors and brought them out. While superintendent of the Temple and the chief priests overcome anxiety because the apostles were no longer incarcerated, the apostles obeyed the messages conveyed by the angel of God, they preach the word of God in the Temple. We live and die in the hands of people believe there is God, then when we want to live in all the will and the streets of his, God is responsible regulate our lives. We will not be a bad experience without the permission of God, and even if we have to experience it, many ways of God to deliver us. People may confab evil upon us, one that must be able to let go of our God. Do not be afraid, if God our side, what can man do to us? He has set us free from sin, then He also would have removed us from the evil (Galatians 1:3-4). Just do not let go of our faith in times of trouble.

God has the power to keep us from falling

16 November 2009

Tumbuh Seimbang ( Balanced Growing )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

Harvest_143002929SENIN, 16 NOPEMBER 2009

KISAH RASUL 5:12-16

“Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan” (ayat 14). Seperti yang Yesus pernah katakan bahwa orang yang memiliki iman yang hidup akan sanggup melakukan perbuatan yang lebih besar dari yang Ia lakukan, maka demikianlah kuasa Roh kudus yang bekerja didalam diri para rasul mengerjakan tanda-tanda dan mujizat yang luar biasa. Bahkan bayangan Petrus saja diyakini oleh orang dapat menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Sebagai akibatnya, lebih banyak lagi orang dari kota-kota disekitar Yerusalem datang berduyun-duyun membawa orang-orang sakit mereka untuk disembuhkan. Akibat yang lebih indah dari pelayanan rasul-rasul itu adalah semakin lama semakin bertambah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan. Kewibawaan dan kuasa Roh kudus serta cara hidup yang baik dari jemaat mula-mula itu membuat mereka dihormati oleh orang banyak. Inilah suatu bentuk pertumbuhan yang seimbang, baik kuantitas maupun kualitasnya. Pertumbuhan seperti itulah yang dikehendaki Allah. Pertumbuhan kuantitas akan mengiringi pertumbuhan kualitas, dengan kata lain kualitas yang baik akan membawa kepada pertum-buhan kuantitas. Pelayanan yang dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus akan mengarah pada pertumbuhan yang demikian. Demikian pula dalam kehidupan iman secara pribadi. Iman yang bertumbuh akan membawa pengaruh dalam kehidupan jasmani. Maka jangan hanya memperhatikan pertumbuhan jasmani saja, tapi perhatikan juga pertumbuhan tubuh rohaniah kita. Ingatlah bahwa kehidupan rohani menopang hal yang jasmani, jadi perhatikanlah dengan sungguh hal yang tidak kelihatan ini karena hal itulah yang berhubungan dengan kekekalan (2 Korintus 4:18).

JADILAH SEHAT JASMANI DAN ROHANI.

MONDAY, 16 NOVEMBER 2009
Acts 5:12-16

“And more and more increase is the number of people who believe in God, both male and female” (verse 14). As Jesus once said that people who have faith that life will be able to perform greater deeds than he did, then the Holy Spirit’s power so that work within themselves the apostles did signs and great miracles. Even the shadow of Peter is believed by people just can cure the disease they suffered. As a result, more and more people from the cities around Jerusalem came in throngs of people brought their sick to be healed. As a result of a more beautiful than the apostles services are becoming increasingly number of people who believe in God. Authority and power of the Holy Spirit as well as a good way of life of the early Church that made them respected by many people. This is a form of balanced growth in both quantity and quality. Growth like this is the will of God. Growth will accompany the growth of the quantity of quality, in other words a good quality will lead to the growth of the quantity. Services are controlled and led by the Holy Spirit will lead to the growth of such. Similarly, in the life of faith in private. The growing faith will take effect in the physical life. So do not just consider the physical growth, but also note the growth of our spiritual body. Remember that sustains the spiritual life of the flesh, so pay attention to things that are not really visible because it is associated with eternity (2 Corinthians 4:18).

BE THE PHYSICAL AND SPIRITUAL HEALTH.