Get Adobe Flash player
27 December 2009

Khotbah Minggu, 27 Desember 2009

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam MP3 | Tag

audio-graphic-112x120

Audio Khotbah….
21 December 2009

Khotbah Minggu, 20 Desember 2009

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam MP3 | Tag

audio-graphic-112x120

Audio Khotbah….
19 December 2009

Kembalilah kepadaKu

Oleh Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo Bc.M | Dalam Khotbah Minggu | Tag

rel01C13. Kuasa dalam Tabut Allah

I Samuel 5

Setelah beberapa saat Tabut berada di rumah Abinadab, Tabut Allah lalu dibawa untuk dipindahkan ke kota Daud. Kelak Tabut Allah di letakkan permanen dalam Kaabah Allah yang dibangun oleh Salomo putra Daud.

Meski Daud memiliki kerinduan setelah Tabut Allah berada di Yerusalem, ia akan membangun sebuah tempat permanen yang khusus bagi Allah, Daud tidak diijinkan Tuhan untuk membangun Kaabah Allah karena pada pemerintahannya banyak terjadi pertumpahan darah. Kerinduan itu terwujud pada pemerintahan putranya, Salomo. Sehingga Kaabah atau Rumah Tuhan yang dibangun oleh Salomo dikenal sebagai Kaabah Salomo, atau Bait Allah Salomo.

Kini Kaabah permanen yang dibangun oleh Salomo, tinggal reruntuhan, tersisa temboknya saja. Pada Tahun 70 SM, tentara romawi menghancurkan bangunan Kaabah itu saat mereka merebut kota Yerusalem. Orang Yahudi Israel hingga kini meratapi tembok itu dan menantikan pemulihannya.

Sebagai catatan, bagi orang percaya Perjanjian Baru, tidaklah perlu terlalu terkait secara langsung dengan pembangunan fisik Kaabah Allah di Yerusalem, sebab menurut Sabda-Nya, tubuh orang percaya dengan Kristus di dalamnya menjadi Kaabah Allah yang hidup.

15. Kuasa pertobatan yang dahsyat

1. Perintah Samuel

I Samuel 7:3 , “Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: “Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.

Tekanan yang dirasakan oleh bangsa Israel yang dilakukan orang Filistin di beri solusi oleh-Nya melalui Nabi Samuel. Untuk beberapa waktu, bangsa Filistin banyak merampasi harta bangsa Israel dan menindas umat Tuhan. Beberapa kota bangsa israel diduduki, dan masuk dalam kekuasaan raja-raja orang Filistin.

Menjawab kebutuhan umat-Nya, Nabi Samuel menginstruksikan supaya bangsa Israel bertobat, kembali kepada-Nya dan membuang ilah lain dari hadapan-Nya.

Bangsa Israel yang tadinya meminggirkan Tuhan Allah dalam kehidupan mereka, diminta kembali kepada-Nya, menyingkirkan semua berhala yang tidak berkenan di hadapan-Nya tanpa kompromi.

Sebab adanya pelanggaran atau dosa akan memisahkan umat dengan Allah (Yes 59:1-2). Tuhan Allah itu tidak pernah berubah, Ia tetap memelihara dan menjaga umat-Nya, pilihan manusia yang tidak mendengar Sabda-Nya dengan seksama dan melakukan perintah-Nya, berdampak seolah Ia terasa jauh.

Allah tidak bisa di pinggirkan dalam kehidupan orang percaya. Penghormatan kepada Tuhan adalah hal yang utama, maka dalam komunitas orang percaya sekalipun meski seorang hamba Tuhan telah banyak berjasa dan melakukan banyak hal penting dalam melayani-Nya, jangan sampai penghormatan yang utama –kepada Allah- itu digeser oleh penghormatan kepada hamba-Nya secara berlebihan.

Melalui Samuel, hamba-Nya, bangsa Israel diserukan supaya menyembah kepada Allah yang hidup. Maka akan ada kemenangan dalam kehidupan bangsa Israel.

2. Tindakan Israel

I Samuel 7:4-6 , “Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN. 5 Lalu berkatalah Samuel: “Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN.” 6 Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.

Bangsa Israel taat kepada instruksi Samuel tersebut. Bangsa Israel mengakui kesalahan, berbalik dari jalan yang jahat, sehingga negeri mereka di pulihkan  (2 Taw. 7:14). Bangsa ini bersehati :

Membuang berhala-berhala!

Berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Allah. Menjadikan Dia yang utama.

Senada bagi bagi umat percaya di hari ini yang telah ditebus oleh-Nya, selalu hargai korban Kristus. Menyembah Dia dengan setia, dan menggunakan tubuh yang telah dibeli lunas oleh-Nya bagi kemuliaan-Nya, tidak untuk berbuat dosa.

I Samuel 7:8-9 , “Lalu kata orang Israel kepada Samuel: “Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.” 9 Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia.

Telah sedemikian lama bangsa Israel selain beribadah kepada Allah yang hidup, ternyata juga menyembah ilah lain di hadapan-Nya. Akibatnya kehidupan bangsa ini menjadi tertekan, ibadah mereka seolah tidak memberikan hasil apa-apa bila melihat kondisi fisik yang mereka alami.

Saat bangsa ini menyadari kesalahan di hadapan-Nya. Ada suatu kuasa yang mereka rasakan, keberanian untuk berseru kepada-Nya supaya memberikan kelegaan dari beban kehidupan yang tengah menekan.

Ketika Samuel, pemimpin bangsa itu bersama dengan dukungan dari segenap bangsa Israel, bersehati  berseru kepada-Nya. Maka :

Tuhan menjawab doa

Keluhan bangsa Israel di jawab Tuhan, ada kelegaan yang Ia hadirkan.Telinga Tuhan tetap peka, Tangan-Nya tetap mampu menjangkau umat-Nya.

Wajah Tuhan sudi dihadapkan kembali bagi bangsa pilihan-Nya. Ia berkenan untuk menolong umat-Nya mendapatkan kembali hari-hari yang penuh kebahagiaan.

3. Kekuatan pertobatan

I Samuel 7:10-11 , “Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. 11 Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar.

I Samuel 7:13-14 , “Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel, 14dan kota-kota yang diambil orang Filistin dari pada Israel, kembali pula kepada Israel, mulai dari Ekron sampai Gat; dan orang Israel merebut daerah sekitarnya dari tangan orang Filistin. Antara orang Israel dan orang Amori ada damai.

Saat orang-orang Filistin, maju menyerang bangsa Israel. Tuhan Allah mengeluarkan halilintar yang bersuara keras, dan menggetarkan hati orang Filistin. Pasukan Israel dengan mudah menaklukan pasukan Filistin yang tengah kacau balau karena mendengar suara menggelegar itu.

Sehingga pada peperangan antara bangsa Israel dan orang-orang Filistin, terjadilah :

Kemenangan besar

Ketika mengaku dosa, berhenti berbuat dosa dan kembali kepada Allah. Ia menjawab doa, dan kemenangan besar terjadi.

Pembelaan dan pemeliharaan Tuhan nyata terjadi bagi umat-Nya yang mengasihi-Nya. Bangsa Israel tidak saja berhasil keluar sebagai pemenang ketika bangsa ini diserang oleh orang Filistin, namun mereka berhasil merebut kembali kota-kota mereka yang telah dikuasai orang Filistin. Orang-orang Isrsel yang ada di kota-kota itu, tadinya hidup dalam ketidaknyamanan dapat kembali bebas, terlebih bebas untuk beribadah kepada Allah yang hidup dengan leluasa.

4. Pengakuan Samuel

I Samuel 7:12, “Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.

Kemenangan yang diperoleh oleh bangsa Israel patut disyukuri. Sebagai pemimpin, Samuel melakukan tindakan yang bijak, bukan pesta meriah yang didahulukannya. Samuel menghadap Tuhan bersama dengan bangsa Isarel yang dipimpinnya, pada sebuah tempat di antara Mizpa dan Yesana, ia mengambil batu dan mendirikan monumen untuk menjadi tanda peringatan bagi semua orang Israel, ia memberi nama tempat itu :

Eben-Haezer

Sampai di sini Tuhan menolong kita

Pengakuan terlontar dari mulutnya bagi kemuliaan-Nya. Sebagai pemimpin dan hamba Allah, Samuel tidak mau mencuri kemuliaan-Nya, menganggap keberhasilan yang diraih adalah usahanya. Tetapi sejarah bangsa israel tetap mencatat bangsa ini berhasil keluar dari kesulitan, sebab pertolongan Tuhan.

Bila sampai hari umat-Nya masih dapat bertahan, bahkan lebih dapat menjadi pemenang dalam beragam tantangan kehidupan, itu semua karena pertolongan Tuhan. Bagi yang tunduk kepada kedaulatan Kristus sebagai kepala Gereja, Ia tidak pernah kecewakan sidang jemaat-Nya.

Maleakhi 3:7 , “Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?

Kembalilah kepada Tuhan –bertobat- bila selama ini telah menempuh jalan yang menyimpang.

Sejak dari awal tahun hingga tiba di penghujung tahun, atau hari berganti hari hingga kini, mata bathin kita baru melihat, di balik segala usaha masih ada sesuatu yang kurang. Kita baru menyadari bahwa jalan yang ditempuh, ternyata jalan yang tidak menyukakan hati-Nya.

Mari kembali ke jalan-Nya.  Akan ada pemulihan dalam kehidupan orang percaya. Ada kuasa dari-Nya, kecakapan menanggung segala perkara dalam kehidupan. Ia tidak pernah biarkan umat yang dikasihi dan mengasihi-Nya berjalan sendiri!!

Hidup manusia di bumi bagaikan orang bergumul, lebih tegas lagi laksana orang berperang. Betapa bersyukur dalam kondisi apapun yang orang percaya hadapi, kebijakan-Nya selalu tepat pada waktu-Nya.

Sabda-Nya tetap berseru bagi kebaikan umat yang dikasihi-Nya :

Kembalilah kepadaKu, maka Aku akan kembali kepadamu

Tangan kemurahan-Nya terbuka bagi yang mendengar suara-Nya. Keselamatan telah datang menjadi awal bagi terciptanya kebahagiaan yang didambakan.

Hidup damai, tenteram, penuh berkat, harapan demi harapan terwujud seturut kehendak-Nya. Banyak perkara dapat ditanggung dengan tuntas dam sukacita, semua itu menjadi bagian dari orang percaya yang berhenti berbuat dosa dan kembali kepada-Nya.

Selamat merayakan hari lahirnya Tuhan di hatimu!!!

(Mc-Sr)

C13. Power of the Ark of God
I Samuel 5

After some time the Ark was at home Abinadab, then brought the Ark of God to be moved to the city of David. Later the Ark of God in a permanent place in God Kaaba was built by Solomon the son of David.

Although David has a desire, after the Ark of God was in Jerusalem, will build a permanent special place for God, David is not allowed by God to build the Kaaba in the reign of God as much bloodshed. Longing was realized in the government his son, Solomon. So the Kaaba, or House of God built by Solomon Solomon is known as the Kaaba, or the Temple of Solomon.

Now the permanent Kaaba was built by Solomon, in ruins, its walls left alone. In the year 70 BC, Roman soldiers destroyed the building Kaaba when they captured the city of Jerusalem. Israeli Jews today mourn the wall and waiting for recovery.

For the record, the New Testament believers, it is not necessary so directly related to the physical construction of Kaaba of God in Jerusalem, because according to His Word, the body of believers with Christ in it, the Kaaba of the living God.

15. Tremendous power of repentance

1. Command Samuel

I Samuel 7:3, “Then Samuel said to all of Israel, saying:” If ye turn to the LORD with all your heart, then the preserve of the foreign gods and the Asytoret from your midst, and addressed your heart to the Lord and serve Him only; and He will deliver you from the hands of the Philistines. ”

The pressure felt by the people of Israel did give the Philistines in his solution by the prophet Samuel. For some time, the Philistines many prey wealth and oppress the people of Israel God’s people. Some of nation israel occupied, and entered in the power of the kings of the Philistines.
Answering the needs of his people, the prophet Samuel instructed the Israelites to repent, return to Him and away from other gods before Him.

The people of Israel that had been set aside the Lord God in their lives, asked to return to Him, get rid of all the idols that are not pleasing before Him without compromise.

For any violation or sin will separate the people with God (Isaiah 59:1-2). Lord God was never changed, he still maintain and protect his people, human choices are not hearing His Word carefully and do his commandments, he felt an impact as far.

He can not be ruled out in the life of the believer. Tribute to God is the main thing, then the community of believers, though a servant of God has much merit and many important things to do in serving Him, not to respect God’s major shifted by a tribute to his servant excessive.

Through Samuel, his servant, the people of Israel are called to worship the living God. Then there will be a victory in the life of the nation of Israel.

2. Israel Action

I Samuel 7:4-6, “Then the people of Israel and the distancing of the Asytoret Baal and worship only the Lord. 5 Then Samuel said: “Gather all Israel to Mizpa; then I will pray for you unto the LORD.” 6 After gathering in Mizpa, they draw water and pour in before the LORD. They also fast on that day and said there: “We have sinned against the Lord.” And Samuel judged the children of Israel in Mizpa. ”

The people of Israel obeyed the instruction of Samuel. The people of Israel to admit mistakes, turning from the evil path, so that they land in the restored (2 Chron. 7:14). The nation is unanimous:

Discard idols!

Stop sinning and return to God. He made the main.
In line for the people to believe in today, which have been redeemed by him, always appreciate the sacrifice of Christ. Worship Him faithfully, and using the body that have been purchased by him in full for his glory, not to sin.

I Samuel 7:8-9, “And Israel said to Samuel:” Do not stop calling for us to the Lord, our God, that He may save us from the hands of the Philistines. ” 9 After that Samuel took a lamb suckling, and offer all to the Lord as a burnt offering. And when Samuel cried to the LORD for Israel, the LORD answered him. ”

Has been so long the people of Israel but to worship the living God, was also worshiped other gods. As a result the life of this nation to be depressed, as if they worship not give any results when viewing the physical conditions they experience.

As this nation realized his mistake. There is a power that they feel, the courage to call upon him to provide relief from the burden of life that was pressed.

When Samuel, the nation’s leaders together with all the people of Israel, agreed call to Him. Then:

God answers prayer

Complaints of Israel in God answered, there was relief that he presents. Remain sensitive to God’s ears, his hands still able to reach his people.
God willing to show his face back to his chosen people. He was pleased to help his people get back to the days full of happiness.

3. The power of repentance

I Samuel 7:10-11, “Samuel’s offer burnt offering, the advance of the Philistines fought against Israel. But on that day the LORD thundered with a great sound to the top of the Philistines and confused them, so they are hit by an Israeli defeat. 11 Exit the people of Israel from Mizpa, pursuing the Philistines were defeated and beat them until the downstream Bet-Kar. ”

I Samuel 7:13-14, “So the Philistines were subdued and no longer enter the area of Israel. Lord’s hand against the Philistines Samuel’s lifetime, and 14 cities of the Philistines taken from the people of Israel, also returned to Israel, from Ekron to Gath; and the surrounding area Israel captured from the hands of the Philistines. Between Israel and the Amorites was no peace. ”

As Philistines, advanced to attack the nation of Israel. The Lord God took out a loud thunder, and shook the hearts of the Philistines. Israeli forces easily defeated the Philistine army was ruined by the sound of thunder is.

Thus the battle between the Israelites and Philistines, there was:

Great victory

When he confessed sin, stop sinning and return to God. He answered prayer, and a great victory occurred.

Defense and maintenance of the real God happened to his people who love Him. The people of Israel not only managed to come out a winner when the nation was attacked by the Philistines, yet they managed to retake their cities who have mastered the Philistines. Isrsel people in the cities, had been living in an uncomfortable atmosphere, finally able to return freely, especially free to worship the living God freely.

4. Recognition Samuel

I Samuel 7:12, “Then Samuel took a stone and set it up between Mizpa and Yesana; he named it Eben-Haezer, he said:” Hitherto the Lord help us. ”

The victory gained by the people of Israel to be grateful. As a leader, Samuel made a wise action, rather than a festive party in priorities. Samuel to the Lord together with the people they lead Isarel, at a place among Mizpa and Yesana, he took a stone and set up a monument to be a warning sign to all the people of Israel, he gave the name of the place:

Eben-Haezer

At this point God help us

Confession out of his mouth for His glory. As a leader and servant of God, Samuel did not want to steal his glory, consider the success achieved is their business. But the history of israel still managed to record this nation out of trouble, for God’s help.

If to this day his people can still survive, even more can be winners in the various challenges of life, it’s all because of God’s help. For the subject to the sovereignty of Christ as the head of the Church, he never let his church trial.
Malachi 3:7, “Since the days of your fathers you have deviated from My statutes and do not keep it. Get back to me, then I will return unto you, saith the LORD of hosts. But you said: “By the way how we should go back?”


Return to the Lord ‘repent’ when it has come a long way distorted.

Since the beginning of the year until he reached the end of the year, or day by day until now, a new inner eye to see, behind all efforts there is still something missing. We just realized that the roads we traveled, the road turns out not to like his heart.

Let’s return to His way. There will be recovery in the life of the believer. Some power from his ability to take all things in life. He never let the people who loved and to love him walk alone!!

Human life on earth like a man struggling, more assertive again like the war. How grateful, in any condition that believers face, his policy was always right in his time. His words still calling for the good of his beloved:

Return to Me, then I will come back to you

His hands of mercy is open to those who hear his voice. Salvation has come to be the beginning for the creation of a desirable happiness.

Live in peace, peaceful, full of blessing, hope for the expectations come true according to His will. Many cases can be completely covered with drafts joy, all became part of the believer who stop sinning and return to Him.

Happy celebrating the birth of the Lord in your heart!
(Mc-Sr)


19 December 2009

WSB # 1035, 20 Desember 2009

Oleh bambang | Dalam WSB | Tag

“Tahun Kebijakan Tuhan”

Edisi No. 1035
Tahun XVIII
Minggu, 20 Desemberr 2009

19 December 2009

Aku Bangga Padamu Ibu

Oleh bambang | Dalam Artikel | Tag

Keluaran 20:12 ; Matius 15:4 ; Amsal 23:22

ibu00Aku tidak dapat melukiskan perasaanku ketika ibuku menyerahkan sebuah dompet dengan uang tiga juta rupiah di dalamnya menjelang pernikahanku. Perasaan haru yang amat sangat membuat aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ketika menye-rahkan uang itu, dengan suara yang khas ibuku berkata : ”Pakailah untuk keperluan pernikahanmu!”. Aku hanya diam termangu. Diusianya yang hampir 75 tahun, ibu masih ingin menjadi berkat buat anak-anaknya. Tiba-tiba aku teringat pada peristiwa 25 tahun yang lalu, yaitu ketika bapak kami meninggalkan kami untuk selama-lamanya, akibat penyakit tumor usus yang menjalar keseluruh tubuhnya. Bapak meninggalkan ibuku sendirian  memikul tanggung jawab keluarga, mengasuh dan membesarkan 8 anak yang relatif masih kecil. Sejak saat itu aku melihat ibuku “membanting tulang” mencari nafkah untuk menghidupi kami. Dengan dibantu oleh ketiga kakakku yang laing besar, ibuku melakukan apa saja yang dilakukan agar kami anak-anaknya tidak kelaparan. Contohnya, ia membeli gabah untuk dijadikan beras, kemudian dijual kepasar; ia membuat air jahe untuk dijual; ia mengusahakan kebun dan menjual hasilnya, Dalam menghadapi masa-masa yang amat sulit itu, aku tidak pernah melihat ibuku mengeluh apalagi putus asa, tetapi sebaliknya dengan tetap bersemangat ia menjalani hidup ini.

Ibu memang tidak dapat membaca ataupun menulis, tetapi dari caranya menghadapi hidup ini, aku mendapatkan beberapa pelajaran, yaitu:

1. Tanggungjawab. Dari cara ibu merawat dan mengasuh kami, terlihat jelas ada sifat yang bertanggungjawab. Bukan hal yang mudah untuk membesarkan 8 anak seorang diri tanpa suami, tanpa keahlian khusus, tanpa adanya pendidikan. Tetapi ibu mempertahankan kami. Tidak satupun anak-anak kami yang diserahkan kepada orang lain dengan alasan tidak mampu memberi kami makan. Kita melihat tidak sedikit ibu yang menyerahkan anaknya kepada orang lain dengan alasan ekonomi. Dimanapun kita berada, di bidang apa pun pekerjaan kita, sifat tanggung jawab mutlak diperlukan. Tanpa mempunyai sifat ini kita akan melakukan pekerjaan kita dengan sembarangan.

2. Kerja keras dan ketekunan. Puluhan tahun dijalani oleh ibuku dengan kerja keras yang dibarengi dengan ketekunan, dan kami semua anak-anaknya telah merasakan hasilnya, yaitu kami tetap dapat hidup, dapat bersekolah dan sebagian dari kami sudah dapat berkarya. Kasih kepada anak-anaknya, itulah yang telah mendorongnya untuk tetap bekerja tanpa sedikit pun mengeluh.

Sudahkah Anda berterimakasih kepada ibu Anda untuk apa yang telah ia lakukan bagi Anda? Sudahkah Anda mengucap syukur kepada Tuhan untuk ibu Anda?

Segenggam teladan orang tua

sama nilainya dengan segudang nasihat.

(Mansor-Mr. Bind)

19 December 2009

Tanggapan Bijak ( Wise Response )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

berdoaSABTU, 19 DESEMBER 2009

KISAH RASUL 16:19-40

“Lalu ia membawa mereka kerumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah” (ayat 34). Dengan berhentinya aktivitas tenung hamba perempuan di Filipi ,karena roh yang menguasai perempuan tersebut telah diusir, membuat tuan-tuan yang biasa memanfaatkannya menjadi marah. Mereka menangkap Paulus dan Silas, menderanya dan memasukkannya kedalam penjara dalam keadaan terbelenggu. Tapi belenggu dan penjara tidak dapat menghilangkan sukacita yang ada dalam hati mereka. Tengah malam keduanya berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah. Maka Allah menyatakan kuasa-Nya. Terjadilah gempa bumi ang dahsyat sehingga belenggu Paulus dan Silas terlepas dan pintu-pintu penjara pun terbuka. Ketakutan yang melanda kepala penjara yang membuat dia mau bunuh diri dijawab Paulus dengan berita keselamatan. Kepala penjara percaya dengan berita tersebut bahwa didalam Yesus Kristus ada keselamatan, bahkan ia sangat bersukacita karena kenyataan bahwa ia telah beroleh keselamatan kekal. Maka iapun membawa Paulus dan Silas kerumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Demi keselamatan jiwa seorang kapala penjara dan seisi rumahnya, Allah mengijinkan Paulus dan Silas untuk terpenjara dan terbelenggu. Jika kepala penjara itu mampu menunjukkan respon yang nyata karena keselamatan yang diterimanya, bagaimana dengan kita ? Apa tanggapan kita dengan keselamatan kekal yang telah kita terima ? Biasa-biasa saja ? Sadarilah bahwa demi keselamatan kita, bukan hanya Paulus dan Silas yang menderita, tapi Yesus sendiri yang bahkan rela mati di kayu Salib. Maka tanggapi keselamatan itu, bersukacta dan bersoraksorailah buat keselamatan yang diadakan-Nya, bersyukurlah dengan sungguh (Yesaya 25:9).

BIARLAH HATIMU BERSORAK-SORAI KARENA KESELAMATAN YANG DARI PADA-NYA

SATURDAY, 19 DECEMBER 2009
Acts 16:19-40

Then he took them to his house and serve food to them. And he was very happy, that she and her household had become to believe in God “(verse 34). With the cessation of activity of the slave girl magick in Philippi, as the master spirit of these women have been expelled, making gentlemen usually use getting angry. They seized Paul and Silas, tormented and put into prison in chains. But the shackles and the prison can not remove the joy in their hearts. At midnight they prayed and sang praises to God. So God reveals his power. There was a great earthquake, so that the shackles of Paul and Silas off and the prison doors opened. The fear experienced by the Head Prison, making him want to kill myself and Paul to help with street preaching salvation. The warden believes the news that in Jesus Christ there is salvation, even he was very happy because the fact that he has gain eternal salvation. Then she began to bring Paul and Silas into his house and serve food to them. For the sake of the salvation of souls Prison Chief and all his household, God allowed Paul and Silas to imprisoned and shackled. If the warden was able to show the real response because it receives salvation, what about us? What is our response to the eternal salvation we have received? Mediocre? Be aware that for the sake of our salvation, not just Paul and Silas who suffer, but Jesus himself is even willing to die on the Cross. Then respond to the safety, joy and cheer for the salvation of his place, thanks to it (Isaiah 25:9).
LET YOUR HEARTS REJOICE, BECAUSE OF THE SAFETY OF HIM

18 December 2009

Tidak Sungguh-sungguh ( Not So Serious )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By  Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

benci001JUM’AT, 18 DESEMBER 2009

KISAH RASUL 16:13-18

Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru: “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan” (ayat 17). Seketika itu juga keluarlah roh itu” (ayat 18). Sesuai dengan pimpinan Roh Kudus melalui penglihatan yang diteri-manya Paulus ada di Makedonia, lebih tepat lagi di Filipi, kota pertama yang dikunjunginya. Seorang perempuan penjual kain ungu dari kota Tiatira bernama Lidia, memperhatikan apa yang Paulus sampai-kan dalam rumah ibadat orang Yahudi, ia membuka hatinya dan percaya lalu dibaptis. Hebatnya lagi, bukan hanya dia yang menjadi percaya, tapi juga seisi rumahnya. Pelayanan Paulus tidak hanya ber-henti disitu, seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung dipakai iblis untuk mengganggu Paulus, bukan dengan tenungannya seperti biasa ia lakukan kepada tuan-tuannya sehingga mereka memperoleh keuntungan yang besar, tapi ia terus mengikuti Paulus dan berseru bahwa Paulus adalah hamba Allah Yang Mahatinggi yang memberitakan jalan keselamatan. Sepertinya itu bagus, tapi itu adalah sebuah ejekan. Dan hal itu berlangsung beberapa hari lamanya. Setelah cukup sabar, dengan sekali hardik dalam nama Yesus, keluarlah roh dari hamba perempuan itu. Berhati-hatilah, iblis bisa menyamar menjadi malaikat terang. Ada orang yang berpura-pura memihak kepada kita, memihak iman dalam Kristus, tapi dalam praktek hidupnya hanya menjadi duri dalam daging, menjadi biang ke-ladi dan sumber dari segala masalah. Maka sikap waspada tetapharus kita kembangkan menyikapi setiap orang yang menggabung kan diri dalam komunitas kita. Tong kosong nyaring bunyinya, bukan semua orang yang berseru Tuhan, Tuhan adalah saudara seiman, tapi mereka yang bersungguh-sungguh melakukan firman Tuhan (1 Yohanes 3:19).

ROH TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH ITU ROH ANTIKRIS.

FRIDAY, 18 DECEMBER 2009
Acts 16:13-18

She followed Paul and us from behind as she exclaimed:” These men are the servants of Allah the Most High. They bring you a way of salvation “(verse 17). Immediately out the spirit “(verse 18). In accordance with the leadership of the Holy Spirit through Paul received a vision in Macedonia, more precisely in Philippi, the first city he visited. A seller of purple woman from the city of Thyatira named Lydia, Paul’s attention to what is conveyed in a Jewish synagogue, he opened his heart and believe and be baptized. Remarkably again, not only he who believed, but also all his household. Paul’s ministry does not stop there, a slave girl who had used sorcery evil spirits to interfere with Paul, not by sorcery as he used to do for their masters so that they get a big advantage, but he continued to follow Paul and shouted that he was a servant of God the Most High who preach salvation. It seemed good, but it is a mockery. And it lasted for many days. After a patient, with one snapped in the name of Jesus, get out the spirit of the slave woman. Be careful, the devil can masquerade as an angel of light. There are people who pretend to favor us, sided with faith in Christ, but in practice his life just became a thorn in the flesh, the culprit and the source of all problems. Thus caution must still we develop to address every person who combine themselves into our community. Empty barrels a loud noise, not everyone who calls on God, iis the Christian Brothers, but they are seriously doing the word of God (1 John 3:19).
SPIRIT NOT REALLY SERIOUS, THAT’S  SPIRIT  OF THE ANTI CHRIST

17 December 2009

Mencari Kesempatan ( Seeking Opportunity )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

09sept27rKAMIS, 17 DESEMBER 2009

KISAH RASUL 16:4-12

“Setelah Paulus mengalami penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang disana” (ayat 10). Perjalanan dan pelayanan Paulus bukan hanya untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa lain, namun juga untuk menyampaikan hasil atau keputusan para rasul di Yerusalem untuk jemaat-jemaat diluar Yerusalem. Keputusan itu selalu disambut baik dimanapun hal itu disampaikan dan jemaat diteguhkan imannya melalui hal itu. Dan Roh Kudus terus menuntun perjalanan Paulus dengan berbagai cara, salah satunya melalui penglihatan. Melalui sebuah penglihatan dimana seorang Makedonia berseru kepadanya untuk menolong mereka, Paulus dan teman-temannya mengambil keputusan bahwa Allah menghendaki mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang disana. Dan untuk hal yang sudah pasti seperti ini, mereka tidak menangguhkan kesempatan, tapi segera mencari kesempatan untuk berangkat kesana. Dan mereka segera pergi kesana tanpa menunda lagi. Ada waktu dan bagian kita untuk menunggu, tapi ada pula waktu dan bagian kita untuk segera bertindak. Kesempatan dan peluang harus kita usahakan. setelah kita menerima misi dari Tuhan dan bukan hanya menunggu saja. Seperti iman yang harus kita perlihatkan melalui perbuatan dan bukan menunggu untuk berbuat. Jangan diam ditempat, jangan hanya menunggu dan menunggu saja, karena kehendak Allah sudah nyata bagi setiap orang percaya, yakni menjadikan sekalian bangsa murid-Nya. Pandang sekeliling, inilah kesempatan itu, tuaian sudah menguning dan siap untuk dituai, jangan terus berdiam dan menunggu (Yohanes 4:35).

JANGAN BIARKAN KESEMPATAN EMAS INI, BERLALU BEGITU SAJA.

THURSDAY, 17 DECEMBER 2009
Acts 16:4-12

After Paul had the vision, immediately we are looking for an opportunity to go to Macedonia, because of the vision that we draw the conclusion that God calls us to preach the gospel to the people there” (verse 10). Paul’s travel and services not only to preach the Gospel to other nations, but also to deliver the results or decision of the apostles in Jerusalem to the churches outside of Jerusalem. The decision was always well received wherever it was delivered and the congregation affirmed her faith through it. And the Holy Spirit continue to guide the journey of Paul with a variety of ways, one through the vision. Through a vision in which the Macedonians called him to help them, Paul and his friends took the decision that God wants them to preach the gospel to the people there. And for certain things like this, they do not suspend the chance, but soon find an opportunity to go there. And they immediately went there without a moment’s delay. There’s a time and to wait for our part, but there are also a part of our time and to take action. Opportunities and opportunities we have to try. after we receive a mission from God and not just wait. Like the faith that we must show through action and not wait to do. Do not be silent places, do not just wait and wait, because the will of God has appeared for every believer, which is making all nations his disciples. Glance around, this is the occasion, the harvest had turned yellow and ready for harvest, do not keep quiet and wait (John 4:35).
DO NOT LET THIS GOLDEN OPPORTUNITY, JUST PASSED AWAY.

16 December 2009

Penyesuaian Diri ( Self Adjustment)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

renunganRABU, 16 DESEMBER 2009

KISAH RASUL 16:1-3

Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani” (ayat 3). Di banyak kota dimana Injil telah diwartakan, jemaat terus bertumbuh baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, iman mereka terus bertumbuh seperti yang dialami oleh Timotius. Sekalipun ia masih sangat muda, namun Timotius sudah mampu menun-jukkan keteladanan yang baik ditengah jemaat Ikonium dan Listra. Hal itu membuat Paulus memilih dia untuk menyertainya dalam pelayanan. Karena Timotius berasal dari keturunan campuran, bapanya Yunani dan ibunya orang Yahudi yang telah menjadi percaya, Paulus menyuruh untuk menyunatkan dia. Hal itu di lakukan Paulus bukan karena dia masih terikat dengan ketentuan hukum Taurat, tapi untuk menciptakan suasana yang tetap kondusif dikalangan orang-orang Yahudi. Jadi bukan untuk kepentingan Paulus, tapi untuk kepentingan orang banyak. Terkadang kita juga harus bersikap seperti Paulus yang demi kepentingan orang banyak rela mengalah dari idealisme diri sendiri. Sikap mengalah ini bukan berarti kalah, tapi justru untuk hasil dan kepentingan yang lebih besar. Kita mau belajar seperti Paulus yang mau mengalah dan melepas idealismenya demi terwujudnya keadaan yang menunjang pelayanannya. Tapi ingat, dia rela mengalah karena punya tujuan yang pasti, keselamatan jiwa-jiwa. Segala sesuatu yang dapat diperbuat demi keselamatan jiwa-jiwa sekalipun harus mengham-bakan diri, yang menjadi jiwa pelayanan Paulus, biarlah itu juga menjiwai pelayanan kita (1 Korintus 9:19-23). Idealis itu baik, tapi bukan menjadi hal yang harus dipertahankan mati-matian, iman itulah yang harus dipertahankan sampai mati. Jadilah orang yang bisa membawa dan menyesuaikan diri di-manapun kita berada.

SIAPA BIJAK, MENGAMBIL HATI ORANG.

WEDNESDAY, 16 DECEMBER 2009
Acts 16:1-3

“Paul had circumcised him because of the Jewish people in the area, because everybody knows that his father was a Greek” (paragraph 3). In many cities where the Gospel has been preached, the congregation continued to grow both in terms of quantity and quality, continue to grow their faith as experienced by Timothy. Though he was very young, but Timothy was able to show a good example of the church amid Iconium and Lystra. It made Paul chose him to accompany him in the ministry. Because a descendant of Timothy mix, Greek father and Jewish mother who had become believers, Paul was told to circumcise him. It was on Paul did not because he was still bound by the provisions of the law, but to create a conducive atmosphere that remains among the Jews. So it was not for the sake of Paul, but for the sake of the people. Sometimes we also have to be like Paul, who for the sake of people willing to budge from the ideals themselves. This attitude does not mean conceded defeat, but rather to the results and greater interest. We want to learn like Paul who want to give in and took off his ideals for the sake of supporting the establishment of a state ministry. But remember, he was willing to give in because it had a definite purpose, the salvation of souls. Everything that can be done for the salvation of souls even to mengham-shot self, who became the soul of Paul, let it also infuses our ministry (1 Corinthians 9:19-23). Idealist is good, but not a thing that must be defended vigorously, that faith must be maintained until death. Be the first person who can take and adapt on-wherever we are.
WHO ARE WISE, TAKE HEART PEOPLE.

15 December 2009

Bersikap Benar ( Be Right )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

hidup itu perbuatanSELASA, 15 DESEMBER 2009

KISAH RASUL 15:35-41

“Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus” (ayat 39). Setelah beberapa waktu lamanya tinggal ditengah jemaat di Antiokhia, Paulus dan Barnabas memutuskan untuk kembali mengunjungi jemaat-jemaat ditempat-tempat yang lain untuk melihat keadaan mereka. Namun ternyata terjadi perselisihan yang tajam diantara keduanya, penyebabnya adalah keinginan Barnabas untuk membawa serta Markus ber-sama mereka. Sementara Paulus tidak menyetujui hal itu dikarenakan pengalaman sebelumnya di-mana Markus pernah meningalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama. Pau-lus akhirnya lebih memilih membawa Silas dalam perjalananya, sementara Barnabas tetap membawa serta Markus dalam perjalanya. Peristiwa itu disatu sisi sepertinya kurang baik karena terjadi perpeca-han tapi disisi yang lain membawa kebaikan tersendiri, yakni lebih cepat dan lebih banyak lagi jemaat dikota kota lain yang dikunjungi. Disini kita bisa belajar untuk tidak hanya melihat suatu perkara dari satu sisi saja, terlebih hanya melihat sisi negatifnya saja, tapi juga harus melihat sisi yang lainnya, sisi positifnya dari peristiwa yang terjadi. Jika kita hanya cenderung untuk melihat sisi negatif atau kele-mahan, baik dalam pribadi seseorang ataupun dalam suatu keadaan, sulit untuk kita bisa melihat sisi baik dan kelebihannya. Miliki roh penimbang dan pandangan yang seimbang dan untuk itu semua dia-wali dengan sikap yang tidak menghakimi orang lain. Segala sesuatu yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan anak-anak-Nya, tidak dimaksudkan untuk membuatnya menderita, maka harus disikapi deng-an benar. Belajarlah seperti Yusuf yang tetap berpikir dan berpandangan positif dengan apa yang dia-laminya sekalipun itu adalah suatu hal yang menyesakkan jiwanya (Kejadian 45:5).

BERPIKIRLAH POSITIF DALAM SEGALA PERKARA.

TUESDAY, 15 DECEMBER 2009
Acts 15:35-41

“It caused a sharp disagreement that they parted, and Barnabas took Mark with him and sailed away to Cyprus” (verse 39). After some time living in the middle of the church in Antioch, Paul and Barnabas decided to re-visit congregations places others to see their situation. However, there was a sharp dispute between the two, the cause is the desire and Barnabas to take Mark with them. While Paul did not approve it due to previous experiences where Mark had deserted them in Pamphylia and did not want to participate to work together. Paul ultimately chose his journey with Silas, while Barnabas and Mark still carries on his journey. The event, on the one side seems not so good because the schism, but other side bringing its own good, which is much faster and more churches in the city you’re visiting other cities. Here we can learn to not only see a case of one-sided, especially see only the negative side, but also to see the other side, the positive side of events. If we only tend to see the negative side, or weakness, either in person or person in a state, it is difficult for us to see the good and the excess. Carpenter’s spirit and have a balanced view and for it all begins with an attitude that does not judge others. Everything that God allowed happen in the lives of the children of his, not intended to make her suffer, it must be addressed properly. Learn to like Joseph who are still thinking and a positive attitude to what happened even if it is a matter of stifling soul (Genesis 45:5).
THINK POSITIVE IN ALL CASES