“Tahun Penampian Tuhan”
Edisi No. 1041
Tahun XVIII
Minggu, 31 Januari 2010
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff
SABTU, 16 JANUARI 2010
KISAH RASUL 25:13-27
“Karena aku ragu-ragu bagaimana aku harus memeriksa perkara-perkara seperti itu, aku menanyakan apakah ia mau pergi ke Yerusalem, supaya perkaranya dihakimi disitu” (ayat 20). Kunjungan raja Agripa dan Bernike ke Kaisarea, dimanfaatkan oleh Festus untuk tukar pendapat tentang kasus yang dihadapinya mengenai masalah Paulus. Festus bingung bagaimana harus menelesaikan masalah tersebut, karena landasan hukum yang berbeda antara hukum Roma dan Yahudi. Jika orang Yahudi meminta anugerah supaya Paulus bisa dihakimi dan dihukum di Yerusalem menurut hukum mereka, tidaklah demikian hukum yang berlaku bagi orang Roma. Dan karena Paulus adalah warganegara Roma, Ia juga harus dihakimi menurut hukum Roma. Sementara dalam pandangan orang Roma, perkara yang dihadapi oleh Paulus itu hanyalah perselisihan paham tentang soal-soal agama yang tidak ada tindak kejahatan didalamnya yang bisa dipidanakan. Maka Festuspun tidak bisa mengambil suatu keputusan akan hal itu karena dia sendiri ragu-ragu. Maka diapun juga tidak bisa memaksa Pau-lus untuk kembali ke Yerusalem supaya ia dihakimi disana. Kepintaran bisa didapat dibangku sekolah, melalui dunia pendidikan, tapi pengertian itu dari Allah datangnya. Banyak hal yang tidak bisa dipahami dan diselesaikan dengan meng andalkan kepintaran, tapi hanya bisa dipahami dan diselesaikan de-ngan pengertian. Kurangnya hikmat dan pengertianlah yang seringkali membuat seorang ragu-ragu dalam menyelesaikan suatu masalah dan mengambil keputusan. Lihatlah kepada diri sendiri, adakah pada kita pengertian, ataukah kita masih sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan ? Hanya di-dalam Dia kita bisa mendapatkan hikmat dan pengertian yang benar, maka carilah Dia dengan sungguh-sungguh dan mintalah roh hikmat dan pengertian (Yakobus 1:5).
MENGENAL YANG MAHA KUDUS ADALAH PENGERTIAN.
SATURDAY, 16 JANUARY 2010
Acts 25:13-27
“Because I doubt I’d have to check how things like that, I asked if he wanted to go to Jerusalem, so that the case be judged there” (verse 20). Visits King Agrippa and Bernice to Caesarea, used by Festus to exchange opinions about the case at hand the issue of Paul. Festus confused how to solve the problem, because different legal basis between the Roman and Jewish law. If the Jews asked for a gift that Paul could be judged and punished in Jerusalem according to their law, not the law that applies to the Romans. And because Paul is a Roman citizen, he should also be judged according to Roman law. While in the eyes of Rome, the case faced by the Paul’s only disagreements about matters of religion no evil element in it that could be used as criminal cases. So Festus could not take a decision about it because he himself hesitated. So he also can not force Paul to return to Jerusalem so that he judged there. Ingenuity can be found at the school, through education, but understanding that comes from God. Many things that can not be understood and solved by relying on intelligence, but can only be understood and solved by understanding. Lack of wisdom and understanding often makes people hesitant in the resolution of problems and make decisions. Look to yourself, whether there is in our sense, or we are still often hesitant in taking a decision? Only in Him we can find wisdom and understanding are correct, then seek him earnestly and ask for the spirit of wisdom and understanding (James 1:5).
KNOW THE ALMIGHTY HOLY IS UNDERSTANDING.
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff
JUM’AT, 15 JANUARI 2010
KISAH RASUL 25:1-12
“Tetapi Festus yang hendak mengambil hati orang Yahudi, menjawab Paulus, katanya: “Apakah eng-kau bersedia pergi ke Yerusalem, supaya engkau dihakimi disana dihadapanku tentang perkara ini ?”(ayat 9). Cukup lama perkara yang dihadapi Paulus dibiarkan menggantung tanpa ada keputusan, bahkan sampai pergantian wali negeri, Perkius Festus menggantikan Feliks. Dan sebagai penguasa baru, langkah awal yang dibuat Festus adalah mengambil hati orang Yahudi dengan jalan membiarkan Paulus tetap dalam penjara. Bahkan ia mau memberikan Paulus sebagai anugerah kepada orang-orang Yahudi sekalipun dihadapan orang Yahudi ia mengatakan bahwa Paulus harus tetap diadili di Kaisarea. Namun sebagai orang yang melek hukum, Paulus sadar akan tantangan Festus untuk dia dihakimi di Yerusalem adalah bagian dari cara Festus mengambil hati orang Yahudi, yakni memberikan dia sebagai anugerah kepada orang Yahudi. Sadar akan hal itu Pauluspun naik banding kepada Kaisar. Dengan demikian Roma menjadi semakin dekat lagi, sesuai dengan tugas baru yang Tuhan berikan kepada Paulus. Meng ambil hati atau mencari simpati adalah hal yang sah-sah saja yang penting dila-kukan dengan cara yang bertanggungjawab alias tidak merugikan orang lain. Janganlah mengambil hati itu dilakukan dengan mempersalahkan orang lain untuk membuat diri sendiri tampak lebih benar. Ketahuilah bahwa jika kita suka mempersalahkan orang lain untuk membuat diri nampak lebih benar, sekali waktu borok-borok yang kita simpan akan dinyatakan, dan jika itu terjadi kita sendiri yang harus siap menanggung malu. Tetapi, mengambil hati dengan cara yang bertanggungjawab adalah dengan menjadikan diri sendiri sebagai suatu teladan dalam berbuat baik (Titus 2:7).
SIAPA BIJAK ,MENGAMBIL HATI ORANG.
FRIDAY, 15 JANUARY 2010
Acts 25:1-12
“But Festus who want to take the hearts of the Jews, answered Paul, said:” Are you willing to go to Jerusalem, that you judged me there before about this case? “(Verse 9). Long enough cases faced Paul left hanging without any decision, even until the turn of the governor, Festus replaced Felix Perkius. And as the new ruler, who made the first step is to take heart Festus Jews by the way let Paul remain in prison. Even he would give Paul as a gift to the Jews before the Jews even though he says that he should remain on trial in Caesarea. But as a law-literate people, Paul was aware of the challenge for him judged Festus in Jerusalem is part of the way Festus propitiate the Jews, which gave him as a gift to the Jews. Acknowledge that Paul’s appeal to Caesar. Thus Rome became closer again, according to a new task that God gave to Paul. Taking heart or looking for sympathy is a legitimate legal case is important only done by the responsible or not harm others. Do not take the liver was carried out by blaming someone else to make themselves seem more correct. Know that if we like to blame others to make themselves seem more correct, once the time decay that we save will be revealed, and if that happens we ourselves must be ready to bear the shame. But, take heart in a way that responsibility is to make oneself as an example of good (Titus 2:7).
WHO ARE WISE, TAKE HEART PEOPLE.
Renungan Harian edisi Dwi bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial staff
KAMIS, 14 JANUARI 2010
KISAH RASUL 24:1-27
“Tetapi ketika Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang, Feliks menjadi takut dan berkata: “Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesem-patan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau” (ayat 25). Jika kepala pasukan tidak mem buang-buang waktu dan segera mengirim Paulus kepada Feliks, wali negeri, demikian juga dengan para pen-dakwanya, mereka juga bertindak dengan cepat. Untuk menghadap wali negeri dan menyampaikan dakwaannya terhadap Paulus. Jika para pendakwanya datang dengan pengacara mereka, tidak demikian halnya dengan Paulus, ia seorang diri memperjuangkan perkaranya. Walapun demikian, sekalipun dibumbui dengan berita yang dibesar-besarkan, para pendakwa itu tetap tidak mampu men-jatuhkan Paulus secara hukum Romawi. Disana Paulus justru mendapat kemudahan dengan tahanan ringan, dan juga para sahabatnya bisa datang untuk menengok dan melayaninya. Bahkan itulah ke-sempatannya yang pertama baginya untuk berbicara tentang kepercayaan kepada Yesus Kristus kepada seorang penguasa Roma. Walau demikian Feliks belum mampu menerima pengajaran yang lebih dalam mengenai kebena ran, penguasaan diri dan tentang penghakiman yang akan datang, se-bab motivasinya adalah uang. Seperti Feliks, jika maksud hati kita mendengar firman Tuhan hanya untuk mencari keuntungan secara materi bagi diri sendiri, akan berat bagi kita untuk menerima kebena-ran dengan sepenuhnya. Kita hanya akan suka mendengar berita yang menyenangkan bagi telinga saja jika motivasi kita seperti Feliks. Dan jika keadaan yang demikian terus dibiarkan, maka bangunan iman kita akan menjadi bangunan iman yang rapuh. Jangan jadikan firman Tuhan sebagai sebuah do-ngeng untuk kesenangan telinga, milikilah rasa butuh karena firman Tuhan berkuasa untuk menye-lamatkan (Yakobus 1:21).
SEMUA FIRMAN TUHAN ADALAH MURNI.
THURSDAY, 14 JANUARY 2010
Acts 24:1-27
“But when Paul speaks of righteousness, self-control and the judgments to come, Felix became afraid and said:” Suffice it first and go now, if there is a good chance, I’ll send for you “(verse 25). If the commander does not waste time and immediately sent Paul to Felix, the governor, as well as the accusers, they also act quickly. For the governor to face and deliver the indictment against Paul. If the accuser came with their lawyers, not the case with Paul, he was alone to fight his case. Although so, though peppered with news exaggerated, the complainant was still not able to drop Paul in Roman law. Paul actually got there, the ease with light resistance, and also his friends can come to see and serve. Even that’s the first opportunity for him to talk about faith in Jesus Christ to a Roman ruler. Felix has not however able to receive more instruction in the truth, and self-judgment and about the future, because the motivation is money. Like Felix, if the purpose of our hearts to hear the word of God just to find the material benefits for themselves, would be hard for us to accept the truth fully. We would like to hear only the good news to my ears if you like Felix motivation. And if such circumstances continue to be left, the building of our faith will be building a fragile faith. Do not make the word of God as a fairy tale to delight the ear, have a sense of need for the word of God’s power to save (James 1:21).
ALL THE WORD OF GOD IS PURE.
RABU, 13 JANUARI 2010
KISAH RASUL 23:23-35
“Siapkan duaratus orang prajurit untuk berangkat ke Kaisarea beserta tujuhpuluh orang berkuda dan duaratus orang bersenjata lembing, kira-kira pada jam sembilan malam ini” (aat 23). Mendengar re-cana jahat orang-orang Yahudi yang disampaikan oleh kemenakan Paulus, kepala pasukan tidak mem buang-buang waktu, dia segera mempersiapkan pasukan untuk mengawal Paulus ke Kaisarea. Ber-samaan dengan dikirimnya Paulus, kepala pasukan memberikan surat pengantar kepada wali negeri Feliks yang menjelaskan alasan mengapa ia mengirimkan Paulus kepadanya. Demi kianlah, malam itu juga dengan pengawalan yang ketat karena adanya ancaman dari pihak orang Yahudi yang ingin mem-bunuh Paulus, pasukan itu membawa Paulus ke Antipatris. Dan sebelum lebih jauh wali negeri me-meriksa perkara Paulus, ia lebih dahulu memastikan bahwa Paulus adalah benar-benar warga negara Roma. Dalam keadaan terbelenggu itulah Paulus memulai perjalanan misinya ke Roma. Dan seperti-nya itu sebuah awal yang buruk. Rencana manusia bukanlah rancangan Allah. Kita mungkin mengimpi-kan memulai atau mengawali baik itu sebuah pelayanan maupun sebuah usaha dengan sebaik-baiknya, bahkan jika memungkinkan dengan spektakuler. Tapi memulai dengan spektakuler belum tentu akan menghasilkan sesuatu yang besar pula, sebaliknya mengawali dengan sederhana bahkan dalam keadaan dipandang sebelah mata, bukan berarti tidak akan berhasil atau memberikan hasil. Sejauh kita ada dalam jalur Tuhan, Allah berkuasa membuat berhasil apa yang hendak kita kerjakan bagaimanapun keadaan kita mengawalinya. Jangan minder mulai dengan sederhana dan jangan som-bong jika mulai dengan luar biasa, sebab yang terpenting adalah bagaimana kita tetap mengikutserta-kan Allah dalam menjalaninya (Roma 8:28). AKHIR DARI SUATU HAL ITU LEBIH BAIK DARI AWAL-NYA.
WEDNESDAY, 13 JANUARY 2010 GOOD loom
Acts 23:23-35
“Prepare two hundred soldiers to go to Caesarea and seventy horsemen and two hundred men armed javelin men, at about nine o’clock this evening” (aat 23). Re-hear the evil plans of the Jews who passed by the nephew of Paul, the head of the army not to waste time, he immediately prepares the troops to escort Paul to Caesarea. Along with sending Paul, the commander gives an introduction letter to the governor Felix, which explains the reason why he sent Paul to him. So, that night with a tight guard because of threats from the Jews who wanted to kill Paul, the troops were brought Paul to Antipatris. And before the governor further examine Paul’s case, he first make sure that Paul is actually a Roman citizen. In shackles, Paul started his mission trip to Rome. And like it was a bad start. Man is not a draft plan of God. We may dream a good start and it started a service or a business with his best, even if possible with the spectacular. But starting with the spectacular is not necessarily going to produce something big, otherwise start with a simple even in a state considered one eye, does not mean not going to work or give results. As far as we are in the path of God, God is able to make a success of what we do about our situation after start. Do not start with a simple inferior and do not get cocky if you start with a remarkable, because the most important is how we continue to involve God in the living it (Romans 8:28).
THE END OF A BETTER THINGS THAT FROM THE BEGINNING.
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff
SELASA, 12 JANUARI 2010
KISAH RASUL 23:12-22
“Akan tetapi janganlah engkau mendengarkan mereka, sebab lebih dari empat puluh orang dari mereka telah siap untuk menghadang dia. Mereka telah bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa mereka tidak akan makan atau minum, sebelum mereka membunuh dia” (ayat 21). Ketiadaan hasil dari sidang yang diadakan menimbulkan kekecewaan yang mendalam pada pihak orang-orang Yahudi sehingga mereka membuat komplotan untuk membunuh Paulus. Empat puluh orang yang berkomplot tersebut bersum-pah dengan mengutuk diri tidak akan makan-minum sebelum berhasil membunuh Paulus. Mereka me-ngatur strategi dengan meminta kepada Mahkamah Agama supaya meminta kepada kepala pasukan untuk menyidangkan Paulus kembali dihadapan mereka. Tapi itu semua hanya akal bulus sebab mereka telah siap untuk membunuh Paulus dalam perjalanannya ke tempat sidang. Namun Allah kaya dengan cara untuk menyelamatkan, kemenakan Paulus mendengar semua rencana jahat itu dan mela-porkannya kepada Paulus yang meneruskannya kepada kepala pasukan. Siapa yang tahu isi hati se-seorang, bahkan apa yang dirancangkannya atas kita. Manusia bisa bermanis muka dihadapan sesamanya, padahal dalam hatinya ia sedang merancang suatu kejahatan terhadap sesamanya terse-but. Tapi jika benar-benar menga sihi Allah, Dia kaya dengan cara untuk menyelamatkan kita dari segala sesuatu yang tidak pernah kita harapkan. Manusia boleh berkomplot dan merancangkan yang jahat atas kita, tapi tanpa seijin Tuhan hal itu tidak akan terjadi atas kita. Allah tidak akan membiarkan sehelaipun rambut kita jatuh tanpa seijin-Nya, jadi jangan takut terhadap apa yang dapat dirancangkan manusia untuk mendatangkan celaka atas kita sebab kita berharga dimata-Nya, maka kitapun pasti dijagai-Nya (Matius 10:26-31)
SIAPA MENJAMAH ORANG BENAR, MENJAMAH BIJI MATA-NYA.
TUESDAY, 12 JANUARY 2010
Acts 23:12-22
“But do not you listen to them, because more than forty men of them are ready to confront him. They have vowed to condemn themselves, that they will not eat or drink, before they killed him “(verse 21). The absence of results from the trial which was held raises a profound disappointment to the Jews so they made a plot to kill Paul. Forty people who are conspiring swear by condemning themselves would not eat and drink before he killed Paul. They set the strategy by asking the council to ask the army chief to hear Paul again before them. But it all just because of their machinations are ready to kill Paul in his journey to the venue. But God is rich in ways to save, the nephew of Paul heard all the evil plans and report to Paul who passed it to the head of the army. Who knew the contents of someone’s heart, even what is on his plan for us. Humans can act sweet face each other before, but in his heart he was designing a crime against each other, but terse. But if it truly loves God Why, He is rich with ways to save us from everything that we never expected. Humans may be conspiracy and evil design upon us, but without the permission of God it will not happen to us. God will not let our hair down without his permission, so do not be afraid of what human beings can be designed to bring harm on us because we are precious in His eyes, then We also must have protected him (Matthew 10:26-31)
WHO TOUCHING THE RIGHTENOUS MEN, TOUCHING HIS EYE.
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff
SENIN, 11 JANUARI 2010
KISAH RASUL 23:1-11
“Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusa-lem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma” (ayat 11). Setelah mengetahui bahwa Paulus adalah warganegara Roma, kepala pasukan tidak lagi berani bertindak sekehendaknya, tapi memakai jalur yang seharusnya untuk mendapat keterangan akan segala sesuatu yang dituduhkan orang Yahudi kepada Paulus. Sidangpun digelar untuk memeriksa Paulus. Dihadapan Mahkamah Agama dan imam-imam yang berkumpul untuk menuduhnya, Paulus berusaha menyakinkan mereka bahwa ia tetap hidup dengan hati nurani yang murni dihadapan Allah. Tapi perkataannya itu justru mendatangkan tamparan atasnya. Paulus protes atas perlakuan tersebut karena sementara mereka duduk untuk menghakimi menurut hukum Taurat, mereka sendiri melanggar hukum Taurat dengan menampar dirinya. Sidang itu tidak menghasilkan apapun selain daripada keributan dan perpecahan diantara Mahkamah Agama itu sendiri. Paulus dalam tekanan mental yang berat oleh berbagai keadaan yang sedang dihadapinya, tapi Allah sendiri datang padanya memberi kekuatan, menghibur-kan dan mempersiapkan dia untuk menjadi saksi-Nya di Roma. Semua yang dia alami sepertinya hanya sebuah jalan untuk dia menjadi saksi-Nya di Roma. Menjalani kehendak Tuhan seringkali harus dilalui dengan berbagai duka dan derita. Tapi jika memang kita mau hidup seturut kehendak Tuhan, kita tidak akan mundur karenanya. Maka ketika kita benar-benar berkomitmen untuk hidup seturut kehen-dak Tuhan, kita juga harus benar-benar mempersiapkan diri untuk menghadapi segala keadaan. Dan jangan takut, Allah sumber segala kasih karunia akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan me-ngokohkan kita sehingga kita kuat menghadapi segala perkara (1 Petrus 5:10).
KUATKANLAH HATI, KRISTUS TELAH MENGALAHKAN DUNIA.
MONDAY, 11 JANUARY 2010
Acts 23:1-11
“Strengthen your heart, because as you have boldly testify of me in Jerusalem, so also should you go to testify in Rome” (verse 11). After learning that he was a citizen of Rome, the head of the army no longer dare to be volition, but that should be put on line to get information to all the charges against the Jews to Paul. The trial was held to examine Paul. Before the Sanhedrin and priests who gathered for the accused, Paul tried to convince them that he was still alive with a pure conscience before God. But the words that just brings a slap on it. Paul protest at such treatment because while they sat to judge according to the law, they themselves violate the law by slapping him. The trial did not produce anything other than confusion and disunity among the Sanhedrin itself. Paul in severe mental pressure by the circumstances at hand, but God himself came to him to give strength, comfort him and prepare him to be his witness in Rome. All of which he seemed only a natural way for him to be his witness in Rome. Live God’s will often have to go through with the grief and pain. But if we want to live according to God’s will, we will not withdraw it. So when we are truly committed to living according to the will of God, we also have to be really prepared to deal with every situation. And do not be afraid, God of all grace will complement, strengthen, reinforce and strengthen us so that we are robust in the face of all things (1 Peter 5:10).
Strengthen Heart, Christ has overcome the world
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff
KAMIS,7 JANUARI 2009
KISAH RASUL 21:37-40
“Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan pemeberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang gurun ?” (ayat 38). Kepala pasukan tidak bisa memeriksa Paulus ditengah keributan orang banyak yang saling berteriak ini dan itu, maka dia hendak membawa Paulus ke markas untuk bisa diperiksa lebih lanjut. Namun demikian Paulus tidak pasrah begitu saja, ketika ia sudah keluar dari kerumunan orang banyak, ia pun berniat untuk memberikan penjelasan kepada orang banyak yang menangkapnya. Sementara itu kepala pasukan itu sendiri menyangka bahwa Paulus adalah orang Mesir yang pernah menimbulkan pemberontakan sehingga ia ditangkap beramai-ramai oleh orang banyak. Untuk itulah perlakuannya kepada Paulus juga seperti perlakuan terhadap seorang pembuat kejahatan. Sebagai orang yang berpendidikan, Paulus tahu kapan dan bagaimana harus bertindak dalam menghadapi keadaan itu, ia tidak asal-asalan berteriak untuk membela diri. Kita juga sering bertindak seperti apa yang dilakukan oleh oleh kepala pasukan tersebut, memandang kurang baik seseorang karena ikut-ikutan dengan pandangan orang lain. Hati ini dengan prasangka atau praduga kita terhadap orang lain, salah didalamnya mengakibatkan tindakan yang kurang tepat atau bisa merugikan orang lain maupu diri sendiri. Jangan mudah terbawa dalam pandangan buruk terhadap seseorang hanya karena kita mendengar perkataan orang lain yang kurang menyukai keberadaan seseorang. Lebih baik kita menghindari ikut membangun pandangan negative terhadap orang lain yang sedang di bangun oleh orang lain. Perhatikan diri sendiri, waspadai pandangan kita terhadap orang lain, jangan hanya berdasarkan praduga atau prasangka sebelum tahu kebenaran yang sebenarnya, jangan mau terbawa-bawa ke dalam dosa orang lain (1 Timotius 5:22).
ADA JALAN YANG DISANGKA LURUS ,TAPI UJUNGNYA MENUJU MAUT.
THURSDAY, 7 JANUARY 2009
Acts 21:37-40
“So you not an Egyptian, who recently led a rebellion and fled four thousand men armed intruder into the wilderness?” (Verse 38). The commander can not check Paul amid the noise of people shouting at each other a lot of this and that, so he’s going to bring Paul to the headquarters to be examined further. However, Paul does not let go just like that, when he was out of the crowd, he also intends to give an explanation to people much has caught it. Meanwhile the head of the army itself was thought that Paul was the Egyptians who had led the rebellion that he was arrested a gang of people. For Paul’s treatment as well as treatment of an evil creator. As an educated man, Paul knows when and how to act in the face of that state, he did not yell at random to defend themselves. We also often act as what is done by the head of the army, looking not so good one because it went along with the views of others. This heart with our prejudices or preconceptions of others, either inside the resulted in inappropriate actions or can harm others or themselves. Do not be easily carried in a bad outlook for someone just because we hear the words of someone else who does not like being a person. Better to avoid a negative outlook come to build on other people who were built by someone else. Watch yourself, watch out for our view of others, not only based on prejudice before knowing the real situation, do not want to be carrying around to the sins of others (1 Timothy 5:22).
THERE IS A WAY THAT SEEMETH RIGHT UNTO A MAN,
BUT THE END THEREOF ARE THE WAYS OF DEATH.
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff
RABU,6 JANUARI 2009
KISAH RASUL 21:27-36
“Kepala pasukan itu mendekati Paulus, menangkapnya dan menyuruhnya mengikat dia dengan dua rantai, lalu bertanya siapakah dia apakah yang telah diperbuatnya” (ayat 33). Manusia boleh berusaha, tapi pada akhirnya rencana dan kehendak Allah lah yang jadi. Demikianlah yang terjadi pada Paulus, sekalipun para penatua telah berusaha menghindarkan Paulus dari tindak kekerasan rakyat dengan menyuruh dia untuk mentahirkan diri menurut tuntutan hukum Taurat,tapi apa yang telah Tuhan nyatakan baik secara pribadi kepada Paulus maupun melalui nubuatan, tetaplah yang terjadi,Paulus ditangkap dan diserahkan kedalam tangan bangsa lain. Ketika usaha para penatua nampaknya akan membuahkan hasil, datanglah orang-orang Yahudi dari Asia yang menyulut kemarahan orang banyak, sehingga merekapun beramai-ramai menangkap Paulus seperti menangkap seorang pencuri. Orang banyak segera tersulut kemarahannya karena berita tidak bertanggungjawab yang menuduh Paulus membawa orang asing masuk ke dalam Bait Suci. Namun ketika kepala pasukan yang menangkap Paulus bertanya apa kesalahan Paulus, tidak ada jawaban pasti yang di dapatnya. Apa yang telah Allah tetapkan atas kita pasti Ia akan genapi sekalipun itu harus melalui sebuah jalan untuk meraih kemenangan dan kemuliaan yang Ia sediakan. Bila kita tidak mau menghadapi apa yang harus kita hadapi, kita juga tidak akan pernah mengalami kemenangan yang Allah telah disediakan. Telah cukup banyak waktu yang kita gunakan untuk melakukan kehendak sendiri atau manusia, kini saatnya pergunakan waktu yang masih ada untuk hidup dalam kehendak Allah, biarkan rencan-Nya digenapi dalam kita (1 petrus 4:1-3).
SEGALA KEHENDAK-NYA PASTI AKAN DIGENAPI.
WEDNESDAY, 6 JANUARY 2009
Acts 21:27-36
“The commander approached Paul, caught him and told him to tie him with two chains, and then asked who he was if he had done” (verse 33). Humans may try, but ultimately God’s plan and who will be. So what happened to Paul, even though the elders had tried to prevent Paul from the people of violence by asking him to cleanse himself to the demands of the law, but what God has personally expressed to Paul as well as through prophecy, remains the case, Paul was arrested and delivered into the hands of other nations. When the efforts of the elders seemed to be to fruition, there came Jews from Asia, which infuriated the crowd, so they also arrested a gang of Paul like catching a thief. The crowd immediately ignited anger because the news is not responsible for the accused Paul brought a stranger enter the temple. But when the army chief who grabbed Paul asked what mistakes Paul, there is no definite answer in mind. What God has set for us will be fulfilled even if he had to go through a path to victory and glory that was provided. If we do not want to face what we face, we will never experience the victory that God has provided. Has quite a lot of time that we use to do the will itself or humans, it is time use the remaining time to live in the will of God, let His plan was fulfilled in us (1 Peter 4:1-3).
ALL HIS WILL, WILL BE FULFILLED SURELY.