Get Adobe Flash player
27 March 2010

Bahaya di sekitar kita ( Hazard around us )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

19SABTU, 27 MARET 2010

1 KORINTUS 7:1-16

Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri” (ayat 2).  Pasal tujuh dan juga pasal-pasal berikutnya adalah jawaban Paulus atas surat yang dikirim oleh jemaat Korintus kepadanya. Keinginan seksual adalah kodrati dan perkawinan diberikan untuk pemenuhannya. Hal itu berarti didalam Tuhan tidak ada yang namanya seks bebas, hanya dalam lembaga perkawinan yang sah hal itu bisa dilakukam. Dan didalam perkawinan itu sendiri, suami isteri memiliki hak yang sama untuk pemenuhan kebutuhan batiniahnya tersebut, masing-masing tidak boleh egois. Suami-isteri berkewajiban saling memenuhi kebutuhan batiniah pasangannya. Pertarakan yang dipaksakan tidak ada nilainya dan kurang membawa faedah, baik bagi yang sudah menikah maupun yang belum dan hanya membuat orang hangus terbawa nafsu. Untuk itu lebih baik bagi mereka yang belum menikah untuk mengambil pasangan, dan bagi yang sudah menikah harus segera berkumpul kembali dengan pasangannya. Sedang hal tidak kawin merupakan karunia yang tidak bisa dipaksakan kepada orang lain sekalipun itu baik adanya. Namun tetap harus diingat dan dimengerti sungguh bahwa perkawinan itu bukan hanya ajang pelampiasan seksual, ada maksud Allah yang indah didalamnya, yakni hadirnya keturunan ilahi. Bahaya percabulan ada disekitar kita dan bisa menjatuhkan siapa saja, orang besar orang kecil, rohaniawan atau masyarakat awam, lajang ataupun yang sudah menikah, pria maupun wanita. Untuk itu setiap orang harus benar-benar menjaga dan memperhatikan hidupnya. Jaga hati dengan sungguh, karena dari hatilah timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan dan rupa-rupa kejahatan lainnya (Matius 15:19).

WASPADALAH, LAWANMU SI IBLIS BERJALAN KELILING SAMA SEPERTI SINGA.

 SATURDAY, 27 MARCH 2010
1 CORINTHIANS 7:1-16
“But given the dangers of fornication, let every man have his own wife and each woman has her own husband” (verse 2). Article seven, and also the next chapters is Paul’s answer to a letter sent by the Corinthians to him. Sexual desire is natural and given to the fulfillment of marriage. That means that in God there is no such thing as casual sex, only in the legal institution of marriage it can be done. And in his own marriage, husband and wife have equal rights to those inner needs, each must not be selfish. Husband and wife are obliged to meet each partner’s inner needs. Forced abstinence of no value and less bring benefits, both for those who are married or not and only make people carried away charred lust. For it is better for those who are not married to take a spouse, and for those who are married must be reunited with his partner. This was not married is a gift that can not be imposed on others even if it was good. But still it must be remembered and understood so that the marriage was not only sexual outlet arena, there is a beautiful God’s purpose in it, namely the presence of divine descent. There fornication dangers around us and could drop anyone, the great little man, clergy or lay people, single or married, male or female. For that every one should really care and attention to his life. Keep your heart with it, because of careful come evil thoughts, murder, adultery, fornication and assorted other crimes (Matthew 15:19).
BE CAREFUL, THE DEVIL  OPPONENT  PROWLING LIKE THE LION

 

26 March 2010

Untuk Tuhan ( For The Lord )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

09JUM’AT, 26 MARET 2010

1  KORINTUS 6:12-20 

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuh mu dan rohmu yang keduanya adalah milik Allah” (ayat 20).  Kebebasan didalam Kristus telah disalahgunakan oleh banyak jemaat Korintus dengan membiarkan diri diperbudak oleh keinginan hawa nafsu. Jemaat Korintus tidak mampu bertanggungjawab dengan kebebasan yang mereka dapatkan. Dengan terus terang Paulus menasehatkan bahwa tubuh bukan untuk percabulan, tapi untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh. Artinya bukan lagi hawa nafsu yang seharusnya menguasai tubuh, tapi Tuhanlah yang menguasainya untuk melakukan kehendak-Nya. Tubuh bukan untuk kepuasan seksual seperti perut untuk menampung makanan. Tubuh memiliki arti yang jauh lebih mulia daripada hal-hal jasmani. Untuk itu jemaat harus mampu menyadari bahwa Allah telah menebus dan membeli mereka dengan lunas dari perbudakan dosa, maka sudah sepatutnya bila mereka bukan hanya mencela percabulan, tapi juga men jauhkan diri dari yang namanya percabulan. Memuliakan Allah bukan hanya soal kita menyanyi ataupun memuji Dia di gereja dalam sebuah ibadah, ataupun kita turut terlibat dalam suatu pelayanan gerejawi. Itu semua bagus tapi harus didukung dengan hal yang mendasar, yakni kekudusan hidup. Kekudusan hidup lahir dari kesadaran bahwa Allah telah menebus kita dari cara hidup yang sia-sia dan harganya telah lunas Ia bayar. Maka sangatlah perlu bagi setiap orang telah ditebus untuk menjauhkan diri dari dosa yang terjadi didalam tubuh, yakni rupa-rupa percabulan, supaya dapat memuliakan Dia dengan tubuhnya. Berjuanglah terus untuk dapat mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1).

RAWATLAH TUBUH SEBAGAI SENJATA KEBENARAN.

 FRIDAY, 26 MARCH in 2010

1 CORINTHIANS 6:12-20
Because you’ve purchased and paid the price has been paid: therefore glorify God in your body, and spirit, both of which belong to God” (verse 20). Freedom in Christ has been misused by many of the Corinthians to allow themselves to be enslaved by lust desires. The Corinthian Church was not able to be responsible with the freedom that they get. Paul bluntly advised that the body is not for fornication, but for the Lord and the Lord for the body. That means no longer desires that should control the body, but God is the master to do his will. The body is not for sexual gratification as the stomach to accommodate food. Meaning that the body has far more precious than material things. For that church should be able to realize that God has redeemed and purchased them in full from the slavery of sin, it was fitting when they not only denounce immorality, but also to keep away from the name fornication. Glorify God is not only a question of us to sing or praise Him in a church in worship, or we are involved in some church services. It’s all good but must be supported by the fundamentals, ie, a holy life. Sanctity of life is born from the realization that God has redeemed us from the way of life in vain, and the price he has paid in full. So it is imperative for every person have been redeemed to distance themselves from the sin that happened inside the body, which are varieties of fornication, in order to glorify Him with his body. Fight continues to be able to offer these bodies as living sacrifices, holy and pleasing to God (Romans 12:1).

TAKE CARE YOUR BODY AS A TRUTH WEAPON

25 March 2010

Selesaikan Sendiri ( Finishing it self )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

08KAMIS, 25 MARET 2010

1 KORINTUS 6:1-11

Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti?” (ayat 2).  Salah satu keadaan jemaat Korintus yang dicela oleh Paulus adalah dalam hal menye lesaikan masalah yang timbul diantara mereka, yakni mereka mencari keadilan pada orang-orang diluar Tuhan. Memang ada masalah-masalah yang harus diselesaikan menurut hukum pemerintahan yang ber laku, tapi ada pula masalah yang seyogyanya bisa diselesaikan diantara mereka sendiri. Keadaan demi kian menunjukkan bahwa mereka telah gagal dan juga kalah dalam perlombaan rohani. Yesus meletak kan asas untuk suatu penyelesaian yang baik untuk masalah dengan cara Allah, yakni rela menderita ketidakadilan. Namun hal itu tidak bisa dikembangkan karena kenyataannya ba nyak diantara jemaat Korintus sendiri berbuat ketidakadilan dan merugikan orang lain. Dan Paulus memperingatkan mereka bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan sorga. Mereka tidak akan mungkin turut menghakimi dunia pada waktunya jika masalah-masalah sendiri mereka tidak sanggup menyelesaikannya. Masalah timbul dengan berbagai latar belakangnya, ada yang karena kesalahan kita sendiri yang didorong oleh hawa nafsu, ada yang dari iblis untuk menjatuhkan iman, ada yang seijin Tuhan untuk melihat tingkat kedewasaan kita bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan. Atau dengan kata lain Tuhan sedang melatih kita untuk menyelesaikan masalah sebelum akhirnya nanti orang-orang percaya akan turut menghakimi dunia. Jadi masalah yang ada bukan untuk dihindari, tapi usahakan untuk diselesaikan menurut cara Allah melalui peraturan-peraturan-Nya karena dalam peratu ran-peraturan itulah ada hikmat untuk penyelesaiannya (Mazmur 19:8).

 TIDAK ADA YANG TIDAK DAPAT DISELESAIKAN DIDALAM TUHAN.

 

THURSDAY, 25 MARCH 2010

1 CORINTHIANS 6:1-11
Or do you not know that the saints will judge the world? And if the judgments of the world is in your hands, do not you able to take care of the things that do not mean? “(Paragraph 2). One of the things that the Corinthians were denounced by Paul in terms of cross finish problems that arise among them, ie they seek justice for people outside of God. Indeed there are problems that must be resolved according to government law behavior, but there are also problems that should be resolved among themselves. State for more shows that they have failed and lost in the spiritual race. Jesus put his principles for a good solution to a problem with the way of God, which is willing to suffer injustice. But it can not be developed due to the fact ba lot of the Corinthians themselves do injustice and harm to others. And Paul warned them that the people who are not fair will not inherit the kingdom of heaven. They will not judge the world may have contributed to the time when their own problems they can not finish it. Problems arise with different background, there is our own fault driven by passion, there is the devil to bring down the faith, there is a permission of God to see our maturity level about how to solve a problem. Or in other words God was training us to resolve the problem before the end of the believers will judge the world participated. So the problem is not to be avoided, but try to be settled by way of God through the rules because in his bed peratu there’s rules for the settlement of wisdom (Psalm 19:8).

  NO ONE CAN NOT BE FINALIZED IN GOD

24 March 2010

Buang Ragi Lama ( Remove all The Old Yeast )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial staff

01RABU, 24 MARET 2010

1 KORINTUS 5:1-13 

“Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran” (ayat 8).  Dengan tegas dan keras Paulus mencela keadaan jemaat yang merasa baik-baik saja sekalipun terjadi dosa yang sangat memalukan ditengah jemaat, yakni dosa kenajisan dan percabulan. Paulus merasa aneh bahwa jemaat tidak merasa risih dengan dosa yang sedang berkembang ditengah mereka. Ibarat adonan yang akan khamir seluruhnya walau hanya sedikit ragi yang mengkhamirinya, demikianlah dosa yang dibiar kan terus terjadi ditengah mereka akan membuat jemaat terkena imbasnya. Hanya dengan membuang ragi yang lama maka bisa membuat adonan yang baru, demikianlah orang yang tidak mau bertobat dari dosa percabulan yang diperbuatnya harus diusir dari tengah jemaat supaya tidak mengkhamiri jemaat yang lain. Selain itu jemaat juga harus berhati-hati dalam bergaul supaya merekatetap terpelihara dengan baik. Dosa itu hidup, baik dalam suatu persekutuan maupun dalam kehidupan pribadi seorang. Dengan demikian jika suatu dosa terus dibiarkan, ia akan mempengaruhi yang lain, dan itu adalah keadaan yang membahayakan baik untuk sebuah persekutuan maupun untuk pribadi. Secara pribadi dosa dan kejahata harus dibuang dari hati untuk seorang dapat menjadi ciptaan yang baru. Demikian pula halnya dalam persekutuan, kejahatan dan segala sesuatu yang tidak benar harus segera ditindak untuk membuat perse kutuan tersebut tetap sehat. Dengan cara demikian, maka pribadi dan persekutuan dapat berpesta dalam Tuhan dengan kemurnian dan dalam kebenaran. Jangan mentolerir dosa, jangan beri kesempatan kepada iblis untuk menguasai hidup kita, maka secara pribadi maupun dalam persekutuan, buanglah segala bentuk kejahatan dari hati dan dari antara kita supaya kita bisa menjadi adonan yang murni (1 Petrus 2:1).

 BUANGLAH SEGALA KEJAHATAN MAKA KAMU AKAN HIDUP.

 WEDNESDAY, 24 MARCH 2010

1 CORINTHIANS 5:1-13

“Therefore let us feast, not with old leaven, neither with the leaven of malice and wickedness, but with the unleavened bread of sincerity and truth” (verse 8). Firmly and loudly denounced the state of the church Paul is feeling fine despite a very shameful sin amid the congregation, namely the sin of impurity and immorality. Paul felt strange that the church does not feel uncomfortable with the sin amid growing them. Like a yeast dough that will all but only slightly mengkhamirinya yeast, so the sins of his continued dibiar their midst will make the congregation receive the effects. Only by removing the old leaven so could create a new lump, so people who do not want to repent from sin fornication is done should be expelled from the church so that no other church leaveneth. In addition the church also must be careful in dealing merekatetap so well maintained. Sin is alive, well in a community or in private life alone. Thus, if a sin and hold left, it will affect the others, and it is a dangerous situation for a fellowship or for personal. Personally sins and crimes should be removed from the liver to be become a new creation. Similarly, in the fellowship, crime and everything that does not really have to be dealt with to make the alliance agreement remain healthy. In this way, the personal and community can be partying in the Lord with sincerity and in truth. Do not tolerate sin with, do not give opportunity to the devil to control our lives, then individually and in fellowship, get rid of all forms of evil from the heart and from among us so that we can be a mixture of pure (1 Peter 2:1).

 DISPOSE ALL EVIL,THEN  YOU WILL LIVE

23 March 2010

Merendahkan Diri ( Condescending )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

Tabernacle-11SELASA, 23 MARET 2010 

1 KORINTUS 4:6-21

 

“Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia” (ayat 9).  Paulus benar-benar mau menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan bagi jemaat Korintus. Ia tidak segan-segan merendahkan dirinya supaya jemaat juga mau belajar untuk merendahkan diri. Paulus tidak memandang dengan jabatannya sebagai rasul membuat dia harus begitu rupa dihormati. Bahkan ia rela hidup dalam keadaan menderita untuk kepentingan jemaat. Ia rela kelihatan lemah, bodoh dan hina supaya jemaat kuat arif dan mulia. Sungguh pun dalam keadaan yang demikian, ia tetap memberkati ketika diperlakukan tidak adil. Sebagai bapa bagi jemaat Korintus, ia rela mengalami semua itu. Paulus lakukan semua itu bukan karena jemaat Korintus adalah orang penting, tapi karena ia mau jemaat melihatnya dan menjadi malu dan mau belajar untuk merendahkan diri. Seorang hamba yang rendah hati akan merasa bahwa dalam jabatan yang di percayakan kepadanya ada tanggungjawab untuk menjadikan dirinya sebagai teladan bagi jemaat. Dia akan rela tidak menjadi apa-apa dengan semakin tingginya jabatannya. Dan jemaat yang rendah hati rela untuk mencontoh atau meneladani sikap hidup pemimpinnya, sekalipun dalam segala hal keadaannya lebih baik dari pemimpinnya. Disini kita lihat bahwa jabatan bukan untuk kemegahan atau bangga-banggaan, tapi untuk menjadikan seorang sebagai teladan bagi yang lain seperti padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Dan bukankah Allah memperhatikan dan akan meninggikan orang-orang yang rendah hati ? maka hiduplah dalam kerendahan hati dihadapan-Nya (1 Petrus 5:6).

 ALLAH MEMPERHATIKAN KERENDAHAN HAMBA-NYA.

 

 

TUESDAY, 23 MARCH 2010
1 CORINTHIANS 4:6-21
“Because, in my opinion, God gave us, the apostles, the lowest place, just like the people who have been sentenced to death, because we have become a spectacle for the world, to angels and to men” (verse 9) . Paul is really going to make himself as an example to the Corinthians. He did not hesitate to humble himself to the congregation also want to learn to humble themselves. Paulus did not see his position as an apostle made him have so much respect. In fact he was willing to live in a state of suffering for the sake of the church. He was willing to appear weak, stupid and despicable that a strong community wise and noble. It was in such circumstances, he remains blessed when treated unfairly. As the father of the Corinthians, he was willing to go through all that. Paul did all this not because the church at Corinth was an important person, but because he wanted the church see it and be embarrassed and want to learn to humble themselves. A humble servant who will feel that the position of responsibility entrusted to him was to make himself as an example for the congregation. He would not be willing to anything to do with the higher position. And humble congregation willing to imitate or emulate their leaders live attitude, even in all things are better than their leaders. Here we see that the office is not for glory or pride-pride, but to make one as an example to others such as rice will become increasingly contain duck. And is not God’s attention and will exalt those who are humble? then live in humility before Him (1 Peter 5:6).
 GOD HAVE THE ATTENTION OF  HIS ERVANTS HUMILITY.

22 March 2010

WSB # 1048, 21 Maret 2010

Oleh bambang | Dalam WSB | Tag

“Tahun Penampian Tuhan”

Edisi No. 1048
Tahun XVIII
Minggu, 21 Maret 2010

20 March 2010

Dasar Bangunan ( Basic of The Building )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

btk kreativitasSABTU, 20 MARET 2010 

1 KORINTUS 3:10-23

Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletak kan, yaitu Yesus Kristus” (ayat 11).  Paulus menggambarkan pelayanan dalam dunia kerohanian bagaikan membangun sebuah bangunan. Sebelum membangun diatasnya, dasar dari sebuah bangunan adalah hal yang menentukan, barulah bangunan diatasnya dengan apapun bahan dan bentuknya. Dan dasar dari bangunan rohani adalah Kristus dan korban-Nya dikayu salib. Bagaimana seorang melayani itulah gambaran apakah dia sedang membangun dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami. Ada hal yang harus diwaspadai, jika ada orang yang berjuang untuk membangun, ternyata ada pula orang yang berniat untuk menghancurkan bangunan tersebut dan keduanya juga mengatasnamakan dunia pelayanan. Pelayanan rohani itu adalah peker jaan membangun bait Allah dalam kehidupan orang percaya. Jika kehidupan rohani seorang yang terus dibangun dan bertumbuh tapi dikacaukan ataupun dirusak oleh orang lain dengan pengajaran ataupun suatu cara yang lain, maka orang yang melakukan hal tersebut akan berhadapan langsung dengan Allah. Jika demikian adanya, kita harus lebih berhati-hati dan lebih lagi bertanggungjawab dalam pelayanan yang kita kerjakan. Pelayanan bukan hal murahan yang dapat dipandang sebelah mata sehingga bisa dikerjakan dengan semau-maunya. Sadarlah bahwa dengan melayani kita juga sedang membangun bangunan rohani, dan cara kita melayani membuktikan bahan bangunan yang kita pakai. Dan ingatlah bahwa dasar pelayanan kita adalah korban Kristus. Jangan merusakkan pekerjaan Allah, tapi kejarlah apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun (Roma 14:19).

 BANGUN DIRIMU DIATAS DASAR IMAN YANG SUCI.

 SATURDAY, 20 MARCH 2010
1 CORINTHIANS 3:10-23
Because no one can lay any foundation other than the basic right has been placed, which is Jesus Christ” (verse 11). Paul describes the ministry in the world of spirituality is like building a building. Before the building above it, the foundation of a building is determined, then building on it with any material and shape. And the spiritual foundation of the building is the Christ and His sacrifice on the cross. How does one serve that image if he was building with gold, silver, precious stones, wood, hay or straw. There are things to watch out, if there are people who struggle to build, there are those who intend to destroy the building and also on behalf of both the ministry. Ministry jobs job is to build the temple of God in the life of the believer. If the spiritual life of one who built and continue to grow but disrupted or undermined by others in teaching or some other way, then people who do so will be dealing directly with God. If so, we must be more careful and more responsible in the ministry we do. Is not a cheap service that can be considered one eye so that it can be done with arbitrarily. Realize that the service we also are building a spiritual building, and the way we serve to prove that the building materials we use. And remember that the basis of our ministry is Christ’s sacrifice. Do not destroy the work of God, but go for what brings peace and that is useful to build on each other (Romans 14:19).
 UP YOURSELF ABOVE THE HOLY FAITH BASIS

 

19 March 2010

Tanda masih duniawi (Alerts that you will still Natural )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi bahasa ( Daily Bread Bilingual edition ) By Jeremia Puji santoso, WSB Editorial Staff

becak7rf71JUM’AT, 19 MARET 2010

1 KORINTUS 3:1-9       

Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika diantara kamu ada iri hati dan perselisihan bukan kah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi ?” (ayat 3).    Adanya benih-benih perpecahan dalam jemaat Korintus yang disebabkan oleh adanya perselisihan tentang siapa yang lebih penting dari beberapa tokoh iman pada waktu itu, membuktikan bahwa mereka masih manusia duniawi yang belum dewasa. Itu membuktikan bahwa jemaat Korintus belum berhasil bertumbuh secara rohani, mereka masih bayi rohani yang memerlu kan susu, yakni ajaran dasar dari iman mereka. Sekalipun mereka sudah menjadi orang percaya mereka masih manusia duniawi , artinya hidupnya masih dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu. Perbe daaan cara dalam pelayanan yang menjadi pemicu adanya perselisihan bukanlah hal yang harus menjadi penyebabnya, karena Allah sendiri yang telah menetapkan bagaimana seorang hamba-Nya untuk melayani, ada yang menanam dan ada yang menyiram, namun mereka tetaplah kawan sekerja, mereka adalah satu. Dan Allah sendiri yang akan memberikan kepada mereka upah sesuai pekerjaan masing-masing. Demikian juga bagi kita, tidak perlu kita mempertentangkan perbedaaan-perbedaaan cara melayani, yang penting adalah melakukan pekerjaan yang harus dikerjakan. Tinggalkan pikiran kanak-kanak dan duniawi yang mempertentangkan perbedaan dan menimbulkan perselisihan. Dewasalah secara rohani yang memiliki pandangan sekalipun berbeda tetapi tetap satu dalam Tuhan. Perselisihan adalah perbuatan daging yang menunjukkan seorang belumlah dewasa secara rohani, tanggalkanlah itu dan kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan (Kolose 3:12-14).

JADILAH SEPERTI PELANGI DENGAN ANEKA WARNA TAPI SATU.

 FRIDAY, 19 MARCH 2010
1 CORINTHIANS 3:1-9
Because you are still the natural man. Because, if there is among you jealousy and strife is not whether it shows, that you are the natural man and that you live in a human? “(Paragraph 3). The existence of the seeds of disunity in the Corinthian church caused by disputes over who is more important than some of the faith at the time, proving that the natural man they still immature. It proves that the Corinthians have not managed to grow spiritually, they are still spiritual babies who need milk, which is the basic teachings of their faith. Though they’ve become people believe they are still the natural man, that his life is still dominated by various passions. Daaan difference in the way of services triggers the dispute is not something that should be the cause, because God himself who has set how a servant to serve Him, there is a growing and there are flush, but they were still friends-workers, they are one. And God himself will provide them with wages that meet their respective jobs. Likewise for us, we need not dispute the difference-the difference between how to serve, the important thing is to do the work to be done. Leave your child’s mind and world of contrasting the differences and lead to disputes. Grow spiritually despite having different views but still one in the Lord. The dispute is an act of meat that has not shown a spiritually mature, and put it tanggalkanlah love as a unifying bond (Colossians 3:12-14).
BE LIKE A RAINBOW, THOUGH COLORFUL, BUT STILL ONE

17 March 2010

SUMBER HIKMAT ( WISDOM RESOURCES )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

isipetiperjanjianRABU, 17 MARET 2010

 1  KORINTUS 1:18-2:5

“Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (ayat 30).  Masing-masing golongan menuntut pengakuan bahwa mereka adalah orang berhikmat. Orang Yahudi dengan Taurat mereka merasa telah berhikmat. Demikian pula dengan orang Yunani merasa berhikmat dengan peribadatan mereka. Namun Paulus mengatakan bahwa diluar Allah tidak ada orang berhikmat. Orang yang merasa berhikmat mengira mereka telah mengenal Yang Maha Kuasa dengan hikmatnya, tapi sesung guhnya mereka sama sekali masih jauh. Mereka yang berhikmat adalah mereka yang mau menerima pemberitaan Injil dan hal itu tidaklah mudah bagi orang yang merasa diri berhikmat. Kristus yang disalibkan bagi orang Yahudi adalah hal yang tidak boleh dipikirkan, sedang Allah yang mengambil wujud manusia dan dibunuh, bagi orang Yunani adalah hal yang tidak dapat dimengerti. Tapi bagi mereka yang mau menerima pemberitan Injil, Allah bisa memakai mereka untuk mempermalukan mereka yang merasa diri berhikmat sekalipun mereka dipandang kecil oleh dunia. Merupakan kebanggaan tersendiri ketika orang lain menilai kita sebagai orang berhikmat. Tapi lihat dulu, hikmat macam apakah yang ada pada kita. Segala kelakuan kita yang nampak saleh dengan berbagai kegiatan keagamaan, tidak menjadikan kita otomatis sebagai orang berhikmat dihadapan Allah. Tapi orang yang mengenal Allah lah yang disebut sebagai orang berhikmat. Pada Allah lah ada hikmat dan Ia akan memberikannya kepada siapa yang meminta kepada-Nya dengan iman dan tidak ragu, dan Dia akan memberikannya dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit (Yakobus 1:5-6).

TUHANLAH YANG MEMBERIKAN HIKMAT. 

1 CORINTHIANS 1:18-2:5
But through him you are in Christ Jesus, whom God has become for us wisdom. He justified and sanctified and redeemed us “(verse 30). Each class requires the recognition that they are wise. The Jews with the Torah they feel has been wise. Similarly, the Greek people feel wise with their worship. But Paul says that God does not exist outside of the wise. People who feel they have been thought wise to know the Almighty with wisdom, but in fact they were still far away. They are the wise are those who would accept the preaching of the gospel and it is not easy for those who feel themselves wise. Christ crucified, to Jews is something that should not be thought, was God who took human form and killed, for the Greeks is something that can not be understood. But for those who want to receive the preaching of the gospel, God can use them to embarrass those who feel themselves wise they were considered small even by the world. Pride is when others judge us as a wise man. But see now, what kind of wisdom that is ours. Any behavior that appears godly us with various religious activities, does not automatically make us as wise men before God. But people who know the God who called wise men. In God there is wisdom and He will give it to anyone who asks Him by faith and not doubt, and He will give generously and not rehash (James 1:5-6).
THE LORD GIVES WISDOM.

16 March 2010

IDOLA MANUSIA ( HUMAN IDOL )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

altar emasSELASA, 16 MARET 2010

   1 KORINTUS 1:10-17

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan diantara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir” (ayat 10).   Menyampaikan salam lalu mengucap syukur, berikutnya Paulus mulai menyampaikan nasihat-nasihatnya yang langsung pada pokok permasalahannya. Hal pertama yang di sorot oleh Paulus adalah adanya ancaman perpecahan dalam jemaat. Terjadi pengku ltus individuan terhadap tokoh-tokoh jemaat saat itu, masing-masing memiliki kebanggaan terhadap orang-orang yang di idolakannya. Hal tersebut semakin meruncing dan menimbulkan ketidaknyama nan ditengah-tengah jemaat itu sendiri. Maka dengan tegas Paulus menasihatkan supaya mereka seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir. Mereka semua adalah saudara-bersaudara dalam Tuhan dan juga dianggap saudara oleh Paulus. Sebagaimana Kristus tidak mungkin terbagi-bagi, demikianlah seharusnya mereka juga tidak boleh mengkotak-kotakan diri mereka sendiri hanya karena seorang idola manusia. Memiliki idola sah sah saja asal itu dalam pengertian yang sehat dan benar, yakni mau mencontoh atau meneladani hal yang positif dari orang yang diidolakan. Tapi ketika dalam mengidolakan seorang itu sudah lebih dari batas kewajaran, akan sangat berbahaya akibatnya. Contoh, ketika orang yang diidolakan jatuh, maka kita juga bisa ikut jatuh. Dan bukan hanya itu, ada bahaya perpecahan jika itu terjadi dalam dunia pelayanan jemaat. Daripada kita bisa jatuh karena mengidolakan seorang, adalah lebih baik jika kita hanya memperhatikan akhir hidupnya dan mencontoh iman dan perbuatannya yang baik (Ibrani 13:7).

 JANGAN ADA PADAMU ILLAH-ILLAH YANG LAIN.

    1 CORINTHIANS 1:10-17
But I urge you, brethren, by the name of our Lord Jesus Christ, so that you do not unanimous and there are divisions among you, but rather that you close minded unity and harmony” (verse 10). Sends his greetings and thanks, Paul began to deliver next-advice advice directly to the subject matter. The first thing in the spotlight by Paul is the threat of a split in the congregation. The cult of the individual happens to the church leaders at that time, each of which has pride of those in the cult. This is more tapered and cause discomfort in the midst of the congregation itself. So Paul advises strongly that they unanimous, close minded unity and harmony. They all are brothers and sisters in the Lord and also considered by the Paul brothers. As Christ can not be divided, so should they also can not separate themselves just because a human being in the cult. Has a legitimate role model is valid only in the sense of origin healthy and right, namely to imitate or emulate the positive things from people who idolized. But when the idolized one that was more than within reasonable limits, would be very dangerous consequences. For example, when people who idolized fall, then we can also come down. And not only that, there is danger of a split if it happens in the world of church ministry. Than we could fall due to idolize someone, it is better if we just watched the end of his life and example of faith and good deeds (Hebrews 13:7).

DO NOT THERE ARE OTHER IDOLA IN YOU