Get Adobe Flash player
30 April 2010

Hargai AnugerahNya (Apreciate His Grace )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

29JUM’AT, 30 APRIL 2010

 2 KORINTUS 6:11-7:1

“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyuci kan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (ayat 1).  Dengan terus terang Paulus berbicara dan menasehati jemaat Korintus, dan ia berharap bahwa apa yang ia sampaikan itu beroleh tempat dihati jemaat, sebagai mana jemaat Korintus juga selalu ada dihatinya. Sekalipun jemaat Korintus telah mengenal kebenaran yang menyelamatkan, tapi latar belakang kota tersebut rawan untuk membuat mereka jatuh dalam ber bagai-bagai perbuatan dosa, salah satunya adalah dosa kekafiran. Celah untuk dosa kekafiran itu sendiri bisa melalui hubungan atau mencari pasangan yang tidak seimbang. Orang Korintus harus menyadari benar bahwa mereka adalah bait Allah yang hidup yang tidak boleh dicemari dengan berbagai-bagai noda kekafiran. Sebagai bait Allah mereka memiliki janji-janji Allah yang luar biasa, mereka menjadi umat Allah, bahkan bukan hanya itu, mereka akan menjadi anak-anak lelaki dan perempuan Allah, dan Allah akan menjadi Bapa mereka. Untuk itu, tidak ada jalan lain selain dari memisahkan diri dari segala bentuk kenajisan dan kecemaran dan juga menyucikan diri dari semua pencemaran jasmani dan rohani. Kehidupan kita setelah ditebus oleh darah Kristus, dan segala janji dari Allah yang menyertainya, bukan lah perkara ringan dan murahan, terlalu tinggi bahkan tidak mungki dihargai secara materi oleh manusia. Hanya inilah kehendak Allah untuk kita menghargai apa yang telah Ia anugerahkan, yakni menyucikan diri atau menjauhkan diri dari pencemaran jasmani dan rohani dan mengejar kekudusan hidup. Hargai kemurahan Allah dengan menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan dan pikirkanlah apa yang kudus serta sucikan diri melalui ketaatan kepada kebenaran (I Tesalonika 5:22).

SIAPA YANG SUCI, BIARLAH IA TERUS MENYUCIKAN DIRINYA.  

 Friday, 30 APRIL 2010 
  2 CORINTHIANS 6:11-7:1

Dearly beloved, because we now have those promises, let us cleanse ourselves from every pollution of flesh and spirit, and thus improve our holiness in the fear of God” (verse 1). Paul plainly spoke and advised the Corinthians, and he hoped that what he had to have an allotted place of hearts that the church, where the church at Corinth as well as his always there hearts. Although the church at Corinth had known the truth that saves, but the background of the city prone to make them fall in like-like her sinful act, one of which is the sin of unbelief. Gap for the sins of heathenism itself either through relationships or finding a partner that is not balanced. The Corinthians must be aware that they are the temple of the living God that should not be contaminated with various stains disbelief. As the temple of God, they have God’s promises extraordinary, they became God’s people, even not only that, they will be sons and daughters of God, and God will be their Father. For that, there is no other way other than to separate themselves from all forms of impurity and defilement, and also purify themselves from all physical and spiritual pollution. Our lives after redeemed by the blood of Christ, and all the promises of God that accompanies it, is not the case is lightweight and cheap, too high even possibly not appreciated by the human material. Only this is the will of God for us to appreciate what he has bestowed, namely purify themselves or alienate themselves from pollution, physical and spiritual life and the pursuit of holiness. Appreciate the mercies of God to abstain from all appearance of evil and think about what is holy and purify himself through obedience to the truth (I Thessalonians 5:22).
WHAT IS THE HOLY, LET HIM CONTINUING PURIFIED

29 April 2010

Kuasa Penyucian ( The Power of Sanctification )

Oleh victor anusa indra | Dalam Khotbah Minggu | Tag
  1. C.    KENAL KUASANYA! – KNOWING HIS POWER!

             6C31.  Kuasa Penyucian The power of sanctification

  1. Mengapa penyucian? Why sanctification?

 a.       Matius 5:8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 

 Sejak menjadi orang percaya, kita menerima pengajaran mula-mula -penginjilan atau pengajaran dasar-, setelah menerima hal itu, maka perlu dilanjutkan (Ibr.6: 1) dengan apa yang disebut pengajaran penyempurnaan / kesempurnaan. Runutan itu tidak bisa dipisah, tidak bisa belum mengerti pengajaran dasar langsung membahas pengajaran penyempurnaan, atau sebaliknya, hanya pengajaran mula-mula saja yang ditekankan dan meminggirkan yang lain. Tapi kedua hal itu saling kait-mengkait.

 Dalam pengiringan kepada Tuhan, orang percaya akan melangkah memasuki tahapan demi tahapan dalam kehidupannya. Seperti tubuh jasmani yang bertumbuh dan menjadi seorang yang dewasa, maka secara spritual orang percaya akan juga bertumbuh untuk menjadi pribadi yang dewasa secara spritual. Kehidupan dewasa –ditandai dengan berbicara dan berjalan dalam kebenaran- yang layak untuk bersanding dalam hubungan kekudusan yang intim dengan-Nya

 Setelah percaya kepada Yesus dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi, orang percaya akan hidup dalam komitmen menjalankan perintah-Nya. Bukan perkara yang mudah orang percaya dapat melewati banyak tantangan dalam kehidupannya supaya dapat berjalan dalam kehendak-Nya.

 Namun hal itu bukan berarti tidak mungkin, untuk tujuan itulah Ia telah kirimkan Roh Kudus sebagai penolong supaya manusia dapat kuat dan bertahan dalam jalur-Nya. Pilihan reformasi dan transformasi pribadi yang telah dilakukan orang percaya lakukan, akan terwujud bila Roh Kudus dilibatkan secara aktif dalam kehidupannya. 

 Kesediaan untuk bertekun dalam perintah-Nya dengan melibatkan Roh Kudus secara aktif akan membawa orang percaya pada suatu tahapan yang sangat penting. Itu adalah penyucian. Perihal penyucian ini tidak bisa dikerjakan dengan hanya berpijak pada kekuatan sebagai manusia, sebab kecenderungan manusia yang masih hidup dalam darah dan daging akan selalu diarahkan keluar dari jalur-Nya.   

 Kenapa kita bicara penyucian, sebab …

                                                  tanpa penyucian kita tidak dapat melihat Allah

                                                                         without holliness we can not see God

 Memandang saja tidak akan bisa, bagaimana dapat tinggal bersama-Nya. Bila kita rindu tinggal di sana bersama-Nya, maka kita perlu penyucian. Disinilah kita perlu berjuang, diproses dalam ibadah sepanjang waktu yang telah Ia karuniakan.

 Mazmur 99:9, Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!

 Yesaya 6:3, Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!

 Wahyu 4:8, Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.

 Wahyu 15:4, “Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.

Alasan pertama:

 Dia kudus – He is holy

 Kita perlu penyucian atau pengudusan sebab Ia adalah Allah yang kudus. Natur dari Allah adalah kudus. Manusia pun pada mulanya diciptakan dengan kekudusan sebab manusia dicipta segambar dengan Dia. Ketika di Eden manusia dan Allah dapat bercakap-cakap dan hidup dalam tempat yang sama. Namun karena manusia pertama melanggar perintah-Nya maka manusia kehilangan natur kudus itu dan menjadi fana. 

 b.      Imamat 19:2, Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.

 I Petrus 1:15-16, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

II Petrus 3:11, “Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup

 Alasan kedua:

   Ini kerinduan-Nya – This is His desire

 Allah menghendaki umat-Nya kudus, sehingga sejak zaman Israel dibentuk, bangsa ini dikhususkan untuk menjadi bangsa pilihan-Nya, dikuduskan bagi kemuliaan-Nya. Maka jangan heran, untuk tujuan itu makanannya diatur, ibadah mereka ditata sedemikian rupa dan dijalankan dengan aturan yang sangat ketat.

 Tapi kerinduan-Nya untuk mengkuduskan umat-Nya Israel, tidak bersambut dengan sempurna. Bangsa Israel menunjukkan ketegar tengkukan pada beberapa episode sejarah kehidupan bangsanya. Hal itu mewakili adanya perjuangan yang sangat berat karena manusia telah jatuh dalam dosa.

 Hingga Kristus menjadi solusi atas hal ini, yang telah mengenal dan percaya kepada-Nya, maka jalan menuju kerinduan-Nya itu untuk menjadi umat-Nya yang kudus menjadi terbuka. Kristus memulihkan hubungan yang dahulu sulit dijangkau untuk dapat terjadi antara Allah dengan umat-Nya

 Korban Kristus menjadi landasan untuk menerima kekudusan-Nya. Orang percaya disatukan dalam perhimpunan yang diikat dengan korban Kristus. Prosesi penyatuan itu dirayakan oleh orang percaya dalam suatu perjamuan kudus.

Mengingat betapa berartinya prosesi perjamuan kudus dalam hidup orang percaya. Maka ia harus menjalankannya dengan kesungguhan hati. Rasul Paulus menuliskan berkenaan dengan hal ini, bila seseorang tidak layak memakan perjamuan kudus, ia berdosa (I Korintus 11:27). Sebelum dan selama menerima perjamuan kudus ia perlu menguji diri. Perjamuan kudus yang dilaksanakan sebagai sebuah seremonial –tanpa menghayati makna- dalam ibadah orang percaya, dapat berakibat fatal. Dampaknya, maunya cemerlang justru berbuah bahaya, searti tidak menghargai Kristus yang telah berkorban dan maksud karya perutusan-Nya.

 Sekali lagi, alasan kedua mengapa orang percaya perlu penyucian. Sebab hidup kudus adalah kerinduan-Nya. Tidak sebatas selamat, tapi berlanjut dengan kekudusan yang dipraktekkan dalam kehidupan orang percaya.

 c.       Matius 5:48, Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

 II Korintus 13:11, Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Kolose 1:28-29, Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. 29Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.

 Efesus 4:13, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus

 Efesus 5:27, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

 I Tesalonika 5:23, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

 Selanjutnya karena Allah kita adalah Allah yang sempurna maka untuk dapat berjumpa dengan-Nya, manusia harus pula sempurna. “Hendaklah kamu sempurna, seperti Bapa yang sempurna”. Kata sempurna artinya utuh, komplit, perfect. Suatu tuntutan untuk hidup kelak ‘tanpa cacat dan kerut’.

 Dan sebagai orang percaya :

     Ini tujuan akhir kita – This is our final destiny

 Proses menuju kesempurnaan sebagai tujuan akhir kehidupan orang percaya, tidak serta merta terjadi sedemikian saja –semudah membalikkan telapak tangan- tapi ada proses yang perlu tekun dilaksanakan.  

 

Gambar Skema Tabernakel

 

Secara jelas langkah-langkah itu dapat dilihat dan diartikan dalam skema Tabernakel. Sejak percaya (di depan pintu gerbang), akan melangkah terus menuju ke Ruangan Suci, lalu akan masuk lagi ke Ruang Maha Suci, sempurna bersekutu dengan-Nya.

Setelah terima Yesus -pintu keselamatan- masuk halaman, praktek hidup benar dengan bertobat serta membuang karakter lama – mezbah korban bakaran dan kolam pembasuhan.

 Langkah dalam beribadah kepada-Nya akan dilanjutkan untuk masuk ke Ruangan Suci. Menerima baptisan Roh, Yesus Pembaptis Roh Kudus (pintu kemah), Ia-lah yang memenuhkan Roh Kudus, bukan karena karya manusia tetapi Roh sendiri yang memberikan (Kisah Para Rasul 2:4).

 Bila seseorang menyembah dengan khusyuk, ia akan dibawa ke dalam hadirat Tuhan, daging tidak bersuara lagi selain penyerahan total kepada kekudusan-Nya. Iapun akan mendapati dirinya masuk dalam Ruang Maha Suci, di sinilah hadirat Tuhan ada, Ia berkenan memancarkan kemuliaan sebagai tanda bahwa Ia berhadirat di tengah umat-Nya.

Di dalam Ruangan Maha Suci ada Tabut Perjanjian, yang petinya berisi buli emas, tongkat Harun, dan 2 Loh Batu. Tabut Perjanjian adalah lambang persekutuan yang intim antara Allah dengan umat-Nya, pada tabut itu sendiri memberikan gambaran sempurna antara persekutuan yang dirancangkan oleh Allah di dalam Kristus –Tutup Tabut- bersama dengan jemaat-Nya –petinya Tabut perjanjian-.

 Waspada – Caution!

 Matius 7:21, 23, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. … 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

 Wahyu 21:8, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.

 Wahyu 21:27, “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.

Penyucian atau pengudusan adalah hal yang sangat berarti sebagai orang percaya. Hal ini adalah tindakan lanjut setelah seseorang mendeklarasikan kehidupannya menjadi orang percaya. Di dalam penyucian mencakup hati yang diarahkan untuk memuliakan-Nya saja, memiliki motivasi yang benar bila seseorang melayani-Nya, sebab ia telah mengenal kebenaran.

 Mewaspadai tentang kondisi yang diperingatkan Tuhan berkenaan dengan  …

      tidak dikenal Allah – Did not recognized by God

Orang percaya akan belajar dan bertumbuh Melayani Tuhan dalam kebenaran. Bukan pelayananya nampak benar dalam pemandangan manusia, tapi motivasinya tidak benar. Yang melayani karena ‘perut’, integritasnya tidak ada. Makanya pelayanan perlu pengudusan. Sekecil apapun pelayanan kita, motivasi harus benar, ditujukan bagi kemuliaan Tuhan.

 Filipi 3:18-19 ”Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”.

 Nasihat Advice

     I Korintus 9:26-27, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 27Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

 I Timotius 4:10-11, “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya. 11Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.

Rasul Paulus menggambarkan pengiringannya kepada Tuhan bagaikan atlet, menguasai diri seluruhnya, supaya tidak setelah ia menyampaikan Firman Tuhan –mengajarkan, memproklamasikan kebenaran- kepada orang lain, diri sendiri ditolak. Di tolak karena apa yang disampaikannya tidak sama dengan apa yang dikerjakannya, dan itu namanya tidak utuh.

 Untuk mencapai garis akhir yang sempurna, orang percaya perlu :

                   Berjuang & Berjerih lelah – Fight & Labor

 Ibadah perlu perjuangan, kehidupan yang dikuduskan perlu pengorbanan –ada perobekan daging- , dalam pengertian rohani tentunya hal itu akan menempatkan pada situasi yang “tidak nyaman” bagi kehidupan orang percaya ditengah dunia yang meng-idolakan dan mempromosikan kenyamanan hidup.

 Namun berjerih lelah dengan tekun akan membawa pada kebahagiaan sejati, ada hasil yang kekal , ada kenyamanan yang kekal  karena akhirnya mengarah pada kesempurnaan, dan itu adalah suatu proses pendewasaan.

29 April 2010

Materai Pelayan Allah ( God Servant Seal )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

23KAMIS, 29 APRIL 2010

2 KORINTUS 6:1-10

 “Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran..” (ayat 4).  Kembali Paulus menegaskan bahwa pelayanan yang ia terima adalah karunia Allah, karena itu ia juga mendorong jemaat supaya tidak membuat kasih karunia Allah menjadi sia-sia. Kesungguhan Paulus dalam menghar gai kasih karunia Allah dia tunjukkan dalam pelayanannya yang tidak pernah dan tidak mau bersungut-sungut seberat apapun beban dan penderitaan yang harus ia alami. Sekalipun dalam pelayanannya Paulus harus mengalami penderitaan, kesesakan, kesukaran, dera, penjara, dan kerusuhan, ia tetap menunjukkan bahwa ia adalah pelayan Kristus yang baik, yakni ia dengan sabar menanggung itu semua. Demikian pula ia juga bersabar dalam berjerih lelah, berjaga dan berpuasa dan dalam berbagai bentuk pelayanan yang lain. Pendek kata segala yang ia kerjakan, ia jalani dan lakukan dalam tanda kesabaran. Menjadi pelayan Allah bukanlah kesempatan untuk mencari hormat dan kemuliaan bagi diri sendiri. Menjadi pelayan Allah adalah soal keteladanan hidup, dan untuk itu dibutuhkan kesabaran dalam meng hadapi dan menanggung segala perkara. Kalau untuk urusan kemuliaan, semua orang mau menjadi dan disebut sebagai pelayan Allah, tapi bagaimana dengan meterai penderitaan dan kesengsaraan yang harus juga ditanggung dengan penuh kesabaran ? Relakah kita jika harus menderita dan sengsara oleh karena kebenaran ? Bagaimanakah sikap kita ketika ditolak, dicemooh, dihina, dianggap tidak berarti apa-apa ? Sebagai pelayan Kristus, kita tidak bisa memilih apa yang kita senangi saja, tapi melakukan kehendak Allah itulah yang utama, maka kuasai diri dalam segala hal dan sabarlah menderita (2 Timotius 4:5).

IKUTI TELADAN PENDERITAAN DAN KESABARAN PARA NABI.

THURSDAY, 29 APRIL 2010
2 CORINTHIANS 6:1-10
(paragraph 4). Back Paul insists that the service he received was the gift of God, so he also encouraged the congregation not to make the grace of God be in vain. Appreciate the seriousness of Paul in God’s grace he showed in his ministry who did not and do not want any heavy grouse burden and suffering he had experienced. Even in his ministry Paul had to experience suffering, trouble, hardship, whipping, imprisonment, and rioting, he still shows that he is a good servant of Christ, that he bore it all patiently. Similarly he was also tired of patience on the exhaust, vigil and fasting, and in various other forms of service. Short said everything he did, he lived and did the sign of patience. Being a servant of God is not an opportunity to seek honor and glory for themselves. Being a servant of God is a matter of exemplary lives, and to do that requires patience in her face and endure all things. If for the glory of affairs, everyone wants to be called as a servant of God, but what about the seal of the suffering and misery that must also be borne with patience? Are we willing to suffer and to suffer if because of the truth? What is our attitude when rejected, scorned, insulted, considered not mean anything? As a servant of Christ, we can not choose what we like about it, but to do God’s primary, then the master himself in all things and be patient suffering from (2 Timothy 4:5).
 PAIN AND PATIENCE FOLLOW EXAMPLE OF THE PROPHET.

“Conversely, in everything we showed that we are the servants of God, namely: in arrest with patience in suffering, crowding and difficulties ..”

 

 

28 April 2010

Berita Pendamaian ( News Atonement )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

16RABU, 28 APRIL 2010

2 KORINTUS 5:11-21 

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelang garan mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami” (ayat 19).   Paulus dapat dengan pasti membedakan antara pelayanan yang dahulu ia kerjakan dan sesudah ia menjadi pelayan Kristus. Sekarang dia tidak lagi bermegah atas hal-hal lahiriah, tapi atas hal-hal batiniah. Pelayanan yang ia kerjakan dikuasai oleh kasih Kristus yang dilandasi oleh korban-Nya. Kristus telah mati untuk semua orang, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya juga mengalami kematian dari dosa. Dan sebagaimana Dia hidup kembali, demikian pula setiap orang percaya juga hidup kembali dan menjadi ciptaan baru. Semua itu adalah usaha Allah untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Dan Allah yang telah memulai usaha pendamaian itu mempercayakan kelanjutan dari usaha-Nya tersebut kepada hamba-hamba-Nya, termasuk kepada Paulus untuk memberitakanya kepada semua manusia. Menyadari  demikian besarnya usaha Allah untuk memperdamaikan manusia dengan diri-Nya yang tanpa meman dang pelanggarannya, maka Paulus menyerukan kepada orang Korintus supaya mereka mau diperdamai kan dengan Allah. Lihatlah, betapa besar kasih Allah bagi manusia. Seharusnya manusialah yang mencari perdamaian dengan Dia karena manusialah yang telah berbuat dosa, tapi ternyata Allahlah yang membuka jalan pendamaian tersebut. Berita pendamaian itu harus disebarkan, itu adalah kabar baik bagi manusia. Pertanyaannya, sudahkah kita juga diperdamaikan dengan Allah ? Tidak mungkin kita menjadi pemberita pendamaian tanpa lebih dahulu kita mengalami hidup yang diperdamaikan dengan Allah. Maka sekarang, sebagai pemberita-pemberita pendamaian, berusahalah supaya kedapatan tak bercela dan tak bernoda dihadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia (2 Petrus 3:14).

CARILAH PERDAMAIAN DAN BERUSAHALAH MENDAPATKANNYA.

 WEDNESDAY, 28 APRIL 2010
2 CORINTHIANS 5:11-21


“For God is reconciling the world to Himself by Christ with their budgets do not take into account the customer. He has entrusted it to us news of reconciliation
“(verse 19). Paul can with certainty distinguish between the first service he was doing and after he became a servant of Christ. Now he no longer boast of outward things, but for things spiritual. Services that she was doing controlled by the love of Christ which is based on his victims. Christ died for everyone, so that everyone who believes in Him also experienced the death of sin. And as He came to life, as well as every believer also came to life and become a new creation. All of it was an attempt to reconcile man with God Himself. And the God who started the reconciliation effort was entrusted the continuation of his efforts is to His servants, including to his Paul to proclaim to all people. Thus realize the amount of effort to reconcile man with God Himself, without looking at the trial of her offense, then calls Paul to the Corinthians that they would be reconciled to God. Behold, how great God’s love for mankind. Man should seek peace with him because of men that have done wrong, but it is God who opens the path of reconciliation. News of reconciliation that must be deployed, it is good news for humans. The question is, have we also reconciled to God? It is impossible to be a herald of reconciliation without our prior experience life reconciled with God. So now, as a reporter-herald peace, try to be found blameless and spotless before Him, in peace with Him (2 Peter 3:14).
LOOK FOR PEACE  AND TRY TO GET IT

27 April 2010

Pandang Kekekalan ( Look at to Eternity )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

12SELASA, 27 APRIL 2010

2 KORINTUS 4:16-5:10  

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (ayat 18).  Manusia lahiriah boleh semakin merosot oleh karena usia maupun keadaan, namun manusia batiniahnya terus dibaharui dari hari ke sehari, demikianlah Paulus memandang hidupnya. Paulus mengarahkan pandangannya jauh ke depan, kepada hal yang bersifat kekal. Itulah sebabnya ia memandang ringan seberat apapun penderitaan yang ia alami oleh karena kebenaran. Bahkan ia memandang penderitaan itu justru mengerjakan kemulia an kekal yang melebihi segala-galanya. Kemah kediaman dibumi atau tubuh lahiriah ini akan dibongkar karena bersifat fana, tapi Allah telah menyediakan tempat kediaman yang bersifat kekal. Didalam tubuh lahiriah semua makhluk sama-sama mengeluh oleh beratnya tekanan, dan Allah tahu betul akan hal itu, maka Diapun mengaruniakan Roh, sebagai jaminan bagi setiap orang percaya untuk memperoleh segala sesuatu yang telah Ia sediakan. Hal-hal yang tidak kelihatan itulah yang dikejar dan diyakini oleh Paulus, sebab dia hidup karena percaya dan bukan karena melihat. Demikian pula seyogyanya dalam hidup kita, jangan hanya memandang dan mengejar perkara-perkara lahiriah dan materi. Itu memang perlu, tapi tidak mampu membawa hidup pada kemuliaan kekal. Ketahuilah dengan pasti bahwa Allah menyediakan suatu kemuliaan yang tidak akan layu, dan tingkat kemuliaan itu sendiri ditentukan oleh sikap hidup, bagaimana kita mengisinya selama masih mendiami tubuh jasmani ini. Arahkan pandangan jauh kedepan, pada kekalan dan kemuliaan yang Allah sediakan, maka kita akan mampu menganggap penderitaan karena kebenaran sebagai harta yang lebih besar dari kekayaan dunia (Ibrani 11:26).

 ALLAH MEMANGGIL KITA MASUK DALAM KEMULIAAN-NYA YANG KEKAL.

TUESDAY, 27 APRIL 2010
2 CORINTHIANS 4:16 to 5:10

Because we did not notice a visible, but invisible, because the visible is temporary, whereas the invisible is eternal” (verse 18). May outwardly declining due to age or condition, but the inner man continues to be updated from day to day, so Paul looked at his life. Paul directs his gaze far into the future, to things that are eternal. That’s why he views any heavy mild pain he experienced because of the truth. Even he looked at the suffering that just working on an eternal glory that exceeds everything else. Tent residence of earth or outer body is to be demolished because they are perishable, but God has provided a dwelling place that is eternal. Inside the outer body all beings are equally complaining by the weight of pressure, and God knows very well about it, then he too gave the Spirit, as a guarantee for every believer to get everything he has provided. Things do not look that’s being pursued and is believed by Paul, because he was walking by faith and not by sight. Similarly, should in our lives, do not just look at and pursue outward matters and materials. It was necessary, but not able to bring life to the eternal glory. Know with certainty that God provides a non-fading glory, the glory and the level itself is determined by the attitude of life, how do we fill them for still living in this physical body. Point the remote view of the future, in eternity and glory that God provided, then we will be able to consider the suffering for the truth as a property which is greater than the wealth of the world (Hebrews 11:26). GOD CALLING US,TO SIGN IN HIS ETERNAL GLORY.

 

26 April 2010

Harta Tersembunyi ( Hidden Property )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

SENIN, 26 APRIL 2010

 2 KORINTUS 4:1-15

“Namun Karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: “Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata”, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata” (ayat 13).  Paulus sangat menyadari bahwa ia menerima pelayanan itu sebagai kemurahan Allah, maka diapun dalam pelayananya tidak menyalahgunakan kepercayaan itu dengan berlaku licik ataupun memalsukan firman Allah. Dia juga menyadari bahwa tidak semua mereka yang mendengar pemberitaannya akan menerimanya, tapi hal itu tidak membuat dia tawar hati karena bukan dia yang ditolak melainkan Dia yang telah mengutus nya yang ia beritakan. Penolakan yang dia alami sering kali mengakibatkan keadaan yang tidak mudah, penindasan, penganiayaan, habis akal maupun dihempaskan. Dia memiliki harta dalam bejana tanah liat nya, dalam hatinya, itulah roh iman, yang membuat dia berani berkata-kata memberitakan keselamatan yang dari Allah didalam Yesus Kristus. Roh yang sama pulalah yang membuat dia percaya bahwa Allah akan membangkitkan dia juga sebagaimana Ia membangkitkan Tuhan Yesus. Jika Yesus telah begitu rupa menderita bahkan mati untuk keselamatan manusia, demikianlah Paulus memandang pelayanannya, maka diapun tidak menjadi kecewa dengan segala penderitaan yang harus ia alami. Jika kita mengandal kan kekuatan sendiri dalam pelayanan, kita akan mudah menjadi kecewa apabila mengalami penolakan dalam berbagai bentuknya. Sebaliknya, bila kita memiliki harta dalam bejana tanah liat, yakni kekuatan Allah didalam iman, tidak ada satu bentuk kesengsaraan dan penolakanpun yang akan sanggup membuat kita undur dari pelayanan. Kekuatan yang dari Allahlah yang menopang segala segi kehidupan kita. Uji lah diri sendiri, apakah kita tetap tegak didalam iman, selidiki diri sendiri apakah kita benar-benar yakin bahwa Yesus Kristus ada didalam kita, sebab jika tidak kita tidak akan tahan uji (2 Korintus 13:5).

KITA DIPELIHARA DALAM KEKUATAN ALLAH KARENA IMAN.

 MONDAY, 26 APRIL 2010

 2 CORINTHIANS 4:1-15

“But because we have the same spirit of faith, as it is written:” I believe, therefore I say, “then we also believe and therefore we also speak” (verse 13). Paul was well aware that he accepted the ministry as God’s grace, then he too in his ministry does not abuse that trust by applicable cunning or falsify the word of God. He also realizes that not all those who heard his preaching will accept it, but it does not make him lose heart because she had not rejected but He who sent him what he preached. He experienced rejection often lead to circumstances that are not easy, oppression, persecution, are perplexed and knocked down. He has a treasure in jars of clay it, in his heart, this is the spirit of faith, which made him dare to say that preaching the salvation of God in Jesus Christ. Also the same spirit that makes him believe that God will raise him well as he raised up the Lord Jesus. If Jesus had been so much suffering and even death for human salvation, says Paul looked at his ministry, then he too did not become disillusioned with all the suffering she had experienced. If we rely on his own strength in the service, we will easily be disappointed if the experience of rejection in various forms. Conversely, if we have a treasure in jars of clay, namely the power of God in faith, no one form of misery and rejection that will be enough to make us withdraw from the service. The strength of God who sustains all aspects of our lives. Test yourself is, are we still up in the faith, find ourselves whether we truly believe that Jesus Christ is in us, because otherwise we will not stand test (2 Corinthians 13:5).
 BY FAITH WE WERE IN THE POWER OF GOD