- C. KENAL KUASANYA! – KNOWING HIS POWER!
C31. Kuasa Penyucian – The power of sanctification
- Mengapa penyucian? –Why sanctification?
a. Matius 5:8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
Sejak menjadi orang percaya, kita menerima pengajaran mula-mula -penginjilan atau pengajaran dasar-, setelah menerima hal itu, maka perlu dilanjutkan (Ibr.6: 1) dengan apa yang disebut pengajaran penyempurnaan / kesempurnaan. Runutan itu tidak bisa dipisah, tidak bisa belum mengerti pengajaran dasar langsung membahas pengajaran penyempurnaan, atau sebaliknya, hanya pengajaran mula-mula saja yang ditekankan dan meminggirkan yang lain. Tapi kedua hal itu saling kait-mengkait.
Dalam pengiringan kepada Tuhan, orang percaya akan melangkah memasuki tahapan demi tahapan dalam kehidupannya. Seperti tubuh jasmani yang bertumbuh dan menjadi seorang yang dewasa, maka secara spritual orang percaya akan juga bertumbuh untuk menjadi pribadi yang dewasa secara spritual. Kehidupan dewasa –ditandai dengan berbicara dan berjalan dalam kebenaran- yang layak untuk bersanding dalam hubungan kekudusan yang intim dengan-Nya
Setelah percaya kepada Yesus dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi, orang percaya akan hidup dalam komitmen menjalankan perintah-Nya. Bukan perkara yang mudah orang percaya dapat melewati banyak tantangan dalam kehidupannya supaya dapat berjalan dalam kehendak-Nya.
Namun hal itu bukan berarti tidak mungkin, untuk tujuan itulah Ia telah kirimkan Roh Kudus sebagai penolong supaya manusia dapat kuat dan bertahan dalam jalur-Nya. Pilihan reformasi dan transformasi pribadi yang telah dilakukan orang percaya lakukan, akan terwujud bila Roh Kudus dilibatkan secara aktif dalam kehidupannya.
Kesediaan untuk bertekun dalam perintah-Nya dengan melibatkan Roh Kudus secara aktif akan membawa orang percaya pada suatu tahapan yang sangat penting. Itu adalah penyucian. Perihal penyucian ini tidak bisa dikerjakan dengan hanya berpijak pada kekuatan sebagai manusia, sebab kecenderungan manusia yang masih hidup dalam darah dan daging akan selalu diarahkan keluar dari jalur-Nya.
Kenapa kita bicara penyucian, sebab …
tanpa penyucian kita tidak dapat melihat Allah
without holliness we can not see God
Memandang saja tidak akan bisa, bagaimana dapat tinggal bersama-Nya. Bila kita rindu tinggal di sana bersama-Nya, maka kita perlu penyucian. Disinilah kita perlu berjuang, diproses dalam ibadah sepanjang waktu yang telah Ia karuniakan.
Mazmur 99:9, “Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!”
Yesaya 6:3, “Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”
Wahyu 4:8, “Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.”
Wahyu 15:4, “Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.”
Alasan pertama:
Dia kudus – He is holy
Kita perlu penyucian atau pengudusan sebab Ia adalah Allah yang kudus. Natur dari Allah adalah kudus. Manusia pun pada mulanya diciptakan dengan kekudusan sebab manusia dicipta segambar dengan Dia. Ketika di Eden manusia dan Allah dapat bercakap-cakap dan hidup dalam tempat yang sama. Namun karena manusia pertama melanggar perintah-Nya maka manusia kehilangan natur kudus itu dan menjadi fana.
b. Imamat 19:2, “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.”
I Petrus 1:15-16, “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
II Petrus 3:11, “Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup”
Alasan kedua:
Ini kerinduan-Nya – This is His desire
Allah menghendaki umat-Nya kudus, sehingga sejak zaman Israel dibentuk, bangsa ini dikhususkan untuk menjadi bangsa pilihan-Nya, dikuduskan bagi kemuliaan-Nya. Maka jangan heran, untuk tujuan itu makanannya diatur, ibadah mereka ditata sedemikian rupa dan dijalankan dengan aturan yang sangat ketat.
Tapi kerinduan-Nya untuk mengkuduskan umat-Nya Israel, tidak bersambut dengan sempurna. Bangsa Israel menunjukkan ketegar tengkukan pada beberapa episode sejarah kehidupan bangsanya. Hal itu mewakili adanya perjuangan yang sangat berat karena manusia telah jatuh dalam dosa.
Hingga Kristus menjadi solusi atas hal ini, yang telah mengenal dan percaya kepada-Nya, maka jalan menuju kerinduan-Nya itu untuk menjadi umat-Nya yang kudus menjadi terbuka. Kristus memulihkan hubungan yang dahulu sulit dijangkau untuk dapat terjadi antara Allah dengan umat-Nya
Korban Kristus menjadi landasan untuk menerima kekudusan-Nya. Orang percaya disatukan dalam perhimpunan yang diikat dengan korban Kristus. Prosesi penyatuan itu dirayakan oleh orang percaya dalam suatu perjamuan kudus.
Mengingat betapa berartinya prosesi perjamuan kudus dalam hidup orang percaya. Maka ia harus menjalankannya dengan kesungguhan hati. Rasul Paulus menuliskan berkenaan dengan hal ini, bila seseorang tidak layak memakan perjamuan kudus, ia berdosa (I Korintus 11:27). Sebelum dan selama menerima perjamuan kudus ia perlu menguji diri. Perjamuan kudus yang dilaksanakan sebagai sebuah seremonial –tanpa menghayati makna- dalam ibadah orang percaya, dapat berakibat fatal. Dampaknya, maunya cemerlang justru berbuah bahaya, searti tidak menghargai Kristus yang telah berkorban dan maksud karya perutusan-Nya.
Sekali lagi, alasan kedua mengapa orang percaya perlu penyucian. Sebab hidup kudus adalah kerinduan-Nya. Tidak sebatas selamat, tapi berlanjut dengan kekudusan yang dipraktekkan dalam kehidupan orang percaya.
c. Matius 5:48, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
II Korintus 13:11, “Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”
Kolose 1:28-29, “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. 29Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”
Efesus 4:13, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”
Efesus 5:27, “supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”
I Tesalonika 5:23, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Selanjutnya karena Allah kita adalah Allah yang sempurna maka untuk dapat berjumpa dengan-Nya, manusia harus pula sempurna. “Hendaklah kamu sempurna, seperti Bapa yang sempurna”. Kata sempurna artinya utuh, komplit, perfect. Suatu tuntutan untuk hidup kelak ‘tanpa cacat dan kerut’.
Dan sebagai orang percaya :
Ini tujuan akhir kita – This is our final destiny
Proses menuju kesempurnaan sebagai tujuan akhir kehidupan orang percaya, tidak serta merta terjadi sedemikian saja –semudah membalikkan telapak tangan- tapi ada proses yang perlu tekun dilaksanakan.
Secara jelas langkah-langkah itu dapat dilihat dan diartikan dalam skema Tabernakel. Sejak percaya (di depan pintu gerbang), akan melangkah terus menuju ke Ruangan Suci, lalu akan masuk lagi ke Ruang Maha Suci, sempurna bersekutu dengan-Nya.
Setelah terima Yesus -pintu keselamatan- masuk halaman, praktek hidup benar dengan bertobat serta membuang karakter lama – mezbah korban bakaran dan kolam pembasuhan.
Langkah dalam beribadah kepada-Nya akan dilanjutkan untuk masuk ke Ruangan Suci. Menerima baptisan Roh, Yesus Pembaptis Roh Kudus (pintu kemah), Ia-lah yang memenuhkan Roh Kudus, bukan karena karya manusia tetapi Roh sendiri yang memberikan (Kisah Para Rasul 2:4).
Bila seseorang menyembah dengan khusyuk, ia akan dibawa ke dalam hadirat Tuhan, daging tidak bersuara lagi selain penyerahan total kepada kekudusan-Nya. Iapun akan mendapati dirinya masuk dalam Ruang Maha Suci, di sinilah hadirat Tuhan ada, Ia berkenan memancarkan kemuliaan sebagai tanda bahwa Ia berhadirat di tengah umat-Nya.
Di dalam Ruangan Maha Suci ada Tabut Perjanjian, yang petinya berisi buli emas, tongkat Harun, dan 2 Loh Batu. Tabut Perjanjian adalah lambang persekutuan yang intim antara Allah dengan umat-Nya, pada tabut itu sendiri memberikan gambaran sempurna antara persekutuan yang dirancangkan oleh Allah di dalam Kristus –Tutup Tabut- bersama dengan jemaat-Nya –petinya Tabut perjanjian-.
Waspada – Caution!
Matius 7:21, 23, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. … 23Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
Wahyu 21:8, “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”
Wahyu 21:27, “Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.”
Penyucian atau pengudusan adalah hal yang sangat berarti sebagai orang percaya. Hal ini adalah tindakan lanjut setelah seseorang mendeklarasikan kehidupannya menjadi orang percaya. Di dalam penyucian mencakup hati yang diarahkan untuk memuliakan-Nya saja, memiliki motivasi yang benar bila seseorang melayani-Nya, sebab ia telah mengenal kebenaran.
Mewaspadai tentang kondisi yang diperingatkan Tuhan berkenaan dengan …
tidak dikenal Allah – Did not recognized by God
Orang percaya akan belajar dan bertumbuh Melayani Tuhan dalam kebenaran. Bukan pelayananya nampak benar dalam pemandangan manusia, tapi motivasinya tidak benar. Yang melayani karena ‘perut’, integritasnya tidak ada. Makanya pelayanan perlu pengudusan. Sekecil apapun pelayanan kita, motivasi harus benar, ditujukan bagi kemuliaan Tuhan.
Filipi 3:18-19 ”Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi”.
Nasihat – Advice
I Korintus 9:26-27, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. 27Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
I Timotius 4:10-11, “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya. 11Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu.”
Rasul Paulus menggambarkan pengiringannya kepada Tuhan bagaikan atlet, menguasai diri seluruhnya, supaya tidak setelah ia menyampaikan Firman Tuhan –mengajarkan, memproklamasikan kebenaran- kepada orang lain, diri sendiri ditolak. Di tolak karena apa yang disampaikannya tidak sama dengan apa yang dikerjakannya, dan itu namanya tidak utuh.
Untuk mencapai garis akhir yang sempurna, orang percaya perlu :
Berjuang & Berjerih lelah – Fight & Labor
Ibadah perlu perjuangan, kehidupan yang dikuduskan perlu pengorbanan –ada perobekan daging- , dalam pengertian rohani tentunya hal itu akan menempatkan pada situasi yang “tidak nyaman” bagi kehidupan orang percaya ditengah dunia yang meng-idolakan dan mempromosikan kenyamanan hidup.
Namun berjerih lelah dengan tekun akan membawa pada kebahagiaan sejati, ada hasil yang kekal , ada kenyamanan yang kekal karena akhirnya mengarah pada kesempurnaan, dan itu adalah suatu proses pendewasaan.