Get Adobe Flash player
31 May 2010

Peperangan Bathin [ The Inner War ]

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa [Daily Bread Bilingual Edition ] By Jeremia Puji Sanstoso WSB Editorial Staff

pic01SENIN, 31 MEI 2010

GALATIA 5:16-26

“Barang siapa menjadi milik Kristus Yesus,, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (ayat 24). Masih dalam kaitan hidup yang dimerdekakan, ada satu cara dan hal itu juga merupakan suatu perintah supaya orang benar-benar hidup bebas dari perhambaan, yakni hidup oleh Roh. Hidup oleh Roh itu juga menjadi penawar yang mujarab dari ajaran Yudaistis. Hidup oleh Roh berarti tidak menyerah pada keinginan hati sendiri akan hal-hal yang tidak berkenan dihadapan Allah. Itulah peperangan yang terus menerus terjadi dalam diri orang yang mau hidup menurut Roh. Roh dan daging akan selalu berseberangan sehingga selalu terjadi peperangan dalam hati. Hidup oleh Roh menjamin orang percaya tidak akan lagi berbuat sekehendak hatinya. Tapi hidup oleh Roh berbeda dengan tunduk pada hukum  Taurat, atau tunduk pada peraturan keagamaan, yakni peraturan-peraturan yang dibebankan secara lahiriah. Hidup oleh Roh didasari dari hati dan bukan karena terpaksa oleh sebab peraturan. Inilah kekuatan daging yang harus diperangi: dosa seks dalam segala bentuknya, praktek-praktek kekafiran dalam segala bentuknya, dosa perasaan dalam segala bentuknya, dan juga dosa kegemaran dalam segala bentuknya. Pertanyaanya, milik siapakah kita ini sesungguhnya sekalipun kita mengaku diri sebagai orang percaya? Perbuatan-perbuatan yang kita kerjakan bisa menjadi jawaban untuk diri kita sendiri apakah kita sudah benar-benar menjadi milik Kristus sekalipun kita mengaku beriman kepada-Nya. Adanya peperangan dalam batin membuktikan kita masih mau untuk menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Matikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi dan kenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kolose 3:5-10).

MATIKAN DAGING SUPAYA HIDUP.

MONDAY, 31 MEI 2010
Galatians 5:16-26

“He who belong to Christ Jesus have crucified the flesh with the affections and lusts” (verse 24). Still in terms of life who were freed, there is one way and it also represents a command so that the people truly live free from bondage, that live by the Spirit. Life in the Spirit was also a bidder Yudaistis efficacious than teaching. Life in the Spirit means not giving in to their own hearts will desire things that are not pleasing before God. That ongoing battle that occurs in people who want to live by the Spirit. Spirit and flesh are always opposite, so always be wars in the liver. Life in the Spirit guarantees believers will no longer take its own course. But live by the Spirit is different from subject to law, or subject to religious rules, ie rules imposed outwardly. Life in the Spirit is based on the heart and not by necessity because of the rules. This is the strength of meat that must be fought: the sins of sex in all its forms, practices paganism in all its forms, a feeling of sin in all its forms, and also the sins of indulgence in all its forms. The question, of who we are in fact even if we claim ourselves as believers? Deeds that we do can be the answer for ourselves whether we really belong to Christ even when we confess our faith in Him. Prove the existence of war in mind we still want to crucify the flesh with the affections and lusts. Turn off the inside of us all things earthly and the new man wearing a continuously updated to obtain the right knowledge in the image of his Maker (Colossians 3:5-10).

SO TURN OFF THE LIVING FLESH

31 May 2010

Ringkasan Khotbah Pada WSB Minggu 30 Mei 2010

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah Minggu | Tag

burungKhotbah pada Hari Pantekosta oleh hambaNya Bp.Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo.Bc.M

C36.  Hari Pantekosta The day of Pentacost

18. Tujuan penyucian the goal of sanctification

  

Efesus 5:26-27, “untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan air dan firman, 27supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

 

Kolose 3:10, “dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya

 

Kembali kepada gambar Allah, adalah bagian dari tujuan penyucian. Disucikan lewat Roh Kudus dan Firman Allah, untuk menempatkan gereja-Nya cemerlang …

tanpa cacat cela – without blemish

 

  

Sempurna - Perfect

Tampil sebagai mempelai wanita Anak Domba yang sempurna, tiada kenajisan.

Bukan kebetulan, bicara tentang penyucian, Rasul Paulus menyisipkannya pada kehidupan keluarga. Dimulai dari keluarga, dengan menghormati perkawinan sebagai gambaran hubungan Kristus dan gereja. Yang dikehendaki dalam pernikahan yang kudus adalah hadirnya keturunan-keturunan ilahi (anak-anak Allah).

  1. Siapakah orang sempurna?Who is the perfect man?

  

Yakobus 3:2, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

 

Wahyu 14:4-5, “Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan, karena mereka murni sama seperti perawan. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti  Anak Domba itu ke mana saja Ia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia sebagai korban-korban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba itu. 5Dan di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta; mereka tidak bercela.

Hidup sempurna yang dimaksud adalah mereka yang lidahnya terkendali, dari mulutnya tidak ada kesalahan, …tidak bersalah dalam kata-kata

no stumble in words

Jadi orang-orang seperti ini, di dalam mulutnya tidak ada dusta. Mereka inilah yang ditebus sebagai yang sulung dari bumi. Kita sedang diproses menuju kesempurnaan itu.

  1. Cara Allah The way of God

  

Kisah Para Rasul 2:3-4, “dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Supaya kita dapat hidup sampai pada kesempurnaan, Allah mengirim Roh Kudusnya. Jangan bergerak / bertindak tanpa Roh Kudus. Kalau ada Roh Kudus, kita punya kuasa untuk menaklukkan dalam peperangan rohani (Kisah Para Rasul 1:8).

Itulah sebabnya mengapa kita butuh Roh Kudus (Roh Kebenaran – Roh Penolong), yang pada akhirnya menjadikan kita berhasil. Lewat kuasa Roh Kudus ini, mujizat terjadi (Kisah Para Rasul 2:41-43).

Kalau lidah adalah yang menggerakkan roda kehidupan, demikian halnya pada gereja mula-mula. Mereka diijinkan bergerak setelah Roh Kudus memenuhi mereka, yang ditandai oleh …

 

Lidah-lidah api di atas mereka

 

Mereka penuh dengan Roh Kudus

Lidah mereka dikuasai oleh Roh Kudus

Pada saat itu, ada 18 suku bangsa datang ke tempat di mana para murid-murid Yesus menunggu di Yerusalem pada hari Pentakosta. Mereka heran mendengar orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus berbicara dalam bahasa mereka.

Di dorong dari dalam hati, meluap ke mulut. Ucapan bahasa lidah mengagungkan Tuhan, menceritakan tentang perbuatan-perbuatan Allah yang agung, dan membangun sidang jemaat. Karenanya, bangkitkan kerinduan kita untuk dipenuhi Roh Kudus.

  1. Dosa gereja mula-mula The sin of the early church

Kisah Para Rasul 5:1-11, “Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. 2Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul. 3Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? …

* Dosa lidah – The sin of tongued DUSTA – LIE

Begitu besarnya kuasa Roh Kudus, sehingga dampaknya juga besar jika mendustai-Nya. Seperti Ananias yang berdusta tentang harga tanah, tidak hanya mendustai imam tetapi lebih dari itu mendustai Roh Kudus, akibatnya ia mati demikian juga dengan istrinya.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua, dimulai dalam kehidupan keluarga. Suami – istri harus jujur, tidak ada dusta di antara mereka sebagai gambaran hubungan Allah dengan gereja-Nya,

22.  Penutup – Ending

Kolose 3:8-9, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, firnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. 9Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya

Tanggalkan manusia lama

Berhenti berdusta – Stop lie

Dusta dimulai dari Taman Eden, Adam – Kain – berlanjut terus – saksi dusta (imam-imam kepala) saat Yesus diadili sampai pada berita kebangkitannya. Itulah sebabnya mengapa sampai kini masih banyak yang tidak percaya kalau Yesus benar-benar bangkit.

Ingat bahwa pendusta tidak mendapat tempat dalam Keajaan Allah. Makanya cara Tuhan untuk menyucikan kita dari dosa lidah ini, adalah lewat peristiwa Pantekosta – mencurahkan Roh Kudus-Nya, yang akan menguasai lidah kita. Hidup kita diubahkan, karakter lama dibaharui menjadi karakter yang baru, sehingga kita menjadi layak menuju kota Yerusalem Baru, Kota yang Kudus. Menanggalkan manusia lama ditandai dengan lidah yang tidak suka dusta !

29 May 2010

Telah dimerdekakan ( Was an independent state )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imageSABTU, 29 MEI 2010

GALATIA 5:1-15

 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu memperguna kan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (ayat 13).  Kemerdekaan yang diberikan oleh Kristus adalah kemerdekaan berdasarkan penebusan karena anugerah. Sekalipun sunat dalam hukum Taurat adalah tindakan manusia untuk kebenaran, tapi itu sudah mendapat penggenapannya sehingga sunat tidak lagi menjadikan orang percaya dibenarkan karenanya. Bahkan, orang percaya yang menyunatkan diri karena tuntutan Taurat, wajib melakukan seluruh hukum Taurat. Keselamatan tidak datang oleh Kristus dan hukum Taurat, tapi hanya oleh Kristus saja. Tindakan orang percaya yang menyunatkan diri karena tuntutan Taurat adalah sikap mendua hati. Orang yang demikian hidup diluar kasih karunia. Hal yang sangat berarti didalam Kristus bukanlah sunat, tapi iman yang bekerja oleh kasih. Kemerdekaan yang Kristus beri membebas kan orang dari tuntutan Taurat, tapi itu juga bukan merupakan kesempatan untuk orang menyalahguna kannya untuk hidup dalam dosa, sebaliknya mereka harus hidup dalam kasih dan saling melayani. Bila kemerdekaan yang kita miliki dipakai untuk hidup dalam dosa, itu sama halnya kita belum mengalami kemerdekaan yang sesungguhnya. Kemerdekaan semacam itu hanyalah kemerdekaan pengetahuan dan bukan kemerdekaan rohani yakni bebasnya kita dari perbudakan dosa. Ketika kita memiliki pengalaman dimerdekakan dari perbudakan dosa, kita tidak akan lagi mau diperbudak oleh dosa. Hiduplah sebagai hamba Allah yang dengan demikian kita tidak akan menyalahgunakan kemerdekaan yang kita miliki untuk menyelubungi berbagai bentuk kejahatan (1Petrus 2:16).

DIMANA ADA ROH ALLAH, DI SITU ADA KEMERDEKAAN.

 SATURDAY 29 MEI 2010
Gal 5:1-15

“Brethren, ye have been called for independence. But do not use liberty as an opportunity for living in sin, but rather serve one another by love “(paragraph 13). Independence given by Christ is the independence based on the redemption through grace. Although circumcision is in the law of human action for truth, but that was to get a fulfillment that circumcision is no longer justified to make people believe it. In fact, people believe that circumcision itself because the demands of the Torah, are obliged to do the whole law. Salvation does not come by Christ and the law, but only by Christ alone. Actions that circumcised men believe themselves because the law demands is double-minded attitude. That man should live outside of grace. It is very meaningful in Christ is not circumcision, but faith which works by love. Freedom that Christ gave his people freed from the demands of the Torah, but it’s also not an opportunity for people misuse them to live in sin, on the contrary they must live in love and serve each other. If the independence we have used to live in sin, that just as we have not experienced true freedom. Such independence is not independence of knowledge and spiritual freedom that free us from the slavery of sin. When we have the experience freed from the slavery of sin, we will no longer want to be enslaved by sin. Live as a servant of God and thus we will not abuse the freedom that we have in order to disguise the various forms of evil (1 Peter 2:16).

THAT IS THE SPIRIT OF GOD, THERE IS FREEDOM.

 

  

28 May 2010

Anak Perempuan Merdeka ( Child of independent Woman )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

handheavensh1JUM’AT, 28 MEI 2010

  GALATIA 4:21-31

 “Karena itu saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka” (ayat 31).  Kepada mereka yang terlebih suka hidup dibawah hukum Taurat, ter lebih kepada mereka yang giat men-yahudikan orang lain, Paulus menunjukkan bahwa mereka telah salah mengerti makna dari hukum Taurat. Orang Yahudi yang hanya membanggakan diri karena keturunan lahiriahnya dari Abraham, sebenarnya tidaklah lebih baik ataupun lebih benar dari Ismael, yang mereka pandang sebagai anak hamba dan bukan anak janji. Mereka tidak ubahnya sebagai keturunan-keturunan yang berada dalam perhambaan, karena itu mereka suka mengintimidasi ataupun menganiaya anak-anak merdeka, anak-anak janji, sebagaimana dulu dia yang diperanakkan menurut daging menganiaya dia yang diperanakkan menurut Roh. Mereka yang percaya kepada Kristus, itulah anak-anak janji secara rohani, keturunan Yerusalem sorgawi. Kedudukan orang percaya sebagai anak dihadapan Allah bukan atas dasar keturunan alamiah, melainkan atas dasar perjanjian anugerah. Jika demikian, tidak perlu kita heran jika karena iman dan kebenaran kita mengalami penganiayaan dalam berbagai bentuknya. Sebagai anak-anak janji secara rohani yang juga mewarisi janji-janji Allah, janji-janji itu akan mampu membuat kita tetap kuat. Yang penting adalah kita memiliki mental seorang anak perempuan merdeka dan bukan mental seorang anak hamba. Mental anak perempuan merdeka adalah mental yang memiliki hidup berpengharapan akan mewarisi kerajaan kekal. Berbuat kebenaran dan hidup didalam kasih, itulah tandanya anak-anak Allah, anak-anak janji, anak-anak perempuan merdeka, tapi anak-anak hamba tidak suka hidup dengan cara demikian (1 Yohanes 3:10).

ORANG YANG DIPIMPIN ROH ALLAH ADALAH ANAK ALLAH.

 Friday, 28 MEI 2010 
  Galatians 4:21-31

Therefore, brethren, we are not children of slave women, but children free woman” (verse 31). To those who particularly likes to live under the law, especially to those who are keen to the Jewish people, Paul indicated that they had misunderstood the meaning of the law. Jews who only boast of as physical descent from Abraham, in fact no better or more true of Ishmael, which they saw as a child servant and not the child’s promise. They do not change it as the breeds that are in bondage, so they like to intimidate or persecute independent children, children promise, as he had been born of the flesh persecuted him who were born after the Spirit. Those who believe in Christ, that’s the promise of the children spiritually, the offspring of the heavenly Jerusalem. The position of the believer as a child before God not on the basis of natural descent, but on the basis of grace covenant. If so, we need not wonder if his faith and the truth is we suffer persecution in various forms. As children are spiritually promise that also inherit the promises of God, promises it will be able to keep us strong. What is important is that we have the mentality of a child independent woman and not a child slave mentality. Mental child is mentally independent woman who has a hopeless life will inherit the eternal kingdom. Do the truth and the life within you, that’s the sign of God’s children, children promise, the children of female independence, but my kids do not like to live in that way (1 John 3:10).

 THE MAN WHO LED THE SPIRIT OF GOD IS THE CHILD GOD.

 

27 May 2010

Kehilangan kasih semula ( Loss of The first Love originally )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

19KAMIS, 27 MEI 2010

GALATIA 4:12-20

“Betapa bahagianya kamu pada waktu itu ! Dan sekarang, dimanakah bahagiamu itu ? Karena aku dapat bersaksi tentang kamu, bahwa jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku” (ayat 15). Paulus terus mendorong orang Galatia untuk merdeka dari tuntutan hukum Taurat sebagaimana ia juga telah mengalami pembebasan yang seutuhnya. Dulu orang Galatia sangat bahagia menyambut Paulus dan berita Injil yang dibawanya sekalipun ia dalam keadaan sakit. Orang Galatia tidak menganggap hal itu sebagai masalah ataupun memandang Paulus jijik dan hina. Bahkan karena sukacitanya jikalau mungkin orang Galatia rela mencungkil matanya dan memberikannya kepada Paulus . Tapi banyak hal telah mempengaruhi orang Galatia sehingga mereka kehilangan kasihnya yang semula tersebut. Mereka sepertinya telah berseberangan dengan Paulus sehingga kebenaran yang Paulus sampaikan ditanggapi dengan dingin. Paulus tidak mau menyerah, ia tetap mengingatkan mereka bahwa tujuan orang-orang Yudais yang berusaha menarik mereka tersebut tidaklah benar, tidak sehat. Paulus tetap rindu untuk kembali membawa orang Galatia pada jalur yang benar, dan keadaan tersebut Paulus pandang sebagai proses kelahiran kembali, sebuah proses kesakitan untuk memenangkan mereka kembali. Keadaan bisa mempengaruhi perubahan sikap seseorang. Dan jika keadaan membawa perubahan negatif  atas kerohanian kita, ingatlah akan kasih mula-mula dimana Tuhan menemukan dan menyelamatkan kita. Mengingat kembali kasih mula-mula yang Allah berikan akan membangkitkan kembali semangat kita dalam mengiring dan melayani-Nya, karena sentuhan kasih Allah mampu mengangkat kita kembali. Jangan biarkan padam, bangun dan kuatkan kembali, ingatlah akan kasih-Nya yang telah menyelematkan kita dan bertobatlah karena dosalah yang membuat seorang kehilangan kasih (Wahyu 3:3-4).

KASIH DAN KUASA-NYA SANGGUP MEMBANGKITKAN KITA KEMBALI.

THURSDAY, 27 MEI 2010
Galatians 4:12-20

How happy you at that moment! And now, where you were happy? Because I can testify about you, that if possible, you have your eyes gouged out and gave it to me “(verse 15). Paul continues to encourage the Galatians to be independent from the law demands, as he too has undergone a complete exemption. Once the Galatians were very happy to welcome Paul and the Gospel message that carries even if he is ill. Galatians did not consider it as a problem or look at Paul’s disgust and contempt. Even for joy if maybe the Galatians would have gouged out his eyes and gave it to Paul. But things have affected the Galatians that they lose the love for the original. They seemed to have been contrary to Paul so that convey the truth that Paul responded with a cold. Paul did not want to give up, he still reminds them that the purpose Yudais people who try to attract them is not true, is not healthy. Paul still longed to return to bring the Galatians on the right track, and Paul’s view of the situation as a process of rebirth, a process of pain to win them back. Circumstances can affect a person’s attitude changes. And if things take a negative change for our spirituality, remember the love at first where God found and saved us. Recalling the first love that God will resurrect the spirit of give us in following and serving Him, because the touch of God’s love can lift us back. Do not let it out, wake up and be strong again, just remember His love that has saved us and repent of the sin that makes a lost love (Revelation 3:3-4).

HIS LOVE AND POWER,WILLING TO RAISE US RETURN.

26 May 2010

Menjadi Ahli Waris ( Become Heirs )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

kasih001RABU, 26 MEI 2010

GALATIA 4:1-11

“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak;  maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah” (ayat 7). Yahudi dan non Yahudi sama-sama hidup dibawah perhambaan. Orang Yahudi dibawah perhambaan hukum Taurat sementara non Yahudi dalam perhambaan roh-roh dunia. Allah membebaskan manusia dari perhambaan dengan mengutus Anak-Nya dengan jalan menjadi korban atas kutuk yang memperbudak manusia. Penebusan oleh darah Kristus  menjadikan mereka yang ditebus mendapat anugerah “pengangkatan” sebagai anak-anak Allah, dan itu merupakan anugerah. Predikat sebagai Anak Allah  diberikan melalui Roh yang ada didalam mereka yang telah mengalami penebusan. Dan bukan hanya itu saja, Allah juga menyuruh Roh Anak-Nya masuk ke dalam hati orang percaya sehingga mereka bisa berseru kepada Allah: ya Abba, ya Bapa. Hasil dari semuanya itu adalah menjadi ahli-ahli waris. Jika demikian adanya, Paulus menjadi kuatir kalau-kalau jerih payahnya ditengah-tengah orang Galatia menjadi sia-sia,  karena sebagai anak, mereka mau kembali menghambakan dirinya lagi kepada hukum Taurat dan juga kepada roh-roh dunia yang miskin dan lemah dengan cara memelihara waktu-waktu khusus seperti yang mereka lakukan sebelum mengalami penebusan. Kedewasaan rohani seseorang bisa dilihat dari sikap dan perilaku hidupnya. Sikap dan perilaku seorang hamba berbeda dengan seorang tuan, seorang penjahat berbeda dengan seorang hamba Tuhan. Namun ada yang ironis dalam dunia kerohanian, dimana banyak ahli-ahli waris, yakni anak-anak Allah tidak bersikap sebagai seorang anak Allah, sebaliknya mereka lebih suka bersikap sebagai hamba hawa nafsu. Menjadi ahli waris didalam iman bukan hanya berhenti sampai pada status, tapi harus diperjuangkan sekalipun melalui penderitaan sampai akhirnya kita menerimanya dan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus (Roma 8:17).

HIDUPLAH BERPADANAN DENGAN PANGGILAN KITA.

WEDNESDAY, 26 MEI 2010
Galatians 4:1-11

“So you are no longer a slave but a son; then you are an expert-heirs, by God” (verse 7). Jew and Gentile alike live under slavery. The Jews were under the bondage of the law while the non-Jew in the world of the spirits of bondage. God frees people from bondage to send His Son by becoming a victim of the curse of the enslaved humans. Redemption by the blood of Christ redeemed those who make a gift of “rapture” as children of God, and it is a blessing. Predicate as the Son of God given through the Spirit who is in those who have experienced redemption. And not only that, God also sent the Spirit of his Son into the hearts of  believers so that they could appeal to God: Abba, Father. The result of all that is to be an expert-heirs. If so, Paul became worried that his labors in the middle of the Galatians to be futile, because as children, they want to go back thrall himself again to the law and also to the spirits of the world’s poor and weak in a way keep time special times like they did before the experience of redemption. One’s spiritual maturity can be seen from the attitude and behavior of her life. Attitudes and behavior is different from a servant of a lord, a criminal is different from a servant of God. But there is irony in the spiritual world, where many experts-heirs, namely, God’s children do not behave as a child of God, instead they prefer to behave as a servant of lust. Become heirs in the faith not only stop until the status, but must be fought through the pain until the end even if we accept it and be glorified together with Christ (Romans 8:17).
LET’S WE LIVE  CORRESPOND WITH  OUR CALLS.

25 May 2010

Miliki Janji Allah ( Have God’s Promise )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

rhSELASA, 25 MEI 2010

GALATIA 3:15-29

“Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah” (ayat 29). Allah memberikan janji kepada Abraham bahwa ia akan membuat keturunannya amat banyak dan olehnya segala bangsa akan diberkati, Abraham percaya dan hal itu di perhitungkan Allah kepadanya sebagai kebenaran. Apa yang telah Allah janjikan kepada Abraham tidak dapat dibatalkan oleh kuasa apapun, termasuk oleh hukum Taurat. Janji itu tidak berhenti sampai pada Abraham, namun berkelanjutan sampai kepada keturunannya yang kegenapannya ada pada Kristus. Maka setiap orang yang percaya kepada Kristus, dia menjadi milik Kristus dan terhisab dalam keturunan Abraham secara rohani dan sekaligus berhak pula menerima janji Allah. Hal itu tidak bisa dikerjakan oleh hukum Taurat karena dasar hukum Taurat bukanlah iman, sedang untuk menerima janji Allah harus melalui iman. Berkat Allah atas Abraham bukan hanya sekedar berkat secara jasmani, berkat materi, tapi meliputi segala aspek kehidupan yang dibutuhkan manusia. Kita juga bisa menerima janji Allah kepada Abraham, tapi bukan dengan cara kita sendiri, melainkan dengan cara Allah dan itu bukan cara yang penuh dengan ritual manusia. Allah hanya mencari iman dalam diri kita sama seperti Dia melihat iman dalam diri Abraham. Dan itu adalah iman kepada Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Karena itu jangan sekali-kali melepaskan iman tersebut dengan alasan apapun kalau kita masih mengharapkan menikmati berkat Abraham. Untuk meyakinkan mereka yang berhak menerima janji-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah, maka tunjukkanlah kesungguhan didalam iman dan nantikanlah dengan kesabaran kegenapan janji Allah (Ibrani 6:11-17).

SIAPA MILIK KRISTUS, IA BUKAN LAGI MILIKNYA SENDIRI.

TUESDAY, 25 MEI 2010
Galatians 3:15-29

“And if ye be Christ’s, then are ye Abraham’s seed and heirs according to the promise of God” (verse 29). God gave the promise to Abraham that he would make his descendants very much and all the nations will be blessed by him, Abraham believed and it was on account of God to him as righteousness. What has God promised to Abraham can not be undone by the power of any kind, including by the law. The promise was not stopped until at Abraham, yet continuous until the offspring are fulfilled in Christ. So every man who believes in Christ, he belongs to Christ and belonged in the spiritual descendants of Abraham and at the same time also entitled to receive God’s promises. It can not be done by the law because the law is not the basis of faith, is to receive God’s promises must be through faith. Thanks to God for the blessing of Abraham is not just physically, thanks to the material, but covers all aspects of human life required. We can also accept God’s promise to Abraham, but not in our own way, but by God and that’s not the way that human beings are full of rituals. God’s just looking for the same faith in us as He sees faith in Abraham. And it is faith in His only begotten Son, Jesus Christ. Because it never let go of that belief for any reason if we are still expecting to enjoy blessings of Abraham. To convince those who are eligible to receive His promise, God has bound Himself with an oath, then the show sincerity in faith and wait with patience the fulfillment of the promise of God (Hebrews 6:11-17).
WHO’S CHRIST, HE IS NOT ANYMORE OWN

24 May 2010

Akhiri dengan baik ( Finishing Well )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

uangSENIN, 24 MEI 2010

GALATIA 3:1-14

“Adakah kamu sebodoh itu ? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya didalam daging?” (ayat 3). Surat Paulus kepada orang Galatia adalah surat yang keras dan tajam, banyak kata-kata yang sama sekali tidak menyenangkan bagi telinga, diantaranya mengatakan bahwa orang Galatia itu bodoh. Itu bukan kebodohan dalam arti orang Galatia kurang berpendidikan, tapi kebodohan rohanilah yang Paulus maksudkan. Bagaimana tidak Paulus akan menyebut mereka bodoh jika ternyata mereka masih mengharapkan pembenaran oleh karena melakukan hukum Taurat. Mereka telah terperangkap oleh ajaran Yudais, maka Pauluspun menantang adakah mereka berani mengakhiri iman mereka didalam daging padahal mereka telah memulainya didalam Roh. Contoh nyata adalah Abraham, yang Allah benarkan oleh karena imannya kepada Allah dan Allah memberkatinya luar biasa. Maka, setiap orang yang memiliki iman seperti Abraham, mereka juga akan diberkati seperti Abraham. Sebaliknya, mereka yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada dibawah kutuk, sedang Yesus Kristus telah menebus orang yang beriman dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena nya. Jadi memang sebuah kebodohan jika seorang sudah dibebaskan dari kutuk dan diberkati, tapi kembali menaklukkan dirinya dibawah kutuk. Hal senada juga banyak terjadi dewasa ini dimana demi kebutuhan jasmani, baik itu berupa materi ataupun yang sejenisnya, orang percaya dengan kesadaran berbalik dan mempercayai iman yang lain. Dengan demikian sesungguhnya orang yang demikian telah meninggalkan sumber berkat kehidupan. Dan apakah itu bukan sebuah kebodohan? Jangan bodoh, ber juanglah untuk mengakhiri pertandingan dengan baik, peliharalah iman itu, karena hanya dengan cara demikian kita beroleh bagian didalam Kristus Yesus (2 Timotius 4:7-8).

BUANGLAH KEBODOHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP.

MONDAY, 24 MEI 2010
Galatians 3:1-14

“Are you stupid? You have begun with the Spirit, would you now end in the flesh? ‘(Paragraph 3). Epistle to the Galatians is a letter that hard and sharp, a lot of words that is not fun for the ears, among others, says that the Galatians were stupid. That’s not stupidity in the sense of Galatians less educated, but Paul was referring to spiritual ignorance. How Paul would not call them stupid if it turns out they were expecting because of justification by law. They have been trapped by Yudais teaching, Paul is there to challenge them dared to end their faith in the flesh when they have started in the Spirit. Obvious example is Abraham, the God justified by his faith in God and God bless him extraordinary. So, everyone who has faith like Abraham, they too will be blessed like Abraham. Conversely, those who live from the works of the law, are under a curse, while Jesus Christ has redeemed the believers from the curse of the law by becoming a curse for it. Be it a folly if one had been liberated from the curse and blessing, but again conquer themselves under a curse. Similar too much happening today, where for the sake of physical needs, either material or the like, people believe a conscious, turns and other faith believing. Thus indeed such a person has left the source of blessings of life. And is it not a folly? Do not be silly, is struggling to end a game properly, keep the faith, because only in that way we are partakers in Christ Jesus (2 Timothy 4:7-8).
DISPOSE OF FOLLY THEN YOU WILL BE LIVING

22 May 2010

Ringkasan Khotbah Minggu pada WSB 23 Mei 2010

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah Minggu | Tag

tarianKelanjutan Seri Khotbah “The Power of Sanctification” Oleh HambaNya,Bp.Pdt.Otniel Firmanyo  Osiyo,Bc.M

C.KENAL KUASANYA! – KNOWING HIS POWER!

C.3.1  Kuasa Penyucian The power of sanctification

10.Bagaimana caranya? How is the way?

I Yohanes 1:5-7, “Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. 6Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. 7Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

Kalau kita berjalan di dalam Terang, maka bersekutulah kita satu dengan yang lain sehingga darah anak-Nya itu menyucikan dari segala dosa.

Hidup dalam terang – Live in the light

Akibatnya :

Penyucian terjadi – Sanctification happend

ini adalah cara yang berkenan kepada-Nya, bila orang percaya rindu penyucian terjadi, ia dituntut untuk hidup di dalam terang. Suratan Korintus menuliskan terang dan gelap tidak bisa bersatu, bila gelap dominan terang tidak ada di situ, sebaliknya bila ada terang otomatis gelap berlalu.

Bila hidup di dalam terang seperti Dia yang adalah terang, kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain. Persekutuan di mulai dari dua menjadi satu -nikah- lalu meluas kepada keluarga, persekutuan gereja, hingga Gereja yang disempurnakan – Gerea yang berpakaian Terang-

11.Apa artinya?What is the meaning?

I Yohanes 1:8-9, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. 9Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. 10Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

Berjalan di dalam terang, rasul Yohanes menuliskan dilakukan dengan

Mengakui segala dosa – Confessing all sin

Kalau kita mengakui dosa kita -tidak menutupi dosa-dosa kita maka itu adalah tanda orang percaya hidup di dalam Terang. Bila suka menutupi dosa berarti masih suka hidup dalam gelap, sebab dosa adalah perbuatan gelap.

Kalau kita mengakui dosa ada berkat dobel : pertama Ia akan mengampuni, lalu Dia menyucikan kita dari segala kejahatan.

Pengakuan dosa itu tidak dapat hanya diucapkan secara global, namun harus diungkapkan dengan spesifik supaya bagian yang kotor menjadi bersih dari dosa. Ibarat seseorang yang mencuci pakaian kotor, maka pada bagian yang terdapat noda kotor ia akan menyikatnya atau membersihkannya dengan lebih keras.Ketika dosa telah diselesaikan maka banyak hal yang akan terlihat nyata seturut pernyataan-Nya.

Pernyataan-Nya akan menjaga langkah kehidupan orang percaya pada kehidupan yang berkemenangan. Bila pengajaran-Nya yang menyucikan kehidupan telah disampaikan dan mengerti maksud-Nya maka orang percaya dapat mempraktekannya untuk kebaikannya. Praktek iman yang benar akan membawa kepada pertumbuhan iman ke arah yang lebih dewasa.

Rasul paulus menuliskan kepada jemaat ada banyak yang akan dikatakan tetapi respon mereka lamban, tidak cekatan, menjadi penyebab mengapa meski pengajaran sudah dijelaskan tetap tidak mengerti. (ibrani 5:11). Kalau kita sudah terang hidup akan enak, dosa sudah dicabut seakar-akarnya, hidup pasti akan menjadi lebih baik.

12.Ingat peran lidahRemember the function of a tounge

Matius

Pengakuan dosa yang diucapkan oleh orang percaya tentu berhubungan dengan lidah. Seperti yang Kitab Suci tuliskan tentang peran lidah :

Hidup dan Mati ada  dalam kuasa lidah

Life and dead are in the power of tounge

Lidah menggerakkan roda kehidupan

The tounge moves the wheel of live

Ada peran besar dari lidah bagi tubuh manusia, kecil dan tersembunyi tapi dapat membawa dampak yang fatal. Peran itu digambarkan sebagaimana cara mengendalikan kuda-gambaran kekuatan- maka lidahnya dikekang, juga sebuah kapal yang besar dikendalikan oleh kemudi yang kecil.

Lidah, memiliki peran yang besar bagi tubuh. Lidah menggerakkan roda kehidupan manusia. Bila tidak bertobat akan membawa akan kehancuran, menentukan mati hidupnya seseorang.

Dengan hati orang percaya dibenarkan, dengan lidah orang mengaku dan diselamatkan. Orang percaya perlu ada pengakuan untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, dengan pengakuan itu maka ada kekuatan bahwa orang percaya adalah milik-Nya.

13.Penutup Ending

Matius 15:18-19, “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. 19Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

Ucapan lidah dari mulut seseorang bermula :

Dari hati keluar ke mulut – From the heart come out to mouth

Dari hati muncul pikiran jahat, meluapnya ke mulut. Bila hatinya bersih kudus, ucapannya akan penuh berkat.

Bagaimana kita dapat mengaku dosa, kemudian mengucap syukur perlu ada yang mendorongnya.

So:

Ibrani 8:10, “”Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Kisah Para Rasul 1:4-5, “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang — demikian kata-Nya — “telah kamu dengar dari pada-Ku. 5Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.

Untuk memungkinkan mulut mengucapkan hal positif sebagai tanda hidup di dalam Terang maka perlu :

Hati diisi Firman Tuhan dan Roh Kudus

Fill your heart with the word of God and the Holy Spirit

Lebih dahulu hati perlu diisi Firman Allah. Ya, Tuhan mau menaruh hukum-Nya di loh hati -akal budhi atau dianoya /otak kanan- Setelah hati berisi Firman, maka Roh-Nya akan berdiam (Yeh 36:26-27)

Dengan landasan Firman dan Roh Kudus di hati orang percaya, maka ucapannya akan kudus sebab sumbernya kudus. Tuhan mau kehidupan orang percaya disucikan hingga kelak disempurnakan, Karena orang percaya masih hidup di tengah dunia maka ia perlu bertekun di dalam Firman dan Roh-Nya, ada pengakuan sebagai bagian dari proses pengudusan hidup. Untuk sebuah proses pendewasaan, hidup yang dibangun menuju kemuliaan.

22 May 2010

Hidup oleh Iman ( Living by Faith )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

berdoaSABTU, 22 MEI 2010

GALATIA 2:15-21

 “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang didalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (ayat 20).  Kembali Paulus memberikan kesaksian mengenai hidupnya. Jadi bisa dikatakan bahwa pasal pertama dan kedua dari surat Galatia ini adalah otobiografi Paulus. Secara lahiriah ia adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. Ia juga memiliki Taurat yang dimegahkan. Namun pada akhirnya setelah ia menerima kasih karunia , ia sadar bahwa keberadaannya yang secara lahiriah memiliki keistimewaan tersebut tidak berarti apa-apa. Bukan karena Yahudi dan melakukan hukum Taurat ia dibenarkan, tapi oleh iman didalam Kristus Yesus. Hal itu perlu terus ia beritakan supaya orang percaya dari kalangan Yahudi dan juga orang Yahudi pada umumnya tidak memegahkan keyahudiaannya karena hal itu tidak menyelamatkan, sedang mereka yang diluar Yahudi tidak berkecil hati karena faktor kelahirannya. Pembenaran dan keselamatan hanya ada didalam iman kepada Kristus Yesus dan bukan karena kelahiran. Dan setelah seorang dibenar kan dalam iman pada Kristus Yesus, hidupnyapun juga harus mengalami keubahan, dari seorang yang mengandalkan kebenaran diri sendiri, menjadi orang yang mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupannya. Melakukan kehendak Dia yang telah menyelamatkan merupakan salah satu tanda bahwa kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri tapi hidup di dalam iman kepada Anak Allah yang hidup. Hidup oleh iman tidak muluk-muluk, lakukan saja kehendak-Nya dan untuk itu Ia juga yang akan memperleng kapi kita dengan segala yang baik untuk melakukannya (Ibrani 1320-21). 

 ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN.

 SATURDAY 22 MEI 2010
Galatians 2:15-21

“I’m alive, but no longer I who live, but Christ lives in me. And the life which I now live in the flesh I live by faith in the Son of God, who loved me and gave Himself for I ‘(paragraph 20). Back Paul gives a testimony of his life. So we can say that the first and second chapters of this letter is the autobiography of Paul’s Galatians. Outwardly he was a Jew and not sinners of the Gentiles. He also has the glory of the Torah. But in the end after he received grace, he realized that his existence which outwardly has the privilege does not mean anything. Not because the Jews and the law he was justified, but by faith in Christ Jesus. It needs to continue to make people believe he preached from Jews and Jews in general do not boast of Jewish nationalism inherent in them, because it does not save, while those outside the Jewish do not be discouraged because of his birth. Justification and salvation only in faith in Christ Jesus and not by birth. And after a justified his faith in Christ Jesus, his life must also undergo change, from one that relies on self-righteousness, a people who rely on God in all aspects of life. Does the will of Him who has saved is one sign that we no longer live for themselves but to live in faith in the Son of the living God. I live by faith, not cocky, just do his will and for that he also will equip us with everything good to do (Hebrews 1320-21).

 RIGHT PEOPLE WILL LIVE BY FAITH