Renungan harian edisi dwi bahasa [Daily Bread Bilingual Edition ] By Jeremia Puji Sanstoso WSB Editorial Staff
SENIN, 31 MEI 2010
GALATIA 5:16-26
“Barang siapa menjadi milik Kristus Yesus,, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (ayat 24). Masih dalam kaitan hidup yang dimerdekakan, ada satu cara dan hal itu juga merupakan suatu perintah supaya orang benar-benar hidup bebas dari perhambaan, yakni hidup oleh Roh. Hidup oleh Roh itu juga menjadi penawar yang mujarab dari ajaran Yudaistis. Hidup oleh Roh berarti tidak menyerah pada keinginan hati sendiri akan hal-hal yang tidak berkenan dihadapan Allah. Itulah peperangan yang terus menerus terjadi dalam diri orang yang mau hidup menurut Roh. Roh dan daging akan selalu berseberangan sehingga selalu terjadi peperangan dalam hati. Hidup oleh Roh menjamin orang percaya tidak akan lagi berbuat sekehendak hatinya. Tapi hidup oleh Roh berbeda dengan tunduk pada hukum Taurat, atau tunduk pada peraturan keagamaan, yakni peraturan-peraturan yang dibebankan secara lahiriah. Hidup oleh Roh didasari dari hati dan bukan karena terpaksa oleh sebab peraturan. Inilah kekuatan daging yang harus diperangi: dosa seks dalam segala bentuknya, praktek-praktek kekafiran dalam segala bentuknya, dosa perasaan dalam segala bentuknya, dan juga dosa kegemaran dalam segala bentuknya. Pertanyaanya, milik siapakah kita ini sesungguhnya sekalipun kita mengaku diri sebagai orang percaya? Perbuatan-perbuatan yang kita kerjakan bisa menjadi jawaban untuk diri kita sendiri apakah kita sudah benar-benar menjadi milik Kristus sekalipun kita mengaku beriman kepada-Nya. Adanya peperangan dalam batin membuktikan kita masih mau untuk menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Matikan dalam diri kita segala sesuatu yang duniawi dan kenakan manusia baru yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kolose 3:5-10).
MATIKAN DAGING SUPAYA HIDUP.
MONDAY, 31 MEI 2010
Galatians 5:16-26
“He who belong to Christ Jesus have crucified the flesh with the affections and lusts” (verse 24). Still in terms of life who were freed, there is one way and it also represents a command so that the people truly live free from bondage, that live by the Spirit. Life in the Spirit was also a bidder Yudaistis efficacious than teaching. Life in the Spirit means not giving in to their own hearts will desire things that are not pleasing before God. That ongoing battle that occurs in people who want to live by the Spirit. Spirit and flesh are always opposite, so always be wars in the liver. Life in the Spirit guarantees believers will no longer take its own course. But live by the Spirit is different from subject to law, or subject to religious rules, ie rules imposed outwardly. Life in the Spirit is based on the heart and not by necessity because of the rules. This is the strength of meat that must be fought: the sins of sex in all its forms, practices paganism in all its forms, a feeling of sin in all its forms, and also the sins of indulgence in all its forms. The question, of who we are in fact even if we claim ourselves as believers? Deeds that we do can be the answer for ourselves whether we really belong to Christ even when we confess our faith in Him. Prove the existence of war in mind we still want to crucify the flesh with the affections and lusts. Turn off the inside of us all things earthly and the new man wearing a continuously updated to obtain the right knowledge in the image of his Maker (Colossians 3:5-10).
SO TURN OFF THE LIVING FLESH








Khotbah pada Hari Pantekosta oleh hambaNya Bp.Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo.Bc.M
SABTU, 29 MEI 2010
JUM’AT, 28 MEI 2010
KAMIS, 27 MEI 2010
RABU, 26 MEI 2010
SELASA, 25 MEI 2010
SENIN, 24 MEI 2010
Kelanjutan Seri Khotbah “The Power of Sanctification” Oleh HambaNya,Bp.Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo,Bc.M
SABTU, 22 MEI 2010