Mengundang kekerasan ( Inviting Violence )
Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremai Puji Santoso,WSB Editorial Staff
JUM’AT, 14 MEI 2010
2 KORINTUS 13:1-10
“Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada ditengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerah kan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan” (ayat 10). Sekalipun ada jemaat yang menganggapnya lemah dan hanya berani melalui surat-suratnya saja, Paulus tidak terpengaruh. Dalam nasehat-nasehat yang terakhir melalui surat yang ia tulis, ia kembali menegaskan bahwa ada saat dimana ia bisa bertindak dengan lembut, tapi ada saatnya pula ia bisa menunjukkan ketegasan melalui tindakan nyata. Dan saat itu ia masih bertindak dengan kesabaran untuk mendorong jemaat bertobat dan meninggalkan perbuatan jahatnya. Ia berharap jemaat tidak memaksanya untuk bertindak keras, dan jika laupun hal itu terjadi, kekerasannya bukan untuk menghukum dan meruntuhkan, tapi untuk membangun. Bagi Paulus, dengan memandang dirinya lemah, sesungguhnya jemaat juga memandang lemah Kristus, padahal Paulus tidaklah lemah, apalagi Kristus, meskipun Ia telah disalibkan karena kelemahan. Lembut bukan berarti lemah. Seperti Musa yang dikenal sangat lembut hatinya, tapi ia tetap dapat bertindak tegas dalam menghadapi dosa dan kejahatan. Kelembutan dan ketegasan ada waktu dan tempatnya masing-masing dalam hubungan antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Bagi kita sebagai orang yang dipimpin, jangan memaksa pemimpin untuk bertindak keras dengan sikap yang suka melawan. Dan bagi seorang pemimpin tidak boleh bertindak arogan dan mengesampingkan kelembutannya. Taatilah para pemimpin supaya kekerasannya tidak dinyatakan dan juga supaya mereka melakukan tanggungjawa bnya dengan gembira, sehingga baik yang dipimpin maupun yang memimpin sama-sama diberkati (Ibrani 13:17).
PERHATIKAN JUGA KEKERASAN DAN KEMURAHAN ALLAH.
Friday, 14 MEI 2010
2 CORINTHIANS 13:1-10
“That’s why once I wrote to you when I was far away from you, so when I’m in the midst of you, I’m not forced to act hard by the power of God granted to me to build and not to destroy” (verse 10). Although there are congregations who consider him weak and only a brave through his letters alone, Paul is not affected. In the latest advice through a letter he wrote, he again insisted that there was a time when he can act with a soft, but there were times he could also show firmness through real action. And when he was acting with the patience to encourage the church to repent and abandon his evil deeds. He hopes that the church does not force him to act tough, and if even if that happens, the hardness is not intended to punish and destroy, but to build. For Paul, to see themselves weak, true church of Christ also looked weak, but Paul is not weak, much less Christ, although He was crucified because of weakness. Soft does not mean weak. Like Moses, known to be very gentle heart, but he can still act decisively in the face of sin and evil. Gentleness and firmness and a time and place of each in the relationship between leader and led. For us as a people-led, do not force the leaders to act tough with recalcitrant attitude. And for a leader to act arrogant and should not override softness. Obey the leaders so that hardness is not stated, and also so that they perform their responsibilities with joy, so that either led or shared the lead the blessed (Hebrews 13:17).
ALSO CHECK VIOLENCE AND MERCY GOD.








