Get Adobe Flash player
21 May 2010

Memberi Pimpinan ( Leadership Giving )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imagepostJUM’AT, 21 MEI 2010

 GALATIA 2:11-14

“Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka” (ayat 13).  Setelah kunjungan Paulus ke Yerusalem, Kefas lah yang pergi ke Antiokhia. Paulus tidak menyembunyikan apa yang terjadi dalam kunjungan Kefas, yakni bagaimana ia berani dengan terus terang menegor Kefas untuk hal salah yang ia perbuat, yakni berlaku munafik. Sebagai seorang pemimpin besar, tindakan atau kemunafikan Kefas dapat dengan mudah mem pengaruhi yang lain untuk berbuat hal yang sama. Paulus tidak setuju dengan tindakan Kefas yang meng undurkan diri dari meja dimana ia makan sehidangan dengan saudara yang tidak bersunat karena takut dipandang rendah oleh orang-orang bersunat dari kalangan Yakobus yang datang kemudian. Tindakan itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, maka tidak ada alasan untuk Paulus segan atau takut untuk mene gur Kefas sekalipun ia lebih senior dibanding Paulus. Dua hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa tersebut, pertama, kemunafikan bisa dilakukan oleh siapapun, tidak peduli ia seorang pemimpin yang besar ataupun dari kalangan masyarakat umum. Yang kedua, seorang pemimpin adalah patron atau contoh bagi yang dipimpin, maka apa yang dilakukan oleh pemimpin juga akan diperbuat oleh yang di pimpin. Menyadari hal-hal tersebut, sudah seyogyanya jika seorang pemipin harus memperhatikan dengan sungguh bagaimana dia hidup. Seorang pemimpin harus sadar bahwa ia tidak hidup untuk diri nya sendiri, ia hidup juga untuk mereka yang dipimpinnya. Keadaan mereka yang dipimpin bisa menjadi cermin bagaimana seorang pemimpin telah menjadi pemimpin yang baik. Jangan jadi pemimpin buta, yakni pemimpin yang hanya memperhatikan kepentingannya diri sendiri, tapi jadilah pemimpin yang bisa diteladani dalam iman dan sikap hidupnya (Ibrani 13:7).

  JADILAH TELADAN BAGI ORANG PERCAYA DALAM SEGENAP HIDUP.

Friday, 21 MEI 2010 
  Galatians 2:11-14

‘And the other Jews who helped force a hypocrite with him, so that Barnabas himself also drawn by their hypocrisy “(verse 13). After the visit of Paul to Jerusalem, Peter was the one who went to Antioch. Paul did not hide what happened in the visit Cephas, ie, how he dared to openly rebuke Peter for what he did the wrong thing, that is true hypocrite. As a great leader, act or Cephas hypocrisy can easily influence others to do the same thing. Paul does not agree with actions that Cephas had resigned from the table where he ate a table with relatives who are not circumcised because fear is despised by those who are circumcised from James who came later. Action is inconsistent with the truth of the Gospel, there is no reason for Paul’s reluctant or afraid to meet Cephas wine even though he is more senior than Paul. Two things we can learn from this incident, first, hypocrisy can be done by anyone, no matter he is a great leader or among the general public. The second, is the patron of a leader or an example for those who led, then what is done by a leader who will also be done by the lead. Realizing these things, it should be if a leader really should pay attention to how he lived. A leader must be aware that he did not live to his own self, he lives also for those they lead. Their situation could lead to mirror how a leader has become a good leader. Do not be blind leaders, ie leaders who are only concerned with self interests, but that could be exemplary leaders in the faith and attitude in life (Hebrews 13:7).

 BE A EXAMPLE FOR PEOPLE BELIEVE IN YOUR LIFE

20 May 2010

Pengurus Kasih Karunia ( Grace management )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan  Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

baptism_jesus_KAMIS, 20 MEI 2010

 GALATIA 2:1-10

 “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai soko guru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan” (ayat 9).  Dari penganiaya jemaat menjadi pemberita iman, bukanlah keadaan yang mudah bagi Paulus untuk menjalaninya. Rasa takut, tidak percaya, kuatir dan pandangan-pandangan sejenisnya dari jemaat di segala tempat, harus ditangung oleh Paulus. Butuh waktu yang tidak singkat bagi Paulus untuk membuktikan diri bahwa ia sudah berubah sehingga bisa diterima dengan sepenuhnya baik oleh jemaat maupun rasul-rasul yang lain. Empat belas tahun setelah kunjungannya yang pertama ke Yerusalem sejak ia menerima panggilan, baru ia bisa kembali berkunjung, tapi dengan keadaan sudah berbeda. Di Yerusalempun ia masih mendapat tantangan dari saudara-saudara palsu yang menyelundup dan menghadang kebebasan didalam Kristus dengan memaksakan sunat. Tapi kesaksian Paulus dalam pelayanannya diantara bangsa-bangsa yang tidak bersunat, diterima dengan sukacita oleh rasul-rasul yang ada di Yerusalem. Paulus diakui dan bahkan diutus untuk memberitakan Injil diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi. Berkarya dan diakui itu lebih indah daripada memiliki jabatan tapi tanpa karya. Mungkin akan membutuhkan waktu tersendiri hingga keberadaan kita dalam suatu karya mendapatkan pengakuan dari yang lain. Jika motivasi kita benar,hal diakui atau tidak diakui tidak akan mempengaruhi gerak pelayanan yang dipercayakan kepada kita. Yang penting adalah bagaimana kita mengerjakan kasih karunia yang telah dianugerahkan kepada kita. Jadilah hamba yang baik dan setia, layanilah Dia sesuai dengan karunia yang dianugerahkan kepada setiap kita sebagai pengurus kasih karunia Allah (1 Petrus 4:10-11).

 BERTANGGUNG JAWAB  UNTUK KASIH KARUNIA-NYA.

 THURSDAY, 20 MEI 2010 
  Galatians 2:1-10

“And after seeing the grace to me, then James, Cephas and John, who is seen as the cornerstone of the church, shaking hands with me and with Barnabas as a sign of communion” (paragraph 9). From a persecutor of the church became preachers of faith, not a state that is easy for Paul to get through it. Fear, disbelief, fear and similar views of the church in all places, should ditangung by Paul. It takes time for Paul’s brief is not to prove herself that she had changed so completely unacceptable by both the congregation and the other apostles. Fourteen years after his first visit to Jerusalem since he received the call, before she can come back to visit, but the situation was different. In Jerusalem he still got a challenge from false brethren who smuggle and blocked the freedom in Christ by insisting on circumcision. But the testimony of Paul in his ministry among the nations who are not circumcised, received with joy by the apostles in Jerusalem. Paul recognized and even sent out to preach the gospel among the Gentile nations. Work and recognized it was more beautiful than having a job but without the work. Maybe it will take time to own up to our existence in a paper gain recognition from others. If our motivation is true, it is recognized or not recognized will not affect the movement of services entrusted to us. What is important is how we are working on the grace that has been bestowed upon us. Be good and faithful servant, serve him according to the gifts bestowed upon each of us as administrators grace of God (1 Peter 4:10-11).

RESPONSIBLE FOR HIS GRACE.

19 May 2010

Jawab dengan pasti ( Sure to answer )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

29RABU, 19 MEI 2010

 GALATIA 1:11-24

 “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku…berkenan menyatakan Anak-Nya didalam aku, supaya aku memberitakan Dia diantara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak meminta pertim bangan manusia” (ayat 15-16).  Keberanian Paulus dan pendiriannya yang kuat atas Injil yang ia berita kan sehingga ia berani menyatakan mereka yang memberitakan Injil yang lain itu terkutuk, memiliki dasar yang kuat. Bukan dari manusia dan bukan diajarkan oleh manusia ia menerima Injil tersebut, tapi oleh penyataan Yesus Kristus sendiri. Tanpa ragu Paulus menyaksikan bagaimana ia yang dulunya adalah seorang penganiaya jemaat oleh karena ketaatannya akan hukum Taurat dan demi memelihara adat istiadat nenek moyangnya, karena kasih karunia Allah, rela melepaskan kebanggaannya sebagai Farisi tulen. Ia lebih taat akan kasih karunia dan panggilan yang diterimanya, ia tidak ragu sedikitpun untuk berbalik arah dari kebenaran yang selama itu ia pegang. Salah satu bukti bahwa kita yakin dengan panggilan kita, baik untuk menjadi orang percaya dan diselamatkan ataupun untuk menjadi hamba-Nya adalah keikhlasan dan kerelaan untuk melepaskan kebenaran dan kebanggaan lama yang kita pegang. Dengan demikian, akan ada suatu perubahan nyata seperti yang di alami oleh Paulus, dari penganiaya dan pembinasa jemaat menjadi pembangun jemaat. Demi keselamatan dan panggilan Allah, kita juga harus menjawabnya dengan yakin dan pasti dan hal itu bisa terlihat dari sikap hidup kita sehari-hari yang kokoh berpegang pada Injil. Demikian pula dalam kita menjalankan tugas-tugas kita sebagai orang percaya. Jawab panggilan dan pilihan Tuhan atas kita dengan mengerjakan keselamatan yang Dia beri kan didalam takut dan gentar dan dalam kesetiaan (Filipi 1:12).

 JAWAB PANGGILAN TUHAN DENGAN IMAN YANG PASTI.

 WEDNESDAY, 19 MEI 2010 
 Galatians 1:11-24

“But when He, who has chosen me … pleased to declare his Son in me, that I might preach Him among the Gentiles rather than Jews, then the second I’m not asking for consideration ment of men” (verses 15-16). Paul’s courage and strong conviction of the gospel that he’s news that he dared to declare those who preach another gospel is accursed, has a strong base. Not from a human and not taught by a man he received the Gospel, but by the revelation of Jesus Christ himself. Without hesitation, Paul testifies how he once was a persecutor of the church because of his obedience to the law and to maintain the customs of their fathers, by the grace of God, willing to let go of his pride as a real Pharisee. He is more obedient to the grace and the call he’d received, he did not hesitate one bit to turn around the direction of the truth that during that time he held. One of the evidence that we are sure to call us, good for a person to believe and be saved or to be His servant is sincerity and willingness to let go of the old truth and pride that we hold. Thus, there will be a real change in a natural way by Paul, persecutor and destroyer of the church became the church builders. For safety and God’s call, we also have to answer with a confident and assured and it can be seen from the attitude of our daily lives a solid hold on the gospel. Likewise we run in our task as believers. Answer the call and the option for us is to do God’s salvation which He gave her in fear and trembling and in fidelity (Philippians 1:12).

ANSWER   CALL  GOD, WITH THE REAL FAITH.

18 May 2010

Mendatangkan Kebaikan ( Inviting goodness )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial staff

btk kreativitasSELASA, 18 MEI 2010

GALATIA 1:6-10

“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba  berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus” (ayat 10).  Kedatangan orang Yudais yakni penganut ajaran Yahudi bergaris keras ke Galatia, membawa pengaruh buruk kepada jemaat. Mereka memaksa agar jemaat mematuhi hukum Yahudi, terutama hukum sunat. Dengan keras Paulus menyebut bahwa apa yang diajarkan oleh orang-orang Yudais tersebut sebagai pemberitaan Injil palsu. Kemurnian hati Paulus dalam pelayanan dibuktikannya dengan keberaniannya menyebut bahwa jika ia ataupun orang lain bahkan seorang malaikat sekalipun berani memberitakan Injil yang berbeda dari apa yang telah jemaat terima sebelumnya, terkutuklah ia. Pemberitaan Injil yang lain mungkin lebih menyenangkan bagi yang mendengar, tapi itu tidak akan membawa kebaikan bagi yang mendengarnya. Sebaliknya, Paulus rela jika harus bersinggungan dengan jemaat oleh karena Injil yang diberitakannya karena dalam pelayanannya ia tidak mencari kesukaan ataupun berusaha untuk berkenan kepada manusia, tapi ia mencari kesukaan Allah. Hidup dikenan dan menyukakan hati manusia tidak harus mengorbankan firman Tuhan ataupun membijaksanainya. Sebaliknya, merupakan hal yang indah jika hidup kita bisa menyukakan manusia dan itu dilandasi oleh kebenaran firman Tuhan. Jika orientasi hidup dan pelayanan kita, apalagi untuk seorang hamba Tuhan, hanya supaya dikenan dan menyukakan hati manusia, kita bisa ditolak Allah. Jangan mencari kesenangan diri sendiri, lakukanlah firman Tuhan dalam damai sejahtera dan sukacita, maka kita akan berkenan dihadapan Allah dan dihormati manusia (Roma 14:17-19).

JANGAN MENCARI HORMAT UNTUK DIRI SENDIRI.

 TUESDAY, 18 MEI 2010
Galatians 1:6-10
                
So what do you now: is there a human joy or delight I was looking for God? Are there any tried pleasing to humans? If I still want to try pleasing to humans, then I’m not a servant of Christ “(paragraph 10). Arrival of the adherents of Jewish teachings Yudais striped hard to Galatians, a bad influence to the church. They insisted that the church adhere to Jewish law, especially circumcision. With hard Paul mentions that what is being taught by people such as preaching the gospel Yudais false. Paul in the ministry of purity of heart with her courage demonstrated mention that if he or someone else even though an angel who dared to preach the gospel differ from what has previously received the church, he cursed. Preaching the Gospel that others may be more fun for a listen, but it will not bring good to those who hear it. On the contrary, Paul is willing, if need confrontation with the church because of gospel in his preaching, because in his ministry he did not find joy or trying to pleasing men, but he sought God’s favorite. Life that are pleasing and enjoyable human heart does not have to sacrifice the word of God or our faith. On the contrary, is a wonderful thing if we could live to please God and man and it is based on the truth of God’s word. If the orientation of our life and ministry, even more so for a servant of God, just so pleasing and pleasing to humans, we could be rejected by God. Do not seek pleasure yourself, do it the word of God in peace and joy, then we will be pleased and honored human beings before God (Romans 14:17-19).
 
DO NOT FIND RESPECT FOR YOURSELF

17 May 2010

Bukan karena Manusia ( Not because human beings)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff 

malaikatSENIN, 17 MEI 2010

GALATIA 1:1-5

 “Dari Paulus, seorang Rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (ayat 1).  Surat Paulus kepada jemaat Galatia diperkirakan ditulis pada tahun 56-57. Suku bangsa asli orang Galatia adalah suku Kalt, yang merupakan penembah berhala. Selain suku asli,ada juga orang Yunani, Romawi dan sebagian kecil orang Yahudi. Maka orang orang percaya disanapun juga berasal dari berbagai latar belakang daerah yang berbeda. Kepada jemaat di Galatia, sebagaimana dalam suratnya kepada jemaat diberbagai tempat yang lain, Paulus juga lebih dahulu  memberi kesaksian dan meyakin kan jemaat akan kerasulannya. Sekalipun ia bukan termasuk rasul mula-mula diantara keduabelas rasul pilihan Tuhan Yesus secara langsung, tapi ia dapat membuktikan dan meyakinkan bahwa ia menjadi seorang rasul juga karena dipilih oleh Yesus sendiri melalui peristiwa supranatural yang ia alami. Jadi bukan karena kehendaknya sendiri, ataupun karena kehendak dan dorongan seorang manusia ia menjadi seorang pelayan dan rasul. Bagaimana seorang menjadi pelayan Tuhan atau panggilan Tuhan atas sese orang bisa berbeda-beda, motivasi dan alasanlah yang akan membedakan hasil akhirnya. Bisa saja seorang mengaku dipanggil Tuhan padahal dalam hatinya ia hanya berniat untuk mencari keuntungan. Tapi dasar yang benar dari seorang pelayan Tuhan adalah ada tanda panggilan yang jelas dan ia sendiri memiliki keyakinan penuh bahwa Allah telah memanggilnya untuk melayani-Nya. Dengan demikian kewibawaan Allah sendiri juga akan dinyatakan atasnya. Karena itu, siapapun kita adanya, berusahalah sungguh-sungguh supaya pangilan dan pilihanmu makin teguh, sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung, bahkan memiliki hak penuh masuk kerajaan kekal (2 Petrus 1:10-11).

KARENA ANUGERAH-NYA KITA DISELAMATKAN.

 MONDAY, 17 MEI 2010
Galatians 1:1-5

From Paul, an Apostle, not from men, neither by a human being, but by Jesus Christ and God the Father, who raised Him from the dead” (verse 1). Epistle to the Galatians written estimated at 56-57 years. Original tribe is the tribe of the Galatians Kalt, which is idolatry. In addition to the original tribe, there are also Greek, Roman and a few Jews. So the people believed there they also come from many different backgrounds regions. To the church in Galatia, as in his letter to the church in many other places, Paul is also more convincing before giving testimony and his congregation will be apostolic. Though he was not included among the early apostles twelve apostles of Jesus choice directly, but he can prove and reassure that he became an apostle chosen by Jesus as well as his own through which he experienced a supernatural event. So it was not because of his own will, or because the will and the drive of a man he had become a servant and apostle. How can a be a servant of God or God’s call on someone can be different, the motivation and the reason that will differentiate the end result. Could have a claim called by God but in his heart he only intends to seek profit. But the basic right of a man of God is there is a clear sign of the call and he himself has the full confidence that God has called him to serve Him. Thus the authority of God himself will also be stated upon it. Therefore, whoever we are, really try to make calls and options, the more firmly, for if you do then you will never stumble, and even have full rights to enter the eternal kingdom (2 Peter 1:10-11).

BECAUSE OF HIS GRACE WE ARE SAVED

16 May 2010

Father Cup GPT.Baithani 2010

Oleh bambang | Dalam Informasi | Tag

posterFC-2010R Daftarkan diri Anda untuk mengikuti Father Cup 2010.

15 May 2010

Penyertaan Sempurna ( Perfect Participation )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition )  By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

Mezbah Kurban BakaranSABTU, 15 MEI 2010

 2 KORINTUS 13:11-13

“Akhirnya saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku ! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu” (ayat 11).  Salam penutup dalam surat Paulus bukan lah salam biasa, itu adalah salam yang penuh dengan berkat Allah. Harapan dan permintaan Paulus adalah supaya jemaat bersukacita, berusaha untuk sempurna, sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Dengan demikian, Allah yang adalah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai mereka. Segala nasihat yang telah ia tuliskan kepada jemaat bukanlah untuk membuat mereka bersedih, maka tidaklah berlebihan bila Paulus tetap meminta jemaat untuk bersukacita. Dan jika jemaat mau menerima segala nasihat yang ia berikan, maka mereka sedang ada dijalan yang benar menuju kesempur naan. Jika seorang penguasa menjadi penopang hidup kita, tentu kita akan merasa aman dan tenang karena kehidupan yang tejamin dalam segala hal. Dan jika Allah sendiri yang adalah sumber kasih dan damai sejahtera, bahkan sumber segala berkat, menyertai kita, jaminan apakah yang tidak akan kita dapatkan ? Allah siap untuk melakukan bagian-Nya, yakni melimpahkan berkat-Nya atas kita, hanya kita juga harus melakukan apa yang menjadi bagian kita. Penyertaan-Nya sempurna, sebab Dia adalah sumber segala sumber yang dibutuhkan manusia. Dan apakah yang Allah kehendaki supaya berkat penyertaan-Nya dinyatakan atas kita? Sehati sepikir alias hidup rukun bersama. Bukan kekuatan atau tangan manusia yang menyertai kita, tapi Allah sendiri yang menyertai dan penyertaan-Nya adalah berkat yang luar biasa yang membawa pada kemenangan (2 Tawarikh 32:8).

 IMANUEL, ALLAH MENYERTAI KITA. 

Saturday, 15 MEI 2010 
  2 CORINTHIANS 13:11-13

“Finally my brethren, rejoice, see yourself so perfect. Accept all advice! should you One heart, one mind, and live in peace, then God, source of love and peace will be with you ‘(verse 11). Regards cover letter is not Paul’s usual greeting, the greeting was full of God’s blessing. Paul is the expectation and demand that churches rejoice, trying to perfect, one heart, one mind and live in peace. Thus, God is the source of love and peace will be with them. Any advice which he had written to the church is not to make them sad, it is no exaggeration when Paul kept asking the congregation to rejoice. And if the church would accept any advice that he gave, so they’re there the true road to perfection. If a ruler to support our life, we certainly will feel safe and calm for a secure life in every way. And if God himself who is the source of love and peace, even the source of all blessings, be with us, does not guarantee what will we get? God is ready to do his part, ie bestow His blessings upon us, only we must do what our part. Investment in His perfect, because He is the source of all human resources required. And what God wills that His blessings investments are stated to us? One heart, one mind and live peacefully together. Not strength or human hands with us, but God himself who accompanies him and shares a remarkable blessing that led to the victory (2 Chronicles 32:8).

 EMMANUEL, GOD IS WITH US.

14 May 2010

Mengundang kekerasan ( Inviting Violence )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremai Puji Santoso,WSB Editorial Staff

pintu gerbangJUM’AT, 14 MEI 2010

2 KORINTUS 13:1-10

 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada ditengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerah kan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan” (ayat 10). Sekalipun ada jemaat yang menganggapnya lemah dan hanya berani melalui surat-suratnya saja, Paulus tidak terpengaruh. Dalam nasehat-nasehat yang terakhir melalui surat yang ia tulis, ia kembali menegaskan bahwa ada saat dimana ia bisa bertindak dengan lembut, tapi ada saatnya pula ia bisa menunjukkan ketegasan melalui tindakan nyata. Dan saat itu ia masih bertindak dengan kesabaran untuk mendorong jemaat bertobat dan meninggalkan perbuatan jahatnya. Ia berharap jemaat tidak memaksanya untuk bertindak keras, dan jika laupun hal itu terjadi, kekerasannya bukan untuk menghukum dan meruntuhkan, tapi untuk membangun. Bagi Paulus, dengan memandang dirinya lemah, sesungguhnya jemaat juga memandang lemah Kristus, padahal Paulus tidaklah lemah, apalagi Kristus, meskipun Ia telah disalibkan karena kelemahan. Lembut  bukan berarti lemah. Seperti Musa yang dikenal sangat lembut hatinya, tapi ia tetap dapat bertindak tegas dalam menghadapi dosa dan kejahatan. Kelembutan dan ketegasan ada waktu dan tempatnya masing-masing dalam hubungan antara pemimpin dan yang dipimpinnya. Bagi kita sebagai orang yang dipimpin, jangan memaksa pemimpin untuk bertindak keras dengan sikap yang suka melawan. Dan bagi seorang pemimpin tidak boleh bertindak arogan dan mengesampingkan kelembutannya. Taatilah para pemimpin supaya kekerasannya tidak dinyatakan dan juga supaya mereka melakukan tanggungjawa bnya dengan gembira, sehingga baik yang dipimpin maupun yang memimpin sama-sama diberkati (Ibrani 13:17).

  PERHATIKAN JUGA KEKERASAN DAN KEMURAHAN ALLAH.

 Friday, 14 MEI 2010
2 CORINTHIANS 13:1-10
          
“That’s why once I wrote to you when I was far away from you, so when I’m in the midst of you, I’m not forced to act hard by the power of God granted to me to build and not to destroy” (verse 10). Although there are congregations who consider him weak and only a brave through his letters alone, Paul is not affected. In the latest advice through a letter he wrote, he again insisted that there was a time when he can act with a soft, but there were times he could also show firmness through real action. And when he was acting with the patience to encourage the church to repent and abandon his evil deeds. He hopes that the church does not force him to act tough, and if even if that happens, the hardness is not intended to punish and destroy, but to build. For Paul, to see themselves weak, true church of Christ also looked weak, but Paul is not weak, much less Christ, although He was crucified because of weakness. Soft does not mean weak. Like Moses, known to be very gentle heart, but he can still act decisively in the face of sin and evil. Gentleness and firmness and a time and place of each in the relationship between leader and led. For us as a people-led, do not force the leaders to act tough with recalcitrant attitude. And for a leader to act arrogant and should not override softness. Obey the leaders so that hardness is not stated, and also so that they perform their responsibilities with joy, so that either led or shared the lead the blessed (Hebrews 13:17).

 ALSO CHECK VIOLENCE AND MERCY GOD.

13 May 2010

Pemimpin Sejati ( The True Leader )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

bejana pembasuhanKAMIS, 13 MEI 2010

 2 KORINTUS 12:11-21

“Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” (ayat 15).  Ada jemaat Korintus yang terpengaruh dengan pola pikir rasul-rasul palsu yang luar biasa dan berada diantara mereka sehingga mereka juga ikut meragukan kerasulan Paulus. Dengan tegas Paulus menolak tuduhan tersebut. Keberha silan Paulus dalam memberitakan Injil, yaitu membawa orang kepada Kristus, mendirikan jemaat-jemaat dan juga pelayanannya yang disertai dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat, adalah bukti kerasulannya . Untuk itu sudah selayaknya jika ia mendapat pujian dan bukan malah dituduh. Tapi semua itu bukan Paulus semata yang melakukan, tapi Tuhan melalui dirinya. Bukan hanya keraguan akan kerasulannya, tapi Paulus juga dituduh telah bertindak licik dalam pelayanan kasih yang digagasnya, yakni berusaha mengambil untung dalam pelayanan tersebut. Paulus menantang tuduhan itu dan ia juga membuktikan bahwa pelayanan kasih itu bersih dan ia tidak pernah bahkan tidak akan pernah mengambil keuntungan dari hal tersebut karena ia punya prinsip bahwa bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta bagi orangtuanya, tapi orang tua bagi anak-anaknya. Paulus telah menjadi contoh bagaimana menjadi seorang pemimpin sekaligus pelayan Kristus yang baik, yakni tidak mementingkan diri sendiri, melainkan rela memberikan apa yang ada padanya demi kebaikan yang dipimpin dan dilayaninya sekalipun apa yang ia kerjakan ditanggapi dengan negatif. Bila kita mau meneladani pelayanan dan kepemimpinan Paulus, modal utama yang harus kita miliki adalah mengasihi Allah dan sesama kita. Kepemimpinan didalam Tuhan bukanlah kepemimpinan yang kaku atau otoriter, tapi menjadi seorang pemimpin didalam Tuhan adalah kesiapan seorang untuk menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya (Lukas 22:26-27).

 SIAPA MAU JADI YANG UTAMA, JADILAH SEORANG PELAYAN.

THURSDAY, 13 MEI 2010 
 2 CORINTHIANS 12:11-21

So I sacrifice my love, even sacrificing myself for ye. So if I really loved you, how shall I more or less loved? “(Verse 15). There Corinthians who are affected with the mindset of false apostles and are remarkable among them so that they also doubted the ministry of Paul. Paul emphatically reject the accusations. Paul’s success in preaching the gospel, that is to bring people to Christ, establishing churches and the ministry is also accompanied by signs and miracles, is proof of his apostleship. For it was deserved if he gets the credit and not even accused. But all was not Paul alone who do, but God through him. Not only would doubt his ministry, but Paul was also accused of having acted cunning in the service of love to do, namely trying to make money in these services. Paul challenged the allegations and he also proved that it was clean and loving service he never even would never take advantage of it because he had principles that are not children who must collect the treasure for parents, but parents for their children. Paul has become an example of how to be a leader and a good servant of Christ, that is not selfish, but what there willing to give him for the good of the led and served even if what he was doing with a negative response. If we want to emulate Paul’s ministry and leadership, major capital we must have is to love God and our neighbor. Leadership in the Lord is not rigid or authoritarian leadership, but being a leader in the Lord is ready to be a waiter for a lead (Luke 22:26-27).

WHO WILL BE THE MAIN, BE A SERVANT

12 May 2010

Kuasa Dalam Kelemahan ( Power in Weakness )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

pelataranRABU, 12 MEI 2010

2 KORINTUS 12:1-10

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan lah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (ayat 9). Paulus menandingi kemegahan lahiriah para penentangnya , rasul-rasul palsu tersebut dengan pengalamannya sendiri, yakni penglihatan dan penyataan yang ia terima dari Allah sendiri. Dengan memakai istilah seorang Kristen tanpa menyebut nama, menunjukkan keseganan Paulus untuk menonjolkan diri sendiri. Peristiwa empatbelas tahun yang lampau bisa berarti peristiwa itu terjadi beberapa tahun setelah ia lari dari Damsyik. Penglihatan dan juga kata-kata yang tak terkatakan dan tak boleh diucapkan, merupakan pengalaman yang langka. Pengalaman tersebut bisa men jerumuskan Paulus dalam ketinggian hati, maka atas seijin Tuhan datang utusan iblis untuk menggocoh Paulus, ia diberi duri dalam dagingnya. Secara daging ia sampai tiga kali meminta kepada Tuhan supaya utusan iblis tersebut undur daripadanya, tapi itu ternyata adalah baik bagi Paulus, kasih karunia Allah lebih utama daripada kelemahan daging yang ia alami. Duri dalam daging Paulus yang tidak diberi penjelasan menjadi lambang duri dalam daging setiap orang percaya, bukan bersifat atau dalam arti lahiriah, melainkan batiniah. Orang percaya harus belajar memahami bahwa kelemahan-kelemahan manusia dan kasih karunia Allah berjalan seiring bersama. Menyadari kelemahan adalah baik, tapi men jadikan hal itu sebagai alasan untuk bersembunyi atau menutupi dosa adalah hal yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Tapi jika kelemahan manusiawi kita dikuasai oleh Allah, maka kuasa dan kemuliaan Allah akan dinyatakan atasnya. Kelemahan Allah ijinkan supaya kita menjadi rendah hati, tapi dalam menjalaninya Allah telah memberikan Roh-Nya untuk membantu kita (Roma 8:26).

KRISTUS TELAH MEMIKUL KELEMAHAN KITA.

 WEDNESDAY, 12 MEI 2010

 2 CORINTHIANS 12:1-10

 ”But the Lord said unto me, My grace is sufficient for you, because it is in weakness my power is made perfect.” For me the more gladly boast of my weaknesses, so that Christ’s power may rest upon me “(verse 9). Paul’s opponents counter the outward splendor, the false apostles with his own experiences, visions and revelations that he received from God himself. By wearing a Christian terms without naming names, showed reluctance to highlight Paul himself. Events fourteen years ago could mean that the incident happened several years after he fled from Damascus. Vision and also the words of unspeakable and should not be spoken, is a rare experience. That experience could plunge the heart of Paul in height, then the permission of God’s messenger of Satan to buffet comes to Paul, he was given a thorn in the flesh. In the flesh he three times asked God to be the messenger of the devil departed from him, but it turned out to be best for Paul, the grace of God more mainstream than he experienced weakness of the flesh. Paul’s thorn in the flesh who were not given an explanation became a symbol of a thorn in every believer, not in the sense of character or outward, but inward. The believer must learn to understand that human weaknesses and the grace of God go hand in hand together. Realizing the weakness is good, but to make it as an excuse to hide or cover up the sins of the things that are not pleasing before God. But if our human weakness controlled by the God, the power and glory of God will be stated above. Weakness allow God to make us humble, but in live it God has given His Spirit to help us (Romans 8:26).

 CHRIST BORE OUR WEAKNESS.