Get Adobe Flash player
13 May 2010

Pemimpin Sejati ( The True Leader )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian |

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

bejana pembasuhanKAMIS, 13 MEI 2010

 2 KORINTUS 12:11-21

“Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” (ayat 15).  Ada jemaat Korintus yang terpengaruh dengan pola pikir rasul-rasul palsu yang luar biasa dan berada diantara mereka sehingga mereka juga ikut meragukan kerasulan Paulus. Dengan tegas Paulus menolak tuduhan tersebut. Keberha silan Paulus dalam memberitakan Injil, yaitu membawa orang kepada Kristus, mendirikan jemaat-jemaat dan juga pelayanannya yang disertai dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat, adalah bukti kerasulannya . Untuk itu sudah selayaknya jika ia mendapat pujian dan bukan malah dituduh. Tapi semua itu bukan Paulus semata yang melakukan, tapi Tuhan melalui dirinya. Bukan hanya keraguan akan kerasulannya, tapi Paulus juga dituduh telah bertindak licik dalam pelayanan kasih yang digagasnya, yakni berusaha mengambil untung dalam pelayanan tersebut. Paulus menantang tuduhan itu dan ia juga membuktikan bahwa pelayanan kasih itu bersih dan ia tidak pernah bahkan tidak akan pernah mengambil keuntungan dari hal tersebut karena ia punya prinsip bahwa bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta bagi orangtuanya, tapi orang tua bagi anak-anaknya. Paulus telah menjadi contoh bagaimana menjadi seorang pemimpin sekaligus pelayan Kristus yang baik, yakni tidak mementingkan diri sendiri, melainkan rela memberikan apa yang ada padanya demi kebaikan yang dipimpin dan dilayaninya sekalipun apa yang ia kerjakan ditanggapi dengan negatif. Bila kita mau meneladani pelayanan dan kepemimpinan Paulus, modal utama yang harus kita miliki adalah mengasihi Allah dan sesama kita. Kepemimpinan didalam Tuhan bukanlah kepemimpinan yang kaku atau otoriter, tapi menjadi seorang pemimpin didalam Tuhan adalah kesiapan seorang untuk menjadi pelayan bagi yang dipimpinnya (Lukas 22:26-27).

 SIAPA MAU JADI YANG UTAMA, JADILAH SEORANG PELAYAN.

THURSDAY, 13 MEI 2010 
 2 CORINTHIANS 12:11-21

So I sacrifice my love, even sacrificing myself for ye. So if I really loved you, how shall I more or less loved? “(Verse 15). There Corinthians who are affected with the mindset of false apostles and are remarkable among them so that they also doubted the ministry of Paul. Paul emphatically reject the accusations. Paul’s success in preaching the gospel, that is to bring people to Christ, establishing churches and the ministry is also accompanied by signs and miracles, is proof of his apostleship. For it was deserved if he gets the credit and not even accused. But all was not Paul alone who do, but God through him. Not only would doubt his ministry, but Paul was also accused of having acted cunning in the service of love to do, namely trying to make money in these services. Paul challenged the allegations and he also proved that it was clean and loving service he never even would never take advantage of it because he had principles that are not children who must collect the treasure for parents, but parents for their children. Paul has become an example of how to be a leader and a good servant of Christ, that is not selfish, but what there willing to give him for the good of the led and served even if what he was doing with a negative response. If we want to emulate Paul’s ministry and leadership, major capital we must have is to love God and our neighbor. Leadership in the Lord is not rigid or authoritarian leadership, but being a leader in the Lord is ready to be a waiter for a lead (Luke 22:26-27).

WHO WILL BE THE MAIN, BE A SERVANT