Get Adobe Flash player
24 June 2010

Miliki Pikiran Kristus ( Have the mind of Christ )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart49343KAMIS, 24 JUNI 2010

 FILIPI 2:1-11

 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (ayat 5).  Hidup dalam Kristus harus ditandai dengan nasihat yang murni, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan. Maka jemaat juga harus berjuang untuk sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, tidak mementingkan diri sendiri, rendah hati, dan tidak mencari pujian untuk diri sendiri. Paulus memberikan teladan yang sempurna untuk itu, yaitu Kristus sendiri, dan dengan itulah Paulus mengajarkan jemaat akan kerendahan hati. Tidak ada seorangpun yang dapat menyangkal keteladanan yang Kristus berikan, yang walaupun dalam rupa Allah tidak mengang gap keserupaan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tapi telah mengosongkan diri sendiri dan mengambil rupa seorang hamba yang taat sampa mati. Akibatnya adalah pemuliaan dan peninggian dari Allah. Jadi, ketaatan dan kerendahan hati adalah jalan pemuliaan dari Allah. Merendahkan diri dan ketaatan bukanlah hal yang mudah, perlu penyangkalan diri yang sungguh. Merendahkan diri berarti berani melepas kebanggaan dan apapun yang kita anggap sebagai keunggulan diri sendiri atas yang lain, berani menjadi seperti orang miskin, berani menjadi seperti orang bodoh sekalipun memi liki semuanya, maka kita juga tidak akan mengaggap diri lebih hebat ataupun lebih baik. Sementara itu tidak bisa dipungkiri bahwa untuk meraih semua impian kesuksesan hidup harus melalui perjuangan yang tidak ringan. Maka perlu penyangkalan diri supaya tidak sombong dengan keadaan kita, dan untuk itu dibutuhkan ketaatan. Dan ketaatan itu sendiri merupakan suatu proses pembelajaran. Keberadaan dan semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang harus rela kita lepaskan jika Ia menghendaki dan berlakulah seperti orang yang tak bermilik, sekalipun memiliki segala sesuatu (2 Korintus 6:10).

 BERBAHAGIA ORANG YANG MISKIN DIHADAPAN ALLAH.

 THURSDAY, 24  JUNI 2010 
  Philippians 2:1-11

“Be ye in your life together, put your thoughts and feelings that are also in Christ Jesus” (verse 5). Life in Christ should be marked by pure advice, encouragement, love, fellowship of the Spirit, affection and compassion. So the church also had to fight for one heart, same mind, one love, one soul, one purpose, selflessness, humility, and not seek praise for himself. Paul provides the perfect example for that, namely Christ himself, and with that Paul taught the church will be humility. No one can deny that Christ gave the example, that although in the form of God did not pick a gap similarity with God a thing to be grasped, but emptied himself and took the form of a servant who obeyed the required die. The result is the glorification and exaltation of God. Thus, obedience and humility is the path of the glorification of God. Humility and obedience is not easy, self-denial is really necessary. Humility and pride that dare to release whatever we think of as self-superiority over the other, dare to be like the poor, as people dare to be stupid even thinking possessed them all, then we also would not consider themselves more powerful or better. While it is undeniable that in order to achieve all your dreams of success through the struggles that life should not light. Self-denial is necessary in order not arrogant with our circumstances, and for that required obedience. And obedience itself is a learning process. The existence and all that is in us belong to the Lord that we must be willing to let go if he wants and Be like a man nothing, though possessing all things (2 Corinthians 6:10).

HAPPY PEOPLE ARE POOR BEFORE GOD

23 June 2010

Hidup berpadan dengan Injil ( Commensurate live With The Gospel )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart49345RABU, 23 JUNI 2010

 FILIPI 1:27-30

 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil” (ayat 27).  Paulus terus mendorong jemaat Filipi untuk tetap teguh pada keyakinan mereka akan Berita Injil. Ia memang memiliki kerinduan untuk mengunjungi mereka, tapi ia sedang menghadapi penjara dan ancaman kematian, maka apapun yang akan terjadi terhadap dirinya, ia menghendaki untuk mendengar berita yang baik dari jemaat Filipi, yakni mereka hidup dalam kesatuan dan beranibersaksi. Ia mendorong dan menasehatkan jemaat supaya tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, dan benar-benar percaya kepada Tuhan, maka mereka tidak akan digentarkan oleh lawan-lawan mereka. Itu semua adalah hasil dari hidup yang ber padanan dengan Injil. Jemaat harus sadar dan ingat selalu bahwa mereka dipanggil bukan hanya untuk percaya kepada Kristus, tapi juga harus siap menderita bagi-Nya. Maka, penderitaan apapun yang akan dihadapi tidak akan membuat iman menjadi tawar lalu murtad. Penderitaan karena kebenaran bagi orang percaya bukanlah tanda kebinasaan, tapi tanda keselamatan. Hidup yang berpadan adalah hidup sesuai dengan kehendak Allah didalam Injil atau dengan kata lain menjadi pelaku-pelaku dari kehendak Allah. Ketaatan dalam melakukannya akan membuat kita kuat dalam kekuatan kuasa-Nya sehingga apapun tantangan iman yang datang tidak akan membuat kita undur dari iman kepada Kristus Yesus. Semua yang baik, yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, semua yang manis dan sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkan dan lakukanlah itu (Filipi 4:8-9).

  SIAPA MELAKUKAN FIRMAN, TIDAK AKAN TERSANDUNG.

WEDNESDAY, 23 JUNI 2010 
 Philippians 1:27-30

Only, let your life go together with the gospel of Christ, so that, if I come I see, and if I did not come I hear that you are standing firm in one spirit, one heart and one soul striving for the faith that arises from the gospel” (verse 27) . Paul continues to encourage the Philippians to remain steadfast in their belief in the gospel. He does have a longing to visit them, but he was facing imprisonment and a death threat, then anything will happen to him, he wanted to hear good news from the Philippians, that they live in unity and courage to testify. He encouraged and advised the congregation to not only pay attention to the interests of ourselves, and truly believe in God, then they will not be undaunted by their opponents. That all is the result of which was synonymous with living the Gospel. The church must realize and remember always that they are called not only to believe in Christ, but also must be prepared to suffer for Him. Thus, any suffering that will be faced not going to make a fresh faith and apostasy. Suffering for righteousness to the believer is not a sign of destruction, but a sign of salvation. Life is worth living in accordance with the will of God in the Bible or in other words become the perpetrators of the will of God. Obedience in doing so will make us strong in the strength of His power so that any challenge that comes of faith will not make us retreat from faith in Christ Jesus. All good, true, noble, just, pure, sweet and savory all heard, whatever is admirable and commendable, think and do it (Philippians 4:8-9).

 WHAT DOES THE WORD, WILL NOT STUMBLE

 

 

 

 

22 June 2010

Berpusat pada Kristus ( Christ Centered )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

bird2SELASA, 22 JUNI 2010

 FILIPI 1:12-26

 “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini telah menyebabkan kemajuan Injil” (ayat 12).  Paulus sadar bahwa jemaat Filipi menjadi prihatin dengan keadaannya, karena itu ia mengirim berita yang baik mengenai keadaannya maupun pendiriannya dalam Kristus. Paulus menguatkan hati jemaat Filipi bahwa justru dengan pemenjaraan yang dialaminya, Injil mendapat kemajuan, maka ia berpendapat bahwa pemenjaraannya telah membawa keuntungan tersendiri . Fokus Paulus hanya ada pada Kristus dan Berita Injil, maka sekalipun ia harus mengalami banyak penderitaan, ia tidak larut dalam suasana mengasihani diri sendiri dan dalam keterpurukan, sebaliknya ia tetap memiliki pandangan iman dan melihat kebaikannya, bukan untuk diri sendiri, tapi untuk Tuhan dan kemajuan Berita Injil-Nya. Ia dipenjara karena Injil, hal itu justru membuat dia dikenal secara luas dan Injilpun dimasyurkan. Pemenjaraannya juga membuat orang percaya yang masih takut-takut menjadi berani menyatakan identitasnya. Pemenjaraannya telah menjadi pendorong semangat bagi yang lain. Sekalipun pemenjaraannya menghasilkan ancaman kematian, tapi ia tetap yakin semua itu akan mengha silkan kebaikan. Inilah prinsipnya, hidup adalah untuk menghasilkan buah, maka baik melalui hidup dan matinya, Paulus mau Kristus dimuliakan dalam hidupnya. Tujuan dan pusat hidup menjadi penentu bagaimana kita menghadapi penderitaan yang harus dialami oleh karena kebenaran. Jika tujuan dan pusat hidup kita adalah Allah, maka kita akan mampu melihat kebaikan Allah dibalik setiap penderitaan, bahkan kita dimampukan melihat tujuan Allah. Sebaliknya, jika diri sendiri menjadi pusat hidup, kita akan cenderung untuk mengasihani diri sendiri ketika menghadapi berbagai bentuk penderitaan. Kudus kanlah Kristus dalam hati sebagai Tuhan, maka  Dia juga akan menjadi pusat hidup kita (1Petrus 3:15).

 BIAR KRISTUS YANG MEMERINTAH DALAM HATI.

TUESDAY, 22 JUNI 2010 
  Philippians 1:12-26

I wish, brethren, that ye may know that what happened to me this has led to the progress of the gospel” (verse 12). Paul knew that the Philippians to be concerned about the situation, so he sent the good news about the situation and established in Christ. Paul is encouraging the Philippians that they experienced it with imprisonment, the gospel of making progress, he believes that his imprisonment has brought its own benefits. Paul’s focus only on Christ and the gospel, so even if he must suffer many things, it does not dissolve in an atmosphere of self-pity and in bad condition, on the contrary he still has a view of faith and look good, not for ourselves, but for God and the advancement His Gospel message. He was imprisoned for the gospel, it only made him widely known and famous gospel. Imprisonment also makes believers who are still timid to dare to express their identity. Imprisonment has been the driving spirit for others. Despite his imprisonment produce a death threat, but he remains confident it will be sealed to face goodness. This is the principle of life is to bear fruit, then either through the life and death, Paul would Christ be glorified in his life. The purpose and the central determinant of life into how we deal with suffering that must be experienced because of the truth. If the destination and center of our lives is God, then we will be able to see the goodness of God behind each sorrow, and even enabled us to see God’s purpose. Conversely, if the self becomes the center of our lives, we will tend to feel sorry for themselves when faced with various forms of suffering. Sanctify Christ as Lord in the heart, then He will also become the center of our lives (1 Peter 3:15).

LET CHRIST IN THE COMMANDING YOUR HEART

19 June 2010

Rela melepaskan ( Willing to let go )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

Horse-7970SABTU, 19 JUNI 2010

FILIPI 1:1-2 

 “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken” (ayat 1).  Filipi adalah sebuah kota yang strategis yang dulunya adalah sebuah dusun bernama Trasia. Filipus, ayah Alexander Agung, menyadari strategisnya tempat itu dan memberinya nama Filipi. Melalui sebuah pertempuran, akhirnya Filipi jatuh ketangan pemerintahan Roma dan menjadi bagian propinsi Romawi wilayah Makedonia. Paulus juga menyadari arti strategisnya kota Filipi, maka ia juga memberitakan Injil disana. Kekafiran sangat kental dikota tersebut ketika Paulus mulai memberitakan Injil disana. Sementara surat Filipi sendiri ditulis oleh Paulus kurang lebih tahun 54-55 M. Paulus biasanya menunjukkan kewibawaannya sebagai rasul Kristus ketika menyapa jemaat melalui suratnya, tapi jika dalam surat tersebut ia menyapa bersama dengan rekan kerja yang lain, ia tidak mau menonjolkan kerasulannya, tapi bersama-sama dengan kerendahan hati menyebut diri sebagai hamba-hamba Tuhan. Bahaya perpecahan jemaat sedang terjadi ketika Paulus menulis suratnya kepada jemaat Filipi.  Gelar bukan segalanya bagi seorang hamba yang rendah hati, dalam arti dia tidak akan menuntut hormat dari orang lain karena gelar yang disandangnya. Dia akan tahu saat mana situasi dan kondisi dalam mempergunakan gelarnya karena tidak dalam segala situasi pemakaian gelar itu menguntungkan. Bagi orang yang sedang membutuhkan, kedatangan seorang dengan perbuatan kasih akan disambut dengan sukacita daripada kedatangan seorang walau setinggi apapun gelarnya tapi tanpa perbuatan kasih. Bukankah Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan itu sebagai milik yang harus dipertahankan, tapi rela meletakkannya demi keselamatan manusia ? bagaimana dengan kita (Filipi 2:6-7).

 CARILAH KEADILAN, CARILAH KERENDAHAN HATI.

 Saturday, 19 JUNI 2010
Philippians 1:1-2

    
“From Paul and Timothy, servants of Christ Jesus, to all the saints in Christ Jesus at Philippi, with the bishops and deacons” (paragraph 1). Philippi is a strategic city that was once a hamlet called Trasia. Philip, father of Alexander the Great, to realize its strategic place and gave him the name of Philippi. Through a battle, eventually falling into the hands of Phil Roman rule and became the territory of the Roman province of Macedonia. Paul also realized the strategic town of Philippi, he also preached the gospel there. Paganism is very strong in the city when Paul began to preach the Gospel there. While the letter itself was written by Paul Philippi approximately 54-55 years M. Paul usually show his authority as an apostle of Christ when addressing the congregation through the letter, but if in the letter he addressed together with other colleagues, he did not want to highlight his ministry, but with humility of identifying themselves as servants of God. Danger split the church was going on when Paul wrote his letter to the Philippians. Degree is not everything for a humble servant, in the sense that he would not demand respect from others because it bears the title. He’ll know when the circumstances in which title to use because it does not in any situation advantageous use of that title. For people who are in need, the arrival of one of the deed you will be greeted with joy than the arrival of a high despite whatever his title but without the deeds of love. Did not Christ who, though in the form of God, did not count equality a thing to be grasped, but willing to put it down for the salvation of mankind? what about us (Philippians 2:6-7).
 
LOOK FOR JUSTICE, LOOK FOR HUMILITY.

18 June 2010

Dapat dipercaya ( Can be trusted )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart49343JUM’AT, 18 JUNI 2010 

EFESUS 6:21-24

“Supaya kamu mengetahui hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia didalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu” (ayat 21).  Paulus mengawali suratnya dengan salam yang berisikan kasih karunia dan damai sejahtera, ditutup dengan kata-kata yang sama pula tapi dengan tambahan kasih dan iman. Banyak orang yang menyertai Paulus dalam pelayanannya, salah satunya adalah Tikhikus. Tikhikus adalah orang kepercayaan Paulus yang siap memberi kesaksian tentang hal ikhwal Paulus kepada jemaat-jemaat dimanapun Paulus mengutusnya. Paulus sangat mempercayai Tikhikus karena wataknya yang baik. Dalam pandangan Paulus, Tikhikus adalah seorang pelayan yang setia dan selalu siap sedia. Tidak akan mungkin seorang berani mempercayakan dirinya kepada orang lain jika ia tidak mengenal betul siapa yang ia percaya. Dipercaya dan mempercayai bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi di masa sekarang dimana tingkat mementingkan diri sendiri setiap orang semakin tinggi. Ada orang yang telah menunjukkan watak yang baik dan setia, namun tetap tidak mendapat kepercayaan. Ada pula yang karena pandai mengambil hati, mudah mendapat kepercayaan. Kepentingan pribadi tiap-tiap orang berperan penting didalamnya. Akan tetapi, Tuhan tidak pernah salah mempercayakan apa yang telah Ia percayakan kepada kita. Yang penting adalah bagaimana kita menjaga kepercayaan Tuhan atas apa yang telah Ia percayakan dengan cara mengelola dengan baik apa yang telah Ia percayakan, maka Ia juga yang akan membuat kita berhasil. Dan untuk itu dibutuhkan watak yang baik, ketaatan dan kesetiaan. Ketahuilah bahwa yang Allah kehendaki dalam kehidupan setiap hamba-hamba-Nya adalah dapat dipercayai (1Korintus 4:1-2).

  PELIHARA APA YANG DI PERCAYAKAN TUHAN.

 Friday, 18 JUNI 2010
EPHESUS 6:21-24

“So you know the origin of my suggestion, then Tychicus, our beloved brother and faithful servant in the Lord, will tell everything to you” (verse 21). Paul began his letter with greetings that contain grace and peace, concluded with these words the same but with the addition of love and faith. Many people who accompanied Paul in his ministry, one of which is Tychicus. Tychicus was Paul’s confidence that is ready to give testimony about the origins of Paul to the churches where Paul sent him. Paul very trust Tychicus because his character is good. In the view of Paul, Tychicus was a loyal servant and always be ready. It will not be possible for a dare entrust themselves to others if he does not know exactly who she believes. Trusted and trust is not an easy thing, especially at the present level of selfishness in which everyone is getting higher. There are people who have demonstrated good character and loyal, but still not won the trust. Some are as good at taking care, easily won the trust. Personal interests of each person plays an important role therein. However, God is never wrong to trust what he has entrusted to us. What is important is how we maintain confidence in the Lord for what he has entrusted with managing very well what he has entrusted, He also will make us successful. And for that needed a good temperament, obedience and loyalty. Know that God wants in the lives of each of His servants are trustworthy (1Corinthians 4:1-2).

 PRESERVE WHAT  HAS BEEN ENTRUSTED BY GOD TO YOU

 

17 June 2010

Sudah diperlengkapi ( Already Equipped )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

bird-wings_MG0885KAMIS, 17 JUNI 2010

EFESUS 6:10-20

 “Sebab itu ambilah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu” (ayat 13).  Mengakhiri suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus mendorong jemaat supaya tetap teguh dan kuat dalam Tuhan dalam menghadapi pencobaan yang akan datang. Jemaat juga harus siap untuk melakukan peperangan rohani. Sementara musuh yang mereka hadapi bukanlah kekuatan yang kelihatan, tapi penguasa-penguasa kegelapan yang juga sering memakai penguasa manusia untuk menimbulkan kesusahan. Maka , kekuatan kuasa kegelapan itu juga hanya bisa dihadapi dengan pertolongan sorgawi, yaitu pemberian perlengkapan senjata Allah. Seperti seorang tentara Roma dengan senjatanya yang lengkap, demikian pula Allah menyediakan kelengkapan persenjataan-Nya untuk jemaat, baik senjata untuk bertahan maupun untuk menyerang. Peperangan rohani itu sendiri harus dihadapi oleh jemaat karena orang percaya ada diantara dua kekuatan yang saling bertentangan, kuasa Allah dan kuasa iblis, dan orang percaya tidak bisa netral, harus memilih dipihak mana. Iblis dengan hirarkinya harus dihadapi dengan cara Allah, sebagaimana Allah telah menghadapinya. Peperangan rohani pasti dialami oleh setiap orang percaya yang sungguh-sungguh. Bila orang percaya tidak pernah mengalami peperangan rohani, bisa jadi tanpa disadarinya ia telah salah memihak. Tapi bila mengalami peperangan rohani yang harus kita hadapi, tidak perlu takut karena Allah telah memberikan selengkap senjata-Nya, tinggal mau tidak kita mengambil dan mengenakannya.. Percayalah, selengkap senjata Allah itu disertai kuasa yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng dan merubuhkan setiap kubu, maka kenakanlah itu (2 Korintus 10:4-5).

 BERPERANGLAH DENGAN SIASAT.

 THURSDAY, 17 JUNI 2010
EPHESUS 6:10-20

So take that garbage the whole armor of God, that ye may hold the resistance on the evil day, and remained standing, after you get things done” (verse 13). Ending a letter to the Philippians, Paul urges the church to remain steadfast and strong in the Lord in the face of temptations that will come. The Church must also be ready to do spiritual warfare. While the enemy they face is not visible power, but the rulers of the darkness of the human ruling also often use to cause trouble. So, the mighty power of darkness that can only be faced with heavenly help, that is providing armor of God. Like a Roman soldier with his gun complete, so God provides the completeness of his weapons to the church, whether a weapon to survive or to attack. Spiritual warfare itself must be faced by the church because people believe there are between two conflicting forces, the power of God and the power of the devil, and believers can not be neutral, must choose on the part where. Devil with the hierarchy must be faced with how God, as God has to face it. Spiritual warfare must be done by every believer who earnestly. When people believe have never experienced spiritual warfare, could be unwittingly he had been wrong to take sides. But when experiencing spiritual warfare we have to face, do not be afraid because God has provided as complete as his weapon, our lives would not pick it up and wear it .. Believe me, as complete as it was accompanied by the power of God weapon capable to destroy the fortresses and destroy every stronghold, then wear it (2 Corinthians 10:4-5).

STRATAGEMS FOUGHT.

16 June 2010

Buah Perbuatan Baik ( Fruit Good Deeds )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart49343RABU, 16 JUNI 2010

 EFESUS 6:1-9

 “Kamu tahu, bahwa setiap orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan” (ayat 8).  Setelah mengatur hubungan suami-istri yang benar, maka hubungan antar anggota keluarga yang lain juga perlu diatur sesuai dengan firman Tuhan, sehingga masing-masing anggota mengerti akan kewajibannya. Seorang anak wajib untuk mentaati dan menghormati orang tuanya. Itu bukan sekedar perintah, tapi perintah yang sangat penting karena  didalamnya mengandung berkat yang luar biasa, yakni kebahagiaan dan panjang umur. Sementara ayah atau orangtua tidak boleh membangkitkan atau menyakiti hati anak-anaknya, contohnya dengan mencari-cari kesalahan mereka sehingga membuat mereka jengkel. Disiplin perlu diterapkan, tapi dengan kasih dan bukan dengan otoriter sehingga orangtua mampu mendidik mereka dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Bukan hanya hamba dalam satu rumah yang harus taat kepada tuannya, tapi tuan rumah tersebut juga harus taat kepada Tuannya yang disorga, sehingga ia juga akan memperlakukan hambanya dengan baik, termasuk didalamnya memberikan hak yang menjadi bagiannya. Ketaatan dan kasih menjadi unsur utama dalam membangun hubungan yang baik antar anggota keluarga dalam satu rumah tangga. Bila kita benar-benar memiliki kasih Allah, maka kita akan memiliki ketaatan pula. Ketaatan kita untuk tunduk pada kebenaran Allah, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang manis, yang bukan hanya untuk kita nikmati sendiri, tapi juga bisa dinikmati oleh orang-orang disekitar kita, paling tidak oleh keluarga. Kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, mari kita kembangkan itu dan dimulai dari keluarga kita masing-masing (Roma 2:10).

ALLAH MEMBALAS SETIAP ORANG  MENURUT  PERBUATANNYA.

WEDNESDAY, 16 JUNI 2010 
 EPHESUS 6:1-9

You know, that every person, whether slave or free, if he has done something good, he will receive a reward from God” (verse 8). After setting the husband-wife relationship is true, then the relationships between other family members also need to be regulated in accordance with the Word of God, so that each member understand their obligations. A child is obliged to obey and respect their parents. It’s not just a command, but the command is very important because in it contains a tremendous blessing, the happiness and longevity. While the father or parent may not raise or hurt her children, for example, to find fault with them so make them annoyed. Discipline needs to be applied, but with love and not by authoritarian so that parents can educate them in the teachings and sayings of the Lord. Not only a servant in a house that must be obedient to his master, but the host must also be obedient to the Lord of the heaven, so he will treat his servants well, including the giving of rights is a part. Obedience and love becomes a key element in building good relationships between family members in one household. If we truly have the love of God, then we will have the same devotion. Our obedience to submit to God’s truth, will eventually result in a sweet, not only for us to enjoy myself, but also can be enjoyed by people around us, at least by families. Glory, honor and peace will be obtained by all the people who do good, let us develop it and starting from each of our family (Romans 2:10).

 GOD REPLY ALL PERSONS, ACCORDING TO HIS WORKS

 

15 June 2010

Lakukan Bagian Sendiri ( Do it yourself part )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart36955SELASA, 15 JUNI 2010 

  EFESUS 5:22-33

 “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya” (ayat 33).  Hubungan Kristus dengan jemaat akan terus memuncak hingga menjadi hubungan mempelai, hubungan suami isteri. Bagaimana hal itu terjadi dimulai dari bagian yang paling kecil, dalam keluarga, yakni hubungan suami isteri. Istri yang dikasihi dan suami yang dihormati memiliki bobot dan tanggungjawab yang sama dan sama-sama membutuhkan ketaatan dalam melaksanakannya. Dengan mengasihi istrinya sendiri, berarti seorang suami telah menyenangkan hatinya, demikian pula dengan tunduk dan mentaati suaminya, seorang istri juga telah menyenangkan hati suaminya, maka terciptalah keluarga yang harmonis. Jika keluarga demi keluarga sudah melakukannya, maka dalam berjemaat akan ada semangat untuk tunduk dan menyenangkan hati Kristus, sebab Kristus juga telah lebih dahulu mengasihi jemaat. Kasih seorang suami harus seperti kasih Kristus kepada jemaat, demikian pula penundukan seorang istri juga harus berpolakan penundukan Kristus kepada Bapa-Nya. Ketika suami-istri berhenti saling menuntut dan masing-masing mau melakukan bagiannya, maka Kristus akan menjadi kepala dalam sebuah keluarga. Artinya disini penundukan kita pada kebenaran Firman Tuhan menjadi kunci untuk setiap orang berhasil dalam melakukan bagian nya. Berlomba dan jadilah pemenang dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita, yakni berloma-lomba untuk menjadi pelaku firman dan jangan bangga menjadi pemenang karena berhasil menguasai pasangan hidupnya. Maka, hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya demikian pula istri terhadap suaminya, dan ketahuilah, kekudusan suami adalah mengasihi istrinya dan kekudusan istri adalah tunduk pada suaminya (1 Korintus 7:3-4).

MELAKUKAN KEBENARAN  ADALAH KEWAJIBAN SEMUA ORANG.

 TUESDAY, 15 JUNI 2010 
  EPHESUS 5:22-33

However, for each of you apply: love your wives as yourself and the wife must respect her husband” (verse 33). The relationship of Christ with the congregation will continue escalated into a relationship bridegroom, husband and wife relationship. How did it happen starting from the smallest parts, in the family, ie husband and wife relationship. Wife who loved and respected husband has the same weight and responsibility and equally in need of obedience to do it. By loving his own wife, it means that a husband has displeased him, nor subject to and obey her husband, a wife has also been pleasing to her husband, then creates a harmonious family. If the family has done for the sake of the family, then the church will have to comply with the spirit and fun of Christ, because Christ also loved the church earlier. Love of a husband should be like the love of Christ to the church, as well as the subjugation of a wife should also like the submission of Christ to his Father. When husband and wife sue to stop each other and each will do its part, then Christ will be head of a family. Here means that we on the subjugation of the truth of the Word of God becomes the key to any successful person in doing his part. Race and become the winner in a race that is required for us, which is vying to become the perpetrators of the word and do not be proud to be a winner because it had mastered her life partner. So, let the husband fulfill his duty to his wife as well as wives to their husbands, and know the sanctity of the husband is to love his wife and the wife is subject to the holiness of her husband (1 Corinthians 7:3-4).

DOES THE TRUTH IS EVERYONE LIABILITIES

14 June 2010

HIDUP ANAK TERANG (LIVING OF CHILD LIGHT )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart49337SENIN, 14 JUNI 2010

EFESUS 5:1-21

 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang didalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (ayat 8).   Paulus tidak hanya mengatur etika sosial persekutuan jemaat, tapi juga etika sosial ditengah masyarakat luas. Ditengah kemerosotan moral manusia pada umumnya, jemaat harus tetap memegang teguh identitasnya sebagai anak-anak terang, tidak mengikuti jalan orang dunia dengan perbuatan-perbuatan gelapnya. Allah memang menghendaki jemaat untuk hidup kudus, tapi itu bukan berarti terpisah dari dunia manusia, melainkan tetap hidup ditengah masyara kat yang masih terasing dari Allah. Justru disitulah peran jemaat untuk menjadi terang dan menelanjangi kegelapan. Hidup kudus disini berarti hidup sesuai dengan panggilannya sebagai orang percaya, yakni hidup sebagai anak-anak terang, sesuai dengan kedudukan mereka dalam keluarga Allah. Inilah tanda orang yang hidup sebagai anak-anak terang: jadi penurut-penurut Allah, hidup dalam kasih, menguasai perkataan mulutnya, menolak segala bentuk pencemaran jasmani dan rohani. Perbuatan gelap bagi anak-anak terang bukan hanya untuk dihindari, tapi juga ditelanjangi. Maka, setiap orang percaya harus mem perhatikan bagaimana ia harus hidup sebagai anak-anak terang. Dan jika terang itu hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran, maka hal-hal tersebut harus diperhatikan dengan sungguh dalam kehidupan setiap orang percaya. Dan untuk bisa menjadi terang ditengah dunia, maka diri sendiri harus lebih dahulu terang, kegelapan yang ada dalam hati harus benar-benar lebih dahulu ditelanjangi. Terang itu memancar dari hati, maka keluarkan segala yang jahat dari hati. Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah anak-anak terang, maka pakailah baju zirah iman, dan kasih dan berketopongkan pengharapan keselamatan (1 Tesalonika 5:5-8).

 BANGKITLAH DAN JADILAH TERANG.

 MONDAY, 14 JUNI 2010
EPHESUS 5:1-21

Indeed formerly you were darkness, but now you are light in the Lord. For Walk as children of light “(verse 8). Paul not only regulates social ethics fellowship church, but also social ethics amid the wider community. Amid the decline of human morality in general, the church must still holding on to its identity as children of light, do not follow the way of the world with acts of darkness. God’s desire to live holy church, but that does not mean separate from the human world, but still alive amid people who are still alienated from God. Precisely that’s where the role of the church to become light and expose the darkness. Holy living here means living in accordance with his calling as believers, that is to live as children of light, in accordance with their position in the family of God. This is the sign of someone who lived as children of light: so will be conforming  God, live in love, to master the words of his mouth, reject all forms of physical and spiritual pollution. Dark deeds to the children of light not only to be avoided, but also stripped. Thus, every believer must consider how he should live as children of light. And if the light was only giving her kindness, justice and truth, then those things must be considered with it in the life of every believer. And to be able to light amid the world, then self must first light, the darkness within your heart must be really stripped earlier. Light emanating from the heart, then remove all evil from the heart. Any person who believes in Jesus Christ are children of light, wear armor of faith, hope and love and helmet of salvation (1 Thessalonians 5:5-8).

ARISE AND  BE LIGHT

 

 

9 June 2010

Berita Injil dan Keselamatan [News of The Gospel and Salvation ]

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

gse_multipart36952RABU, 9 JUNI 2010

EFESUS 3:1-13

 “Yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena berita injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus” (ayat 6).  Rasul Paulus memandang dirinya sendiri sebagai orang yang paling hina diantara segala orang kudus. Namun demikian, kepadanya Allah mempercayakan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang tidak terduga itu. Pelayanan yang dia  terima itu berisikan berita tentang rahasia Kristus yang belum pernah diberitakan kepada anak-anak manusia pada angkatan yang dahulu, yakni orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli waris dan anggota tubuh serta  peserta

dalam janji Allah. Kepada barangsiapa, non Yahudi, yang percaya kepada Berita Injil yang Paulus beritakan, beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah. berita Injil inilah rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah. Tidak sembarang orang bisa memanggil Allah .ya Abba, ya Bapa”. Panggilan kepada Allah yang demikian hanya dimiliki bangsa pilihan Allah. Bila sekarang kita juga bisa memanggil Allah dengan cara yang demikian, itu karena kita mau percaya akan berita keselamatan yang Allah sediakan bagi bangsa-bangsa non Yahudi. Dan bukan hanya kita saja, kepada semua orang yang mau percaya kepada Berita Injil, bukan hanya bisa memanggil Allah sebagai Bapa, tapi juga turut menjadi ahli waris dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus. Jadi bisa kita lihat disini betapa kaya dan berkuasanya berita Injil tersebut. Maka,milikilah keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Roma 1:16-17).

  JANGAN MAU DIGESER DARI PENGHARAPAN INJIL.

 WEDNESDAY, 9 JUNI 2010
EPHESUS 3:1-13

That is that people are not Jewish, because news of the gospel, also became an expert-heirs and members of the body member and participant in the promise in Christ Jesus” (verse 6). The Apostle Paul sees himself as the most despised among all the saints. Nevertheless, to whom God entrusted to preach the gospel to the Gentiles the riches of Christ which was unexpected. Services that he had received that contains news about the mystery of Christ who have never given to human children in the first generation, ie those non-Jews, because of the gospel, also become heirs and limb as well as participants
in the promise of God. Whomever, non-Jews, who believe in the gospel that Paul preached, enjoy the courage and the entrance to God. Gospel message is the secret that has been hidden for centuries in God. Not just anyone can call God. Abba, Father. “Calls to the God who so belongs only to God’s chosen people. If now we can call God by such means, it’s because we want to believe the news of salvation that God will provide for the nation non-Jewish nation. And not only us, to all who will believe in the gospel, not only can call God the Father, but also become heirs and participants in the promise in Christ Jesus. So we can see here how rich and powerful message of the gospel is. So, have a strong belief in the gospel, because it is the power of God for salvation every believer (Romans 1:16-17).

 DO NOT WANT  TO BE  SHIFTED FROM THE GOSPEL EXPECTATIONS