Get Adobe Flash player
8 June 2010

Dipersatukan dan Diperdamaikan (United and Reconciled )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

gse_multipart36834SELASA, 8 JUNI 2010

EFESUS 2:11-22

 “Sebab dengan mati-Nya sebagai manusia la telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru didalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera” (ayat 15). Orang Yahudi menurut daging memandang orang diluar mereka sebagai orang-orang yang tidak bersunat, sebagai orang luar, artinya tidak termasuk kewarga negaraan Israel, tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah didalam dunia, bisa dikatakan sebagai orang yang jauh dari kebaikan Allah. Tapi semua pandangan itu dihapuskan oleh Kristus Yesus. Dengan  mati  sebagai manusia dikayu  salib,Yesus bukan saja menyelamatkan jiwa setiap orang yang mau  percaya, tapi juga mempersatukan dan memperdamaikannya dengan  mereka yang bersunat secara daging. Maka, kita  yang dulunya jauh,telah menjadi dekat, bahkan menjadi kawan  sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Ketentuan  hukum Taurat dibatalkan dan perseteruan dilenyapkan pada salib, sehingga mereka yang jauh maupun yang dekat, didalam Roh, sama-sama beroleh jalan masuk kepada Bapa. Maka damai sejahtera itu bukan hanya bagi mereka yang dekat, tapi juga bagi yang jauh. 

Jika Kristus mati di kayu salib juga untuk memperdamaikan bukan hanya antara manusia dengan Allah,  tapi antara manusia dengan sesamanya, mengapakah kita mau mempermasalahkannya kembali? Jangan karena kita berbeda suku, bahasa, ras, budaya, bahkan hanya karena berbeda denominasi gereja, menganggap diri yang paling baik dan benar dihadapan Tuhan sementara yang lain itu jauh. Jangan ciptakan tembok pemisah lagi karena itu sudah dilenyapkan dikayu salib. Untuk itu, miliki dan kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan sehingga kita tidak lagi membangun apa yang telah diruntuhkan Kristus (Kolose 3:14).

BERUSAHALAH MEMELIHARA KESATUAN.

TUESDAY, 8 JUNI 2010
EPHESUS 2:11-22

For with his death as a human being He has canceled all the orders of the law by
and its provisions, to create the two into one new man in Himself, and with it entered into peace
“(verse 15). The Jews look at people according to the flesh excluding them as persons who are not circumcised, as an outsider, that means not including Israeli nationality, no part of the promised provisions, without hope and without God in the world, it can be said as a person far from God’s goodness. But all eyes were abolished by Christ Jesus. With death as a man on the cross, Jesus not only save the soul of each person who wants to believe, but it also unites and
arbitrate with those who are circumcised in the flesh. So, we are used to far, has become closer, even become fellow citizens with the saints and members God’s family. The provisions of the law null and feud eliminated on the cross, so that they are far or near, in the Spirit, is equally allotted entrance to the Father.  And peace is not just for those who are near, but also for the distance. If Christ died on the cross is also to arbitrate not only between man and God, but between with his fellow man, why do we want to return disputed? Do not, because
we are different tribes, languages, races, cultures, even just because of different church denominations, considers
himself the most good and right before God while others were far away. Do not create
the dividing wall had been cut off again due to the cross. For that, have and put on love
as a binder to unite and improve so that we no longer build what has been demolished Christ
(Colossians 3:14).

TRY TO PRESERVE  UNITY.

7 June 2010

Karena Kasih Karunia ( Beacause of Grace )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

Korban DiaSENIN, 7 JUNI 2010

EFESUS 2:1-10

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu tapi pemberian Allah” (ayat 8). Masa lalu menjadi cermin, masa depan menjadi pengharapan dan masa sekarang adalah waktu untuk mengisi kehidupan dengan hal yang bermakna. Dulunya, sebelum mengalami kasih karunia Allah, orang hidup dalam suasana belenggu dosa, dalam hawa nafsu daging dan pikiran yang jahat, taat kepada penguasa kerajaan angkasa yang menjadikan seorang terhitung sebagai orang durhaka yang patut dimurkai Allah.  Keadaan demikian bisa dikatakan sebagai mayat hidup, yakni sudah mati selagi hidup. Namun oleh iman, Allah yang kaya dengan rahmat dan oleh karena kasih-Nya, menghidupkan kita kembali bersama dengan Kristus, bahkan memberikan kepada kita tempat disorga. Semua itu bukan karena kita baik ataupun karena usaha kita karena tidak ada seorangpun yang baik dihadapan Allah atau pun mampu dengan usahanya untuk mendapatkan hidup itu kembali. Semua itu adalah kasih karunia Allah. Dan Allah tidak berhenti sampai disitu, pada masa yang akan datang, la akan menunjukkan kekayaan kasih karunia-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya didalam Kristus Yesus. Maka, tugas setiap orang percaya adalah melakukan aen hidup dalam pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya. Jika demikian apa dasarnya kita bermegah dan menganggap diri lebih baik dari yang lain? Tidak ada. Semua kita sama-sama diselamatkan karena kasih karunia Allah, tidak ada seorangpun yang diselamatkan karena perbuatan baiknya. Yang membedakan sekarang adalah, adakah kita setelah diselamatkan kita hidup dalam pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya ? Kita ada sebagaimana kita ada adalah kasih karunia Allah, maka jangan sia-siakan kasih karunia-Nya (1Korintus 15:10).

BERTUMBUHLAH DAlAM KASIH KARUNIA

 MONDAY, 7 JUNI 2010
EPHESUS 2:1-10

For by grace are ye saved through faith and this not from yourselves but the gift of God” (verse 8). Past into a mirror, hope and the future becomes the present is the time to fill life with something meaningful. Formerly, before experiencing the grace of God, people live in the shackles of sin, the flesh lusts and evil thoughts, obedient to the ruler of the air that makes an ungodly counted as
who deserves God’s wrath. That situation could be regarded as a living corpse, which was dead while alive. But by faith, God being rich in mercy and because of His love, bring us back together with Christ, even giving us a place in Heaven. All of it is not because we are good or because of our efforts because no one is good before God, or even able to live with his efforts to get it back. All this is God’s grace. And God does not stop there, in future, He will show the wealth of his grace to everyone who believes in Him in Christ Jesus. So, the task of every believer is to do a good job aen life in which God prepared beforehand. If so what we basically boast and consider themselves better than others? None. All we are both saved by the grace of God, no one is saved because of her good deeds. What distinguishes it is that we are there after we saved lives in good works, which God prepared beforehand? We exist as we have is the grace of God, so do not waste his grace (1 Corinthians 15:10).

GROWTH IN GRACE

5 June 2010

Pentingnya mengucap syukur

Oleh victor anusa indra | Dalam Artikel | Tag
cahaya surgaArtikel ini dikirimkan via facebook oleh Roseheni Ai, Kaum muda di Gereja kita, karena kisahnya sangat bagus dan membangun iman maka saya tampilkan di website agar kita semua terinspirasi dan dikuatkan iman kita melalui kesaksian/kisah nyata ini. berikut kisah selengkapnya, selamat membaca Tuhan Yesus memberkati

 

Michelle Price adalah gadis kecil periang yang senang memanjat pohon, menunggang kuda, bermain ski, bercerita tentang banyak kisah, dan menyanyi. Dengan keluarga Kristen yang mengasihi dia, hidup Michelle seolah tak memiliki sedikit beban pun sampai ia berumur 8 tahun, ketika kaki kanannya mulai terasa sakit dan bengkak.

Setelah beberapa dokter melakukan pemeriksaan, mereka mengatakan kepada orang tua Michelle bahwa Michelle menderita salah satu jenis penyakit kanker tulang yang mematikan. Dokter itu berkata bahwa kesempatan untuk hidup kurang dari 4%, dan sebagian besar kakinya harus diamputasi.

Orang tua Michelle sangat ketakutan tentang bagaimana mereka harus menceritakan hal tersebut kepadanya. Ketika mereka akhirnya menceritakan kepada Michelle, maka reaksi pertama dari Michelle: “Oh Papa, saya tidak akan dapat berdansa lagi jika saya tidak memunyai kaki! Saya tidak mau menjadi seorang yang cacat!” Dia menangis terisak-isak untuk beberapa menit. Tetapi ketika ia melihat wajah ibunya dipenuhi air mata, ia berhenti menangis, mengambil napas panjang, dan berkata, “Saya akan baik-baik saja, Mami. Jangan menangis.” Sambil menepuk-nepuk wajah ibunya, ia melanjutkan, “Saya memang takut ketika Papa menceritakan kepada saya, tetapi Yesus membuat hati saya tenang. Saya akan baik-baik saja. Percayalah, Mam.”

Michelle, dengan perlahan, bertanya kepada ayahnya mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Dan ketika ayahnya menjawab tidak tahu, Michelle berpikir untuk beberapa saat sebelum ia berkata, “Mungkin saya tahu jawabnya, jika para dokter itu belum memiliki obat untuk mengobati penyakit saya, mungkin mereka dapat mempelajari kaki saya dan menemukannya. Sehingga mereka dapat membantu anak-anak lain yang sakit seperti saya.”

Para dokter mengamputasi kaki Michelle sampai 4 — 5 inci di atas lutut (± 13 cm). Michelle menangis ketika pertama kali ia melihat kakinya yang terbalut. Namun kemudian, ia menceritakan kepada ibunya betapa takutnya ia pada saat berada dalam ruang operasi … sampai ia mengingat bahwa ia tidak sendiri. Yesus berada bersamanya.

Untuk beberapa waktu lamanya, Michelle merasakan rasa sakit yang menggigit. Urat syaraf di kakinya terus-menerus mengatakan kepada otaknya bahwa sesuatu yang salah terjadi sehingga menyebabkan rasa sakit itu. Namun, 3 hari setelah operasi dilakukan, ia mengagetkan dokternya dengan melukis wajah yang tersenyum pada pembalut di kakinya yang buntung. Dokter itu mengatakan kepada orang tua Michelle bahwa biasanya dibutuhkan waktu berminggu-minggu sebelum seseorang yang diamputasi dapat menerima keadaannya.

Setelah 5 hari berlalu semenjak operasi dilakukan, para dokter mulai memberikan kemoterapi kepada Michelle … obat yang sangat kuat yang diciptakan untuk membunuh sel-sel kanker. Dan dikarenakan kanker pada Michelle sangat mematikan, maka mereka memberikan dosis 1000 kali lebih besar dari biasanya.

Dalam waktu singkat, obat itu membuat semua rambut Michelle rontok. Setiap pengobatan membuatnya merasa amat sakit. Ia muntah dan menggigil. Tetapi setiap kali seseorang datang menjenguknya dan bertanya bagaimana rasanya, ia menjawab, “Doing Ok!”, sehingga ia tidak membuat orang lain merasa tidak enak.

Setelah 4 minggu berada di rumah sakit, ia diizinkan untuk pulang beberapa hari. Ketika ia berjalan-jalan dengan ayahnya, ia menyadari para tetangga merasa tidak nyaman berada di sisinya, karena kaki dan kepalanya yang gundul. Untuk membuat mereka merasa lebih baik, ia justru mengunjungi rumah para tetangga dan menceritakan kepada mereka tentang kanker. Bahkan, Michelle meminta mereka untuk tidak ragu-ragu bertanya.

Michelle menjalani kemoterapi selama 18 bulan dan menunjukkan sikap tegar yang amat besar pada saat melalui semua ketidaknyamanan itu. Ketika ia merasa lebih baik, ia mengunjungi anak-anak lain di rumah sakit yang juga menderita kanker dan berusaha membuat mereka gembira. Dan setelah pemeriksaan menunjukkan bahwa kankernya telah sembuh, hati Michelle dipenuhi rasa ucapan syukur.

Dengan berjalannya waktu, ia belajar bermain ski dengan satu kaki dan menjalankan “skate board” serta bermain “soccer” dengan menggunakan kruk (penyangga kaki). Setelah ia berhasil mendapatkan medali pada sebuah kontes ski nasional bagi orang-orang cacat, Wayne Newton memberikan penghargaan olahraga bagi orang-orang cacat pada TV nasional karena keberaniannya.

Ketika Newton melihat bagaimana ia menghabiskan waktunya berusaha membuat orang lain bahagia, ia menjadi sangat kagum kepada Michelle dan memberikan kejutan hadiah istimewa pada hari ulang tahunnya …, seekor kuda!

Pada suatu hari, Michelle berkata kepada ibunya bahwa kadang-kadang ia merasa sedih karena diperlakukan berbeda pada waktu berolahraga, dan ia juga sering merenung apakah ada anak laki-laki yang akan menyukainya karena ia hanya memiliki satu kaki. Kemudian ia menambahkan, “Saya merasa bersalah jika merasa susah. Tuhan akan berpikir saya tidak cukup berterima kasih atas apa yang telah Dia lakukan kepada saya. Saya berpikir, saya melihat kepada kesusahan lebih banyak dan tidak cukup melihat kepada kebaikan.”

Ketika Michelle beranjak dewasa, ia menjadi seorang pemain ski cacat termuda di seluruh dunia, seorang model, pembicara, dan seorang penunggang kuda nomor satu bagi orang-orang cacat. Ia melanjutkan kuliah dan kemudian bekerja di sebuah pusat pelayanan orang-orang yang tidak memiliki tangan atau kaki. Tahun 1993, ia menerima penghargaan atas keberaniannya oleh American Cancer Society.

Saat ini Michelle adalah seorang istri dan ibu muda. Ia bermimpi untuk dapat memiliki sebuah perkemahan bagi anak-anak cacat sehingga mereka dapat memiliki sikap positif terhadap keberadaan mereka.

Sumber asli: Courageous Christians by Joyce Vollmer Brown

5 June 2010

Kekayaan yang tersembunyi [The Hidden Wealth ]

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi Dwi Bahasa [Daily Bread Bilingual Edition ] By Jeremia Puji Santoso WSB Editorial Staff

rhSABTU, 5 JUNI 2010

EFESUS 1:15-23

“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang ter kandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (ayat 18). Iman dan kasih yang ditunjukkan oleh jemaat Efesus mendorong Paulus untuk bersyukur setiap kali ia mengingat mereka dalam doanya. Bahkan tidak berhenti sampai disitu, Paulus juga meminta kepada Allah supaya Ia mengaruniakan roh hikmat dan wahyu sehingga jemaat mampu mengenal Allah dengan benar. Roh yang sama juga akan menjadikan mata hati mereka terbuka, menjadi terang sehingga mereka mengerti bahwa kepada mereka telah dikaruniakan kekayaan rohani yang luar biasa dan juga kehebatan kuasa-Nya bagi orang-orang percaya. Pengharapan akan menerima bagian yang sedemikian mulia tersebut tidak ada didunia ini, hanya ada didalam Kristus Yesus, sebab hanya didalam Dialah Allah mengerjakan semuanya itu. Kekuatan kuasa-Nya telah Allah kerjakan didalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya disebelah kanan-Nya disorga. Segala sesuatu telah diletakkan Allah dibawah kaki Kristus, sementara Kristus sendiri telah Allah berikan kepada jemaat sebagai kepala. Jadi, bukankah itu merupakan karunia terbesar yang tidak ternilai oleh apapun yang ada didalam dunia ini ? Jika demikian, tidak ada lagi hal yang perlu kita takuti. Lihat dan sadarilah betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukannya bagi kita. Jika kita menyadari akan hal itu, maka tidak ada alasan untuk kita menjadi kuatir ataupun takut, sebaliknya kekuatiran dan ketakutan terjadi karena mata hati kita masih gelap sehingga tidak mengerti akan pengharapan yang ter kandung dalam panggilan Allah atas kita. Jangan pernah lepaskan kepercayaan kita karena dibalik pengharapan kita ada harta yang menetap sifatnya dan upah yang menantinya (Ibrani 10:34-36).

BETAPA DALAM KEKAYAAN HIKMAT PENGETAHUAN ALLAH.

SATURDAY, 5 JUNI 2010
EPHESUS 1:15-23

And that He might make your heart bright eyes, so hope you understand what happened to the call of His birth: how rich is the glory of His determined for the saints” (verse 18). Faith and love shown by Paul encourages the Ephesians to be grateful every time he remembers them in prayer. Did not even stop there, Paul was also asked to God that he gave the spirit of wisdom and revelation so that the congregation can know God properly. The same spirit will make their hearts open eyes, to light so that they understand that they have been given to extraordinary spiritual riches and greatness of His power for believers. Hope will receive such a precious part is missing in this world, only in Christ Jesus, because He is God only in doing these things. His mighty power of God has done in Christ by raising Him from the dead and seated Him His right hand in Heaven. Everything that God has laid at the feet of Christ, while Christ Himself has given to the church of God as the head. So, would not that is the greatest gift that is priceless by anything in this world? If so, no more things we need to fear. See and realize how rich the glory of the designated section for us. If we are aware about that, then there is no reason for us to worry or fear, worries and fears the opposite occurs because our hearts are still dark eyes so as not to understand the expectations that was the birth of the call of God upon us. Do not ever let go of our beliefs because behind us there is hope of settling property and wages are waiting for him (Hebrews 10:34-36).

HOW DEEPLY THE WEALTH WISDOM   OF GOD’S KNOWLEDGE

4 June 2010

Jangan lepaskan Jaminan [ Do not let Insurance ]

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa [Daily Bread Bilingual Edition ] By Jeremia Puji Santoso  WSB Editorial Staff

Picture1JUM’AT, 4 JUNI 2010

EFESUS 1:3-14

“Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya” (ayat 14). Paulus memuji Allah karena apa yang telah Allah karuniakan kepada orang percaya, yakni segala berkat rohani yang didalam sorga. Dipilih dan dikuduskan, ditentukan untuk menjadi anak-anakNya, diberi kasih karunia, serta ditebus dan diampuni dosanya. Berkat-berkat rohani tersebut menjadi kekayaan orang percaya yang tidak mungkin diberikan oleh dunia, hanya Allah yang sanggup melakukannya. Dan Allah menjamin semua berkat itu dengan memberikan Roh Kudus-Nya. Semua itu Allah kerjakan dengan rela dan sudah Ia rencanakan dari semula dan Ia kerjakan didalam Kristus Yesus. Maka untuk bisa memperoleh kekayaan luar biasa yang terdapat didalam Yesus Kristus tersebut. Dan maksud Allah diatas semua itu adalah supaya nama-Nya dipermuliakan dalam hidup setiap orang percaya. Karena Roh Kudus yang menjadi jaminan untuk memperoleh kekayaan rohani yang Allah sediakan, maka sudah seharusnya kita berusaha untuk membina hubungan yang baik dengan Roh Kudus. Adalah suatu bentuk kebodohan bila kita berani menyia-nyiakan jaminan untuk mendapatkan kekayaan rohani yang telah Allah sediakan. Jaminan adalah kekuatan kita untuk berani mengharapkan atau bahkan menuntut pemenuhan nya pada Allah yang telah berjanji. Jangan hanya menaruh harapan pada perkara-perkara duniawi saja, karena jika kita menaruh pengharapan pada Kristus hanya dalam hidup  didunia ini, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Ingat jugalah bahwa kekayaan rohani itu menopang yang jasmani. Jangan lepaskan, jangan sampai kehilangan jaminan dari berkat-berkat luar biasa yang Allah sediakan, pegang erat dan kasihi Roh Kudus-Nya supaya kita tidak mendukakan-Nya (Efesus 4:30).

SIAPA MENANG, IA AKAN MEMPEROLEH APA YANG ALLAH SEDIAKAN.

Friday, 4 JUNI 2010
EPHESUS 1:3-14

“And the Holy Spirit is the guarantee that our parts until we obtain the redemption which makes us belong to God, to praise of His glory” (verse 14). Paul praised God for what God has bestowed to the person believed, namely that every spiritual blessing in heaven. Chosen and sanctified, is determined to become His children, given the grace, and redeemed and forgiven their sins. Spiritual blessings of wealth has become a believer that could not be given by the world, only God could do it. And ensure all the blessings of God by giving His Holy Spirit. All that God did it willingly and already he had planned from the beginning and He was doing in Christ Jesus. So to be able to acquire great wealth contained in Christ Jesus is. And purpose of God above all is that his name be glorified in the life of every believer. Because the Holy Spirit to serve as collateral to obtain spiritual riches that God provided, then we should try to foster good relations with the Holy Spirit. Is a form of ignorance if we dare to waste collateral to obtain spiritual riches that God has provided. Warranty is our strength to dare to expect or even demand its fulfillment in the God who has promised. Do not just put hope in worldly matters, because if we have hope in Christ only in the life of this world, we are the people most miserable of all men. Remember that also the spiritual wealth that sustains the physical. Do not let go, not to lose the guarantee of the incredible blessings that God provided, hold tight and love of His Holy Spirit so that we do not grieve Him (Ephesians 4:30).

WHO WIN, HE WILL GET WHAT GOD PROVIDE.

3 June 2010

Sumber segala berkat ( The Source off all Blessings )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso,WSB Editorial Staff

tabernaclekit6KAMIS, 3 JUNI 2010

EFESUS 1:1-2

“Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu” (ayat 2).  Surat Efesus ditulis kurang lebih tahun enam puluh sampai tahun enam puluh satu Masehi, dalam masa pemenjaraan Paulus di Roma. Paulus mengikuti pola penulisan surat pada umumnya pada masa itu. Sesuai dengan pola tersebut, ia pertama-tama menyebut namanya sendiri dan menyampaikan salam, kemudian memohonkan sepasang berkat bagi jemaat, yakni kasih karunia dan damai sejahtera dari Bapa dan dari Anak-Nya. Kedua berkat tersebut berasal dan pemberian Allah, dan dari Anak-Nya. Kenyataan tersebut membuktikan adanya pengakuan akan Allah dan berkat-Nya. Sumber berkat baik yang rohani maupun yang jasmani hanya Allah saja. Manusia mungkin bisa mendapatkan berkat jasmani dari kuasa dan kekuatan yang lain, tapi itu harus dibayar dengan syarat-syarat dan pengorbanannya. Jadi itu sebenarnya bukan berkat, tapi pertaruhan nyawa. Dunia mencari kasih dan damai sejahtera, tapi dunia memakai caranya sendiri untuk mendapatkannya. Dunia beranggapan dengan banyaknya kekayaan materi bisa mendapat kasih dan damai sejahtera, dan mungkin itu bisa, tapi itu palsu adanya. Kasih dan damai sejahtera yang sesungguhnya hanya ada pada Allah yang hidup dan dapat kita temukan didalam Kristus Yesus. Dan bila kita, orang percaya tahu dengan pasti sumber dan jalan untuk mendapatkannya, jangan kita mengikuti cara-cara dunia, tapi sudah seharusnya kita menempuh jalan yang tepat dan datang pada pribadi yang benar. Maka, andalkan dan taruh pengharapan kita pada Tuhan, maka Ia, sumber segala berkat itu akan melimpahkan berkat-Nya dan membuat kita berhasil (Yeremia 17:17-18).

SEGALA SESUATU DARI DIA, OLEH DIA DAN KEPADA DIA.

THURSDAY, 3 JUNI 2010
EPHESUS 1:1-2

The grace and peace from God our Father and the Lord Jesus Christ be with you” (verse 2). Ephesians was written more than sixty years until the year sixty-one AD, during the imprisonment of Paul in Rome. Paul followed the pattern of letter writing in general at that time. In accordance with the pattern, he first mentioned his own name and say hello, and then invoke a pair of blessing for the church, namely, the grace and peace from the Father and the Son. Both the originating and giving thanks to God, and of His Son. Recognition of this fact proves the existence of God and His blessings. Sources thanks to both the spiritual and the physical is only God alone. Humans may be able to get the blessings of power and physical strength, but it must be paid with the terms and cost. So it’s actually not a blessing, but the betting life. World looking for love and peace, but the world uses to get his own way. Considered by many the world of material wealth can have love and peace, and maybe it can, but there was a fake. Love and peace that indeed there is only the living God, and can be found in Christ Jesus. And if we, the believer knows with certainty the source and a way to get it, do not we follow the ways of the world, but we should have the right path and come to the right person. So, count on and put our hope in God, then He, the source of all blessings it will bestow his blessing and makes us successful (Jeremiah 17:17-18).

EVERYTHING FROM HIM, AND TO HER BY HER.

2 June 2010

Menjadi Lebih Berarti ( Become more meaningful )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

terompetRABU, 2 JUNI 2010

GALATIA 6:11-18

 “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya” (ayat 15).  Diakhir suratnya kepada orang Galatia, Paulus menegaskan dan meminta perhatian yang lebih dari jemaat akan segala sesuatu yang telah ia sampaikan.  Paulus sekali lagi mengingatkan mereka bahwa, mereka yang memaksa orang Galatia untuk bersunat hanyalah orang-orang yang hanya bermaksud untuk mencari keuntungan bagi diri mereka sendiri, yakni supaya mereka terhindari dari kesulitan oleh karena Injil. Faktanya adalah, mereka hanya bisa memaksa orang lain untuk bersunat, sementara mereka sendiri tidak memelihara hukum Taurat. Mereka senang melihat orang lain dalam kelemahan supaya mereka bisa nampak lebih baik, nampak lebih kuat dan nampak lebih benar. Tapi bagi Paulus, hal bersunat atau tidak bersunat itu tidak ada artinya, menjadi ciptaan baru dalam Kristus itulah yang ada artinya. Dan bagi mereka yang menganut pandangan tersebut dan mau menjalaninya, akan menikmati damai sejahtera dan rahmat dari Allah. Sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita tidak lagi harus tunduk pada rupa-rupa peraturan keagamaan yang hanya untuk kepuasan daging. Hal itu bukan berarti peraturan itu tidak perlu, tapi ada kuasa yang lebih besar yang kepadanya kita harus tunduk, yaitu kehendak Allah. Memang peraturan dimaksudkan untuk membuat seseorang menjadi baik, tapi hal menjadi baik akan akan menjadi gaya hidup seorang ketika ia telah menjadi ciptaan baru, dan itu bukanlah hal yang dipaksakan seperti seorang yang terpaksa tunduk pada peraturan supaya kelihatan baik. Jadi tepatlah bila dikatakan bahwa menjadi ciptaan baru itu lebih penting daripada sekedar tunduk pada peraturan keagamaan karena terpaksa. Dan, siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama telah berlalu sesungguhnya yang baru telah datang (2 Korintus 5:17).

 KENAKAN MANUSIA BARU YANG TERUS DIPERBAHARUI.

 WEDNESDAY, 2 JUNI 2010
Galatians 6:11-18

For circumcised or uncircumcised means nothing, but a new creation, that’s what you meant” (verse 15). At the end of his letter to the Galatians, Paul asserted and demanded more attention from the community on everything that he has to say. Paul once again reminds them that they are forcing the Galatians to be circumcised only people who only intend to seek profit for themselves, namely that they avoided because of the difficulty of the Gospel. The fact is, they only can force others to be circumcised, while they themselves do not maintain the law. They love to see others in weakness so they can look better, seems more powerful and looks more correct. But for Paul, it’s circumcised or uncircumcised means nothing, became a new creation in Christ that is meaningless. And for those who hold this view and want to live it, will enjoy a prosperous and peaceful grace of God. As those who have been redeemed, we no longer have to submit to various religious regulations that are only for the satisfaction of meat. That does not mean that regulation is not necessary, but there is a greater power to whom we must obey, namely the will of God. Indeed the rules are intended to make a person better, but it would be good would be a way of life when he has become a new creation, and that was not imposed as a man forced to submit to regulation in order to look good. So is safe to say that the new creation is more important than subject to the regulations because of forced religious. And, if anyone is in Christ, he is a new creation, the old has passed a new fact has come (2 Corinthians 5:17).

WEAR THE NEW HUMAN CONSTANTLY UPDATED.

1 June 2010

Saatnya Menabur [Sowing Time ]

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa [Daily Bread Bilingual Edition ] By Jeremia Puji Santoso WSB Editorial Staff

kerjaSELASA, 1 JUNI 2010

GALATIA 6:1-10

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (ayat 10). Hidup oleh Roh bukan hanya untuk diri sendiri, didalamnya ada tanggungjawab moral terhadap yang lain, yakni memimpin orang yang jatuh dalam pelanggaran pada pertobatannya. Kasih orang yang hidup oleh Roh juga harus nampak nyata dalam perbuatan, diantaranya rela untuk turut menanggung beban orang lain, bukan hanya atas masalah yang sedang dihadapi, tapi juga beban moralnya, dan itu berarti juga rela untuk dipandang rendah oleh yang lain. Kejatuhan seorang bukanlah alasan bagi yang lain untuk memegahkan diri bahwa ia lebih baik dari orang yang jatuh. Jika seorang hendak bermegah, hendaklah ia menguji dirinya sendiri, apa yang sudah ia buat dalam hidupnya dan bukan karena kejatuhan orang lain. Sementara orang yang jatuh seharusnya dibantu dan bukan justru semakin dijerumuskan pada kesalahannya. Maka semua orang harus berhati-hati karena apa yang ia tabur dalam hidupnya pasti akan dituainya. Kesenangan untuk hidup dalam hawa nafsu  daging akan menghasilkan buahnya sendiri. Sementara orang yang menabur dalam Roh berarti menyerahkan perbuatan-perbuatannya untuk dikuasai oleh Roh sehingga ia juga akan rela hati turut menanggung beban orang lain, dan hasilnya adalah hidup kekal. Hukum tabur tuai, itulah yang berlaku atas orang percaya, maka semakin banyak kita berbuat baik, sekalipun kadang harus disertai dengan air mata, tapi pasti ada saatnya kita akan menuai apa yang telah kita taburkan. Berbuat baik dasarnya bukan hanya karena kita mampu dan mau, tapi juga karena kita sedang menabur.  Jangan taburi ladangmu dengan dua jenis benih, artinya jangan menabur kebaikan sekaligus menabur kejahatan (Imamat 19:19).

JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK.

TUESDAY, 1 JUNI 2010
Galatians 6:1-10

Therefore, as long as there is a chance for us, let us do good to everyone, but especially to our brothers in faith” (verse 10). Life in the Spirit not only for yourself, inside there is a moral responsibility towards others, which led the people who fell in violation of his conversion. Love people who live by the Spirit also must appear evident in the works, among them willing to share in the burdens of others, not just the issues being addressed, but also its moral burden, and that means also willing to despised by others. Fall is not an excuse for others to boast that he was better than those who fall. If one wanted to boast, let him examine himself, what has he made in his life and not because of the downfall of others. While those who fall should be assisted and not just increases plunges himself on his mistakes. So everyone should be careful because what you sow in his life he will surely reap. Pleasure to live in the flesh lusts will produce his own men. While those who sow in the Spirit means surrender his actions to be ruled by the Spirit so that he too would willingly bear the burden of heart helped others, and the result is eternal life. Reap sow law, that apply to the believer, the more we do good, even if sometimes be accompanied with tears, but surely there are times when we will reap what we have been scattered. Basically do good not only because we are able and willing, but also because we are sowing. Do not sprinkle the field with two kinds of seed, this means do not sow kindness at a time to sow wickedness (Leviticus 19:19).

DO NOT BE WEARY IN DOING GOOD.