Get Adobe Flash player
31 August 2010

Lahir dari hati ( Born from the Heart )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

renunganSELASA, 31 AGUSTUS 2010

TITUS 1:5-16

 ”Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang yang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis” (ayat 15).  Sebagai seorang pemimpin yang bertangungjawab, Paulus tidak bertindak serampangan, semua ada maksudnya. Demikian pula halnya ketika ia dengan sengaja meninggalkan Titus di Kreta. Surat yang menyusul membuktikan bahwa Paulus meninggalkan Titus di Kreta dengan suatu maksud supaya Titus mengatur apa yang masih perlu di atur, diantaranya menetapkan penatua dan penilik jemaat. Syarat-syarat sebagai penatua dan penilik jemaat sama persis dengan ketentuan yang berlaku ditengah jemaat di Efesus. Syarat-syarat itu di maksudkan bukan hanya sebagai aturan untuk mendapat jabatan, tapi bagi kebaikan yang bersangkutan, yakni supaya mereka dapat membimbing orang dalam kebenaran. Banyak orang yang hidup tidak tertib, istimewa mereka yang berpegang pada hukum sunat, merasa lebih dari yang lain sehingga hidup semau nya sendiri. Sekalipun mereka beribadah dan mengaku mengenal Allah, tapi karena suara hati mereka najis, maka bagi mereka tidak ada suatupun yang perlu dianggap suci termasuk dalam menjalankan ibadah Tapi tidak demikian seharusnya bagi penatua dan penilik jemaat, mereka harus memiliki hati nurani yang suci sehingga menganggap semunya suci, tidak hidup sembrono. Jika pemimpinnya najis, bagaimana mungkin ia akan mengajarkan kekudusan? Demikian juga dalam kehidupan pribadi setiap orang percaya, jika hati kita jahat, maka yang keluar dari hati juga adalah perkara-perkara jahat semata. Tapi jika hati kita diliputi kekudusan dari Allah, maka kita juga akan memandang segala sesuatunya dengan cara Allah, yakni dalam kekudusan. Orang yang baik mengeluarkan hal yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik, maka kelakuannyapun juga baik, karena apa yang dikeluarkan orang meluap dari hatinya (Lukas 6:45).

 SETIAP POHON DIKENAL DARI BUAHNYA.

TUESDAY, 31 AUGUST 2010

Titus 1:5-16

For all the holy saints, but for the impure and for people who do not believe there is nothing sacred, because of good sense and sound of their hearts unclean” (verse 15). As a responsible leader, Paul did not act recklessly, it’s all meant. Likewise, when he deliberately left Titus in Crete. The letter that followed proved that Paul left Titus in Crete with an intent to regulate what Titus still need to be set, such as elders and bishops set. The terms as elders and bishops exactly with the current provisions in the middle of the church in Ephesus. Conditions in the mean not just as a rule to get a job, but for the good in question, namely that they can guide people in the truth. Many people who live not orderly, privileged those established in the law of circumcision, feel more than others so that one likes to live his own. Even if they worship and confess to know God, but because their consciences are unclean, then for them there is nothing that need not be considered sacred, including the running of worship but not for the elders and thus should be bishops, they must have a conscience that considers all the holy scriptures , not to live recklessly. If the leader unclean, how could he be taught the holiness? Likewise in every believer’s personal life, if our hearts are evil, then that comes out of the liver also is purely evil matters. But if our hearts are overwhelmed with the holiness of God, then we also will look at everything God’s way, namely in holiness. Good people good things out of the treasury of good heart, then his behavior is good, because what is excluded people overflowing from his heart (Luke 6:45).

 EVERY TREE OF UNKNOWN FROM THE FRUIT.

30 August 2010

Hidup yang terpelihara ( Life maintained)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

kasih001SENIN, 30 AGUSTUS 2010

TITUS 1:1-4

 Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita” (ayat 1).  Sama seperti surat nya kepada Timotius, surat Paulus kepada Titus juga bersifat sebagai surat penggembalaan. Jika Timotius mengurus jemaat di Efesus, kepada Titus dipercayakan untuk mengatur jemaat di Kreta. Sebagai hamba Allah dan rasul Yesus Kristus, Paulus merasa berkewajiban untuk memeliharakan iman orang-orang pilihan . Surat-surat yang ia kirimkan kepada jemaat-jemaat adalah salah satu upayanya untuk memelihara iman orang-orang pilihan. Dan bukan hanya memeliharakan iman, tapi juga pengetahuan jemaat akan kebenaran juga harus terpelihara dengan baik. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang berdasar kan akan pengharapan akan hidup yang kekal seperti yang sudah dijanjikan Allah sebelum permulaan zaman dan yang telah dinyatakan-Nya melalui berita Injil yang diberitakan juga oleh Paulus atas perintah Allah. Sama seperti semua suratnya yang lain, Paulus selalu membuka suratnya dengan salam yang penuh berkat. Salah satu tugas hamba  Tuhan adalah memelihara iman jemaat. Pemeliharaan itu sendiri dapat melalui doa-doanya, melalui ibadah dan penyampaian firman dan juga perhatian dalam berbagai bentuk praktis lainnya. Sementara jemaat sendiri akan benar-benar terpelihara imannya jika ia juga mau hidup dalam penggembalaan. Adalah hal yang aneh bila seorang mau terpelihara imannya tapi ia sendiri tidak mau hidup dengan tertib, tidak loyal terhadap penggembalaan. Jemaat harus menyadari bahwa gembala dalam suatu penggembalaan itu berfungsi seperti salah satu tudung dalam Tabernakel, melindungi dan memelihara iman jemaat. Pemimpin yang tahu fungsinya dan jemaat yang mengerti tanggungjawabnya akan menghasilkan pemeliharaan iman yang optimal (Ibrani 13:17).

KEMBALILAH KEPADA GEMBALA DAN PEMELIHARA JIWAMU.

MONDAY, 30 AUGUST 2010

Titus 1:1-4

From Paul, the servant of God and apostle of Jesus Christ to keep the faith God’s chosen people, and knowledge of the truth as it appears in our worship” (paragraph 1). Just like his letter to Timothy, Paul’s letter to Titus is also a pastoral letter. If you take care of the church in Ephesus, Timothy, to Titus was entrusted to organize the church in Crete. As a servant of God and apostle of Jesus Christ, Paul felt obligated to keep the faith of those options. The letters he sent to the churches is one of its efforts to maintain the faith of those options. And not only kept the faith, but also knowledge of the truth of the church will also be well maintained. Truth is truth which is based on the expectation of life will be eternal as God had promised before the beginning of the era and which had declared him through the Gospel message preached by Paul is also on the orders of God. Just like all the other letters, Paul opened his letter with the greeting is always full of blessings. One task is to maintain the faith of a servant of God congregation. Maintenance itself can through his prayers, through worship and communicating the Word and is also concern in many other practical shape. While the church itself will actually maintained his faith if he also wanted to live in the pastorate. It is a strange thing when a willing maintained his faith but he himself did not want to live with the orderly, not loyal to their grazing. The church must realize that the shepherds in a pastoral one that functions like a veil in the Tabernacle, protect and maintain the faith of the church. Leaders who know the community who understand the function and responsibilities will result in optimal maintenance of the faith (Hebrews 13:17).

Go back to the shepherd and guardian of your souls

 

29 August 2010

Khotbah Mingguan dari WSB 29 Agustus 2010

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah Minggu | Tag

Oleh Hamba-Nya Pdt.Otniel Firmanyo Osiyo,B.cm

gse_multipart36955C. KENAL KUASANYA!KNOWING HIS POWER!

         C43.  Tantangan kekudusanThe  challenge of holynes

C. Seks

49. Mengapa? Why?

 E. Kejadian 1:27-28, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.

 Seperti dalam perumpamaan membayar pajak, Yesus dengan tegas mengingatkan tentang kewajiban membayar pajak. Hendaklah setiap orang membayar pajak kepada yang berhak, sesuai dengan buatan / gambar pada mata uang. Mata uang buatan dan bergambar kaisar, berikan kepada kaisar (Matius 22:15-22).

Demikianlah, kita adalah buatan Allah, dibuat sesuai dengan gambar atau citra Allah. Sebagai gambar Allah, maka sudah seharusnya seluruh hidup kita diberikan kepada-Nya, tidak terkecuali perihal perkawinan.

 Hendaklah setiap keluarga, suami – isteri, menghormati perkawinan sebab ….

                      Perkawinan adalah ide Allah – Marriage is God’s idea

Allah yang pertama kali mempersatukan Adam dan Hawa dalam ikatan perkawinan yang kudus. Perkawinan bukan hal coba-coba, tetapi ada tujuan jelas yang Tuhan kehendaki. Urutannya pun jelas lebih dulu diberkati, lalu berkembang biak (terkait seks), dan kuasai bumi dengan segala isinya.

 Kejadian 3:23-24, “Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. 24Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Sayang, manusia (Adam dan Hawa) tidak dapat menjaga dan mempertahankan kekudusan perkawinannya. Terjadi ….

  Kehancuran nikah – The crushed of marriage

Kehancuran nikah, berawal dari ketidaktaatan mereka terhadap larangan Allah atas buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Buah dari ketidaktaatan itu mereka menjadi telanjang dan akhirnya terusir dari taman Eden.

Hubungan nikah mereka mengalami keretakan, yang berawal dari tidak adanya kejujuran. Mereka saling menuduh / menyalahkan, terlebih Adam sebagai suami yang adalah kepala. Sebagai kepala keluarga, Adam lebih mendengarkan kata isterinya daripada kata Tuhan. Adam juga tidak mau menanggung kesalahan isterinya, sebaliknya yang terjadi ia justru menyalahkan Tuhan. Suatu bentuk tindakan seorang kepala yang tidak bijaksana, tidak menjalankan fungsinya sebagai kepala dengan baik dan benar.

 Jaga kehidupan nikah kita, jangan sampai retak apalagi hancur. Kembangkan sikap saling menghormati dan mengasihi antara suami-isteri. Suami, sebagai kepala keluarga, kebutuhannya adalah dihormati. Jangan lecehkan suami, hormati dan tunduklah. Sebaliknya, isteri sebagai penolong, kebutuhannya adalah dikasihi.

51. Rencananya bergulir His plan is rolling

I Korintus 15:45-49, “Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup”, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah. 47Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. 48Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. 49Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.

 Walaupun gambar Allah yang pertama lewat Adam dan Hawa telah dirusak oleh dosa, perkawinan yang Allah bangun telah hancur, tapi rencana-Nya terus bergulir. Iblis tidak dapat mengancurkan rencana Allah untuk menghadirkan ….

                       Yesus, Adam yang akhir – Jesus is the last Adam

Justru peristiwa kehancuran nikah ini menjadi momen untuk terus bergulirnya rencana pemulihan, yang telah direncanakan Allah sejak di kitab Kejadian 3:15, “keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.

Cukup lama rencana pemulihan itu digulirkan, membutuhkan kurun waktu 4000 tahun bagi tergenapinya. Adam yang Akhir dihadirkan untuk meremukkan dosa.

Kelahiran gereja-Nya The birth of His church

 Yohanes 19:34, “tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

 Kisah Para Rasul 2:1-4, “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 3dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

 I Yohanes 5:7-8, “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 8Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

 Yesus, Adam yang Akhir, sudah hadir mengadakan pemulihan bagi kita semua. Ia bertindak sebagai Kepala atas gereja yang adalah tubuh-Nya (Efesus 1:22-23).

 Pemulihan terjadi melalui kelahiran baru, kelahiran gereja yang ditandai ….

  Tanda: Air; Darah; Roh – Signs: Water; Blood; Spirit

 Tanda kelahiran baru ini sudah tergambar dalam pola kerajaan Allah (Tabernakel):

  • Baptisan darah —– Mezbah Korban Bakaran
  • Baptisan air —– Kolam Pembasuhan
  • Baptisan Roh —– Pintu Kemah

 Air dan darah adalah tanda kelahiran seorang anak manusia, tetapi itu saja belum cukup harus ada suara (menangis), baru dikatakan hidup. Itulah sebabnya di loteng Yerusalem ada suara yang menandai turunnya Roh Kudus, sebagai kelahiran Gereja Mula-Mula. Gereja Tuhan mendapat kuasa ketika Roh Kudus turun (Kisah Para Rasul 1:8).

 Tujuannya The purpose

Efesus 5:25-27, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Kelahiran baru gereja Tuhan yang ditandai darah, air, dan Roh mempunyai tujuan akhir ….

  Gereja sempurna – The perfect church

Ada tugas dan tanggung jawab besar yang harus kita kerjakan, setelah mengalami pemulihan. Sebagaimana jemaat gereja mula-mula, setelah dipulihkan mereka bertekun dalam Kristus dan kesaksian hidupnya menyebabkan jumlah orang yang bertobat bertambah.

Kisah Para Rasul 2:42 “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

 Ketekunan hidup mereka juga tergambar dalam pola Tabernakel:

  • Bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan — Meja Roti Sajian
  • Bertekun dalam persekutuan — Pelita Emas
  • Bertekun dalam doa — Mezbah Dupa

 Tujuan akhirnya (goal) adalah KESEMPURNAAN.

 Demikian juga dalam perkawinan, kehidupan perkawinan harus tetap kudus untuk menuju pada kesempurnaan. Sebagaimana Kristus sebagai mempelai Pria adalah sempurna, maka gereja sebagai mempelai wanita-Nya juga harus  sempurna.

52. Puncak pemulihan The top of restoration

Wahyu 19:6-9, “Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. 7Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. 8Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.) 9Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.

Pemulihan telah Tuhan kerjakan lewat tanda darah, air, dan roh dengan tujuan kesempurnaan. Gereja yang sempurna  menyongsong kedatangan Sang Mempelai Pria Surgawi, masuk pada pesta ….

                        Malam perjamuan kawin Anak Domba

 The marriage supper of the Lamb

Sebagaimana layaknya pengantin, kelak kita sebagai mempelai wanita-Nya dikenakan pakaian lenan yang putih bersih, gambaran perbuatan-perbuatan benar menurut Firman Tuhan. Sebelumnya, kita mengenakan kain kesumba / larah,  penuh dengan perbuatan-perbuatan dosa (Yesaya 1:18).

 Berjuanglah terus untuk sampai pada puncak kesempurnaan, pada malam perjamuan kawin Anak Domba yang kudus. Dimulai dari nikah dan diakhiri dengan nilkah pula.

 53. NasihatAdvise

 Ibrani 12:1-2, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 2Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Sasaran akhir dari rencana pemulihan Tuhan sudah jelas, yaitu kesempurnaan menuju perkawinan Anak Domba. Untuk sampai pada hal itu bertekunlah dan berjuang terus, tidak bergerak di tempat tetapi ….

           Berlari menuju sasaran – Running to the goal

 Tinggalkan dosa dan beban yang menjerat, yang tidak pernah berhenti mengejar kita. Sejak menjadi milik Kristus, iblis tidak punya kuasa lagi atas kita. Yang bisa dilakukan iblis hanya mencobai kita, itu pun  harus minta ijin Tuhan. Kalau pun Tuhan ijinkan, pasti ada tujuan positif yang Tuhan mau atas hidup kita. Beda halnya dengan godaan, yang datang dari keinginan (hawa nafsu) daging kita sendiri.

Sebagai bukti iman bahwa kita adalah anak Allah, milik Kristus, lakukan perbuatan-perbuatan benar sesuai Firman Tuhan. Pergunaan waktu yang ada, berpacu dengan waktu yang semakin singkat untuk mencapai sasaran yang Tuhan kehendaki, menjadi sama seperti Dia. Amin.

28 August 2010

Bukti kemurnian hati ( Evidence purity of heart )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Biligual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

berdoaSABTU, 28 AGUSTUS 2010

 2 TIMOTIUS 4:19-22

Berusahalah kemari sebelum musim dingin. Salam dari Ebulus dan Pudes dan Linus dan Klaudia dan dari semua saudara” (ayat 21).  Sebagaimana biasa dalam setiap suratnya, Paulus juga menutup suratnya kepada Timotius dengan menyampaikan salam dari orang-orang kudus yang ada bersamanya dan juga ia menyampaikan salam kepada mereka yang ada bersama dengan Timotius. Beberapa teman yang tidak ada bersamanya juga Paulus sampaikan sebagai pemberitahuan kepada Timotius sehingga ketika ia datang ia tidak lagi bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan yang bersangkutan. Bahkan yang sedang sakit pun Paulus beritahukan supaya Timotius juga bisa memberi perhatian terhadapnya, apalagi dia Paulus tinggalkan dikota lain oleh karena suatu hal yang mendesak yang membuat Paulus tidak mungkin untuk menungguinya. Paulus juga menyatakan kerinduannya supaya jika memungkinkan Timotius dapat meng usahakan dengan sungguh-sungguh supaya sudah ada ditempat sebelum musim dingin. Diawali dengan berkat kasih karunia, demikian pula Paulus menutup suratnya dengan berkat kasih kasih karunia Allah. Semakin banyak saudara memberi salam membuktikan bahwa seseorang itu baik keadaannya dalam arti moralnya, dan juga hubungannya dengan orang lain, dengan kata lain hubungan yang baik lahir dari hati nurani yang baik pula. Jika hati nurani kita baik hubungan dengan Tuhanpun akan indah. Sebaliknya jika kita menyimpan sesuatu yang tidak baik, hal itu akan mengganggu hubungan dengan Tuhan, hati kita akan tertuduh ketika menghadap Dia. Maka jangan menyimpan segala sesuatu perkara yang jahat dalam hati supaya tidak tertuduh dalam membina hubungan. Sucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran sehingga kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas (1 Petrus 1:22).

 BEBASKAN HATI DARI SEGALA BENTUK KEPAHITAN.    

  SATURDAY, 28 AUGUST 2010

 2 TIMOTHY 4:19-22

“Try to come before winter. Greetings from Ebulus and Pudes and Linus and Klaudia and of all the brethren “(verse 21). As is usual in any of his letters, Paul also closed his letter to Timothy to convey greetings from the saints who are with him and also he delivered his greetings to those who have shared with Timothy. Some friends that have nothing to say with Paul as well as notification to Timothy, so when he came he was no longer wondering what is going on with that question. Even being sick did Paul tell Timothy that can also give attention to it, let alone another city he lives because of a matter of urgency that makes it impossible to stay with Paul. Paul also expressed his desire that if possible Timothy can pursue in earnest the existing order in place before winter. Beginning with the blessings of grace, so did Paul closed his letter with thanks to the love of God’s grace. The more brother salute to prove that someone is a good situation in a moral sense, and also relationships with other people, in other words a good relationship born out of good conscience as well. If our conscience good relationship with the Lord will be beautiful. Conversely, if we had something that was not good, it will disrupt the relationship with God, our hearts will be accused when facing him. So do not hold everything evil things in the heart so that no defendant in a relationship. Purify themselves by obedience to the truth so that we can practice a sincere brotherly love (1 Peter 1:22).

EXEMPT HEARTS OF ALL FORMS OF BITTERNESS    

 

27 August 2010

Tidak Sendirian ( Not Alone )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

samson_htJUM’AT, 27 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 4:9-18

“Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk kedalam kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin” (ayat 18).   Diakhir suratnya kepada Timotius, Paulus menyampaikan keadaan dan isi hatinya yang sedang ia rasakan saat  itu, ia merasa sendirian dan kesepian. Suatu kenyataan yang tidak pernah ia harapkan dan secara jujur ia sampaikan kepada Timotius, bahwa ia telah berjuang begitu rupa demi kemajuan pemberi taan Injil, tapi ketika ia menghadapi masalah tidak satu orangpun yang membantunya ataupun memberi  ia semangat, semua meninggalkannya. Paulus harus menghadapi semuanya sendirian. Bahkan diakhir masa hidupnyapun ia dilanda kesendirian karena mereka yang menjadi rekan pelayanannya ada yang telah men cintai dunia dan meninggalkan pelayanan, lainnya lagi melayani ditempat yang lain. Untuk itulah ia meng harap kehadiran Timotius dan juga Markus secepatnya. Tapi meskipun ia harus menghadapi masa-masa yang sukar seorang diri, Paulus memiliki keyakin-an bahwa sesungguhnya ia tidak seorang diri, Allah ada besertanya dan menguatkan dia. Ia yakin bahwa Tuhan akan melepaskan dia dari setiap usaha yang jahat dan menyelamatkannya bahkan membawanya masuk dalam Kerajaan-Nya, sebagaimana dulu juga Tuhan sudah begitu rupa menyatakan pembelaan-Nya terhadap dirinya. Mungkin ada saat dimana kita juga mera sa sendirian seperti Paulus ketika menghadapi masa-masa yang sulit, semua sekan-akan meninggalkan kita . Tapi juga seperti Paulus, mari kita juga menyadari bahwa kita tidak ditinggalkan sendiri, Allah ada beser ta dengan kita. Memang manusia bisa meninggalkan kita justru saat-saat dimana kita sangat membutuh kan kehadiran mereka, tetapi penyertaan Allah itu sempurna dalam hidup kita asal saja kita hidup benar dihadapan-Nya (Matius 28:20).

 IMANUEL, ALLAH BESERTA DENGAN KITA.

Friday, 27 AUGUST 2010 

 2 TIMOTHY 4:9-18 

And the Lord will rescue me from every evil effort. He will save me, so I enter into His kingdom in heaven. For Him the glory for ever and ever! Amen “(verse 18). At the end of his letter to Timothy, Paul delivered his heart condition and he was feeling at the moment, he felt alone and lonely. A fact which he never expected and honestly he gave to Timothy, that he has struggled so much for the progress of the gospel, but when he faced the problem that nobody paid help him or give him encouragement, all left. Paul must face it all alone. Even at the end of his life he was stricken loneliness because they are a peer ministry there has loved the world and left the service, another place to serve others. For that he expects the presence of Timothy and Mark as soon as possible. But although he had to face difficult times alone, Paul has a belief that he was not alone, God is with him and strengthen him. He is convinced that the Lord will deliver him from every evil and rescue efforts and even brought them in His kingdom, as was also the Lord has been so much a defense of his claim against him. There may be times where we also feel alone like Paul when facing difficult times, everyone seemed to leave us. But also like Paul, let us also realize that we are not left alone, God is with us. Indeed people can leave us just when we desperately need their presence, but the inclusion of God is perfect in our lives so long as we live right before Him (Matthew 28:20).

EMMANUEL, GOD WITH WITH US.

 

 

26 August 2010

Berhasil menunaikan( Successful discharge )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

rhKAMIS, 26 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 4:1-8

 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (ayat 5).  Kembali Paulus mencontohkan dirinya sendiri kepada anak rohaninya, Timotius. Paulus telah begitu rupa melayani, dia tidak pernah melalaikan tugas-tugas pela yanan yang dipercayakan kepadanya sampai kepada saat dimana ia menyadari bahwa saat kematiannya sudah dekat. Dia dapat bersaksi dan beroleh keyakinan bahwa ia telah mengakhiri pertanding-an dengan baik, telah memelihara iman dan mencapai garis akhir. Ia yakin bahwa baginya telah tersedia mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan oleh Tuhan sendiri. Maka dengan tidak ragu ia mendorong Timotius untuk juga dapat menunaikan tugas pelayanannya sampai akhir sebagaimana ia juga telah menyelesaikan nya. Untuk itu Timotius harus dapat menguasai diri dalam segala hal, sabar menderita, berani menyatakan yang salah, menegor dan menasehati jemaat dengan segala kesabaran dan pengajaran. Timotius juga harus siap sedia untuk memberitakan firman baik atau tidak baik waktunya sekalipun ia juga harus menghadapi kecenderungan manusia yang lebih memilih untuk mendeng-ar berita yang menyenangkan dan memuaskan telinga. Akhir suatu hal lebih baik dari awalnya. Kita bisa saja memulaikan pelayanan dengan luar biasa, tapi apakah kita juga bisa mengakhirinya dengan baik pula? Tak dapat disangkal bahwa dalam perjalanan iman dan pelayanan kita akan mengalami banyak tantangan dan itu semua dapat menjatuhkan kita. Maka turuti apa yang dinasehatkan Paulus kepada Timotius, yakni kuasai diri dalam segala hal dan sabar mende rita supaya kita juga pada akhirnya dapat menyelesaikan pertandingan yang diwajibkan bagi kita dengan baik. Menunaikan tugas hingga akhir bukanlah hal yang gampang, perlu penguasaan diri dalam segala hal termasuk tubuh seluruhnya dan melatihnya (1 Korintus 9:25-27).

 ORANG YANG MENGUASAI LEBIH DARI PAHLAWAN YANG MEREBUT KOTA.

 THURSDAY, 26 AUGUST 2010  

2 TIMOTHY 4:1-8

But Overcome yourself in all things, patient suffering, do the job and pay the poor evangelist your service duty” (paragraph 5). Paul exemplifies himself back to his spiritual son, Timothy. Paul has so much to serve, he never neglected the duties entrusted to her care until the moment where he realizes that his death was imminent. He can testify and obtain the conviction that he has terminated the games well, has kept the faith and reach the finish line. He believes that for him the crown of righteousness which is already available will be bestowed by God Himself. So with no hesitation he encourages Timothy to also perform the task until the end of his ministry as he was also completed. For that Timothy should be able to pull myself in all things, patiently suffer, dare to say who is wrong, and advised the congregation began to rebuke with all patience and teaching. Timothy also be ready to preach the word of good or not good time even though he also had to deal with the human tendency to prefer a news-ar mendeng pleasant and satisfying the ears. End of a better thing than the beginning. We can just restart the service with extraordinary, but if we can finish well too? Undeniable that in the journey of faith and ministry we will experience many challenges and that’s all we can impose. Then obey what he advised Paul to Timothy, that is mastered himself in all things and patiently heard the news that we should also ultimately be required to complete the game for us well. Task until the end is not easy, need self-control in all respects including the whole body and train it (1 Corinthians 9:25-27).

PEOPLE WHO ARE HEROES CONTROLS OVER TAKING THE CITY.

25 August 2010

Tetap Kuat didalam Tuhan ( Be still strong in The Lord )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imagepostRABU, 25 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 3:10-17

“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu” (ayat 14).   Kejahatan manusia yang terus berkembang menimbulkan persoalan tersendiri bagi orang percaya, yakni peng-aniayaan. Siapa yang mau beribadah kepada Kristus Yesus harus membekali diri dengan pikiran siap menderita. Tapi pen deritaan itu baik bagi orang percaya, sebab justru karenanya iman orang percaya mengalami pertumbuhan yang mendewasakan. Memang ada dua kemungkinan yang bisa ditimbulkan oleh penderitaan dan pengani ayaan, yakni kedewasaan iman dan murtad. Untuk itu jika seorang ingin selamat dari kemurtadan dan mengalami pertumbuhan iman, sikap dalam menghadapi aniaya tersebut sangat menentukan. Dan untuk itu Paulus menasihatkan kepada Timotius untuk tetap memegang kebenaran yang telah diterima dan diyakininya dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya. Dan kebenaran itu sendiri juga bisa digali melalui pembacaan Kitab Suci. Sementara segala tulisan yang diilhamkan Allah dan dituliskan dalam Kitab Suci itu sendiri juga bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelaku an dan mendidik orang dalam kebenaran. Setiap kebenaran yang kita dengar bila kita terima dengan hati yang terbuka akan mengerjakan hidup dan menghasilkan kuasa dan kekuatan untuk kita dapat menghadapi berbagai bentuk penderitaan dan tantangan. Untuk sangat perlu kita menghargai kebenaran yang kita dengar maupun yang bisa kita baca sendiri dalam alkitab. Jika tantangan datang pegang kebenaran tersebut, maka pembelaan Allah akan dinyatakan. Ada hasil yang besar kita peroleh dalam Kristus asal saja kita tetap teguh berpegang pada keyakinan iman sampai pada akhirnya (Ibrani 3:14).

 JANGAN KEHILANGAN PEGANGANMU YANG TEGUH.

 WEDNESDAY, 25 AUGUST 2010

2 TIMOTHY 3:10-17

 ”But thou shalt stick to the truth which thou hast received and you believe, always remember the people who have taught you” (verse 14). Growing human evil raises its own problems for the believers, namely persecution. Who wants to worship Jesus Christ must equip ourselves with a mind ready to suffer. But the pen is good for people suffering believe, therefore faith precisely because people believe a mature growth. Indeed there are two possibilities that could be caused by the suffering and persecution, the maturity of faith and apostasy. Therefore if one wants to survive the growing apostasy and faith, the attitude in the face of persecution is very decisive. And for that Paul’s counsel to Timothy to remain in the truth that has been accepted and believed to always remember the people who have been taught. And the truth itself can also be explored through the reading of Scripture. While all the writings inspired by God and written in the Bible itself is also useful for teaching, said errors, improve behavior and training in righteousness. Every truth we hear when we receive with an open heart will live and work on strength to generate power and we can deal with various forms of hardship and challenges. For the truth is we need to appreciate what we heard and we can see myself in bible. If the challenge comes grasp these truths, then the defense of God will be revealed. There are tremendous results we get in Christ so long as we remain firmly adhered to the belief of faith to the end (Hebrews 3:14).

YOU DO NOT LOSE FIRM GRIP.

24 August 2010

Perlu Keseimbangan ( Need Balanced )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingul Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

SELASA, 24 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 3:1-9

“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu” (ayat 5).  Kebobrokan manusia bukan hanya terjadi di masa sekarang ini, sejak jaman Timotius melayanipun hal itu sudah ada.  Tidak kurang dari delapanbelas macam dosa dan kejahatan yang Paulus tuliskan sedang membelenggu dan menguasai hidup manusia. Sungguh suatu keadaan yang mengerikan jika sampai hal-hal tersebut ada pada satu pribadi, dia akan tampil menjadi seorang yang benar-benar jahat, tidak memiliki hati nurani. Kesukaran yang timbul adalah akibat dari manusia sendiri yang mau diperhamba oleh bermacam-macam dosa tersebut. Mungkin mereka beribadah, tapi ibadah yang dilakukan tidak lebih dari sekedar topeng identitas agama, mereka sesungguhnya sedang  memungkiri kekuatannya. Nasehat Paulus dalam menghadapi orang yang mengaku diri beribadah tapi juga terus melakukan dosa dan kejahatan adalah, jaga diri, dan jikalau perlu jauhi mereka. Ibadah adalah wujud pengakuan kita akan Allah dan bahwa kita mutlak membutuhkan Dia. Dan ibadah akan memiliki bobot manakala setiap orang yang melakukannya dan berani menyebut nama Tuhan juga mau meninggal kan kejahatan. Maka, bila ada orang yang mengaku diri beribadah tapi juga terus melakukan dosa dan keja hatan, pada dasarnya mereka telah menghina dan menduakan Allah. Ibadah orang percaya mengandung rahasia besar, maka tidak boleh dipermain-mainkan. Maka jika kita mau beribadah kepada Allah, marilah kita juga mengakui kekudusan-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya serta menempatkan Dia benar-benar sebagai Tuan kita. Ibadah memerlukan pengekangan lidah dan penguasaan diri, maka jika kita mengaku beribadah tapi tetap hidup menurut hawa nafsu, sia-sialah ibadah kita (Yakobus 1:26).

 BERIBADAH  DENGAN HATI DAN BUKAN DENGAN MULUT SAJA.

  TUESDAY, 24 AUGUST 2010 

2 TIMOTHY 3:1-9

 ”Outwardly they run their worship, but in fact they deny its power. stay away from them “(verse 5). Human depravity is not just happening at the present time, since the era of Timothy serving it already exists. No fewer than eighteen different kinds of sins and crimes that Paul wrote are shackled and control of human life. What a terrible situation when it comes to these things exist in one person, he would appear to be a truly evil, no conscience. The difficulty that arises is the result of the man himself who want on enslaved by all kinds of sins are. Maybe they worship, but worship is done no more than just mask the identity of religion, they’re actually deny its power. Paul’s advice in dealing with people who claim to worship but also continue to sin and evil are, look after yourself, and if need to stay away from them. Worship is a manifestation of God and our recognition that we absolutely needed him. And worship will have weight when every person who did it and dared mention the name of God also want to die a crime. So, if there are people who claim to worship but also continue to sin and evil evil, basically they have been insulted and timing of God. Religious people believe contains the great secret, it should not be toyed with. So if we want to worship God, let us also recognize his holiness and submit to His will and really put him as our Master. Worship requires self-restraint and mastery of the tongue, so if we claim to worship but to stay alive by lust, our worship is vain (James 1:26).

WORSHIPPING WITH HEART AND NOT JUST WITH THE MOUTH

21 August 2010

Digerakkan Tujuan ( Purpose Driven )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

renunganSABTU, 21 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 2:1-13

 “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan kekal” (ayat 10).   Semangat pelayanan yang berkobar dalam diri Paulus terus ditularkannya kepada anak rohaninya, Timotius. Untuk keefektifan pelayanan berita Injil, sebagaimana Paulus berani meneruskan dan mempercayakan pelayanan itu kepada Timotius, maka iapun juga berharap bahwa Timotius dapat juga mempercayakan pelayanan itu kepada mereka yang dapat dipercayai. Siap melayani dalam pemberitaan Injil berarti ia adalah prajurit Kristus yang juga siap menderita bagi-Nya. Tujuan pelayanan Paulus adalah keselamatan jiwa-jiwa, untuk itulah ia rela walau harus diperlakukan seperti penjahat dan semangatnya tidak menjadi padam karenanya. Ia tidak memusingkan dirinya sendiri, baginya keselamatan jiwa-jiwa adalah hal yang terpenting. Maka dengan mengambil contoh seorang prajurit, seorang olahragawan dan seorang petani, Paulus mendorong Timotius sebagai seorang pelayan Tuhan untuk juga lebih memperhatikan keselamatan jiwa-jiwa daripada memperhatikan dirinya sendiri. Ada upah yang besar dan indah bagi seorang prajurit Kristus yang rela menyerahkan hidupnya demi keselamatan jiwa-jiwa yang lain. Miliki prioritas dan tujuan hidup dan biar kan tujuan itu yang menggerakkan hidup kita. Dan jika hidup kita digerakkan oleh tujuan, maka kita akan menjadi pribadi-pribadi yang tidak mudah menyerah menghadapi berbagai bentuk tantangan sekalipun harus menderita karenanya. Maka temukan tujuan Allah dalam setiap panggilan-Nya yang berbeda-beda pada setiap orang. Berjuanglah untuk mengetahui kehendak dan tujuan Allah dalam panggilan-Nya, maka kekuatan kuasa kemuliaan-Nya akan memampukan kita menanggung segala sesuatu dengan sabar (Kolose 1:9-11).

TURUTLAH BERLARI DENGAN TUJUAN YANG PASTI.

SATURDAY, 21 AUGUST 2010

2 TIMOTHY 2:1-13

“Therefore I endure all things for God’s chosen people, so that they may have salvation in Christ Jesus with eternal glory” (verse 10). The spirit of service that burned inside Paul passed on to his spiritual children, Timothy. For the effectiveness of the news service of the Gospel, as Paul dared to entrust the ministry to continue and to Timothy, so he also hoped that Timothy can also entrust the ministry to those who can be trusted. Ready to serve in preaching the Gospel means he is a soldier of Christ who is also prepared to suffer for Him. Paul’s ministry purpose is the salvation of souls, for which he was willing even to be treated like a criminal and his spirits are not to be extinguished by it. It does not bother himself, for him the salvation of souls is paramount. So by taking the example of a soldier, a sportsman and a farmer, Paul encourages Timothy as a minister of God to also pay more attention to the salvation of souls rather than attention to himself. There is a large and beautiful wages for a soldier of Christ who willingly gave his life for the salvation of the souls of others. Have priority and purpose in life and not let that goal that drives our lives. And if our lives are driven by goals, then we will be individuals who are not easily give up despite the challenges facing various forms must suffer for it. So discover God’s purpose in each of his calls different to everyone. Strive for knowing God’s will and purpose of his call, then the glory of His mighty power will enable us to patiently endure all things (Colossians 1:9-11).

PARTICIPATE RAN WITH SURE THAT PURPOSE      

20 August 2010

Pasti Diperlengkapi ( Equipped sure )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) BY Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

kasih001JUM’AT, 20 AGUSTUS 2010

  2 TIMOTIUS 1:3-18

 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (ayat 7).   Sebagaimana dalam setiap suratnya, ucapan syukur Paulus sering disertai dengan berbagai bentuk nasehat, diantaranya untuk bertekun, atas kasih karunia, serta doa. Jerih lelah dan air mata Timotius yang menunjukkan kesungguhannya dalam pelayanan senantiasa mem bangkitkan ucapan sukur Paulus kepada Allah setiap saat ia mengingatnya. Dan kepada Timotius, Paulus mengingatkan bahwa keberadaannya dalam pelayanan juga adalah buah iman dari nenek dan ibunya. Untuk itulah Paulus mendorong Timotius mengobarkan karunia Allah yang ada padanya. Tidak ada alas an untuk malu dan takut bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus sebab Allah sendiri telah memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Paulus mencontohkan dirinya sendiri bagaimana demi Injil ia rela menderita dan ia tidak menjadi malu karenanya. Kristus Yesus yang telah memanggilnya dengan panggilan kudus dan menyelamatkannya bukan karena perbuatannya melainkan karena kasih karunia, Dia jugalah yang telah mempercayakan Injil kepada Paulus untuk diberitakan kepada segala bangsa. Berdasar kenyataan yang tak terbantahkan tersebut, Paulus menasihatkan Timotius untuk meme gang ajaran yang telah diterimanya dan memeliharakan harta yang indah yang dipercayakan kepadanya. Setiap orang kepunyaan Allah diperlengkapi dengan segala yang baik untuk maksud dan rencana Allah, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi yang lain. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri dan tidak berbuat sesuatu untuk mempermuliakan Tuhan. Asal saja kita mau melakukan perkara untuk kemuli aan-Nya, maka Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita (1 Petrus 5:10). TIDAK ADA PRAJURIT BERPERANG DENGAN BIAYA SENDIRI.

Friday, 20 AUGUST 2010

  2 TIMOTHY 1:3-18

 ”For God gave us not a spirit of fear, but a spirit of power, love and order” (verse 7). As in every letter, in Paul’s thanksgiving often do so with various forms of advice, including to endure, the grace, and prayer. Labors and tears Timothy shows his sincerity in the service of thanksgiving, Paul continues to raise to God every time he remembered. And to Timothy, Paul warns that its presence in the ministry also is the fruit of faith from her grandmother and mother. Paul encourages Timothy to rekindle that bounty from Allah. There is no reason for shame and fear testify about the Lord Jesus Christ because God himself has given a spirit of power, love, and order. Paul himself pointed out how he was willing to suffer for the sake of the gospel and he was not to be ashamed of it. Christ Jesus, who had called him with the holy call and rescued not by works but by grace, He is also the gospel that has been entrusted to Paul for the hospitality extended to all nations. Based upon these undisputed facts, Paul advised Timothy to hold gang which has received teachings and preserve a beautiful treasure that was entrusted to him. Every person belongs to God all that well equipped for the purpose and plan of God, both for those concerned or for others. So there is no reason for us to sit idly by and does nothing to magnify the Lord. If only we would do things for His glory, then God will complete, confirm, confirm and strengthen us (1 Peter 5:10).

 NO WARRIOR FIGHT WITH THEIR OWN COST.