Get Adobe Flash player
19 August 2010

Kenali tugas kita ( Recognize our task )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

berdoaKAMIS, 19 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 1:1-2                                                                           

“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus” (ayat 1).  Kembali dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, dengan yakin Paulus menyatakan kerasulannya. Paulus dapat bersaksi bahwa oleh kehendak Allahlah ia dipanggil dan menjadi rasul Kristus Yesus. Dan bukan hanya sadar dengan panggilan kerasulannya, Paulus juga sadar bahwa dibalik jabatan kerasulan itu ada tanggungjawab yang besar yang dia emban, yakni memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Dan Paulus tidak akan  memiliki keberanian untuk memberitakan janji tersebut jika ia sendiri belum mengalaminya. Tapi karena ia sendiri telah mengalaminya, maka ia bisa memberi kesaksian yang benar dan hidup. Sementara itu ia menganggap Timotius bukan hanya sebagai rekan sepelayanan tapi juga sebagai anak imannya yang kekasih. Dan tidak lupa dalam setiap suratnya, Paulus selalu menyertakan berkat penyertaan, kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Kristus Yesus. Setiap orang percaya juga harus menyadari akan panggilannya bahwa sebagai orang percaya kita dipanggil bukan hanya untuk percaya dan beroleh anugerah keselamatan, tapi juga ada tanggungjawab dalam panggilan tersebut. Jangan jadi orang percaya yang mau enaknya saja sementara tanggungjawab didalamnya seperti dianggap tidak ada. Ketahuilah bahwa kita dipanggil dipanggil dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dan menjadi imam-imam Allah yang harus melayani Dia dan juga memberitakan segala perbuatannya yang ajaib (1 Petrus 2:9-10).  Adakah sekarang kita sudah menjadi saksi-Nya dan memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib? Jangan takut dan malu dalam menjalankan tanggungjawab iman kita karena penyertaan, kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera menjadi bagian kita.

KERJAKANLAH KESELAMATANMU DENGAN TAKUT DAN GENTAR.

 THURSDAY, 19 AUGUST 2010

 2 TIMOTHY 1:1-2

 “From Paul, an apostle of Christ Jesus by the will of God to preach the promise of life in Christ Jesus” (verse 1). Back in a second letter to Timothy, Paul expressed his ministry with confidence. Paul could testify that he was summoned by the will of God and an apostle of Christ Jesus. And not only aware of his apostolic call, Paul was also aware that behind the ministry’s position that there is a big responsibility that he’s waistband, which proclaim the promise of life in Christ Jesus. And Paul would not have the courage to proclaim that promise if he himself has not experienced it. But because he himself has experienced it, then he could give a true and living testimony. Meanwhile, he considered not only as a colleague Timothy minister but also as a beloved child’s faith. And do not forget in all his letters, Paul was always include the blessing of investment, grace, mercy and peace from God the Father, and of Christ Jesus. Every believer must also be aware of the vocation that as believers we are called not only to believe and enjoy the gift of salvation, but also a responsibility of the call. Do not be delicious just want to believe that while the responsibilities therein as deemed absent. Know that we are called be called from the darkness into the light of his magic and became the priests of God who must serve Him and preach everything he does is magic (1 Peter 2:9-10). Is there now we have become witnesses of his deeds and preaching his magic? Do not be afraid and ashamed of our faith in carrying out the responsibility for inclusion, grace, mercy and peace be our part.

WORK SALVATION WITH FEAR AND TREMBLING.

18 August 2010

Pertandingan Wajib ( Must Match )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB  Editorial Staff

RABU, 18 AGUSTUS 2010

  1 TIMOTIUS 6:11-21

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar didepan banyak saksi” (ayat 12).  Bukan hanya jemaat yang harus menjaga dirinya dari hal cinta akan uang, tapi Timotius sendiri sebagai manusia Allah juga harus menjauhinya. Hidup Timotius sebagai hamba Allah bukan untuk berlomba mengumpul kan kekayaan materi, tapi berlomba dalam pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal . Bertanding dalam pertandingan iman berarti mau menuruti segala perintah dan kebenaran firman Tuhan, hingga saat Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya. Dan jika ada pertandingan yang diwajibkan untuk semua orang percaya, maka secara khusus diberikan nasehat kepada orang-orang kaya supaya tidak bersandar pada kekayaannya. Mereka yang kaya secara materi sebaliknya harus bisa memanfaatkan kekayaannya sebagai modal untuk pertandingan iman yang diwajibkan, yakni dengan menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, dan bukan menjadi tinggi hati karena kekayaannya. Dengan demikian orang kaya tersebut mengumpulkan suatu harta untuk hidup diwaktu yang akan datang, untuk mencapai hidup yang sebenarnya. Ada perlombaan jasmani, ada pula perlombaan rohani. Perlombaan jasmani yang sehat misalnya perlombaan olahraga yang hanya diikuti oleh para atlet. Tapi perlombaan rohani pesertanya adalah semua orang beriman dan itu sifatnya wajib. Sebagai atlet rohani kita juga mempunyai tujuan akhir, yakni menjadi pemenang dan dapat mengakhiri pertandingan dengan baik. Arahkan pandangan ke depan, pada kekekalan. Bertandinglah begitu rupa dalam pertandingan iman yang diwajibkan, bertanding lah dengan tujuan supaya kita tidak sia-sia melakukannya sehingga kita memperoleh mahkota abadi yang telah disediakan (1 Korintus 9:24-26).

BERJUANGLAH UNTUK MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK.

 WEDNESDAY, 18 AUGUST 2010

 1 TIMOTHY 6:11-21

Competed in a game is the true faith and grab the eternal life ,cause for that purpose, and thou hast been called the proper pledge pledged in front of many witnesses” (verse 12). Not only the church that must protect themselves from this love of money, but Tim himself as a man of God may be away from it. Timothy’s life as a servant of God not for his race to accumulate material wealth, but competed in the match to win the true faith and eternal life. Compete in a game of faith means to obey all the commandments and the truth of God’s word, until now the Lord Jesus revealed Himself. And if there is a match that is required for all believers, it is specifically provided advice to rich people so as not to rely on his fortune. They are rich in materials otherwise be able to utilize his wealth as a capital to match the faith that is required, namely to be rich in good deeds, like giving and sharing, and not become proud because of his wealth. Thus the rich man to collect a treasure for life perfect time to come, to achieve real life. There are physical competitions, there is also a spiritual race. The competition is a healthy physical exercise such as race, followed only by the athletes. But the spiritual race participants are all believers and that are required. As our spiritual athletes also have the ultimate goal, namely to be a winner and can end a game properly. Point your outlook on eternity. Compete in a game is so much faith is required, is to compete with the goal that we should not do so in vain we obtain eternal crown that has been provided (1 Corinthians 9:24-26).

FIGHT FOR THE GAME WITH GOOD ENDING.

17 August 2010

Perhambaan Modern ( Modern Slavery )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

IMG_5095SELASA, 17 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 6:2-10

“Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ayat 10).  Apa yang telah Paulus tuliskan, harus Timotius ajarkan dan dinasihatkan kepada jemaat demi kebaikan semua orang. Tapi jika ada yang tidak mau menerimanya, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Orang yang demikian hanya pandai mencari soal dan bersilat kata yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga dan juga percekcokan diantara orang-orang yang hanya mengejar keuntungan materi, terma suk dalam hal ibadah. Sekalipun ibadah memang membawa keuntungan, tapi itu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang hatinya bebas dari roh tamak dan cinta akan uang. Tidak ada keuntungan dari ibadah yang akan didapat oleh mereka yang dikuasai oleh roh tamak, sebaliknya mereka justru akan masuk dalam pen cobaan, kedalam jerat dan berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan. Mereka yang cinta uang sesungguhnya sedang menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka yang menenggelamkannya dalam keruntuhan dan kebinasaan. Tapi dengan menyadari bahwa seorang tidak membawa apa-apa ketika lahir kedunia dan tidak akan membawa apa-apa pula keluar, dia akan merasa cukup dengan pakaian dan makanan yang ada padanya sehingga dapat beribadah dengan tulus ikhlas. Orang bijak ketika melihat bahaya pasti akan menghindar, tapi orang bodoh terus melaluinya dan mendapat celaka. Jika kita tahu bahwa cinta uang hanya akan membawa kita pada pencobaan yang menenggelamkan kedalam berbagai duka, maka jika kita bijak pasti tidak mau dikuasai oleh roh tamak. Jangan mau diperhamba oleh uang, cukupkan diri dengan apa yang ada dan bersyukurlah karena Allah sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita (Ibrani 13:5).

HIDUPLAH BERPADAN DENGAN APA YANG ADA.

 TUESDAY, 17 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 6:2-10
“Because the root of all evil is the love of money. Because the hunt for the money some people have strayed from the faith and torturing him with all kinds of grief “(verse 10). What had Paul write, should be taught and advised Timothy to the church for the good of everyone. But if anyone does not want to accept it, he is a man who pretended to know when I did not know anything. Such people only look for problems and clever tongue that causes envy, injury, slander, suspicion and strife among the people who are only after material gains, including in terms of worship. Though worship is to bring profit, but it can only be enjoyed by those whose hearts are free from the spirit of greed and love of money. There is no benefit from the worship which will be obtained by those who are ruled by rapacious spirit, otherwise they will actually go in the pen trials, into a trap and every kind of lust that emptiness and hurt. Those who love the real money was torturing himself with every kind of grief that sunk in ruin and destruction. But by realizing that one does not bring anything when born into the world and will not take anything too out, she will feel enough with clothes and food there so that they can worship him sincerely. A wise man when he saw the danger must be avoided, but stupid people continue to go through and get hurt. If we know that the love of money will only lead us to the temptation of sinking into a variety of grief, then surely if we are wise not dominated by greedy spirit. Do not want on enslaved by money, ends with what is there and give thanks because God will never leave and leave us (Hebrews 13:5).

LIVING COMMENSURATE WITH WHAT’S ALREADY THERE

16 August 2010

Didasari kemurnian ( Based on The Purity )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

bird-wings_MG0885SENIN, 16 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 5:17-6:2

 “Janganlah engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang dan janganlah terbawa-bawa kedalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu” (ayat 22).  Timotius tidak dapat menggandar pelaya nan seorang diri, ada orang-orang yang diangkat dari antara jemaat untuk membantu tugas-tugasnya dalam melayani jemaat. Untuk itu Paulus memberikan petunjuk-petunjuk yang harus dilaksanakan baik olehnya maupun oleh jemaat. Pertama Timotius harus mengajar jemaat untuk bisa menghormati para penatua yang melayani mereka, dan dalam hal ini para penatua tersebut juga berhak menerima tunjangan. Seorang penatua tidak boleh dipersalahkan begitu saja oleh jemaat, tapi harus ada saksi dan bukti yang kuat. Berat tugas seorang penatua, maka Timotius tidak boleh terburu-buru mengangkat dan menumpangkan tangan untuk seorang penatua. Pengangkatannya harus mengacu pada syarat-syarat yang telah Paulus tuliskan sehingga Timotius bebas dari keberpihakan dalam mengangkat seorang penatua. Kunci sukses Timotius untuk itu semua adalah kemurnian hati, sehingga iapun juga tidak akan terpedaya oleh penampilan luar seseorang yang nampaknya begitu saleh tapi juga sedang menyimpan dosa yang belum kelihatan. Allah melihat hati setiap orang yang melayani-Nya, apakah dia sungguh-sungguh melayani dengan hati atau sekedar tampil supaya dilihat orang lain. Walau mengatasnamakan pelayanan, jika pelayanan itu dilaksana kan dengan keberpihakan atau memandang muka, sekali waktu pasti akan nyata isi hati yang bersangkutan . Tapi jika pelayanan dilakukan dengan kemurnian, sesederhana apapun bentuknya memiliki bobot yang besar dan pasti mempermuliakan nama Tuhan. Kemurnian hati bukan hanya menghindarkan kita dari masalah yang tidak perlu, tapi juga merupakan penarik berkat dan keadilan Allah (Mazmur 24:4-5).  KEMURNIAN LAHIR DARI PROSES PEMURNIAN DENGAN API.

MONDAY, 16 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 5:17-6:2

Thou shalt not hurry to lay hands on someone and do not carry brought into the sins of others. Keep yourself pure “(verse 22). Timothy can not do ministry alone, there are people who are appointed from among the congregation to help her duties in serving the community. For that Paul gives instructions that must be carried out either by him or by the congregation. First Timothy to teach the congregation to be able to respect the elders who serve them, and in this case, the elders are also entitled to receive benefits. An elder must not be blamed for granted by the church, but have no witnesses and evidence. Heavy duty an elder, so Timothy must not hurry up and put his hands to an elder. His appointment must be based on the terms that Paul wrote that Timothy free of partisanship in lifting an elder. Timothy successful key to it all is purity of heart, so that he himself will also not be deceived by outward appearance someone who seems so pious but also save the sin that is not visible. God sees the hearts of people who serve him, whether he truly serve with your heart or just appear to be seen of others. While on behalf of service, if service is not performed by partisanship or partiality, it would have real time the relevant contents of the liver. But if the services performed by the purity, whatever its form is as simple as having a large weight and would magnify the name of God. Purity of heart not only keep us from problems that are not necessary, but also an attractor blessing and justice of God (Psalm 24:4-5).

  PURITY BORN FROM PURIFIED PROCESS WITH FIRE.

14 August 2010

Kehidupan para Janda ( Living of Widows )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

SABTU, 14 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 5:3-16

 ”Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela” (ayat 7).  Selain dituntut untuk menghormati orang yang lebih tua darinya, Timotius juga harus menaruh hormat dan memberi perhatian terhadap masalah janda-janda. Timotius harus menggolong kan janda-janda diantara jemaat, karena perhatian kepada merekapun juga berbeda dalam arti positif. Janda yang memang benar-benar layak mendapat perhatian dan harus ditopang adalah mereka yang sudah lanjut dan tidak memliki sanak yang bisa memeliharanya dan ia sendiri hidup dalam perbuatan baik. Sedang bagi janda yang masih memiliki keluarga, pertama-tama keluarganyalah yang harus memperhatikannya sehingga ia tidak menjadi beban jemaat. Dan untuk janda-janda muda, adalah lebih baik kalau mereka itu kawin lagi, bukan hanya karena kebutuhan jasmani dan biologis, tapi juga terlebih supaya mereka tidak menjadi orang yang hanya bermalas-malas dan mencampuri urusan orang lain sehingga bisa menimbulkan gesekan yang tidak perlu terjadi ditengah-tengah jemaat. Status sebagai janda bukan alasan untuk hidup menurut maunya sendiri, tapi harus tetap memperhatikan rambu-rambu supaya mereka hidup dengan tidak bercela. Janda yang tidak mau hidup sesuai aturan akan mudah untuk tersesat seperti beberapa contoh mereka yang telah jatuh. Tuhan memang yang menjadi suami dan pemelihara janda-janda, tapi tetap harus diingat bahwa untuk dapat menikmati janji Tuhan tersebut kehidupan yang tidak bercela harus tetap dikedepan kan. Allah bisa memakai siapa saja untuk menjadi alat kemulian-Nya, termasuk janda-janda, selama yang bersangkutan mau hidup menurut kehendak Tuhan. Dan bagi semua orang, jangan perlakukan seorang janda dengan tidak hormat, jangan menindas mereka dengan diskriminasi halus, hormatilah mereka (Zakharia 7:10).  

YANG MAHA KUASA MENJADI PELINDUNG BAGI PARA JANDA . 

 SATURDAY, 14 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 5:3-16

 ”Warn this stuff to widows so they blameless” (verse 7). In addition to people who are required to respect the older, Timothy must also respect and give attention to the problem of widows. Timothy had to classify the widows among the congregation, because attention to the different in the sense that they are also positive. Widows who really deserve attention and should be supported are those who are well advanced and has no relatives who could take care of them and he himself lives in good works. As for the widows who still has family, first of all the families who have watched him so he is not a burden on the congregation. And for young widows, it is better if they were married, not just to meet the necessities of life and biological needs, but also advance so they would not be people who just laze and meddle in the affairs of others that can cause friction who do not need to happen in the middle of the church. Status as a widow is not a reason to live according to his own wants, but must still pay attention to signs that they may be blameless. Widows who did not want to live according to the rules will be easy to get lost like a few examples of those who have fallen. God did that become husband and guardian of widows, but still must remember that to be able to enjoy God’s promise is life without blemish, should remain an advantage. God can use anyone to be an instrument of His glory, including widows, during the relevant want to live according to God’s will. And for everyone, do not treat a widow with no respect, do not oppress them with subtle discrimination, respect them (Zechariah 7:10).

Protectors of the Almighty for widows

13 August 2010

Lakukanlah dengan Kasih ( Do It With Love )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

JUM’AT, 13 AGUSTUS 2010

LAKUKAN DENGAN KASIH

1 TIMOTIUS 5:1-2

 “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai sadaramu..” (ayat 1).   Berbagai peraturan dalam jemaat demi tertibnya hidup berjemaat dan beribadah adalah baik, tetapi dalam pelaksanaannya juga harus bijaksana pula. Untuk itu Paulus mengingatkan Timotius  agar dalam pelayanannya tetap tidak mengesampingkan etika atau sopan santun. Adalah tidak layak bagi seorang pelayan muda seperti Timotius untuk menegor seorang yang lebih tua darinya selayaknya ia menegor orang sebayanya. Memang ia ber kewajiban untuk menyatakan apa yang salah dan membimbingnya dalam kebenaran, tapi hal itu harus tetap dikerjakan dalam kasih dan penghormatan. Beginilah sikap yang baik sebagai seorang pelayan, menganggap laki-laki yang tua sebagai bapa dan perempuan tua sebagai ibu, laki-laki muda sebagai saudara dan perempuan muda sebagai adik. Timotius juga harus bisa mengekang dan membatasi diri khususnya dalam sikapnya terhadap perempuan muda sebab jika tidak hal itu bisa mengganggu pelayanannya dan dalam melaksanakan berbagai kebijakan yang ada. Kedudukan yang lebih dari yang lain tidak boleh membuat kita memandang yang lain lebih rendah sehingga kita bisa bertindak semaunya. Sebaliknya kita harus sadar dengan semakin tinggi kedudukan ada tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadikan diri kita sendiri sebagai teladan dalam berbuat baik. Kunci untuk bisa menjadi teladan adalah hidup dalam kerendahan hati apapun status sosial dan kedudukan kita. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberi keteladanan dan bukan sekedar memberi perintah, dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan bukan untuk mencari keuntungan (1 Petrus 5:2-3).

SIAPA MEMBERI PIMPINAN, LAKUKAN DENGAN RAJIN.

Friday, 13 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 5:1-2
“Thou shalt not be hard on older people, but rebuke him as a father. Rebuke young people as your brother .. “(paragraph 1). Various rules for the martinet in church life with the congregation and the worship is good, but in its implementation must also be wise as well. For that Paul reminds Timothy that the ministry does not take away ethics or manners. Is not feasible for a young maid like Timothy to rebuke an older man from her should she warn people age. Indeed he had an obligation to declare what is wrong and guide him in the truth, but it must still be done in love and reverence. Here’s a good attitude as a maid, thought the old man as the father and older women as mothers, younger men as brothers, and younger women as sisters. Timothy also be able to restrain and confine ourselves particularly in its attitude toward young women because otherwise it could interfere with his ministry and in implementing existing policies. Position more than others should not make us look at another lower so we can act without restraint. Instead we should be aware of the higher position that there is a greater responsibility to make ourselves as role models in doing good. The key to be a role model of humility is to live in whatever our social status and position. Good leaders are leaders who are capable of giving the model and not just give orders, and that too should be done with voluntary and not-for-profit (1 Peter 5:2-3).

WHO GIVES HEAD, DO DILIGENTLY.

12 August 2010

Hadapi dengan Iman ( Face with Faith )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

KAMIS, 12 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 4:1-16

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (ayat 16).  Paulus mengingatkan Timotius bahwa ia harus siap menghadapi pengajar-pengajar sesat yang berusaha menyesatkan jemaat. Mereka adalah orang-orang yang murtad lalu mengikuti roh penyesat dan ajaran setan-setan dan hatinyapun telah dikuasai oleh keinginan iblis. Dengan rupa-rupa peraturan mereka tampil seakan-akan menjadi orang yang mengekang diri dari keinginan dan hawa nafsu, tapi sesungguh nya mereka sedang melawan Allah yang telah menciptakan segala sesuatu untuk dinikmati dengan ucapan syukur dan bijaksana. Menghadapi gerak para penyesat tersebut, Timotius harus memperlengkapi diri dengan melatih dirinya beribadah, karena dalam ibadah yang benar terkandung janji untuk hidup didunia maupun untuk hidup yang akan datang. Panggilannya sebagai pelayan Kristus menuntut penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah dalam tanda kesetiaan. Pelayanan firman harus disampaikan dengan hati-hati, demikian pula dalam mem praktekkannya. Dengan mempraktekkan lebih dahulu firman Tuhan, Timotius menjadikan dirinya sendiri sebagai teladan meskipun ia masih muda. Maka jemaat akan membuka hati menerima kebenaran dan melakukannya sehingga mereka menjadi kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan ajaran sesat. Mempersiapkan dan memperlengkapi diri dengan selengkap senjata Allah adalah cara kita menghadapi roh penyesat dengan berbagai bentuknya, dan bukan melalui kekuatan harafiah. Memang kita masih didunia, tapi perjuangan menghadapi roh penyesat tidak dilakukan dengan senjata duniawi, melainkan dengan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah (2 Korintus 10:3-4).

KENAKANLAH SELENGKAP SENJATA ALLAH.

 THURSDAY, 12 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 4:1-16

“Watch yourself and watch your teaching. persevere in these things, because by so doing you will save yourself and all who hear you “(verse 16). Paul reminds Timothy that he should be ready to face the false teachers who try to mislead the church. They are the people who are apostate and heretic to follow the spirit and teachings of demons, and his heart has been ruled by the whims of the devil. With assorted rules appear as though they will be people who exercise restraint from desires and passions, but in fact they were being against God who has created everything to be enjoyed with thanksgiving and wise. Faced with the motion of the deceiver, Timothy must equip themselves with the training himself to worship, because in the true worship which contained a promise to the world and to live life to come. Calling as servants of Christ demanded the surrender completely to God in a sign of loyalty. Services must be delivered by word of caution, so too in her practicing. By practicing the first word of the Lord, Timothy made himself as an example even though he was young. Then the church will open our hearts to accept the truth and to do so they will be strong and not easily influenced by false teaching. Prepare and equip themselves with weapons as complete as God’s spirit is the way we deal with various types deceiver, and not through force literally. Indeed, we are still on earth, but the struggle against the spirit of deceivers is not done with earthly weapons, but with weapons that are equipped with the power of God (2 Corinthians 10:3-4).

Wear complete GOD WEAPONS

12 August 2010

R.I.P ( Requiscat in Pace )

Oleh victor anusa indra | Dalam Diakonia | Tag

Telah menghadap Allah Bapa kita di Surga dengan tenang , pada Hari Kamis, 12 Agustus 2010 

jerucoloseumaBp. Tomo Wari

(Usia 65 th)

Pengurus Kaum Senior periode 2010-2012,Sie Bezuk

 

Jenazah saat ini tengah disemayamkan di Rumah Suka Duka Kerta Semadi, Jalan By Pass Cargo, Gatsu Barat

Ibadah Penghiburan ke I, Kamis, 12  Agustus  2010 Pukul 19.00 Wita

Jenazah akan di kremasi pada Hari Jumat tanggal 13 Agustus 2010 di Krematorium Mumbul Nusa Dua

Info selanjutnya akan diberikan setelah ada kepastian dari pihak Keluarga


Demikian informasi yang dapat disampaikan, teriring doa penghiburan dari Gembala Sidang, Majelis dan seluruh Jemaat Gpt,Baithani Denpasar. Tuhan Yesus Kristus akan memberikan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan oleh kekuatan Roh Kudusnya. Segala perkara dapat kutanggung didalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku.( Fil 4:13 ).Tuhan Yesus memberkati.

10 August 2010

Bukti dan bukan Janji ( Evidence and not promise )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

SELASA, 10 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 3:8-13

 “Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa” (ayat 11). Syarat yang ditentukan bagi semua bagian, baik itu penilik jemaat maupun diaken, adalah moral yang baik. Sebagai seorang pelayan jemaat, diaken secara khusus juga dituntut memiliki pengendalian diri yang kuat, khususnya dalam hal perkataannya, atau dengan kata lain tidak bercabang lidah. Seorang diaken seyogyanya juga sudah membuktikan dirinya sendiri melalui perilaku hidup yang dapat dipercaya. Sama seperti penilik jemaat, diaken haruslah juga seorang yang dapat mengatur rumah tangganya dengan baik. Melaksanakan tugasnya dengan baik bukan hanya menjamin kedudukan mereka, tapi lebih daripada itu mereka dapat bersaksi dengan leluasa karena tidak ada sesuatupun yang buruk yang dapat dituduhkan kepadanya. Maka seharusnya tidak ada seorang yang diperkenankan untuk menjadi diaken sebelum ia dapat membuktikan dirinya sendiri bahwa ia layak dimata semua orang untuk menjabat sebagai diaken. Perlu reputasi yang baik untuk dapat mencapai dan mempertahankan kedudukan sebaga seorang diaken. Menempati kedudu kan yang baik dalam pelayanan maupun dalam dunia sekuler adalah hal yang indah, dan akan terasa lebih indah lagi bila cara mendapatkanya melalui perkara dan perjuangan yang baik sesuai dengan kehendak Allah. Tunjukkan prestasi, hasilkan karya dan biarkan orang yang menilai apakah kita layak untuk suatu posisi atau tidak. Lakukan segala yang dipercayakan dengan bertanggung jawab dan bersungguh-sungguh. Jika kita melayani, mari lakukan dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah supaya Allah dipermuliakan dalam segala sesuatu (1 Petrus 4:11). SIAPA SETIA DALAM PERKARA KECIL, AKAN DIPERCAYAKAN PERKARA BESAR.

TUESDAY, 10 AUGUST 2010

 1 TIMOTHY 3:8-13

“Because those who serve well obtain a good position so that in faith in Christ Jesus they can testify freely” (verse 11). Conditions are determined for all sections, both bishops and deacons, is morally good. As a servant of the church, deacons are also specifically required to have a strong self-control, especially in terms of words, or in other words not forked tongue. A deacon should also already proven itself through behaviors that can be trusted. Just as bishops, deacons must also someone who can manage his household well. Do their job properly not only ensure their own positions, but more than that they can testify freely because there is nothing bad that can be attributed to him. So no one should be allowed to become a deacon before he can prove himself that he deserved in the eyes of all people to have served as a deacon. Need a good reputation to be able to achieve and maintain a position as a deacon. Occupying a good position in the ministry as well as in the secular world is a beautiful thing, and will feel more beautiful when and how to get it through the struggle of good things according to God’s will. Show achievements, produced the work and let people judge whether we are eligible for a position or not. Do all that is entrusted with a responsible and serious. If we serve, let’s do with the power granted by God that God may be glorified in all things (1 Peter 4:11). WHO IS FAITHFUL IN LITTLE THINGS,  WILL BE THE GREAT TRUSTED.

9 August 2010

Ukur diri sendiri ( Measure Yourself )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

Korban DiaSENIN, 9 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 3:1-7

“Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang” (ayat 2). Penilik jemaat, yang berarti mengepalai atau mengurus, adalah jabatan yang indah, untuk itu tidak sembarang orang bisa memangku jabatan tersebut. Ada kriteria yang harus dipenuhi untuk seorang mendapat jabatan tersebut.  Jabatan tersebut menghendaki seorang laki-laki yang tak bercacat, suci, dapat menahan diri dan murah hati, serta tidak ketinggalan ia adalah seorang yang sudah dewasa baik usia maupun rohaninya, yang juga cakap dalam mengatur rumah tangganya. Kehidupan nikah yang sehat juga merupakan syarat utama bagi seorang penilik jemaat. Hal-hal tersebut diperlukan bukan hanya sekedar sebagai syarat jabatan, tapi juga demi kebaikan yang bersangkutan. Jika semua hal tersebut dipenuhi, maka tidak ada celah bagi iblis untuk menggocohnya, baik didalam maupun diluar jemaat. Sebaliknya, jika ia seorang yang belum dewasa, petobat baru, bahaya kesombongan sudah didepan mata, sedang kesombongan itu sendiri adalah awal kejatuhan. Keberhasilan dalam mengepalai rumah tangganya menjadi tolak ukur keberhasilan seorang penilik jemaat. Jangan hanya menginginkan jabatan atau posisi, ukur diri sendiri, dan ini bukan masalah kemampuan ataupun karunia, melainkan masalah moral, karakter dan kepribadian dan kedewasaan. Cobalah berpikir kedepan, jika memang tahu belum mampu tapi memaksakan diri, pertaruhannya adalah kelagsungan pembinaan iman jemaat yang bisa terganggu. Jangan anggap diri sendiri pandai dan merasa mampu mengambil segala perkara sekalipun itu bukan menjadi bagiannya, tapi arahkan diri pada perkara sederhana sesuai dengan kemampuan yang Tuhan beri (Roma 12:16).

JANGAN ANGGAP DIRIMU SENDIRI BIJAK.

 MONDAY, 9 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 3:1-7

A bishop then must be a man of irreproachable, the husband of one wife, can be restrained, thoughtful, polite, likes to give a lift, able to teach people” (paragraph 2). Bishop, which means head or care, is a beautiful position, for it is not just anyone can assume the position. There are criteria that must be satisfied for a got job. The position requires a man unsullied, holy, can hold back and generous, and no lag he is an adult who has been both age and spiritual, who is also proficient in managing their households. Life of a healthy marriage is also a key condition for a bishop. These are necessary not only as a requirement of position, but also for the good in question. If all things are fulfilled, then there is no room for the devil to charge him, both within and outside the church. Conversely, if he is an immature, new converts, the danger of pride is front of the eyes, is arrogance itself is the beginning of the fall. Success in the heads of the household becomes a benchmark for the success of a bishop. Do not just want a job or position, measure yourself, and this is not a matter of ability or gift, but a matter of morals, character and personality and maturity. Try to think ahead, if you did know but have not been able to impose itself, at stake is the continuity of faith in the church building which could be disrupted. Do not consider yourself smarter and feel able to take everything, even if it was not a part, but the point yourself in the simple case in accordance with the capabilities that God give us (Romans 12:16).
Do not assume wise in your own