Get Adobe Flash player
28 February 2011

Bangsa didalam terang ( Nation in the light )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

cross_on_blueSENIN, 28 PEBRUARI 2011

kEJADIAN 10:1-32

“Itulah segala kaum anak-anak Nuh menurut keturunan mereka, menurut bangsa mereka. Dan dari mereka itulah berpencar bangsa-bangsa dibumi setelah air bah itu” (ayat 32).  Kitab Kejadian memiliki keistimewaan tersendiri yakni disebut juga sebagai kitab permulaan. Dalam kitab inilah tercatat permula an alam semesta, permulaan hidup manusia, permulaan pernikahan, permulaan sabat, permulaan dosa, permulaan rencana keselamatan, permulaan peradaban dan permulaan bangsa-bangsa. Ketiga anak Nuh yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa yang ada dibumi masing-masing membawa suasana berkat atau kutuk bagi kaum dan bangsanya sesuai dengan yang mereka terima dari leluhurnya, Nuh. Secara umum dan garis besarnya, Sem menghadirkan bangsa-bangsa di timur tengah plus Israel karena nenek moyang Israel, yakni Abram berasal dari timur tengah. Sementara dari Yafet akhirnya muncul bangsa yang besar, yakni Rusia. Dan Ham menghadirkan bangsa Palestina, Mesir dan bangsa-bangsa lain yang secara geografis ada di Afrika dan sebagian Asia selatan. Kehendak bebas yang Allah berikan membuat bangsa -bangsa berkembang, tapi kehendak bebas itu juga membuat bangsa-bangsa bebas untuk mencari tuhan yang mereka sembah sesukanya sehingga banyak bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena yang mereka sembah sesungguhnya bukan Tuhan. Dia bukan Allah milik satu kaum atau bangsa saja, Dia adalah Allah semua bangsa-bangsa lain, baik yang bersunat maupun yang tidak bersunat, hanya bangsa tersebut sendirilah yang memilih allah bagi diri mereka sendiri. Bangsa yang mau berjalan dalam terang Nya dan menyembah-Nya, akan menikmati berkat-Nya dan segala yang baik, sementara yang tidak mempercayai-Nya akan tetap berjalan dalam kegelapan. Kehadiran Mesias kedunia mampu membawa bangsa yang berjalan dalam kegelapan dan negeri yang diam dalam kekelaman melihat terang yang besar (Yesaya 9:1).

BERBAHAGIALAH BANGSA YANG ALLAHNYA ADALAH TUHAN.

 MONDAY, February 28, 2011

10:1-32 EVENTS

“That’s all the sons of Noah according to their offspring, according to their nations. And of those that split the nations on earth after the flood it “(verse 32). Genesis has a distinctive book that is referred to as the beginning. In this book noted the beginning of the universe, the beginning of human life, the beginning of the marriage, the beginning of the Sabbath, the beginning of sin, the beginning of the plan of salvation, the beginning of civilization and the beginning of nations. Third son of Noah who became the forerunners of the nations on earth to bring the atmosphere of each blessing or curse for the nation and in accordance with which they received from their ancestors, Noah. In general and outlines, Shem brings the nations of the Middle East plus Israel because the ancestors of Israel, the Abram came from the middle east. While from Japheth great nation finally emerged, namely Russia. And Ham bring the Palestinians, Egypt and other nations that are geographically in Africa and parts of southern Asia. God-given free will to make developing nations, but it also makes the free will of nations free to find a deity that they worship as they please so many people who walk in darkness because they worship is not really God. He is not God belong to one of the only, or a particular nation, He is the God of all other nations, whether circumcised or uncircumcised, the only people themselves who choose for themselves their own gods. Nations that want to walk in His light and His worship, will enjoy his blessing and all that is good, while that does not believe in Him will keep running in the dark. The presence of the Messiah into the world able to bring people who walk in darkness and silence on the eve of the country which saw great light (Isaiah 9:1).

BLESSED NATION, WHICH IS LORD HIS GOD.

28 February 2011

Dampak Kesaksian yang Hidup

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah, Khotbah Minggu | Tag

ibadah_setiabudiRingkasan khotbah minggu pagi

20 Februari 2011

 DAMPAK KESAKSIAN YANG HIDUP.

II Raja-raja 5:1-6

Oleh Pdp. Supardji Utomo

 Pagi ini bersama-sama kita akan belajar tentang dampak kesaksian yang hidup. Pelajaran yang berharga ini kita pelajari dari kisah Namaan, yaitu dari kesaksian hidup tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Ada beberapa tokoh dalam kisah Naaman ini antara lain : Raja Aram, Raja Isarel, Naaman, Anak Perempuan yang tertawan/pegawai-pegawai Naaman, Elisa, dan Gehazi. Namun pagi ini kita akan mempelajari dua figur saja yaitu, Naaman dan anak perempuan Israel yang tertawan.

 

Apa yang  pagi ini kita pelajari juga berkaitan dengan misi gereja kita pada butir pertama yaitu : memperlengkapi talenta  dan memberdayakan karunia jemaat. Seperti yang disampaikan Bapak Gembala melalui khotbahnya pada pertengahan tahun 1995 / 1996, Allah berkarya melalui gereja lokal dengan lima jawatan yaitu : Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, Guru dan diperlengkapi dengan karunia-karunia, ini bagaikan kesatuan dari satu tubuh, menyatu dan saling bekerja sama. Tidak ada satu bagianpun dari tubuh kita, terutama sel yang hidup yang tidak berguna, semua memiliki peran, semua ada manfaatnya mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki.

 

Dalam sebuah bukunya Juan Carlos Curtis yang adalah  pendeta sekaligus penginjil mengisahkan bahwa  ia telah memulai pelayanannya dengan seratus delapan puluh empat orang, kemuadian ia mengikuti seminar dan membaca banyak buku dan kemudian diterapkan dalam pelayanannya. Gerejanya berkembang, jemaatnya menjadi enam ratus orang, tetapi dengan jumlah yang sedemikian perkembangan menjadi  stacknan/berhenti, pelayanannya tidak bertambah lagi, sekalipun bertambah mereka tidak bertumbuh . Setelah bergumul dua minggu, mengambil waktu secara pribadi untuk berdoa kepada Tuhan, ia menemukan bahwa ia harus turun kepada jemaat, harus menyatu dengan mereka. Dengan demikian, maka ia akan menemukan talenta-talenta  yang dimiliki jemaatnya. Semua komponen gereja harus mendukung Visi &Misi gereja, bagi orang percaya tidak ada yang boleh nganggur.

 

Kembali lagi pada kisah Naaman, pada  ayat pertama kita bisa mengetahui bahwa, Naaman adalah panglima raja Aram, orang yang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi tuannya, dikenang oleh Tuhan, tetapi ia juga pahlawan yang sedang sakit kusta. Naaman adalah gambaran orang yang sedang mencapai puncak kejayaan, bukan saja jabatan, posisi dalam pemerintahan, tetapi ia juga sangat kaya, berlimpah secara finansial. Hal ini disebutkan pada ayat lima : “Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian” Jika dihitung, satu  talenta sama dengan tiga puluh empat kilogram, jadi  sepuluh talenta sama dengan tiga ratus empat puluh kilogram. Jika satu gram perak nilai jualnya enam puluh ribu pergram menurut data dari geogle, maka total semuanya senilai dua puluh empat miliar empat ratus juta rupiah. Sedangkan satu syikal sama dengan sebelas koma empat gram, satu gram emas dua puluh empat karat saat ini harganya empat ratus tiga puluh empat ribu lima ratus rupiah, maka enam ribu syikal emas, nilainya dua puluh sembilan miliar tujuh ratus Sembilan belas juta delapan ratus ribu rupiah. Jadi  total keseluruhan mencapai lima puluh sampai lima puluh lima miliar rupiah. Secara financial Naaman sungguh sangat kaya.

 

Selanjutnya pada ayat yang kedua kita menjumpai tokoh lain yang dituliskan sebagai Anak perempuan Israel yang tertawan. Jika kita bandingkan maka posisi / status anak ini sangat kontras dengan Naaman, namanya saja tidak disebutkan, ia menjadi tawanan perang, pada saat itu anjing piaran masih sangat beruntung hidupnya daripada seorang tawanan, karena tawanan kerap disiksa,bahkan  tidak diberi makan.  Ia perempuan dan masih anak-anak, orang menyebutnya masih bau kencur / tidak memiliki pengalaman. Ini merupakan gambaran dari wong cilik, orang yang tidak pernah diperhatikan, orang pinggiran (orang yang termarginalkan). Menyikapi pribadi level Namaan dan melihat kenyataan hidup anak perempuan Israel ini, menyadarkan kita bahwa di dunia ini hidup orang-orang dengan level majemuk. Namun seringali perhatian kita cenderung memandang ke level Naaman. Karena kaya maka  si “A” diangkat jadi majelis, memperoleh ini dan itu. Saudara, ini adalah pola pikir yang salah.

 

Sekalipun ia seorang tawanan, namun anak ini mempunyai keberanian yang luar biasa. Coba kita bayangkan – seorang pembantu rumah tangga (anak ini lebih rendah dari pembantu rumah tangga) masih bisa menangkap peluang dengan melontarkan kata-kata  iman. Ini adalah perbuatan yang sangat beresiko, bisa disebut sebagai pelecehan bagi Naaman. Jika usulan ini ditolak, tentunya hidup anak ini ke depan sangat suram. Anak ini tentunya tumbuh di keluarga yang mengasihi Tuhan, keluarga yang selalu mengajarkan bahwa kuasa dan pertolongan Tuhan itu sungguh nyata, keluarga yang selalu berharap pada Tuhan, sehingga ia tumbuh dalam kebenaran Tuhan. Kata-kata iman yang ditanamkan oleh keluarganya sejak kecil, menciptakan sebuah keyakinan yang luar biasa kepada Tuhan, sehingga dengan dengan percaya diri ia berkata kepada isteri Namaan, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

 

Isteri Naaman menyampaikan cerita ini kepada Naaman, dan kemudian Naaman menanggapinya  secara positif. Perpaduan antara perkataan iman anak perempuan Israel dengan kerendahan hati Naaman, membuahkan sebuah tindakan bagi Naaman, ia berangkat ke Israel dengan membawa persembahan, ini dapat diartikan bahwa ia berangkat dengan keyakinan. Sesampainya di Israel Naaman menyerahkan surat pengantar yang ditulis Raja Aram bagi Raja Israel dan surat ini menimbulkan kemarahan Raja Israel. Namun setelah didengar oleh Nabi  Elisa maka Naaman disarankan agar datang kepadanya.

 

Naaman adalah seorang panglima, ia biasa memperoleh perlakuan yang semestinya namun setibanya di kediaman Nabi Elisa, ia hanya ditemui seorang pembantu nabi Elisa. Pada ayat yang kesebelas kita dapat membaca betapa kecewanya Naaman dengan sambutan Elisa, perkataannya adalah reaksi pada puncak kemarahan, ia merasa sangat dilecehkan. Namun pada ayat yang keduabelas, dituliskan bahwa pertolongan datang dari pegawai-pegawainya, sekali lagi dari wong cilik. Berkat namaan turun karena mendengar wong cilik. Pikiran Namaan terlalu tinggi, sehingga ia tidak dapat menerima  usulan untuk hal-hal yg sederhana.

 

Perilaku Naaman mengingatkan kepada kita bahwa setinggi apapun yang dicapai seseorang pada suatu saat akan pasti akan mentok/buntu. Oleh karenanya kita diingatkan untuk tidak berharap pada manusia. Dalam kitab Yeremia 17:5dikatakan “terkutuklah orang yang mengandalkan manusia”, dalam kitab Yesaya 64:6 dituliskan “segala kesalehan manusia seperti kain kotor”, dalam kitab  Mazmur 103:15-16 dituliskan “hari-hari manusia seperti rumput”. Sesungguhnya manusia tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan di hadapan Tuhan. Keberhasilan kita saat ini hendaknya tidak membuat kita menjadi sombong. Jika seseorang memiliki karunia memberi itu artinya ia memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain, hal ini bisa berupa usul atau materi. Orang kaya harus merelakan hidupnya dibentuk oleh Firman Tuhan, agar ia tidak serakah, karena mammon ada rohnya – ia begitu mengikat dan jahat, menyebabkan orang tidak akan pernah puas (seperti Gayus Tambunan). Orang kaya dalam gereja bukan untuk pamer tetapi agar ada keseimbangan.

 

Setiap talenta harus digarap, seperti usul yang sederhana dapat membawa berkat kesembuhan dan keselamatan. Mari belajar dari Anak perempuan Israel dengan kata-kata imannya: dibalik ketidak berdayaannya, ia sangat menghargai talenta yang dimilikinya. Ia menyadari bahwa Tuhan menciptakannya karena dan dalam anugerah. Allah tidak menciptakan manusia dengan iseng, dalam kitab Mazmur 103:14, dituliskan bahwa manusia berasal dari debu, namun debu yang memiliki potensi luar biasa, karena di dalamnya tersimpan harta keyaan yaitu kekuatan ilahi. Sekali lagi, siapapun kita mari belajar dari anak perempuan Israel ini, selalu siap sedia mengambil kesempatan mengabarkan kabar baik. Jangan berpangku tangan, tidak ada seorangpun yang tidak berguna. Anak perempuan Israel ini hidup dalam banyak keterbatasan namun bisa mengusulkan sesuatu yang berdampak baik bagi orang lain. Apalagi kita yang saat ini memiliki kesempatan yang luas.

 

Ternyata wong cilik/orang terpinggirkan/tidak diperhatikan, jika diberi kesempatan mampu menghasilkan sesuatu. Jika Naaman tidak mendengarkan Anak perempuan Israel dan pegawai-pegawainya maka ceritanya akan berbeda. Betapa pentingnya belajar dari peristiwa/berbagai kejadian saat ini, Benny Hinn, James Backer, tidak mau mendengarkan jemaat dan orang-orang terdekatnya sehingga ia jatuh. Jangan sepelekan orang kecil. Dan jika kita merasa sebagai wong cilik, jangan kecil hati dengan kondisi saat ini, percayalah! kita berharga di mata Tuhan. Tuhan memiliki rencana bagi setiap kita dimanapun kita ditempatkan.

 

Saya akhiri khotbah pagi ini dengan sebuah kisah bersejarah yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Israel, yaitu ketika mengunjungi gereja sampah di daerah Alexandria. Disana terdapat bongkah bukit yang bernama makatam. Sejarah Mesir mencatat bahwa bukit ini bergeser/pindah sejauh empat kilometer. Hal ini disebabkan karena pada masa itu (tahun 975 sebelum masehi) Mesir mengalami masalah politik yang serius, yang membuat keristenan /orang Kristen hidup dalam tekanan karena harus keluar dari Mesir. Ada salah satu tentara Mesir/pemuka pemerintahan di Kairo memberi tahu kepada Bapa Sinoda (pemimpin jemaat) bahwa orang Mesir terusik dengan pengajaran Yesus tentang iman sebesar biji sesawi dapat memindahkan gunung. Mereka menganggap ini adalah ajaran sesat. Gunung sering kita pahami sebagai masalah, namun tidak demikian dengan orang Mesir, mereka mengartikannya secara lahiriah. Mereka menantang orang percaya saat itu, jika perkataan Yesus dapat dibuktikan maka mereka tidak perlu keluar dari Mesir. Maka Bapa Sinoda segera meresponinya, ia mengumpulkan seratus orang percaya, dan naik ke bukit Makatam. Di sana mereka berdoa selama tiga hari tiga malam, hanya sebaris kalimat yang diucapkan berulang-ulang, yaitu “Tuhan kasihanilah kami”.  Hari pertama gunung mulai goyah – Mesir gempar, hari kedua gunung beranjak – Mesir tambah gempar, dan hari ketiga gunung mulai berjalan – Mesir berteriak HENTIKAN! Saudara, hal ini pernah terjadi. Jika saja peristiwa ini terjadi 325 tahun sebelum masehi tentunya akan dikanonkan.

 

 Iman sebesar biji sesawi bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, jadi mari berjuang mulai dengan talenta yang kecil, jangan sampai kita dipandang oleh Tuhan sebagai orang-orang  yang  menyembunyikan talenta  – (Matius 25:25, orang jahat/malas/ tidak berguna). Dalam 1 Timotius 4:14a kita diingatkan untuk tidak lalai mempergunakan karunia yang kita miliki. Tidak ada satu jemaatpun yang berkata aku tidak bisa apa-apa, semua kita diberi talenta. Anak perempuan Israel mengembangkan talentanya,  sehingga ia memiliki kesaksian hidup yang luarbiasa, dan bisa memberkati orang lain. Dalam ayat ke lima belas bagian b, segala sesuatu yang kita lakukan harus bertujuan agar nama Tuhan yang dipermuliakan. Dalam ayatnya yang ketujuh belas dituliskan bahwa Naaman diselamatkan, dan ia bertobat. Saudara, jangan pernah mengadalkan manusia, kejayaan Naaman menyadarkan kita bahwa, Kemegahan, kejayaan dan kekuatan manusia sangat terbatas, suatu saat pasti akan mentok, tetapi bagi orang percaya SELALU ADA HARAPAN. Tuhan Yesus memberkati!

 

-Cyelamardyasmara-

26 February 2011

Keturunan yang diberkati (Descendants of the blessed )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) by WSB Editorial Staff

pelataranSABTU, 26 PEBRUARI 2011

KEJADIAN 9:18-29

“Allah meluaskan kiranya tempat kediaman Yafet, dan hendaklah ia tinggal dalam kemah-kemah Sem, tetapi hendaklah Kanaan menjadi hamba baginya” (ayat 27).  Sangat disayangkan sebenarnya jika hanya ada empat pasang manusia yang selamat dari air bah, yakni Nuh dan isterinya beserta ketiga anak mereka dengan isterinya masing-masing, tapi salah satu dari mereka harus hidup dalam suasana kutuk. Sikap Ham yang kurang menghormati ayahnya dan tidak menghargai kekudusannya, menghadirkan kutuk dalam hidupnya, yakni ia menjadi hamba bagi kedua saudaranya yang lain.   Sebaliknya sikap Sem dan Yafet yang menghormati dan menghargai kekudusan ayahnya menghadirkan berkat dalam hidup mereka. Semua itu bermula dari peristiwa dimana Nuh, setelah air bah itu, menjadi petani dan membuat kebun anggur dan sekali peristiwa ia mabuk anggur dan telanjang karenanya. Ham yang melihat ayah nya telanjang justru membeberkan aib tersebut kepada dua saudaranya tanpa mengambil tindakan apa-apa untuk menutupinya, sedang dua saudaranya yang lain demi mendengar apa yang sedang terjadi dengan ayahnya langsung mengambil tindakan untuk menutupi ketelanjangan ayahnya. Dua hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari peristiwa tersebut adalah supaya kita sebagai seorang anak tahu menghor mati dan menghargai kekudusan orang tua. Dan sebagai orang tua kita juga harus belajar untuk mengen dalikan ucapan bibir, karena ingat, perkataan orang benar itu ada kuasa didalamnya, dan tentu kita tidak mau anak-anak kita hidup dalam suasana kutuk oleh karena perkataan orang tuanya sendiri. Berkat atau kutuk, baiklah setiap kita tahu kedudukan dan tanggungjawabnya masing-masing didalam Tuhan supaya kita juga dapat hidup dalam suasana kelimpahan berkat-Nya (Kolose 3:18-21).

TAKUT AKAN TUHAN, ADALAH SUMBER BERKAT.

SATURDAY, February 26, 2011

9:18-29 EVENTS

“God would extend the residence of Japheth, and let him stay in the tents of Shem, but let Canaan a servant for him” (verse 27). It is unfortunate that in fact if there were only four pairs of men who survived the flood, namely Noah and his wife and their three children with his wife each, but one of them must live in an atmosphere of condemnation. Ham attitude is less honor his father and did not appreciate his holiness, to bring the bane of his life, that he became a servant for the two other siblings. Shem and Japheth contrary attitude of respect and value the sanctity of her father brings blessings in their lives. It all stems from events in which Noah, after the flood, became farmers, and plant vineyards and wine at all events he was drunk and naked for it. Ham saw his father naked actually reveal disgrace to the two brothers without taking any action to conceal it, while two other brothers in order to hear what is going on with his father immediately took action to cover the nakedness of his father. Two things we can take lesson from these events is that we as a dead child knows respect and appreciate the holiness of their parents. And as parents we also have to learn to control speech mengen lips, because remember, the word of truth is the power in it, and we certainly do not want our children to live in the atmosphere because of the curse by saying his parents own. Blessing or a curse, let each of us know the position and responsibilities of each in God so that we too can live in an atmosphere of an abundance of thanks to Him (Colossians 3:18-21).

 FEAR WILL LORD IS BLESSING SOURCE.

25 February 2011

Perjanjian yang abadi ( The Eternal agreement )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

marquee_SuprtKingdomRenungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB Editorial staff

JUM’AT, 25 PEBRUARI 2011

KEJADIAN 9:1-17  

“Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi” (ayat 11).  Murka Allah telah surut, apalagi Nuh berhasil melunakkan hati-Nya dengan korban persembahannya, akibatnya bukan hanya Allah berfirman dalam hati-Nya takkan mengutuk bumi lagi, tapi juga Allah mengikat perjanjian dengan Nuh dan segala makhluk hidup lainya. Allah berjanji bahwa Ia tidak akan lagi memusnahkan bumi dengan air bah apapun keadaannya. Dan sebagai tanda perjanjian Allah menaruh busur-Nya diawan, maka apabila datang awan dan busur itu nampak diawan, Allah mengingat perjanjian-Nya dengan segala makhluk. Dan bukan hanya perjanjian yang Allah nyatakan dengan Nuh, tapi Ia juga memberkatinya dan berfirman kepadanya supaya manusia yang masih sisa itu beranak cucu, bertambah banyak dan memenuhi bumi. Tapi sejak saat itu juga Allah memberikan aturan perlindungan akan kesela matan dan nyawa manusia, yakni setiap orang yang menumpahkan darah sesamanya, Allah akan menuntutnya sebab Allah membuat manusia menurut gambar dan rupanya sendiri. Allah telah memegang janji-Nya, sampai saat ini bumi masih terpelihara dan manusia terus bertambah banyak sekalipun juga dosa dan kejahatan terus bertumbuh. Bukan hanya secara umum terhadap manusia dan bumi Allah memegang janji-Nya, tapi terlebih juga terhadap umat yang percaya dan menyembah-Nya, baik secara umum mau pun pribadi. Maka jangan pernah ragukan kesetiaan Allah akan janji-Nya, itu sudah terbukti, termasuk juga didalamnya janji akan kedatangan Anak-Nya yang tunggal kedua kalinya kedunia ini. Percayalah, Dia adalah Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang mengasihi-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai pada beribu-ribu keturunan (Ulangan 7: 9).

 ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MELANGGAR PERJANJIAN-NYA

Friday, 25 February 2011

EVENTS 9:1-17

“So I held my covenant with you, that since there is no living that will be swept away by flood waters again, there will be no flood to destroy the earth” (verse 11). God’s anger has subsided, especially Noah managed to soften his heart with his offering, a result not only God said in His heart would not curse the earth again, but also God’s covenant with Noah and all other living things. God promised that He will not again destroy the earth with a flood of the circumstances. And as a sign of the covenant God set His bow in the cloud, then the clouds come and bow when it appears in the clouds, God remember His covenant with all creatures. And not only that God’s covenant with Noah’s claim, but He also blessed him and said to him that humans are still the remaining childless grandson, multiply and fill the earth. But since then God also gives rules for the safety and protection of human life, that every person who shed the blood of others, God will demand it because God made man in our image and apparently myself. God has kept His promise, until recently the earth has been preserved and continue to multiply despite human sin and crime also continued to grow. Not just in general to humans and the earth God is in His promise, but especially also against people who believe and worship Him, both public and private. So do not ever doubt God’s faithfulness to His promise, it has been proven, including in it the promise of the coming of His only begotten Son the second time in this world. Believe me, He is faithful God, who holds the contract and His unfailing love toward those who love Him and keep His commandments, to the thousands and thousands of descendants (Deuteronomy 7: 9).

 GOD WILL NEVER VIOLATED HIS CONTRACT.

24 February 2011

Senangkan hati-Nya ( Fun heart God’s )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB Editorial Staff

niceKAMIS, 24 PEBRUARI 2011

KEJADIAN 8:1-22  

Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah Tuhan dalam hati-Nya: “Aku tak kan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat sejak kecilnya dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan” (ayat 21).  Seratus lima puluh hari air menggenangi bumi hingga matilah segala yang bernafas dibumi kecuali Nuh dan keluarganya yang ada dalam bahtera. Allah mengingat Nuh, maka Ia menutup segala mata air dan menghentikan hujan serta membuat angin berhembus untuk mengeringkan bumi. Setelah bumi benar-benar kering, Nuh beserta keluarganya dan seluruh binatang keluar dari bahtera dan ia mendirikan mezbah bagi Tuhan, mempersembahkan korban bakaran yang menyenangkan hati Tuhan. Itu menjadi persembahan yang harum dihadapan Tuhan, yang menarik belas kasih dan kemurahan-Nya atas manusia sehingga Tuhan berfirman dalam hati-Nya takkan mengutuk bumi lagi dengan air bah, sekalipun Ia tahu bahwa benih dosa tetap ada dalam diri manusia yang selamat yang membuat hati manusia tetap cenderung untuk berbuat jahat sejak dari kecilnya. Tidak dengan rela hati Allah memukul, dan kalaupun itu Ia lakukan adalah demi kebaikan kita sendiri. Juga tidaklah berat untuk melunakkan hati-Nya, Ia adalah Allah yang penuh belas kasihan, maka dengan merendahkan diri dihadapan-Nya dengan sungguh -sungguh, tidak akan Ia bertahan dalam murka-Nya dan Ia akan segera memeluk kita dalam dekapan kasih-Nya. Hanya jangan mempermain-mainkan belas kasih-Nya karena Ia juga adalah Allah yang adil yang akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Jangan berkeras hati dengan kebenaran diri sendiri, lunakkan hati Allah dengan merendahkan diri, maka Ia akan memulihkan kita (2 Tawarikh 33:12-13).

PERSEMBAHKAN SYUKUR DALAM KERENDAHAN HATI SEBAGAI KORBAN.

THURSDAY, February 24, 2011

EVENTS 8:1-22

When the Lord smelled a fragrant offering, the LORD said in his heart:” I do not curse the earth again because of man, even if that caused his heart is evil from his small and I will not again destroy every living thing like that I do “(verse 21). One hundred and fifty days the water flooded the earth until death came to all that breathes on earth except Noah and his family are in the ark. God remembers Noah, then he closed the spring waters and stop the rain and make the wind blowing to dry the earth. Once completely dry earth, Noah and his family and all the animals out of the ark and he built an altar to God, making the offerings which are pleasing to God. It becomes a fragrant offering to God, who pulled his compassion and his generosity to mankind so that God said in His heart would not curse the earth again with a flood, even though he knew that the seed of sin still exist in the person who survived that makes the human heart still tend to do evil since the small. God does not willingly beat, and even if it he did was for our own good. Also it is not hard to soften his heart, He is God who is merciful, then to humble ourselves before Him earnestly, He will not survive the wrath of him, and he will soon embrace you in His arms of love. Just do not fool him mercy because he also is a just God who will repay each person according to his deeds. Do not insist on careful with the truth of yourself, softened the heart of God with humility, He will restore us (2 Chronicles 33:12-13).

THANKSGIVING IN HUMILITY OFFER AS A SACRIFICE.

23 February 2011

Pasti diselesaikan-Nya ( Completly sure by Him )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( daily bread bilingual edition ) by WSB Editorial Staff

Korban DiaRABU, 23 PEBRUARI 2011

KEJADIAN 7:1-24   

“Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang dimuka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung diudara, sehingga semuanya dihapuskan dari muka bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera” (ayat 23).  Allah menggenapi firman-Nya, tujuh hari sebelum air bah datang, Ia menyuruh Nuh dan keluarga nya masuk dalam bahtera yang telah dibuatnya, lalu menutup pintu bahtera tersebut dan Nuh melakukan segala yang diperintahkan Tuhan kepadanya dengan membawa segala jenis binatang yang tidak haram tujuh pasang dan yang haram satu pasang. Tujuh hari kemudian air bah benar-benar melanda bumi, selama empat puluh hari terjadi hujan lebat dan segala mata air terbuka, bahkan air bah itu berkuasa atas bumi selama seratus lima puluh hari. Maka matilah semua yang bernafas dibumi, tidak ada yang ter kecuali, hanya mereka yang mendapat kasih karunia Allah yang tinggal hidup, yakni Nuh dan keluarga nya yang ada dalam bahtera. Air bah itu sangat dahsyat bahkan sampai melebihi setiap gunung yang tinggi. Tak ada yang dapat menghentikan jika Allah sendiri telah mengambil keputusan untuk melaku kan suatu perkara sampai Ia menyelesaikannya. Alangkah baik dan indahnya jika itu adalah untuk kebaikan kita, tapi betapa mengerikannya jika itu dilakukan Allah untuk menghukum dosa kita. Ngeri benar jika jatuh dalam tangan kekerasan Tuhan, maka hargailah kemurahan-Nya, jangan menunggu mengalami kekerasan-Nya baru menyadari arti kemurahan dan belas kasih-Nya. Allah tidak pernah ber ubah, apa yang dikehendaki-Nya pasti dilaksanakan-Nya tanpa ada yang dapat menghalanginya dan Ia juga pasti menyelesaikan apa yang telah ditetapkan-Nya tersebut (Ayub 23:13-14).

ALLAH TIDAK AKAN PERNAH BEKERJA SETENGAH HATI.

WEDNESDAY, February 23, 2011

EVENTS 7:1-24

“This is what God eliminated all that is, everything on earth, both man and beast and creeping things and birds of the air, so that all eliminated from the face of the earth, only Noah was left alive and all of that together with him in the ark” ( paragraph 23). God fulfilled his word, seven days before the flood came, He told Noah and his family entered the ark which he had built, and closed the door ark and Noah did everything God commanded him to bring all kinds of domesticated animals and seven pairs one pair of unclean. Seven days later the flood actually hit the earth, for forty days it was raining heavily and all the springs open, the floodwaters and even rule over earth for one hundred and fifty days. So die all who breathe on earth, nothing happened except, only those who receive the grace of God who lives life, namely Noah and his family are in the ark. The Flood was very powerful even to exceed every high mountain. Nothing can stop if God himself has taken the decision to do it an issue until he finished. What a nice and beautiful if it is for our good, but how terrible if it is done by God to punish our sins. True horror of violence if it falls in the hands of God, then respect God’s grace, do not wait for experiencing violence just realized the meaning of His mercy and His mercy. God never had to change, what He will surely be his and no one can stop him and he also must finish what it set Him (Job 23:13-14).

 GOD WILL NEVER WORKING  HALF- HEARTEDLY.

22 February 2011

Mengundang berkat ( Inviting blessing )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial Staff

berdoaSELASA, 22 PEBRUARI 2011

KEJADIAN 6:9-22              

“Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela diantara orang-orang sezaman nya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah” (ayat 9).  Dalam rasa sedih dan sesal-Nya melihat kejahatan manusia dibumi sehingga Ia berikhtiar untuk memusnahkan manusia, Allah masih melihat seorang manusia yang hidupnya berkenan dihadapan-Nya. Dia adalah Nuh, seorang ayah dengan tiga orang anak laki-laki: Sem, Ham dan Yafet. Sementara manusia lainnya mempraktekkan hidup jahat dimata Tuhan, Nuh justru hidup benar dan tidak bercela dihadapan Allah, ia hidup bergaul dengan Allah . Bukti bahwa Nuh hidup benar  dan tidak bercela serta bergaul dengan Allah adalah ketaatannya akan perintah Allah untuk membuat bahtera yang besar sehingga iapun rela diolok-olok karena kapal tersebut dibuat ditempat dan dalam keadaan yang tidak semestinya. Sebagai akibatnya Nuh mendapat kasih karunia dimata Tuhan sehingga ia dan keluarganya tidak akan turut dimusnahkan Allah bersama-sama dengan manusia yang lain. Allah memberitahukan rencana-Nya untuk memusnahkan manusia kepada Nuh dan sebagai cara pemeliharaan Nuh disuruh membuat bahtera karena Allah akan memusnahkan manusia dengan air bah. Bagaimana dengan kita sekarang yang hidup dalam suasana seperti zaman Nuh dimana dosa dan kejahatan merajalela, apakah kita ikut arus dunia dengan mempraktekkan cara hidup seperti orang yang tidak mengenal Allah atau berani melawan arus dosa dengan hidup benar dihadapan-Nya? Hidup benar dihadapan-Nya ditengah dunia yang rusak akan menyelamatkan kita dari kebinasaan yang bisa menimpa manusia kapan saja. Memang sekarang adalah jaman yang gila tapi kita tidak boleh ikut-ikutan gila supaya hidup, percayalah, Tuhan menopang hidup orang benar (Mazmur 37:23-26).

 BERKAT  TUHAN ADA DI ATAS KEPALA ORANG BENAR.

TUESDAY, February 22, 2011

EVENTS 6:9-22

“This is the history of Noah: Noah was a righteous and blameless among his contemporaries, and Noah’s life hanging out with God” (verse 9). In a sense his sadness and regret to see the wickedness of man on earth so that He will seek to destroy human beings, God still saw a man whose life is pleasing before Him. He is Noah, a father with three sons: Shem, Ham and Japheth. While practicing the life of other human evil in the eyes of God, Noah actually live right and without blemish before God, he lives hanging out with God. Proof that Noah was righteous and blameless, and hang out with God is obedience to God’s command to make a large ark so that he himself was willing to be teased because the ship was made in place and in circumstances that do not deserve. As a result of Noah found grace in the eyes of God so that he and his family will not be part of God destroyed along with another man. God tells his plan to exterminate humans as a way to Noah and Noah maintenance ordered to make an ark because God will destroy humans with a flood. How about we now live in an atmosphere like the days of Noah where sin and crime is rampant, whether we go with the flow of the world by practicing how to live like people who do not know God or sin to dare to go against the flow of life right before Him? Right before his life amid a broken world will save us from the destruction that can befall a person at any time. Indeed, now is the time that crazy but we should not bandwagon mad to live, believe me, the Lord sustains the righteous life (Psalm 37:23-26).

THANKS TO GOD IS IN THE HEAD RIGHT PEOPLE

21 February 2011

Seri Khotbah Minggu 13 Februari 2011

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah, Khotbah Minggu | Tag

Kuasa Keubahan

The power of transformation

Filipi 3:20-21

 

Uraian

 Contoh ketujuh The seven example  

Jemaat Laodikia The church of Laodicea

Wahyu 3:7-13

 6.6.  The Lukwarm Church Jemaat yang suam-suam kuku

 Wahyu 3:15, Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! 

 Kali ini kita melihat kehidupan jemaat yang di tegor keras oleh Tuhan. Tegoran itu ditujukan sebagai langkah pertobatan dalam sikap hidp jemaat ini, jemaat Laodikia dilihat Tuhan sebagai jemaat yang tidak dingin, namun juga tidak panas. Persekutuan yang dijalankan oleh jemaat ini berjalan tanpa greget, tanpa semangat di dalam Terang Tuhan. Percaya kepada Kristus, terima Dia sebagai “Tuhan dan Juruselamat” tetapi semuanya dijalankan dengan biasa-biasa, keseharian ibadahnya stagnan dalam pemandangan-Nya, sementara Kasih-Nya dicurahkan dengan luar biasa, jemaat ini nampak kurang menyadarinya.

 Bandingkan – Compare

 Matius 13:22, “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah

 Firman Tuhan yang disampaikan dalam kehidupan jemaat itu laksana benih yang ditaburkan. Firman yang diterima itu, jatuh ke dalam lahan hati masing-masing jemaat, namun tidak semua benih dapat tumbuh dan kelak menghasilkan buah. Dari empat jenis lahan tempat jatuhnya benih dalam perumpaaan penabur tersebut hanya satu yang berhasil. Di perumpaam penaburan benih ketiga, benih itu jatuh itu jatuh ke dalam semak belukar. Benih itu tumbuh tapi :

  Tidak berbuah – Unfruitful

 Akibatnya – The effect

 Wahyu 3:16, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.

 Matius 3:10, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

 Setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik pasti ditebang dan :

 Dibuang ke dalam api – Thrown into the fire

 Kehidupan yang dibuang sama dengan dimuntahkan seperti yang dituliskan kepada jemaat Laodikia, di buang dan menjadi tidak berguna. Maka perlu dipahami, jangan sampai kekristenan kita seperti jemaat Laodikia, ditolak Tuhan.Menjadi orang percaya dan mengaku sudah melayani tapi ditolak Tuhan, sebab Tuhan tidak mengenalnya.

 6.7.  Apa penyebabnya? What is the cause?

 Matius 13:22, “Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Mengapa orang Kristen suam-suam (Jw. Kerem-kerem kambang), dalam kebanyakan kondisi imannya muncul tidak tenggelam tidak. Ada sesuatu di dalam kehidupannya, yaitu :

        Kekuatiran – Fearness

 Firman yang ditaburkan laksana benih itu tergencet oleh roh kuatir, dan ini mempengaruhi jalan hidup seseorang. Firman yang memiliki kuasa untuk membebaskan, meski telah ditabur tergeser oleh kekuatiran. Membuat kuasa Firman tidak dirasakan dalam kehidupan seseorang.

 Mengapa bisa kuatir? Karena tidak mengenal siapa Allahnya, Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang sangat memperhatikan umat-Nya. Bukti nyatanya adalah Kristus yang diutus oleh Bapa untuk memuliakan kembali manusia di dalam diri-Nya, menuju kehidupan yang berbahagia.

 Hal lain adalah :

Percintaan dunia – Loved the world

 Saat ini, bagi kita yang masih hidup tentunya masih tinggal di dunia. Namun sebagai orang percaya yang telah dipanggil dari gelap menuju Terang-Nya yang ajaib, kita tidak boleh mencintai dunia.

 Hal ini tentu tidak mudah, namun hendaklah disadari bila bicara cinta, arah nomor satu tentunya kepada Tuhan, seperti Sabda Suci-Nya cintai Tuhan dengan sebulat hati. Yang kedua cintai sesama manusia (dimulai dengan dari yang paling dekat, pasangan hidup –suami atau istri), kemudian anak-anak, keluarga, tetangga dan seterusnya sebagai sesama manusia.

 Bila dasarnya benar maka sikapnya dalam hidup akan tidak arogan. Melayani Tuhan dan sesama dengan penuh Kasih. Memberitakan kabar baik dengan penuh Cinta Kasih bukan dengan menonjolkan kebenaran dan kemauan sendiri. Bertindak bijaksana tanpa harus menjelek-jelekan orang lain.

  Ingat – Remember

 Matius 6:27-32, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? 31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu

 Dalam Karya per-utusan-Nya, Yesus mengajarkan kepada murid-murid dan semua orang percaya berkenaan dengan :

 Roh kuatir  – The spirit of fear

 Kekuatiran tidak menambah sedikitpun jalan hidup. Rasa kuatir ini sangatlah berbeda dengan sikap hati-hati dalam hidup seseorang. Hati-hati memang perlu sebagai bagian dari akal budi dan hikmat yang telah Ia berikan. Tetapi kekuatiran adalah sikap yang cenderung negatif hasil dari pikiran dan pandangan yang berlebihan dalam menanggapi suatu permasalahan. Karena kuatir hidup bisa tersendat, menyebabkan sakit, diantaranya karena peredaran darah yang tidak teratur, serta mengakibatkan pola makan yang tidak sehat.

 Tuhan itu pemelihara, Ia punya rencana yang indah. Dalam Sabda-Nya, Ia memberikan gambaran logis, bagaimana bunga bakung bermekaran dengan indah juga burung-burung yang beterbangan dengan riang di udara. Raja Salomo, seorang raja yang kaya-raya saja tidak berpakaian seindah dan semegah bunga bakung yang indah itu. Artinya, bila Tuhan perduli tanaman yang sederhana –yang masa hidupnya singkat- apalagi manusia, ciptaan yang diciptakan seturut citra-Nya. Tuhan pasti beri solusi!!

 Sekarang mari kita lihat percintaan dunia. 

 I Yohanes 2:15-17, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. 16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. 17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

 Yakobus 4:4, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”

 Sabda Tuhan mengatakan semua yang ada di dalam dunia yaitu, keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup itu bukan berasal dari Bapa. Semua itu berasal dari dunia. Maka keinginan daging jangan dipuja, keinginan mata jangan dituruti sebab mata tidak akan pernah puas, dan keangkuhan hidup dapat mencelakakan. Semua kemegahan yang ada di dunia akan lenyap, sebab kelak Tuhan akan jadikan langit dan bumi baru (Why 21).

 Maka sekali lagi, jangan pernah bangga dengan apa yang dimiliki di dunia ini karena kelak akan dilenyapkan, akan musnah. Mari kita bersama hargai berkat Tuhan dan mengucap syukur bila Tuhan memperkenankan kita mengelola kekayaan dari-Nya. Kelola dengan bijak pula.

 Meski hidup di dunia, namun sikap dan cara hidup orang benar bukan menggunakan cara hidup dan pandangan dunia –yang meminggirkan Tuhan bahkan tidak mengakui keberadaan Tuhan-, tapi menggunakan pandangan dan sikap hidup sorgawi. Hidup tidak tercemari dengan dunia, ibarat ikan laut yang ketika hidup tidak akan terasa asin. Hanya ketika ikan itu mati maka air laut yang merasuk ke dalam tubuh ikan yang membuat menjadi asin.

        Mencintai dunia                           Tiada Kasih Allah

       Love the world                             No God’s Love

 Bila mengasihi dunia akan tidak ada Kasih Allah, dan Allah tidak akan mengasihi. Bersahabat (Yun. Philia φιλία) dengan dunia akan menjadikan kita menjadi seteru Allah, berseberangan dengan Allah (Yak. 4:4), selaku orang percaya kita tidak ber-kasih-kasihan dengan dunia. Sebab keinginan dunia yang telah tercemari dosa dan kehendak Allah yang Kudus bagaikan dua kutub yang berlawanan, dan tidak akan tersatukan.

 Semestinya saat orang percaya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Ia telah masuk ke dalam areal keselamatan, dan seiring dengan pertumbuhan rohani ia akan masuk dalam kekudusan di bawah perlindungan dan Kasih yang nyata dari-Nya.

 

 

  

 

 

 

 

Bila Pejanjian Lama berpusat pada Torat maka Perjanjian Baru pada Anugerah –Yesuslah penggenapan Torat, di Perjanjian Baru Janji Allah yang mengasihi manusia itu di genapi.

 Perjanjian Baru di awali dengan hadirnya nabi Yohanes pembaptis, ia menyerukan pertobatan dan juga baptisan sebagai tanda –simbolik- pertobatan. Bicara Baptisan, nabi Yohanes pembaptis ini berkata “..kapak sudah siap, yang tidak berbuah akan ditebang” (Mat 13:22).

 Posisi baptisan ada di halaman. Seorang Imam di Tabernakel, setelah masuk dari pintu gerbang, ia akan melangkah untuk cuci tangan dahulu di kolam pembasuhan. Artinya, setiap pelayan Tuhan yang sudah lahir baru harus melayani Tuhan dengan hati nurani atau motivasi yang beres di hadapan Tuhan (2 Tim 1:3).

 Rasul Paulus menasehati Timotius muridnya yang kala itu masih muda (20th), saat sebelum memulai tugas penggembalaan. Bahwa melayani Tuhan harus dengan hati yang tulus ikhlas, melayani dengan benar di hadapan-Nya supaya menjadi pelayanan yang berbobot. Pelayanan tidak boleh sekedar asal jalan, asal jadi, asal dilaksanakan tanpa ada ketulusan hati untuk melayani-Nya. Maka disisi lain untuk menghadirkan pelayanan yang berbobot prima, sebagai institusi gereja perlu tertib, perlu dikelola dengan seksama dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai wadah pertumbuhan yang sehat di hadapan-Nya.

 Berdasar pada skema Tabernakel di atas, secara sederhana umat Tuhan umumnya (yang ber-gereja) minimal sudah ada di area halaman, percaya dan terima Kristus, memberi diri dibaptis dan sudah terima Roh Kudus, maka seyogyanya ada buah yaitu buah pertobatan. Menghasilkan kehidupan yang baru, memiliki kesaksian dalam hidupnya dan menunjukkan perbedaan sikap hidup dibanding dengan sikap hidup orang yang tidak percaya.

 Seseorang yang sudah melangkah dari area halaman dan masuk dalam persekutuan Ruangan Suci. Ia akan berjumpa dengan tiga benda, meja roti pertunjukan, pelita emas dan mezbah dupa. Ketiga benda itu memberikan arti dalam pertumbuhan rohani seseorang. Meja roti pertunjukan berarti tumbuh dalam kesucian karena persekutuan dengan Firman Tuhan dan perjamuan suci yang menjadi daging. Pelita Emas, berarti tumbuh dalam pelayanan dalam manifestasinya Roh Kudus dan Mezbah dupa berarti tumbuh dalam hidup di dalam doa –dalam Roh dan Kebenaran-

Berjuang untuk terus ada di Ruangan Suci –Tumbuh menjadi dewasa- dan berbuah kekudusan, dan terus bertekun kepada sasaran puncak, hingga nanti di persekutuan sempurna di Ruangan Maha Suci. Sempurna adalah puncakdari proses, sebab Bapa itu sempurna (Mat 5:48). Berjuang terus menyucikan diri dan menyempurnakan kekudusan (2 Kor 7:1). Menjaga diri supaya tidak terlibat dalam pencemaran jasmani dan rohani/pikiran.

 Kekuatiran dan percintaan dunia yang menghambat pertumbuhan untuk menghasilkan buah. Solusinya seperti apa?      

 6.8.  Penutup Ending

  Filipi 4:6-7,Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. 7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

 Kehidupan menjadi tidak bertumbuh, Firman yang ditabur tidak bertumbuh dan membuahkan sesuatu aksi dalam kehidupan perlu dicarikan solusi.

 Dari dua hal yang menyebabkan kehidupan yang tidak berbuah, kita akan lihat satu persatu.

Bila :

Kuatir                                           Berdoalah

       Fear                                             Let us pray

menyatakan keinginan kita dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Bersyukur masih bisa menyatakan permohonan kepada Allah yang sanggup memenuhi segala keperluan kita. Setelah kita menyatakannya kita akan melihat dan merasakan bahwa Tuhan sealu memiliki rencana yang indah dalam hidup kita dan damai sejahtera akan turun dalam kehidupan kita.

 Bila damai sejahtera Allah menguasai hati dan pikiran kita akibatnya akan ada keyakinan. Ada ketenangan dan tidak  kuatir. Berdoalah supaya tenang dan ada kemantapan saat menghadapi masalah, menjadi percaya diri dalam melangkah di jalan kehidupan. Bila suatu saat merasa kuatir, maka serahkan saja kuatirmu pada Tuhan.

 Solusi atas percintaan dengan dunia sehingga menjadi tidak bertumbuh dan menghasilkan buah :

 Ibrani 13:5-6, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” 6 Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

 Meski berat berjuanglah untuk :

                         Jangan mencintai dunia – Don’t love the world

 Ditunjukkan dalam bentuk kongkrit dengan tidak cinta akan uang. Uang penting tetapi  jangan sampai diperbudak oleh uang. Bila akarnya cinta akan uang, itu akan menumbuhkan berjenis-jenis kejahatan.Orang percaya telah ditebus dengan harga yang mahal –seharga darah Kristus- di bebaskan dari kesia-siaan hidup (Rom 12:1). Maka berubahlah, jangan lagi menjadi budak kejahatan.

 Ingat, dimana ada hartamu, disitu ada hatimu. Orang percaya yang sudah terima Kristus akan menjalankan Sabda-Nya untuk mencintai-Nya sebulat hati, dan senantiasa percaya bahwa hidupnya ada di dalam rancangan-Nya yang indah. Tuhan sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita itu adalah Sabda-Nya, tidak akan dibiarkan orang yang mengasihi-Nya dengan sebulat hati dibiarkan sendiri, dibiarkan terlantar, hidup tersia-sia.

 Orang benar dan hidup dalam kebenaran akan cakap menanggung segala perkara –hidup berkemenangan besar- , sebab Ia memampukannya. Sehingga orang percaya akan selalu berkata dalam hati dan ucapannya bahwa : 

 Tuhanlah penolongku – God is my helper

 

21 February 2011

Penyesalan dari Allah ( Regret from God )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB Editorial Staff

SENIN,21 PEBRUARI 2011

KEJADIAN 6:1-8

“ Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka” ( ayat 7 ). Allah menggenapi firman-Nya untuk memberkati manusia sehingga mereka bertambah banyak jumlahnya di bumi. Namun demikian ada dua garis keturunan yang bertambah banyak jumlahnya di bumi, yakni mereka yang disbut sebagai keturunan anak-anak manusia dan keturunan anak-anak Allah. Keturunan  manusia juga menghadirkan orang-orang raksasa di bumi. Dua garis keturunan tersebut sama-sama telah membawa benih dosa  sebagai akibat dari ketidaktaatan manusia pertama, sehingga mereka yang disebut sebagai keturunan anak-anak Allah itu akhirnya juga cenderung untuk melakukan perbuatan yang tidak berkenan dihati Allah. Hal itu dimulai dari tindakan mereka yang mengambil anak-anak perempuan manusia, siapa saja yang disukai menurut kehendak hatinya. Kejahatan akhirnya berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah manusia di bumi, dan Allah sangat sedih melihat kenyataan tersebut, Ia menyesal dan berihktiar  untuk menghapuskan manusia yang telah diciptakan-Nya tersebut. Benih dosa telah membuat kecenderungan hati manusia untuk berbuat jahat meskipun ia berasal dari garis keturunan yang disebut anak-anak Allah, menyadari kenyataan tersebut hendaknya kita tidak bermain api, tidak bermain main dengan dosa dalam menjalani hidup ini. Jangan membuat sedih dan menyesal hati Allah untuk kesekian kalinya melihat tingkah kita yang lebih sering berbuat jahat dihadapan-Nya, jangan sampai karena hal itu nama kita akhirnya dihapus dari kitab kehidupan karena Allah tidak akan membiarkan diriNya di permainkan. Buatlah Allah menyesal atas malapetaka yang akan dijatuhkan-Nya, karena melihat pertobatan kita sehingga Ia tidak jadi melakukan-Nya dan bukan menyesal karena telah menciptakan kita (Yeremia 18:8)

Pertobatan membuka pintu kemurahan-Nya

 MONDAY, February 21, 2011

EVENTS 6:1-8

“I will wipe mankind whom I have created it from the earth, both man and beast and creeping beasts and birds of the air, for I regret that I have made them” (verse 7). God fulfilled His word to bless people so that they multiply on the earth. However, there are two lineages which multiply on the earth, namely those who disbut as a descendant of the children of men and the descendants of the children of God. Human Heredity also bring those giants in the earth. Two lines are alike have brought the seeds of sin as a result of human disobedience first, so they are called sons of God were eventually also tend to perform acts that are not pleasing God hearts. It starts from their actions that took the daughters of man, who is favored by the will of his heart. Crimes eventually developed along with the increasing number of humans on earth, and God is very sad to see this fact, he regrets and seeks to eliminate the humans who have created them are. The seed of sin has made the human tendency to do evil hearts even though he comes from the lineage of the so-called children of God, aware of the fact that we should not play with fire, do not play around with sin in this life. Do not make a sad and sorry heart of God for the umpteenth time to see our behavior more often misbehave in front of him, do not let our name because it was eventually removed from the book of life because God will not be mocked. Make God doom sorry for him to be dropped, because of our repentance so that He did not do his and not sorry for having created us (Jeremiah 18:8)

Repentance opens the doors of His mercy

11 February 2011

Upah yang setimpal ( The wage are worth it )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( daily bread bilingual edition ) by WSB Editorial staff

kerjaJUM’AT, 11 PEBRUARI 2011

WAHYU 22:6-17

“Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya” (ayat 12).  Akhir dari penglihatan rasul Yohanes adalah kepastian akan kebenaran dari semua yang telah rasul Yohanes lihat dan semua perkataan yang ia dengar. Melalui malaikat-Nya Allah telah memberitahukan apa yang akan segera terjadi atas alam semesta ini termasuk kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Kedatangan-Nya kedua kali bukan lagi sebagai bayi mungil dalam palungan, tapi sebagai Tuhan dan Raja segala raja yang akan membalaskan setiap orang menurut perbuatannya. Maka berbahagialah setiap telinga yang mendengar dan percaya kepada berita yang malaikat Allah sampaikan karena dengan demikian mereka akan mengadakan persiapan. Tidak ada lagi waktu untuk bermain-main dengan dosa atau hidup abu-abu, hidup mendua hati, kedatangan-Nya kedua kali hanya bisa disikapi dengan hidup dalam kekudusan atau dalam dosa dan kecemaran. Tapi karena kedatangan-Nya adalah untuk membalaskan setiap orang menurut perbuatannya, maka berbahagialah setiap orang yang membasuh jubahnya karena mereka akan memperoleh hak atas pohon kehidupan Allah. Sebaliknya setiap orang yang tetap hidup dalam hawa nafsunya yang menyesatkan akan tinggal diluar dan siap untuk menerima pehukuman kekal. Jangan mengulang kebodohan yang sama seperti jaman Nuh yang menganggap berita yang mereka dengar sebagai lelucon sehingga kebinasaan benar-benar menimpa mereka. Semua telah dipaparkan dengan jelas dihadapan kita, percayalah dan mari mem persiapkan diri dengan hidup dalam kebenaran dan mengejar kekudusan yang sesungguhnya. Apa yang kita tabur, itu juga yang akan kita tuai, apa yang kita perbuat dalam iman diperhitungkan oleh Allah dan percayalah, upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan (Amsal 10:16).

DARI TUHAN, KITA MENERIMA BAGIAN YANG DITENTUKAN SEBAGAI UPAH.

 Friday, 11 February 2011

Revelation 22:6-17

“Surely I come quickly and I brought my wages to give to each person according to his deeds” (verse 12). End of the apostle John’s vision is the certainty of the truth of all that has been the apostle John saw and all the words he hears. Through His angel of God had told what will soon happen to this universe including the coming of the Lord Jesus’ second coming. His coming a second time is no longer a tiny baby in a manger, but as Lord and King of kings who will give every man according to his deeds. So blessed every ear that hears and believes the news that the angels of God to say because then they will make preparations. No more time to play around with sin or, double-minded life, his coming the second time could only be addressed by living in holiness is not in sin and uncleanness. But since his coming is to avenge every person according to his deeds, blessed every person who washed his robes because they’ll get right to the tree of life of God. Instead of each person who still live in a misleading desires will stay outside and ready to receive eternal damnation. Do not repeat the same stupidity as in the Noah’s life, where society at that time thought they heard the news as a joke so that the destruction was finally upon them. All have been described clearly in front of us, believe and let us prepare ourselves to live in righteousness and true holiness pursuit. What we sow, that shall he also reap us, what we do in faith will be taken into account by God and believe me, the wages of the righteous work will bring us to life (Proverbs 10:16).

FROM GOD, WE ARE REQUIRED TO RECEIVE AS PART OF WAGES.