Get Adobe Flash player
28 February 2011

Dampak Kesaksian yang Hidup

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah, Khotbah Minggu |

ibadah_setiabudiRingkasan khotbah minggu pagi

20 Februari 2011

 DAMPAK KESAKSIAN YANG HIDUP.

II Raja-raja 5:1-6

Oleh Pdp. Supardji Utomo

 Pagi ini bersama-sama kita akan belajar tentang dampak kesaksian yang hidup. Pelajaran yang berharga ini kita pelajari dari kisah Namaan, yaitu dari kesaksian hidup tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Ada beberapa tokoh dalam kisah Naaman ini antara lain : Raja Aram, Raja Isarel, Naaman, Anak Perempuan yang tertawan/pegawai-pegawai Naaman, Elisa, dan Gehazi. Namun pagi ini kita akan mempelajari dua figur saja yaitu, Naaman dan anak perempuan Israel yang tertawan.

 

Apa yang  pagi ini kita pelajari juga berkaitan dengan misi gereja kita pada butir pertama yaitu : memperlengkapi talenta  dan memberdayakan karunia jemaat. Seperti yang disampaikan Bapak Gembala melalui khotbahnya pada pertengahan tahun 1995 / 1996, Allah berkarya melalui gereja lokal dengan lima jawatan yaitu : Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, Guru dan diperlengkapi dengan karunia-karunia, ini bagaikan kesatuan dari satu tubuh, menyatu dan saling bekerja sama. Tidak ada satu bagianpun dari tubuh kita, terutama sel yang hidup yang tidak berguna, semua memiliki peran, semua ada manfaatnya mulai dari ujung rambut hingga telapak kaki.

 

Dalam sebuah bukunya Juan Carlos Curtis yang adalah  pendeta sekaligus penginjil mengisahkan bahwa  ia telah memulai pelayanannya dengan seratus delapan puluh empat orang, kemuadian ia mengikuti seminar dan membaca banyak buku dan kemudian diterapkan dalam pelayanannya. Gerejanya berkembang, jemaatnya menjadi enam ratus orang, tetapi dengan jumlah yang sedemikian perkembangan menjadi  stacknan/berhenti, pelayanannya tidak bertambah lagi, sekalipun bertambah mereka tidak bertumbuh . Setelah bergumul dua minggu, mengambil waktu secara pribadi untuk berdoa kepada Tuhan, ia menemukan bahwa ia harus turun kepada jemaat, harus menyatu dengan mereka. Dengan demikian, maka ia akan menemukan talenta-talenta  yang dimiliki jemaatnya. Semua komponen gereja harus mendukung Visi &Misi gereja, bagi orang percaya tidak ada yang boleh nganggur.

 

Kembali lagi pada kisah Naaman, pada  ayat pertama kita bisa mengetahui bahwa, Naaman adalah panglima raja Aram, orang yang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi tuannya, dikenang oleh Tuhan, tetapi ia juga pahlawan yang sedang sakit kusta. Naaman adalah gambaran orang yang sedang mencapai puncak kejayaan, bukan saja jabatan, posisi dalam pemerintahan, tetapi ia juga sangat kaya, berlimpah secara finansial. Hal ini disebutkan pada ayat lima : “Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian” Jika dihitung, satu  talenta sama dengan tiga puluh empat kilogram, jadi  sepuluh talenta sama dengan tiga ratus empat puluh kilogram. Jika satu gram perak nilai jualnya enam puluh ribu pergram menurut data dari geogle, maka total semuanya senilai dua puluh empat miliar empat ratus juta rupiah. Sedangkan satu syikal sama dengan sebelas koma empat gram, satu gram emas dua puluh empat karat saat ini harganya empat ratus tiga puluh empat ribu lima ratus rupiah, maka enam ribu syikal emas, nilainya dua puluh sembilan miliar tujuh ratus Sembilan belas juta delapan ratus ribu rupiah. Jadi  total keseluruhan mencapai lima puluh sampai lima puluh lima miliar rupiah. Secara financial Naaman sungguh sangat kaya.

 

Selanjutnya pada ayat yang kedua kita menjumpai tokoh lain yang dituliskan sebagai Anak perempuan Israel yang tertawan. Jika kita bandingkan maka posisi / status anak ini sangat kontras dengan Naaman, namanya saja tidak disebutkan, ia menjadi tawanan perang, pada saat itu anjing piaran masih sangat beruntung hidupnya daripada seorang tawanan, karena tawanan kerap disiksa,bahkan  tidak diberi makan.  Ia perempuan dan masih anak-anak, orang menyebutnya masih bau kencur / tidak memiliki pengalaman. Ini merupakan gambaran dari wong cilik, orang yang tidak pernah diperhatikan, orang pinggiran (orang yang termarginalkan). Menyikapi pribadi level Namaan dan melihat kenyataan hidup anak perempuan Israel ini, menyadarkan kita bahwa di dunia ini hidup orang-orang dengan level majemuk. Namun seringali perhatian kita cenderung memandang ke level Naaman. Karena kaya maka  si “A” diangkat jadi majelis, memperoleh ini dan itu. Saudara, ini adalah pola pikir yang salah.

 

Sekalipun ia seorang tawanan, namun anak ini mempunyai keberanian yang luar biasa. Coba kita bayangkan – seorang pembantu rumah tangga (anak ini lebih rendah dari pembantu rumah tangga) masih bisa menangkap peluang dengan melontarkan kata-kata  iman. Ini adalah perbuatan yang sangat beresiko, bisa disebut sebagai pelecehan bagi Naaman. Jika usulan ini ditolak, tentunya hidup anak ini ke depan sangat suram. Anak ini tentunya tumbuh di keluarga yang mengasihi Tuhan, keluarga yang selalu mengajarkan bahwa kuasa dan pertolongan Tuhan itu sungguh nyata, keluarga yang selalu berharap pada Tuhan, sehingga ia tumbuh dalam kebenaran Tuhan. Kata-kata iman yang ditanamkan oleh keluarganya sejak kecil, menciptakan sebuah keyakinan yang luar biasa kepada Tuhan, sehingga dengan dengan percaya diri ia berkata kepada isteri Namaan, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

 

Isteri Naaman menyampaikan cerita ini kepada Naaman, dan kemudian Naaman menanggapinya  secara positif. Perpaduan antara perkataan iman anak perempuan Israel dengan kerendahan hati Naaman, membuahkan sebuah tindakan bagi Naaman, ia berangkat ke Israel dengan membawa persembahan, ini dapat diartikan bahwa ia berangkat dengan keyakinan. Sesampainya di Israel Naaman menyerahkan surat pengantar yang ditulis Raja Aram bagi Raja Israel dan surat ini menimbulkan kemarahan Raja Israel. Namun setelah didengar oleh Nabi  Elisa maka Naaman disarankan agar datang kepadanya.

 

Naaman adalah seorang panglima, ia biasa memperoleh perlakuan yang semestinya namun setibanya di kediaman Nabi Elisa, ia hanya ditemui seorang pembantu nabi Elisa. Pada ayat yang kesebelas kita dapat membaca betapa kecewanya Naaman dengan sambutan Elisa, perkataannya adalah reaksi pada puncak kemarahan, ia merasa sangat dilecehkan. Namun pada ayat yang keduabelas, dituliskan bahwa pertolongan datang dari pegawai-pegawainya, sekali lagi dari wong cilik. Berkat namaan turun karena mendengar wong cilik. Pikiran Namaan terlalu tinggi, sehingga ia tidak dapat menerima  usulan untuk hal-hal yg sederhana.

 

Perilaku Naaman mengingatkan kepada kita bahwa setinggi apapun yang dicapai seseorang pada suatu saat akan pasti akan mentok/buntu. Oleh karenanya kita diingatkan untuk tidak berharap pada manusia. Dalam kitab Yeremia 17:5dikatakan “terkutuklah orang yang mengandalkan manusia”, dalam kitab Yesaya 64:6 dituliskan “segala kesalehan manusia seperti kain kotor”, dalam kitab  Mazmur 103:15-16 dituliskan “hari-hari manusia seperti rumput”. Sesungguhnya manusia tidak memiliki sesuatu yang dapat diandalkan di hadapan Tuhan. Keberhasilan kita saat ini hendaknya tidak membuat kita menjadi sombong. Jika seseorang memiliki karunia memberi itu artinya ia memiliki sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain, hal ini bisa berupa usul atau materi. Orang kaya harus merelakan hidupnya dibentuk oleh Firman Tuhan, agar ia tidak serakah, karena mammon ada rohnya – ia begitu mengikat dan jahat, menyebabkan orang tidak akan pernah puas (seperti Gayus Tambunan). Orang kaya dalam gereja bukan untuk pamer tetapi agar ada keseimbangan.

 

Setiap talenta harus digarap, seperti usul yang sederhana dapat membawa berkat kesembuhan dan keselamatan. Mari belajar dari Anak perempuan Israel dengan kata-kata imannya: dibalik ketidak berdayaannya, ia sangat menghargai talenta yang dimilikinya. Ia menyadari bahwa Tuhan menciptakannya karena dan dalam anugerah. Allah tidak menciptakan manusia dengan iseng, dalam kitab Mazmur 103:14, dituliskan bahwa manusia berasal dari debu, namun debu yang memiliki potensi luar biasa, karena di dalamnya tersimpan harta keyaan yaitu kekuatan ilahi. Sekali lagi, siapapun kita mari belajar dari anak perempuan Israel ini, selalu siap sedia mengambil kesempatan mengabarkan kabar baik. Jangan berpangku tangan, tidak ada seorangpun yang tidak berguna. Anak perempuan Israel ini hidup dalam banyak keterbatasan namun bisa mengusulkan sesuatu yang berdampak baik bagi orang lain. Apalagi kita yang saat ini memiliki kesempatan yang luas.

 

Ternyata wong cilik/orang terpinggirkan/tidak diperhatikan, jika diberi kesempatan mampu menghasilkan sesuatu. Jika Naaman tidak mendengarkan Anak perempuan Israel dan pegawai-pegawainya maka ceritanya akan berbeda. Betapa pentingnya belajar dari peristiwa/berbagai kejadian saat ini, Benny Hinn, James Backer, tidak mau mendengarkan jemaat dan orang-orang terdekatnya sehingga ia jatuh. Jangan sepelekan orang kecil. Dan jika kita merasa sebagai wong cilik, jangan kecil hati dengan kondisi saat ini, percayalah! kita berharga di mata Tuhan. Tuhan memiliki rencana bagi setiap kita dimanapun kita ditempatkan.

 

Saya akhiri khotbah pagi ini dengan sebuah kisah bersejarah yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Israel, yaitu ketika mengunjungi gereja sampah di daerah Alexandria. Disana terdapat bongkah bukit yang bernama makatam. Sejarah Mesir mencatat bahwa bukit ini bergeser/pindah sejauh empat kilometer. Hal ini disebabkan karena pada masa itu (tahun 975 sebelum masehi) Mesir mengalami masalah politik yang serius, yang membuat keristenan /orang Kristen hidup dalam tekanan karena harus keluar dari Mesir. Ada salah satu tentara Mesir/pemuka pemerintahan di Kairo memberi tahu kepada Bapa Sinoda (pemimpin jemaat) bahwa orang Mesir terusik dengan pengajaran Yesus tentang iman sebesar biji sesawi dapat memindahkan gunung. Mereka menganggap ini adalah ajaran sesat. Gunung sering kita pahami sebagai masalah, namun tidak demikian dengan orang Mesir, mereka mengartikannya secara lahiriah. Mereka menantang orang percaya saat itu, jika perkataan Yesus dapat dibuktikan maka mereka tidak perlu keluar dari Mesir. Maka Bapa Sinoda segera meresponinya, ia mengumpulkan seratus orang percaya, dan naik ke bukit Makatam. Di sana mereka berdoa selama tiga hari tiga malam, hanya sebaris kalimat yang diucapkan berulang-ulang, yaitu “Tuhan kasihanilah kami”.  Hari pertama gunung mulai goyah – Mesir gempar, hari kedua gunung beranjak – Mesir tambah gempar, dan hari ketiga gunung mulai berjalan – Mesir berteriak HENTIKAN! Saudara, hal ini pernah terjadi. Jika saja peristiwa ini terjadi 325 tahun sebelum masehi tentunya akan dikanonkan.

 

 Iman sebesar biji sesawi bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, jadi mari berjuang mulai dengan talenta yang kecil, jangan sampai kita dipandang oleh Tuhan sebagai orang-orang  yang  menyembunyikan talenta  – (Matius 25:25, orang jahat/malas/ tidak berguna). Dalam 1 Timotius 4:14a kita diingatkan untuk tidak lalai mempergunakan karunia yang kita miliki. Tidak ada satu jemaatpun yang berkata aku tidak bisa apa-apa, semua kita diberi talenta. Anak perempuan Israel mengembangkan talentanya,  sehingga ia memiliki kesaksian hidup yang luarbiasa, dan bisa memberkati orang lain. Dalam ayat ke lima belas bagian b, segala sesuatu yang kita lakukan harus bertujuan agar nama Tuhan yang dipermuliakan. Dalam ayatnya yang ketujuh belas dituliskan bahwa Naaman diselamatkan, dan ia bertobat. Saudara, jangan pernah mengadalkan manusia, kejayaan Naaman menyadarkan kita bahwa, Kemegahan, kejayaan dan kekuatan manusia sangat terbatas, suatu saat pasti akan mentok, tetapi bagi orang percaya SELALU ADA HARAPAN. Tuhan Yesus memberkati!

 

-Cyelamardyasmara-