Get Adobe Flash player
1 February 2011

Kebahagiaan tertinggi ( Highhest happiness )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian |

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) By WSB editorial staff

niceSELASA, 1 PEBRUARI 2011

WAHYU 19:6-10

 “Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba. Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah“ (ayat 9).   Sukacita karena jatuhnya Babel semakin lengkap dengan diselenggarakannya pesta per jamuan kawin Anak Domba. Ini bukan perkawinan jasmani atau harafiah, ini perkawinan rohani, yakni bersekutunya dengan erat Anak Domba dengan pengantin-Nya, yaitu jemaat yang telah mencapai kesempurnaan dan kedewasaan iman. Berbagai aniaya dan penderitaan telah mendewasakan dan memur nikan iman orang percaya dan mereka yang masuk dalam kondisi seperti itu layak untuk masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba dan menjadi mempelai-Nya. Tidak ada sukacita dan kebahagiaan yang melebihi daripada sukacita diundang dan menjadi mempelai dalam perjamuan kawin Anak Domba. Sebagai pribadi-pribadi yang telah mengalami proses pendewasaan iman melalui berbagai aniaya dan derita, maka ketika menjadi mempelai Anak Domba, pakaian yang mereka kenakan adalah kain lenan halus yang berkilauan, yang adalah gambaran dari perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus tersebut. Seberapa rindukah kita untuk masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba? Mulai dari sekarang berjuang untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang didasari dengan pertobatan yang yang sungguh. Jangan lari dari tantangan tapi pandanglah itu sebagai cara Allah untuk menyucikan dan mendewasakan iman kita, sebab ingatlah bahwa hanya orang yang kedapatan hidup suci dan dewasa yang akan menjadi mempelai-Nya. Tanpa pakaian yang pantas tidak akan layak kita masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba, maka hiduplah dalam kekudusan yang adalah pakaian pesta kita (Matius 22:10-14).

HIASILAH  DIRIMU  DENGAN KEMEGAHAN DALAM KEKUDUSAN.    

TUESDAY, February 1, 2011

Revelation 19:6-10

 “Then he said to me:” Write: “Blessed are those who were invited to the wedding feast of the Lamb. He said again to me: “These words are true, the words of God” (verse 9). Joy since the fall of Babylon complete with the convening of the wedding feast of the Lamb. This is not marriage, physically or literally, this spiritual marriage, namely the close alliance between the Lamb with his bride, the church that has reached perfection and maturity of faith. Various mayhem and suffering has been maturing and purify the faith of believers and those who enter under such conditions, it is reasonable to enter into the marriage supper of the Lamb and become his bride. There is no joy and happiness that exceed joy when we were invited and became the bride of the marriage supper of the Lamb. For individuals who have undergone the process of maturation of faith through a variety of persecution and suffering, then when it became the bride of the Lamb, their clothing is fine linen, sparkling-sparkle, which is an image of the true deeds of the saints them. How big is our desire to enter the marriage supper of the Lamb? Starting from now strive to do good deeds are based on repentance genuine. Do not run away when faced with challenges, instead look at it as a way of God to purify and maturing of our faith, reason, remember that the only person who is found living holy and spiritually mature, who would become his bride. Without proper clothing, we will not be eligible to enter into the marriage supper of the Lamb, therefore, live in holiness which is our party clothes (Matthew 22:10-14).

 Ornate, the grandeur in holiness.