Get Adobe Flash player
21 March 2011

Atas dasar kebenaran ( The Truth Basic )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian |

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SENIN, 21 MARET 2011

KEJADIAN 21:8-21    

“Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (ayat 10).  Empat belas tahun beda usia antara Ismael dengan Ishak dan itu sudah cukup membuat Sara berpikir masalah ahli waris. Secara harafiah wajarlah bila Sara tidak menghendaki anak seorang budak yang pernah mengang gap rendah dirinya menjadi ahli waris bersama dengan anak kandungnya, maka iapun meminta kepada suaminya untuk mengusir hamba perempuan tersebut beserta dengan anaknya supaya anak hamba ter sebut tidak turut menjadi ahli waris. Kelihatannya kejam, tapi itu adalah usaha Sara untuk melindungi hak anaknya. Abraham tidak bisa menolaknya karena dari pihak Allah sendiri mengijinkan hal itu terjadi , sebab memang dari Ishaklah yang akan disebut sebagai keturunannya. Dan karena hal itu juga adalah seiijin Allah, maka Allahpun juga bertanggungjawab atas kelangsungan hidup Hagar dan keturunannya. Dipadang gurun Allah menyatakan pemeliharaan-Nya atas Hagar dan anaknya hingga anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang pemanah. Ada saat dan juga batas untuk kita bertindak tegas diatas kebenaran dengan berkata tidak atas sesuatu yang membuat kita bisa kehilangan hak menjadi sorang ahli waris dari janji Allah. Dan saat kita harus bertindak tegas tersebut seringkali diiringi dengan perasaan tidak nyaman dan kasihan secara manusiawi, tapi percayalah bahwa menjadi seorang ahli waris bukanlah soal perasaan, tapi soal keberanian berdiri diatas kebenaran Allah. Ingat dan sadarlah bahwa ada ancaman atas hak kita menjadi ahli waris, maka kita juga harus berani berkata tidak untuk sesuatu diluar kebena ran walau bertentangan dengan hati nurani dan perasaan. Akhirlah yang menentukan apakah kita tetap mendapat bagian dari apa yang dijanjikan Allah, maka teguhlah dalam iman dan kebenaran (Ibrani 3:14).

BERANI KATAKAN TIDAK PADA DOSA DAN KEJAHATAN

MONDAY, 21 MARCH 2011

21:8-21 EVENTS

Said Sara to Abraham:” Expel the slave woman and her child, because children of this servant will not inherit together with my son Isaac “(verse 10). Fourteen-year age difference between Isaac and Ishmael with it is enough to make Sarah think the problem heirs. Literally it is natural when Sara does not want the son of a slave who has a low gap considers himself to be heir together with his biological child, so she began asking her husband to drive out the slave woman with her son to call the son of the slave was not heirs. It seems cruel, but it is Sara’s effort to protect the rights of children. Abraham could not resist it because of God’s own party allowed it to happen, for so from Ishaklah which will be referred to as the offspring. And because it also is were allowed by God, then God was also responsible for the survival of Hagar and his descendants. Wilderness God revealed His care for Hagar and her son until the child grew and became an archer. There are times and also the limit for us to act decisively over the truth by saying no to something that allows us to lose the right to be alone the heir of the promises of God. And when we need to act decisively is often accompanied by feelings of discomfort and compassion in human, but believe that being an heir is not a matter of feeling, but a matter of courage stands on the righteousness of God. Remember and realize that there are threats to our right to be an heir, then we must also dare to say no to something beyond the truth even if contrary to his conscience and feelings. End that determines whether we still get a share of what is promised by God, then, keep the faith and truth (Hebrews 3:14).

DARE TO SAY NO TO SIN AND CRIME.