Get Adobe Flash player
29 March 2011

Warisan yang berharga

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian |

Renungan harian

SELASA, 29 MARET 2011

KEJADIAN 25:7-11             

“Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu; dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi” (ayat 11).  Abraham telah hidup dalam kepercayaan dan ketaatan akan firman Tuhan dan dalam masa tuanya ia juga telah menjadi seorang yang diberkati Tuhan luar biasa, bahkan ia masih bisa melihat anak kandungnya sendiri, ahli warisnya yang lahir pada masa tuanya, berumah tangga. Dalam hidupnya ia telah menanamkan ketaatan dan kepercayaannya akan Tuhan kepada anaknya, Ishak. Maka ketika tiba waktunya bagi Abraham untuk dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, iapun pergi meninggalkan dunia dalam damai, sudah putih rambutnya, tua dan suntuk umurnya. Allah setia dengan janji-Nya, Ia member kati Ishak karena Abraham dan Ishakpun hidup sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan diteladankan bapanya kepadanya. Ishak telah mengalami sendiri dan melihat ketaatan bapanya ketika ia sendiri telah siap untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai korban sesuai dengan perintah-Nya kepada Abraham, bapanya. Jadi Ishakpun juga telah siap ketika bapanya itu harus dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Setiap orang tua pasti merindukan anak-anaknya hidup dalam suasana kelimpahan berkat dan untuk itu menjadi peran orang tua untuk mempersiapkannya. Bukan semata persiapan perkara jasmani, yang lebih penting adalah mempersiapkan mentalnya melalui ajaran dan juga keteladanan hidup orang tua yang percaya dan takut akan Tuhan. Dengan demikian ketika orang tua sudah sampai pada waktunya untuk kembali kepada penciptanya, ia bisa pergi dalam damai dan anak-anakpun juga kedapatan telah siap untuk menghadapi hidup tanpa bimbingan orang tua. Wariskanlah sesuatu yang berharga, yakni sikap hidup yang takut akan Tuhan yang menghasilkan jaminan berkat Tuhan atas anak cucu kita (Mazmur 25:12-13).

 WARISKAN “SUMBER” DARI SEGALA BERKAT KEPADA ANAK CUCU.