Get Adobe Flash player
6 April 2011

Hidup dengan bijak

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani Denpasar

RABU, 6 APRIL 2011

KEJADIAN 29:1-30

“Kemudian berkatalah Laban kepada Yakub: “Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu” (ayat 15).  Allah menyertai Yakub, dan sampailah ia kesebuah tempat penggembalaan kambing domba dimana waktu itu para gembala sedang bersiap untuk memberi minum hewan gembalaan mereka. Rahel pun, anak Laban, saudara ibu Yakub, juga datang ketempat tersebut dan bertemu dengan Yakub dan segera memberitahukan hal itu kepada ayahnya yang juga langsung menyambutnya. Laban memperlaku kan Yakub dengan baik, dan sekalipun ia adalah sanak saudaranya, bagi Laban Yakub harus tetap men dapat upah dari apa yang dikerjakan dirumahnya. Dan Yakub memilih untuk mendapat istri sebagai upah dari segala yang dikerjakannya dirumah Laban. Maka tujuh tahun kemudian mimpinya untuk mem peristri Rahel menjadi kenyataan walau harus melalui lika-liku perjuangan dan dengan syarat yang juga harus dipenuhinya, taat pada adat dan budaya setempat yang membuat dia harus lebih dahulu menikahi Lea, kakak Rahel. Demi cintanya kepada Rahel, tujuh tahun Yakub rasa hanya beberapa hari meskipun untuk itu ia harus bekerja tujuh tahun lagi pada Laban. Dimanapun kita adanya jika mampu membawa diri dengan baik pasti juga akan diterima dengan baik pula. Untuk itu kita juga harus mengenal dan menghormati peraturan-peraturan yang berlaku, entah itu dalam kalangan sanak saudara sendiri, digereja , dilingkungan kerja dan usaha ataupun dilingkungan dimana kita tinggal. Maka hiduplah dengan penuh hikmat, istimewa terhadap orang-orang luar, itulah hidup yang berpadanan dengan panggilan (Kolose 4:5-6).

 HIDUPLAH BERPADANAN DENGAN INJIL KRISTUS.

5 April 2011

Allah kaya dengan cara

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT Baithani

SELASA, 5 APRIL 2011

KEJADIAN 28:10-22

“Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, kemanapun engkau pegi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melain kan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu” (ayat 15). Yakub pergi oleh karena keselamatan nya terancam oleh kakaknya sendiri, tapi dia pergi dengan membawa jaminan berkat yang diterima oleh Abraham dan Ishak dari Allah. Kepergiaannya membawa hikmah tersendiri baginya karena dengan itu Allah untuk pertama kalinya menyatakan diri-Nya kepada Yakub melalui sebuah mimpi. Melalui mimpi tersebutlah Allah secara pribadi menyatakan janji-Nya bahwa Ia akan membuat keturunan Yakub seperti  debu tanah banyaknya dan ia akan mengembang kesebelah timur, barat, utara dan selatan. Allah juga berjanji menyertai dan melindunginya dan akan membawanya kembali kenegeri yang ditinggalkannya untuk sementara tersebut. Bagi Yakub teramat dahsyat kehadiran Allah melalui mimpi tersebut dan ia tidak menyadari kehadiran Allah ditempat ia sedang istirahat tersebut. Maka Yakubpun bernazar jika Allah menyertai, melindungi, memberkati dan membawanya kembali kenegeri yang ditinggalkannya, maka Tuhan akan menjadi Allahnya dan ia akan memberikan sepersepuluh dari semua berkat yang ia terima. Mungkin kita tidak mendengar secara langsung ataupun melalui mimpi Allah menyatakan diri dan kehendak-Nya sekalipun bukan tidak mungkin Allah secara khusus melawat kita melalui mimpi, tapi yang pasti, melalui firman-Nya kita bisa mengenal dan mengetahui kehendak-Nya. Allah kaya dengan cara untuk menyatakan diri-Nya. Lihat, Dia berdiri dimuka pintu dan mengetok, maka bukalah pintu hatimu dan undanglah Dia masuk lalu nikmatilah lawatan-Nya yang luar biasa (Wahyu 3:20).

DIA ADALAH ALLAH YANG MAHA HADIR.

4 April 2011

Bekal yang terbaik

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renunga Harian  GPT.Baithani Denpasar

SENIN, 4 APRIL 2011

KEJADIAN 27:41-28:9              

“Moga-moga Ia memberikan kepadamu berkat yang untuk Abraham, kepadamu serta kepada keturunan mu, sehingga engkau memiliki negeri ini yang kau diami sebagai orang asing, yang telah diberikan Allah kepada Abraham” (ayat 4). Dalam kemarahan Esau terhadap Yakub sehingga ia menaruh dendam kepadanya dan berniat untuk membunuhnya. Demikian juga ada nada kekecewaan Esau terhadap ayah nya yang membuat dia sepertinya mengharap kematian ayahnya dengan segera. Niat hati Esau tidak ter sembunyi dan hal itu sampai ketelinga Ribka yang juga segera mengambil tindakan dengan menyuruh Yakub pergi ke Padan-Aram, kepada Laban, saudara ibunya. Kepergian Yakub disertai dengan berkat yang dari ayahnya, Ishak, itulah juga berkat yang Ishak terima dari Abraham, ayahnya, bahwa siapapun yang menerima berkat tersebut asalkan ia adalah keturunan Abraham, akan memiliki negeri yang saat itu masih mereka diami sebagai orang asing dan juga ia akan dibuat-Nya menjadi banyak sehingga menjadi sekumpulan bangsa. Hal itu berarti sekalipun Yakub harus pergi ke Padan-Aram, Allah pasti akan mem bawanya kembali kenegeri yang sudah diberikan-Nya kepada Abraham. Setiap orang memiliki perjala nan hidupnya masing-masing dengan berbagai peristiwa yang dialaminya, tapi janji-Nya kepada setiap orang yang hidup seturut dengan kehendak-Nya pasti akan digenapi-Nya. Apa dan bagaimanapun perja lanan hidup orang yang hidup berkenan kepada-Nya, Allah tetap menyertainya. Maka jangan berkecil hati dengan berbagai peristiwa yang kita hadapi sekalipun itu sama sekali tidak menyenangkan dan nam pak sepertinya tidak ada harapan, yakinlah bahwa Ia tidak pernah gagal, Ia selalu menyertai dan member kati dan juga memeliharakan kita apapun yang terjadi disekeliling kita. Percayalah, Dia yang memang gil kita adalah Allah yang setia, Ia juga akan menggenapi janji firman-Nya (1 Tesalonika 5:23). JANGAN PERNAH SEKALIPUN MERAGUKAN KASIH SETIA-NYA.

4 April 2011

Khotbah Minggu di WSB 3 April 2011

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Khotbah, Khotbah Minggu | Tag

Khotbah Minggu – Pdt. Dr. Gatut Budiono,Rektor SATI Malang

Minggu tanggal 27 Maret 2011

BELAJAR DARI ORANG MAJUS

Matius 2:1-12Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem 2 dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” 3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. 4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. 5 Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: 6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” 7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. 8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” 9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. 10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. 11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. 12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”

 

Pernahkah kita menerima seorang tamu, yang meski hanya sebentar waktu kunjungannya namun memberikan kesan yang sulit untuk dilupakan? Bahkan mungkin nama tamu itu, kita sudah tidak ingat lagi, tapi pakaian, gaya atau perilakunya tetap mudah diingat.

Senada dengan hal di atas, orang percaya pasti pernah mendengar cerita tentang orang Majus. Kitab Suci yang digunakan oleh umat Kristen memang tidak mencatat nama ketiga orang Majus itu, tapi kehadirannya akan selalu dikenang oleh orang percaya, khususnya pada masa raya natal.

Ya, kebanyakan orang percaya mendengar kisah orang Majus menjelang natal, meski sesungguhnya kedatangan orang Majus tidaklah tepat saat Yesus lahir ke dunia.

Kini kita akan belajar lebih dalam dari kunjungan orang Majus yang dicatat oleh Kitab Suci sebagai  inspirasi bagi kehidupan kita.

Ada empat pelajaran kebenaran yang memberikan gambaran bagaimana semestinya menjadi anak-anak Tuhan, ini disampaikan oleh Matius secara tidak langsung saat ia menulis kunjungan orang Majus di injil Matius. Meneguhkan fakta betapa baiknya Allah kita.

Allah yang luar biasa, yang sangat kaya dengan cara-Nya memanggil ciptaan-Nya untuk datang menyembah Dia. Apa yang dituliskan dalam Kitab Suci tidak terbantahkan. Seluruh Kitab Suci menceritakan Allah kita, Allah yang tidak ekslusif yang suka merangkul siapa saja untuk menjadi umat-Nya.

 

1. Allah itu tidak ekslusif :

Orang Majus yang datang untuk berjumpa dengan Yesus bukanlah umat Allah, bukan orang Yahudi, bukan pula orang Israel, tetapi dari keturunan bangsa Asyur, dari Babel yang berada di negeri yang jauh dari kota Betlehem.

Saat natal pertama, orang Majus juga menerima undangan, diperoleh melalui pengertian yang mereka terima sejak nenek moyang mereka, yaitu lewat ilmu perbintangan. Pada masa itu ilmu perbintangan telah dikenal, dan hanya orang tertentu yang mampu mempelajarinya. Pada masa itu pula, sejarah dunia mencatat ada kepercayaan Zoroaster yang bersinggungan dengan perihal semesta dan perbintangan.

Namun meski berasal dari negeri yang jauh, dengan Kasih Allah yang tidak terbatas. Melalui ilmu serta pengertian yang mereka miliki sejak turun-temurun, “bila terlihat bintang yang besar, maka raja besar sedang lahir” mereka “ditarik” untuk natalan. Orang Majus mengikuti bintang itu, dengan tujuan untuk datang menyembah Sang Raja Besar.  Membawa orang Majus datang kepada Allah

Allah yang baik, rindu semua manusia menyembah-Nya, Ia ingin semua masuk ke dalam kerajaan-Nya maka pesan itu disampaikan kepada semua orang.

Allah kita adalah Allah yang baik, salah satu sifat Bapa itu inklusif atau tidak ekslusif, maka anak-anak-Nya juga dituntut untuk tidak eklusif.

Orang Kristen juga tidak ekslusif

 

 

 

Jemaat mula-mula meneladankan pula hidup yang tidak ekslusif, hidup mereka menjadi berkat bagi banyak orang. Maka, senada dengan hal di atas bila gereja tidak ekslusif, maka pasti akan memberkati banyak orang

2. Orang-orang Majus betul-betul niat dan serius

Bila kita lihat dari sisi orang-orang Majus, betapa luar biasa tindakan yang mereka lakukan. Dengan melihat bintang saja, mereka percaya dan bertindak. Padahal bila melihat dari pengetahuan dan kemampuan yang mereka miliki untuk datang berkunjung ke Betlehem mereka adalah orang terpandang dan cerdik pandai. Orang Majus rela menempuh jarak dan waktu yang panjang selama 1,5 tahun melewati darat, meninggalkan segala aktivitas sehari-hari mereka ditempat asalnya.

Orang Majus mengikuti bintang itu, ketika sesampainya di tanah Yudea, mereka berkunjung ke Herodes untuk mencari tahu. Herodes saat mendengar ada raja yang lahir, ia berpesan kepada orang Majus untuk mencari raja yang baru lahir itu.

 

Waktu tempuh 1,5 tahun perjalanan hingga sampai di Yudea, disimpulkan dari pernyataan orang Majus itu sendiri. Orang Majus yang datang kepada Herodes pada kala itu telah berdialog dengan Herodes, dan Herodes mengetahui bahwa orang Majus telah melihat bintang yang sejak 1, 5 tahun yang lalu. Maka kelak setelah orang Majus tidak kembali datang kepada Herodes, dengan didorong niat jahat, Herodes memerintahkan untuk membunuh semua bayi dibawah 2 tahun (Mat. 2:16)

Perjalanan yang ditempuh sangat jauh (1,5 tahun), berbiaya yang besar. Jadi selama 3 tahun mereka off –berhenti- dari aktivitas sehari-harinya untuk berjumpa dengan Sang Raja lalu pulang kembali ke negerinya. Suatu perjuangan dan pengorbanan besar telah dilakukan oleh orang Majus.

Bila tidak niat dan serius, tentu mereka tidak mau menempuh perjalanan yang jauh dari sungai Tigris dan Efrat sampai ke Yudea. Perjalanan memutar dikarenakan keadaan geografis saat itu, dengan ditempuh melalui perjalanan darat menunggang kendaraan yang lazim saat itu pula –onta- sehingga tidak bisa secepat sarana transportasi zaman modern.

Betapa bersyukur bila kita dapat beribadah di hari-hari. Apalagi bila kita beribadah dengan sarana transportasi yang telah memadai. Ada rahasia besar dalam ibadah orang percaya kepada-Nya, dan membawa manfaat besar pula bagi orang percaya.

 

3. Walaupun sangat terhormat, tapi rendah hati

Mereka mau menyembah kepada Anak itu di rumah tersebut. Kata rumah ini menjelaskan bahwa, tidak seperti ilustrasi atau cerita yang sering ditampilkan saat perayaan natal, orang Majus datang menyembah Yesus di kandang. Tapi orang Majus datang ke sebuah rumah.  Yusuf, Maria, dan Yesus tidaklah lama tinggal di kandang, hanya sesaat sebab pada malam Maria akan melahirkan seluruh penginapan yang ada telah terisi penuh. Kandang inipun yang dimaksud bukanlah kandang peternakan tapi identik dengan tempat parkir, sebab penginapan masa itu menyediakan tempat parkir atau kandang untuk kendaraan yang lazim digunakan kala itu -keledai, unta- .

“Di hati yang rendah dan menyembah, tangan terbuka dan siap berkorban”

 

Saat orang Majus datang, sudah tidak di kandang lagi tapi di rumah. Mereka datang dan menyembah Yesus. Tidak datang dengan tangan kosong, tapi ucapan syukur dan bhakti ditunjukkan dengan mempersembahkan sesuatu yang berharga. Sebab :

 

Orang Majus datang dengan membawa persembahan: emas batangan, kemenyan berharga, dan mur (ingg. myrhh=ramuan yang dipakai untuk wewangian, biasanya harganya mahal).  

Dapat dirasakan betapa penuh sukacita suasana saat itu. Orang Majus yang datang dari negeri yang jauh telah berhasil menunaikan misi mereka.

Setelah berjumpa dengan Yesus dan mempersembahkan korban, merekapun beranjak pulang kembali ke negerinya.

Setelah kepulangan orang Majus, malaikat datang memperingatkan Yusuf melalui mimpi untuk membawa keluarganya pergi ke Mesir. Ada bahaya yang mengancam, sebab Herodes akan murka, ketika orang Majus tidak datang kembali kepadanya untuk menunjukkan dimana raja besar yang telah lahir itu.

Herodes akhirnya memerintahkan semua anak dibawah 2 tahun harus dibunuh. Tapi Yusuf dan keluarganya telah pergi ke Mesir atas suruhan Tuhan hingga bahaya berlalu.

Lalu dananya darimana untuk pergi ke Mesir dan tinggal di sana –sampai batas waktu yang belum ditentukan sebelumnya-? Dari persembahan orang-orang Majus itu. Tuhan sudah persiapkan segalanya, lewat kedatangan orang Majus. Orang yang datang dari negeri yang jauh –bukan sanak, bukan sesuku, penampilan fisik juga mungkin berbeda- tapi dipersiapkan Tuhan untuk mendukung pelayanan kemuliaan-Nya. Betapa dahyat Allah kita..

 

4. Setelah sukses besar, tetap terbuka pada pimpinan Tuhan

Setelah berhasil menyembah Tuhan, orang Majus yang beranjak pulang diperingatkan Tuhan melalui mimpi untuk tidak kembali kepada Herodes dan mengambil jalan lain bukan jalan yang telah dilaluinya. Mereka menurut walaupun jalannya menjadi lebih jauh.

Orang Majus terbuka dengan petunjuk Tuhan, bersedia mendengar arahan Tuhan dan melakukannya. Demikian halnya, anak Tuhan harus siap menerima pimpinan Tuhan, termasuk diminta menempuh jalan baru.

Jangan pernah merasa mampu, beralasan telah bertahun-tahun melewati jalan yang lama. Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih indah dan sempurna bagi kebaikan umat yang di Cintai-Nya. Menghadapi tantangan kehidupan di zaman akhir ini kita harus siap, mohon selalu pimpinan Tuhan yang segar setiap hari untuk membawa umat-Nya kepada kemenangan. Kemenangan yang besar!!

2 April 2011

KEHILANGAN BAGIANNYA ( Lost his part )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SABTU, 2 APRIL 2011

KEJADIAN 27:1-40

Siapakah gerangan dia, yang memburu binatang itu dan yang telah membawanya kepadaku? Aku telah memakan semuanya, sebelum engkau datang, dan telah memberkati dia; dan dia akan tetap orang yang diberkati” (ayat 33). Sebagai sebuah keluarga, tidak lepas pula keluarga Ishak dari masalah.Di mulai dari sikap orang tua yang membanding-bandingkan yang membuat mereka masing-masing lebih mengasihi yang satu dari yang lain. Masalah mencapai puncaknya ketika Ishak telah menjadi tua dan akan memberikan berkat kesulungan pada anak sulungnya, Esau. Ribka tidak rela berkat kesulungan jatuh ketangan Esau karena ia lebih mengasihi Yakub, maka dia bertindak dengan cerdik untuk mengha dirkan berkat tersebut bagi anak kesayangannya, Yakub. Rencananya berhasil, sebaliknya hal itu menim bulkan kepedihan yang mendalam dalam hati Esau. Tapi walau bagaimanapun juga berkat yang sudah diberikan oleh Ishak tidaklah bisa ditarik kembali, Yakub tetaplah menjadi orang yang diberkati dengan segala yang baik, apa dan bagaimanapun pandangan saudara dan ayahnya terhadap dirinya.  Dengan demikian, apa yang Allah firmankan tentang keduanya ketika Ribka masih mengandung, mulai digena pi. Tidak ada kuasa ataupun kekuatan yang sanggup menggagalkan berkat ataupun rancangan Allah yang indah sejauh kita hidup dalam takut akan Dia. Diri kita sendirilah yang bisa merusak dan mengagal kan berkat dan rancangan Allah atas kita, baik melalui sikap hidup ataupun ketidakmampuan kita dalam menghargai kasih karunia-Nya. Jangan turuti hawa nafsu ataupun memiliki nafsu yang rendah seperti Esau jika tidak mau kehilangan bagian atas berkat-berkat yang telah disediakan-Nya (Ibrani 12:16-17).

JANGAN PANDANG RINGAN KASIH KARUNIA ALLAH.

SATURDAY, 2 APRIL 2011

27:1-40 EVENTS

Who is he, who hunt the beast, and who had brought him to me? I had eaten it all, before you come, and have blessed him, and he will continue the blessed “(verse 33). As a family, Isaac’s family are not free from problems. At the start of the attitude of parents to compare which makes them more loving each one of the other. The problem reached its peak when Isaac had grown old and will give thanks to the birthright of her eldest son, Esau. Rebekah was not willing to fall into the hands of Esau’s birthright blessing because he is more loved Jacob, then he done wisely to bring these blessings for her beloved son, Jacob. The plan succeeded, otherwise it is weighing rise to a deep pain in the heart of Esau. But however well as the blessing was given by Isaac is not able to retract, Jacob still be people who are blessed with all that is good, what and how the views of his brother and father. Thus, what God says about them when Rebecca was pregnant, began to be fulfilled. There is no power or strength that can thwart God’s blessing or a beautiful design as far as we are living in fear of him. We are the ones who can destroy and thwart God’s blessing and design upon us, either through attitudes or our inability to appreciate His grace. Do not obey the passions or have a low appetite like Esau if you do not want to lose the top of the blessings that have been provided to him (Hebrews 12:16-17).

DO NOT VIEW GIFTS LIGHTER LOVE GOD

1 April 2011

PANDANG JAUH KEDEPAN ( Look for the Future )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) By WSB Editorial staff

JUM’AT, 1 APRIL 2011

KEJADIAN 26:1-35

Tinggallah dinegeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu” (ayat 3). Peristiwa yang sama seperti yang terjadi pada jaman Abraham kembali terjadi di negeri dimana Ishak tinggal, yakni kelapa ran. Dan sebagaimana yang diperbuat Abraham dulu, demikianlah Ishak menghadapinya, yakni pergi kepada Abimelekh, raja orang Filistin di Gerar. Dan Tuhan sendiri berfirman kepada Ishak supaya ia tidak pergi ke Mesir, tapi tetap tinggal di Gerar sebagai orang asing karena itulah negeri yang akan diberikan Allah kepadanya dan kepada keturunannya, dan Tuhan sendiri berjanji akan menyertai dan memberkatinya. Ishak taat, maka terjadilah seperti yang difirmankan Tuhan, Ishak menabur disana dan menuai hasil seratus kali lipat dan ia makin lama makin kaya sehingga Abimelekh sendiri menjadi takut dan memintanya untuk meninggalkan daerahnya sebab Ishak telah menjadi jauh lebih berkuasa daripada nya. Abimelekh tidak mempergunakan kekerasan melainkan dengan jalan damai, yakni mengikat perjan jian damai seperti yang dilakukannya dulu dengan Abraham. Pandanglah rencana dan rancangan Allah jauh kedepan, sekalipun sepertinya sekarang kita hanya mendengar janji dan belum melihat kenyataan nya, tapi yakinlah, dengan bermodalkan kepercayaan dan ketaatan, kita pasti akan menikmati kegenapan nya. Waktu dan saat ada ditangan Tuhan sendiri, tapi yang pasti Dia menyertai sekalipun kita tidak melihat-Nya secara kasat mata. Jangan lepaskan kepercayaan kita kepada-Nya, besar upah yang menan tinya, bertekunlah dalam kepercayaan kepada-Nya dan kita akan memperoleh apa yang dijanjikan-Nya (Ibrani 10:35-36).

PANDANGLAH PADA JANJI-JANJI-NYA YANG KEKAL.

Friday, 1 APRIL 2011

26:1-35 EVENTS

Stay in this country as strangers, then I will be with thee and bless thee, for thee and to thy seed will I give the whole country, and I will fulfill my oath that has been declared the to Abraham, your father” (verse 3). Same event as happened at the time of Abraham back in the country where Isaac lived, namely hunger. And, as Abraham had done, so is Isaac face it, that went to Abimelech, king of the Philistines in Gerar. And God himself said to Isaac, so he did not go to Egypt, but remained in Gerar as an alien because that country will be given by God to him and to his descendants, and God himself promised to be with and bless him. Isaac obeyed, then there like that spoken of the Lord, Isaac sowing and reaping there a hundred times and he grew rich that Abimelech himself became frightened and asked him to leave the area because Isaac has become far more powerful than him. Abimelech did not use violence but by peaceful means, ie binding peace agreement as he did first with Abraham. Look to God’s plan and design far ahead, though it seems now we only hear the promise and reality have not seen it yet, but rest assured, to capitalize the trust and obedience, we will surely enjoy her fullness. Time and time is in the hands of God himself, but who would accompany him even if we do not see Him by naked eye. Do not remove our trust in Him, waiting for him big wages, was devoted to Him in faith and we will get what is promised (Hebrews 10:35-36).

LOOK ON HIS PROMISES ETERNAL.