Renungan harian GPT.Baithani
SABTU, 16 APRIL 2011
KEJADIAN 34:1-31
“Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda diantara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan” (ayat 7). Dalam perjalanannya kembali kerumah ayahnya, Yakub sampai di Sikhem dan tinggal disana untuk sementara waktu dan suatu peristiwa memaksanya untuk segera meninggalkan daerah itu. Marah dan sakit hati menguasai hati anak-anak lelaki Yakub terhadap Sikhem, anak Hemor, raja setempat, dikarenakan Dina, adik perempuan mereka telah diperkosa oleh Sikhem. Sekalipun Sikhem berniat baik untuk mengawini Dina, hal itu tetap tidak menyurutkan amarah mereka, bahkan mereka membuat tipu muslihat untuk membalaskan dendam. Dengan berpura-pura menyetujui, mereka mengajukan syarat, yakni setiap laki-laki diantara orang-orang Sikhem harus disunat sama seperti mereka disunat. Usul itu mereka pandang baik, maka merekapun disunat dan kesempatan saat mereka sedang kesakitan digunakan anak-anak Yakub mengambil Dina dari rumah Sikhem dengan kekerasan, membunuh laki-laki yang bersunat yang sedang kesakitan tersebut dan merampasi harta mereka. Emosi dan kekerasan bukanlah jalan yang baik bagi penyelesaian suatu masalah sekalipun karenanya kita yang dirugikan. Jangan turuti panas hati karena hal itu hanya akan membawa kita pada masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. Bila panas hati yang menguasai, pikiran negatiflah yang berperan sehingga niat baikpun akan ditanggapi sebagai ancaman sehingga diri sendirilah yang rugi. Panas hati dan amarah hanya membawa pada keja hatan demi kejahatan, maka adalah bijak bila berhenti marah dan tinggalkan panas hati itu (Mazmur 37:8).
TANGKASLAH UNTUK MENDENGAR TAPI LAMBAT UNTUK MARAH.








