Get Adobe Flash player
19 December 2014

TUNDUK KEPADA OTORITAS!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

 

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 19 Desember 2014
Baca: Ibrani 13:1-25 “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” Ibrani 13:17a

Di zaman sekarang ini tidak mudah menemukan orang yang memiliki roh penundukan diri. Sebaliknya banyak orang yang memiliki roh pemberontakan. Memberontak berarti tidak tunduk pada otoritas, di mana hal ini pasti akan menimbulkan konflik, baik itu konflik antar sesama anggota dalam sebuah keluarga, organisasi, masyarakat, atau bahkan suatu negara. Hari ini firman Tuhan mengingatkan agar setiap orang percaya memiliki roh penundukan diri. Kata taatilah dalam ayat nas di atas menurut teks aslinya berarti menyesuaikan, mengalah dan menaati. Sedangkan kata tunduklah berarti tunduk kepada otoritas.

Tuhan menghendaki setiap orang percaya memiliki roh penundukan diri. Tunduk kepada siapa? Tunduk kepada Tuhan dan juga tunduk kepada pemimpin-pemimpin rohani kita. Tidak sedikit orang Kristen yang tidak tunduk kepada pemimpin rohaninya, mereka malah suka mengkritik, membicarakan kelemahan dan kekurangan, serta meremehkannya. Dalam Bilangan 12:1-16 dikisahkan bagaimana Miryam dan Harun memberontak kepada Musa. Secara garis keluarga, Miryam adalah kakak dari Harun dan Musa, sedangkan Musa adalah yang paling kecil. Tetapi di hadapan Tuhan, urutan otoritas adalah Musa, Harun dan Miryam. Jadi Musa adalah pemegang otoritas tertinggi. Karena tidak tunduk kepada otoritas, Miryam harus menanggung akibatnya, ia “…kena kusta, putih seperti salju;” (Bilangan 12:10a). Tanda bahwa di dalam diri seseorang ada Roh Kudus adalah adanya roh penundukan diri: anak-anak tunduk kepada orangtua, isteri tunduk kepada suami, kita tunduk pada pemimpin rohani, pemimpin rohani kepada gembala dan seterusnya. Musa, sebelumnya adalah seorang yang keras dan pemarah, tetapi setelah mengalami proses penundukan diri dari Tuhan di padang gurun Midian selama 40 tahun, menjadi “…seorang yang lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang ada di atas muka bumi.” (Bilangan 12:3).

Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal penundukan diri; Dia tunduk kepada kehendak Bapa, bahkan “…dalam keadaan seperti manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8).

Tanpa penundukan diri, di mata Tuhan kita bukanlah pribadi yang berkualitas!

 

Friday, December 19th, 2014
Read: Hebrews 13: 1-25 “Obey your leaders and submit to them, for they keep watch over your souls, as those who must give an account.” Hebrews 13: 17a

In this day and age is not easy to find people who have a spirit of submission. Instead many people who have the spirit of rebellion. Rebel means not subject to the authority, in which case this will inevitably lead to conflict, be it conflict among members in a family, organization, community, or even a country. Today the word of the Lord reminded that every believer has a spirit of submission. Obey said in paragraph passage above the original text by means adjusting, caving and obey. While the word submit means submission to authority.

God wants every believer has a spirit of submission. Subject to whom? Submit to God and also subject to our spiritual leaders. Not a few Christians who do not submit to their spiritual leader, they even like to criticize, discuss the weaknesses and shortcomings, and underestimated. In Numbers 12: 1-16 tells how Miriam and Aaron rebelled against Moses. Broadly speaking family, Miriam was the sister of Aaron and Moses, and Moses is the smallest. But in the presence of God, the order of the authority is of Moses, Aaron and Miriam. So Moses is the highest authority. Because it does not submit to the authority, Miriam must bear the consequences, she “… was leprous, white as snow;” (Numbers 12: 10a). Signs that in a person of the Holy Spirit is the spirit of submission to: children are subject to the parents, wives submit to their husbands, we are subject to the spiritual leaders, spiritual leaders to shepherd and so on. Moses, who previously was a loud and angry, but after experiencing the process of submission to God in the wilderness of Midian for 40 years, becoming “… a meek, more than any man in the face of the earth.” (Numbers 12: 3).

The Lord Jesus is the ultimate example in terms of the submission; He is subject to the will of the Father, even “… in a state like a man, he humbled himself and became obedient unto death, even death on a cross.” (Philippians 2: 8). Without submission, in the eyes of God is not a qualified person!

 

18 December 2014

PERLOMBAAN BAGI ORANG PERCAYA! (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 18 Desember 2014
Baca: Ibrani 12:1-17

“…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Ibrani 12:1

Saat ini kita sedang berlomba dalam pertandingan yang diwajibkan bagi kita, yaitu pertandingan iman. Adapun tujuan dari perlombaan ini adalah untuk memperoleh mahkota kehidupan yang telah tersedia bagi kita. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, sebab tanpa persiapan dan latihan intensif kita tidak mungkin dapat bersaing dengan peserta lainnya.

Kehidupan rohani pun ada latihannya yaitu latihan ibadah. Tertulis: “Latihlah dirimu beribadah. …itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:7b-8). Oleh karena itu jangan menyepelekan ibadah, lakukan dengan sungguh-sungguh. Seorang atlit yang sedang bertanding pasti kondisi fisiknya kuat dan sehat karena beroleh asupan makanan yang bergizi. Firman Tuhan adalah makanan untuk ‘manusia rohani’ kita.

Supaya kita bisa menjadi juara, yaitu memenangkan perlombaan iman, kita harus: 1. Mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan Yesus. Ketika kita mulai berlari, arah pandangan kita harus lurus ke depan. Pandang saja kepada Yesus! Jika Tuhan yag memimpin kita dan memegang kendali hidup kita, langkah hidup kita pasti terarah dan kita akan berhasil melewati tantangan yang ada. 2. Melupakan apa yang ada di belakang, seperti yang dilakukan oleh rasul Paulus: “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Jangan sekali-kali menoleh ke belakang supaya kita tetap bisa berkonsentrasi. Kehidupan lama harus kita tinggalkan! Kita harus mengenakan manusia yang baru karena di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru. Segala beban dan dosa harus benar-benar kita tinggalkan karena itu dapat menghalangi langkah kita. Letakkan semua beban dan dosa itu di bawah kaki Yesus. 3. Memiliki ketekunan. Tanpa ketekunan mustahil kita bisa meraih kemenangan! Ketekunan memiliki arti melakukan dengan rajin dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya; dengan setia melakukan kehendak Tuhan.

Mahkota kehidupan disediakan Tuhan bagi orang-orang percaya yang dapat menyelesaikan perlombaan imannya sampai akhir!
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, December 18th, 2014
Read: Hebrews 12: 1-17

“… let us throw off everything that hinders and the sin that so easily entangles us, and run with endurance the race that is set before us.” Hebrews 12: 1

Currently we are competing in a game that is set before us, namely the fight of faith. The purpose of this competition is to obtain the crown of life that has been available to us. Therefore we have to prepare as best as possible, because without preparation and intensive training we may not be able to compete with the other participants.

Spiritual life there is any exercise that exercises of worship. Written: “Train yourself to worship. … It is useful in all things, holding promise for both the present life and the life to come.” (1 Timothy 4: 7b-8). Therefore, do not underestimate worship, do solemnly. An athlete who is competing definitely strong and healthy physical condition due to receive nutritious food intake. The Word of God is food for the ‘spiritual man’ us.

So that we can become a champion, which won the race of faith, we must: 1. Directing our gaze to the Lord Jesus. When we started running, we should gaze straight ahead. Glance only to Jesus! If God yag lead us and take control of our lives, our lives move definitely focused and we will work through the challenges that exist. 2. Forgetting what lies behind, as did the apostle Paul: “… I forget what is behind and straining forward to what lies ahead, and ran to the goal for the prize of the upward call of God in Christ Jesus. “(Philippians 3: 13-14). Never looked back so that we can still concentrate. Life long should we leave! We must put on the new man because in Christ we are a new creation. Every weight and the sin we should really leave because it can hinder our steps. Put all the burden and sin that under the feet of Jesus. 3. Have perseverance. Without perseverance impossible we can win! Persistence means perform diligently and earnestly to do it; faithfully doing God’s will.

Crown of life provided by God for believers who can finish the race of faith to the end!

 

17 December 2014

PERLOMBAAN BAGI ORANG PERCAYA! (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPt Baithani Denpasar
Rabu, 17 Desember 2014
Baca: 1 Korintus 9:24-27

“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiahnya? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” 1 Korintus 9:24

Indonesia baru saja menjadi tuan rumah pesta olahraga se-Asia Tenggara, SEA Games XXVI 2011. Dalam ajang ini semua negara anggota ASEAN bersaing dan berlomba untuk menjadi yang terbaik. Berbagai cabang olahraga dipertandingkan. Ada atlit yang berhasil mendapatkan mendali (emas, perak dan perunggu), namun ada pula yang gagal. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi menjadi cambuk bagi mereka untuk berlatih lebih giat lagi.

Kehidupan kekristenan tak ubahnya seperti seorang atlit yang sedang berada di arena perlombaan atau gelanggang pertandingan. Perlombaan yang dimaksudkan adalah berhubungan dengan pertumbuhan rohani seseorang, dan di dalam pertumbuhan tersebut diperlukan adanya perombaan. Sudah berapa lama kita menjadi seorang Kristen? Sudah seberapa jauh kita mengalami kemajuan atau bertumbuh secara rohani? “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari pernyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.” (Ibrani 5:12-13). Pertumbuhan rohani kita harus tampak nyata dari hari ke sehari: dulu melayani sebagai singer, kini dipercaya sebagai worship leader dan sebagainya. Jadi, “…kemajuanmu nyata kepada semua orang.” (1 Timotius 4:15). Alkitab menyatakan, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” (Matius 20:16).

Jangan pernah bangga bahwa kita sudah menjadi Kristen bertahun-tahun, tapi yang terutama adalah bagaimana kita makin maju dan makin dewasa di dalam Tuhan. Banyak orang yang sudah puluhan tahun menjadi Kristen tapi kerohaniannya begitu-begitu saja dan ‘jalan di tempat’.

Bila ada petobat baru yang hidupnya makin dipakai Tuhan secara luar biasa dan menjadi kesaksian bagi banyak orang, sehingga yang terdahulu dapat menjadi yang terakhir, bukankah ini sangat disayangkan?

16 December 2014

MAU MENGAKUI KELEMAHAN!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 16 Desember 2014
Baca: 2 Korintus 12:1-10

“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” 2 Korintus 12:9b

Setiap manusia pasti memiliki kelemahan-kelemahan, entah disadari atau tidak. Seringkali kita tidak mau mengakuinya dan merasa gengsi untuk mengatakan bahwa kita ini lemah. Kita menganggap diri kita kuat: “Aku sanggup melakukannya sendiri, aku tidak perlu orang lain. Aku berhasil oleh karena usaha dan kerja kerasku, bukan karena siapa-siapa!”

Awal pertama ketika mendapat panggilan dari Tuhan, nabi Yesaya mengalami perkara yang luar biasa, di mana Tuhan menyatakan kemuliaan atasnya dan melalui para malaikatNya Tuhan memperdengarkan suaraNya. Pada saat itulah Yesaya menyadari akan keberadaan dirinya di hadapan Tuhan: seseorang yang najis, lemah dan tidak layak. Lalu Tuhan berkata, “…kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” (Yesaya 6:7). Untuk mengalami pemulihan dari Tuhan, kita harus dapat melihat siapa kita ini di hadapan Tuhan dan mau mendengar suaraNya. Banyak orang Kristen yang tidak peka akan suara Tuhan oleh karena mereka mengalami ‘tuli rohani’. Hal ini disebabkan karena perhatiannya yang lebih besar terhadap perkara-perkara duniawi, terfokus pada kekuatan dan kepintaran manusia. Tuhan menghendaki setiap orang percaya mempunyai pendengaran yang peka terhadap suaraNya, karena dari mendengar suara Tuhan kita menyadari keberadaan kita dan langkah-langkah hidup kita akan terarah. Dan ketika kita sudah berjalan bersama dengan Tuhan, Ia akan mengubah kegagalan kita menjadi keberhasilan.

Mari belajar mengakui kelemahan-kelemahan kita. Terkadang masalah, pencobaan, kegagalan dan sebagainya dipakai Tuhan sebagai alat untuk membuat kita sadar akan keberadaan kita yang lemah dan terbatas ini sehingga kita belajar bergantung dan mengandalkan Dia. Rasul Paulus diijinkan Tuhan mengalami ujian dan tantangan, bahkan harus menghadapi ‘duri dalam daging’. Tapi ia menyikapi setiap masalah yang ada dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin bila kita berada dalam kondisi seperti Paulus kita akan banyak mengeluh dan memberontak kepada Tuhan. Tetapi rasul Paulus tidak bersikap demikian, ia justru mengakui kelemahannya dan menerima semua itu dengan senang dan rela, karena ia tahu justru dalam kelemahannya itu ia menjadi semakin kuat karena kuasa Tuhan dinyatakan atasnya.

Jangan sombong, belajarlah untuk mengakui kelemahan yang ada!
Tuesday, December 16th, 2014
Read: 2 Corinthians 12: 1-10

“Therefore most gladly I will rather boast in my infirmities, that the power of Christ may rest upon me.” 2 Corinthians 12: 9b

Every human being must have weaknesses, either consciously or unconsciously. Often we do not want to admit it and feel proud to say that we are weak. We consider ourselves strong: “I could do it myself, I do not need anyone else. I was successful because of the effort and hard work, not because anyone!”

Early first when it gets a call from God, the prophet Isaiah experienced extraordinary cases, in which God declares the glory of it and through God’s angels play voice. At that moment Isaiah aware of the existence of himself before the Lord: a person who is unclean, weak and unworthy. Then God said, “… your guilt has been removed and your sins have been forgiven.” (Isaiah 6: 7). To experience the restoration of God, we must be able to see who we are in the presence of the Lord and want to hear his voice. Many Christians are not sensitive to the voice of the Lord, because they have experienced ‘spiritual deafness’. This is due to greater attention to those cases mundane, focusing on strength and ingenuity of man. God wants every believer to have sensitive hearing his voice, because of hearing the voice of God we are aware of our existence and the steps of our lives will be directed. And when we had to walk with the Lord, He will transform our failures into successes.

Let’s learn to acknowledge our weaknesses. Sometimes problems, trials, failures and so forth used by God as a means to make us aware of our existence is weak and limited so we learn to depend and rely on Him. The Apostle Paul is allowed God to experience trials and challenges, even had to face a ‘thorn in the flesh’. But he was addressing each issue from a different angle. Maybe if we are in a condition like Paul we will be a lot of complaining and rebellion to God. But Paul is not doing that, he would admit his weakness and accept all that with delight, because he knows precisely the weakness that it becomes stronger because of the power of God revealed it.

 

15 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Senin, 15 Desember 2014 MAKIN HARI MAKIN MENGERTI KEHENDAK TUHAN Baca:  Efesus 5:1-21“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”  Efesus 5:17 Menurut kamus Purwadarminta, bodoh sama artinya dengan bebal atau sukar mengerti.  Siapa di antara kita yang mau disebut sebagai orang yang bodoh atau bebal?  Nobody!  Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya makin hari makin mau maju dan makin dewasa rohaninya.  Seseorang yang dewasa rohani pasti tidak akan bertindak seperti orang bebal  (bodoh), melainkan seperti orang yang arif, sehingga kita mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan.  Sekalipun sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun kita mungkin saja masih menyandang status sebagai orang yang bodoh apabila kita tidak mengerti kehendak Tuhan. Tanda bahwa seseorang tidak mengerti kehendak Tuhan adalah ia lebih suka berjalan menurut kehendaknya sendiri dan hidup menurut keinginan dagingnya daripada tunduk pada tuntutan Tuhan.  Dalam Amsal 3:5-7 dikatakan:  “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.  Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan;”  Bukankah seringkali kehendak dan keinginan kita membawa kita kepada kegagalan demi kegagalan?  Namun seseorang dikatakan arif bila ia dalam menjalani hidupnya selalu berusaha untuk mengerti rencana dan kehendak Tuhan terlebih dahulu;  dan itu harus melalui proses yang tidak mudah, akan ada banyak kendala dan benturan-benturan, tetapi janganlah kita putus asa dan menyerah di tengah jalan.  Justru pada saat itulah Ia berkenan menurunkan Roh KudusNya untuk menuntun dan memberi kekuatan kepada kita.  Seringkali apa yang Tuhan larang kita lakukan, sebaliknya apa yang Tuhan perintahkan justru tidak kita kerjakan karena kita tidak mengerti kehendak Tuhan. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib menanggung segala dosa kita ada tujuannya.  Tuhan ingin kita hidup sebagai  ‘manusia baru’, tidak lagi menjadi hamba dosa, dan memiliki hidup yang menyenangkan hatiNya.  Bila kita mengikuti Tuhan hanya berorientasi pada materi atau hal-hal lahiriah saja, kelak kita bisa kecewa.  Pengiringan kita kepada Tuhan hendaknya didasari oleh karena kasih kita kepada Tuhan dan rindu melakukan kehendakNya. Mengerti kehendak Tuhan berarti kita tidak lagi hidup menurut kehendak sendiri, melainkan taat;  dan berkat pasti tersedia bagi orang yang taat!

13 December 2014

IBLIS MUSUH UTAMA KITA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 13 Desember 2014
Baca: 2 Korintus 2:5-11

“supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.”  2 Korintus 2:11

Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan yang tidak mudah, ada tantangan dan ujian.  Seringkali musuh mencoba menghadang dan menghancurkan setiap keinginan dan cita-cita yang ingin kita raih.  Siapa musuh kita?  Musuh kita bukanlah suami, isteri, mertua, rekan kerja, teman sekelas, tentangga sebelah rumah dan sebagainya.  Musuh kita bukanlah sesama manusia, tetapi si Iblis.  Iblis adalah musuh utama kita!  Karena itu, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus agar berhati-hati supaya musuh  (Iblis)  tidak beroleh keuntungan atas mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah Iblis beroleh keuntungan atas kita ataukah kerugian?  Seringkali banyak orang Kristen yang lebih memihak kepada Iblis:  hidup menurut keinginan daging, tidak bersungguh-sungguh dalam pelayanan, malas berdoa, yang kesemuanya itu memberi keuntungan kepada Iblis, padahal dia adalah musuh kita!  Sebaliknya Tuhan Yesus malah kita rugikan, padahal Dia sudah mengorbankan nyawaNya bagi kita.  Dia sudah menebus kita dari cara hidup yang sia-sia,  “…bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus…”  (1 Petrus 1:18-19).  Jangan biarkan Iblis mengambil keuntungan atas hidup kita!  Kita harus bisa mengalahkannya!

Dengan berbagai cara Iblis berusaha untuk mempengaruhi manusia.  Ia bisa memberikan semua yang dibutuhkan oeh manusia:  harta kekayaan, kenaikan pangkat, popularitas, dan sebagainya.  Ingat!  Semua itu tidak gratis karena jiwa manusialah yang menjadi taruhannya.  Maka,  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.”  (Markus 8:36).  Jadi, tidak ada sesuatu pun yang baik dalam diri Iblis!  Iblis sangat membenci manusia dan selalu mencari orang-orang yang dapat ditelannya  (baca  1 Petrus 5:8).  Iblis juga berusaha menabur hal-hal negatif kepada semua orang:  ketakutan, kebencian, kepahitan, kekuatiran, ketakutan dan lain-lain, sehingga kita tidak lagi percaya akan kuasa Tuhan.  Orang yang sudah tertelan Iblis tidak akan merasa bersalah atau menyesal lagi jika ia melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan;  berbuat dosa menjadi hal yang biasa.  Ini pertanda bahwa pikiran orang itu sudah dibutakan oleh si Iblis dan Iblis telah diuntungkan dalam hal ini!

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”  Yakobus 4:7

12 December 2014

MEMILIKI LOYALITAS TINGGI!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani DEnpasar
Jumat, 12 Desember 2014
Baca:  Roma 12:9-21

“Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  Roma 12:11

Saat ini gereja Tuhan berada di penghujung zaman, hari-hari akhir menjelang Tuhan Yesus datang yang ke-2.  Karena itu gereja Tuhan membutuhkan pelayan-pelayan yang rohnya selalu menyala-nyala bagi Tuhan dan memiliki loyalitas tinggi, bukan yang bermalas-malasan atau suam-suam kuku!  Alkitab dengan tegas menyatakan,  “…karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas aku memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”  (Wahyu 3:16).

Memiliki loyalitas dan komitmen total adalah dua kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pelayan Tuhan, dan untuk memiliki kualitas-kualitas itu dibutuhkan usaha yang keras secara intensif.  Dengan kata lain, seseorang yang ingin menjadi pelayan Tuhan yang berhasil dan menjadi berkat bagi banyak orang harus mampu mengembangkan dirinya terus-menerus.  Ada tertulis:  “…mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.”  (2 Tawarikh 16:9a).  Kata bersungguh hati dalam Alkitab NKJV  (New King James Version)  diterjemahkan yang hatinya loyal.  Loyal berarti setia.  Dengan kata lain, Tuhan akan melimpahkan kekuatan dan kuasaNya itu hanya kepada orang-orang yang memiliki hati yang loyal atau setia kepada Tuhan.

Di dalam loyalitas atau kesetiaan terkandung unsur bisa dipercaya, artinya mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan dengan setia, tanpa merasa terpaksa, apalagi disertai keluh kesah dan persungutan.  Adalah mustahil kita disebut memiliki loyalitas, sementara kita tidak bisa dipercaya.  Jadi orang yang loyal bagi Tuhan selalu tulus dalam mengerjakan apa pun karena kepura-puraan tidak bisa mengiringi loyalitas.  Kita tidak akan loyal kepada Tuhan kalau kita memiliki hati yang pura-pura dalam pelayanan.  Selain itu, dalam diri orang yang mengku loyal kepada Tuhan akan dapat dilihat jelas besar kasihnya kepada Tuhan.  Seringkali kita berdoa meminta agar Tuhan melimpahkan kuasaNya kepada kita, baik dalam hal pelayanan atau dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan agar Tuhan memakai kita secara luar biasa, terjadi mujizat dan sebagainya.  Namun bila hati kita tidak loyal kepada Tuhan, jangan berharap kuasaNya dinyatakan atas kita!

Sebab yang Tuhan cari di bumi ini adalah orang-orang yang punya loyalitas kepadaNya.  Apakah itu ada dalam diri kita?

11 December 2014

ORANG PERCAYA: Berbuah dan Semakin Kuat!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani DEnpasar
Kamis, 11 Desember 2014
Baca:  Kolose 1:3-14

 

“…dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.”  Kolose 1:10b

Dalam Alegori tentang pokok anggur yang benar  (baca Yohanes 15:1-8)  Tuhan Yesus menyatakan bahwa hidup setiap ranting itu sangat bergantung pada pokok anggur.  Supaya menghasilkan buah, ranting harus tetap berada dan menyatu dengan pokok anggur karena  “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”  (Yohanes 15:6).

Keberadaan orang percaya adalah sebagai ranting dalam pokok anggur yang benar.  Agar berbuah, ranting harus tinggal tetap dalam Kristus dan bertekun dalam ketaatan.  Bukan hanya tinggal tetap dalam Kristus, tapi juga harus berbuah, menghasilkan kebaikan-kebaikan hidup dan kemuliaan bagi namaNya serta membawa jiwa-jiwa kepada Kristus.  Seseorang yang tidak bertekun dalam iman dan tidak taat sama artinya telah keluar dari pokok anggur tersebut, dan tinggal tunggu waktu untuk dipotong serta dibuang dari pokok anggur.

Ada tiga macam buah yang diinginkan Tuhan dalam kehidupan orang-orang percaya, yaitu buah pertobatan, buah Roh dan buah pelayanan.  Bila kita sudah menjadi Kristen bertahun-tahun tetapi tidak menghasilkan buah akan sangat menyedihkan hati Tuhan.  Bukankah kita sudah banyak mendengar dan memperoleh pengajaran-pengajaran tentang firman Tuhan dan juga memiliki kesempatan yang luas untuk melayaniNya?  Jadi kehidupan Kristen adalah kehidupan yang terus bertumbuh dan berbuah.  Pertumbuhan itu akan tampak apabila kita benar-benar menanggalkan kehidupan lama kita, sebab  “…siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru:  yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (2 Korintus 5:17).

Hidup yang berbuah adalah hidup yang mempermuliakan nama Tuhan, dan Dia rindu agar buah yang kita hasikan itu tetap dan tidak berubah.  Bila kita sudah berbuah, apa yang kita minta kepada Tuhan pasti akan diberikanNya, asalkan sesuai kehendakNya dan bukan untuk memuaskan keinginan daging.  Semakin berbuah lebat semakin kuat pula kita di dalam Tuhan.

Meskipun badai kehidupan datang silih berganti menerpa kita, hal itu takkan menggoyahkan kita karena persoalan yang kita alami itu tidak melebihi kekuatan kita  (baca  1 Korintus 10:13)  dan kita yakin bahwa Tuhan ada di pihak kita!

10 December 2014

ORANG PERCAYA: Hal Hikmat dan Hidup Berkenan (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 10 Desember 2014
Baca:  Amsal 3:1-26

“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan Tuhan, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya.”  Amsal 3:11

Ketika seseorang dipenuhi hikmat, ia akan semakin bijak karena hatinya terbuka terhadap nasihat dan teguran.  Di zaman sekarang ini banyak orang tidak suka menerima nasihat atau teguran dari orang lain.  Ketika dinasihati atau ditegur terkadang kita marah dan tersinggung.  Tapi orang yang bijak ketika diberi nasihat  “…akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah.”  (Amsal 9:9).  Hikmat menuntun orang kepada kehidupan yang semakin hari semakin berkenan kepada Tuhan.  Itulah rencana Tuhan bagi kehidupan anak-anakNya.  Namun tidak semua orang Kristen mengerti rencana Tuhan atas hidupnya.

Firman Tuhan kepada Yosua,  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya,”  (Yosua 1:8).  Mempelajari dan merenungkan firman Tuhan membuat kita semakin bijaksana, berakal budi dan berpengertian.  Hikmat itu akan kita dapatkan apabila firman yang kita pelajari kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dengan kata lain menimbulkan suatu sikap takut akan Tuhan, sebab  “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik.”  (Mazmur 111:10a).  Apabila kita mengetahui kehendak Tuhan, segala sesuatu yang kita kerjakan akan berhasil, dan kehendak Tuhan itu telah tertulis semuanya dalam firmanNya.  Namun jikalau kita tidak pernah membaca dan menyelidiki firman Tuhan, selamanya kita tidak dapat mengerti apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan.  Abraham senantiasa membangun mezbah bagi Tuhan.  Tidak hanya itu, Abraham juga hidup benar dan bersikap adil.  Ada tertulis:  “Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan Tuhan daripada korban.”  (Amsal 21:3).

Jadi, apabila kita ingin memiliki kehidupan yang dikenan Tuhan dan diberkati, jangan hanya memberikan korban, tetapi kita juga harus hidup dalam kebenaran yaitu melakukan firmanNya!

Hikmat memimpin seseorang hidup dalam kebenaran dan semakin berkenan pada Tuhan!

9 December 2014

ORANG PERCAYA: Hal Hikmat dan Hidup Berkenan (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 9 Desember 2014
Baca:  Kolose 1:3-14

“Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,”  Kolose 1:9b

Rasul Paulus memiliki kerinduan besar terhadap jemaat di Kolose yaitu agar mereka makin dipenuhi hikmat dan pengertian yang benar akan Tuhan.  Begitu pentingkah hikmat bagi orang percaya, sehingga Paulus tiada henti-hentinya berdoa meminta kepada Tuhan supaya Tuhan menambah-nambahkan hikmat kepada para jemaat?

Tanpa memiliki hikmat kita akan menjadi sasaran empuk Iblis dan hanyut terbawa arus dunia yang semakin jahat ini.  Ada tertulis:  “Tanpa pengetahuan kerajaan pun tidak baik;  orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.”  (Amsal 19:2).  Hikmat dalam konteks Ibrani dikenal dengan kata khokhma yang mengandung arti pengertian atau kebijakan.  Hikmat terbentuk dalam diri seseorang melalui ketaatan dan pengajaran akan firman Tuhan.  Alkitab menyatakan,  “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”  (Amsal 9:10).

Hikmat adalah anugerah khusus yang diberikan Tuhan bagi orang percaya.  Jadi,  “Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.”  (Amsal 16:16), artinya hikmat itu begitu special, di mana tidak ada seorang pun dapat membelinya, karena di dunia ini tidak ada orang yang menjual hikmat!  Hikmat itu lebih berharga dari emas, kekayaan, uang, jabatan dan apa pun yang ada di dunia ini;  hikmat tidak dapat dibeli, tidak dapat dicuri dan juga tidak dapat lenyap.  Oleh karena itu kita harus berusaha sedemikian rupa untuk mengejar dan mendapatkan hikmat itu.  Kita harus terutama sekali mencari hikmat.  Namun untuk mendapatkan hikmat tidaklah gampang, karena hikmat hanya diberikan kepadat mereka yang dengan tekun bersedia membayar harganya.  Dikatakan,  “jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.”  (Amsal 2:4, 6).

Memiliki hubungan karib dengan Tuhan adalah langkah pertama mendapatkan hikmat.  FirmanNya:  “Aku mengasihi orang yang mengasihi aku, dan orang yang tekun mencari aku akan mendapatkan daku.”  (Amsal 8:17).  Sejauh mana kita bertekun mencari hikmat dari Tuhan? Bangunlah persekutuan yang karib dengan Tuhan!