Get Adobe Flash player
29 October 2014

AKANKAH IA MENGABAIKAN DOA KITA?

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Rabu, 29 Oktober 2014
Baca:  Lukas 18:1-8

 

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?  Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”  Lukas 18:7

Sebagai manusia kita cenderung mudah putus asa dan tidak sabar menantikan jawaban doa kita.  Itulah sebabnya Yesus mengajar kita berdoa tak putus-putusnya.  “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.”  (ayat 1).  Kita wajib berdoa setiap hari dan setiap saat, karena jika tidak, kita tidak akan memiliki hubungan harmonis dengan Bapa.  Kadangkala kita kecewa dan kehilangan semangat, kita berpikir seolah-olah doa kita tidak akan didengar Bapa.  Sorga nampak seolah-olah mempunyai pintu baja yang menghalangi doa kita mencapai Allah.  Tetapi Yesus menghendaki kita senantiasa berdoa sekalipun belum ada tanda-tanda jawaban atas doa kita.

Jika kita menyerahkan hidup dalam tangan Yesus, Bapa kita bukan hanya mendengar doa-doa kita, tetapi Ia juga akan menjawab doa-doa kita.  “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?  Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Allah Bapa kita tidak berlambat-lambat dalam membalas doa kita, tetapi kitalah yang harus bersabar dan belajar menerima segala sesuatunya sejalan dengan rencana dan jadwal Allah.  Sesungguhnya apa yang kita butuhkan telah tersedia, tetapi hal itu akan dinyatakan kepada kita pada waktu yang tepat.  Ketika kita menabur benih, benih itu tidak bertumbuh dalam waktu semalam;  ia membutuhkan waktu beberapa hari untuk tumbuh.  Dan kita akan menuainya setelah beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.  Demikian juga dengan doa-doa kita.  Kadang kita harus berdoa untuk jangka waktu yang lama baru kita dapat menikmati hasilnya.

Janganlah tawar hati karena Yesus berkata,  “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Lukas 11:10).  Jadi barangsiapa belum juga menerima jawaban doa-doanya, bersabarlah dan nantikanlah waktuNya.  Mungkin Ia menghendaki engkau membuktikan kesetiaan dan kesabaranmu dalam masa-masa kesukaranmu.  Atau mungkin saja Allah ingin membangun karaktermu melalui ujian yang kauhadapi sehingga engkau memiliki karakter Anak.

Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya;  dan tak peduli apa masalahmu, bagi Allah, jawabannya amat mudah!  Jadi, jangan berhenti berdoa!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 29th, 2014
Read: Luke 18: 1-8

“Did God would justify the choice of his cry day and night unto him? And is he stalling before helping them?” Luke 18: 7

As humans we tend to be easily discouraged and impatient waiting for an answer to our prayers. That is why Jesus taught us to pray incessantly. “Jesus spoke a parable to them to assert, that they should always pray and not lose heart.” (verse 1). We should pray every day and every moment, because otherwise, we would not have a harmonious relationship with the Father. Sometimes we are disappointed and demoralized, we think as if our prayers will not be heard Father. Heaven seems as though having a steel door that hinder our prayers reach God. But Jesus wants us to always pray even though there is no sign of the answers to our prayers.

If we put lives in the hands of Jesus, our Father not only hear our prayers, but He will answer our prayers. “Did God would justify the choice of his cry day and night unto him? And is he stalling before helping them?” God our Father without delay in replying to our prayers, but we have to be patient and learn to accept everything in line with God’s plan and schedule. Surely what we need is already available, but it will be revealed to us in a timely manner. When we sow the seed, the seed does not grow overnight; it takes a few days to grow. And we will reap after a few months or even several years later. Likewise with our prayers. Sometimes we have to pray for a long period of time then we can enjoy the results.

Do not lose heart because Jesus said, “For everyone who asks receives, and everyone who seeks finds, and to him who knocks, the door will be opened.” (Luke 11:10). So anyone who has not yet received an answer to his prayers, be patient and wait for His timing. Perhaps He wants you to prove loyalty and patience in times of difficulties. Or maybe God wants to build character through the exam so that you have a character you’re up against Children.

Any problems there must be a way out; and no matter what your problem is, for God, the answer is very easy! So, do not stop praying!

28 October 2014

Kesatuan Iman

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 28 Oktober 2014
Baca:  Efesus 4:1-16

“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”  Efesus 4:13

Berbicara tentang kedewasaan adalah berkenaan dengan karakter, cara berpikir, berperilaku dan sikap hati alam merespons segala hal.  Mengukur kedewasaan rohani seseorang berbeda dengan jika menerka atau menduga berapa usia orang tersebut.  Mungkin kita akan lebih mudah menebak usia seseorang dilihat dari tampilan fisik dan juga ciri-ciri biologis lainnya, apakah dia masih tergolong kanak-kanak, remaja atau sudah berusia lanjut.  Namun untuk melihat kedewasaan rohani seseorang itu tidaklah gampang, kita harus mengenal pribadi orang itu lebih dalam dan bergaul dekat dengan dia dalam kurun waktu yang tidak singkat, itu pun belum bisa menjamin sepenuhnya kita bisa tahu kedewasaan rohaninya;  jadi membutuhkan banyak waktu.

Menduga usia kedewasaan rohani seseorang memang tidaklah mudah karena kehidupan kekristenan adalah dinamis, bukan statis;  harus terus bertumbuh dari hari ke sehari.  Tuhan menghendaki, setiap orang percaya mencapai kedewasaan penuh,  “…bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”  (ayat 14).

Kedewasaan dalam hal apa yang harus menjadi target hidup kita?  Salah satunya adalah harus dewasa dalam firman.  “…makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”  (Ibrani 5:14).  Orang yang dewasa rohani pasti mencintai firman Tuhan, hatinya terus merasa haus dan lapar terhadap firman Tuhan.  Segala pikiran dan tindakan terarah kepada firman Tuhan yang direnungkannya dengan sungguh-sungguh.  Ia tidak akan mudah tersinggung atau marah jika tertegur oleh firman Tuhan yang keras.  Jika kita masih marah, menyalahkan hamba Tuhan dan mogok ke gereja hanya karena firman, berarti kita masih Kristen kanak-kanak.  Simak pernyataan Paulus:  “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.  Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”  (1 Korintus 13:11).

Dewasa berarti tidak lagi seperti kanak-kanak, tetapi berubah dan hidup seturut dengan firman Tuhan!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, October 28th, 2014
Read: Ephesians 4: 1-16

“until we all reach unity in the faith and of the knowledge of the Son of God and become mature, attaining to the fulness of Christ.” Ephesians 4:13

Speaking of maturity with regard to the character, way of thinking, behavior and attitudes of the heart respond to all things natural. Measuring a person’s spiritual maturity is different from if guess or surmise how old the person is. Perhaps it is easier to guess the age of a person seen from the physical appearance as well as other biological characteristics, if he is still considered a child, teenager or elderly. But to see someone’s spiritual maturity is not easy, we must get to know him more deeply and hung close to him within a period not shorter, it also can not fully guarantee we can know the spiritual maturity; so it takes a lot of time.

Predicting the age of a person’s spiritual maturity is not easy because the Christian life is dynamic, not static; should continue to grow from day to day. God wants every believer reaches full maturity, “… no longer children tossed about by every wind of doctrine, by human cunning fake game they were misleading,” (verse 14).

Maturity in terms of what should be the target of our lives? One of them is to be the adult in the word. “… solid food is for the mature, who because of practice have their senses trained to discern good from evil.” (Hebrews 5:14). People who are spiritually mature sure loves the word of God, his heart continues to feel thirsty and hungry for the word of God. All thoughts and actions directed to the Word of God in his reflection in earnest. He will not easily offended or upset if tertegur by the word of God is hard. If we are still angry, blaming ministers and strike to church just because of the word, means that we are still a Christian child. Consider Paul’s statement: “When I was a child, I spoke like a child, I felt like a child, I reasoned like a child. But when I became an adult, I left it childish.” (1 Corinthians 13:11).

Adult means no longer as a child, but change and live according to the Word of God!

27 October 2014

MERENUNGKAN FIRMAN: Kunci Keberhasilan Dalam Segala Hal !

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 27 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 1:1-6

“tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”  Mazmur 1:2

Apakah Saudara membaca Alkitab setiap hari?  Masih banyak orang Kristen yang menjawab,  “Jujur, saya jarang baca Alkitab.  Mana sempat?  Pulang kerja sudah larut malam, jadi cuma sempat berdoa saja.  Saya membaca Alkitab kalau pas hari Minggu di gereja.  Untung di tas kerja saya ada AIR HIDUP, bisa dibawa kemana-mana.  Itu saja yang kubaca.”  Membaca firman Tuhan melalui renungan-renungan harian memang bagus karena di situ ada tuntunan ayat-ayat yang kita baca, tapi kita tidak boleh melupakan sumbernya yaitu Alkitab  (firman Tuhan).

Seseorang yang memiliki kehidupan doa pribadi setiap hari pasti hidupnya tidak dapat dipisahkan dari firman Tuhan, karena ia sadar bahwa  “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  (Matius 4:4).  Oleh karena itu kita harus menyediakan waktu secara khusus untuk membaca, mendengar dan merenungkan firman Tuhan setiap hari.  Sebagaimana tubuh jasmani kita membutuhkan makanan setiap hari, begitu pula dengan manusia roh kita, harus makan makanan rohani  (firman Tuhan)  secara teratur setiap hari.  Orang yang suka merenungkan firman siang dan malam adalah orang yang memiliki kekariban dengan Tuhan.  Dan terhadap orang yang karib,  “…perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).  Pentingkah firman Tuhan bagi kehidupan Saudara?  Kita harus menyadari bahwa firman Tuhan adalah pegangan dan pedoman hidup orang percaya, karena itu  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

Jika kita rindu mengalami kuasa Tuhan, rindu pelayanan kita berhasil, rindu mengalami berkat-berkat Tuhan, kita pun harus mencintai firman Tuhan setiap hari.  Sayang, masih banyak orang Kristen yang menyepelekan firman Tuhan, Alkitab yang adalah buku kehidupan yang cuma dijadikan pajangan di dalam lemari, padahal isi Alkitab itu benih hidup yang kekal dan perkataan Tuhan sendiri yang penuh kuasa.

Tidaklah mengherankan banyak orang Kristen mengalami kegagalan dalam hidup dan menjadi seperti tanah kering karena mereka tidak suka firman Tuhan

CONTEMPLATE WORD: Keys to Success In All Things!
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 27th, 2014
Read: Psalm 1: 1-6

  “but the favorite is the law of the Lord and his law he meditates day and night.” Psalm 1: 2

Do you read the Bible every day? There are many Christians who replied, “Honestly, I rarely read the Bible. Which was? Home from work it was late, so only had time to pray. I read the Bible that fit in the church Sundays. Fortunately in my briefcase there WATER OF LIFE, could to carry anywhere. that’s all I read. “Reading the word of God through daily reflections are good because there is no guidance verses we read, but we should not forget its source, namely the Bible (God’s word).

Someone who has a personal prayer life every day of his life certainly can not be separated from the word of God, because he realized that “Man shall not live by bread alone, but by every word that proceeds from the mouth of God.” (Matthew 4: 4). Therefore we must make time specifically for reading, listening and meditating on the Word of God every day. Just as our physical bodies need food every day, as well as our spirit man, must eat spiritual food (God’s word) regularly every day. People who like to meditate on the Word day and night are the people who have intimacy with God. And to the person who intimates, “… told his covenant unto them.” (Psalm 25:14). Important is the word of God for your life? We must realize that God’s Word is the grip and guide the lives of believers, because it is “Do not forget this Book of the Law, but meditate on it day and night, that you may observe to do according to all that is written therein: for then the journey will succeed and you will be lucky. “(Joshua 1: 8).

If we desire to experience the power of God, we managed to miss the service, longs to experience the blessings of God, we must love the Word of God every day. Unfortunately, there are many Christians who disregard God’s word, the Bible is the book of life is only used as a display in a cabinet, when the contents of the Bible is the seed of eternal life and God’s own words of power.

It’s no surprise many Christians have failed in life and become as dry land because they do not like the word of God

25 October 2014

MENJADI BERKAT OLEH ANUGERAHNYA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 25 Oktober 2014
Baca:  Roma 4

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham,…”  Roma 4:16a

Alkitab mencatat,  “Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.”  (Yosua 24:2).  Melalui ayat ini jelas dinyatakan bahwa Terah, ayah Abraham, adalah penyembah berhala.  Ini menunjukkan bahwa pada awalnya Abraham bukanlah orang percaya.  Seperti orang-orang sezamannya, ia adalah penyembah berhala yang memuja berhala di Ur-Kasdim.  Namun dalam Kejadian 12:1 Tuhan mengatakan padanya,  “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;”  (Kejadian 12:1).  Inilah awal Abraham menjadi orang percaya.

Tuhan menyatakan diriNya secara pribadi kepada Abraham karena Dia memiliki rencana besar atas kehidupan Abraham, hendak menjadikannya bapa bagi bangsa-bangsa.  Hidup Abraham dipakai Tuhan bukan karena ia orang benar, tetapi karena anugerahNya semata.  “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri,…”  (2 Timotius 1:9).  Abraham merespons panggilan Tuhan ini dengan ketaatan.  Ketika diperintahkan pergi ke suatu negeri yang belum diketahuinya, dengan konsekuensi harus meninggalkan sanak keluarga dan tanah leluhurnya, Abraham taat.  Ini bukanlah perkara mudah, apalagi perintah itu ia terima dari Tuhan yang baru saja dikenalnya.  Namun respons Abraham telah menghasilkan keselamatan bagi seluruh umat manusia, di mana melalui keturunan Abraham inilah Allah menggenapi janjiNya dengan mengutus Yesus Kristus datang ke dunia.

Prinsip pemilihan Tuhan terhadap Abraham sama dengan prinsip Tuhan memilih kita.  Kita yang sebelumnya adalah orang-orang berdosa, ditebus melalui darah Kristus yang kudus sehingga kita menjadi orang-orang yang dibenarkan, lalu diangkat sebagai anak-anakNya, artinya kita juga ahli waris Kerajaan Allah.

Mari introspeksi diri:  adakah kita memiliki ketaatan seperti Abraham?  Berani mengambil keputusan untuk mengikuti dan melayani Tuhan dengan segenap hati serta rela meninggalkan segala kenyamanan yang ada selama ini?

 

BE A BLESSING BY GRACE
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 25th, 2014

Read: Romans 4 “Therefore it is of faith that is grace, so that the promise applies to all the descendants, …” Romans 4: 16a

The Bible records, “Once upon a time beyond the Euphrates River, is where silent ancestors, that Terah, the father of Abraham and father of Nahor, and they served other gods.” (Joshua 24: 2). Through this verse clearly states that Terah, Abraham’s father, was an idolater. It shows that at the beginning of Abraham was not a believer. Like many of his contemporaries, he was a pagan who worships idols in Ur of the Chaldeans. But in Genesis 12: 1 The Lord said to him, “Go from your country and from your relatives and from your father’s house to the land that I will show thee;” (Genesis 12: 1). This was the beginning of Abraham became a believer.

God reveals Himself personally to Abraham because He has great plans for the life of Abraham, the father wanted to make it to the nations. Abraham’s life was used by God not because he was righteous, but because of His grace alone. “He saved us and called us with a holy calling, not according to our works, but according to the purpose and grace of his own, …” (2 Timothy 1: 9). Abraham responded to God’s call to obedience. When instructed to go to a land that is not yet known, the consequences of having to leave the land of their ancestors and relatives, Abraham. It is not easy, especially the order he received from the Lord who had just met. However, Abraham’s response has resulted in salvation for all mankind, where through the seed of Abraham that God fulfilled His promise by sending Jesus Christ came into the world.

The principle of God’s choice of Abraham together with the principles of God’s choosing us. We previously were sinners, redeemed by the blood of Christ is holy so that we become people who are justified, and appointed as his children, it means we are also heirs of the kingdom of God.

Let introspection: are we going to have obedience like Abraham? Brave decision to follow and serve the Lord with all your heart and willing to leave all the comforts that have so far?

24 October 2014

HIDUP KEKRISTENAN: Terpisah dari Dosa!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 24 Oktober 2014
Baca:  Keluaran 19

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.  Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.”  Keluaran 19:6

“Kekudusan lagi!  Topik itu melulu, bosan ahh!”  Mungkin itu reaksi kita.  Kekudusan adalah topik yang sangat tidak disukai dan sebisa mungkin dihindari oleh orang Kristen.  Mengapa?  Karena berbicara tentang kekudusan berarti jemaat akan ditegur, dikoreksi, di  ‘ditelanjangi’  dosa-dosanya.  Namun, mau tidak mau, suka tidak suka, topik itu harus tetap disampaikan kepada orang percaya sampai Tuhan datang kali kedua, karena kekudusan adalah syarat mutlak untuk dapat melihat Tuhan.  “…kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14).  Jadi kekudusan adalah sasaran hidup setiap orang percaya.

Apakah sebenarnya kekudusan itu?  Secara umum kudus berarti tak berdosa.  Siapa manusia yang tidak berdosa, selain Yesus?  Kata kudus dalam bahasa Ibrani adalah qodosh, yang memiliki arti dasar pemisahan.  Kepada Musa Tuhan berfirman demikian:  “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka:  Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.”  (Imamat 19:2).  Ini menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan adalah kudus dan tidak bisa diganggu gugat!  Dia tidak bisa disamakan dengan ilah-ilah lain.  Karena itu Tuhan melarang bangsa Israel menyembah ilah-ilah lain karena hanya Tuhan saja yang layak disembah.  Tuhan memanggil bangsa Israel untuk dikuduskan atau dipisahkan dari bangsa-bangsa lain dan diangkat menjadi umat pilihanNya.  Begitu juga Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan kita orang-orang berdosa dan memisahkan kita dari dunia ini, serta menjadikan kita sebagai  “…bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil keluar dai kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib;”  (1 Petrus 2:9).

Alkitab menyatakan bahwa melalui karya kudusNya di kayu salib Yesus membenarkan, menguduskan, menebus kita  (baca  1 Korintus 1:30).  Karena telah dipisahkan dari dosa, Tuhan menghendaki kita juga  ‘berbeda’  dari dunia dan tidak turut dalam perbuatan-perbuatan mereka.

Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.”  (2 Korintus 6:17).

ON CHRISTIANITY: Separate from Sin!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, October 24th, 2014
Read: Exodus 19

“Ye shall be unto me a kingdom of priests and a holy nation. These are the words which you shall speak to the Israelites.” Exodus 19: 6

“Holiness again! The topic was merely, bored ahh!” Maybe it was our reaction. Holiness is a topic that is very unpopular, and as much as possible be avoided by Christians. Why? Because talking about holiness means the church will be reprimanded, corrected, in ‘stripped’ sins. However, like it or not, like it or not, the topic should still be submitted to the believers until the Lord comes the second time, because holiness is the necessary condition to be able to see God. “… pursue holiness, for without holiness no one will see the Lord.” (Hebrews 12:14). So holiness is a life goal of every believer.

Is it true holiness? In general, means holy innocent. Who innocent human being, other than Jesus? Holy word in Hebrew is qodosh, which has the basic meaning of separation. Thus the Lord said to Moses: “Speak to the entire assembly of Israel and say to them: You shall be holy, for I, the Lord your God, am holy.” (Leviticus 19: 2). This shows that the existence of God is holy and inviolable! He can not be equated with other gods. Therefore God forbid the Israelites worshiped other gods because only God is worthy of worship. God called Israel to be sanctified or separated from other nations, and was named a chosen people. Likewise, the Lord Jesus came into the world to seek and save us sinners and separated us from this world and make us as “… a nation that is selected, a royal priesthood nations find holy, people belonging to God himself, that ye proclaim the great deeds of him who has called out of darkness into light propagators his wonderful; “(1 Peter 2: 9).

The Bible declares that through His work on the cross of Jesus to justify, sanctify, redeem us (see 1 Corinthians 1:30). Since it has been separated from sin, God wants us too ‘different’ from the world and do not participate in their deeds.

“Come out from among them, and be ye separate, saith the Lord, and touch not the unclean thing; and I will receive you.” (2 Corinthians 6:17).

23 October 2014

JANGAN BIARKAN KESEMPATAN ITU LEWAT!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 23 Oktober 2014
Baca:  Galatia 6:1-10

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  Galatia 6:10

Ada kata bijak yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Banyak orang yang menyesal begitu rupa saat kesempatan itu tidak digunakan dengan baik.  Yang ada tinggallah penyesalan.

Tuhan memberikan kesempatan kepada orang-orang di zaman Nuh selama 120 tahun untuk bertobat, tapi mereka tidak mempergunakannya dengan baik dan akhirnya penyesalan pun tiada guna.  Dan saat Tuhan menenggelamkan bumi dengan air bah, binasalah mereka semua kecuali Nuh dan keluarganya yang selamat.  Begitu juga seluruh penduduk kota Sodam dan Gomora yang dibumihanguskan oleh Tuhan.  Selama masih hidup mereka menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan tetap hidup di dalam dosa.  Juga kisah orang kaya dan Lazarus  (baca  Lukas 16:19-31). Saat di dunia si kaya hidup dalam gelimangan harta , tapi ia lupa diri dan tidak pernah menabur atau memperhatikan orang-orang lemah.  Akhirnya ia mengalami kebinasaan kekal.  Ia lupa bahwa hidup di dunia ini adalah kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan hidup di dalam kekekalan.

Berapa lama kita memiliki kesempatan hidup di dunia ini?  Selamanyakah?  Dalam mazmurnya Daud berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;  sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Menyadari bahwa kesempatan itu sangatlah terbatas, Daud pun berdoa,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12).  Jadi tugas kita menemukan kesempata dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri atau sesama sehingga raja Salomo menasihati,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10).

Selagi Tuhan memberi kesempatan, gunakan sebaik mungkin supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari!

DO NOT LET OPPORTUNITY THROUGH IT!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 23, 2014
Read: Galatians 6: 1-10

“Therefore, as long as we have opportunity, let us do good to all people, but especially to our friends in the faith.” Galatians 6:10

There is a proverb that states that the opportunity does not come a second time. Therefore you should never waste any opportunity. Many people regret so much when the opportunity was not used properly. That there lived remorse.

God gave the opportunity to the people of Noah’s day for 120 years to repent, but they do not use them properly and ultimately regret was useless. And when God drowning the earth with a flood, they all perished except Noah and his family survived. Likewise all the men of Sodam and Gomorrah were burned by God. While still alive they wasted the opportunities that exist and live in sin. Also the story of the rich man and Lazarus (see Luke 16: 19-31). When in the rich world who live in abundant wealth, but he forgot himself and never sow or pay attention to those weak. Finally he suffered everlasting destruction. He forgets that life in this world is an opportunity for us to prepare for life in eternity.

How long do we have a chance to live in this world? Forever? In the psalm, David says, “days of our lives seventy years and if we are strong, eighty years old, and his pride is hardship and suffering, for the passage of a hurry, and we drift away.” (Psalm 90:10). Realizing that it is very limited opportunity, David prayed, “Teach us to number our days, that we may gain a heart of wisdom.” (Psalm 90:12). So the task we find occasion, in every situation, because if life ends no more opportunity to repent. After death there is no more chance to do good for themselves or others that King Solomon advises, “Everything that your hand finds to do, do it with your might; for there is no work or device or knowledge or wisdom in the grave, where you are will go. “(Ecclesiastes 9:10).

While God gives opportunity, to use as possible so there are no regrets in the future!

22 October 2014

TETAP KOKOH BERDIRI MESKI DI TENGAH BADAI

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 22 Oktober 2014
Baca:  Matius 7:24-27

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  Matius 7:25

Meski berada di tengah badai persoalan, jika kehidupan rohani kita dibangun di atas pondasi yang kuat, kita akan tetap kokoh berdiri.  Sebaliknya, orang Kristen yang kehidupan rohaninya dibangun di atas pasir akan mudah hancur saat diterpa badai:  stres, frustasi, menyalahkan Tuhan dan lalu meninggalkan Tuhan.

Membangun di atas batu  (pondasi yang kuat)  artinya mendengarkan firman dan juga melakukan firman itu.  Sedangkan orang yang membangun di atas pasir adalah orang yang mendengarkan firman tetapi tidak melakukannya.  Itulah sebabnya mengapa Tuhan mengijinkan kita berada di  ‘padang gurun’  atau mengalami badai persoalan, yaitu untuk membuktikan apakah kita sudah tinggal dalam firmanNya atau belum.  Dengan adanya masalah atau badai persoalan kehidupa rohani seseorang akan terlihat kualitasnya.

Orang Kristen yang hidup dalam firman pasti akan tetap teguh berdiri meski berada di tengah badai, karena ia tahu benar bahwa jika Tuhan mengijinkan hal itu terjadi pasti tidak melebihi kekuatan dan Dia selalu menyediakan jalan ke luar.  Ada tertulis:  “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.  Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).  Namun jika kehidupan rohani kita dibangun di atas pasir kita akan mudah terhempas ketika badai persoalan datang, karena kita tidak berakar kuat di dalam firman seperti yang dikatakan Ayub,  “Mereka menjadi seperti jerami di depan angin, seperti sekam yag diterbangkan badai.”  (Ayub 21:18).  Kita tak ubahnya seperti sekam.  Apa itu sekam?  Sekam adalah kulit padi.  Sekam akan bertebaran ke mana-mana jika diterpa angin karena tidak memiliki berat  (ringan),  tidak berbobot.  Oleh karena itu mari terus melekat kepada Tuhan dan hidup seturut akan firmanNya.  Badai kehidupan boleh terjadi, tetapi bagi setiap orang percaya ada jaminan pertolongan dari Tuhan.

“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  Yesaya 46:4

EVEN STILL STANDING IN THE MIDDLE OF ROBUST STORM
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 22, 2014
Read: Matthew 7: 24-27

“Then the rain descended and the floods came, and the winds beat on that house, but the house collapsed because it was not founded upon a rock.” Matthew 7:25

Although located in the center of a storm of problems, if our spiritual life is built on a strong foundation, we will remain firm stand. Instead, Christian spiritual life is built on sand will crumble when the storm: stress, frustration, blame God and then leave God.

Building on the rock (strong foundation) means listening to the word and the word was also conducted. Meanwhile, people who build on sand are people who listen to the word but does not do so. That is why God allows us to be in the ‘wilderness’ or experiencing storm problems, which is to prove whether we are living in His Word or not. With the problems or issues storm one’s spiritual life will look quality.

Christians who live in the word would have remained standing firm despite being in the middle of the storm, because he knew very well that if the Lord permits it certainly does not exceed the power and He always provides a way out. It is written: “No trial has overtaken you experienced is normal trials, which do not exceed the power of man. And God is faithful; he will not let you be tempted beyond your strength. When you are tempted he will also provide a way out so that you can endure it. “(1 Corinthians 10:13). But if our spiritual life is built upon the sand we would be easily crushed when the storm comes the question, because we are not firmly rooted in the Word as Job said, “they like straw before the wind, like chaff blown yag storm.” (Job 21:18). We are like chaff. What is chaff? Chaff is bran. Chaff will be scattered everywhere when the wind because it does not have the weight (light), not weighted. Therefore, let’s continue to cling to God and live according to His Word will. Storms of life may occur, but for every believer is no guarantee of help from God.

“Up to your old age I am He, and to gray hairs I will carry you. I’ve done it and I will bear; I will carry you and save you.” Isaiah 46: 4

21 October 2014

TUHAN MENOPANG: Di Segala Perjalanan Hidup Kita!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 21 Oktober 2014
Baca:  Ulangan 1:19-33

“dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa Tuhan, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.”  Ulangan 1:31

Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi begitu lama dan sangat melelahkan.  Itulah yang dialami oleh bangsa Israel:  selama 40 tahun mereka harus melintasi padang gurun itu, mulai dari tanah Mesir sampai ke Kanaan, hanya dalam waktu beberapa hari saja.  Sebuah perjalanan yang tidak mudah karena di padang gurun hampir tidak akan kita jumpai tanaman, kecuali di tempat-tempat tertentu.  Belum lagi perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam, serta banyaknya binatang buas yang berkeliaran di padang gurun.  Mengapa bangsa Israel begitu lama berada di padang gurun?  Itu akibat dari ketidakpercayaan bangsa Israel sendiri sehingga Tuhan membiarkan mereka berputar-putar mengelilingi padang gurun tersebut selama 40 tahun hingga generasi pertama dari bangsa itu tidak ada lagi, hanya Kaleb dan Yosua saja dari generasi pertama bangsa itu yang memasuki Tanah Perjanjian.

Dalam perjalanan hidup ini terkadang kita juga harus mengalami seolah-olah sedang berada di padang gurun.  Tetapi ada hal yang hendak Tuhan sampaikan kepada kita:  “Sebab Tuhan, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaan tanganmu.  Ia memperhatikan perjalananmu melalui padang gurun yang besar ini;  keempat puluh tahun ini Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, dan engkau tidak kekuarangan apa pun.”  (Ulangan 2:7).  Di tengah badai kehidupan yang seberat apa pun janganlah sampai kita melupakan segala kebaikan Tuhan.  Pengalaman hidup bangsa Israel ini menjadi bukti nyata betapa sempurna penyertaan Tuhan terhadap mereka.  Namun meskipun berada di padang gurun selama bertahun-tahun bangsa Israel tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan, sehingga mereka tidak kekurangan suatu apa pun juga.

Seringkali ketika permasalah datang menerpa hidup ini kita bertanya:  di manakah Tuhan?  Kita merasa Tuhan tidak mempedulikan kita dan membiarkan kita bergumul sendirian.  Akibatnya kita menjadi lemah dan tak berdaya.  Ibarat sebuah bangunan,  ‘rumah rohani’  kita hancur berkeping-keping dan tinggal puing-puing berserakan.  Mengapa bisa terjadi?

Sesungguhnya ada banyak orang percaya yang tetap kuat dan mampu bertahan di tengah persoalan.

20 October 2014

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 20 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 34

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  Mazmur 34:19

Petrus menasihati dalam 1 Petrus 5:5b-6,  “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:  ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’  Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”  (1 Petrus 5:5b-6).

Penting bagi setiap orang percaya memiliki kerendahan hati.  Perhatikan sikap dari seorang Farisi saat ia datang kepada Tuhan.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:  “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”  (Lukas 18:11-12).  Orang Farisi tersebut datang kepada Tuhan tanpa kerendahan hati, ia memamerkan kebenaran dan kesucian hidupnya.  Siapakah kita ini di hadapan Tuhan, sehingga kita bersikap tinggi hati?

Jangan pernah membanggakan diri oleh karena kita kaya, terpandang, sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun atau sudah melayani Tuhan.  Semuanya itu tidak boleh menjadi alasan untuk merasa sombong atau bermegah di hadapan Tuhan.  Ayat nas di atas menyatakan bahwa Tuhan begitu dekat dengan orang-orang yang memiliki hati hancur.  Inilah wujud kerendahan hati yang benar:  hati yang hancur disertai dengan linangan air mata, lalu tersungkur di bawah kaki Tuhan Yesus, memohon belas kasih dan kemurahanNya.  Hati yang hancur adalah suatu korban yang menyenangkan hati Tuhan;  tak ada sesuatu yang lebih berharga di mata Tuhan kecuali hati yang hancur.  Orang-orang yang patah, jiwa yang remuk, hati yang benar-benar merindukan Tuhan adalah modal bagi Tuhan untuk menjadikan mereka alat yang berguna bagi kemuliaanNya, karena hati yang hancur  (kerendahan hati)  adalah syarat yang penting untuk menghampiri Tuhan.  Dan doa yang dinaikkan kepada Tuhan dengan hati yang hancur selalu didengar dan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu jangan keraskan hatimu!

Tuhan Yesus sendiri juga banyak mencucurkan air mata dalam doaNya seperti tertulis:  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia,…”  (Ibrani 5:7).

MPORTANCE OF HUMILITY IN PRAYER (2)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 20, 2014
Read: Psalm 34

“The Lord is near to the brokenhearted, and he saves those crushed his soul.” Psalm 34:19

Peter counseled in 1 Peter 5: 5b-6, “And you all, humble yourselves to one another, because, ‘God opposes the proud, but pity to the humble.’ Therefore humble yourselves under the mighty hand of God, that ye may be exalted in due time. “(1 Peter 5: 5b-6).

It is important for every believer to have humility. Consider the attitude of the Pharisee when he came to the Lord. The Pharisee stood and prayed thus: “O God, I thank thee, that I am not like other people: swindlers, unjust, adulterers, or even like this tax collector I fasted two times a week, I give a tenth of everything. “(Luke 18: 11-12). The Pharisees come to God without humility, he exhibited the truth and sanctity of life. Who we are before God, so that we act snobby?

Never boast because we are rich, respected, was a Christian for years or have been serving the Lord. Everything it should not be a reason to feel proud or boast before God. Nas verse above states that God is so close to the people who have a broken heart. This is the form of true humility: a broken heart accompanied with tears, and fell at the feet of the Lord Jesus, begging mercy and grace. A broken heart is a sacrifice pleasing to God; there is nothing more precious in God’s eyes except a broken heart. People are broken, shattered soul, heart really yearns for God is capital for God to make them useful tools for His glory, because a broken heart (humility) is a necessary condition to draw near to God. And the prayer offered to God with a broken heart is always heard and answered by God. Therefore, do not harden your hearts!

The Lord Jesus himself also tears in His prayer as written: “In his life as a man, he had offered up prayers and supplications with strong crying and tears unto him …” (Hebrews 5: 7).

18 October 2014

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA (1 )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 18 Oktober 2014
Baca:  Yakobus 4:1-10

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”  Yakobus 4:3

Pernahkah doa Saudara tidak dijawab oleh Tuhan?  Sebagian besar dari kita pasti akan menjawab,  “Wah, sudah tak terhitung banyaknya doa saya tidak dijawab oleh Tuhan.”  Dan ujung dari semua itu adalah kita menjadi kecewa dan kemudian menyalahkan Tuhan.  Namun jarang sekali kita mau mengevaluasi diri mengapa doa kita sampai tidak dijawab oleh Tuhan, tidak pernah mengintrospeksi diri kita mengapa doa kita itu tidak dijawabNya.

Ternyata sikap seseorang dalam berdoa juga sangat menentukan apakah doanya akan dijawab atau tidak oleh Tuhan.  Bila kita memiliki sikap hati yang benar dalam berdoa, apa saja yang kita minta dari Tuhan dalam nama Yesus Kristus, kita pasti akan menerimanya.  Kita harus ingat bahwa berdoa itu bukan hanya mengucapkan perkataan-perkataan yang teratur di hadapan Tuhan, melainkan suatu pernyataan dari tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan.  Hal ini berkenaan dengan hati kita.  Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan memandang hati kita,  “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;  manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”  (1 Samuel 16:7b), sebab suatu doa yang keluar dari dasar hati yang benar, walau diucapkan hanya dengan sederhana atau hanya melalui linangan air mata, akan sampai ke telinga Tuhan dan Dia pasti bertindak.

Ada tertulis:  “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”  (Matius 5:5).  Kata lemah lembut ini berbicara tentang kerendahan hati.  Kerendahan hati dapat diartikan sebagai kemurnian atau kelemahlembutan.  Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata  ‘praios’  yang berarti juga lemah lembut, bisa diartikan seseorang yang memiliki penyerahan atau ketergantungan total kepada Tuhan.  Rasul Paulus juga menulis bahwa kerendahan hati atau kelemahlembutan adalah salah satu dari buah Roh.  Mengapa kita harus memiliki kerendahan hati?  Firman Tuhan menegaskan,  “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”  (Amsal 18:12).

Kerendahan hati adalah syarat yang mutlak yang Tuhan tetapkan untuk setiap orang yang rindu doa-doanya beroleh jawaban, sebab pintu hati Tuhan terbuka bagi orang-orang yang memiliki kerendahan hati.

IMPORTANCE OF HUMILITY IN PRAYER (1 )

Daily Devotion GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 18, 2014
Read: James 4: 1-10

“When you ask, you do not receive anything, because you’re wrong to pray, for ye shall ask that you may spend it on your passions.” James 4: 3

Have your prayers are not answered by God? Most of us will answer, “Well, it’s been my countless prayers are not answered by God.” And the end of all of it is that we become disappointed and then blame God. But rarely do we want to evaluate yourself why our prayers are not answered by the Lord through, never introspect ourselves why our prayers were not answered.

It turns out that one’s attitude in prayer also determine whether or not his prayer will be answered by God. If we have the right heart attitude of prayer, what we ask of God in the name of Jesus Christ, we will definitely take it. We must remember that prayer is not just saying the words are organized in the presence of God, but rather a statement of the body, soul and spirit to God. It is concerned with our hearts. We must realize that we are indeed God looks at the heart, “not people see who views God for man looks at the outward appearance, but God looks at the heart.” (1 Samuel 16: 7b), because a prayer that came from the heart is right, even if only with simple spoken or only through tears, will get to the ears of the Lord and He must act.

It is written: “Blessed are the meek, for they will inherit the earth.” (Matthew 5: 5). Said this gentle talk about humility. Humility can be defined as purity or gentleness. In the Greek language written with the word humility ‘praios’ which means too gentle, it could mean someone who has a submission or total dependence on God. The Apostle Paul also wrote that humility or meekness is one of the fruits of the Spirit. Why do we have to have the humility? The Word of God affirms, “High liver before destruction, but humility precedes honor.” (Proverbs 18:12).

Humility is the absolute requirement that the Lord assigned to each person who missed his prayers might receive an answer, because the door of God’s heart is open to people who have humility.