Get Adobe Flash player
22 November 2014

SOMBONG ROHANI: Penyakit Orang Kristen (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 22 Nopember 2014
Baca:  1 Korintus 4:6-21

“…supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.”  1 Korintus 4:6b

Gereja di Korintus dikenal sebagai gereja yang memiliki program kerja yang baik, termasuk dalam hal pengajaran dan pengkhotbahnya.  Itulah sebabnya mereka mengalami kemajuan yang pesat dalam menjangkau jiwa-jiwa.  Karena merasa sudah berhasil mereka mulai terlena dan menjadi sombong secara rohani:  merasa lebih baik dari orang percaya lainnya, membanggakan diri dan menganggap rendah yang lain.  Hal inilah yang mendorong Rasul Paulus segera bertindak dan menegur jemaat di Korintus dengan keras,  “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting?  Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?  Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”  (ayat 7).

Ketika mulai merasa bahwa diri kita lebih baik dan lebih rohani dari orang lain, pelayanan kita lebih berhasil dari orang lain, atau gereja kita lebih besar dan maju dibanding gereja lain, saat itulah kita sedang jatuh dalam dosa kesombongan!  Dalam hal kerohanian, seringkali kesombongan itu tumbuh secara tersembunyi tanpa dapat kita sadari dan kita tetap merasa baik-baik saja dalam hal ini, padahal kesombongan itu adalah ketika kita mulai suka menghakimi dan membanding-bandingkan dengan orang lain.

Orang yang sombong seringkali tidak menyadari kalau dirinya sombong.  Inilah tipu muslihat Iblis!  Ketika gagal mengupayakan segala cara agar kita jatuh dalam segala hal yang jahat di mata Tuhan, Iblis akan mencoba dengan cara yang lebih jitu yaitu membiarkan kita dengan kesibukan pelayanan kita sampai akhirnya kita merasa  ‘lebih’, dan pada saat itulah kita menjadi sombong rohani.  Bukankah banyak orang Kristen dan juga para pelayan Tuhan yang mulai terjangkit  ‘penyakit’  ini?  Seseorang yang berbuat dosa atau terlibat dalam segala jenis kejahatan tidak ada yang dapat mereka sombongkan.  Tetapi orang yang merasa dirinya  ‘baik-baik saja’, apalagi sudah terlibat dalam pelayanan dan dipercaya Tuhan dalam banyak hal, tanpa sadar menjadi sombong dan membanggakan kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan.  Ini juga yang menjadi alasan mengapa Lucifer jatuh, yaitu karena kesombongannya.

Kesombongan adalah dosa terbesar dalam kehidupan kekristenan.

19 November 2014

KUNCI HIDUP DIBERKATI: Selalu Bersyukur dan Memberi!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 19 Nopember 2014
Baca:  Markus 6:30-44

“Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.”  Markus 6:43

Karena kondisi ekonomi tak menentu, hari-hari ini sebagian orang terpaksa mengencangkan ikat pinggangnya begitu rupa;  sebisa mungkin tidak boros atau konsumtif.  Akibat dari itu orang cenderung menjadi egois dan tidak lagi memiliki kepedulian terhadap orang lain.  Kita menghemat begitu rupa dengan harapan kita berkecukupan dan berkelimpahan, tidak kekurangan suatu apa pun.  Tertulis:  “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”  (Amsal 11:24).

Untuk mengalami kelimpahan atau hidup diberkati, kita harus mengikuti prinsip yang Tuhan ajarkan kepada kita:  “Berilah dan kamu akan diberi:  suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.  Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Lukas 6:38).  Namun seringkali kita berpikir,  “Bagaimana saya bisa memberi kepada orang lain, sedangkan untuk kebutuhan sendiri saja pas-pasan?”  Jangan pernah membatasi kuasa Tuhan dengan logika kita!  Tuhan Yesus melakukan mujizat yang besar.  Hanya dengan 5 roti dan 2 ikan Ia sanggup memberi makan 5000 orang lebih, bahkan masih ada sisa sebanyak 12 bakul.  Ketika mendapatkan 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus  “…menengadah ke langit dan mengucap berkat,”  (Markus 6:41).  Tuhan Yesus mengucap syukur atas apa yang ada padaNya meski jumlahnya sangat terbatas.  Dan Allah yang adalah Jehovah Jireh sanggup mengadakan dari yang tidak ada menjadi ada.

Sekecil apa pun berkat yang kita miliki saat ini, belajarlah untuk tetap mengucap syukur.  Ucapan syukur adalah kekuatan sorga untuk mengubah keadaan.  Tidak ada keadaan yang tidak bisa diubah oleh kekuatan ucapan syukur.  Mungkin saat ini kita tidak memiliki uang atau harta yang berlebih, namun tetaplah bersyukur!  Hal penting lain yang harus kita lakukan adalah belajar memberi.  Jika rindu diberkati oleh Tuhan, kita harus banyak memberi.  Saat kita memberi itulah kita akan menerima berkat dari Tuhan, karena besar atau kecilnya kuasa dan kekayaan Tuhan yang diberikan kepada kita tergantung dari apa yang kita beri.  Oleh karena itu mulailah dengan memberi persepuluhan kepada Tuhan!  Dan belajarlah memberi kepada orang lain.

Kita memberi dengan apa yang kita punyai, bukan dengan apa yang tidak kita miliki

BLESSED LIFE KEY: Always Grateful and Giving!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, 19 November 2014
Read: Mark 6: 30-44

“Then people gather pieces of bread twelve baskets full, aside from the remains of fish.” Mark 6:43

Due to uncertain economic conditions, these days most people are forced to tighten their belts so much; as much as possible not wasteful or consumptive. As a result of the people tend to be selfish and have no concern for others. We save so much with our expectations affluent and abundant, is nothing short of anything. Written: “There is a wealth spread, but richer, there are save in exceptional, but always lack.” (Proverbs 11:24).

To experience the abundance or blessed life, we must follow the principle that God is teaching us: “Give, and it shall be given: A good measure, which solidified, which is shaken and spilled out to be poured into ribaanmu. For the measure you use to measure, will be measured to you. “(Luke 6:38). But often we think, “How can I give to others, while for its own needs only mediocre?” Never restrict the power of God with our logic! The Lord Jesus did great miracles. Only with 5 loaves and 2 fishes He was able to feed 5000 people over, even there is still as much as 12 baskets. When getting 5 loaves and 2 fishes, Jesus “… looked up to heaven and gave thanks,” (Mark 6:41). Jesus gave thanks for what was upon him even though the amount is very limited. And God is Jehovah Jireh able to hold of that does not exist.

No matter how small blessing that we have today, learn to still be thankful. Thanksgiving is the power of heaven to change the situation. There is no situation that can not be changed by the power of gratitude. Maybe this time we do not have the money or property that is excessive, but still grateful! Another important thing we have to do is learn to give. If you miss blessed by God, we have a lot to give. When we give that we will receive the blessing of the Lord, because of the large or small power and riches of God given to us depends on what we give. Therefore, start by giving a tithe to God! And learn to give to others.

We give what we have, not what we do not have

18 November 2014

MEWARISI KARAKTER TUHAN: Kesabaran!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 18 Nopember 2014
Baca:  Mazmur 145:1-21

“Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.”  Mazmur 145:8

Hampir sebagian besar orang di dunia ini terserang ‘virus’ ketidaksabaran.  Kita tidak sabar terhadap suami atau isteri atau anak, tidak sabar terhadap pembantu kita di rumah, tidak sabar terhadap karyawan, bahkan kita tidak sabar menantikan jawaban doa dari Tuhan.  Semua orang menginginkan segala hal bersifat instan:  makan makanan yang cepat saji, ingin berhasil secara instan, ingin memperoleh kekayaan secara instan, ingin mendapatkan jodoh secara instan, semuanya ingin serba instan.

Firman Tuhan menasihatkan,  “…sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah… kesabaran.  Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain,”  (Kolose 3:12-13a), sebab  “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”  (Amsal 16:32).  Mengapa setiap orang percaya harus memiliki kesabaran?  Karena kita adalah anak-anak Tuhan yang sudah seharusnya mewarisi sifat-sifat Bapa, salah satunya adalah sabar.  Tuhan itu panjang sabar dan besar kasih setiaNya.  Contoh:  manusia di zaman Nuh hidup dalam kejahatan, tetapi dengan kesabaranNya Tuhan masih memberi kesempatan kepada mereka selama 120 tahun untuk bertobat  (selama masa pembuatan bahtera), tapi mereka tetap saja hidup dalam pemberontakan dan akhirnya binasa oleh air bah, kecuali Nuh dan keluarganya.  Dalam Nahum 1:3a dikatakan:  “Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah.”  Juga bangsa Israel, yang senantiasa mengalami kebaikan Tuhan, masih saja suka bersungut-sungut dan memberontak kepadaNya.  Namun Tuhan tetap sabar terhadap mereka.  Sungguh, Tuhan Yesus adalah teladan utama dalam hal kesabaran.  Terhadap orang-orang yang mengejek, meludahi, menganiaya, bahkan menyalibkan Dia, Yesus tetap sabar dan berdoa:  “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”  (Lukas 23:34a).  Kesabaran Tuhan membuahkan pengampunan!

Saat ini kasih Tuhan dicurahkan ke dalam hati kita melalui kuasa Roh KudusNya.  Dan karena pertolongan Roh Kuduslah kita beroleh kekuatan untuk mengasihi dan memiliki kesabaran terhadap orang lain.

Jika Roh Kudus ada di dalam kita, kita pasti dapat bersabar menghadapi segala sesuatu karena kesabaran adalah salah satu dari buah Roh  (baca Galatia 5:22

CHARACTER inherit the Lord: Patience!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, 18 November 2014
Read: Psalm 145: 1-21

“The Lord is gracious and compassionate, slow to anger and great his mercy.” Psalm 145: 8

Most of the people in this world stricken ‘virus’ impatience. We can not wait for a husband or wife or child, can not wait for our maid at home, can not wait to employees, even we are not looking forward to answer the prayer of God. Everyone wants everything is instant: eating fast food, want instant success, want to get rich instantly, want to get a mate in an instant, they want instant.

God’s Word advises, “… as the elect of God, holy and beloved, clothe yourselves … patience. Be patient ye one another,” (Colossians 3: 12-13a), because “People are impatient exceed a hero, one who controls his temper than one who takes a city. “(Proverbs 16:32). Why every believer should have patience? Because we are children of God who should inherit the properties of the Father, one of which is the patient. The Lord is slow to anger and great love and faithfulness. Example: man in Noah’s day in the life of crime, but the forbearance of God still give them a chance to repent for 120 years (during the making of the ark), but they still live in rebellion and eventually destroyed by the flood, except Noah and his family. In Nahum 1: 3a said: “The Lord is slow to anger and great in power, but he does not ever freed from the punishment of the guilty.” Also Israel, which always experience the goodness of God, still likes to grumble and rebel Him. But God is still patient with them. Indeed, Jesus is the ultimate example of patience. Against those who mocked, spat, persecute, even crucified Him, Jesus remained patient and prayed: “Father, forgive them, for they know not what they do.” (Luke 23: 34a). God’s patience led to remission!

Currently the love of God poured out into our hearts through the power of His Holy Spirit. And because of the help of the Holy Spirit we may have the strength to love and to have patience with others.

If the Holy Spirit is in us, we can certainly put up with everything because patience is one of the fruits of the Spirit (see Galatians 5:22

15 November 2014

MASA PADANG GURUN: Masa Penuh Mujizat!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 15 Nopember 2014
Baca:  Ulangan 8:1-20

Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”  Ulangan 8:2

Tak seorang pun di dunia ini yang mau mengalami masa-masa padang gurun.  Masa padang gurun bisa diartikan masa-masa sukar dalam kehidupan kita:  ketika rumah tangga sedang menghadapi masalah berat, krisis keuangan, usaha seret dan mau pailit, anak-anak memberontak, sakit-penyakit tak kunjung sembuh dan sebagainya.  Di masa-masa seperti itu banyak dari kita yang tidak tahan:  mulai stres, mengeluh, bersungut-sungut dan mulai menyalahkan Tuhan.

Sikap ini setali tiga uang dengan bangsa Israel, yang sekalipun mengalami mujizat-mujizat besar dari Tuhan tidak ada henti-hentinya bersungut-sungut dan memberontak kepada Tuhan.  Jika kita memperhatikan lebih teliti lagi, ada keindahan di balik masa padang gurun itu.  Justru saat berada di padang gurun inilah bangsa Israel merasakan pengalaman yang luar biasa bersama Tuhan, di mana Tuhan menyatakan mujizatnya secara luar biasa bersama Tuhan, di mana Tuhan ubahkan menjadi tawar;  ada tiang awan di waktu siang dan tiang api;  Laut Teberau terbelah;  ada roti sorga (‘manna’) dan juga burung puyuh sehingga bangsa Israel tidak mengalami kelaparan, bahkan kasut dan baju mereka bisa bertahan sampai 40 tahun!

Jika kita sedang mengalami masa-masa padang gurun tetaplah kuat dan jangan mengeluh karena ini adalah kesempatan bagi kita melihat mujizat Tuhan dinyatakan.  Jadi kita harus dapat memandang ‘masa padang gurun’ ini dengan cara pandang yang positif karena ini adalah cara Tuhan untuk membentuk dan memproses kita sebelum kita mencapai Tanah Perjanjian atau menikmati berkat-berkat Tuhan.  Memang menjalani masa padang gurun tidak mudah, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan.  Alkitab menyatakan,  “Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”  (Ibrani 10:36).  Tanpa melewati padang gurun, bangsa Israel tidak akan menjadi bangsa yang kuat dan tangguh.  Di padang gurun inilah bangsa Israel juga dilatih untuk memiliki kerendahan hati dan belajar bergantung kepada Tuhan sepenuhnya.

Bersyukurlah jika Tuhan membawa kita ke padang gurun, karena semua itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita!

DURATION OF THE DESERT: Age of Miracles!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, 15 November 2014
Read: Deuteronomy 8: 1-20

“Remember to do the whole journey by the will of the Lord your God in the wilderness for forty years with the intention humbled you and test you to see what is in your heart, that is, whether you would keep His commandments or not.” Deuteronomy 8: 2

No one in this world who want to experience the wilderness period. The period of the wilderness can mean difficult times in our lives: when households are facing severe problems, financial crisis, businesses want to drag and bankruptcy, rebellious children, sickness does not go away, and so on. In times like that a lot of us who can not stand: from stress, complaining, grumbling and blaming God.

This attitude is the same money with the nation of Israel, which even experienced great miracles of God no incessant grumbling and rebelling against God. If we look more closely, there is beauty in the desert behind the times. Precisely when in the wilderness the Israelites felt this incredible experience with God, in which God declares in an extraordinary miracles with God, where God changed into fresh; there is a pillar of cloud by day and pillar of fire; Split the Red Sea; no bread of heaven (‘manna’) and also quail so that the Israelites did not experience hunger, even sandals and clothes they can last up to 40 years!

If we’re going through a period of wilderness stay strong and do not complain because this is an opportunity for us see the miracle of God revealed. So we should be able to see ‘wilderness period’ with a positive outlook because this is God’s way to form and process before we reach the Promised Land, or enjoy the blessings of God. It is a period of wilderness is not easy, it takes patience and persistence. The Bible states, “For you need endurance, so that after you do the will of God, you really get what was promised.” (Hebrews 10:36). Without passing through the wilderness, the Israelites would not be a strong and resilient nation. In this desert nation of Israel are also trained to have humility and learn to depend on God completely.

Be grateful if God brings us into the desert, because all of it will be good to us!

14 November 2014

NUH: Kualitas Hidup Berbeda Dari Dunia (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 14 Nopember 2014
Baca:  Kejadian 7:1-24

“Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.”  Kejadian 7:1

Hidup Nuh berbeda dari orang-orang sezamannya.  Di saat orang-orang hidup dalam kejahatan dan melanggar firman Tuhan, ia berani melawan arus dan tetap hidup dalam kebenaran sekalipun lingkungan dan juga orang-orang di sekitarnya sangat tidak mendukung.  Kita pun dituntut untuk berani melawan arus dunia ini yaitu hidup berbeda dari orang-orang dunia meski ada harga yang harus di bayar.  Mungkin kita akan dicemooh, dipandang sebelah mata, dibenci atau bahkan akan dikucilkan.

Apa kuncinya sehingga Nuh tetap kuat dan mampu bertahan di tengah dunia yang rusak?  Alkitab menyatakan,  “…Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”  (Kejadian 6:9b).  Di tengah tekanan yang ada, Nuh memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan.  Pemazmur menulis:  “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).  Juga dikatakan,  “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku…”  (Imamat 10:3).  Tanda orang yang karib dengan Tuhan adalah selalu melibatkan Tuhan dan selalu melibatkan Tuhan dalam apa pun juga yang ia lakukan.  Karena itu Tuhan pun memberitahukan rahasianya kepada Nuh.

Milikilah pola hidup bergaul dengan Tuhan dan libatkanlah Tuhan dalam segala sesuatu yang akan kita lakukan.  Nuh adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan.  Ia melakukan perintah Tuhan sekalipun secara manusia tidak masuk akal.  Sudah pasti orang-orang di sekitarnya mentertawakan dan mengganggap Nuh sudah gila karena di tengah kekeringan yang ada, tidak ada hujan atau badai, Nuh malah membuat bahtera dengan ukuran yang sangat besar.  Apa pun yang terjadi,  “…Nuh melakukan semuanya itu;  tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya”  (Kejadian 6:22).  Bahkan  menurut sebuah tafsiran, waktu yang diperlukan Nuh untuk membuat bahtera yang sangat besar itu adalah selama 120 tahun!  Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan Nuh untuk membuat bahtera;  adalah mustahil bahtera dapat terselesaikan bila Nuh tidak tekun dan setia mengerjakannya!

Karena kesetiaannya kepada Tuhan, Nuh dan keluarganya selamat!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, 14 November 2014
Read: Genesis 7: 1-24

“Go into the ark, you and your household, for you have I seen righteous before me in this generation.” Genesis 7: 1

Noah’s life is different from those of his contemporaries. At the moment people are living in evil and violate the word of God, he dared to go against the flow and live in the truth even if the environment and the people around him is not very supportive. We are also required to boldly against the tide of this world that is different from the lives of people the world even though there is a price to be paid. Maybe we will be scorned, underestimated, hated or even be excommunicated.

What is the key so that Noah remained strong and able to survive in the midst of a broken world? The Bible states, “… Noah walked with God.” (Genesis 6: 9b). Amid the tensions that exist, Noah has a close relationship with God. The psalmist wrote: “a close associate of the Lord with those who fear him, and his covenant unto them informed.” (Psalm 25:14). It also said, “To the person who intimates to me, I state my holiness, and in the face of all the people shall I show my glory …” (Leviticus 10: 3). Signs person intimates the Lord God is always involved and always involve God in whatever he did. Therefore God also tells his secret to Noah.

Have a pattern walked with God and God get involved in everything we do. Noah is the one who is obedient to the commands of God. He did God command albeit unreasonable man. Surely the people around him laugh, seeing Noah was crazy because in the midst of drought, no rain or storm, Noah made the ark even with a very large size. Whatever happens, “… Noah did all that God commanded him, so did he” (Genesis 6:22). In fact, according to one interpretation, the time required Noah to make an ark that was great as it was over 120 years! You can imagine how hard the struggle Noah to make the ark; is impossible Noah’s ark can be resolved if not diligent and faithful to do it!

Because of his faithfulness to God, Noah and his family survived!

13 November 2014

NUH: Kualitas Hidup Berbeda Dari Dunia! (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 13 Nopember 2014
Baca:  Kejadian 6:9-22

“Inilah riwayat Nuh:  Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya;”  Kejadian 6:9a

Jika memperhatikan kehidupan Nuh, ini adalah gambaran kehidupan orang percaya di akhir zaman ini.  Orang-orang di zaman Nuh mengabaikan perkara-perkara rohani, menyepelekan perintah Tuhan, hidup dalam kejahatan dan hawa nafsu.  Bukankah hal ini tidak jauh berbeda dari kehidupan orang-orang zaman sekarang ini?  Meski  “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.”  (2 Timotius 3:5a).

Alkitab dengan sangat jelas menyatakan bahwa  “…kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,”  (Kejahatan 6:5), sehingga  “…semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.”  (Kejadian 6:12b).  Bahkan kalau kita teliti lagi di ayat 11-12, kata rusak diulang sampai 3x banyaknya.  Jadi, hal ini menunjukkan betapa parahnya kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia pada waktu itu:  kualitas moral manusia benar-benar sudah sampai pada titik terendah, sampai-sampai  “…menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.”  (Kejadian 6:6).

Meskipun berada di tengah-tengah dunia yang telah rusak secara moral dan spiritual, Nuh tetap mampu menjaga kualitas hidupnya agar berkenan kepada Tuhan.  Memiliki kualitas hidup seperti Nuh inilah yang dikehendaki Tuhan bagi kehidupan orang percaya di akhir zaman ini.  Kualitas hidup yang seperti apakah?  Firman Tuhan tegas menyatakan,  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah:  apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2).

Sebagai orang percaya yang telah diselamatkan Tuhan, kita harus memiliki kehidupan yang berbeda  (tidak serupa)  dengan orang-orang dunia;  kehidupan lama harus benar-benar kita tinggalkan dan hidup sebagai  ‘manusia baru’ di dalam Kristus, karena  “…kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”  (1 Petrus 1:18-19).  (Bersambung)

 

NOAH: Quality of Life Different From The World! (1)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, 13 November 2014
Read: Genesis 6: 9-22

“This is the account of Noah: Noah was a righteous man, blameless among the people of his time;” Genesis 6: 9a

If you pay attention to the life of Noah, this is a picture of the believer’s life in the last days. The people in Noah’s day spiritual neglect those cases, underestimate the Lord’s command, living in malice and lust. Is not this is not much different from the lives of people today? Although “In their form of godliness, but denying its power.” (2 Timothy 3: 5a).

The Bible very clearly states that “… the evil of man was great in the earth, and that every imagination of the thoughts of his heart was only evil continually” (Evil 6: 5), so that “… all flesh had corrupted their way upon the earth.” (Genesis 6: 12b). Even if we are careful again in verses 11-12, the word broken is repeated up to 3x the amount. So, this shows just how severe the damage that occurs in human life at that time: the moral qualities of man really has reached the lowest point, to the point that “… the LORD was sorry that He had made man on the earth, and it His heart-wrenching. “(Genesis 6: 6).

Despite being in the midst of a world that has been corrupted morally and spiritually, Noah is still able to maintain the quality of life in order to please God. Having this quality of life as God wants Noah to the lives of people believe in the end times. What kind of quality of life? The Word of God clearly states, “Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewing of your mind, so you can distinguish Which will of God, what is good, that is pleasing to God and perfect.” (Romans 12: 2).

As a believer who has been saved God, we must have a different life (not identical) to the people of the world; long life should really we leave and live as a ‘new man’ in Christ, because “… you were redeemed from the empty way of life down to you from your forefathers were not with corruptible things, nor with silver or gold, but with precious blood, even the blood of Christ, as of a lamb without blemish and without spot. “(1 Peter 1: 18-19). (To be continued)

12 November 2014

MIMPI YANG MENJADI KENYATAAN (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 12 Nopember 2014
Baca:  Kejadian 45:16-28

“Demikianlah dilakukan oleh anak-anak Israel itu.  Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Firaun;  juga diberikan kepada mereka bekal di jalan.”  Kejadian 45:21

Dari kisah Yusuf kemarin bisa dibayangkan betapa sakitnya hati Yusuf, terlebih lagi yang membenci itu saudaranya sendiri;  tapi tidak sedikit pun ia menaruh rasa pahit hati kepada saudara-saudaranya itu.  Yusuf membebaskan dirinya dari kepahitan.  Inilah yang menjadi kunci keberhasilan hidupnya!  Yusuf sadar bahwa kepahitan hanya akan menghancurkan hidupnya dan menghambat penggenapan janji Tuhan.  Karena itu Yusuf tidak mau terus-menerus menyimpan kepahitan dalam hatinya.  Bukanlah kebetulan jika Yusuf menamai anak pertamanya Manasye, yang artinya Tuhan telah membuatku melupakan.  Tuhan telah membuatnya melupakan kesusahan dan kepahitan yang pernah dirasakannya.  Yusuf tidak mau terus-menerus menyimpan kepahitan dalam hatinya.  Bahkan ketika mendapati saudara-saudaranya kekurangan makanan, Yusuf tidak memiliki keinginan membalas dendam.  Ia justru mencium dan mengasihi saudara-saudaranya itu.

Yusuf membalas kejahatan saudaranya dengan kebaikan.  Melakukan kesalahan adalah manusiawi, tetapi memaafkan adalah ilahi.  Ketika kita dipakai Tuhan dan kemudian proses itu datang, kita akan semakin didewasakan.  Oleh karena itu, jangan memberontak jika Tuhan membentuk kita.  Pada mulainya Yusuf adalah hamba, namun pada akhirnya dia naik pangkat menjadi penguasa atas istana Firaun.  Yusuf tampil sebagai pemenang karena dia telah lulus ujian.  Seringkali kita gagal melewati masa-masa sulit dalam hidup kita dan membiarkan rasa benci dan kepahitan itu menguasai hati kita, akibatnya mimpi yang Tuhan berikan tidak menjadi kenyataan.

Jangan sekali-kali membatasi kuasa Tuhan bekerja!  Karena  “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di hati manusia:  semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”  (1 Korintus 2:9).  Tuhan memiliki 1001 cara untuk menolong dan mengangkat hidup kita seperti yang dialami oleh Yusuf.  Dan mungkin Dia mengijinkan kita mengalami ujian dan tantangan;  tetapi jika kita tetap mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati dan tidak berubah, percayalah, cepat atau lambat Tuhan akan menggenapi janjiNya dalam kehidupan kita.

Yusuf mengalami peninggian dari Tuhan karena dia kuat dan menang melewati ujian!

DREAM COME TRUE (2)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, 12 November 2014
Read: Genesis 45: 16-28

“Thus did the children of Israel. Joseph gave train them according to the command of Pharaoh; also given to those provisions in the street.” Genesis 45:21

From yesterday’s story of Joseph can imagine how much it hurts the heart of Joseph, moreover, his own brother hates it; but not the least he put a bitter taste to his brothers. Joseph freeing himself from bitterness. This is the key to his success in life! Joseph realized that bitterness will only destroy his life and impede the fulfillment of God’s promises. Thus Joseph did not want to constantly keep the bitterness in his heart. It is no coincidence that Joseph named his first son Manasseh, which means that God has made me forget. God has made her forget the hardship and bitterness ever felt. Joseph did not want to constantly keep the bitterness in his heart. Even when the brothers found the lack of food, Joseph did not have a desire to take revenge. He actually kissed and loves his brothers.

Brother Joseph repay evil with good. To err is human, but to forgive is divine. When we used the Lord and then process it comes, we will be more matured. Therefore, do not rebel if God shapes us. At the start of Joseph is a servant, but in the end he was promoted to master over Pharaoh. Yusuf emerged as the winner because he has passed the test. Often we fail to pass through difficult times in our lives and let the hatred and bitterness that filling our heart, resulting in a dream that God gave not come true.

Never restrict the power of God work! Because “What is never seen by the eye, and was never heard by the ear, and which never arise in the human heart: all that God has prepared for those who love Him.” (1 Corinthians 2: 9). God has a 1001 ways to help and lift our life as experienced by Joseph. And may He allow us to experience trials and challenges; but if we keep trusting the Lord with all your heart and do not change, believe me, sooner or later God will fulfill His promises in our lives.

Joseph experienced the exaltation of the Lord because he is strong and win passes the test!

11 November 2014

MIMPI YANG MENJADI KENYATAAN (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 11 Nopember 2014
Baca:  Kejadian 45:1-15

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”  Kejadian 45:5

Ketika mendapatkan mimpi dari Tuhan usia Yusuf masih sangat belia yaitu 17 tahun.  Mimpi yang diberikan Tuhan inilah yang menjadi visi dalam hidup Yusuf sehingga ia mampu berdiri teguh dan tetap kuat menghadapi berbagai ujian yang harus dilewatinya.  Waktu Yusuf menerima mimpi dari Tuhan, mimpi itu tidak langsung tergenapi.  Yusuf harus mengalami berbagai tes untuk menguji kemurnian dan kesungguhan hidupnya.  Yusuf ditolak oleh saudara-saudaranya dan diperlakukan tidak adil, dimasukkan ke dalam sumur, lalu dijual sebagai budak dan dihargai hanya dengan 30 keping perak.  Meski demikian Yusuf tidak pernah putus asa atau terus meratapi penderitaan itu, dia tetap bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan percaya pada visi yang Tuhan berikan itu sehingga Tuhan pun  “…membuat segala sesuatu indah pada waktunya,”  (Pengkotbah 3:11a).  Tuhan mengangkat Yusuf dan menjadikan dia penguasa di Mesir.

Ada tertulis:  “Ketika Ia mendatangkan kelaparan ke atas negeri itu dan menghancurkan seluruh persediaan makanan, diutus-Nyalah seorang mendahului mereka:  Yusuf, yang dijual menjadi budak.  Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji Tuhan membenarkannya.  Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya.  Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya,”  (Mazmur 105:16-21).

Hidup sesuai jalan Tuhan bukanlah suatu jaminan untuk kita tidak mengalami masalah dan ujian.  Ketika kita hidup benar justru semua orang menyudutkan kita dan semakin membenci kita seperti yang dikeluhkan Daud,  “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”  (Mazmur 73:13-14).  Yusuf pun ternyata mengalami hal yang sama, di mana saudara-saudaranya semakin membenci dia.  Tetapi dalam hal ini Yusuf lulus dari ujian oleh karena dia tidak membalas kebencian saudaranya itu dengan kebencian, atau kejahatan dengan kejahatan.

Bukankah banyak orang ketika mendapat perlakuan yang tidak baik oleh orang lain, hatinya menjadi pahit dan berusaha untuk membalasnya?

DREAM COME TRUE (1)
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, 11 November 2014
Read: Genesis 45: 1-15

“Now do not be distressed and do not be angry with yourselves because you sold me here, to preserve life because God sent me before you.” Genesis 45: 5

When getting a dream of God Joseph is still very young age is 17 years. God-given dream that is the vision of the life of Joseph so that he is able to stand firm and remain stable in the face of various tests that must be passed. Time Joseph received a dream from God, the dream was not immediately fulfilled. Joseph had to undergo various tests to test the purity and sincerity of his life. Joseph was rejected by his brothers and treated unfairly, is inserted into the well, and then sold as a slave and was rewarded only with the 30 pieces of silver. Yet Joseph never despair or continue to lament the suffering, she still depended on God and believe in the vision that God has given it so that even God “… has made everything beautiful in its time” (Ecclesiastes 3: 11a). God raised Joseph and made him ruler of Egypt.

It is written: “When He brought a famine upon the land and destroyed the entire inventory of food, sent him the one ahead of them: Joseph, who was sold into slavery. They were pinching his feet with shackles, his neck goes into the iron, until his words had even, and justify God’s promise. The king sent release, ruler of nations set him free. By making him master of his palace, and power over all the treasures of hers, “(Psalm 105: 16-21).

Living to the Lord is not a guarantee that we are not having problems and exams. When we live really just everyone picking on us and hate us more like David complained, “In vain I have kept my heart pure, and washed my hands in innocence. But all day long have I been plagued, and chastened every morning . “(Psalm 73: 13-14). Joseph also was experiencing the same thing, where the brothers hated him. But in this case Joseph passed the test because he did not reply to his brother’s hatred with hatred, or evil with evil.

Is not a lot of people when it is not treated well by others, his heart became bitter and trying to repay it?

10 November 2014

TUHAN: Di Balik Kemenangan Bangsa Israel!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 10 Nopember 2014
Baca:  Mazmur 46:1-12

“Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereka-kereka perang dengan api!”  Mazmur 46:9-10

Sebelum mencapai Kanaan bangsa Israel harus terlebih dahulu menaklukkan bangsa-bangsa lain.  Dalam Yosua 12:1-24 tercatat daftar raja-raja yang telah dikalahkan oleh orang-orang Israel.  Bukankah hebat bangsa Israel?  Padahal orang-orang Israel tidak berpengalaman dalam hal militer, tetapi mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya yang begitu banyak dan kuat-kuat.

Lalu, siapa yang menjadi tokoh utama di balik semua kemenangan bangsa Israel ini?  Jawabnya adalah Tuhan, tidak ada yang lain.  Inilah janji Tuhan kepada Yosua:  “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”  (Yosua 1:3).  Bangsa Israel menjadi bangsa yang kuat dan perkasa oleh karena Tuhan yang campur tangan.  Di luar Tuhan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.  Simak nyanyian Musa ini:  “Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.  Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allahku, kupuji Dia, itulah nama-Nya.”  (Keluaran 15:2-3).  Mereka mengakui bahwa yang menjadi pahlawan perang bagi mereka adalah Tuhan sendiri!  Karena itu nama Tuhan harus selalu ditinggikan!

Untuk meraih kemenangan dan mengalami penyertaan Tuhan tentu ada syaratnya!  Alkitab mencatat ketika bangsa Israel hidup seturut dengan kehendak Tuhan  (taat), mereka mampu mengalahkan musuh sekuat apa pun.  Sebaliknya ketika mereka tidak lagi setia kepada Tuhan dan memberontak kepadaNya, kekalahan demi kekalahan harus mereka alami.  Hidup kekristenan adalah hidup dalam peperangan.  Dalam hal ini tidak berbicara tentang perang secara fisik, tetapi peperangan melawan tipu muslihat Iblis, mempertahankan iman dan bagaimana bertahan di tengah persoalan.  Dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu menghadapi semua itu.  Rasul Paulus berkata,  “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”  (2 Timotius 2:4).

Peperangan identik dengan perjuangan dan air mata, karena itu arahkan pandangan kepada Tuhan dan andalkan Dia dalam segala hal, niscaya kemenangan demi kemenangan akan kita raih, karena Dia yang berperang ganti kita

GOD: Victory Behind The Israelites!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, 10 November 2014
Read: Psalm 46: 1-12

Go, look at the work of the Lord, which is held in the destruction of the earth, which brought the war to the ends of the earth, who broke the bow, blunting the cutting, burning kereka-kereka war with fire!” Psalm 46: 9-10

Before reaching Canaan Israel must first conquer other nations. In Joshua 12: 1-24 recorded list of kings who had been defeated by the people of Israel. Is not it great nation of Israel? Whereas the Israelis are inexperienced in military matters, but they managed to defeat his enemies are so numerous and tightly.

Then, who is the main character behind all of Israel’s victory? The answer is God, nothing else. This is God’s promise to Joshua, “Every place the soles of your feet to be trampled by I gave to you, as I promised Moses.” (Joshua 1: 3). The nation of Israel to be a nation that is strong and powerful because God intervened. Outside of God they can not do anything about it. Check out the song of Moses: “The Lord is my strength and song, He has become my salvation. He is my God, I praise Him, He is my God, I praise Him, that’s his name.” (Exodus 15: 2-3). They acknowledged that the hero of the war for them is God himself! Hence the name of the Lord must always be exalted!

To win and to experience God there are conditions of course! The Bible records when the Israelites were to live according to the will of God (obedience), they were able to defeat the enemy as strong as anything. Conversely when they are no longer loyal to God and rebelled to Him, defeat after defeat they had experienced. Christian life is a life in battle. In this case not talking about a physical war, but a war against the wiles of the devil, keep the faith and how to survive in the midst of problems. With his own strength we will not be able to face all of that. The Apostle Paul said, “A soldier who is struggling not confuse him with the question of livelihood, that thereby he was pleasing to his commander.” (2 Timothy 2: 4).

The battle is synonymous with struggle and tears, because the point view of the Lord and rely on Him in all things, surely victories we will achieve, because He is at war on our behalf

8 November 2014

SEGALA SESUATU HARUS DIRENCANAKAN DENGAN BAIK

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 8 Nopember 2014
Baca:  Lukas 14:28-35

“Segala siapakah di antara kamu yang mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”  Lukas 14:28

Suatu keinginan atau harapan untuk mencapai sesuatu pasti tak luput dari sebuah perencanaan yang matang, jika kita ingin meraih hasil yang maksimal.  Jadi dalam segala hal, alangkah bijaknya jika kita membuat perencanaan terlebih dahulu sebagai bahan acuan dan pertimbangan terhadap sesuatu yang hendak dilakukan.  Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa sebuah perencanaan yang baik sudah merupakan atau sama dengan separuh dari pekerjaan itu sendiri.  Contoh:  dalam hal keuangan.  Ketika liburan sekolah tiba dan kita hendak berpergian ke luar kota, mau tidak mau kita pun pasti membuat rencana:  pergi naik apa?  Berapa biaya yang harus kita siapkan?  Sudahkah kita mem-booking tempat untuk menginap?  Apalagi saat-saat ini semua harga kebutuhan sangat tinggi, kita pun harus berpikir ekstra dalam mengatur keuangan kita, jangan sampai pengeluaran lebih besar dibanding dengan pemasukan.

Firman Tuhan mengajar kita untuk membuat perencanaan keuangan dengan baik.  Sebab, jika kita besar pasak daripada tiang, peluang untuk berhutang akan terbuka;  semakin kita memiliki banyak utang, keuangan kita jelas akan semakin amburadul.  Oleh karena itu belajarlah untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan untuk berkat-berkat yang telah kita terima.  Sebesar atau sekecil apa pun berkat yang kita terima patut lah disyukuri.  Alkitab menasihati:  “…cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”  (Lukas 3:14b), dan  “…ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”  (1 Timotius 6:6);  jadi  “…asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”  (1 Timotius 6:8).

Sudahkah kita merencanakan keuangan kita dengan baik?  Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memprioritaskan persepulahan terlebih dahulu ketika kita menerima berkat dari Tuhan  (baca  Maleakhi 3:10).  Kemudian buatlah anggaran untuk semua kebutuhan yang ada dan sesuaikan itu dengan pemasukan.  Ingat, jangan membuat anggaran yang melebihi pemasukan;  setiap pengeluaran harus sesuai dengan anggaran yang kita buat.  Karena itu kita harus bisa memilah mana itu kebutuhan dan mana itu keinginan.

Membuat perencanaan keuangan itu Alkitabiah;  kuasailah dirimu dan jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi orang lain karena kita berhutang sana-sini!

EVERYTHING MUST BE WELL PLANNED

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, November 8, 2014
Read: Luke 14: 28-35

“All of you who wants to build a tower, does not sit down first and count the cost, whether he has enough to complete it?” Luke 14:28

A desire or hope to achieve something certainly not spared from a careful planning, if we want to achieve maximum results. So in everything, it would be wise if we make advance planning and consideration as a reference to something that was going to do. There is a wise sentence that says that a good plan already is or equal to half of the work itself. Example: in financial terms. When the school holidays arrived and we want to travel out of town, inevitably we also must make a plan: go by what? How much should we prepare? Have we had booked a place to stay? Moreover, these moments all the prices are very high needs, we also have to think extra in managing our finances, not to be greater than the expenses with revenues.

The Word of God teaches us to make good financial planning. For, if we are unbalanced budgeting, debt will be an opportunity to open; the more we have a lot of debt, we obviously will be more financial shambles. Therefore, learn to always give thanks to God for the blessings we have received. Large or small whatever blessings we receive proper was grateful. The Bible advises: “… content with your wages.” (Luke 3: 14b), and “… worship it if accompanied by a sense of contentment is great gain.” (1 Timothy 6: 6); so “… as long as there is food and clothing, it is enough.” (1 Timothy 6: 8).

Have we planned our finances well? The first step we must do is prioritize tithing first when we receive the blessings of God (see Malachi 3:10). Then make a budget for all the needs and customize it with income. Remember, do not create a budget that exceeds income; every expenditure must be in accordance with the budget that we make. Therefore we should be able to sort out where it needs and what it wants.

Making it biblical financial planning; mastering yourself and do not let us be a stumbling block for others because we owe here and there!