Get Adobe Flash player
24 March 2013

Oleh admin | Dalam Renungan Harian | Tag

Senin, 25 Maret 2013
PUJI-PUJIAN MENDATANGKAN MUJIZAT

Mazmur 47 “Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah!” Mazmur 47:7
Seringkali orang-orang di luar Tuhan mengatakan, “Orang Kristen itu aneh, kalau sedang beribadah pasti mereka menaikkan puji-pujian dengan keras dan bertepuk tangan. Susah atau senang, punya uang atau tidak, sepertinya mereka selalu memuji-muji Tuhan.” Ketahuilah bahwa memuji-muji Tuhan bagi orang percaya adalah suatu perintah dari Tuhan dan keharusan. Pemazmur menegaskan, “Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!” (Mazmur 150:1, 6). Justru orang Kristen yang tidak suka memuji Tuhan adalah orang Kristen yang aneh dan harus segera bertobat! Ingat! Memuji Tuhan adalah suatu perintah dari Tuhan! Apabila kita taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini kita akan merasakan berkat dan mujizat dari Tuhan, karena hati Tuhan sangat disenangkan ketika kita mempersembahkan puji-pujia bagi Dia.
Mengapa kita harus memuji Tuhan? “Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atau seluruh bumi.” (Mazmur 47:3). Siapa yang dapat menandingi kedahsyatan Tuhan? Sebagai ciptaanNya sudah seharusnya kita memberikan pujian bagi Dia, karena kita diciptakan untuk memuliakan namaNya yang dahsyat itu. Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Dalam hal ini Nahum mengakui bahwa “Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.” (Nuhum 1:7). Bila kita sudah mengecap segala kebaikan Tuhan, masakan bibir dan lidah kita tetap terkatup dan tidak ada ucapan syukur? Terhadap sesama kita saja kita tahu berterima kasih, terlebih lagi seharusnya kepada Tuhan.
Memuji Tuhan itu juga baik bagi kita sendiri (baca Mazmur 147:1-6) dan mendatangkan kuasa yang luar biasa bagi kita. Dikatakan, “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.” (Mazmur 84:5, 7). Hidup yang penuh puji-pujian adalah hidup yag dibentengi oleh kuasa Tuhan, yang di dalamnya terkandung kuasa dan berkat yang melimpah.

Selasa, 26 Maret 2013
LAWAN SEMUA TIPU MUSLIHAT IBLIS!

2 Tesalonika 2:1-12 “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,” 2 Tesalonika 2:9
Sudah sangat jelas bahwa pekerjaan Iblis adalah menghancurkan manusia, sebagaimana tertulis: “Pencuri (Iblis – Red.) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;” (Yohanes 10:10a). Kita dapat mengetahuinya dengan jelas melalui peristiwa pencobaan yang dialami Ayub. Sepintas pencobaan yag dialami oleh Ayub ini adalah kesepakatan antara Tuhan dan Iblis, sebab sebelum mencobai Ayub, Iblis terlebih dahulu meminta ijin kepada Tuhan. Bila Tuhan tidak mengijinkan, Iblis pasti tidak mungkin dapat mencobai Ayub.
Satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah berkompromi dengan Iblis. Jika pencobaan itu harus terjadi dalam hidup Ayub, pastilah Tuhan punya rencana yang indah di balik itu semua. Yang harus kita mengerti adalah bahwa Iblis selalu berusaha untuk menyerang dan menghancurkan kehidupan orang percaya. Oleh karena itu “…tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7). Ketahuilah, “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Pengalaman Ayub ini membuktikan bahwa Iblis tidak dapat ‘menyentuh’ kehidupan orang-orang benar karena ada perlindungan Tuhan secara sempurna bagi mereka. Namun bila kita masih bermain-main dengan dosa dan tidak hidup dalam kekudusan kita akan gampang diserang oleh Iblis. Iblis hanya dapat mengganggu kehidupan orang percaya sejauh itu diijinkan oleh Tuhan, dengan tujuan untuk menguji dan melatih iman kita agar semakin kuat di dalam Dia. Terlebih di hari-hari menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat ini, bala tentara Iblis semakin bekerja ekstra menyesatkan orang percaya dengan segala bentuk tipu dayanya, oleh sebab itu “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun jua!” (Tesalonika 2:3a).
Ada pun yang menjadi benteng bagi kita untuk melawan si penyesat ini adalah iman kita, Iblis bisa menembus hal-hal lain, tapi ia tidak dapat menembus iman. Selama kita memiliki iman yang kuat di dalam Tuhan, semua yang kita miliki ada dalam pagar penjagaan Tuhan. Oleh iman pula kita menyadari selalu ada kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita untuk menopang dan menjaga kita!

Rabu, 27 Maret 2013
JADILAH ORANG KRISTEN YANG SABAR!

Roma 12:9-21Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12:12
Beberapa hari kemarin kita telah membahas tentang kesabaran Tuhan terhadap umatNya. Sebagai manusia, kita sulit sekali menjadi orang yang sabar. Bisa dikatakan di zaman serba canggih seperti sekarang ini kesabaran adalah suatu sifat yang paling sulit ditemukan dan menjadi sesuatu hal yang sangat langka, apalagi jika seseorang sedang mengalami penderitaan atau kesesakan. Tidak sedikit dari kita yang berkata, “Apakah saya disuruh sabar terus? Sabar kan ada batasnya.”
Banyak orang maunya melakukan segala sesuatu serba cepat, tanpa pikir pajang dan terburu-buru. Karena itu kepada jemaat di Roma Paulus menasihati, “…sabarlah dalam kesesakan,…” Apa yang dimaksud dengan sabar dalam kesesakan? Sabar dalam kesesakan artinya ketika sedang dalam masalah, kesulitan, tantangan atau beban hidup, kita tidak lagi bersungut-sungut atau mengeluh. Namun kita selalu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Semua persoalan yang terjadi kita pasrahkan kepada Tuhan di dalam doa.
Sabar dalam kesesakan juga berarti kita mau menunggu waktu Tuhan untuk dinyatakan bagi kita. Jadi kita tidak akan pernah mengambil jalan pintas dan menuruti kemauan kita sendiri. Sebaliknya kita akan rela dan tekun menantikan waktu Tuhan tanpa harus mempersoalkan apakah masa penantian itu cepat atau lamabat. Daud berkata, “…semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;” (Mazmur 25:3a). Orang yang sabar menantikan waktu Tuhan dalam hatinya selalu ada ucapan syukur; ia mengucap syukur bukan untuk penderitaan atau kesesakan yang menimpanya, tetapi untuk penyertaan dan kasih setia Tuhan yang senantiasa dinyatakan dalam hidupnya. Ketika Tuhan menyertai hidup kita di sepanjang hari, segala perkara dapat kita atasi dan lalui, karena “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan…” (Roma 8:28). Itulah sebabnya firmanNya mengajar kit auntuk tetap bersukacita karena ada pengharapan di dalam Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita ini ada dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan.
Belajarlah selalu mencukupkan diri dengan berkat-berkat yang ada dan tetap bersabar menantikan kuasa Tuhan dinyatakan, karena segala sesuatu indah pada waktuNya!

Kamis, 28 Maret 2013
KETAKUTAN YANG TIDAK PERLU

Mazmur 112 “Ia (orang yang takut akan Tuhan – Red.) tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan.” Mazmur 112:7
Sampai dengan hari-hari awal menapaki tahun 2011 banyak orang masih mengalami ketakutan dalam hidupnya. Memang, jika kita perhatikan keadaan, bencana demi bencana waktu itu datang silih berganti tanpa dapat diduga: mulai dari Mentawai, banjir di Wasior, meletusnya gunung Merapi lalu disusul gunung Bromo dan sebagainya. Secara tidak sadar hal ini telah mempengaruhi dan menguasai hati orang-orang percaya. Di satu sisi mereka percaya bahwa Tuhan itu Mahasanggup dan tidak ada perkara yang mustahil bagiNya; namun di sisi lain mereka diliputi rasa takut akan terjadinya bencana-bencana lain yang mungkin datang yang membuat banyak orang hidup dalam kesesakan dan penderitaan. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita kembali diingatkan agar tidak takut terhadap keadaan apa pun, karena di dalam hidup orang percaya tidak diberikan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (baca Timotius 1:7).
Roma 8:15a mengatakan: “…kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.” Jadi, sesungguhnya ketakutan itu bukan sekedar kelemahan manusia tapi adalah roh yang bekerja dalam seseorang. Ketakutan mulai menjadi bagian dalam diri manusia setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Karena dosa, Iblis memperbudak manusia dengan menanamkan roh takut itu. Tapi melalui pengorbanan Kristus di atas Kalvari kita telah dimerdekakan dari roh takut, sebab “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:2).
Jadi, meski dunia bergoncang sekali pun tidak ada alasan bagi orang percaya untuk menjadi takut, sebab Tuhan telah memanggil kita sebagai anak-anaknya, artinya kita beroleh jaminan pemeliharaan dan perlindungan yang sempurna dari Tuhan sebagai Bapa kita. Kuatkan hati dan percayalah akan kuasa Tuhan karena Dia berjanji akan “…menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b). Jangan takut! Tidak sedikit orang menderita bukan karena mengalami masalah yang berat tetapi karena mereka hidup dalam ketakutan yang berlebihan setiap hari, sehingga mereka pun semakin jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Kunci menang dari rasa takut adalah melekat kepada Tuhan setiap hari!

Jumat, 29 Maret 2013
PENGHARAPAN DI DALAM TUHAN: Pasti dan Tidak Mengecewakan!

Roma 8:18-25 “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Roma 8:25
Banyak orang tidak dapat menerima keadaan yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Mereka mulai mengomel, memberontak dan menyalahkan Tuhan atas apa yang dialami. Hal ini berlanjut pada tindakan dan tekad keluar dari permasalahan yang ada, apa pun caranya, tidak peduli apakah jalan yang ditempuhnya nanti berujung pada kesia-siaan, seperti tertulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Mereka mengira bahwa jalan yang ditempuhnya itu sudah benar dan pasti akan memberikan jalan keluar. Alkitab menegaskan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!” (Yeremia 17:5). Sekuat dan sehebat apa pun manusia, kemampuan dan kekuatannya ada batasnya. Tapi jika kita mau menyikapi setiap permasalahan yang ada dengan tetap berharap pada kuasa Tuhan, tidak ada yang perlu diragukan lagi seperti pengakuan Daud, “Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:2).
Penderitaan dan hal-hal yang tidak mengenakkan diibaratkan orang yang sedang sakit bersalin dan menantikan bayinya segera lahir; harus ada perjuangan dan ketekunan dalam menanti sesuatu yang kita harapkan itu, sebab jika kita tekun iman kita akan kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan apa pun, sehingga pengharapan kita di dalam Tuhan tidak mengecewakan. Seringkali ketika pergumulan terasa berat dan sepertinya tidak ada jalan keluar kita mulai membuat perhitungan dengan Tuhan. Kita berkata, “Aku sudah mengikut Tuhan selama bertahun-tahun; aku sudah terlibat dalam pelayanan dan banyak berkorban harta untuk membantu pekerjaan Tuhan, tapi mengapa Tuhan seakan tidak adil padaku?”
Setiap kita pasti selalu berharap bahwa perjalanan hidup kita baik-baik saja tanpa hambatan yang merintangi. Demikian pun Tuhan selalu ingin kita menjadi kuat seperti rajawali, yang meskipun harus melewati badai tetap mampu terbang tinggi. Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul seorang diri, Dia sangat peduli dan sanggup memberikan pengharapan yang pasti dan tidak pernah mengecewakan!

Sabtu, 30 Maret 2013
MENJADI MURID YESUS YANG KUAT

Lukas 9:22-27 “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” Lukas 9:24
Menjadi orang Kristen tidaklah mudah karena kita mengemban tugas yang tidak sembarangan. Ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Yesus Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, status kita adalah murid Yesus. Sebagai murid Yesus kita wajib melakukan semua perintah-perintah Yesus serta meneladani hidupNya sebagaimana tertulis: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6), sebab untuk itulah “…kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Petrus 2:21).
Sungguh, untuk mengikut Yesus dibutuhkan komitmen yang tidak boleh dibuat main-main karena banyak tantangan yang akan kita hadapi dan kita pun harus melakukan kehendakNya dengan taat. Ketaatan adalah suatu proses di mana kita bisa dikatakan layak untuk menjadi murid Yesus atau tidak, sebab firman-Nya berkata, “…Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri dan memikul salib adalah syarat mutlak yang harus dijalankan oleh setiap murid Yesus. Melalui penyangkalan diri dan pikul salib kita belajar untuk memiliki kerendahan hati dan punya hati yang teachable (bersedia diajar), supaya kita menjadi murid Yesus yang militan: tidak mudah lemah dan pantang menyerah.
Mengapa kita diijinkan melewati ujian atau tantangan? Ini adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kita beroleh pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya (baca 1 Petrus 1:7). Dalam mengikut Tuhan Yesus kita pun harus memiliki integritas dan jangan sampai ada kepura-puraan. Tidak ada kata setengah-setengah atau suam-suam kuku, sebab jika demikian Tuhan akan berkata, “…Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16). Ada harga yang harus kita bayar! Banyak orang Kristen yang masih berkompromi dengan hal-hal duniawi.
Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9:62

16 April 2011

DIKUASAI PANAS HATI

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani

SABTU, 16 APRIL 2011

 KEJADIAN 34:1-31   

“Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda diantara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan” (ayat 7).  Dalam perjalanannya kembali kerumah ayahnya, Yakub sampai di Sikhem dan tinggal disana untuk sementara waktu dan suatu peristiwa memaksanya untuk segera meninggalkan daerah itu. Marah dan sakit hati menguasai hati anak-anak lelaki Yakub terhadap Sikhem, anak Hemor, raja setempat, dikarenakan Dina, adik perempuan mereka telah diperkosa oleh Sikhem. Sekalipun Sikhem berniat baik untuk mengawini Dina, hal itu tetap tidak menyurutkan amarah mereka, bahkan mereka membuat tipu muslihat untuk membalaskan dendam. Dengan berpura-pura menyetujui, mereka mengajukan syarat, yakni setiap laki-laki diantara orang-orang Sikhem harus disunat sama seperti mereka disunat. Usul itu mereka pandang baik, maka merekapun disunat dan kesempatan saat mereka sedang kesakitan digunakan anak-anak Yakub mengambil Dina dari rumah Sikhem dengan kekerasan, membunuh laki-laki yang bersunat yang sedang kesakitan tersebut dan merampasi harta mereka. Emosi dan kekerasan bukanlah jalan yang baik bagi penyelesaian suatu masalah sekalipun karenanya kita yang dirugikan. Jangan turuti panas hati karena hal itu hanya akan membawa kita pada masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. Bila panas hati yang menguasai, pikiran negatiflah yang berperan sehingga niat baikpun akan ditanggapi sebagai ancaman sehingga diri sendirilah yang rugi. Panas hati dan amarah hanya membawa pada keja hatan demi kejahatan, maka adalah bijak bila berhenti marah dan tinggalkan panas hati itu (Mazmur 37:8).

 TANGKASLAH UNTUK MENDENGAR TAPI LAMBAT UNTUK MARAH.

15 April 2011

HANYA BAYANG-BAYANG

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani

JUM’AT, 15 APRIL 2011

  KEJADIAN 33:1-20     

“Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka” (ayat 4). Setelah bergumul Yakub melanjutkan perjalanan dan lebih siap untuk menghadapi kakaknya sekalipun rasa was-was itu masih ada. Maka ketika dilihatnya rombongan kakaknya dari jauh, iapun segera mempercayakan anak-anak pada istri-istrinya dan berbeda dengan langkah yang ia ambil sebelumnya, sekarang ia yang berjalan paling depan dan sujud ketanah sampai tujuh kali hingga sampai dekat kakaknya. Yakub yang pecundang karena menyuruh budak-budaknya untuk berjalan didepan, telah menjadi Yakub yang berani dan bertanggungjawab dengan berjalan memimpin rombongannya. Dan apa yang ia kuatirkan, ia takutkan, tidaklah terjadi, justru sebaliknya Esau menyambutnya dengan penuh sukacita dan kerinduan, ia dekap, ia peluk dan diciumnya adiknya lalu bertangis-tangisanlah mereka. Persembahan yang Yakub persiapkan untuk melunakkan hati kakak nyapun menjadi hal yang kurang berarti, bahkan perlu sedikit paksaan supaya diterima. Kita sering takut dengan bayang-bayang sendiri, apa yang belum tentu terjadi, yang masih menjadi praduga justru kita anggap menakutkan. Tapi, bila kita mau bergumul, ketika kita mau menyerahkan segala perkara dan mengikutsertakan Allah didalamnya, kita akan melihat bahwa apa yang kita takutkan adalah bayang-bayang. Bersama dengan Allah kita tidak akan menjadi pecundang, tapi kita akan ada didepan untuk menghadapi segala perkara. Percayalah bahwa Allah tidak akan mempermalukan orang yang berserah dan mengandalkan-Nya. Maka andalkanlah Tuhan dalam segala hal dan taruhlah harapanmu pada-Nya dan kita akan diberkati bagai pohon yang ditanam ditepi air, yang tidak berhenti menghasilkan buah (Yeremia 17:7-8).

SERAHKANLAH SEGALA KUATIRMU PADA TUHAN DALAM DOA.

14 April 2011

PERGUMULAN TIADA HENTI

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani

KAMIS, 14 APRIL 2011

KEJADIAN 32:22-32

“Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan lagi disebutkan Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah ber gumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang” (ayat 28).  Rasa takut untuk bertemu dan menghadapi kakaknya membuat Yakub gelisah sehingga sekalipun hari masih malam ia memaksa untuk menyeberangkan istri-istri, anak-anak dan segala miliknya dan iapun tingal seorang diri dikemah dimana ia bermalam. Dalam kesendiriannya mempersiapkan mental untuk bertemu kakaknya, seorang laki-laki dating dan bergulat dengannya sampai fajar menyingsing. Cukup aneh, seorang Yakub yang dulunya orang yang tenang dan suka tinggal dikemah, mampu bergulat sekian lama dan tidak berhasil dikalah kan. Mungkin itulah hasil secara fisik dari pekerjaannya selama dua puluh tahun di rumah Laban. Dan pergulatan Yakub malam itu tidak menjadi sia-sia sekalipun sendi pahanya terpelecok dan menjadi pincang karena dipukul orang tersebut, tapi ia juga mendapat berkat, yaitu namanya yang baru, Israel, sebab ia telah bergumul melawan Allah dan manusia dan ia menang. Bergumul, memang itulah hal yang seharusnya kita lakukan manakala tantangan dan kesulitan datang menghadang. Kita tidak bergumul secara fisik seperti Yakub, tapi lebih pada mengalahkan hawa nafsu sendiri dalam mencari kehendak Tuhan, menemukan pertolongan yang daripada-Nya. Menyerahkan segala perkara dan kekuatiran kita pada-Nya adalah sebuah pergumulan, karena hal itu berarti kita harus rela menomorduakan keinginan kita sendiri. Dan bila kita sudah bergumul bukan berarti masalah selesai, masalah harus tetap kita hadapi, tapi akan kita hadapi bersama dan dalam kekuatan Allah. Memang manusia harus bergumul dibumi dan hari-harinya seperti orang upahan, maka pergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya (Kolose 1:29).

PERGUMULKAN SEGALA PERKARA DIDALAM DOA.

13 April 2011

DIHANTUI RASA TAKUT

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani

RABU, 13 APRIL 2011

KEJADIAN 32:1-21

“Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama -sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan” (ayat 7).  Satu masalah selesai dan sekarang masalah yang lebih membuat Yakub ketakutan adalah bertemu dengan Esau, kakaknya dan itu adalah hal yang tidak bisa dihindari tapi harus dihadapi. Semua terjadi karena kepergian Yakub dari rumah keluarganya dikarenakan masalah dirinya dengan kakaknya tersebut. Dan semua itu dimulai dari peristiwa Esau menjual hak kesulungannya dan juga Yakub yang mengakali ayahnya untuk mendapat berkat kesulungan yang sebenarnya milik kakaknya. Sekarang dia kembali dan siap atau tidak ia harus menghadapi kemarahan kakaknya yang disimpan dalam hatinya sejak waktu itu. Maka tidak bisa tidak hati Yakub dilanda ketakutan yang sangat untuk bertemu dengan kakaknya terse but dan diapun berusaha untuk melunakkan hati kakaknya dengan menyuruh utusan untuk lebih dahulu menemuinya tapi justru rasa takut yang lebih ia dapatkan karena kenyataan kakaknya tersebut datang menemuinya dengan empat ratus orang yang menyertainya. Untuk itulah ia bertindak dengan membagi rombongannya menjadi kelompok-kelompok dan kelompok-kelompok yang terdepan bertugas menjaga dan membawa persembahan untuk melunakkan hati Esau. Menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak membiarkan masalah berlarut-larut karena hal itu tidak mendatangkan kebaikan tapi justru akan membe bani bahkan membuat kita hidup dalam suasana ketakutan, kehilangan damai sejahtera yang dari Allah. Daripada hidup dalam suasana ketakutan, hiduplah dalam suasana kasih sebab kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan oleh karena sifat kasih itu sendiri yang tidak menyimpan kesalahan (1Yohanes 4:18).

TAKUT PADA MANUSIA MENDATANGKAN JERAT.

12 April 2011

PAKAI JALAN TERBAIK

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT.Baithani

SELASA, 12 APRIL 2011

KEJADIAN 31:43-55

 Jika engkau mengaibkan anak-anakku, dan jika engkau mengambil istri lain disamping anakku itu, ingatlah, walau tidak ada orang dekat kita, Allah juga yang menjadi saksi antara aku dan engkau” (ayat 50).  Masing-masing merasa telah berjasa dan berbuat benar, Yakub merasa bahwa karena dialah Laban diberkati Allah, sebab sebelum dia datang ternak laban sedikit, tapi telah menjadi sangat banyak dengan kehadirannya. Sementara Laban juga merasa telah menolong Yakub dengan menerima dia di rumahnya, bahkan anak-anak perempuannya telah diberikannya pada Yakub, demikian juga kawanan ternak yang ada pada Yakub juga berasal daripadanya. Dan jika masing-masing tetap pada kebenarannya , sendiri-sendiri, maka hanya akan mengakibatkan perselisihan dan perseteruan, maka cara terbaik menyelesaikan masalah tersebut adalah mengadakan perjanjian damai diantara keduanya. Allahlah yang menjadi saksi atas perjanjian yang mereka buat sehingga masing-masing mereka bertanggungjawab atas perjanjian tersebut kepada Allah. Maka setelah semuanya itu, Yakubpun dapat meneruskan perjalananya dengan tenang karena satu masalah yang membebaninya sudah terselesaikan dan masih ada masalah lain yang harus ia hadapi, bertemu kakaknya, Esau. Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran dihada pan Allah dan juga hanya akan menimbulkan kesulitan yang baru jika memberikan diri untuk dikuasai nya. Kemarahan ataupun panas hati dimulai dari kebenaran diri sendiri yang tidak diperhitungkan atau dipandang oleh yang lain. Maka daripada diri sendiri hangus terbakar oleh panas hati, adalah lebih baik jika kita mau saling merendahkan diri dan mengusahakan perdamaian, itulah yang berharga dihadapan Tuhan. Pembalasan adalah hak Tuhan, maka jangan balas kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya usahakan dan hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang, kalahkan kejahatan dengan kebaikan (Roma 12:17-21).

BERBAHAGIALAH ORANG YANG MEMBAWA DAMAI.

11 April 2011

BUKTI PENYERTAAN ALLAH

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT.Baithani

SENIN, 11 APRIL 2011

KEJADIAN 31:2242

“Pada waktu malam datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfir man kepadanya: “Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun” (ayat 24).  Dibakar rasa kecemburuan dihati oleh karena Yakub telah memperoleh banyak ternak dari kawanan kambing dombanya, tiga hari kemudian setelah diketahuinya Yakub telah pergi dengan memba wa istri-istrinya, anak-anak dan semua hewan ternak yang telah diperolehnya, maka Labanpun mengejar Yakub. Bersama dengan sanak saudaranya seminggu kemudian Laban dapat menyusul Yakub dan rom bongannya di Gilead. Memang Laban dapat mengejar Yakub, tapi ia tidak dapat berbuat sesuatu yang bisa mendatangkan celaka karena perlindungan Allah yang telah menyuruh Yakub untuk meninggalkan Laban dan pergi kembali kenegerinya, bahkan mengata-katai Yakub saja tidak diijinkan-Nya. Namun demikian hati Yakub panas juga ketika Laban menggeledah isi kemahnya untuk mencari terafimnya yang hilang dan ternyata diambil oleh Rahel tanpa sepengetahuannya. Dan kekecewaan yang dipendam nya selama ia bekerja pada Laban seperti mendapat jalan untuk diungkapkannya. Perlindungan Allah bisa dinyatakan-Nya dengan banyak cara tergantung situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Allah sendiri yang akan menjaga dan melindungi setiap orang yang berjalan menurut kehendak-Nya sekalipun jalan yang sedang ditempuhnya sepertinya tidak dalam tanda pembelaan-Nya. Bisa saja Dia mencegah untuk tidak terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan, tapi jika toh hal itu tetap terjadi, Ia juga sanggup bertindak untuk menyelamatkan. Penyertaan-Nya sempurna, didalamnya ada pembelaan, pemeliharaan dan sebagainya, maka tidak ada suatupun yang akan menimpa kita tanpa seijin Tuhan (Roma 8:31-39).

ALLAH MENYERTAI DAN AKAN MELEPASKAN KITA DARI YANG JAHAT.  

9 April 2011

Dipaksa untuk kembali

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

SABTU, 9 APRIL 2011

KEJADIAN 31:1-21

Akulah Allah yang di Betel itu, dimana engkau mengurapi tugu, dan dimana engkau bernazar kepada-Ku; maka sekarang, bersiaplah engkau, pergilah dari negeri ini dan pulanglah kenegeri sanak saudara mu” (ayat 13).  Tidak dapat dihindari bahwa keberhasilan Yakub dalam bekerja sehingga ia diberkati Tuhan menimbulkan kecemburuan di hati Laban dan anak-anaknya. Keadaan sudah berubah, mulai ada jarak yang lebar antara Yakub dan keluarga Laban yang mana pada akhirnya membuat Yakub tidakbetah dan memutuskan untuk kembali kenegerinya karena memang tidak ada niat dia untuk menetap di Padan Aram. Memang sudah ada niat dalam diri Yakub untuk kembali, tapi ia masih menunggu waktu. Akhir nya Allah sendiri melalui sebuah mimpi menguatkan hati Yakub untuk pulang kenegerinya. Demikian lah dengan diam-diam Yakub beserta seluruh keluarganya dan juga harta benda yang didapatnya menye berangi sungai Efrat dan kembali kenegerinya. Kadang suatu perkara yang tidak menyenangkan Tuhan ijinkan terjadi atas kita bukan dimaksudkan untuk membebani atau membuat kita menderita, tapi untuk membuat kita tetap ada dialur rencana-Nya. Waspadalah dengan ikatan kekayaan dunia, jangan sampai oleh karena kekayaan dunia, oleh karena kemapanan hidup kita bergeser dari hidup dalam rancangan Allah pada hidup menuruti keinginan dunia. Maka jika kita mendapat tegoran atau peringatan melalui peristiwa yang tidak menyenangkan, anggaplah itu sebagai kasih Allah untuk membuat kita tetap hidup dalam rancangan-Nya. Bukankah rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera untuk memberi kan hari esok yang penuh pengharapan? Maka terimalah dengan segala kerelaan hati apabila ditegor dan diperingatkan Allah karena Dia menghendaki kita hidup dalam damai sejahtera-Nya (Wahyu 3:19).

KEMBALILAH PADA GEMBALA DAN PEMELIHARA JIWAMU

7 April 2011

Mencari perhatian ( Looking for attention )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB Editorial staff

KAMIS, 7 APRIL 2011

KEJADIAN 29:31-30:24

Ketika dilihat Rahel bahwa ia tidak melahirkan anak bagi Yakub, cemburulah ia kepada kakaknya itu, lalu berkata kepada Yakub: “Berikanlah kepadaku seorang anak; kalau tidak, akau akan mati” (ayat 1).  Dari semula cinta Yakub itu untuk Rahel, sedang kepada Lea ia tidak mencintainya, tapi karena adat dan budaya setempat ia harus lebih dahulu menikahi Lea untuk mendapat Rahel. Berat bagi Lea sebenarnya menikah dengan seorang yang tidak mencintainya, dan Allah melihat hal itu, maka Iapun membuka kan dungannya, sedang Rahel mandul. Empat anak laki-laki pertama Lea diberi nama yang mengandung arti perjuangannya dalam mendapatkan cinta dari suaminya. Hal itu membuat Rahel cemburu sehingga ia memberikan budaknya kepada suaminya supaya budaknya tersebut melahirkan anak dipangkuannya. Maka terjadilah, kedua kakak beradik dengan suami yang sama tersebut berlomba mendapat perhatian dan cinta dari suami mereka dengan memberikan anak bagaimanapun caranya. Dan sang suami sendiri bagai barang sewaan yang harus membagi kasihnya kepada kedua istrinya tersebut hingga Allah ingat kepada Rahel dan membuka kandungannya lalu melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Yusuf. Apapun adanya, kebutuhan mendasar bagi perempuan, bagi seorang istri khususnya adalah cinta atau kasih dari suaminya. Ketika seorang istri mendapat perhatian dan kasih dari sang suami sebagaima na seharusnya, seorang istri yang baik tidak akan berbuat sesuatu yang tidak perlu yang bisa mengakibat kan hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan berbagai kelemahan dan kekurangannya, seorang istri yang dicintai suaminya akan merasa aman dan jiwanyapun merasa tentram dalam mendampingi suaminya. Maka para suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu sebagai kaum yang lebih lemah, kasihi dan hormatilah dia sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan sehingga doamu tidak terhalang (1 Petrus 3:7).

 SUAMI-ISTRI PADA HAKEKATNYA ADALAH SATU DAGING.

THURSDAY, 7 APRIL 2011

29:31-30:24 EVENTS

 “When viewed Rachel that she did not bear children to Jacob, then she is jealous of her sister, and said to Jacob:” Give me a child, otherwise, I will die “(verse 1). From the beginning of Jacob’s love for Rachel, Leah was told he did not love her, but because of local customs and culture he must first marry Leah for Rachel. Weight for Lea actually married to someone who does not love her, and God saw it, then He Himself opened it has conceived, while Rachel was barren. Four boys are first given the name Leah means struggle in getting the love from her husband. It makes Rachel jealous so she gives her slave to her husband so that his slave is his lap child. So it came to pass, the two sisters with the same husband are racing to get attention and love from their husbands by giving the child somehow. And the husband himself as a rental item that must share his love for both his wife until God remembered Rachel and opened her womb to then give birth to a boy named Joseph. Whatever it is, a fundamental requirement for women, for a wife in particular is love or love from her husband. When a wife gets the attention and love from her husband as they should, a good wife would not do something that could not have resulted in the things that are not desired. With the various weaknesses and shortcomings, a wife who loved her husband will feel safe and soul felt at ease in assisting  her husband. So the husbands, live with your wife as the weaker, love and respect her as a friend heir of the grace of life so that your prayers are not hindered (1 Peter 3:7).

 HUSBAND-WIFE IS ESSENTIALLY ONE FLESH.

6 April 2011

Hidup dengan bijak

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani Denpasar

RABU, 6 APRIL 2011

KEJADIAN 29:1-30

“Kemudian berkatalah Laban kepada Yakub: “Masakan karena engkau adalah sanak saudaraku, engkau bekerja padaku dengan cuma-cuma? Katakanlah kepadaku apa yang patut menjadi upahmu” (ayat 15).  Allah menyertai Yakub, dan sampailah ia kesebuah tempat penggembalaan kambing domba dimana waktu itu para gembala sedang bersiap untuk memberi minum hewan gembalaan mereka. Rahel pun, anak Laban, saudara ibu Yakub, juga datang ketempat tersebut dan bertemu dengan Yakub dan segera memberitahukan hal itu kepada ayahnya yang juga langsung menyambutnya. Laban memperlaku kan Yakub dengan baik, dan sekalipun ia adalah sanak saudaranya, bagi Laban Yakub harus tetap men dapat upah dari apa yang dikerjakan dirumahnya. Dan Yakub memilih untuk mendapat istri sebagai upah dari segala yang dikerjakannya dirumah Laban. Maka tujuh tahun kemudian mimpinya untuk mem peristri Rahel menjadi kenyataan walau harus melalui lika-liku perjuangan dan dengan syarat yang juga harus dipenuhinya, taat pada adat dan budaya setempat yang membuat dia harus lebih dahulu menikahi Lea, kakak Rahel. Demi cintanya kepada Rahel, tujuh tahun Yakub rasa hanya beberapa hari meskipun untuk itu ia harus bekerja tujuh tahun lagi pada Laban. Dimanapun kita adanya jika mampu membawa diri dengan baik pasti juga akan diterima dengan baik pula. Untuk itu kita juga harus mengenal dan menghormati peraturan-peraturan yang berlaku, entah itu dalam kalangan sanak saudara sendiri, digereja , dilingkungan kerja dan usaha ataupun dilingkungan dimana kita tinggal. Maka hiduplah dengan penuh hikmat, istimewa terhadap orang-orang luar, itulah hidup yang berpadanan dengan panggilan (Kolose 4:5-6).

 HIDUPLAH BERPADANAN DENGAN INJIL KRISTUS.