Get Adobe Flash player
25 October 2014

MENJADI BERKAT OLEH ANUGERAHNYA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 25 Oktober 2014
Baca:  Roma 4

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham,…”  Roma 4:16a

Alkitab mencatat,  “Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.”  (Yosua 24:2).  Melalui ayat ini jelas dinyatakan bahwa Terah, ayah Abraham, adalah penyembah berhala.  Ini menunjukkan bahwa pada awalnya Abraham bukanlah orang percaya.  Seperti orang-orang sezamannya, ia adalah penyembah berhala yang memuja berhala di Ur-Kasdim.  Namun dalam Kejadian 12:1 Tuhan mengatakan padanya,  “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;”  (Kejadian 12:1).  Inilah awal Abraham menjadi orang percaya.

Tuhan menyatakan diriNya secara pribadi kepada Abraham karena Dia memiliki rencana besar atas kehidupan Abraham, hendak menjadikannya bapa bagi bangsa-bangsa.  Hidup Abraham dipakai Tuhan bukan karena ia orang benar, tetapi karena anugerahNya semata.  “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri,…”  (2 Timotius 1:9).  Abraham merespons panggilan Tuhan ini dengan ketaatan.  Ketika diperintahkan pergi ke suatu negeri yang belum diketahuinya, dengan konsekuensi harus meninggalkan sanak keluarga dan tanah leluhurnya, Abraham taat.  Ini bukanlah perkara mudah, apalagi perintah itu ia terima dari Tuhan yang baru saja dikenalnya.  Namun respons Abraham telah menghasilkan keselamatan bagi seluruh umat manusia, di mana melalui keturunan Abraham inilah Allah menggenapi janjiNya dengan mengutus Yesus Kristus datang ke dunia.

Prinsip pemilihan Tuhan terhadap Abraham sama dengan prinsip Tuhan memilih kita.  Kita yang sebelumnya adalah orang-orang berdosa, ditebus melalui darah Kristus yang kudus sehingga kita menjadi orang-orang yang dibenarkan, lalu diangkat sebagai anak-anakNya, artinya kita juga ahli waris Kerajaan Allah.

Mari introspeksi diri:  adakah kita memiliki ketaatan seperti Abraham?  Berani mengambil keputusan untuk mengikuti dan melayani Tuhan dengan segenap hati serta rela meninggalkan segala kenyamanan yang ada selama ini?

 

BE A BLESSING BY GRACE
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 25th, 2014

Read: Romans 4 “Therefore it is of faith that is grace, so that the promise applies to all the descendants, …” Romans 4: 16a

The Bible records, “Once upon a time beyond the Euphrates River, is where silent ancestors, that Terah, the father of Abraham and father of Nahor, and they served other gods.” (Joshua 24: 2). Through this verse clearly states that Terah, Abraham’s father, was an idolater. It shows that at the beginning of Abraham was not a believer. Like many of his contemporaries, he was a pagan who worships idols in Ur of the Chaldeans. But in Genesis 12: 1 The Lord said to him, “Go from your country and from your relatives and from your father’s house to the land that I will show thee;” (Genesis 12: 1). This was the beginning of Abraham became a believer.

God reveals Himself personally to Abraham because He has great plans for the life of Abraham, the father wanted to make it to the nations. Abraham’s life was used by God not because he was righteous, but because of His grace alone. “He saved us and called us with a holy calling, not according to our works, but according to the purpose and grace of his own, …” (2 Timothy 1: 9). Abraham responded to God’s call to obedience. When instructed to go to a land that is not yet known, the consequences of having to leave the land of their ancestors and relatives, Abraham. It is not easy, especially the order he received from the Lord who had just met. However, Abraham’s response has resulted in salvation for all mankind, where through the seed of Abraham that God fulfilled His promise by sending Jesus Christ came into the world.

The principle of God’s choice of Abraham together with the principles of God’s choosing us. We previously were sinners, redeemed by the blood of Christ is holy so that we become people who are justified, and appointed as his children, it means we are also heirs of the kingdom of God.

Let introspection: are we going to have obedience like Abraham? Brave decision to follow and serve the Lord with all your heart and willing to leave all the comforts that have so far?

24 October 2014

HIDUP KEKRISTENAN: Terpisah dari Dosa!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 24 Oktober 2014
Baca:  Keluaran 19

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.  Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.”  Keluaran 19:6

“Kekudusan lagi!  Topik itu melulu, bosan ahh!”  Mungkin itu reaksi kita.  Kekudusan adalah topik yang sangat tidak disukai dan sebisa mungkin dihindari oleh orang Kristen.  Mengapa?  Karena berbicara tentang kekudusan berarti jemaat akan ditegur, dikoreksi, di  ‘ditelanjangi’  dosa-dosanya.  Namun, mau tidak mau, suka tidak suka, topik itu harus tetap disampaikan kepada orang percaya sampai Tuhan datang kali kedua, karena kekudusan adalah syarat mutlak untuk dapat melihat Tuhan.  “…kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14).  Jadi kekudusan adalah sasaran hidup setiap orang percaya.

Apakah sebenarnya kekudusan itu?  Secara umum kudus berarti tak berdosa.  Siapa manusia yang tidak berdosa, selain Yesus?  Kata kudus dalam bahasa Ibrani adalah qodosh, yang memiliki arti dasar pemisahan.  Kepada Musa Tuhan berfirman demikian:  “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka:  Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.”  (Imamat 19:2).  Ini menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan adalah kudus dan tidak bisa diganggu gugat!  Dia tidak bisa disamakan dengan ilah-ilah lain.  Karena itu Tuhan melarang bangsa Israel menyembah ilah-ilah lain karena hanya Tuhan saja yang layak disembah.  Tuhan memanggil bangsa Israel untuk dikuduskan atau dipisahkan dari bangsa-bangsa lain dan diangkat menjadi umat pilihanNya.  Begitu juga Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan kita orang-orang berdosa dan memisahkan kita dari dunia ini, serta menjadikan kita sebagai  “…bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil keluar dai kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib;”  (1 Petrus 2:9).

Alkitab menyatakan bahwa melalui karya kudusNya di kayu salib Yesus membenarkan, menguduskan, menebus kita  (baca  1 Korintus 1:30).  Karena telah dipisahkan dari dosa, Tuhan menghendaki kita juga  ‘berbeda’  dari dunia dan tidak turut dalam perbuatan-perbuatan mereka.

Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.”  (2 Korintus 6:17).

ON CHRISTIANITY: Separate from Sin!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, October 24th, 2014
Read: Exodus 19

“Ye shall be unto me a kingdom of priests and a holy nation. These are the words which you shall speak to the Israelites.” Exodus 19: 6

“Holiness again! The topic was merely, bored ahh!” Maybe it was our reaction. Holiness is a topic that is very unpopular, and as much as possible be avoided by Christians. Why? Because talking about holiness means the church will be reprimanded, corrected, in ‘stripped’ sins. However, like it or not, like it or not, the topic should still be submitted to the believers until the Lord comes the second time, because holiness is the necessary condition to be able to see God. “… pursue holiness, for without holiness no one will see the Lord.” (Hebrews 12:14). So holiness is a life goal of every believer.

Is it true holiness? In general, means holy innocent. Who innocent human being, other than Jesus? Holy word in Hebrew is qodosh, which has the basic meaning of separation. Thus the Lord said to Moses: “Speak to the entire assembly of Israel and say to them: You shall be holy, for I, the Lord your God, am holy.” (Leviticus 19: 2). This shows that the existence of God is holy and inviolable! He can not be equated with other gods. Therefore God forbid the Israelites worshiped other gods because only God is worthy of worship. God called Israel to be sanctified or separated from other nations, and was named a chosen people. Likewise, the Lord Jesus came into the world to seek and save us sinners and separated us from this world and make us as “… a nation that is selected, a royal priesthood nations find holy, people belonging to God himself, that ye proclaim the great deeds of him who has called out of darkness into light propagators his wonderful; “(1 Peter 2: 9).

The Bible declares that through His work on the cross of Jesus to justify, sanctify, redeem us (see 1 Corinthians 1:30). Since it has been separated from sin, God wants us too ‘different’ from the world and do not participate in their deeds.

“Come out from among them, and be ye separate, saith the Lord, and touch not the unclean thing; and I will receive you.” (2 Corinthians 6:17).

23 October 2014

JANGAN BIARKAN KESEMPATAN ITU LEWAT!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 23 Oktober 2014
Baca:  Galatia 6:1-10

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  Galatia 6:10

Ada kata bijak yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Banyak orang yang menyesal begitu rupa saat kesempatan itu tidak digunakan dengan baik.  Yang ada tinggallah penyesalan.

Tuhan memberikan kesempatan kepada orang-orang di zaman Nuh selama 120 tahun untuk bertobat, tapi mereka tidak mempergunakannya dengan baik dan akhirnya penyesalan pun tiada guna.  Dan saat Tuhan menenggelamkan bumi dengan air bah, binasalah mereka semua kecuali Nuh dan keluarganya yang selamat.  Begitu juga seluruh penduduk kota Sodam dan Gomora yang dibumihanguskan oleh Tuhan.  Selama masih hidup mereka menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan tetap hidup di dalam dosa.  Juga kisah orang kaya dan Lazarus  (baca  Lukas 16:19-31). Saat di dunia si kaya hidup dalam gelimangan harta , tapi ia lupa diri dan tidak pernah menabur atau memperhatikan orang-orang lemah.  Akhirnya ia mengalami kebinasaan kekal.  Ia lupa bahwa hidup di dunia ini adalah kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan hidup di dalam kekekalan.

Berapa lama kita memiliki kesempatan hidup di dunia ini?  Selamanyakah?  Dalam mazmurnya Daud berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;  sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Menyadari bahwa kesempatan itu sangatlah terbatas, Daud pun berdoa,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12).  Jadi tugas kita menemukan kesempata dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri atau sesama sehingga raja Salomo menasihati,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10).

Selagi Tuhan memberi kesempatan, gunakan sebaik mungkin supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari!

DO NOT LET OPPORTUNITY THROUGH IT!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 23, 2014
Read: Galatians 6: 1-10

“Therefore, as long as we have opportunity, let us do good to all people, but especially to our friends in the faith.” Galatians 6:10

There is a proverb that states that the opportunity does not come a second time. Therefore you should never waste any opportunity. Many people regret so much when the opportunity was not used properly. That there lived remorse.

God gave the opportunity to the people of Noah’s day for 120 years to repent, but they do not use them properly and ultimately regret was useless. And when God drowning the earth with a flood, they all perished except Noah and his family survived. Likewise all the men of Sodam and Gomorrah were burned by God. While still alive they wasted the opportunities that exist and live in sin. Also the story of the rich man and Lazarus (see Luke 16: 19-31). When in the rich world who live in abundant wealth, but he forgot himself and never sow or pay attention to those weak. Finally he suffered everlasting destruction. He forgets that life in this world is an opportunity for us to prepare for life in eternity.

How long do we have a chance to live in this world? Forever? In the psalm, David says, “days of our lives seventy years and if we are strong, eighty years old, and his pride is hardship and suffering, for the passage of a hurry, and we drift away.” (Psalm 90:10). Realizing that it is very limited opportunity, David prayed, “Teach us to number our days, that we may gain a heart of wisdom.” (Psalm 90:12). So the task we find occasion, in every situation, because if life ends no more opportunity to repent. After death there is no more chance to do good for themselves or others that King Solomon advises, “Everything that your hand finds to do, do it with your might; for there is no work or device or knowledge or wisdom in the grave, where you are will go. “(Ecclesiastes 9:10).

While God gives opportunity, to use as possible so there are no regrets in the future!

22 October 2014

TETAP KOKOH BERDIRI MESKI DI TENGAH BADAI

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 22 Oktober 2014
Baca:  Matius 7:24-27

“Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”  Matius 7:25

Meski berada di tengah badai persoalan, jika kehidupan rohani kita dibangun di atas pondasi yang kuat, kita akan tetap kokoh berdiri.  Sebaliknya, orang Kristen yang kehidupan rohaninya dibangun di atas pasir akan mudah hancur saat diterpa badai:  stres, frustasi, menyalahkan Tuhan dan lalu meninggalkan Tuhan.

Membangun di atas batu  (pondasi yang kuat)  artinya mendengarkan firman dan juga melakukan firman itu.  Sedangkan orang yang membangun di atas pasir adalah orang yang mendengarkan firman tetapi tidak melakukannya.  Itulah sebabnya mengapa Tuhan mengijinkan kita berada di  ‘padang gurun’  atau mengalami badai persoalan, yaitu untuk membuktikan apakah kita sudah tinggal dalam firmanNya atau belum.  Dengan adanya masalah atau badai persoalan kehidupa rohani seseorang akan terlihat kualitasnya.

Orang Kristen yang hidup dalam firman pasti akan tetap teguh berdiri meski berada di tengah badai, karena ia tahu benar bahwa jika Tuhan mengijinkan hal itu terjadi pasti tidak melebihi kekuatan dan Dia selalu menyediakan jalan ke luar.  Ada tertulis:  “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.  Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.  Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”  (1 Korintus 10:13).  Namun jika kehidupan rohani kita dibangun di atas pasir kita akan mudah terhempas ketika badai persoalan datang, karena kita tidak berakar kuat di dalam firman seperti yang dikatakan Ayub,  “Mereka menjadi seperti jerami di depan angin, seperti sekam yag diterbangkan badai.”  (Ayub 21:18).  Kita tak ubahnya seperti sekam.  Apa itu sekam?  Sekam adalah kulit padi.  Sekam akan bertebaran ke mana-mana jika diterpa angin karena tidak memiliki berat  (ringan),  tidak berbobot.  Oleh karena itu mari terus melekat kepada Tuhan dan hidup seturut akan firmanNya.  Badai kehidupan boleh terjadi, tetapi bagi setiap orang percaya ada jaminan pertolongan dari Tuhan.

“Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  Yesaya 46:4

EVEN STILL STANDING IN THE MIDDLE OF ROBUST STORM
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 22, 2014
Read: Matthew 7: 24-27

“Then the rain descended and the floods came, and the winds beat on that house, but the house collapsed because it was not founded upon a rock.” Matthew 7:25

Although located in the center of a storm of problems, if our spiritual life is built on a strong foundation, we will remain firm stand. Instead, Christian spiritual life is built on sand will crumble when the storm: stress, frustration, blame God and then leave God.

Building on the rock (strong foundation) means listening to the word and the word was also conducted. Meanwhile, people who build on sand are people who listen to the word but does not do so. That is why God allows us to be in the ‘wilderness’ or experiencing storm problems, which is to prove whether we are living in His Word or not. With the problems or issues storm one’s spiritual life will look quality.

Christians who live in the word would have remained standing firm despite being in the middle of the storm, because he knew very well that if the Lord permits it certainly does not exceed the power and He always provides a way out. It is written: “No trial has overtaken you experienced is normal trials, which do not exceed the power of man. And God is faithful; he will not let you be tempted beyond your strength. When you are tempted he will also provide a way out so that you can endure it. “(1 Corinthians 10:13). But if our spiritual life is built upon the sand we would be easily crushed when the storm comes the question, because we are not firmly rooted in the Word as Job said, “they like straw before the wind, like chaff blown yag storm.” (Job 21:18). We are like chaff. What is chaff? Chaff is bran. Chaff will be scattered everywhere when the wind because it does not have the weight (light), not weighted. Therefore, let’s continue to cling to God and live according to His Word will. Storms of life may occur, but for every believer is no guarantee of help from God.

“Up to your old age I am He, and to gray hairs I will carry you. I’ve done it and I will bear; I will carry you and save you.” Isaiah 46: 4

21 October 2014

TUHAN MENOPANG: Di Segala Perjalanan Hidup Kita!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 21 Oktober 2014
Baca:  Ulangan 1:19-33

“dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa Tuhan, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.”  Ulangan 1:31

Empat puluh tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi begitu lama dan sangat melelahkan.  Itulah yang dialami oleh bangsa Israel:  selama 40 tahun mereka harus melintasi padang gurun itu, mulai dari tanah Mesir sampai ke Kanaan, hanya dalam waktu beberapa hari saja.  Sebuah perjalanan yang tidak mudah karena di padang gurun hampir tidak akan kita jumpai tanaman, kecuali di tempat-tempat tertentu.  Belum lagi perbedaan suhu yang ekstrim antara siang dan malam, serta banyaknya binatang buas yang berkeliaran di padang gurun.  Mengapa bangsa Israel begitu lama berada di padang gurun?  Itu akibat dari ketidakpercayaan bangsa Israel sendiri sehingga Tuhan membiarkan mereka berputar-putar mengelilingi padang gurun tersebut selama 40 tahun hingga generasi pertama dari bangsa itu tidak ada lagi, hanya Kaleb dan Yosua saja dari generasi pertama bangsa itu yang memasuki Tanah Perjanjian.

Dalam perjalanan hidup ini terkadang kita juga harus mengalami seolah-olah sedang berada di padang gurun.  Tetapi ada hal yang hendak Tuhan sampaikan kepada kita:  “Sebab Tuhan, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaan tanganmu.  Ia memperhatikan perjalananmu melalui padang gurun yang besar ini;  keempat puluh tahun ini Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, dan engkau tidak kekuarangan apa pun.”  (Ulangan 2:7).  Di tengah badai kehidupan yang seberat apa pun janganlah sampai kita melupakan segala kebaikan Tuhan.  Pengalaman hidup bangsa Israel ini menjadi bukti nyata betapa sempurna penyertaan Tuhan terhadap mereka.  Namun meskipun berada di padang gurun selama bertahun-tahun bangsa Israel tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan, sehingga mereka tidak kekurangan suatu apa pun juga.

Seringkali ketika permasalah datang menerpa hidup ini kita bertanya:  di manakah Tuhan?  Kita merasa Tuhan tidak mempedulikan kita dan membiarkan kita bergumul sendirian.  Akibatnya kita menjadi lemah dan tak berdaya.  Ibarat sebuah bangunan,  ‘rumah rohani’  kita hancur berkeping-keping dan tinggal puing-puing berserakan.  Mengapa bisa terjadi?

Sesungguhnya ada banyak orang percaya yang tetap kuat dan mampu bertahan di tengah persoalan.

20 October 2014

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 20 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 34

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  Mazmur 34:19

Petrus menasihati dalam 1 Petrus 5:5b-6,  “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:  ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’  Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”  (1 Petrus 5:5b-6).

Penting bagi setiap orang percaya memiliki kerendahan hati.  Perhatikan sikap dari seorang Farisi saat ia datang kepada Tuhan.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:  “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”  (Lukas 18:11-12).  Orang Farisi tersebut datang kepada Tuhan tanpa kerendahan hati, ia memamerkan kebenaran dan kesucian hidupnya.  Siapakah kita ini di hadapan Tuhan, sehingga kita bersikap tinggi hati?

Jangan pernah membanggakan diri oleh karena kita kaya, terpandang, sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun atau sudah melayani Tuhan.  Semuanya itu tidak boleh menjadi alasan untuk merasa sombong atau bermegah di hadapan Tuhan.  Ayat nas di atas menyatakan bahwa Tuhan begitu dekat dengan orang-orang yang memiliki hati hancur.  Inilah wujud kerendahan hati yang benar:  hati yang hancur disertai dengan linangan air mata, lalu tersungkur di bawah kaki Tuhan Yesus, memohon belas kasih dan kemurahanNya.  Hati yang hancur adalah suatu korban yang menyenangkan hati Tuhan;  tak ada sesuatu yang lebih berharga di mata Tuhan kecuali hati yang hancur.  Orang-orang yang patah, jiwa yang remuk, hati yang benar-benar merindukan Tuhan adalah modal bagi Tuhan untuk menjadikan mereka alat yang berguna bagi kemuliaanNya, karena hati yang hancur  (kerendahan hati)  adalah syarat yang penting untuk menghampiri Tuhan.  Dan doa yang dinaikkan kepada Tuhan dengan hati yang hancur selalu didengar dan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu jangan keraskan hatimu!

Tuhan Yesus sendiri juga banyak mencucurkan air mata dalam doaNya seperti tertulis:  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia,…”  (Ibrani 5:7).

MPORTANCE OF HUMILITY IN PRAYER (2)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 20, 2014
Read: Psalm 34

“The Lord is near to the brokenhearted, and he saves those crushed his soul.” Psalm 34:19

Peter counseled in 1 Peter 5: 5b-6, “And you all, humble yourselves to one another, because, ‘God opposes the proud, but pity to the humble.’ Therefore humble yourselves under the mighty hand of God, that ye may be exalted in due time. “(1 Peter 5: 5b-6).

It is important for every believer to have humility. Consider the attitude of the Pharisee when he came to the Lord. The Pharisee stood and prayed thus: “O God, I thank thee, that I am not like other people: swindlers, unjust, adulterers, or even like this tax collector I fasted two times a week, I give a tenth of everything. “(Luke 18: 11-12). The Pharisees come to God without humility, he exhibited the truth and sanctity of life. Who we are before God, so that we act snobby?

Never boast because we are rich, respected, was a Christian for years or have been serving the Lord. Everything it should not be a reason to feel proud or boast before God. Nas verse above states that God is so close to the people who have a broken heart. This is the form of true humility: a broken heart accompanied with tears, and fell at the feet of the Lord Jesus, begging mercy and grace. A broken heart is a sacrifice pleasing to God; there is nothing more precious in God’s eyes except a broken heart. People are broken, shattered soul, heart really yearns for God is capital for God to make them useful tools for His glory, because a broken heart (humility) is a necessary condition to draw near to God. And the prayer offered to God with a broken heart is always heard and answered by God. Therefore, do not harden your hearts!

The Lord Jesus himself also tears in His prayer as written: “In his life as a man, he had offered up prayers and supplications with strong crying and tears unto him …” (Hebrews 5: 7).

18 October 2014

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA (1 )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 18 Oktober 2014
Baca:  Yakobus 4:1-10

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”  Yakobus 4:3

Pernahkah doa Saudara tidak dijawab oleh Tuhan?  Sebagian besar dari kita pasti akan menjawab,  “Wah, sudah tak terhitung banyaknya doa saya tidak dijawab oleh Tuhan.”  Dan ujung dari semua itu adalah kita menjadi kecewa dan kemudian menyalahkan Tuhan.  Namun jarang sekali kita mau mengevaluasi diri mengapa doa kita sampai tidak dijawab oleh Tuhan, tidak pernah mengintrospeksi diri kita mengapa doa kita itu tidak dijawabNya.

Ternyata sikap seseorang dalam berdoa juga sangat menentukan apakah doanya akan dijawab atau tidak oleh Tuhan.  Bila kita memiliki sikap hati yang benar dalam berdoa, apa saja yang kita minta dari Tuhan dalam nama Yesus Kristus, kita pasti akan menerimanya.  Kita harus ingat bahwa berdoa itu bukan hanya mengucapkan perkataan-perkataan yang teratur di hadapan Tuhan, melainkan suatu pernyataan dari tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan.  Hal ini berkenaan dengan hati kita.  Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan memandang hati kita,  “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;  manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”  (1 Samuel 16:7b), sebab suatu doa yang keluar dari dasar hati yang benar, walau diucapkan hanya dengan sederhana atau hanya melalui linangan air mata, akan sampai ke telinga Tuhan dan Dia pasti bertindak.

Ada tertulis:  “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”  (Matius 5:5).  Kata lemah lembut ini berbicara tentang kerendahan hati.  Kerendahan hati dapat diartikan sebagai kemurnian atau kelemahlembutan.  Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata  ‘praios’  yang berarti juga lemah lembut, bisa diartikan seseorang yang memiliki penyerahan atau ketergantungan total kepada Tuhan.  Rasul Paulus juga menulis bahwa kerendahan hati atau kelemahlembutan adalah salah satu dari buah Roh.  Mengapa kita harus memiliki kerendahan hati?  Firman Tuhan menegaskan,  “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”  (Amsal 18:12).

Kerendahan hati adalah syarat yang mutlak yang Tuhan tetapkan untuk setiap orang yang rindu doa-doanya beroleh jawaban, sebab pintu hati Tuhan terbuka bagi orang-orang yang memiliki kerendahan hati.

IMPORTANCE OF HUMILITY IN PRAYER (1 )

Daily Devotion GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 18, 2014
Read: James 4: 1-10

“When you ask, you do not receive anything, because you’re wrong to pray, for ye shall ask that you may spend it on your passions.” James 4: 3

Have your prayers are not answered by God? Most of us will answer, “Well, it’s been my countless prayers are not answered by God.” And the end of all of it is that we become disappointed and then blame God. But rarely do we want to evaluate yourself why our prayers are not answered by the Lord through, never introspect ourselves why our prayers were not answered.

It turns out that one’s attitude in prayer also determine whether or not his prayer will be answered by God. If we have the right heart attitude of prayer, what we ask of God in the name of Jesus Christ, we will definitely take it. We must remember that prayer is not just saying the words are organized in the presence of God, but rather a statement of the body, soul and spirit to God. It is concerned with our hearts. We must realize that we are indeed God looks at the heart, “not people see who views God for man looks at the outward appearance, but God looks at the heart.” (1 Samuel 16: 7b), because a prayer that came from the heart is right, even if only with simple spoken or only through tears, will get to the ears of the Lord and He must act.

It is written: “Blessed are the meek, for they will inherit the earth.” (Matthew 5: 5). Said this gentle talk about humility. Humility can be defined as purity or gentleness. In the Greek language written with the word humility ‘praios’ which means too gentle, it could mean someone who has a submission or total dependence on God. The Apostle Paul also wrote that humility or meekness is one of the fruits of the Spirit. Why do we have to have the humility? The Word of God affirms, “High liver before destruction, but humility precedes honor.” (Proverbs 18:12).

Humility is the absolute requirement that the Lord assigned to each person who missed his prayers might receive an answer, because the door of God’s heart is open to people who have humility.

16 October 2014

TERLALU SIBUK: Tidak Ada Waktu Untuk Berdoa!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 16 Oktober 2014
Baca:  Matius 9:35-38

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa;  Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.”  Matius 9:35

Saat berada di bumi Tuhan Yesus tidak pernah berhenti untuk bekerja.  Dia berkata,  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Alkitab pun menyatakan bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani semua orang  (baca  Matius 20:28).  Ayat nas di atas menunjukkan betapa sibuknya Yesus melayani jiwa-jiwa;  Ia berjalan berkeliling ke semua kota dan desa sambil mengajar, memberitakan Injil serta menyembuhkan segala penyakit.  Demikian sibuknya sampai-sampai Yesus tidak mempunyai tempat untuk sekedar meletakkan kepalaNya  (baca  Matius 8:20).  Walaupun demikian Yesus tidak pernah mengabaikan jam-jam doa;  Ia selalu mempunyai waktu untuk berdoa.  Di waktu pagi sebelum fajar merekah Yesus bangun dan mengasingkan diriNya untuk berdoa  (baca  Markus 1:35), bahkan pada waktu malam Ia juga mencari tempat yang sunyi senyap untuk berdoa sepanjang malam  (Baca  Lukas 6:12).

Ada peribahasa yang mengatakan,  ‘Time is money’.  Banyak orang yang sangat memperhitungkan waktunya secara mendetil.  Waktu yang ada sebisa mungkin dipergunakan sebaik-baiknya.  Bagi mereka, membuang waktu sama artinya kehilangan keuntungan;  semua diukur dengan uang.  Dari sekian waktu yang digunakan untuk bekerja  (mencari uang), adakah yang mereka gunakan untuk berdoa dan mencari hadirat Tuhan?  Tak terkecuali orang Kristen dan mungkin para hamba Tuhan terlalu disibukkan dengan banyak pekerjaan dan juga jadwal pelayanan, sehingga malah tidak punya waktu untuk berdoa.  Kita bisa menyediakan waktu berjalan-jalan dengan keluarga, menyalurkan hobi memasak dan berkebun, berolahraga, nonton konser musik dan lain-lain, tetapi kita sulit menyediakan waktu untuk berdoa 1 jam sama.  Untuk perkara-perkara rohani kita tidak bisa mengatur dan membagi waktu!  Tapi untuk perkara-perkara duniawi  (daging), apa pun itu pasti kita sempat-sempatkan.  Sibuk!  Sibuk!  Itu yang kita katakan.  Kita tidak ada waktu untuk berdoa.  Iblis akan bersorak-sorai bila kita melalaikan doa.  Semakin kita meninggalkan doa semakin mudah Iblis menghancurkan hidup kita.

Jangan hanya berdoa saat dalam masalah saja, tapi berdoalah setiap waktu!

TOO BUSY: No Time to Pray!
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 16, 2014
Read: Matthew 9: 35-38

“Then Jesus went about all the cities and villages, teaching in their synagogues and preaching the gospel of the kingdom, and healing every disease and sickness.” Matthew 9:35

When on earth Jesus never ceased to work. He said, “My Father worketh hitherto, and I work too.” (John 5:17). The Bible also says that Jesus came into the world not to be served, but to serve all the people (see Matthew 20:28). Nas verse above shows how busy serving Jesus souls; He walked around to all the towns and villages, teaching, preaching the gospel and heal all diseases. So busy to the point that Jesus did not have a place to just lay His head (see Matthew 8:20). Yet Jesus never ignore the hours of prayer; He always had time to pray. In the morning before dawn Jesus got up and alienating himself to pray (see Mark 1:35), even at night time he was also looking for a silence to pray during the night (Read Luke 6:12).

There is a proverb that says, ‘Time is money’. A lot of people who really take into account the time in detail. Time there as much as possible be used as well as possible. For them, throw the same time means lost profits; all measured with money. Of the time spent working (making money), is there anything that they use to pray and seek God’s presence? No exception Christians and pastors probably too busy with too much work and schedule of service, so that did not even have time to pray. We can provide a walk with the family, cooking and gardening hobby, exercise, go to a concert, etc., but it is hard to make time to pray one hour each. For spiritual matters we can not manage and share time! But for worldly matters (meat), whatever it is we must have had-a time. Busy! Busy! That’s what we say. We do not have time to pray. Satan will shout for joy when we neglect prayer. The more we leave the prayer of the devil to destroy our lives easier.

Do not just pray when in trouble, but pray every time!

15 October 2014

DOA PRIBADI: Sebagai Kebutuhan Utama

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 15 Oktober 2014
Baca:  Markus 1:35-39

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar.  Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”  Markus 1:35

Sebagai orang percaya, terlebih lagi kita yang sudah terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, pasti dengan sendirinya juga memiliki doa pribadi di rumah setiap hari.  Bukankah demikian?  Kenyataannya masih banyak dari kita yang kurang menyadari betapa pentingnya doa itu.  Selama kita belum menjadikan doa sebagai kebutuhan utama kita seperti makan, minum, tidur atau bekerja, kita belum memiliki kehidupan doa.  Rahasia kehidupan seorang Kristen yang berhasil dan diberkati adalah memiliki doa pribadi setiap hari.  Doa pribadi bukan hanya berlaku bagi para hamba Tuhan atau pengerja gereja namun untuk semua orang Kristen tanpa terkecuali.  Doa pribadi bukanlah suatu kewajiban agama, tetapi harus menjadi bagian hidup kita yang terus-menerus mengalir seperti sungai.  Tidak ada orang yang terlalu pintar, terlalu payah, terlalu susah atau terlalu repot yang tidak dapat melakukan doa secara pribadi.

Tuhan Yesus mengajar agar kita melakukan doa pribadi dengan cara demikian:  “…masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.  Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  (Matius 6:6), dan bertekun di dalam doa sampai kita menerima apa yang kita butuhkan.  Tertulis:  “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?  Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”  (Lukas 18:7).  Keberhasilan Rasul Paulus menjungkirbalikkan dunia dengan Injil bukanlah karena kepintarannya, tapi karena kekuatan doanya.  Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati,  “Tetaplah berdoa.”  (1 Tesalonika 5:17).

Sudahkah kita memiliki kehidupan doa secara pribadi setiap hari dan melakukannya dengan penuh ketekunan?  Masihkah kita ogah-ogahan berdoa dan merasa tidak yakin dengan doa kita sendiri, sehingga selalu berharap kepada pendeta atau hamba Tuhan besar yang berdoa bagi kita?  Ataukah kita mengucapkan doa dengan sungguh hanya saat berada di gereja, sedangkan saat di rumah kita lebih banyak berada di depan televisi atau tidur mendengkur?  Kemalasan kita dalam berdoa adalah akar dari segala kelemahan dan kegagalan kita.

Jika kita ingin menerima yang baik dari Tuhan dan rindu dipakaiNya secara luar biasa, kita harus meningkatkan intensitas doa kita!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 15, 2014
Read: Mark 1: 35-39

“Early in the morning, while it was still dark, Jesus got up and went outside. He went into a solitary place, and there prayed.” Mark 1:35

As believers, moreover, we are already engaged in the service of God’s work, certainly by itself also has a personal prayer at home every day. Is not it so? In fact there are many of us who are less aware of the importance of prayer. As long as we have not made ​​our prayer as the primary needs such as eating, drinking, sleeping or working, we do not have a prayer life. Secret life of a Christian is a successful and blessed to have a private prayer every day. Private prayer is not only true for pastors or church workers but to all Christians without exception. Private prayer is not a religious obligation, but should be part of our lives that are constantly flowing like a river. No one is too smart, too terrible, too difficult or too much trouble that can not be done in private prayer.

The Lord Jesus taught us to do personal prayer this way: “… go into your room, close the door and pray to your Father who is in secret. Then your Father will see the hidden reward you.” (Matthew 6: 6), and continue in prayer until we receive what we need. Written: “Did God would justify his choice during the night crying out to Him? And is he stalling before helping them?” (Luke 18: 7). The success of Paul overturning the world with the gospel is not because of his intelligence, but because of the power of prayer. That is why the Apostle Paul admonished, “Pray without ceasing.” (1 Thessalonians 5:17).

Do we have a personal prayer life every day and do it with diligence? Shall we pray reluctant and unsure of our own prayer, so always look forward to the pastor or the great servant of God pray for us? Or do we say a prayer with really only when you are in church, while at home we are more in front of the television or sleep snoring? Our laziness in prayer is the root of all of our weaknesses and failures.

If we want to accept good from God and longs to wear a remarkable, we have to increase the intensity of our prayers!

14 October 2014

PENGENALAN AKAN TUHAN: Menyadari Panggilan Kita!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 14 Oktober 2014
Baca:  Hosea 6:1-6

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  Hosea 6:6

Memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan adalah sangat penting bagi orang percaya, karena tanpa pengenalan yang benar akan Tuhan iman kita tidak akan bertumbuh.  Memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita semakin memahami rencana-rencanaNya dan juga keberadaan kita di dalam Dia.  Oleh karena itu rasul Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus:  “…meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”  (Efesus 1:17).  Itulah yang disukai dan dirindukan Tuhan.

Mengenal Tuhan berbeda dengan sekedar tahu akan Tuhan.  Dalam pengenalan akan Tuhan terkandung suatu hubungan yang erat, penyerahan diri penuh dan juga kepercayaan.  Semakin kita mengenal Tuhan semakin kita memahami panggilan Tuhan, dan semakin menyadari keberadaan kita di hadapanNya.  Tuhan berkata,  “…engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan aku ini mengasihi engkau,…”  (Yesaya 43:4a).  Pengenalan akan Tuhan membuat kita dapat mengerti panggilanNya sehingga kita sadar betapa mulianya bagian yang ditentukan Tuhan bagi kita.  Namun ada banyak orang percaya yang belum menyadari bagian yang mulia yang disediakan Tuhan bagi mereka, karena tidak mengerti panggilan Tuhan di dalam hidupnya.  Panggilan berbeda dari karunia, karena panggilan berbicara tentang suatu tempat atau posisi di mana kita berada yang dikehendaki oleh Tuhan.  Alkitab menyatakan,  “Dahulu memang kamu hamba dosa,… Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”  (Roma 6:17b-18).  Tuhan memanggil kita sebagai hambaNya, bukan hamba dosa, melainkan menjadi hamba kebenaran.  Salah satu ciri hamba adalah tidak punya hak berbicara, hanya tunduk dan wajib menaati segala perintah tuannya.

Sebagai umat yang telah dimerdekakan dari dosa, kita wajib hidup dalam kebenaran, tidak lagi hidup menurut keinginan daging.  Dikatakan,  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  Sudahkah kita menjadi hamba-hamba Tuhan yang taat dan mengabdikan hidup sepenuhnya bagi Tuhan?

Paulus berkata,  “Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”  Galatia 1:10c

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, October 14, 2014
Read: Hosea 6: 1-6

For I desired mercy, and not sacrifice, and the knowledge of God more than burnt offerings.” Hosea 6: 6

Having the knowledge of God is very important for people to believe, because without the knowledge of the Lord our faith will not grow. Having the knowledge of God to make us better understand His purposes and our being in Him. Therefore, the apostle Paul prayed for the church at Ephesus: “… ask the God of our Lord Jesus Christ, the Father of glory, may give unto you the Spirit of wisdom and revelation to know Him properly.” (Ephesians 1:17). That is the preferred and missed God.

Knowing God is different from the mere idea of ​​God. In the knowledge of God contained a close relationship, full surrender and trust. The more we know God the more we understand God’s call, and the more aware we are in His presence. God says, “… you are precious in my sight, and honored, and I love you, …” (Isaiah 43: 4a). Knowledge of God enables us to understand His call so that we realize how glorious inheritance of God for us. However, there are many believers who have not realized that the noble Lord has provided for them, because they do not understand the call of God in his life. Different calls of the gift, because the call to talk about a place or position where we are required by God. The Bible states, “Once you were slaves of sin indeed, … You’ve made ​​free from sin, and become servants of righteousness.” (Romans 6: 17b-18). God calls us as His servants, not of sin, but as slaves to righteousness. One characteristic is the servant has no right to speak, only the subject and must obey all commands of his master.

As people who have been set free from sin, we must live in truth, is no longer live according to the flesh. It is said, “He who says he abides in Him ought himself also to walk just as He walked.” (1 John 2: 6). Have we become the servants of the Lord, and devoted to live fully for the Lord?

Paul said, “If I were still trying to be pleasing to men, I should not be the servant of Christ.” Galatians 1: 10c