Get Adobe Flash player
20 October 2014

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 20 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 34

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  Mazmur 34:19

Petrus menasihati dalam 1 Petrus 5:5b-6,  “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab:  ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.’  Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”  (1 Petrus 5:5b-6).

Penting bagi setiap orang percaya memiliki kerendahan hati.  Perhatikan sikap dari seorang Farisi saat ia datang kepada Tuhan.  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini:  “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”  (Lukas 18:11-12).  Orang Farisi tersebut datang kepada Tuhan tanpa kerendahan hati, ia memamerkan kebenaran dan kesucian hidupnya.  Siapakah kita ini di hadapan Tuhan, sehingga kita bersikap tinggi hati?

Jangan pernah membanggakan diri oleh karena kita kaya, terpandang, sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun atau sudah melayani Tuhan.  Semuanya itu tidak boleh menjadi alasan untuk merasa sombong atau bermegah di hadapan Tuhan.  Ayat nas di atas menyatakan bahwa Tuhan begitu dekat dengan orang-orang yang memiliki hati hancur.  Inilah wujud kerendahan hati yang benar:  hati yang hancur disertai dengan linangan air mata, lalu tersungkur di bawah kaki Tuhan Yesus, memohon belas kasih dan kemurahanNya.  Hati yang hancur adalah suatu korban yang menyenangkan hati Tuhan;  tak ada sesuatu yang lebih berharga di mata Tuhan kecuali hati yang hancur.  Orang-orang yang patah, jiwa yang remuk, hati yang benar-benar merindukan Tuhan adalah modal bagi Tuhan untuk menjadikan mereka alat yang berguna bagi kemuliaanNya, karena hati yang hancur  (kerendahan hati)  adalah syarat yang penting untuk menghampiri Tuhan.  Dan doa yang dinaikkan kepada Tuhan dengan hati yang hancur selalu didengar dan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu jangan keraskan hatimu!

Tuhan Yesus sendiri juga banyak mencucurkan air mata dalam doaNya seperti tertulis:  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia,…”  (Ibrani 5:7).

MPORTANCE OF HUMILITY IN PRAYER (2)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 20, 2014
Read: Psalm 34

“The Lord is near to the brokenhearted, and he saves those crushed his soul.” Psalm 34:19

Peter counseled in 1 Peter 5: 5b-6, “And you all, humble yourselves to one another, because, ‘God opposes the proud, but pity to the humble.’ Therefore humble yourselves under the mighty hand of God, that ye may be exalted in due time. “(1 Peter 5: 5b-6).

It is important for every believer to have humility. Consider the attitude of the Pharisee when he came to the Lord. The Pharisee stood and prayed thus: “O God, I thank thee, that I am not like other people: swindlers, unjust, adulterers, or even like this tax collector I fasted two times a week, I give a tenth of everything. “(Luke 18: 11-12). The Pharisees come to God without humility, he exhibited the truth and sanctity of life. Who we are before God, so that we act snobby?

Never boast because we are rich, respected, was a Christian for years or have been serving the Lord. Everything it should not be a reason to feel proud or boast before God. Nas verse above states that God is so close to the people who have a broken heart. This is the form of true humility: a broken heart accompanied with tears, and fell at the feet of the Lord Jesus, begging mercy and grace. A broken heart is a sacrifice pleasing to God; there is nothing more precious in God’s eyes except a broken heart. People are broken, shattered soul, heart really yearns for God is capital for God to make them useful tools for His glory, because a broken heart (humility) is a necessary condition to draw near to God. And the prayer offered to God with a broken heart is always heard and answered by God. Therefore, do not harden your hearts!

The Lord Jesus himself also tears in His prayer as written: “In his life as a man, he had offered up prayers and supplications with strong crying and tears unto him …” (Hebrews 5: 7).

18 October 2014

PENTINGNYA KERENDAHAN HATI DALAM DOA (1 )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 18 Oktober 2014
Baca:  Yakobus 4:1-10

“Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.”  Yakobus 4:3

Pernahkah doa Saudara tidak dijawab oleh Tuhan?  Sebagian besar dari kita pasti akan menjawab,  “Wah, sudah tak terhitung banyaknya doa saya tidak dijawab oleh Tuhan.”  Dan ujung dari semua itu adalah kita menjadi kecewa dan kemudian menyalahkan Tuhan.  Namun jarang sekali kita mau mengevaluasi diri mengapa doa kita sampai tidak dijawab oleh Tuhan, tidak pernah mengintrospeksi diri kita mengapa doa kita itu tidak dijawabNya.

Ternyata sikap seseorang dalam berdoa juga sangat menentukan apakah doanya akan dijawab atau tidak oleh Tuhan.  Bila kita memiliki sikap hati yang benar dalam berdoa, apa saja yang kita minta dari Tuhan dalam nama Yesus Kristus, kita pasti akan menerimanya.  Kita harus ingat bahwa berdoa itu bukan hanya mengucapkan perkataan-perkataan yang teratur di hadapan Tuhan, melainkan suatu pernyataan dari tubuh, jiwa dan roh kita kepada Tuhan.  Hal ini berkenaan dengan hati kita.  Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan memandang hati kita,  “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;  manusia melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”  (1 Samuel 16:7b), sebab suatu doa yang keluar dari dasar hati yang benar, walau diucapkan hanya dengan sederhana atau hanya melalui linangan air mata, akan sampai ke telinga Tuhan dan Dia pasti bertindak.

Ada tertulis:  “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”  (Matius 5:5).  Kata lemah lembut ini berbicara tentang kerendahan hati.  Kerendahan hati dapat diartikan sebagai kemurnian atau kelemahlembutan.  Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata  ‘praios’  yang berarti juga lemah lembut, bisa diartikan seseorang yang memiliki penyerahan atau ketergantungan total kepada Tuhan.  Rasul Paulus juga menulis bahwa kerendahan hati atau kelemahlembutan adalah salah satu dari buah Roh.  Mengapa kita harus memiliki kerendahan hati?  Firman Tuhan menegaskan,  “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.”  (Amsal 18:12).

Kerendahan hati adalah syarat yang mutlak yang Tuhan tetapkan untuk setiap orang yang rindu doa-doanya beroleh jawaban, sebab pintu hati Tuhan terbuka bagi orang-orang yang memiliki kerendahan hati.

IMPORTANCE OF HUMILITY IN PRAYER (1 )

Daily Devotion GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 18, 2014
Read: James 4: 1-10

“When you ask, you do not receive anything, because you’re wrong to pray, for ye shall ask that you may spend it on your passions.” James 4: 3

Have your prayers are not answered by God? Most of us will answer, “Well, it’s been my countless prayers are not answered by God.” And the end of all of it is that we become disappointed and then blame God. But rarely do we want to evaluate yourself why our prayers are not answered by the Lord through, never introspect ourselves why our prayers were not answered.

It turns out that one’s attitude in prayer also determine whether or not his prayer will be answered by God. If we have the right heart attitude of prayer, what we ask of God in the name of Jesus Christ, we will definitely take it. We must remember that prayer is not just saying the words are organized in the presence of God, but rather a statement of the body, soul and spirit to God. It is concerned with our hearts. We must realize that we are indeed God looks at the heart, “not people see who views God for man looks at the outward appearance, but God looks at the heart.” (1 Samuel 16: 7b), because a prayer that came from the heart is right, even if only with simple spoken or only through tears, will get to the ears of the Lord and He must act.

It is written: “Blessed are the meek, for they will inherit the earth.” (Matthew 5: 5). Said this gentle talk about humility. Humility can be defined as purity or gentleness. In the Greek language written with the word humility ‘praios’ which means too gentle, it could mean someone who has a submission or total dependence on God. The Apostle Paul also wrote that humility or meekness is one of the fruits of the Spirit. Why do we have to have the humility? The Word of God affirms, “High liver before destruction, but humility precedes honor.” (Proverbs 18:12).

Humility is the absolute requirement that the Lord assigned to each person who missed his prayers might receive an answer, because the door of God’s heart is open to people who have humility.

16 October 2014

TERLALU SIBUK: Tidak Ada Waktu Untuk Berdoa!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 16 Oktober 2014
Baca:  Matius 9:35-38

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa;  Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.”  Matius 9:35

Saat berada di bumi Tuhan Yesus tidak pernah berhenti untuk bekerja.  Dia berkata,  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Alkitab pun menyatakan bahwa Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani semua orang  (baca  Matius 20:28).  Ayat nas di atas menunjukkan betapa sibuknya Yesus melayani jiwa-jiwa;  Ia berjalan berkeliling ke semua kota dan desa sambil mengajar, memberitakan Injil serta menyembuhkan segala penyakit.  Demikian sibuknya sampai-sampai Yesus tidak mempunyai tempat untuk sekedar meletakkan kepalaNya  (baca  Matius 8:20).  Walaupun demikian Yesus tidak pernah mengabaikan jam-jam doa;  Ia selalu mempunyai waktu untuk berdoa.  Di waktu pagi sebelum fajar merekah Yesus bangun dan mengasingkan diriNya untuk berdoa  (baca  Markus 1:35), bahkan pada waktu malam Ia juga mencari tempat yang sunyi senyap untuk berdoa sepanjang malam  (Baca  Lukas 6:12).

Ada peribahasa yang mengatakan,  ‘Time is money’.  Banyak orang yang sangat memperhitungkan waktunya secara mendetil.  Waktu yang ada sebisa mungkin dipergunakan sebaik-baiknya.  Bagi mereka, membuang waktu sama artinya kehilangan keuntungan;  semua diukur dengan uang.  Dari sekian waktu yang digunakan untuk bekerja  (mencari uang), adakah yang mereka gunakan untuk berdoa dan mencari hadirat Tuhan?  Tak terkecuali orang Kristen dan mungkin para hamba Tuhan terlalu disibukkan dengan banyak pekerjaan dan juga jadwal pelayanan, sehingga malah tidak punya waktu untuk berdoa.  Kita bisa menyediakan waktu berjalan-jalan dengan keluarga, menyalurkan hobi memasak dan berkebun, berolahraga, nonton konser musik dan lain-lain, tetapi kita sulit menyediakan waktu untuk berdoa 1 jam sama.  Untuk perkara-perkara rohani kita tidak bisa mengatur dan membagi waktu!  Tapi untuk perkara-perkara duniawi  (daging), apa pun itu pasti kita sempat-sempatkan.  Sibuk!  Sibuk!  Itu yang kita katakan.  Kita tidak ada waktu untuk berdoa.  Iblis akan bersorak-sorai bila kita melalaikan doa.  Semakin kita meninggalkan doa semakin mudah Iblis menghancurkan hidup kita.

Jangan hanya berdoa saat dalam masalah saja, tapi berdoalah setiap waktu!

TOO BUSY: No Time to Pray!
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 16, 2014
Read: Matthew 9: 35-38

“Then Jesus went about all the cities and villages, teaching in their synagogues and preaching the gospel of the kingdom, and healing every disease and sickness.” Matthew 9:35

When on earth Jesus never ceased to work. He said, “My Father worketh hitherto, and I work too.” (John 5:17). The Bible also says that Jesus came into the world not to be served, but to serve all the people (see Matthew 20:28). Nas verse above shows how busy serving Jesus souls; He walked around to all the towns and villages, teaching, preaching the gospel and heal all diseases. So busy to the point that Jesus did not have a place to just lay His head (see Matthew 8:20). Yet Jesus never ignore the hours of prayer; He always had time to pray. In the morning before dawn Jesus got up and alienating himself to pray (see Mark 1:35), even at night time he was also looking for a silence to pray during the night (Read Luke 6:12).

There is a proverb that says, ‘Time is money’. A lot of people who really take into account the time in detail. Time there as much as possible be used as well as possible. For them, throw the same time means lost profits; all measured with money. Of the time spent working (making money), is there anything that they use to pray and seek God’s presence? No exception Christians and pastors probably too busy with too much work and schedule of service, so that did not even have time to pray. We can provide a walk with the family, cooking and gardening hobby, exercise, go to a concert, etc., but it is hard to make time to pray one hour each. For spiritual matters we can not manage and share time! But for worldly matters (meat), whatever it is we must have had-a time. Busy! Busy! That’s what we say. We do not have time to pray. Satan will shout for joy when we neglect prayer. The more we leave the prayer of the devil to destroy our lives easier.

Do not just pray when in trouble, but pray every time!

15 October 2014

DOA PRIBADI: Sebagai Kebutuhan Utama

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 15 Oktober 2014
Baca:  Markus 1:35-39

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar.  Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”  Markus 1:35

Sebagai orang percaya, terlebih lagi kita yang sudah terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, pasti dengan sendirinya juga memiliki doa pribadi di rumah setiap hari.  Bukankah demikian?  Kenyataannya masih banyak dari kita yang kurang menyadari betapa pentingnya doa itu.  Selama kita belum menjadikan doa sebagai kebutuhan utama kita seperti makan, minum, tidur atau bekerja, kita belum memiliki kehidupan doa.  Rahasia kehidupan seorang Kristen yang berhasil dan diberkati adalah memiliki doa pribadi setiap hari.  Doa pribadi bukan hanya berlaku bagi para hamba Tuhan atau pengerja gereja namun untuk semua orang Kristen tanpa terkecuali.  Doa pribadi bukanlah suatu kewajiban agama, tetapi harus menjadi bagian hidup kita yang terus-menerus mengalir seperti sungai.  Tidak ada orang yang terlalu pintar, terlalu payah, terlalu susah atau terlalu repot yang tidak dapat melakukan doa secara pribadi.

Tuhan Yesus mengajar agar kita melakukan doa pribadi dengan cara demikian:  “…masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.  Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”  (Matius 6:6), dan bertekun di dalam doa sampai kita menerima apa yang kita butuhkan.  Tertulis:  “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?  Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”  (Lukas 18:7).  Keberhasilan Rasul Paulus menjungkirbalikkan dunia dengan Injil bukanlah karena kepintarannya, tapi karena kekuatan doanya.  Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati,  “Tetaplah berdoa.”  (1 Tesalonika 5:17).

Sudahkah kita memiliki kehidupan doa secara pribadi setiap hari dan melakukannya dengan penuh ketekunan?  Masihkah kita ogah-ogahan berdoa dan merasa tidak yakin dengan doa kita sendiri, sehingga selalu berharap kepada pendeta atau hamba Tuhan besar yang berdoa bagi kita?  Ataukah kita mengucapkan doa dengan sungguh hanya saat berada di gereja, sedangkan saat di rumah kita lebih banyak berada di depan televisi atau tidur mendengkur?  Kemalasan kita dalam berdoa adalah akar dari segala kelemahan dan kegagalan kita.

Jika kita ingin menerima yang baik dari Tuhan dan rindu dipakaiNya secara luar biasa, kita harus meningkatkan intensitas doa kita!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 15, 2014
Read: Mark 1: 35-39

“Early in the morning, while it was still dark, Jesus got up and went outside. He went into a solitary place, and there prayed.” Mark 1:35

As believers, moreover, we are already engaged in the service of God’s work, certainly by itself also has a personal prayer at home every day. Is not it so? In fact there are many of us who are less aware of the importance of prayer. As long as we have not made ​​our prayer as the primary needs such as eating, drinking, sleeping or working, we do not have a prayer life. Secret life of a Christian is a successful and blessed to have a private prayer every day. Private prayer is not only true for pastors or church workers but to all Christians without exception. Private prayer is not a religious obligation, but should be part of our lives that are constantly flowing like a river. No one is too smart, too terrible, too difficult or too much trouble that can not be done in private prayer.

The Lord Jesus taught us to do personal prayer this way: “… go into your room, close the door and pray to your Father who is in secret. Then your Father will see the hidden reward you.” (Matthew 6: 6), and continue in prayer until we receive what we need. Written: “Did God would justify his choice during the night crying out to Him? And is he stalling before helping them?” (Luke 18: 7). The success of Paul overturning the world with the gospel is not because of his intelligence, but because of the power of prayer. That is why the Apostle Paul admonished, “Pray without ceasing.” (1 Thessalonians 5:17).

Do we have a personal prayer life every day and do it with diligence? Shall we pray reluctant and unsure of our own prayer, so always look forward to the pastor or the great servant of God pray for us? Or do we say a prayer with really only when you are in church, while at home we are more in front of the television or sleep snoring? Our laziness in prayer is the root of all of our weaknesses and failures.

If we want to accept good from God and longs to wear a remarkable, we have to increase the intensity of our prayers!

14 October 2014

PENGENALAN AKAN TUHAN: Menyadari Panggilan Kita!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 14 Oktober 2014
Baca:  Hosea 6:1-6

“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  Hosea 6:6

Memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan adalah sangat penting bagi orang percaya, karena tanpa pengenalan yang benar akan Tuhan iman kita tidak akan bertumbuh.  Memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan membuat kita semakin memahami rencana-rencanaNya dan juga keberadaan kita di dalam Dia.  Oleh karena itu rasul Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus:  “…meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”  (Efesus 1:17).  Itulah yang disukai dan dirindukan Tuhan.

Mengenal Tuhan berbeda dengan sekedar tahu akan Tuhan.  Dalam pengenalan akan Tuhan terkandung suatu hubungan yang erat, penyerahan diri penuh dan juga kepercayaan.  Semakin kita mengenal Tuhan semakin kita memahami panggilan Tuhan, dan semakin menyadari keberadaan kita di hadapanNya.  Tuhan berkata,  “…engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan aku ini mengasihi engkau,…”  (Yesaya 43:4a).  Pengenalan akan Tuhan membuat kita dapat mengerti panggilanNya sehingga kita sadar betapa mulianya bagian yang ditentukan Tuhan bagi kita.  Namun ada banyak orang percaya yang belum menyadari bagian yang mulia yang disediakan Tuhan bagi mereka, karena tidak mengerti panggilan Tuhan di dalam hidupnya.  Panggilan berbeda dari karunia, karena panggilan berbicara tentang suatu tempat atau posisi di mana kita berada yang dikehendaki oleh Tuhan.  Alkitab menyatakan,  “Dahulu memang kamu hamba dosa,… Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.”  (Roma 6:17b-18).  Tuhan memanggil kita sebagai hambaNya, bukan hamba dosa, melainkan menjadi hamba kebenaran.  Salah satu ciri hamba adalah tidak punya hak berbicara, hanya tunduk dan wajib menaati segala perintah tuannya.

Sebagai umat yang telah dimerdekakan dari dosa, kita wajib hidup dalam kebenaran, tidak lagi hidup menurut keinginan daging.  Dikatakan,  “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”  (1 Yohanes 2:6).  Sudahkah kita menjadi hamba-hamba Tuhan yang taat dan mengabdikan hidup sepenuhnya bagi Tuhan?

Paulus berkata,  “Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”  Galatia 1:10c

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, October 14, 2014
Read: Hosea 6: 1-6

For I desired mercy, and not sacrifice, and the knowledge of God more than burnt offerings.” Hosea 6: 6

Having the knowledge of God is very important for people to believe, because without the knowledge of the Lord our faith will not grow. Having the knowledge of God to make us better understand His purposes and our being in Him. Therefore, the apostle Paul prayed for the church at Ephesus: “… ask the God of our Lord Jesus Christ, the Father of glory, may give unto you the Spirit of wisdom and revelation to know Him properly.” (Ephesians 1:17). That is the preferred and missed God.

Knowing God is different from the mere idea of ​​God. In the knowledge of God contained a close relationship, full surrender and trust. The more we know God the more we understand God’s call, and the more aware we are in His presence. God says, “… you are precious in my sight, and honored, and I love you, …” (Isaiah 43: 4a). Knowledge of God enables us to understand His call so that we realize how glorious inheritance of God for us. However, there are many believers who have not realized that the noble Lord has provided for them, because they do not understand the call of God in his life. Different calls of the gift, because the call to talk about a place or position where we are required by God. The Bible states, “Once you were slaves of sin indeed, … You’ve made ​​free from sin, and become servants of righteousness.” (Romans 6: 17b-18). God calls us as His servants, not of sin, but as slaves to righteousness. One characteristic is the servant has no right to speak, only the subject and must obey all commands of his master.

As people who have been set free from sin, we must live in truth, is no longer live according to the flesh. It is said, “He who says he abides in Him ought himself also to walk just as He walked.” (1 John 2: 6). Have we become the servants of the Lord, and devoted to live fully for the Lord?

Paul said, “If I were still trying to be pleasing to men, I should not be the servant of Christ.” Galatians 1: 10c

 

13 October 2014

SARA: Tuhan Tak Pernah Mengecewakan!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 13 Oktober 2014
Baca:  Kejadian 12:10-20

dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.”  Kejadian 12:15

Sejak dari semula Tuhan memiliki rencana yang indah atas kehidupan Sara.  Dia merancang kehidupan Sara begitu istimewa:  dianugerahi kecantikan yang luar biasa dan menjadi isteri Abraham, seorang yang dipilih Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa;  bahkan kecantikan Sara tidak luntur di usianya yang sudah lanjut sehingga Abraham pun merasa was-was saat memutuskan untuk pergi ke Mesir.  Tertulis,  “Memang aku tahu, bahwa engkau adalah perempuan yang cantik parasnya.  Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata:  Itu isterinya.  Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup.”  (ayat 11-12).

Sedemikian cantiknya, sampai-sampai Firaun berniat untuk meminang Sara;  dan Abraham mengkompromikan hal ini.  Sesungguhnya hati Sara begitu pilu ketika Abraham, suami yang sangat ia sayangi dan percayai dalam hidupnya, tega  ‘menjualnya’  pada Firaun.  Dari  ‘transaksi’  ini Abraham  “…mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.”  (ayat 16).  Hal ini menunjukkan betapa Abraham lebih mementingkan dirinya sendiri daripada menjaga perasaan isterinya.

Bagaimana pun juga Abraham adalah manusia biasa, yang bisa saja membuat kesalahan dan juga mengecewakan.  Namun ada satu Pribadi yang tidak pernah mengecewakan yaitu Tuhan.  Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan,  “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?”  (Yesaya 2:22).  Tidak ada janji yang tidak ditepatiNya!  Alkitab menyatakan,  “Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.”  (Kejadian 12:17).  Tuhan memberi tulah tersebut bukan sekedar untuk menghukum Firaun.  Bisa dikatakan bahwa Firaun merupakan korban ketidakjujuran Abraham.  Tuhan memberi tulah tersebut juga bukan sekedar untuk mengembalikan Sara pada Abraham, sebab Dia tidak membenarkan perbuatan suami yang  ‘menjual’  isterinya.  Tuhan memberi tulah tersebut untuk menunjukkan tidak ada rencanaNya yang gagal.

Tuhan yang menjanjikan keturunan kepada Sara adalah Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, sekali pun orang yang paling kita kasihi mengecewakan.  (NK)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 13, 2014
Read: Genesis 12: 10-20

“and when the retainer-Pharaoh saw her, they praised her in the presence of Pharaoh, so that the woman was taken to the palace.” Genesis 12:15

Since the beginning God has a wonderful plan over the life of Sarah. He designed life so special Sara: awarded the incredible beauty and became the wife of Abraham, a man chosen by God to be a blessing to the nations; Sara beauty does not fade even at his advanced age that Abraham had misgivings when deciding to go to Egypt. Written, “Indeed, I know that you are a beautiful woman;. When the Egyptians see you, they will say: That his wife. So they will kill me and let you live.” (verses 11-12).

So beautiful, as to Pharaoh intends to woo Sara; and Abraham compromise this. Truly breathtaking Sara so melancholy when Abraham, husband who she loved and believed in life, bear ‘sell’ on Pharaoh. Of ‘transaction’ is Abraham “… had sheep, oxen, male donkeys, male slaves and female, female donkeys, and camels.” (verse 16). This shows how Abraham is more concerned with himself than keep the feeling of his wife.

After all Abraham was an ordinary person, who could have made a mistake and also disappointing. But there is one Person who never disappoint the Lord. That is why the word of the Lord warned, “Do not expect the man, because he is nothing more than a puff of breath, and as if he could be considered?” (Isaiah 2:22). There is no promise that no ditepatiNya! The Bible states, “But the Lord afflicted Pharaoh great, as well as to the household because of Sarai, Abram’s wife.” (Genesis 12:17). God gave these plagues not just to punish the Pharaoh. It could be said that the Pharaoh was a victim of dishonesty Abraham. God gave the plague is not just to restore Sarah to Abraham, because He does not justify the act husband who ‘sell’ his wife. God gave the plagues to show there is no plan that failed.

God promised to the descendants of Sara is God who never disappoints, even people who we love the most disappointing. (NK)

11 October 2014

Hal Yang Tidak Menyenangkan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 11 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 54

“Sesungguhnya, Allah adalah penolongku;  Tuhanlah yang menopang aku.”  Mazmur 54:6

Saudara pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan?  Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan.  Pertengkaran dalam rumah tangga, diputus oleh pacar, tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah, ditolak saat melamar pekerjaan, diusir dari kontrakan karena tidak bisa bayar ketika jatuh tempo, terbaring sakit dan sebagainya adalah contoh hal-hal yang tidak menyenangkan.  Suatu saat Tuhan ijinkan kita melewati masa-masa sukar dalam hidup ini.  Perkara yang tidak enak itu bisa saja datang dari keluarga, teman, rekan pelayanan, pekerjaan dan lain-lain.  Bagaimana reaksi kita menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut?  Biasanya kita langsung naik pitam  (marah), stress, kecewa, sedih, putus asa, menyalahkan Tuhan dan lalu meninggalkan Dia.

Daud pun tak luput dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan.  Daud harus tinggal di padang gurun atau di tempat-tempat perlindungan karena dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya.  Tertulis:  “Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif.  Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.”  (1 Samuel 23:14b).  Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Daud pada waktu itu:  takut, cemas, kuatir, was-was berkecamuk jadi satu.  Namun, Yonatan sahabatnya menguatkan Daud  (baca  1 Samuel 23:17).  Inilah yang mendasari Daud menuangkan gejolak hatinya dalam Mazmur 54 ini.  Seru Daud,  “Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu!  Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!”  (Mazmur 54:3-4).

Ketika mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan marilah kita belajar untuk menguatkan hati kepada Tuhan.  Berhentilah untuk mengeluh dan menyalahkan Tuhan.  Stop memperkatakan hal yang negatif karena ini adalah siasat yang digunakan Iblis untuk menghancurkan dan melemahkan iman kita.  Hal-hal yang tidak menyenangkan bisa terjadi oleh karena kesalahan kita atau karena Tuhan hendak melatih dan mendewasakan iman kita.

Daud sadar masalah yang ia alami adalah bagian rencana Tuhan;  Dia sedang memproses dan mempersiapkan dirinya menjadi seorang pemimpin!

HINGS THAT DO NOT FUN

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 11, 2014
Read: Psalm 54

“Behold, God is my helper; God who sustains me.” Psalm 54: 6

Have you ever experienced the things that are not fun? Everyone without exception must have felt the things that are not fun. Quarrels in the household, decided by the boyfriend, not the next grade or graduate school, was rejected when applying for a job, evicted from rented because they can not pay when due, bedridden and so on are examples of things that are not fun. One time Lord let us get through the hard times in life. Case is not feeling it could have come from family, friends, fellow service, employment and others. What was the reaction we face things that are unpleasant? Usually we immediately get mad (angry), stress, disappointment, sadness, despair, blame God and then leave him.

David did not escape from situations that are not fun. David had to live in the wilderness or in shelters because of being chased by Saul who wanted to kill him. Written: “He lived in the mountains, in the wilderness of Ziph. And during the time that Saul sought him, but God did not deliver him into his hand.” (1 Samuel 23: 14b). You can imagine how the feeling of David at the time: fear, anxiety, worry, anxiety raged so one. However, strengthening his friend Jonathan David (see 1 Samuel 23:17). This is the underlying volatility of David pours his heart in Psalm 54′s. David exclaimed, “O Allah, save me for thy name, give justice to me because of the might of thy God, hear my prayer, give ear to the words of my mouth!” (Psalm 54: 3-4).

When experiencing things that are not fun, let us learn to be strong in the Lord. Stop to complain and blame God. Stop speak the negative thing because this is a tactic that is used Satan to destroy and weaken our faith. Things that are not fun could occur because of errors or because God wanted us to train and mature our faith.

David was aware of the problems he was experiencing was part of God’s plan; He is processing and preparing himself to be a leader!

10 October 2014

Buktikan, Kalau Saudara Mengasihi Tuhan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 10 Oktober 2014
Baca:  Yohanes 14:15-24

“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”  Yohanes 14:23

Sebagai orang percaya kita pasti akan tersinggung dan marah jika ada yang mengatakan,  “Kamu tidak mengasihi Tuhan!”  Dengan berbagai alasan kita akan menegaskan bahwa kita ini sangat mengasihi Tuhan, plus menyertakan  ‘bukti-bukti’  untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar mengasihi Tuhan:  “Aku sudah melayani Tuhan sebagai guru sekolah Minggu, Worship Leader, singer, tim penginjilan, tim musik di gereja, aktif di persekutuan-persekutuan doa, donatur gereja.”  dan sebagainya.  Bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Tuhan?

Tidak sedikit orang Kristen terlibat dalam pelayanan bukan karena ia mengasihi Tuhan, tapi karena ada motivasi lain di balik itu:  ingin mencari nama  (popularitas)  diri sendiri, uang, rutinitas atau juga karena terpaksa.  Ada tertulis:  “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”  (Matius 15:8).  Mengasihi Tuhan tidaklah cukup hanya sekedar diucapkan atau sebatas melalui kegiatan kerohanian yang kita lakukan.  Kita harus membuktikan kasih kita kepada Tuhan melalui perbuatan dan tindakan nyata.  FirmanNya menegaskan,  “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”  (Yohanes 14:15).

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan:  1.  Ia bersukacita melakukan firman Tuhan.  Kita menaati firman Tuhan bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati, tapi penuh sukacita.  2.  Ia memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan.  Jika kita mengasihi seseorang, kita akan menyediakan waktu terbaik untuk dia walau hanya sekedar untuk ngobrol atau jalan-jalan.  Tertulis:  “…Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”  3.  Ia tetap kuat di tengah pencobaan.  Seberat apa pun masalah yang dialami, sikap hatinya tetap positif karena dia tahu persis bahwa  “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,…”  (Roma 8:28).  4.  Ia memiliki kehidupan dalam kasih.  Dikatakan,  “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”  (1 Yohanes 4:21).

Kasih yang berkenan kepada Tuhan bukan sekedar diucapkan di mulut saja, tetapi dibuktikan melalui sikap hidup kita yaitu ketaatan.

PROVE, IF YOU LOVE GOD! 

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, October 10, 2014
Read: John 14: 15-24

“If a man love me, he will keep my word, and my Father will love him, and We will come to him and dwell with him.” John 14:23

As believers we must be offended and angry if someone says, “You do not love God!” With a variety of reasons we will affirm that we are a very loving God, plus include the ‘evidence’ to show that we truly love the Lord: “I have served the Lord as a Sunday school teacher, Worship Leader, singer, evangelism team, music team in the church, active in prayer fellowships, church donors. “and so on. Is not this is more than enough to prove that we love God?

Not a few Christians involved in ministry not because he loved the Lord, but because there are other motivations behind it: want to find name (popularity) self, money, as well as routine or forced. It is written: ‘This people honors me with their lips, but their heart is far from Me. “(Matthew 15: 8). Loving God is not enough to simply spoken or merely through spiritual activities that we do. We have to prove our love to God through deeds and action. Word insists, “If you love Me, you will obey my commandments.” (John 14:15).

There are some things that indicate that a person loves God: 1 He delight in doing God’s word. We obey the word of God is not of necessity or with sad hearts, but full of joy. 2 He has a close relationship with God. If we love someone, we will provide the best time for him even just for a chat or a walk. Written: “… We will come to him and dwell with him.” 3 He remains strong in the midst of trials. Weighing any problems experienced, his attitude remained positive because he knows exactly that “… God works in all things for good to them that love God …” (Romans 8:28). 4 It has a life of love. It says, “Whoever loves God must also love his brother.” (1 John 4:21).

Love is pleasing to God is not just spoken in the mouth alone, but evidenced by the attitude of our life is obedience.

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 9 Oktober 2014
Baca:  Matius 5:13-16

“Kamu adalah terang dunia.  Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”  Matius 5:14

Di zaman Tuhan Yesus orang-orang memakai pelita sebagai alat penerangan.  Ada unsur-unsur dalam sebuah pelita yang membuatnya bisa menyala:  harus ada bejana, entah terbuat dari emas, perak atau pun besi, minyak, sumbu dan juga sumber api.  Masing-masing unsur itu melengkapi satu sama lain sehingga menghasilkan cahaya atau terang.  Jika hanya ada sumbu saja tanpa ada bejana atau minyak maka pelita itu tidak akan bisa menyala, bahkan tidak bisa disebut pelita.

2.  Terang Dunia.  Itulah keberadaan orang percaya, harus bisa menjadi terang bagi dunia.  Dikatakan,  “…orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.”  (Matius 5:15).  Artinya terang dari Tuhan itu tidak boleh ditutupi, disembunyikan, terlebih lagi dipadamkan.  Terang dari Tuhan harus dinyatakan kepada seluruh orang, harus diangkat ke tempat yang lebih tinggi sehingga memberi terang kepada dunia sekitar laksana kota yang letaknya di atas bukit, di mana keberadaannya jelas terlihat dan tidak mungkin disembunyikan.  Itulah keberadaan kita sebagai orang percaya yang adalah terang di tengah kegelapan dunia ini.  Orang lain akan melihat kita dengan jelas.  Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa pelita itu tidak boleh ditaruh di bawah gantang, yang artinya dimatikan, sehingga sama sekali tidak memiliki fungsi sebagai pelita lagi.  Atau ditaruh di bawah tempat tidur, artinya disembunyikan, sehingga pelita itu pun tidak akan bisa menerangi seluruh rumah.

Hidup kita tidak boleh menjadi hidup yang ditutupi oleh gantang, melainkan harus transparan, sehingga bisa terlihat oleh orang lain.  Alkitab menyatakan,  “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.  Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,”  (Efesus 5:8-9).  Menjadi terang berarti hidup kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Kesaksian hidup kita berbicara lebih tajam dari perkataan kita.  Kesaksian hidup kita lebih penting daripada kotbah yang kita sampaikan.  Bila di dalam kita ada Kristus, tanpa harus digembar-gemborkan, orang lain akan tahu dari perbuatan kita.

Sudahkah kita menjadi pelita yang menyala dan menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita?

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 9, 2014
Read: Matthew 5: 13-16

“You are the light of the world. Town is situated on a mountain can not be hidden.” Matthew 5:14

In Jesus’ day people wear a lamp as lighting equipment. There are elements in a lamp that can be lit making: there must be a vessel, whether made ​​of gold, silver or iron, oil, wick and fire sources. Each of these elements complement each other resulting in a light or bright. If only there axis without any vessel or oil lamp then it will not be lit, not even be called a lamp.

2 Light of the World. That is where people believe, should be a light unto the world. It says, “… people do not light a lamp and put it under a bushel, but on a lampstand so that enlightens everyone in the house.” (Matthew 5:15). This means that the light of God that should not be covered, hidden, especially extinguished. The light of God should be revealed to all people, should be elevated to a higher place that gives light to the world around like a city that is located on top of a hill, where its presence is clearly visible and may not be hidden. That is where we as a people believe that is the light in the darkness of this world. Other people will see us clearly. The Lord Jesus himself said that the lamp should not be put under a bushel, which means it is turned off, so that did not have a function as a lamp again. Or placed under the bed, meaning hidden, so that it would not be a lamp to illuminate the entire house.

Our lives should not be covered live by the bushel, but must be transparent, so that it can be seen by others. The Bible states, “Indeed formerly you were darkness, but now you are light in the Lord. Walk as children of light, for the fruit of goodness and justice and truth,” (Ephesians 5: 8-9). Being light means that our lives are a witness to others. The testimony of our lives speak more sharply than our words. The testimony of our lives is more important than preaching that we deliver. When we are in Christ, without having heralded, others will know of our actions.

Have we become a lamp that lights up and be a living testimony to those around us?

8 October 2014

Orang Kristen Garam Dunia ( The Christian Salt of The World )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 8 Oktober 2014
Baca:  Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia.  Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  Matius 5:13

Saat mengajar orang banyak terkadang Yesus menggunkan perumpamaan sederhana dengan menggunakan hal-hal yang mudah dipahami oleh orang-orang Yahudi, yaitu sesuatu yang biasa mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari agar mereka dapat menangkap makna kebenaran firman yang disampaikanNya itu lebih jelas lagi.

Pada suatu kesempatan Yesus menyampaikan dua hal penting yang harus dipahami oleh setiap orang percaya tentang keberadaannya sebagai garam dunia dan terang dunia.  1.  Garam Dunia.  Pulau Madura di Jawa Timur mendapat julukan sebagai pulau garam.  Mengapa?  Karena di pulau ini dihasilkan banyak garam.  Siapa yang tidak tahu garam?  Dapat dipastikan semua orang, besar kecil, tua muda, kaya miskin, di mana pun mereka tinggal, pernah menggunakan dan mengenal rasa garam, sebab garam selalu tersedia di dapur rumah setiap orang.  Mungkin di rumah kita tidak ada mobil, tidak ada AC, tidak ada kulkas, tetapi minimal pasti ada garam.  Benda ini kelihatannya sangat sepele, berharga murah, tetapi sangat dibutuhkan oleh semua orang.

Apa maksud Tuhan Yesus menyatakan bahwa setiap orang percaya adalah garam dunia?  Pertanyaan Yesus ini adalah sebagai penegasan, bukan himbauan atau perintah, melainkan suatu penegasan bahwa keberadaan orang percaya itu bernilai dan mempunyai fungsi penting bagi lingkungan mereka.  Namun,  “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  Kita tahu bahwa garam itu baru ada gunanya kalau ada rasa asinnya sehingga makanan yang hambar menjadi berasa, bisa pula membunuh kuman dan mencegah pembusukan.  Namun untuk menjadi garam dunia ada harga yang harus dibayar, diperlukan pengorbanan sebagaimana garam pun mengorbankan dirinya.  Garam harus meleleh, melebur dan tidak terlihat lagi wujudnya, yang tinggal hanya rasanya.  Sanggupkah kita?  Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang belum bisa menjalankan fungsinya sebagai garam dunia karena memiliki hidup yang tak jauh berbeda dari orang-orang di luar Tuhan.

Jika kita tidak bisa menjadi garam dunia atau berkat bagi orang lain, berarti kita telah gagal menjalankan hidup kekristenan kita.

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 8, 2014
Read: Matthew 5: 13-16

“You are the salt of the earth. If the salt loses its saltiness, how can it be restored? There is no longer any point other than the discarded and trampled on.” Matthew 5:13

When Jesus taught the people sometimes use the simple parable using stuff that is easily understood by the Jews, which is something unusual they encounter in everyday life so that they can grasp the meaning of the word which conveys the truth more clearly.

On one occasion Jesus convey two important things that should be understood by every believer about its existence as a salt of the earth and light of the world. 1 Salt of the Earth. Madura Island in East Java got the nickname as the island of salt. Why? Because on this island generated a lot of salt. Who does not know the salt? Certainly all people, great and small, young and old, rich and poor, wherever they live, never used and know the taste of salt, because salt is always available in the kitchen of the house each person. Perhaps in our house no car, no air conditioning, no refrigerator, but there must be a minimum of salt. This thing seems very trivial, lower-priced, but is needed by everyone.

What is the purpose of the Lord Jesus declares that all believers are the salt of the world? This is Jesus’ question as an assertion, not an appeal or a command, but rather an affirmation that where people believe it is worth and have important functions for their environment. However, “if the salt loses its saltiness, how can it be restored? There is no longer any point other than the discarded and trampled on.” We know that the new salt is useless if no salty taste so bland food becomes tasteless, can also kill germs and prevent decay. However, to be salt of the earth there is a price to pay, required sacrifices as salt has sacrificed himself. Salt should melt, melt and not seen again his form, who lived just taste. Can we? Until now there are many Christians who have not been able to function as a salt of the earth because it has a life that is not much different from those outside God.

If we can not be the salt of the earth or a blessing to others, means that we have failed to live our Christian life.