Get Adobe Flash player
20 September 2014

Daud, Hidup Yang Diurapi ( David; Live Anointed )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 20 September 2014
Baca:  1 Samuel 16:14-23

Berkatalah Saul kepada hamba-hambanya itu:  ‘Carilah bagiku seorang yang dapat main kecapi dengan baik, dan bawalah dia kepadaku.’”  1 Samuel 16:17

Dari semula Tuhan telah disembah dengan musik dan puji-pujian.  Musik adalah kekuatan yang penuh kuasa yang diciptakan Tuhan untuk menggugah hati seseorang secara khusus.  Tertulis:  “Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni Tuhan!”  (Mazmur 98:5-6).

Jadi alat musik adalah bagian penting dalam pujian dan penyembahan.  Coba bayangkan jika di zaman sekarang ini suatu ibadah tidak diiringi oleh alat musik, pasti terasa kurang semarak atau khidmat.  Begitu juga di zaman Daud, salah satu alat musik yang sangat terkenal pada waktu itu adalah kecapi.  Dan Alkitab mencatat bahwa Daud sangat mahir memainkan alat musik ini:  “…salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi.  Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya;  dan Tuhan menyertai dia.”  (1 Samuel 16:18).  Pada waktu itu pasti ada orang lain juga yang bisa memainkan kecapi, tapi mengapa hanya ketika Daud yang memainkan kecapi itu maka roh jahat lari dari raja Saul?  Apakah karena kecapinya sangat istimewa dan belinya di luar negeri?  Tidak.  Bukan karena kualitas kecapinya yang membuat roh jahat itu pergi.  Tetapi semua tergantung pada siapa yang memainkan alat tersebut.  Selain karena memang mahir memainkannya, Daud diurapi Tuhan.  Karena itulah kuasa Tuhan menyertai dia.  Itulah kuncinya!  “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya;  Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur daripadanya.”  (1 Samuel 16:23).

Roh jahat tidak takut dengan apa pun yang besifat lahiriah, tapi roh jahat takut dan mati kutu bila berhadapan dengan kuasa Tuhan.  Dan kuasa Tuhan yang bekerja di dalam diri Daud membuat apa saja yang dikerjakan Daud menjadi berhasil dan membawa dampak yang luar biasa bagi orang lain.  Untuk mengalami lawatan kuasa Tuhan tidak semudah membalik telapak tangan, itu adalah buah dari ketekunan dan kedekatan Daud dari Tuhan.

Ketika seseorang karib dengan Tuhan, urapan dan kuasaNya diimpartasikan pada orang tersebut sehingga hidupnya berbeda dan berdampak!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, September 20, 2014
Read: 1 Samuel 16: 14-23

“And he said Saul to his servants was: ‘Seek me a harp that can play well, and bring him to me.’” 1 Samuel 16:17

From the beginning God has been worshiped with music and praise. Music is a powerful force that is created by God to arouse one’s heart in particular. Written: “Sing to the Lord with the harp, with the harp and loud song, with trumpets and loud trumpet Shout out in the presence of the King, the Lord!” (Psalm 98: 5-6).

So the instrument is an important part in the praise and worship. Just imagine if in this day and age is not a worship accompanied by musical instruments, definitely feels less lively or solemn. So also in the time of David, one of the very famous musical instrument at the time it was a harp. And the Bible records that David is very good at playing a musical instrument is: “… one of the sons of Jesse of Bethlehem who knows how to play the lyre. He was a mighty hero, a warrior, a smooth-talking, handsome; and the Lord was with him. “(1 Samuel 16:18). At that time there must be other people who can play the harp, but why only when David played the harp, the evil spirit fled from King Saul? Is it because the harp is very special and bought overseas? Not. Not because the quality of the harp that makes the evil spirit away. But it all depends on who plays the instrument. Besides being good at playing it, David, God’s anointed. That’s why the power of the Lord was with him. That’s the key! “And every time when the spirit of God that rested on Saul, David took the lyre and played it; Saul felt relieved and comfortable, and the evil spirit departed from it.” (1 Samuel 16:23).

Not afraid of evil spirits besifat anything outwardly, but the evil spirits are afraid and helpless when faced with the power of God. And the power of God that works in David makes what is done David was successful and brought tremendous impact to others. To experience the power of God’s visitation is not as easy as turning the palm of the hand, it is the fruit of perseverance and David closeness of God.

When someone intimate with the Lord, anointing and power imparted on different people so that their lives and have an impact!

19 September 2014

Seburuk Apapun, Tuhan Sanggup Ubahkan ( Bad It Is, God Can Transform )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 19 September 2014
Baca:  Hakim-Hakim 11:29-40

“Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta;  ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye,”  Hakim-Hakim 11:29

Alkitab mencatat bahwa Yefta adalah salah satu saksi iman seperti tertulis:  “Dan apakah lagi yang harus aku sebut?  Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat.”  (Ibrani 11:32-34a).

Mengapa iman Yefta bisa dipersamakan dengan Gideon, Barak, Simson, Daud, Samuel dan para nabi lainnya?  Bukankah Yefta memiliki latar belakang hidup yang tidak baik dan sangat tidak mendukung untuk dia menyandang predikat sebagai saksi iman seperti nabi-nabi lain?  Perlu kita ketahui Yefta adalah keturunan dari seorang perempuan sundal yang tidak jelas asal-usulnya.  Ada pun ayah Yefta adalah Gilead yang juga termasuk keturunan dari suku yang terendah moralnya.  Sesungguhnya Gilead memiliki isteri yang sah, tetapi ia selingkuh dengan perempuan sundal hingga lahirlah si Yefta ini.  Setelah dewasa keberadaan Yefta tidak diinginkan oleh keluarga Gilead, maka terusirlah ia dari mereka dan ia pun melarikan diri di tanah Tob,  “di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.”  (Hakim-Hakim 11:3).

Ayat nas menyatakan bahwa Roh Tuhan menghinggapi Yefta.  Mengapa Tuhan memakai Yefta?  Bukankah kehidupan Yefta banyak sisi negatifnya?  Kita harus ingat bahwa Tuhan memiliki kedaulatan penuh untuk memilih seseorang yang hendak dipakai sebagai alat kemuliaanNya.  Dan apabila Tuhan memilih seseorang.  Ia tidak pernah melihat latar belakangnya  (kaya, miskin, pintar, bodoh), termasuk Yefta yang mendapat anugerah dari Tuhan.

Siapakah kita ini?  Kita juga adalah orang-orang berdosa yang beroleh kemurahan karena iman kita kepada Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus rela mati untuk kita;  Dia memilih kita tanpa mempedulikan seburuk apa pun latar belakang hidup kita.  Asal kita mau bertobat dengan sungguh, Tuhan sanggup mengubahkan hidup kita dari yang hina menjadi mulia, yang tidak berarti menjadi berarti dan dijadikannya kita berharga di mataNya.

Maka dari itu jangan pernah membatasi kuasa Tuhan yang sedang bekerja dalam kehidupan kita karena tidak ada yang mustahil bagi Dia!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, September 19, 2014
Read: Judges 11: 29-40

“Then the Spirit of the Lord came upon Jephthah, and he passed through Gilead and Manasseh,” Judges 11:29

The Bible records that Jephthah was one of the witnesses of faith as it is written: “And what more shall I say? Because I’m short on time, when I was about narrating about Gideon, Barak, Samson, Jephthah, of David and Samuel and the prophets, who through faith have conquered kingdoms, worketh righteousness, obtain promises, shut the mouths of lions, put out the fire that is devastating. “(Hebrews 11: 32-34a).

Why Jephthah faith can be equated with Gideon, Barak, Samson, David, Samuel and the other prophets? Did Jephthah has a background that is not a good life and was not supportive to him the title as a witness to faith as the other prophets? We need to know Jephthah was a descendant of a harlot unclear origin. There is also the father of Jephthah of Gilead, which also includes descendants of the tribe of the lowest moral. Indeed, Gilead has a legitimate wife, but he was having an affair with a prostitute until the Jephthah was born. After adult presence is not desired by the family Jephthah of Gilead, the terusirlah it from them and he fled in the land of Tob, “there gathered to him the adventurers who went raiding together with him.” (Judges 11: 3).

Nats verse states that the Spirit of the Lord came upon Jephthah. Why God used Jephthah? Is not the life of Jephthah much downside? We must remember that God has full sovereignty to choose someone who is going to be used as an instrument of His glory. And if God choose someone. He never saw his background (rich, poor, smart, stupid), including Jephthah who is blessed by God.

Who we are? We also are sinners that hath mercy because our faith in the Lord Jesus. The Lord Jesus was willing to die for us; He chose us no matter how bad it is the background of our lives. Originally we wanted to truly repent, God can transform our lives from abject to be noble, that does not mean to be mean and maketh us precious in His sight.

Hence, do not ever limit God’s power at work in our lives because nothing is impossible for Him!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 18 September 2014
Baca:  Matius 10:16-32

“…Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”  Matius 10:16

Sebagai orang percaya kita telah dipilih dan dipanggil Tuhan untuk masuk ke medan peperangan.  Dan setiap orang yang hendak berperang pasti mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, baik dalam hal kekuatan, strategi, maupun senjata yang harus dibawa, sebab kita tidak dapat berperang dengan tangan kosong.  Jadi,  “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;”  (Efesus 6:11).

Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu di dunia yang gelap, dan melawan roh-roh jahat di udara  (baca  Efesus 6:12).  Seringkali yang menjadi musuh utama kita adalah ego yang ada di dalam diri kita sendiri.  Maka dari itu diperlukan adanya penguasaan diri.  Banyak kejahatan atau konflik terjadi di sekitar kita karena seseorang tidak mampu menahan emosinya di saat mereka menghadapi suatu tantangan, dan semua itu bersumber dari hati.  Iblis begitu licik dalam membuat strategi untuk menghancurkan anak-anak Tuhan.  Adalah penting bagi kita untuk menjaga hati agar iman kita tidak mudah goyah.  Jadi,  “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”  (Amsal 4:23).

Ayat di atas menegaskan bahwa keberadaan kita  (orang percaya)  adalah seperti domba yang berada di tengah-tengah serigala.  Domba adalah binatang yang sangat lemah jika dibandingkan dengan serigala.  Karena itu ia membutuhkan seorang gembala untuk membimbing dan membawanya ke padang rumput serta melindunginya dari serangan musuh, terutama dari serangan binatang buas  (serigala).  Dari sini kita tahu bahwa musuh kita bukanlah sembarangan, kita harus dengar-dengaran  (karib)  akan suara gembala kita dan memiliki hati yang taat untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh gembala kita.

Tuhan mengutus kita ke tengah-tengah serigala bukan bermaksud mencelakakan, tapi untuk membuktikan bahwa Dia adalah gembala yang baik;  Dia pasti menopang dan senantiasa memberi kekuatan kepada kita melawan si jahat.
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, September 18, 2014
Read: Matthew 10: 16-32

“… I am sending you out like sheep among wolves, be ye therefore wise as serpents and harmless as doves.” Matthew 10:16

As believers we have chosen and called by God to go to the battlefield. And every person who wanted to fight must prepare everything as well as possible, both in terms of strength, strategy, and weapons to be carried, because we can not fight with his bare hands. So, “Put on the whole armor of God, that ye may be able to stand against the wiles of the devil;” (Ephesians 6:11).

Our battle is not against flesh and blood, but against the rulers, authorities, the powers in this dark world, and against evil spirits in the air (see Ephesians 6:12). Often, our main enemy is the ego that is within ourselves. Thus the need for self-control. Many crimes or conflicts going on around us because the person is unable to contain her emotions when they face a challenge, and all of it comes from the heart. The devil is so cunning in making a strategy to destroy God’s children. It is important for us to keep that heart of our faith is not easily shaken. So, “Keep your heart with all vigilance, for from it flow the springs of life.” (Proverbs 4:23).

The above verse confirms that where we (believers) are like sheep who are in the midst of wolves. Sheep are animals that are very weak when compared with the wolf. Therefore he needs a shepherd to guide and bring it out to pasture as well as protect it from enemy attack, especially from the attacks of wild animals (wolves). From this we know that our enemies are not random, we should hear a rumor (intimates) will voice our pastor and has a heart of flesh to do what they’re told by our pastor.

God sent us into the midst of wolves is not intended to harm, but to prove that He is the good shepherd; He must sustain and continue to give us strength to fight the evil.

17 September 2014

Percaya Sudah Menerima ( Believe Has Received )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 17 September 2014
Baca:  Markus 11:20-26

“Karena itu Aku berkata kepadamu:  apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”  Markus 11:24

Sering khotbah mengingatkan kita agar percaya akan kuasa Tuhan tapi seringkali kita lupa dan mengabaikannya begitu saja.  Terlebih saat masalah dan penderitaan menimpa kita, entah itu sakit, krisis keuangan dan sebagainya, kita panik, stres, kecewa dan mengeluh kepada Tuhan.  Dalam Ibrani 11:1 tertulis:  “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  Namun, sudahkah kita memahami dan mengaplikasikan iman tersebut dalam kehidupan kita secara nyata?  Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati  (baca  Yakobus 2:17).

Iman perlu adanya tindakan yang membuktikan bahwa kita benar-benar percaya pada kuasa Tuhan.  Jadi  “…manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”  (Yakobus 2:24).  Saat kita berada di lingkungan gereja, di pertemuan-pertemuan ibadah atau bersekutu dengan saudara seiman, iman kita diteguhkan melalui doa, kesaksian, puji-pujian yang kita naikkan ke hadirat Tuhan;  terlebih saat pemberitaan Firman Tuhan disampaikan, iman kita pun mulai menyala-nyala.  Tetapi saat kita dihadapkan pada masalah yang silih berganti, sakit-penyakit yang belum kunjung sembuh, anak-anak yang memberontak pada orang tua dan berbagai doa meminta pertolongan dari Tuhan yang belum juga beroleh jawaban, iman kita mulai lemah dan keraguan menguasai hati dan pikiran kita:  “Apakah mungkin masalahku terselesaikan?  Dokter sudah memvonis bahwa sakitku tidak bisa disembuhkan.  Apa Tuhan sanggup menyembuhkan?”  FirmanNya menyatakan,  “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23).  Arti percaya di sini adalah penyerahan diri secara total kepada Tuhan.  Bagian kita hanya percaya, dan bagian Tuhan adalah melakukan apa yang kita percayai.  Tuhan berkata,  “…Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini:  Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut!  Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”  (Markus 11:23).

Segala sesuatu yang tidak mungkin dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia, itulah yang Tuhan lakukan atas hidup kita, asal iman kita tidak goyah dan tetap teguh.  Namun sering kita tidak sabar dalam menanti pertolongan Tuhan.

Sungguh kuasa Tuhan itu tidak terbatasi oleh apa pun juga!

 

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar 

Wednesday, September 17, 2014
Read: Mark 11: 20-26

“Therefore I tell you, whatever you ask for in prayer, believe that you have received it, and it shall be given unto you.” Mark 11:24

Often sermon reminds us that believe in the power of God but we often forget and ignore it. Especially when the problems and suffering upon us, whether it’s illness, financial crisis and so on, we panic, stress, upset and complained to God. In Hebrews 11: 1 says: “Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.” However, have we understand and apply the faith tangible in our lives? James asserts that faith without works is dead (see James 2:17).

Faith is necessary to prove that the actions that we truly believe in the power of God. So “… a man is justified by works and not by faith alone.” (James 2:24). When we were in the neighborhood of the church, at church meetings or fellowship with brothers and sisters, our faith is strengthened through prayer, testimonies, praise we raise to God; especially when the preaching of the Word of God delivered, our faith began burning. But when we are faced with problems that come and go, pain and disease that have not healed, the children are rebellious to parents and various prayer for help from God also hath not the answer, we start weak faith and doubt control our hearts and minds : “Is it possible my problem resolved? Doctors have pronounced that my pain can not be cured. What God is able to heal?” His Word declares, “Nothing is impossible for those who believe!” (Mark 9:23). Meaning believe here is total surrender to God. Section we only believe, and the Lord is doing what we believe. God says, “… whoever says to this mountain, ‘Be taken up and cast into the sea! Origin does not doubt in his heart, but shall believe that what he says will happen, it will happen for him.” (Mark 11:23).

Everything that is not possible and not affordable by the human mind, that’s what God does for our lives, our faith does not waver origin and remain firm. But often we are impatient in waiting for God’s help.

It was the power of God is not limited by anything!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 16 September 2014
Baca:  Lukas 14:7-11

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  Lukas 14:11

Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu menawarkan kemewahan, kenikmatan dan popularitas sehingga banyak orang tergiur dengan tawaran dunia.  Namun semua itu tidak ada yang free, melainkan ada harga yang harus dibayar dan semua dinilai dengan uang.

Selagi kita memiliki uang banyak atau harta kekayaan kita pun dapat memiliki apa yang kita mau.  Dan tanpa disadari, tidak sedikit orang Kristen yang merasa diri kaya, pandai, punya kedudukan mapan, sukses dalam bisnis dan sebagainya, tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, lebih mengandalkan kekuatan dan kemapuan diri sendiri.  Firman Tuhan dengan keras menyatakan,  “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!”  (Yeremia 17:5).  Ingatlah, berapa pun kekayaan yang kita miliki, sepandai apa pun kita dan sehebat apa pun manusia,  “…hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;  apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”  (Mazmur 103:15-16).  Di dunia ini tidak ada yang abadi;  jadi kalau kita mengandalkan apa yang kita miliki, meskipun harta kita tidak habis sampai tujuh turunan, adalah sia-sia belaka.  Dan apabila suatu saat semua itu diambil Tuhan, kita pun tidak dapat berbuat apa-apa.  Kita harus ingat bahwa semua kesuksesan, kekayaan dan kejayaan yang kita raih itu adalah anugerah dari Tuhan dan kita tidak patut membanggakan diri.

Rasa ingin dihargai dan dipuji adalah awal kesombongan.  Terlebih lagi saat Tuhan mempercayakan kita untuk melayaniNya.  Dengan karunia-karunia yang kita miliki, jika kita tidak mampu menjaga hati, kita bisa mencuri kemuliaan Tuhan.  Lucifer adalah malaikat sorga yang cantik rupawan yang selalu memuji Tuhan, namun ketika merasa dia paling diperhatikan Tuhan timbullah rasa sombong sehingga ia pun berpikir untuk menyamai Tuhan.  Karena kesombongannya Lucifer diusir dan dibuang ke bumi.  Saat ini banyak orang ingin unjuk kebolehan dan gila hormat, bahkan memandang orang lain dengan sebelah mata.  Pujian dan penghargaan manusia yang mereka cari.  Tuhan sangat membenci mansia yang tinggi hati.

“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”  Amsal 22:4

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, September 16, 2014
Read: Luke 14: 7-11

 “For whoever exalts himself will be humbled, and he who humbled himself, he will be exalted.” Luke 14:11

Everything that exists in this world always offers luxury, pleasure and popularity of so many people are tempted to offer the world. But all that nothing is free, but there is a price to be paid and all money’s worth.

While we have a lot of money or possessions we too can have what we want. And without realizing it, not a few Christians who feel themselves rich, intelligent, have a well-established position, success in business and so on, no longer relying on God in his life, relying on strength and Traffic yourself. God’s Word declares loudly, “Cursed is the man who trusts in man, who relied on his strength, and whose heart turns away from the Lord!” (Jeremiah 17: 5). Remember, whatever wealth we have, whatever we are as smart and as good as any man, “… his days are like grass, like a flower of the field so he flowering; where the wind pass through, it is no longer he, and where no know him again. “(Psalm 103: 15-16). In this world nothing is eternal; so if we rely on what we have, even though we do not run out treasure to seven generations, is futile. And if one day all of God was taken, we were not able to do anything about it. We must remember that all success, wealth and glory that we achieve it is a gift from God and we should not boast.

Curiosity is rewarded and praised early arrogance. Moreover, when God entrusts us to serve Him. With the gifts that we have, if we are not able to keep the heart, we can steal the glory of God. Lucifer is a pretty good-looking, heavenly angels are always praising the Lord, but he feels the most attention when God arises the pride that he was thought to emulate God. Because of his pride Lucifer was expelled and banished to earth. Today many people want to show ability and snobby, even looking at others with one eye. Praise and awards man they are looking for. God hates high mansia heart.

“The reward of humility and the fear of the Lord are riches, honor and life.” Proverbs 22: 4

15 September 2014

Istri Bijak dalam Keluarga ( Wise Wife in the Family )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 15 September 2014
Baca:  Amsal 31:10-31

“Ia  (seorang isteri)  bangun kalau masih malam, lalu menyediakan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.”  Amsal 31:15

Di era emansipasi sekarang ini, wanita  (isteri)  yang berperan ganda sebagai ibu rumah tangga dan juga bekerja di kantor adalah pemandangan yang sudah lumrah, apalagi bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Manakah yang lebih penting:  mejadi ibu rumah tangga atau bekerja di luar rumah?  Perhatikan ayat nas hari ini, di mana seorang wanita  (isteri)  “…bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.  Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.  Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:”  (ayat 15, 27, 28).  Hal ini menunjukkan betapa seorang isteri seharusnya tidak mengabaikan tugasnya dalam kehidupan berumah tangga, memberikan perhatian kepada anak-anak dan juga para pelayan.  Mengawasi segala perbuatan rumah tangga berarti isteri bertanggung jawab untuk memastikan bahwa rumah tangganya berjalan dengan lancar.  Tidak hanya itu, Salomo menulis:  “Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.”  (ayat 16).  Seorang isteri membeli ladang anggur dengan uangnya sendiri supaya bisa menyediakan makanan terbaik bagi keluarganya.  Mungkin saat ini tugas memasak, membersihkan rumah dan sebagainya dapat diserahkan kepada pegawainya karena merasa tidak ada waktu, tetapi tugas menjadi ibu bagi anak-anak tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun.

Bagaimana pun juga tugas dan tanggungjawab utama wanita  (isteri)  adalah mengurus rumah tangga, terutama sekali setelah memiliki anak.  Itulah sebabnya Alkitab menasihatkan supaya  “…perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, …cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.”  (Titus 2:3-5).  Jadi, wanita harus benar-benar bijak menentukan sikap atau pilihan:  menyediakan waktu terbaik mengurus keluarga, atau banyak berada di luar rumah demi uang?

Jadilah isteri bijak, dapat menjalankan peran dengan baik sesuai dengan firman Tuhan!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, September 15, 2014
Read: Proverbs 31: 10-31

“She (the wife) if it is still night waking, and provide for her household, and distribute tasks to the female servants.” Proverbs 31:15

In today’s era of emancipation, women (wives) that double as a housewife and also worked in the office is already a common sight, especially for those who live in big cities.

Which is more important: becoming a housewife or working outside the home? Notice verse passage today, in which a woman (wife) “… wake up if it is still night, and provides food for her household, and distribute tasks to the female servants. Deeds He oversees household, food is not idleness eaten. their children woke up, and call it blessed, her husband also praises her: “(verses 15, 27, 28). This shows how a wife should not neglect their duties in married life, paying attention to the children and the servants. Oversee all domestic actions mean the wife is responsible for ensuring that the household running smoothly. Not only that, Solomon wrote: “He bought a their chosen field, and from the results of planting his vineyard.” (verse 16). A wife bought vineyards with his own money in order to provide the best food for their families. Maybe this time the task of cooking, cleaning and so on can be handed over to the employees because they feel there is no time, but the task of being a mother to the children can not be delegated to anyone.

After all the main duties and responsibilities of a woman (wife) is taking care of the household, especially after having children. That is why the Bible advises that “… older women, let them live as the people worship, … teachers of good things and thus educating the younger women to love their husbands and children, living wise and holy, set the household diligent, good-natured and obedient to her husband, so that the Word of God not be blasphemed. “(Titus 2: 3-5). So, women have to be really wise determine the attitude or choice: to provide the best time to take care of the family, or many are outside the house for the sake of money?

Be wise wife, can play the role well in accordance with the word of God!

13 September 2014

Istri Bijak dan Prioritasnya ( Wise Wife With Her Priority )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPTBaithani DEnpasar
Sabtu, 13 September 2014
Baca:  Amsal 31:10-31

“Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.”  Amsal 31:12

Di zaman sekarang ini banyak wanita Kristen  (isteri)  yang tidak hanya menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga murni  (mengurus suami, anak dan rumah tangga), tetapi mampu berperan juga dalam pekerjaan  (karir).  Akibatnya tidak sedikit para isteri yang mengeluh karena lelah fisik dan emosi.  Inilah saatnya bagi wanita untuk mengoreksi kembali komitmen dan tanggung jawabnya sesuai dengan firman Tuhan, yaitu melaksanakan perannya sebagai wanita sesuai yang direncanakan Tuhan.  Di dalam Amsal 31:10-31 terangkum hal-hal yang harus dipahami oleh para wanita berkenaan dengan tugas dan tanggung jawabnya:  mengurus suami, anak, rumah tangga dan juga karir di luar rumah.

Seorang wanita  (isteri)  yang bijak adalah wanita yang dapat menyeimbangkan segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab utamanya, yaitu antara suami, anak, rumah tangga dan juga diri sendiri.  Sementara komitmen lainnya, seperti berkarir di luar rumah, adalah hal kedua yang memang penting, tapi hanya sebagai pelengkap saja.  Ada pun tugas utamanya terangkum dalam ayat ini:  “Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.”  Artinya hidupnya harus dicurahkan untuk berbuat baik kepada suaminya;  ia harus memahami tujuan utama Tuhan menciptakan dia yaitu sebagai penolong bagi laki-laki.  Tertulis:  “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.  Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”  (Kejadian 2:18).

Menjadi penolong bagi laki-laki tidak membuat wanita berada di posisi lebih rendah;  justru seorang wanita yang bisa menjadi penolong bagi laki-laki disebut Alkitab sebagai seorang isteri yang cakap, kemuliaan laki-laki dan juga mahkota bagi suaminya.  Menjadi penolong bagi suami artinya senantiasa membantu, mendukung dan menguatkan suami dalam semua aspek kehidupannya  (jasmani dan rohani).  Memang hal itu tidak mudah, apalagi bila para wanita sudah mengenal suami dengan segala kelemahannya.  Salah satu langkah terbaik untuk mendukung suami dan berbuat baik kepadanya adalah dengan cara menghormatinya dan senantiasa berdoa untuk dia.

Berdoa untuk suami adalah sangat penting, supaya melalui kuasa Roh KudusNya Tuhan membentuk dan menjadikan suami kita sebagai sosok pribadi yang berkenan kepada Tuhan. 

Daily Bread  GPTBaithani Denpasar
Saturday, September 13, 2014
Read: Proverbs 31: 10-31

“He did good to her husband and not evil all the age.” Proverbs 31:12

In this day and age a lot of Christian women (wives) who not only perform its role as a pure housewife (taking care of husband, children and household), but was able to play a role also in the work (career). As a result, not a few of the wives who complain of being tired physically and emotionally. It is time for women to correct the commitment and responsibilities in accordance with the word of God, which is carrying out its role as a lady as planned God. In the Proverbs 31: 10-31 summarized the things that must be understood by women with respect to their duties and responsibilities: taking care of husband, children, household and also a career outside the home.

A woman (wife) is a wise woman who can balance everything into the main responsibility, which is between a husband, children, household as well as myself. While other commitments, such as a career outside the home, is the second thing that is important, but only as a supplement only. There is also the main task is summed up in this verse: “He did good to her husband and not evil all the age.” This means that his life should be devoted to doing good to her husband; he must understand the primary purpose of God created he is as a helper for man. Written: “It is not good that the man should be alone. I will make a helper for him, which is commensurate with her​​.” (Genesis 2:18).

Being a helper for men does not make women are in a lower position; even a woman who could be a helper for the man the Bible calls a capable wife, the glory of the man and also a crown to her husband. Be a helper to her husband means always help, support and encourage their husbands in all aspects of life (physical and spiritual). Indeed it is not easy, especially when the women are familiar with the husband’s impotence. One of the best steps to support her husband and to do good is to honor and continue to pray for him.

Praying for a husband is very important, so that through the power of His Holy Spirit of God to shape and make our husband as a personal being pleasing to God.

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 12 September 2014
Baca:  Ibrani 4:1-13

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun;  ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum;  ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”  Ibrani 4:12

Pedang bermata dua adalah senjata penemuan yang dipakai oleh bangsa Romawi di zaman dahulu, memiliki panjang sekitar 0,75 meter, ditajamkan di kedua sisinya dengan ujung yang tajam pula.  Jadi, ke arah mana saja seorang tentara Romawi mengayunkan pedangnya, dia sedang mengayunkan kematian; siapa pun yang mendekat pasti akan terluka.  Dengan senjata itulah bangsa Romawi mampu menaklukkan dunia.

Sebagai orang percaya kita patut berbangga karena kita juga memiliki senjata yang lebih hebat dari pedang bermata dua mana pun:  senjata yang dapat menghancurkan Iblis dan pasukannya, sanggup menembus dunia roh dan penguasa-penguasa di udara.  Ya, senjata itu adalah firman Tuhan!  Alangkah dahsyatnya jika firman Tuhan itu kita perkatakan dengan iman.  Firman Tuhan yang ada di mulut kitalah yang sanggup menghancurkan pekerjaan Iblis.  Kita dapat menahan setiap serangan Iblis dengan mempercayai dan mengucapkan firman Tuhan.  Iblis tidak akan berlalu dari hidup kita sebelum kita mulai mengucapkan firman Tuhan.  Dalam kehidupan sehari-hari, mulut kita suka memperkatakan apa?  Gosip, kata-kata kotor dan sia-sia, kekuatiran, sakit penyakit, atau firman Tuhan?  Perhatikanlah:  hidup yang kita jalani ini adalah tuaian dari benih perkataan yang kita lepaskan melalui mulut kita.  Kita bisa tertawan dan terjerat oleh perkataan kita sendiri.  Melalui perkataan sendiri, kita akan kehilangan berkat Tuhan dan menuai hal-hal buruk.  Itulah sebabnya Iblis berusaha menabur ketakutan, kekuatiran, kebencian dan sebagainya di dalam bahasa manusia dengan harapan manusia memperkatakan hal itu atau menggemakannya.  Tertulis:  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).

Yosua dan Kaleb menikmati Tanah Perjanjian karena keduanya memperkatakan firman.  Sementara jutaan orang Israel mati di padang gurun, menuai dari perkataan mereka sendiri.  Jadi ke mana arah hidup kita dikendalikan oleh perkataan kita sendiri.  Karena itu, berhati-hatilah!

Kalahkan setiap siasat Iblis dengan firman Tuhan yang adalah Pedang Roh, sangat dahsyat kuasaNya!

Daily Bread GPT Baithani Denpasar
Friday, September 12, 2014
Read: Hebrews 4: 1-13

“For the word of God is living and active and sharper than any two-edged sword, piercing even to the dividing asunder of soul and spirit, and of joints and marrow, and discerning the thoughts and intents of our hearts . “Hebrews 4:12

Double-edged sword is the discovery of weapons used by the Romans in ancient times, has a length of about 0.75 meters, sharpened on both sides with a sharp tip anyway. Thus, in any direction a Roman soldier swinging his sword, he was swinging death; anyone who approaches will definitely hurt. With the weapons that the Romans able to conquer the world.

As believers we should be proud because we also have a weapon more powerful than any two-edged sword: a weapon that can destroy the devil and his army, able to penetrate the world of spirits and rulers in the air. Yes, that weapon is the word of God! It would be fierce if we declare the word of God by faith. Word of God in the mouth of us who is able to destroy the devil’s work. We can withstand any attack by the devils believe and speak the word of God. The devil will not pass from our lives before we begin to speak the word of God. In everyday life, our mouths speak the love of what? Gossip, dirty words and vain, anxiety, sickness, or the word of God? Note: the lives we live this is the harvest of seed words that we release through our mouths. We can be captured and trapped by our own words. Through his own words, we will lose the blessings of God and reap bad things. That is why the devil tries to sow fear, worry, hatred and so on in the human language to speak the human expectation or echo it. Written: “Life and death power of the tongue, who liked echoed, will eat its fruit.” (Proverbs 18:21).

Joshua and Caleb enjoying the Promised Land because they both speak the word. While millions of people of Israel died in the wilderness, reap from their own words. So which direction our lives are controlled by our own words. Therefore, be careful!

Defeat every stratagem of Satan with the word of God which is the Sword of the Spirit, His power is very powerful!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Kamis, 11 September 2014
Baca:  Markus 10:46-52

“‘Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!’  Pada saat itu juga melihatlah ia (Bartimeus), lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”  Markus 10:52

Ketika Yesus dan murid-muridNya meninggalkan Yerikho banyak orang mengikutiNya.  Di tengah perjalanan terdengar teriakan pengemis buta yang duduk di pinggir jalan.

Pengemis itu adalah Bartimeus.  “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru:  ‘Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!’”  (ayat 47).  Orang-orang menjadi sangat terganggu mendengar teriakan Bartimeus itu sehingga  “Banyak orang menegurnya supaya ia diam.  Namun semakin keras ia berseru:  ‘Anak Daud, kasihanilah aku!’”  (ayat 48).  Bartimeus tidak menyerah sampai teriakannya didengar oleh Tuhan Yesus.  Tertulis,:  “Lalu Yesus berhenti dan berkata:  ‘Panggillah dia!’  Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya:  ‘Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.’”  (ayat 49).  Yesus bertanya kepada Bartimeus,  “‘Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’  Jawab orang buta itu:  ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat!’”  (ayat 51).  Maka mujizat pun terjadi!  Yesus berkata kepada Bartimeus,  “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”  (ayat 52a).  Bartimeus mengalami pertolongan Tuhan karena iman yang ia perkatakan:  “…supaya aku dapat melihat!”

Ketika kita memperkatakan firman, kuasa dilepaskan untuk membuat apa yang kita perkatakan.  Itulah iman.  Walaupun tidak kelihatan, dapat membuat segala sesuatu menjadi nyata dalam hidup kita, karena  “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  (Ibrani 11:1).  Iman ada di dalam hati kita dan ia dilepaskan melalui perkataan kita.  Apa yang Saudara inginkan terjadi dalam hidup ini?  Mulailah menyatakannya dengan iman, sebab segala sesuatu dapat diubahkan melalui kuasa firman yang kita percayai dalam hati, kita perkatakan melalui mulut dan kita praktekkan.  Jadi kita akan mendapatkan apa yang kita katakan ketika kita mempercayai bahwa apa yang kita katakan akan terjadi.  Sebab apa yang kita perkatakan itu mengandung kuasa yang dahsyat.  Jangan sepelekan apa yang kita ucapkan!  Pernyataan iman Bartimeus telah menghasilkan mujizat yang luar biasa.

Mulai hari ini belajarlah memperkatan firman dengan iman;  jadikan itu sebagai gaya hidup, niscaya kita akan mengalami pemulihan yang luar biasa!

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Thursday, September 11, 2014
Read: Mark 10: 46-52

“‘Go, your faith has saved you!’ At the time he received his sight (Bartimaeus), and followed him in his journey. “Mark 10:52

When Jesus and His disciples left Jericho many people followed. Along the way came the cry of the blind beggar sitting by the roadside.

Beggar it is Bartimaeus. “When he heard that it was Jesus of Nazareth, he began to shout: ‘Jesus, Son of David, have mercy on me!’” (Verse 47). People are becoming very disturbed to hear the cry of Bartimaeus that “Many rebuked him so that he is silent. Yet the harder he cried out: ‘Son of David, have mercy on me!’” (Verse 48). Bartimaeus did not give up until her screams heard by the Lord Jesus. Written,: “Then Jesus stopped and said, ‘Call him!’ They call the blind man and said to him: ‘Be strong heart, stand up, he is calling you.’ “(Verse 49). Jesus asked Bartimaeus, “‘What do you want that I do for you?’ He answered: ‘Rabboni, that I may see!’ “(Verse 51). So the miracle had happened! Jesus said to Bartimaeus, “Go, your faith has saved you!” (verse 52a). Bartimaeus had faith that God’s help because he was declaring: “… so that I can see!”

When we speak the word, the power released to make what we declare. That is faith. Although invisible, it can make things real in our lives, because “Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.” (Hebrews 11: 1). Faith is in our hearts and it is released through our words. What do you want to happen in this life? Begin declare with faith, because everything can be changed through the power of the word that we believe in our hearts, we declare through the mouth and we practice. So we will get what we say when we believe that what we said would happen. Because what we declare it contains tremendous power. Do not underestimate what we say! Statement of faith Bartimaeus has produced an incredible miracle.

Starting today learn to discuss the word of faith; make it as a lifestyle, surely we will experience a remarkable recovery!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 10 September 2014
Baca:  Kejadian 12:1-9

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur;  dan engkau akan menjadi berkat.”  Kejadian 12:2

Pemazmur menegaskan bahwa  “Janji Tuhan adalah janji yang murni bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.  Engkau, Tuhan, yang akan menepatinya,”  (Mazmur 12:7-8a).  Janji Tuhan adalah ya dan amin, tidak ada yang tidak ditepatiNya.  Tuhan tidak hanya berjanji akan memberkati Abraham secara melimpah, tapi juga berjanji hendak menjadikannya berkat bagi bangsa-bangsa, dan janji itu pun tergenapi.  Bahkan setiap kita yang beriman kepada Yesus Kristus disebut sebagai keturunan Abraham dan kita pun berhak menerima janji Allah  (baca  Galatia 3:29).

Kehidupan Abraham sampai pada masa tuanya diberkati Tuhan secara luar biasa.  Sungguh nyata benar apa yang tertulis dalam Yesaya 46:4 bahwa,  “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  Mengapa Abraham mengalami dan menikmati berkat-berkat yang luar biasa dari Tuhan?  Apa yang telah diperbuat olehnya?  Ketika diperintahkan Tuhan untuk pergi dari negerinya dan juga dari sanak saudaranya ke suatu negeri yang belum diketahui secara pasti, Abraham taat:  “…pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya,”  (Kejadian 12:4).

Setiap kita yang rindu masuk ke dalam rencana Tuhan, baik dalam hidup di dunia ini maupun untuk yang akan datang, biarlah kita mau belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Abraham.  Mari kita belajar taat karena ketaatan adalah kunci mengalami terobosan baru!  Namun sebelum memberkati, Tuhan meminta milik Abraham yang paling berharga dan yang terbaik, yaitu anak semata wayangnya.  FirmanNya,  “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”  (Kejadian 22:2).  Abraham tidak kecewa, mengeluh atau membantah dengan Tuhan, dipersembahkanlah Ishak kepada Tuhan.  Sudahkah kita memberi yang terbaik dari hidup kita  (waktu, tenaga, talenta, materi)  untuk Tuhan.

Saudara ingin mengalami terobosan dalam hidup ini?  Belajarlah untuk taat dan persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan.

Daily Bread GPT Baithani Denpasar
Wednesday, September 10, 2014
Read: Genesis 12: 1-9

“I will make you into a great nation, and bless you and make your name famous, and thou shalt be a blessing.” Genesis 12: 2

The Psalmist asserts that “The promise of God is like a promise of pure silver tested, seven times purified in a furnace on the ground. Thou, Lord, which will keep them,” (Psalm 12: 7-8a). God’s promises are yes and amen, nothing to keep. God not only promised to bless Abraham in abundance, but also promises was about to make it a blessing for the nations, and the promise was fulfilled. In fact, each of us who have faith in Jesus Christ is called the seed of Abraham, and we are entitled to receive the promises of God (see Galatians 3:29).

Abraham’s life until old age God blessed tremendously. It’s a real true what is written in Isaiah 46: 4 that, “Until your old age I am he, and until the white hair, I will carry you. I’ve done it and I will bear; bear you and I will rescue you.” Why did Abraham experience and enjoy the blessings of God’s incredible? What has been done by him? When instructed by God to go out of his land and also from his relatives to a country not known for certain, Abraham: “… Abram went as the Lord had said to him,” (Genesis 12: 4).

Each of us who missed entry into the plan of God, both in this life and for the future, let us willing to learn from what has been done by Abraham. Let us learn to obey because obedience is the key to having a breakthrough! But before the blessing, God asked Abraham belongs to the most valuable and the best, the only child. His words, “Take your son, your only son, whom you love, Isaac, go to the land of Moriah and offer him there as a burnt offering on one of the mountains which I will tell thee.” (Genesis 22: 2). Abraham was not disappointed, complain or argue with God, sacrificed Isaac to God. Have we gave the best of our lives (time, energy, talent, materials) to God.

You want to experience a breakthrough in this life? Learn to obey, and offer the best to God.