Get Adobe Flash player
29 March 2011

Warisan yang berharga

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian

SELASA, 29 MARET 2011

KEJADIAN 25:7-11             

“Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu; dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi” (ayat 11).  Abraham telah hidup dalam kepercayaan dan ketaatan akan firman Tuhan dan dalam masa tuanya ia juga telah menjadi seorang yang diberkati Tuhan luar biasa, bahkan ia masih bisa melihat anak kandungnya sendiri, ahli warisnya yang lahir pada masa tuanya, berumah tangga. Dalam hidupnya ia telah menanamkan ketaatan dan kepercayaannya akan Tuhan kepada anaknya, Ishak. Maka ketika tiba waktunya bagi Abraham untuk dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, iapun pergi meninggalkan dunia dalam damai, sudah putih rambutnya, tua dan suntuk umurnya. Allah setia dengan janji-Nya, Ia member kati Ishak karena Abraham dan Ishakpun hidup sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan diteladankan bapanya kepadanya. Ishak telah mengalami sendiri dan melihat ketaatan bapanya ketika ia sendiri telah siap untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai korban sesuai dengan perintah-Nya kepada Abraham, bapanya. Jadi Ishakpun juga telah siap ketika bapanya itu harus dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Setiap orang tua pasti merindukan anak-anaknya hidup dalam suasana kelimpahan berkat dan untuk itu menjadi peran orang tua untuk mempersiapkannya. Bukan semata persiapan perkara jasmani, yang lebih penting adalah mempersiapkan mentalnya melalui ajaran dan juga keteladanan hidup orang tua yang percaya dan takut akan Tuhan. Dengan demikian ketika orang tua sudah sampai pada waktunya untuk kembali kepada penciptanya, ia bisa pergi dalam damai dan anak-anakpun juga kedapatan telah siap untuk menghadapi hidup tanpa bimbingan orang tua. Wariskanlah sesuatu yang berharga, yakni sikap hidup yang takut akan Tuhan yang menghasilkan jaminan berkat Tuhan atas anak cucu kita (Mazmur 25:12-13).

 WARISKAN “SUMBER” DARI SEGALA BERKAT KEPADA ANAK CUCU.

28 March 2011

Jadi hak ahli waris ( Heirs are entitled to )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SENIN, 28 MARET 2011

 KEJADIAN 25:1-6

“Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada anak-anaknya yang dipero lehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka – masih pada waktu ia hidup – meninggalkan Ishak, anaknya dan pergi kesebelah timur, ke Tanah Timur” (ayat 5-6).  Menjadi bapa banyak bangsa, itulah proses yang sedang terjadi atas Abraham, karena selain bangsa-bangsa yang hadir dari Ismael, anaknya dari Hagar, hamba Sara, bangsa-bangsa juga lahir dari keturu nan yang ia peroleh dari gundiknya, yakni dari ketura. Akan tetapi ahli warisnya, yakni orang yang berhak menerima segala harta yang ia miliki termasuk berkat yang ia terima dari Allah sendiri, tetap satu orang yakni Ishak dan keturunannya, sementara kepada anak-anaknya yang lain Abraham hanya mem berikan sekedar pemberian dan merekapun harus meninggalkan sang ahli waris dan pergi kesebelah timur, ke Tanah Timur. Itulah perbedaan nyata kehidupan seorang yang mendapat hak sebagai ahli waris dengan mereka yang hanya terhisab dalam suatu keluarga. Sekarangpun banyak yang menyebut dirinya sebagai keturunan Abraham, tapi pertanyaannya, apakah mereka juga mempunyai hak sebagai ahli waris dari berkat Abraham? Dan bagi kita, secara lahiriah kita juga bukan keturunan Abraham, tapi secara rohani, oleh Roh Allah, berkat-berkat Abraham juga menjadi bagian kita. Berkat Abraham juga bukan hanya soal perkara jasmani, berkat Abraham juga perihal bagaimana kita bisa menjadi berkat. Maka, bila kita percaya bahwa kita juga adalah keturunan Abraham secara rohani, sudah seharusnya pula kita yakin bahwa kita adalah ahli waris dari suatu janji dan berkat yang luar biasa, yang jauh lebih berharga dari segala yang ada didunia ini. Bersyukurlah bahwa karena Berita Injil, kita sekalipun bukan orang Yahudi turut menjadi ahli waris, anggota tubuh Kristus dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus (Efesus 3:6).

JADILAH AHLI WARIS YANG MENGERTI AKAN HAKNYA.

MONDAY, 28 MARCH 2011

 25:1-6 EVENTS

“Abraham gave all his possessions to Isaac, but to his children which he gets from his various mistresses he gave a gift, then he told them – are still at the time of his life – leaving his son Isaac and climb over the fence east, into East Land” (verse 5-6). Being a father of many nations, that process is going on Abraham, because in addition to the nations in attendance from Ishmael, son of Hagar, the servant of Sarah, the nations are also born of the seed he obtained from his mistress, from Keturah. However, their heirs, the person entitled to receive any property he owned, including the blessings he received from God himself, remains one of Isaac and his descendants, while the other children of Abraham just to give just a gift and they should leave the heirs and climb over the fence east, to the Eastern Land. That’s the real difference in the life of a man who gets rights as the heirs to those who simply alter the fact in a family. Today many who call themselves as descendants of Abraham, but the question is, do they also have rights as an heir of the blessing of Abraham? And for us, outwardly we are not descendants of Abraham, but spiritually, by the Spirit of God, the blessings of Abraham also became our part. Blessing of Abraham is also not just about physical matter, thanks to Abraham also about how we can be a blessing. So, if we believe that we too are spiritual descendants of Abraham, we should also believe that we are heirs of the promise and tremendous blessing, which is far more valuable than everything that exists in this world. Be thankful that because of the gospel, we are even not Jewish heirs, members of the body of Christ and the participants in the promise in Christ Jesus (Ephesians 3:6).

BE UNDERSTAND HEIRS OF THEIR RIGHTS.

 

26 March 2011

ARAHKAN TUJUAN HIDUP

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian
SABTU, 26 MARET 2011

KEJADIAN 24:1-67              

TUHAN, yang dihadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku” (ayat 40).  Allah memberkati Abraham dalam segala hal dan Abraham sendiri hidup dalam tanda penyertaan Allah. Dalam masa tuanya, sebelum ia kembali kepada pencipta nya, Abraham merasa berkewajiban untuk mempersiapkan masa depan anaknya, Ishak, dan dalam hal ini adalah seorang pendamping hidup, yakni seorang istri. Abraham tidak bertindak sembarangan, Ishak tidak boleh memperisterikan seorang perempuan Kanaan, maka iapun menyuruh hamba kepercayaannya kepada sanak saudaranya, di negeri asalnya, untuk mengambil istri bagi Ishak. Itu adalah tindakan yang benar dan bijaksana dihadapan Tuhan, maka Iapun menyertai dan membuat berhasil perjalanan hamba Abraham tersebut dengan mempertemukannya dengan Ribka, cucu dari Nahor, saudara Abraham. Atas kehendak Tuhan pula Ribka bersedia untuk diperistri Ishak sehingga hati Ishak juga dihiburkan setelah ia ditinggal ibunya. Orang tua bertanggungjawab mengarahkan anak panah ditangannya, yakni anak-anaknya untuk menuju masa depan yang lebih baik, dan termasuk didalamnya adalah masalah pasangan hidup. Memang sekarang bukan jamannya lagi bagi orang tua untuk menentukan pasangan hidup anak-anaknya, tapi tetaplah menjadi peranya untuk mengarahkan anaknya mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan penyerahan, penyertaan dan pertolongan Tuhan, seorang anak bisa di pimpin Tuhan menemukan pasangan hidupnya yang tepat. Arahkanlah anak-anak pada jalan ang patut bagi mereka, maka pada masa tuapun mereka tidak akan menyimpang dari jalan itu (Mazmur 22:6).

DIDIKLAH ANAK-ANAK  DALAM TAKUT AKAN TUHAN SELAGI ADA HARAPAN.   

25 March 2011

HIDUP DENGAN BIJAKSANA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian

JUM’AT, 25 MARET 2011

KEJADIAN 23:1-20

“Tuanku ini seorang raja agung ditengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburan nya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu” (ayat 6).  Umur manusia terbatas,demikian pula dengan Sara, istri Abraham, hanya mencapai usia seratus dua pulus tujuh tahun, lalu mati. Sebagai seorang asing, seorang pendatang dinegeri yang sebenarnya telah dijanjikan Allah kepadanya, Abraham berhasil membina hubungan yang baik dengan penduduk setempat. Hal itu nampak nyata ketika ia membutuhkan kuburan untuk Sara, ia tidak mendapat kesulitan untuk mendapatkannya. Bahkan justru penyertaan Allah membuat ia begitu dihormati oleh penduduk setempat, dianggap sebagai seorang raja agung ditengah-tengah-tengah mereka. Tidak ada yang menolak untuk Sara dikuburkan ditengah-tengah mereka, maka iapun dikuburkan dalam damai didalam gua,diladang Makhpela yang dibeli Abraham dari orang Het. Janji-janji Tuhan yang luar biasa yang dinyatakan pada kita, hendaknya tidak membuat kita besar kepala, demikian pula dengan berkat-berkat-Nya. Mungkin kita adalah orang yang dihormati, baik dilingkungan maupun usaha dan pekerjaan, tapi itu juga bukan alasan untuk membesarkan diri, justru sebaliknya kita harus hidup bijaksana. Kita masih hidup didunia sekalipun memiliki janji-janji Allah, dan sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri, kita juga membutuhkan orang lain. Dan hubu ngan kita dengan orang luar tergantung bagaimana kita membawa diri ditengah-tengah masyarakat. Biar lah mereka disekitar kita juga turut merasakan berkat dan kasih Allah yang dilimpahkan-Nya atas kita. Perhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup, milikilah cara hidup yang baik ditengah-tengah dunia ini sehingga mereka memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka (1 Petrus 2:11-12).

MULIAKANLAH ALLAH SELAMA KITA HIDUP.

24 March 2011

SUDAH DIPERSIAPKAN-NYA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian

KAMIS, 24 MARET 2011

KEJADIAN  22:20-24

“Dan Betuel memperanakkan Ribka. Kedelapan orang inilah dilahirkan Milka bagi Nahor, saudara Abraham itu” (ayat 23).  Suka duka kehidupan telah Abraham alami, ada saat dimana ia mengalami kuasa dan pembelaan Tuhan, menikmati berkat-berkat-Nya. Tapi ada saatnya pula dia harus pergi meninggalkan tempat yang dia diami karena bahaya kelaparan disana, bahkan ada saat dimana ia diuji kepercayaannya oleh Tuhan untuk melepaskan miliknya yang paling berharga. Hidup sebagai orang asing, sendirian di negeri yang dijanjikan Tuhan menjadi miliknya dan milik keturunannya, bukanlah hal yang mudah, tapi semua Abraham jalani dalam tanda ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan. Maka menjadi suatu penghiburan bagi Abraham ketika mendengar kabar bahwa Nahor, saudaranya, telah dikaruniai Allah delapan orang anak laki-laki dan masih ditambah empat orang lagi dari gundiknya. Dan secara khusus nama Ribka telah dimunculkan disini sebagai persiapan dirinya masuk dalam sejarah hadirnya bangsa pilihan Allah dimuka bumi. Dialah Ribka yang dikemudian hari menjadi istri Ishak, anak Abraham. Hidup kita ada dalam tangan Tuhan, Ia tahu apa yang Ia lakukan terhadap kita, bahkan telah dipersiapkan-Nya rancangan yang indah, yakni rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari esok yang penuh pengharapan. Tapi untuk itu semua waktu dan saat ada ditangan Tuhan sendiri, dan Dia tahu kapan memunculkan kita. Penyerahan diri menjadi dasar untuk hidup dalam rancangan Tuhan samp ai Ia menganggap sudah waktunya untuk mengangkat dan menampilkan kita sebagai alat bagi kemuliaan –Nya. Kita memang tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir, tapi yakinlah bahwa sekalipun melalui proses menyakitkan, semua akan dibuatnya indah pada waktu nya (Pengkhotbah 3:11).

RANCANGAN-NYA INDAH BAGI YANG MEMPERCAYAI-NYA.

23 March 2011

Ujian kepercayaan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

RABU, 23 MARET 2011

KEJADIAN 22:1-19

“Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaku” (ayat 12).  Ketaatan Abraham telah teruji, ia telah meninggalkan sanak saudaranya dan juga negerinya sesuai dengan panggilan Allah atas dirinya dan Allah sendiri juga sudah memberkatinya bukan hanya kelimpahan berkat jasmani, tapi juga janji akan hadirnya seorang anak laki-laki yang menjadi ahli warisnya. Dan setelah semua yang ia terima, Allah kembali menguji kepercayaan dan ketaa tan Abraham, Ia meminta miliknya yang paling berharga yakni anak satu-satunya, ahli warisnya, untuk dipersembahkan kepada-Nya. Semua berasal daripada-Nya, tanpa berbantah Abraham melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Sebagai sosok yang sedang dipersiapkan Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, Allah benar-benar memproses Abraham untuk itu, dan ternyata Abraham lulus dalam kesemuanya itu sampaipun harus mengorbankan anaknya sendiri. Kemuliaan yang dari atas, dari Allah, adalah kemuliaan yang dihasilkan melalui proses yang seringkali menyakitkan bagi kedaging an. Sementara bagi kita yang sedang dipersiapkan Allah dan harus mengalami proses, dituntut ketaatan dan kepercayaan kita kepadaNya, sampaipun pada titik harus kehilangan sesuatu milik yang kita anggap paling berharga. Tapi tidak akan mampu kita melepaskan milik yang paling berharga jika kita tidak benar-benar percaya kepada-Nya. Jika kita percaya kepada Tuhan, maka kita juga harus melakukan perintah-perintah-Nya yang membawa kepada hidup (Mazmur 119:66).

 SIAPA YANG PERCAYA KEPADA TUHAN TIDAK AKAN GELISAH.  

22 March 2011

Bukti penyertaan Tuhan ( Proof investments in GOD )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SELASA, 22 MARET 2011

KEJADIAN 21:22-34

“Oleh sebab itu bersumpahlah kepadaku disini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah engkau harus berlaku kepadaku…”(ayat 23).  Allah memberkati Abraham dalam segala hal dengan limpahnya, baik lembu sapi dan kambing dombanya, bahkan juga orang-orangnya, sehingga kelihatanlah bahwa ia telah menjelma menjadi suatu kelompok dengan kekua tan yang besar. Hal itu membuat Abimelekh, raja Gerar di tanah Negeb, negeri dimana saat itu Abraham tinggal sebagai orang asing, segera mengambil inisiatif untuk mengadakan perjanjian damai denganya. Abimelekh sadar bahwa Abraham adalah pribadi yang disertai dan diberkati Allah. Sebagai orang yang tahu berterimakasih, maka sekalipun Abimelekh yang datang dan meminta perjanjian damai,  Abraham lah yang memberikan domba dan lembu sebagai tanda perjanjian. Kesempatan itu juga menjadi waktu yang tepat bagi Abraham untuk menyampaikan keberatanya perihal sumur yang digalinya tapi dirampas oleh hamba-hambanya Abimelekh. Jika Allah dipihak kita, siapakah lawan kita? Dia  adalah Allah yang setia dengan janji dan firman-Nya, Dia juga pasti akan menggenapinya. Tapi ingatlah juga bahwa jika Tuhan sudah menggenapi janji-Nya, memberkati kita dengan berkelimpahan, jangan menjadi arogan dan memandang rendah yang lain, ingat Dia yang memberi Dia juga bisa mengambilnya kembali. Inilah sikap yang seharusnya kita kedepankan, yakni biarlah nama Tuhan dipermuliakan dalam segala kebera daan kita sehingga dunia melihat bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha kuasa. Hidup lah dalam takut akan Tuhan dan dalam tanda penyertaan-Nya, dengan demikian Ia akan menyempurna kan segala pekerjaan baik yang kita lakukan sehingga nama Tuhan dimuliakan didalam kita (1 Tesalonika 1:11-12).

SETIAP LIDAH AKAN MENGAKU BAHWA YESUS ADALAH TUHAN.  

TUESDAY, 22 MARCH 2011

21:22-34 EVENTS

“Therefore, swear to me here by God that you will not cheat me, or my children, or to my grandchildren, according to the friendship that I do unto you, so you must apply to me …” (verse 23). God blessed Abraham in all things in abundance, both cattle and sheep, even people, so it appears that he has been transformed into a group with great strength. It made Abimelech king of Gerar in the land of the Negev, the land where Abraham was living as a foreigner, immediately took the initiative to convene a peace treaty with him. Abimelech knew that Abraham was a person who accompanied and blessed by God. As someone who knows grateful, so even if Abimelech who came and asked for peace treaty, Abraham was the one who gives the sheep and cattle as a sign of the covenant. The opportunity was also a good time for Abraham to submit objections regarding the dug wells but seized by his servants Abimelech. If God is on our side, who are our opponents? He is faithful to the promises of God and His Word, He will surely fulfill. But remember also that if God had fulfilled His promise, bless us with abundance, do not be arrogant and look down on others, remember the One who gives He can also take it back. This is the attitude that we should show, which let the name of the Lord be glorified in all our existence so that the world sees that the God we worship is God Almighty. Life is the fear of God and in His inclusion marks, thus he will not perfected all our good work so that the name of the Lord be glorified in us (1 Thessalonians 1:11-12).

EVERY TONGUE WILL CONFESS THAT JESUS IS LORD

21 March 2011

Atas dasar kebenaran ( The Truth Basic )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SENIN, 21 MARET 2011

KEJADIAN 21:8-21    

“Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (ayat 10).  Empat belas tahun beda usia antara Ismael dengan Ishak dan itu sudah cukup membuat Sara berpikir masalah ahli waris. Secara harafiah wajarlah bila Sara tidak menghendaki anak seorang budak yang pernah mengang gap rendah dirinya menjadi ahli waris bersama dengan anak kandungnya, maka iapun meminta kepada suaminya untuk mengusir hamba perempuan tersebut beserta dengan anaknya supaya anak hamba ter sebut tidak turut menjadi ahli waris. Kelihatannya kejam, tapi itu adalah usaha Sara untuk melindungi hak anaknya. Abraham tidak bisa menolaknya karena dari pihak Allah sendiri mengijinkan hal itu terjadi , sebab memang dari Ishaklah yang akan disebut sebagai keturunannya. Dan karena hal itu juga adalah seiijin Allah, maka Allahpun juga bertanggungjawab atas kelangsungan hidup Hagar dan keturunannya. Dipadang gurun Allah menyatakan pemeliharaan-Nya atas Hagar dan anaknya hingga anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang pemanah. Ada saat dan juga batas untuk kita bertindak tegas diatas kebenaran dengan berkata tidak atas sesuatu yang membuat kita bisa kehilangan hak menjadi sorang ahli waris dari janji Allah. Dan saat kita harus bertindak tegas tersebut seringkali diiringi dengan perasaan tidak nyaman dan kasihan secara manusiawi, tapi percayalah bahwa menjadi seorang ahli waris bukanlah soal perasaan, tapi soal keberanian berdiri diatas kebenaran Allah. Ingat dan sadarlah bahwa ada ancaman atas hak kita menjadi ahli waris, maka kita juga harus berani berkata tidak untuk sesuatu diluar kebena ran walau bertentangan dengan hati nurani dan perasaan. Akhirlah yang menentukan apakah kita tetap mendapat bagian dari apa yang dijanjikan Allah, maka teguhlah dalam iman dan kebenaran (Ibrani 3:14).

BERANI KATAKAN TIDAK PADA DOSA DAN KEJAHATAN

MONDAY, 21 MARCH 2011

21:8-21 EVENTS

Said Sara to Abraham:” Expel the slave woman and her child, because children of this servant will not inherit together with my son Isaac “(verse 10). Fourteen-year age difference between Isaac and Ishmael with it is enough to make Sarah think the problem heirs. Literally it is natural when Sara does not want the son of a slave who has a low gap considers himself to be heir together with his biological child, so she began asking her husband to drive out the slave woman with her son to call the son of the slave was not heirs. It seems cruel, but it is Sara’s effort to protect the rights of children. Abraham could not resist it because of God’s own party allowed it to happen, for so from Ishaklah which will be referred to as the offspring. And because it also is were allowed by God, then God was also responsible for the survival of Hagar and his descendants. Wilderness God revealed His care for Hagar and her son until the child grew and became an archer. There are times and also the limit for us to act decisively over the truth by saying no to something that allows us to lose the right to be alone the heir of the promises of God. And when we need to act decisively is often accompanied by feelings of discomfort and compassion in human, but believe that being an heir is not a matter of feeling, but a matter of courage stands on the righteousness of God. Remember and realize that there are threats to our right to be an heir, then we must also dare to say no to something beyond the truth even if contrary to his conscience and feelings. End that determines whether we still get a share of what is promised by God, then, keep the faith and truth (Hebrews 3:14).

DARE TO SAY NO TO SIN AND CRIME.

16 March 2011

Peduli dengan doa

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian

RABU, 16 MARET 2011

KEJADIAN 19:1-29

“Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu” (ayat 29). Allah siap untuk menunggangbalikkan Sodom dan Gomora karena semua yang orang keluhkan tentang kota-kota lembah Yordan itu benar adanya. Lagipula memang tidak ada sepuluhpun orang benar di Sodom, tapi hanya empat orang, yakni Lot, isteri nya dan kedua anak perempuannya. Dan sebagaimana permintan Abraham bahwa tidak mungkin bagi Allah untuk melenyapkan orang benar bersama dengan orang fasik, maka dengan perantaraan dua malaikat-Nya yang akan menjalankan penghukuman, Allah lebih dahulu menyelamatkan Lot dan keluar ganya. Bukan semata karena apa yang telah di perbuat atau kebenaran Lot sendiri ia diselamatkan, tapi lebih dikarenakan kasih dan hubungan Allah dengan Abraham, Allah ingat akan Abraham dan perminta annya. Lot dan keluarganya sungguh-sungguh dikaruniai belas kasihan oleh Allah karena Abraham, sehingga sekalipun ia lebih memilih kota terdekat daripada menuruti perintah lari ke gunung, perminta annya tersebut dikabulkan. Tapi sayang isterinya tidak taat, ia menoleh kebelakang lalu menjadi tiang garam. Memang Allah tahu menyelamatkan orang benar dan menyimpan orang jahat untuk hari pehuku man, tapi mari kita juga menyadari bahwa tidak semata karena diri kita sendiri kita luput dari perkara yang jahat, ada pribadi-pribadi yang mengasihi kita yang turut andil dengan doa-doa yang dipanjatkan nya bagi kita. Oleh sebab itu jangan egois, marilah kita saling mendoakan satu dengan yang lainnya, karena doa orang yang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16).

BERTEKUN DAN BERSEHATILAH DALAM DOA.

15 March 2011

Miliki KerinduanNya

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian

SELASA, 15 MARET 2011      

KEJADIAN 18:16-33

“Katanya: ”Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati disana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu” (ayat 32). Penundukkan dan ketaatan Abraham pada perintah dan kehendak Tuhan menjadikanya memiliki hubung an yang dekat dan erat dengan-Nya. Hal itu terbukti ketika Tuhan hendak menjatuhkan hukuman atas Sodom dikarenakan sudah sangat berat dosanya dan Ia sendiri telah turun untuk melihat apakah benar demikan adanya di Sodom, Tuhan tidak menyembunyikan rencana-Nya tersebut, Ia memberitahukannya kepada Abraham. Dan Abraham sendiri juga berani untuk menyatakan keprihatinannya atas rencana Tuhan tersebut dan mencoba melunakkan hati-Nya dengan menyatakan bahwa di Sodompun juga ada orang benar. Dari mulai lima puluh sampai pada tinggal sepuluh orang benar Abraham meminta Tuhan untuk memperhatikan mereka sehingga Iapun tidak jadi membinasakan Sodom dan Gomora, dimana Lot , kemenakannya tinggal. Tuhan mendengarkan permintaan Abraham, tapi sayang, memang di Sodom tidak ada sekalipun hanya sepuluh orang benar. Apa yang bisa kita buat dan sejauh mana kepedulian kita akan nasib jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan dan sedang berjalan menuju pada kebinasaan? Paling tidak kita bisa berdoa untuk keselamatan jiwa-jiwa tersebut. Memang Tuhan tidak memberitahukan pada kita bahwa Ia hendak membinasakan suatu kota seperti Ia memberitahukannya pada Abraham, tapi kita tahu kebenarannya dalam firman Tuhan bagaimana nasib mereka yang masih hidup diluar Tuhan, yakni kebinasaan. Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkanlah orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pembantian, jangan bersikap masa bodoh (Amsal 24:11-12).

 KEHENDAK ALLAH ADALAH: KESELAMATAN SEMUA ORANG.