Get Adobe Flash player
25 August 2010

Tetap Kuat didalam Tuhan ( Be still strong in The Lord )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

imagepostRABU, 25 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 3:10-17

“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu” (ayat 14).   Kejahatan manusia yang terus berkembang menimbulkan persoalan tersendiri bagi orang percaya, yakni peng-aniayaan. Siapa yang mau beribadah kepada Kristus Yesus harus membekali diri dengan pikiran siap menderita. Tapi pen deritaan itu baik bagi orang percaya, sebab justru karenanya iman orang percaya mengalami pertumbuhan yang mendewasakan. Memang ada dua kemungkinan yang bisa ditimbulkan oleh penderitaan dan pengani ayaan, yakni kedewasaan iman dan murtad. Untuk itu jika seorang ingin selamat dari kemurtadan dan mengalami pertumbuhan iman, sikap dalam menghadapi aniaya tersebut sangat menentukan. Dan untuk itu Paulus menasihatkan kepada Timotius untuk tetap memegang kebenaran yang telah diterima dan diyakininya dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya. Dan kebenaran itu sendiri juga bisa digali melalui pembacaan Kitab Suci. Sementara segala tulisan yang diilhamkan Allah dan dituliskan dalam Kitab Suci itu sendiri juga bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelaku an dan mendidik orang dalam kebenaran. Setiap kebenaran yang kita dengar bila kita terima dengan hati yang terbuka akan mengerjakan hidup dan menghasilkan kuasa dan kekuatan untuk kita dapat menghadapi berbagai bentuk penderitaan dan tantangan. Untuk sangat perlu kita menghargai kebenaran yang kita dengar maupun yang bisa kita baca sendiri dalam alkitab. Jika tantangan datang pegang kebenaran tersebut, maka pembelaan Allah akan dinyatakan. Ada hasil yang besar kita peroleh dalam Kristus asal saja kita tetap teguh berpegang pada keyakinan iman sampai pada akhirnya (Ibrani 3:14).

 JANGAN KEHILANGAN PEGANGANMU YANG TEGUH.

 WEDNESDAY, 25 AUGUST 2010

2 TIMOTHY 3:10-17

 “But thou shalt stick to the truth which thou hast received and you believe, always remember the people who have taught you” (verse 14). Growing human evil raises its own problems for the believers, namely persecution. Who wants to worship Jesus Christ must equip ourselves with a mind ready to suffer. But the pen is good for people suffering believe, therefore faith precisely because people believe a mature growth. Indeed there are two possibilities that could be caused by the suffering and persecution, the maturity of faith and apostasy. Therefore if one wants to survive the growing apostasy and faith, the attitude in the face of persecution is very decisive. And for that Paul’s counsel to Timothy to remain in the truth that has been accepted and believed to always remember the people who have been taught. And the truth itself can also be explored through the reading of Scripture. While all the writings inspired by God and written in the Bible itself is also useful for teaching, said errors, improve behavior and training in righteousness. Every truth we hear when we receive with an open heart will live and work on strength to generate power and we can deal with various forms of hardship and challenges. For the truth is we need to appreciate what we heard and we can see myself in bible. If the challenge comes grasp these truths, then the defense of God will be revealed. There are tremendous results we get in Christ so long as we remain firmly adhered to the belief of faith to the end (Hebrews 3:14).

YOU DO NOT LOSE FIRM GRIP.

24 August 2010

Perlu Keseimbangan ( Need Balanced )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingul Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

SELASA, 24 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 3:1-9

“Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu” (ayat 5).  Kebobrokan manusia bukan hanya terjadi di masa sekarang ini, sejak jaman Timotius melayanipun hal itu sudah ada.  Tidak kurang dari delapanbelas macam dosa dan kejahatan yang Paulus tuliskan sedang membelenggu dan menguasai hidup manusia. Sungguh suatu keadaan yang mengerikan jika sampai hal-hal tersebut ada pada satu pribadi, dia akan tampil menjadi seorang yang benar-benar jahat, tidak memiliki hati nurani. Kesukaran yang timbul adalah akibat dari manusia sendiri yang mau diperhamba oleh bermacam-macam dosa tersebut. Mungkin mereka beribadah, tapi ibadah yang dilakukan tidak lebih dari sekedar topeng identitas agama, mereka sesungguhnya sedang  memungkiri kekuatannya. Nasehat Paulus dalam menghadapi orang yang mengaku diri beribadah tapi juga terus melakukan dosa dan kejahatan adalah, jaga diri, dan jikalau perlu jauhi mereka. Ibadah adalah wujud pengakuan kita akan Allah dan bahwa kita mutlak membutuhkan Dia. Dan ibadah akan memiliki bobot manakala setiap orang yang melakukannya dan berani menyebut nama Tuhan juga mau meninggal kan kejahatan. Maka, bila ada orang yang mengaku diri beribadah tapi juga terus melakukan dosa dan keja hatan, pada dasarnya mereka telah menghina dan menduakan Allah. Ibadah orang percaya mengandung rahasia besar, maka tidak boleh dipermain-mainkan. Maka jika kita mau beribadah kepada Allah, marilah kita juga mengakui kekudusan-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya serta menempatkan Dia benar-benar sebagai Tuan kita. Ibadah memerlukan pengekangan lidah dan penguasaan diri, maka jika kita mengaku beribadah tapi tetap hidup menurut hawa nafsu, sia-sialah ibadah kita (Yakobus 1:26).

 BERIBADAH  DENGAN HATI DAN BUKAN DENGAN MULUT SAJA.

  TUESDAY, 24 AUGUST 2010 

2 TIMOTHY 3:1-9

 “Outwardly they run their worship, but in fact they deny its power. stay away from them “(verse 5). Human depravity is not just happening at the present time, since the era of Timothy serving it already exists. No fewer than eighteen different kinds of sins and crimes that Paul wrote are shackled and control of human life. What a terrible situation when it comes to these things exist in one person, he would appear to be a truly evil, no conscience. The difficulty that arises is the result of the man himself who want on enslaved by all kinds of sins are. Maybe they worship, but worship is done no more than just mask the identity of religion, they’re actually deny its power. Paul’s advice in dealing with people who claim to worship but also continue to sin and evil are, look after yourself, and if need to stay away from them. Worship is a manifestation of God and our recognition that we absolutely needed him. And worship will have weight when every person who did it and dared mention the name of God also want to die a crime. So, if there are people who claim to worship but also continue to sin and evil evil, basically they have been insulted and timing of God. Religious people believe contains the great secret, it should not be toyed with. So if we want to worship God, let us also recognize his holiness and submit to His will and really put him as our Master. Worship requires self-restraint and mastery of the tongue, so if we claim to worship but to stay alive by lust, our worship is vain (James 1:26).

WORSHIPPING WITH HEART AND NOT JUST WITH THE MOUTH

21 August 2010

Digerakkan Tujuan ( Purpose Driven )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

renunganSABTU, 21 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 2:1-13

 “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan kekal” (ayat 10).   Semangat pelayanan yang berkobar dalam diri Paulus terus ditularkannya kepada anak rohaninya, Timotius. Untuk keefektifan pelayanan berita Injil, sebagaimana Paulus berani meneruskan dan mempercayakan pelayanan itu kepada Timotius, maka iapun juga berharap bahwa Timotius dapat juga mempercayakan pelayanan itu kepada mereka yang dapat dipercayai. Siap melayani dalam pemberitaan Injil berarti ia adalah prajurit Kristus yang juga siap menderita bagi-Nya. Tujuan pelayanan Paulus adalah keselamatan jiwa-jiwa, untuk itulah ia rela walau harus diperlakukan seperti penjahat dan semangatnya tidak menjadi padam karenanya. Ia tidak memusingkan dirinya sendiri, baginya keselamatan jiwa-jiwa adalah hal yang terpenting. Maka dengan mengambil contoh seorang prajurit, seorang olahragawan dan seorang petani, Paulus mendorong Timotius sebagai seorang pelayan Tuhan untuk juga lebih memperhatikan keselamatan jiwa-jiwa daripada memperhatikan dirinya sendiri. Ada upah yang besar dan indah bagi seorang prajurit Kristus yang rela menyerahkan hidupnya demi keselamatan jiwa-jiwa yang lain. Miliki prioritas dan tujuan hidup dan biar kan tujuan itu yang menggerakkan hidup kita. Dan jika hidup kita digerakkan oleh tujuan, maka kita akan menjadi pribadi-pribadi yang tidak mudah menyerah menghadapi berbagai bentuk tantangan sekalipun harus menderita karenanya. Maka temukan tujuan Allah dalam setiap panggilan-Nya yang berbeda-beda pada setiap orang. Berjuanglah untuk mengetahui kehendak dan tujuan Allah dalam panggilan-Nya, maka kekuatan kuasa kemuliaan-Nya akan memampukan kita menanggung segala sesuatu dengan sabar (Kolose 1:9-11).

TURUTLAH BERLARI DENGAN TUJUAN YANG PASTI.

SATURDAY, 21 AUGUST 2010

2 TIMOTHY 2:1-13

“Therefore I endure all things for God’s chosen people, so that they may have salvation in Christ Jesus with eternal glory” (verse 10). The spirit of service that burned inside Paul passed on to his spiritual children, Timothy. For the effectiveness of the news service of the Gospel, as Paul dared to entrust the ministry to continue and to Timothy, so he also hoped that Timothy can also entrust the ministry to those who can be trusted. Ready to serve in preaching the Gospel means he is a soldier of Christ who is also prepared to suffer for Him. Paul’s ministry purpose is the salvation of souls, for which he was willing even to be treated like a criminal and his spirits are not to be extinguished by it. It does not bother himself, for him the salvation of souls is paramount. So by taking the example of a soldier, a sportsman and a farmer, Paul encourages Timothy as a minister of God to also pay more attention to the salvation of souls rather than attention to himself. There is a large and beautiful wages for a soldier of Christ who willingly gave his life for the salvation of the souls of others. Have priority and purpose in life and not let that goal that drives our lives. And if our lives are driven by goals, then we will be individuals who are not easily give up despite the challenges facing various forms must suffer for it. So discover God’s purpose in each of his calls different to everyone. Strive for knowing God’s will and purpose of his call, then the glory of His mighty power will enable us to patiently endure all things (Colossians 1:9-11).

PARTICIPATE RAN WITH SURE THAT PURPOSE      

20 August 2010

Pasti Diperlengkapi ( Equipped sure )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) BY Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

kasih001JUM’AT, 20 AGUSTUS 2010

  2 TIMOTIUS 1:3-18

 “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (ayat 7).   Sebagaimana dalam setiap suratnya, ucapan syukur Paulus sering disertai dengan berbagai bentuk nasehat, diantaranya untuk bertekun, atas kasih karunia, serta doa. Jerih lelah dan air mata Timotius yang menunjukkan kesungguhannya dalam pelayanan senantiasa mem bangkitkan ucapan sukur Paulus kepada Allah setiap saat ia mengingatnya. Dan kepada Timotius, Paulus mengingatkan bahwa keberadaannya dalam pelayanan juga adalah buah iman dari nenek dan ibunya. Untuk itulah Paulus mendorong Timotius mengobarkan karunia Allah yang ada padanya. Tidak ada alas an untuk malu dan takut bersaksi tentang Tuhan Yesus Kristus sebab Allah sendiri telah memberikan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. Paulus mencontohkan dirinya sendiri bagaimana demi Injil ia rela menderita dan ia tidak menjadi malu karenanya. Kristus Yesus yang telah memanggilnya dengan panggilan kudus dan menyelamatkannya bukan karena perbuatannya melainkan karena kasih karunia, Dia jugalah yang telah mempercayakan Injil kepada Paulus untuk diberitakan kepada segala bangsa. Berdasar kenyataan yang tak terbantahkan tersebut, Paulus menasihatkan Timotius untuk meme gang ajaran yang telah diterimanya dan memeliharakan harta yang indah yang dipercayakan kepadanya. Setiap orang kepunyaan Allah diperlengkapi dengan segala yang baik untuk maksud dan rencana Allah, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi yang lain. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk berdiam diri dan tidak berbuat sesuatu untuk mempermuliakan Tuhan. Asal saja kita mau melakukan perkara untuk kemuli aan-Nya, maka Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita (1 Petrus 5:10). TIDAK ADA PRAJURIT BERPERANG DENGAN BIAYA SENDIRI.

Friday, 20 AUGUST 2010

  2 TIMOTHY 1:3-18

 “For God gave us not a spirit of fear, but a spirit of power, love and order” (verse 7). As in every letter, in Paul’s thanksgiving often do so with various forms of advice, including to endure, the grace, and prayer. Labors and tears Timothy shows his sincerity in the service of thanksgiving, Paul continues to raise to God every time he remembered. And to Timothy, Paul warns that its presence in the ministry also is the fruit of faith from her grandmother and mother. Paul encourages Timothy to rekindle that bounty from Allah. There is no reason for shame and fear testify about the Lord Jesus Christ because God himself has given a spirit of power, love, and order. Paul himself pointed out how he was willing to suffer for the sake of the gospel and he was not to be ashamed of it. Christ Jesus, who had called him with the holy call and rescued not by works but by grace, He is also the gospel that has been entrusted to Paul for the hospitality extended to all nations. Based upon these undisputed facts, Paul advised Timothy to hold gang which has received teachings and preserve a beautiful treasure that was entrusted to him. Every person belongs to God all that well equipped for the purpose and plan of God, both for those concerned or for others. So there is no reason for us to sit idly by and does nothing to magnify the Lord. If only we would do things for His glory, then God will complete, confirm, confirm and strengthen us (1 Peter 5:10).

 NO WARRIOR FIGHT WITH THEIR OWN COST.

19 August 2010

Kenali tugas kita ( Recognize our task )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

berdoaKAMIS, 19 AGUSTUS 2010

2 TIMOTIUS 1:1-2                                                                           

“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus” (ayat 1).  Kembali dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, dengan yakin Paulus menyatakan kerasulannya. Paulus dapat bersaksi bahwa oleh kehendak Allahlah ia dipanggil dan menjadi rasul Kristus Yesus. Dan bukan hanya sadar dengan panggilan kerasulannya, Paulus juga sadar bahwa dibalik jabatan kerasulan itu ada tanggungjawab yang besar yang dia emban, yakni memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. Dan Paulus tidak akan  memiliki keberanian untuk memberitakan janji tersebut jika ia sendiri belum mengalaminya. Tapi karena ia sendiri telah mengalaminya, maka ia bisa memberi kesaksian yang benar dan hidup. Sementara itu ia menganggap Timotius bukan hanya sebagai rekan sepelayanan tapi juga sebagai anak imannya yang kekasih. Dan tidak lupa dalam setiap suratnya, Paulus selalu menyertakan berkat penyertaan, kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Kristus Yesus. Setiap orang percaya juga harus menyadari akan panggilannya bahwa sebagai orang percaya kita dipanggil bukan hanya untuk percaya dan beroleh anugerah keselamatan, tapi juga ada tanggungjawab dalam panggilan tersebut. Jangan jadi orang percaya yang mau enaknya saja sementara tanggungjawab didalamnya seperti dianggap tidak ada. Ketahuilah bahwa kita dipanggil dipanggil dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dan menjadi imam-imam Allah yang harus melayani Dia dan juga memberitakan segala perbuatannya yang ajaib (1 Petrus 2:9-10).  Adakah sekarang kita sudah menjadi saksi-Nya dan memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib? Jangan takut dan malu dalam menjalankan tanggungjawab iman kita karena penyertaan, kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera menjadi bagian kita.

KERJAKANLAH KESELAMATANMU DENGAN TAKUT DAN GENTAR.

 THURSDAY, 19 AUGUST 2010

 2 TIMOTHY 1:1-2

 “From Paul, an apostle of Christ Jesus by the will of God to preach the promise of life in Christ Jesus” (verse 1). Back in a second letter to Timothy, Paul expressed his ministry with confidence. Paul could testify that he was summoned by the will of God and an apostle of Christ Jesus. And not only aware of his apostolic call, Paul was also aware that behind the ministry’s position that there is a big responsibility that he’s waistband, which proclaim the promise of life in Christ Jesus. And Paul would not have the courage to proclaim that promise if he himself has not experienced it. But because he himself has experienced it, then he could give a true and living testimony. Meanwhile, he considered not only as a colleague Timothy minister but also as a beloved child’s faith. And do not forget in all his letters, Paul was always include the blessing of investment, grace, mercy and peace from God the Father, and of Christ Jesus. Every believer must also be aware of the vocation that as believers we are called not only to believe and enjoy the gift of salvation, but also a responsibility of the call. Do not be delicious just want to believe that while the responsibilities therein as deemed absent. Know that we are called be called from the darkness into the light of his magic and became the priests of God who must serve Him and preach everything he does is magic (1 Peter 2:9-10). Is there now we have become witnesses of his deeds and preaching his magic? Do not be afraid and ashamed of our faith in carrying out the responsibility for inclusion, grace, mercy and peace be our part.

WORK SALVATION WITH FEAR AND TREMBLING.

18 August 2010

Pertandingan Wajib ( Must Match )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB  Editorial Staff

RABU, 18 AGUSTUS 2010

  1 TIMOTIUS 6:11-21

“Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar didepan banyak saksi” (ayat 12).  Bukan hanya jemaat yang harus menjaga dirinya dari hal cinta akan uang, tapi Timotius sendiri sebagai manusia Allah juga harus menjauhinya. Hidup Timotius sebagai hamba Allah bukan untuk berlomba mengumpul kan kekayaan materi, tapi berlomba dalam pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal . Bertanding dalam pertandingan iman berarti mau menuruti segala perintah dan kebenaran firman Tuhan, hingga saat Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya. Dan jika ada pertandingan yang diwajibkan untuk semua orang percaya, maka secara khusus diberikan nasehat kepada orang-orang kaya supaya tidak bersandar pada kekayaannya. Mereka yang kaya secara materi sebaliknya harus bisa memanfaatkan kekayaannya sebagai modal untuk pertandingan iman yang diwajibkan, yakni dengan menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi, dan bukan menjadi tinggi hati karena kekayaannya. Dengan demikian orang kaya tersebut mengumpulkan suatu harta untuk hidup diwaktu yang akan datang, untuk mencapai hidup yang sebenarnya. Ada perlombaan jasmani, ada pula perlombaan rohani. Perlombaan jasmani yang sehat misalnya perlombaan olahraga yang hanya diikuti oleh para atlet. Tapi perlombaan rohani pesertanya adalah semua orang beriman dan itu sifatnya wajib. Sebagai atlet rohani kita juga mempunyai tujuan akhir, yakni menjadi pemenang dan dapat mengakhiri pertandingan dengan baik. Arahkan pandangan ke depan, pada kekekalan. Bertandinglah begitu rupa dalam pertandingan iman yang diwajibkan, bertanding lah dengan tujuan supaya kita tidak sia-sia melakukannya sehingga kita memperoleh mahkota abadi yang telah disediakan (1 Korintus 9:24-26).

BERJUANGLAH UNTUK MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK.

 WEDNESDAY, 18 AUGUST 2010

 1 TIMOTHY 6:11-21

Competed in a game is the true faith and grab the eternal life ,cause for that purpose, and thou hast been called the proper pledge pledged in front of many witnesses” (verse 12). Not only the church that must protect themselves from this love of money, but Tim himself as a man of God may be away from it. Timothy’s life as a servant of God not for his race to accumulate material wealth, but competed in the match to win the true faith and eternal life. Compete in a game of faith means to obey all the commandments and the truth of God’s word, until now the Lord Jesus revealed Himself. And if there is a match that is required for all believers, it is specifically provided advice to rich people so as not to rely on his fortune. They are rich in materials otherwise be able to utilize his wealth as a capital to match the faith that is required, namely to be rich in good deeds, like giving and sharing, and not become proud because of his wealth. Thus the rich man to collect a treasure for life perfect time to come, to achieve real life. There are physical competitions, there is also a spiritual race. The competition is a healthy physical exercise such as race, followed only by the athletes. But the spiritual race participants are all believers and that are required. As our spiritual athletes also have the ultimate goal, namely to be a winner and can end a game properly. Point your outlook on eternity. Compete in a game is so much faith is required, is to compete with the goal that we should not do so in vain we obtain eternal crown that has been provided (1 Corinthians 9:24-26).

FIGHT FOR THE GAME WITH GOOD ENDING.

17 August 2010

Perhambaan Modern ( Modern Slavery )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

IMG_5095SELASA, 17 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 6:2-10

“Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (ayat 10).  Apa yang telah Paulus tuliskan, harus Timotius ajarkan dan dinasihatkan kepada jemaat demi kebaikan semua orang. Tapi jika ada yang tidak mau menerimanya, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Orang yang demikian hanya pandai mencari soal dan bersilat kata yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga dan juga percekcokan diantara orang-orang yang hanya mengejar keuntungan materi, terma suk dalam hal ibadah. Sekalipun ibadah memang membawa keuntungan, tapi itu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang hatinya bebas dari roh tamak dan cinta akan uang. Tidak ada keuntungan dari ibadah yang akan didapat oleh mereka yang dikuasai oleh roh tamak, sebaliknya mereka justru akan masuk dalam pen cobaan, kedalam jerat dan berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan. Mereka yang cinta uang sesungguhnya sedang menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka yang menenggelamkannya dalam keruntuhan dan kebinasaan. Tapi dengan menyadari bahwa seorang tidak membawa apa-apa ketika lahir kedunia dan tidak akan membawa apa-apa pula keluar, dia akan merasa cukup dengan pakaian dan makanan yang ada padanya sehingga dapat beribadah dengan tulus ikhlas. Orang bijak ketika melihat bahaya pasti akan menghindar, tapi orang bodoh terus melaluinya dan mendapat celaka. Jika kita tahu bahwa cinta uang hanya akan membawa kita pada pencobaan yang menenggelamkan kedalam berbagai duka, maka jika kita bijak pasti tidak mau dikuasai oleh roh tamak. Jangan mau diperhamba oleh uang, cukupkan diri dengan apa yang ada dan bersyukurlah karena Allah sekali-kali tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita (Ibrani 13:5).

HIDUPLAH BERPADAN DENGAN APA YANG ADA.

 TUESDAY, 17 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 6:2-10
“Because the root of all evil is the love of money. Because the hunt for the money some people have strayed from the faith and torturing him with all kinds of grief “(verse 10). What had Paul write, should be taught and advised Timothy to the church for the good of everyone. But if anyone does not want to accept it, he is a man who pretended to know when I did not know anything. Such people only look for problems and clever tongue that causes envy, injury, slander, suspicion and strife among the people who are only after material gains, including in terms of worship. Though worship is to bring profit, but it can only be enjoyed by those whose hearts are free from the spirit of greed and love of money. There is no benefit from the worship which will be obtained by those who are ruled by rapacious spirit, otherwise they will actually go in the pen trials, into a trap and every kind of lust that emptiness and hurt. Those who love the real money was torturing himself with every kind of grief that sunk in ruin and destruction. But by realizing that one does not bring anything when born into the world and will not take anything too out, she will feel enough with clothes and food there so that they can worship him sincerely. A wise man when he saw the danger must be avoided, but stupid people continue to go through and get hurt. If we know that the love of money will only lead us to the temptation of sinking into a variety of grief, then surely if we are wise not dominated by greedy spirit. Do not want on enslaved by money, ends with what is there and give thanks because God will never leave and leave us (Hebrews 13:5).

LIVING COMMENSURATE WITH WHAT’S ALREADY THERE

16 August 2010

Didasari kemurnian ( Based on The Purity )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

bird-wings_MG0885SENIN, 16 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 5:17-6:2

 “Janganlah engkau terburu-buru menumpangkan tangan atas seseorang dan janganlah terbawa-bawa kedalam dosa orang lain. Jagalah kemurnian dirimu” (ayat 22).  Timotius tidak dapat menggandar pelaya nan seorang diri, ada orang-orang yang diangkat dari antara jemaat untuk membantu tugas-tugasnya dalam melayani jemaat. Untuk itu Paulus memberikan petunjuk-petunjuk yang harus dilaksanakan baik olehnya maupun oleh jemaat. Pertama Timotius harus mengajar jemaat untuk bisa menghormati para penatua yang melayani mereka, dan dalam hal ini para penatua tersebut juga berhak menerima tunjangan. Seorang penatua tidak boleh dipersalahkan begitu saja oleh jemaat, tapi harus ada saksi dan bukti yang kuat. Berat tugas seorang penatua, maka Timotius tidak boleh terburu-buru mengangkat dan menumpangkan tangan untuk seorang penatua. Pengangkatannya harus mengacu pada syarat-syarat yang telah Paulus tuliskan sehingga Timotius bebas dari keberpihakan dalam mengangkat seorang penatua. Kunci sukses Timotius untuk itu semua adalah kemurnian hati, sehingga iapun juga tidak akan terpedaya oleh penampilan luar seseorang yang nampaknya begitu saleh tapi juga sedang menyimpan dosa yang belum kelihatan. Allah melihat hati setiap orang yang melayani-Nya, apakah dia sungguh-sungguh melayani dengan hati atau sekedar tampil supaya dilihat orang lain. Walau mengatasnamakan pelayanan, jika pelayanan itu dilaksana kan dengan keberpihakan atau memandang muka, sekali waktu pasti akan nyata isi hati yang bersangkutan . Tapi jika pelayanan dilakukan dengan kemurnian, sesederhana apapun bentuknya memiliki bobot yang besar dan pasti mempermuliakan nama Tuhan. Kemurnian hati bukan hanya menghindarkan kita dari masalah yang tidak perlu, tapi juga merupakan penarik berkat dan keadilan Allah (Mazmur 24:4-5).  KEMURNIAN LAHIR DARI PROSES PEMURNIAN DENGAN API.

MONDAY, 16 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 5:17-6:2

Thou shalt not hurry to lay hands on someone and do not carry brought into the sins of others. Keep yourself pure “(verse 22). Timothy can not do ministry alone, there are people who are appointed from among the congregation to help her duties in serving the community. For that Paul gives instructions that must be carried out either by him or by the congregation. First Timothy to teach the congregation to be able to respect the elders who serve them, and in this case, the elders are also entitled to receive benefits. An elder must not be blamed for granted by the church, but have no witnesses and evidence. Heavy duty an elder, so Timothy must not hurry up and put his hands to an elder. His appointment must be based on the terms that Paul wrote that Timothy free of partisanship in lifting an elder. Timothy successful key to it all is purity of heart, so that he himself will also not be deceived by outward appearance someone who seems so pious but also save the sin that is not visible. God sees the hearts of people who serve him, whether he truly serve with your heart or just appear to be seen of others. While on behalf of service, if service is not performed by partisanship or partiality, it would have real time the relevant contents of the liver. But if the services performed by the purity, whatever its form is as simple as having a large weight and would magnify the name of God. Purity of heart not only keep us from problems that are not necessary, but also an attractor blessing and justice of God (Psalm 24:4-5).

  PURITY BORN FROM PURIFIED PROCESS WITH FIRE.

14 August 2010

Kehidupan para Janda ( Living of Widows )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

SABTU, 14 AGUSTUS 2010

1 TIMOTIUS 5:3-16

 “Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela” (ayat 7).  Selain dituntut untuk menghormati orang yang lebih tua darinya, Timotius juga harus menaruh hormat dan memberi perhatian terhadap masalah janda-janda. Timotius harus menggolong kan janda-janda diantara jemaat, karena perhatian kepada merekapun juga berbeda dalam arti positif. Janda yang memang benar-benar layak mendapat perhatian dan harus ditopang adalah mereka yang sudah lanjut dan tidak memliki sanak yang bisa memeliharanya dan ia sendiri hidup dalam perbuatan baik. Sedang bagi janda yang masih memiliki keluarga, pertama-tama keluarganyalah yang harus memperhatikannya sehingga ia tidak menjadi beban jemaat. Dan untuk janda-janda muda, adalah lebih baik kalau mereka itu kawin lagi, bukan hanya karena kebutuhan jasmani dan biologis, tapi juga terlebih supaya mereka tidak menjadi orang yang hanya bermalas-malas dan mencampuri urusan orang lain sehingga bisa menimbulkan gesekan yang tidak perlu terjadi ditengah-tengah jemaat. Status sebagai janda bukan alasan untuk hidup menurut maunya sendiri, tapi harus tetap memperhatikan rambu-rambu supaya mereka hidup dengan tidak bercela. Janda yang tidak mau hidup sesuai aturan akan mudah untuk tersesat seperti beberapa contoh mereka yang telah jatuh. Tuhan memang yang menjadi suami dan pemelihara janda-janda, tapi tetap harus diingat bahwa untuk dapat menikmati janji Tuhan tersebut kehidupan yang tidak bercela harus tetap dikedepan kan. Allah bisa memakai siapa saja untuk menjadi alat kemulian-Nya, termasuk janda-janda, selama yang bersangkutan mau hidup menurut kehendak Tuhan. Dan bagi semua orang, jangan perlakukan seorang janda dengan tidak hormat, jangan menindas mereka dengan diskriminasi halus, hormatilah mereka (Zakharia 7:10).  

YANG MAHA KUASA MENJADI PELINDUNG BAGI PARA JANDA . 

 SATURDAY, 14 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 5:3-16

 “Warn this stuff to widows so they blameless” (verse 7). In addition to people who are required to respect the older, Timothy must also respect and give attention to the problem of widows. Timothy had to classify the widows among the congregation, because attention to the different in the sense that they are also positive. Widows who really deserve attention and should be supported are those who are well advanced and has no relatives who could take care of them and he himself lives in good works. As for the widows who still has family, first of all the families who have watched him so he is not a burden on the congregation. And for young widows, it is better if they were married, not just to meet the necessities of life and biological needs, but also advance so they would not be people who just laze and meddle in the affairs of others that can cause friction who do not need to happen in the middle of the church. Status as a widow is not a reason to live according to his own wants, but must still pay attention to signs that they may be blameless. Widows who did not want to live according to the rules will be easy to get lost like a few examples of those who have fallen. God did that become husband and guardian of widows, but still must remember that to be able to enjoy God’s promise is life without blemish, should remain an advantage. God can use anyone to be an instrument of His glory, including widows, during the relevant want to live according to God’s will. And for everyone, do not treat a widow with no respect, do not oppress them with subtle discrimination, respect them (Zechariah 7:10).

Protectors of the Almighty for widows

13 August 2010

Lakukanlah dengan Kasih ( Do It With Love )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By Jeremia Puji Santoso, WSB Editorial Staff

JUM’AT, 13 AGUSTUS 2010

LAKUKAN DENGAN KASIH

1 TIMOTIUS 5:1-2

 “Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegorlah dia sebagai bapa. Tegorlah orang-orang muda sebagai sadaramu..” (ayat 1).   Berbagai peraturan dalam jemaat demi tertibnya hidup berjemaat dan beribadah adalah baik, tetapi dalam pelaksanaannya juga harus bijaksana pula. Untuk itu Paulus mengingatkan Timotius  agar dalam pelayanannya tetap tidak mengesampingkan etika atau sopan santun. Adalah tidak layak bagi seorang pelayan muda seperti Timotius untuk menegor seorang yang lebih tua darinya selayaknya ia menegor orang sebayanya. Memang ia ber kewajiban untuk menyatakan apa yang salah dan membimbingnya dalam kebenaran, tapi hal itu harus tetap dikerjakan dalam kasih dan penghormatan. Beginilah sikap yang baik sebagai seorang pelayan, menganggap laki-laki yang tua sebagai bapa dan perempuan tua sebagai ibu, laki-laki muda sebagai saudara dan perempuan muda sebagai adik. Timotius juga harus bisa mengekang dan membatasi diri khususnya dalam sikapnya terhadap perempuan muda sebab jika tidak hal itu bisa mengganggu pelayanannya dan dalam melaksanakan berbagai kebijakan yang ada. Kedudukan yang lebih dari yang lain tidak boleh membuat kita memandang yang lain lebih rendah sehingga kita bisa bertindak semaunya. Sebaliknya kita harus sadar dengan semakin tinggi kedudukan ada tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadikan diri kita sendiri sebagai teladan dalam berbuat baik. Kunci untuk bisa menjadi teladan adalah hidup dalam kerendahan hati apapun status sosial dan kedudukan kita. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberi keteladanan dan bukan sekedar memberi perintah, dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan bukan untuk mencari keuntungan (1 Petrus 5:2-3).

SIAPA MEMBERI PIMPINAN, LAKUKAN DENGAN RAJIN.

Friday, 13 AUGUST 2010

1 TIMOTHY 5:1-2
“Thou shalt not be hard on older people, but rebuke him as a father. Rebuke young people as your brother .. “(paragraph 1). Various rules for the martinet in church life with the congregation and the worship is good, but in its implementation must also be wise as well. For that Paul reminds Timothy that the ministry does not take away ethics or manners. Is not feasible for a young maid like Timothy to rebuke an older man from her should she warn people age. Indeed he had an obligation to declare what is wrong and guide him in the truth, but it must still be done in love and reverence. Here’s a good attitude as a maid, thought the old man as the father and older women as mothers, younger men as brothers, and younger women as sisters. Timothy also be able to restrain and confine ourselves particularly in its attitude toward young women because otherwise it could interfere with his ministry and in implementing existing policies. Position more than others should not make us look at another lower so we can act without restraint. Instead we should be aware of the higher position that there is a greater responsibility to make ourselves as role models in doing good. The key to be a role model of humility is to live in whatever our social status and position. Good leaders are leaders who are capable of giving the model and not just give orders, and that too should be done with voluntary and not-for-profit (1 Peter 5:2-3).

WHO GIVES HEAD, DO DILIGENTLY.