Get Adobe Flash player
9 November 2010

Gunakan dengan Bijak ( Use Wisdom )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

gse_multipart28152SELASA, 9 NOPEMBER 2010

1 PETRUS 4:1-6

“Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tapi menurut kehendak Allah” (ayat 2).   Penderitaan badani Kristus adalah jejak yang harus diteladani oleh setiap orang percaya. Maksud dari diijinkannya oleh Allah orang percaya mengalami penderitaan karena kebenaran salah satunya adalah menghentikan perbuatan dosa. Dengan lain kata Allah mau memisahkan orang percaya dari dunia, bukan mengangkatnya secara jasmani dari dunia ini tapi memisahkan perbuatannya sehingga nampak perbedaan antara orang yang beribadah kepada Allah dan yang tidak beribadah kepada-Nya. Tidaklah ada artinya bagi Allah jika orang percaya juga tetap melakukan perbuatan jahat seperti yang diperbuat oleh orang yang belum mengenal Allah. Ketika orang percaya tetap hidup dalam perbuatan lama nya, dunia juga memandang bahwa sama saja antara dirinya dengan orang percaya sehingga membuat mereka juga tidak tertarik untuk mengenal Allah. Dan penderitaan badani bisa menghentikan perbuatan sia-sia tersebut sehingga waktu yang sisa tidak lagi dipergunakan untuk hidup menurut rupa-rupa keingina n dan hawa nafsu dunia tapi menurut kehendak Allah. Hawa nafsu dunia dengan perbuatan jahatnya tidak akan pernah mengenal kata cukup, satu kejahatan akan membawa kepada perbuatan jahat lainnya, sehingga jika dituruti akan membuat seorang menjadi semakin jahat. Sadarlah bahwa sebagai milik Allah kita tidak boleh menuruti keinginan hawa nafsu dunia, sebaliknya kita harus hidup menurut kehendak Allah. Jangan terus gunakan waktu yang Allah berikan untuk memuaskan keinginan daging, tapi perguna kan untuk menyenangkan hati Tuhan. Jangan bodoh, tetapi usahakanlah untuk mengerti kehendak Tuhan, perhatikan dengan seksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal tapi seperti orang arif (Efesus 5:15-17).

PERGUNAKANLAH WAKTU YANG ADA DENGAN BIJAKSANA.

TUESDAY, 9 NOVEMBER 2010
1 PETER 4:1-6

“So when the rest do not you use human desires, but according to the will of God” (verse 2). Physical suffering of Christ is the trail that must be exemplified by every believer. The purpose of allowing the God of believers have suffered because of the truth of one of them is to stop acts of sin. In other words God would separate the believer from the world, not lifted bodily from this earth but to separate his actions so that the visible difference between those who worship God and who does not worship Him. It is not nothing to God if people believe also continue to do something evil like that done by people who do not know God. When people believe still lives in his old deeds, the world also considers that the same thing between himself and making people believe they are also not interested to know God. And physical suffering can stop the futile act so that the remaining time is no longer used to live according to different kinds of desires and passions of the world but according to the will of God. The passions of the world with his evil deeds will never know the word enough, one crime will lead to other evil deeds, so that if followed would make a becoming evil. Realize that as belonging to God we must not indulge the passions of the world, rather we should live according to God’s will. Do not continue to use the time that God gave to satisfy the lust of the flesh, but perguna it to please God. Do not be stupid, but get yourself to understand God’s will, consider carefully how you live, do not like fools but as wise (Ephesians 5:15-17).

REDEEMING THE TIME WISELY.

 

8 November 2010

Tidak Takut menderita ( No Fear To Suffering )

Oleh victor anusa indra | Dalam Berita Utama, Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

imageSENIN, 8 NOPEMBER 2010

1 PETRUS 3:13-22

“Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar” (ayat 14).  Hidup dalam suasana kasih dan damai tanpa disadari menjadi perlindungan bagi setiap orang yang mempraktekkannya. Dalam hidup perdamaian dengan semua orang yang didasari oleh kasih, peluang orang untuk berbuat jahat  jadi semakin kecil. Tapi, jika Allah mengijinkan untuk menderita karena kebenaran, itu adalah kasih karunia. Sebagaimana Kristus telah menderita bukan karena berbuat salah, tapi demi keselamatan manusia, demiki an juga hendaknya setiap orang percaya harus siap menderita karena kebenaran dan bukan karena berbuat jahat. Jika penderitaan Kristus sampai mati di kayu salib telah membuka peluang untuk Ia memberitakan Injil kepada roh-roh yang tertawan, penderitaan karena kebenaran yang dialami orang percaya juga bisa mendatangkan kebaikan bagi mereka yang belum mengenal Allah. Untuk itu orang percaya tidak harus takut jika mengalami penderitaan karena kebenaran. Kesabaran dalam menanggung penderitaan terjadi jika Kristus telah bertakhta sebagai Tuhan dalam hati orang percaya. Menderita karena kejahatan ataupun kesalahan sendiri memang menimbulkan kerugian bagi yang mengalaminya. Tapi penderitaan karena kebenaran justru membawa keuntungan dan kebaikan bagi yang dilatih olehnya. Tidak ada orang yang suka mengalami penderitaan, tapi siapa yang sanggup untuk mengelakkanya jika Allah sendiri yang meng ijinkanya? Lebih baiklah kita memandang bahwa menderita karena kebenaran bukanlah hal yang menakut kan, maka kita akan dapat menanggungnya dengan segala kesabaran. Karena itu katakan kepada diri sendiri bahwa aku tidak takut oleh sebab Tuhanlah yang menjadi penolongku, apakah yang dapat dilaku kan manusia terhadap aku? (Ibrani 13:6).

JANGAN TAKUT SEBAB TUHAN BESERTA KITA

MONDAY, 8 NOVEMBER 2010 
 1 PETER 3:13-22

“But even if you should suffer for righteousness, you are blessed. So do not fear what they fear and do not be afraid “(verse 14). Living in an atmosphere of love and peace unwittingly becomes the protection for everyone who practice it. In a life of peace with all people based on love, the opportunity for people to do evil to be getting smaller. But, if God allowed to suffer because of righteousness, it is grace. As Christ has suffered not because of doing wrong, but for the sake of human salvation, so too should every believer must be prepared to suffer for the truth and not for doing evil. If the suffering of Christ to death on the cross He has opened up opportunities to preach the gospel to the spirits of the captives, because the truth of suffering experienced by the believer can also be good to those who do not know God. For that believers should not fear if you have suffered because of the truth. Patience in suffering happens when Christ enthroned as Lord in the hearts of believers. Suffer because of crime or fault itself is causing harm to the experience. But the truth of suffering because it brings benefit and goodness to those who were trained by him. Nobody likes to suffer, but who is able to avoid it if God himself who mengijinkanya? More let us consider that suffer because the truth is not a scary thing right, then we will be able to bear it with great patience. Therefore say to myself that I was not afraid because of God who became my helper, what can not you people done to me? (Hebrews 13:6).

DO NOT BE AFRAID CAUSE WITH OUR LORD.

 

3 November 2010

Kemerdekaan Sejati ( True Independence )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

10RABU, 3 NOPEMBER 2010

1 PETRUS 2:11-17

“Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah” (ayat 16). Hidup sebagai perantau harus mawas diri dan bijaksana. Untuk itu jugalah rasul Petrus menasehatkan kepada para perantau yang di wilayah Asia supaya menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang ber juang melawan jiwa. Memperhatikan dengan saksama bagaimana mereka hidup akan menghindarkan diri dari kesulitan apabila ada yang memfitnah. Dan untuk itu perbuatan baiklah yang harus ditonjolkan. Sikap tunduk kepada pemerintah juga sangat penting, sebab mereka sesungguhnya juga adalah wakil-wakil Allah di dunia. Dengan model hidup yang demikian menutup celah bagi musuh untuk berbuat jahat dan bahkan membungkam kepicikan mereka. Itulah sikap hidup sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah mereka adalah orang merdeka, tapi kemerdekaan itu bukan kesempatan dan alasan untuk menyelubungi dosa dan kejahatan. Tanda nyata hidup seorang hamba adalah berusaha untuk menyenangkan hati tuannya. Karena Kristus telah memerdekakan kita dari perbudakan dosa, maka kitapun benar-benar merdeka. Tapi kemerdekaan itu tetap harus dipertanggungjawabkan dengan hidup menjadi hamba-Nya. Dan jika kita adalah hambaNya, maka fokus hidup kita adalah untuk menyenangkan hati-Nya dan bukan untuk mencari kepuasan atau kesenangan diri sendiri, apalagi dengan perbuatan jahat yang diselubungi oleh kebebasan atau kemerdekaan. Kita memang dipanggil untuk merdeka, tapi jangan mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, tapi layanilah satu dengan yang lain oleh kasih  (Galatia 5:13).

DIMANA ADA ROH ALLAH DISITU ADA KEMERDEKAAN.

WEDNESDAY, 3 NOVEMBER 2010

1 PETER 2:11-17

“Live as free people and not like those who abuse the freedom it to cloak their crimes, but live as servants of God” (verse 16). Living as a foreigner must introspective and thoughtful. For that also the apostle Peter advised to the nomads who in the Asian region in order to distance themselves from the desires of the flesh which was struggling against the soul. Notice carefully how they live will shy away from trouble if there is a slander. And for that the good deeds should be highlighted. Subservience to the government is also very important, because they actually also are representatives of God on earth. With such a model life to close the gap for the enemy to do evil and even silencing their pettiness. That attitude to life as a servant of God. As servants of God they are free, but independence was not an opportunity and reason to cloak sin and evil. Real sign of life of a servant is trying to please his master. Because Christ has freed us from slavery to sin, then we too free indeed. But the independence that still must be accounted for by life becomes his servant. And if we are His servants, then the focus of our lives is to please Him and not to seek self-satisfaction or pleasure, let alone with his evil deeds are covered by freedom or independence. We are called to freedom, but do not use liberty as an opportunity to live in sin, but serve one another by love (Galatians 5:13).
WHERE IS THE SPIRIT OF GOD THERE IS LIBERTY.

2 November 2010

Batu Penjuru ( The Cornerstone life )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

08SELASA, 2 NOPEMBER 2010

1 PETRUS 2:1-10

“Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan” (ayat 6) . Kekudusan dan kecemaran tidak dapat disandingkan, maka, jika mau mengejar kekudusan tidak bisa tidak segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan dan fitnah harus dibuang dari kehidupan setiap orang percaya. Membuang segala bentuk kejahatan menjadikan seorang secara rohani kembali menjadi sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan rohani, yakni firman Tuhan demi pertumbuhan rohaninya. Dan untuk itu semua hanya bisa ditemukan didalam Yesus Kristus. Allah sendiri telah memilih dan menetapkan Yesus Kristus sebagai batu penjuru yang hidup sekalipun Ia ditolak dan dibuang oleh manusia. Bagi setiap orang yang percaya, Ia mahal, tapi bagi mereka yang tidak percaya, Ia menjadi batu sentuhan dan batu sandungan. Mereka yang percaya, mereka juga yang telah dipilih-Nya dan yang datang kepada-Nya, juga akan dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani yang dibangun diatas dasar Batu Penjuru yang mahal tersebut. Agama bukan jaminan bahwa seorang telah menempatkan Allah benar-benar sebagai Allah dalam hidupnya.  Demikian juga dalam iman kekristenan, tidak semua orang yang beragama Kristen telah menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamatnya. Kenyataanya masih banyak orang yang tersandung dengan kebenaran didalam-Nya sehingga dapat dengan mudah melepas imannya. Kita tidak akan pernah dapat dibangun atau bertumbuh dalam iman jika tidak didalam Dia, dan itu berarti kita harus benar-benar menempatkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat pribadi. Baiklah setiap kita memperhatikan bangunan rohaninya, adakah kita sudah membangun diri diatas Batu Penjuru yang hidup atau masih diatas kebenaran diri sendiri, sebab jika tidak demikian bangunan itu akan mudah runtuh (1 Korintus 3:10-11).

BANGUNLAH DIRI DIATAS DASAR IMAN YANG PALING SUCI.

TUESDAY, 2 NOVEMBER 2010

1 Peter 2:1-10


“For it is written in Scripture:” Behold, I lay in Zion a chosen stone, a precious corner stone, and who believes in Him will not be humiliated “(verse 6). Holiness and impurity can not be reconciled, then, if you want to pursue holiness can not help all guile and all sorts of hypocrisy and slander must be removed from the life of every believer. Disposing of all forms of crime to make a spiritual return to the same as a newborn baby, who always wanted to be water and pure spiritual milk, that is the word of God for spiritual growth. And for it all to be found only in Jesus Christ. God himself has chosen and set Jesus Christ as the cornerstone of life even though he rejected and discarded by humans. For every person who believes, he expensive, but for those who do not believe, he became a touch stone and stumbling block. Those who believe, they also have chosen him and who came to Him, will also be used as living stones to building a spiritual house built on the foundations that expensive cornerstone. Religion is not a guarantee that one has truly put God as God in his life. Likewise in the Christian faith, not all people who are Christians have put Jesus Christ as Lord and Savior survival. In fact there are still many people who stumble with the truth within him allowing you to easily remove the faith. We will never be built or grow in faith if not in Him, and that means we should really put Jesus Christ as Lord and personal savior. Let each of us pay attention to his spiritual building, is there anything we have built ourselves on the cornerstone of the living or still above the truth of yourself, because otherwise the building will be easy to fall (1 Corinthians 3:10-11).

RISE ABOVE SELF THE MOST HOLY FAITH BASIS.

1 October 2010

Pandangan Iman ( View by Faith )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

imagepostJUM’AT, 1 OKTOBER 2010

IBRANI 12:1-17

 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memi kul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia , yang sekarang duduk disebelah kanan takhta Allah (ayat 2).  Iman dan penderitaan. Iman yang benar jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, tapi kemurniannya perlu lebih dahulu diuji, dan ujian terhadap iman itu seringkali melalui penderitaan. Itulah sebabnya perlu ketekunan dalam mempertahankan iman. Akan tetapi, sekalipun iman kita harus diuji dengan penderitaan, namun Allah memperlakukannya seperti seorang bapa yang mendidik anaknya. Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Tidak ada yang namanya anak yangbebas dari dari ganjaran.Memang sakit dan menimbulkan dukacita pada awalnya, tapi itu kemudian akan menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab Allah menghajar demi kebaikan kita sendiri, yakni supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Jika demikian adanya, kita justru harus bersyukur jika iman kita menghadapi tantangan, bersyukur bila karena iman kita harus mengalami penderitaan. Jangan menjadi lemah dan putus asa bila menghadapi tantangan iman. Ingatlah bagaimana Yesus telah lebih dahulu menderita begitu rupa supaya kita beroleh anugerah keselamatan melalui iman. Tanggalkan semua dosa yang merintangi, berlom balah dengan tekun dalam perlombaan iman yang diwajibkan, dan lakukanlah semuanya itu dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Ujilah diri sendiri, apakah kita tetap tegak dalam iman meskipun menghadapi berbagai tantangan, yakinlah bahwa Kristus Yesus ada didalam kita, sebab jika tidak demikian, kita tidak tahan uji (2 Korintus 13:5).

TUJUKAN IMAN DAN PENGHARAPAN KITA KEPADA ALLAH.

 Friday, 1 OCTOBER 2010

HEBREW 12:1-17

“Let us do it with eyes that turned to Jesus, who leads us in faith, and who brought it to the perfection of our faith, which by ignoring diligently carried the cross dressing humiliation joy reserved for him who now sits right next to the throne of God (verse 2 .) Faith and suffering. True faith is much higher in value than gold which perishes, but purity will need first to be tested, and the testing of faith is often through suffering. That is why the necessary diligence in maintaining the faith. However, even our faith must be tested by suffering, but God treated him like a father who educate their children. Whom the Lord loved him and reproves him as a child. There is no such thing as a child that is free from punishment. it was sick and causing grief at first, but it will then produce the fruit of truth that gives peace to those who were trained by him. For God’s chastening for our own good, namely that we should be a participant in His holiness. If so, we would be grateful if we face the challenge of faith, because faith grateful if we have to experience suffering. Do not become weak and discouraged when faced with the challenge of faith. Remember how Jesus had suffered so much in advance so that we might receive the gift of salvation through faith. Uninstall all the sins that hinder, run with patience the race of faith is required, and do it all with eyes fixed on Jesus. Examine yourself, whether we remain upright in faith despite facing various challenges, rest assured that Jesus Christ is in us, because if not, we fail the test (2 Corinthians 13:5).

GO OUR FAITH AND HOPE TO GOD ONLY

30 September 2010

Landasi dengan Iman ( Based on Faith )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

handheavensh1KAMIS, 30 SEPTEMBER 2010

IBRANI 11:1-40

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (ayat 6).  Sederetan tokoh-tokoh iman ditampilkan disini, dimana mereka adalah nenek moyang bangsa Israel, dan masih banyak lagi tokoh iman dari pelaku sejarah, yakni para  pemimpin mereka yang tidak mungkin akan dituliskan semua. Mereka adalah orang-orang yang meyakini bahwa  Allah itu ada sehingga merekapun juga melakukan hal-hal diluar kebiasaan dan nalar manusia. Karena kepercayaan mereka kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah akan memberi upah untuk segala hal yang mereka perbuat, maka merekapun juga rela menderita karenanya. Satu contoh adalah Abraham, dimana Allah berjanji akan membuat keturunannya sebanyak bintang dilangit dan pasir dilaut, tapi karena iman ia rela mempersembahkan anak satu-satunya karena Allah memintanya. Dan keyakinannya kepada Allah tersebut akhirnya benar-benar menghasilkan bangsa yang dikasihi Tuhan dan ia sendiri disebut bapa orang beriman. Menjadi tokoh iman bukan hanya bagi mereka yang telah lalu, tapi juga bagi kita, orang beriman sekarang ini. Iman itu sendiri didasari keyakinan bahwa Allah itu ada dan Ia memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dan melakukan kehendak-Nya. Iman bukan hanya dalam kata-kata saja, iman akan disebut benar-benar sebagai iman ketika keyakinan tersebut ditunjukkan dalam perbuatan. Jika kita benar-benar yakin bahwa Allah akan memberi upah, maka kita akan melakukan apa yang menjadi  kehendak-Nya dengan penuh pengharapan dan sukacita, itulah iman. Buktikan kemurnian iman kita, yakni melalui perbuatan-perbuatan dan bukan iman dalam kata-kata saja, sebab ketahuilah bahwa iman yang benar, jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana (1 Petrus 1:7).

LAKUKAN PERJUANGAN YANG BAIK DENGAN IMAN.

 THURSDAY, 30 SEPTEMBER 2010
HEBREW 11:1-40

But without faith it is impossible person acceptable to God. For whoever would draw near to God must believe that God exists and that God rewards those who earnestly seek Him “(verse 6). A line of faith figures shown here, where they are the ancestors of Israel, and many other faith leaders from the perpetrator’s history, that their leaders are not likely to be written all. They are people who believe that God exists, so they also do things out of habit and human reason. Because of their belief in God and faith that God will reward for everything they do, then they are also willing to suffer for it. One example is Abraham, where God promised to make his descendants as the stars in the sky and sea sand, but by faith he willingly offered his only son because God asked him. And his belief in God is finally actually produce a nation that loved God and he himself called the father of the faithful. Being leaders of faith is not just for those who have past, but also for us, believers today. Faith itself is based on the belief that God exists and He rewards those who earnestly seek and do His will. Faith is not just in words alone, faith really be called as a faith when the faith shown in deeds. If we truly believe that God will reward, then we will do what is His will with great hope and joy, that’s faith. Prove the purity of our faith, namely through deeds rather than faith in words only, because you know that true faith, much higher value than perishable gold (1 Peter 1:7).
DO  A  GOOD FIGHT WITH FAITH.

29 September 2010

Buah Ketekunan ( Result from Perseverance )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa (Daily Bread Bilingual Edition ) By Editorial Staff WSB

renunganRABU, 29 SEPTEMBER

IBRANI 10:19-39

“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memper    oleh apa yang dijanjikan itu” (ayat 36).  Hasil dari pengorbanan Kristus bagi dunia pada umumnya adalah keselamatan bagi setiap orang yang percaya. Dan kedalam, bagi setiap orang yang telah percaya adalah ter bukanya jalan ke dalam tempat maha kudus sehingga kita dapat masuk ke tempat maha kudus dengan penuh keberanian. Lagi, kita memiliki Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah yang oleh-Nya kita beribadah kepada Allah. Untuk itu hendaknya setiap orang percaya menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh. Dengan semua kenyataan tersebut kita dituntut untuk hidup dalam ketekunan: tekun dalam berbuat baik, tekun dalam beribadah, tekun dalam penderitaan karena kebenaran, dan tekun dalam menantikan kedatangan-Nya yang ke dua kali. Tekun dalam beribadah berarti tidak menjauhkan diri dalam pertemuan ibadah. Tekun menanti berarti yakin bahwa saat kedatangan-Nya kedua kali sudah sangat dekat. Tekun menderita karena kebenaran berarti kita yakin akan pembelaan Tuhan. Dan tekun berbuat baik berarti kita tahu bahwa Tuhan akan memberi upah kepada setiap orang menurut perbuatannya. Kebalikan dari semuanya itu adalah sengaja berbuat dosa, dan itu berarti peng hinaan terhadap Roh kasih karunia, menganggap najis darah perjanjian dan menginjak-injak Allah. Akibat nya adalah kematian yang mengerikan. Sementara ketekunan akan mengakibatkan pemenuhan dari segala sesuatu yang telah Allah janjikan. Dan tidak ketinggalan bertekunlah dalam tanda iman yang hidup. Ada hasil yang luar biasa bagi setiap orang yang mau bertekun, seperti Allah memulihkan keadaan Ayub dengan luar biasa, maka berbahagialah orang yang hidup dalam ketekunan (Yakobus 5:11).

 KETEKUN AN MENIMBULKAN TAHAN UJI.

WEDNESDAY, 29 SEPTEMBER
HEBREW 10:19-39

For you need endurance, so that after you do the will of God, you are treated by what was promised” (verse 36). Results from the sacrifice of Christ for the world at large is salvation for everyone who believes. And into, for everyone who has believed the road was opened into the most holy place so that we can enter the most holy place with great courage. Again, we have a high priest as head of the house of God through whom we worship God. Therefore should every believer to God with a sincere heart in full assurance of faith. With all these facts we are required to live in perseverance: diligent in doing good, persevere in prayer, persevering in suffering because of righteousness, and diligent in looking forward to his arrival the second time. Diligent in worship means not distance themselves in worship attendance. Diligently waiting means certain that his arrival had been very close second. Diligent suffer because the truth means that we believe will be a defense of God. And diligent in doing good that we know that the Lord will reward everyone according to his deeds. The opposite of everything that is deliberate sin, and that means lawyers insult to the Spirit’s grace, considered unclean blood of the covenant, and trample on God. His result is a horrible death. While perseverance will lead to the fulfillment of everything God has promised. And do not miss persevere in a sign of living faith. There is a tremendous result for everyone who want to persevere, as God restored Job with extraordinary circumstances, so blessed are those who live in perseverance (James 5:11).

PERSEVERANCE CREATE RESISTANT TEST

28 September 2010

Mau susah atau mudah ( Want hard or easy )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

kerjaSELASA, 28 SEPTEMBER 2010

IBRANI 10:1-18

 “Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa” (ayat 18). Hukum Taurat hanyalah bayangan dari keselamatan yang akan datang dan tidak mungkin menyempurnakan mereka yang ada didalamnya. Hal itu dibuktikan dengan dipersembahkannya korban yang sama setiap tahun terus menerus. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa, tapi justru oleh korban-korban tersebut orang diperingatkan akan adanya dosa. Dan sesungguhnya, Allah tidaklah menghendaki korban dan persembahan yang demikian, bahkan tidak ber kenan atasnya meskipun dipersembahkan menurut hkum Taurat. Maka Kristus datang untuk melakukan kehendak Allah, Ia mempersembahkan diri-Nya karena dosa, satu kali untuk selama-lamanya, yang dengan demikian mengadakan pengampunan dan pendamaian karena dosa. Oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Korban Kristus menghadirkan suatu perjanjian yang baru dimana Allah tidak lagi menuliskan hukum-hukum-Nya pada loh batu, tapi menaruh hukum-Nya dalam hati dan menuliskannya dalam akal budi orang yang percaya, dan Ia tidak lagi menging at dosa dan kesalahan. Jadi karena Kristus yang mau melakukan kehendak Allah, maka Allah mengadakan pengampunan dosa ganti segala korban dan persembahan. Kalau ada yang mudah mengapa cari yang susah? Hanya dengan mengaku dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan kita menerima anugerah keselama tan, dan jika Allah sudah menyediakan pengampunan, mengapa kita mau susah-susah mempersembahkan korban karena dosa? Sebab Allah itu setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan ketika kita mau mengaku dosa (1 Yohanes 1:9).

 PADA TUHAN ADA KASIH SAYANG DAN KEAMPUNAN.

TUESDAY, 28 SEPTEMBER 2010

HEBREW 10:1-18

“Now where it is no forgiveness, no more offering for sin” (verse 18). Law is just a shadow of salvation that will come and not be perfect they contained. This was evidenced with the same offerings every year continuously. For no blood may be bull or ram blood away sins, but that those sacrifices are a reminder of sin. And verily, Allah does not want sacrifice and offering that so, even though it was Kenan hkum offered according to the Torah. So Christ came to do God’s will, He offered Himself for sin, once and for all, thereby holding forgiveness and atonement for sins. By one sacrifice he has perfected for ever them that He is holy. The sacrifice of Christ brings a new covenant where God no longer write his laws on stone tablets, but put his law in our hearts and minds of people write in a trust, and he no longer menging at sin and error. So because of Christ who want to do the will of God, God entered into the remission of sins instead of all the victims and offerings. If there was an easy why look for that hard? Only by confessing and believing that Jesus is Lord we receive the gift of salvation, and if God has provided forgiveness, why we would bother to offer sacrifices for sin? Because God is faithful and just to forgive all our sins and purify us from all unrighteousness when we want to confess sins (1 John 1:9).

ON GOD AND THERE AFFECTION FORGIVENESS

11 September 2010

Layak disembah ( Worthy to be Praised )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

pic01SABTU, 11 SEPTEMBER 2010

IBRANI 1:5-14 

“Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung kedunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia” (ayat  6).  Penulis kitab Ibrani terus menunjukkan keunggulan dari sang Anak Allah diantara makhluk-makhluk sorgawi lainnya. Malaikat Allah tidaklah lebih dari roh-roh yang melayani, yang diutus Allah untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan, sekalipun mereka juga memiliki kekuatan adikodrati. Semua kekuatan dan kuasa yang dimiliki oleh para malaikat itu sungguh tetap tidak sebanding kekuatan, kuasa dan kemuliaan sang Anak Allah. Bahkan kepada para malaikat tersebut dan juga seisi sorga, mereka harus sujud menyembah kepada sang Anak Allah. Tidak ada yang dapat disamakan atau disejajarkan diantara para makhluk sorgawi tersebut dengan sang Anak Allah, sama seperti nama yang diberikan kepada-Nya adalah Nama diatas segala nama, Dialah Yesus Kristus Tuhan.  Dengan demikian layaklah Ia untuk disembah, layak Ia untuk dipuja oleh semua makhluk, bukan hanya yang disorga tapi juga yang dibumi. Maka jika saat ini kita menjadi penyembah dan pemuja sang Anak Allah, itu adalah tindakan yang benar. Adalah suatu kebodohan jika seluruh makhluk di sorga saja harus menyembah Anak Allah, tapi kita sujud menyembah makhluk sorgawi lainnya yang sudah jelas lebih rendah kedudukannya, apalagi menyembah seorang manusia. Hanya Dialah yang layak untuk menerima segala pujian, hormat syukur dan kemuliaan sampai selama-lamanya, karena Dialah Allah yang mencipta kan alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Karena itu takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia serta sujudlah menyembah Dia yang telah menjadikan lagit dan bumi dan laut dan semua mata air (Wahyu 14:7).

SEMBAHLAH TUHAN DALAM ROH DAN KEBENARAN. 

SATURDAY, 11 SEPTEMBER 2010
HEBREW 1:5-14
                      
And when He brought His Son is also the firstborn into the world, he said:” All the angels of God worship Him “(verse 6). The writer of Hebrews continues to demonstrate superiority of the Son of God among the other heavenly creatures. Angel of God is no more than the spirits who serve, sent by God to serve those who need to obtain salvation, even if they also had supernatural power. All power and authority possessed by the angels that really remains is not comparable strength, power and glory of the Son of God. Even to the angels and also the whole heaven, they have worshiped the Son of God. Nothing can be compared or ranked among the heavenly beings is with the Son of God, the same as the name given to him is the Name above all names, it was Jesus Christ the Lord. He thus worth to be worshiped, He is worthy to be worshiped by all living beings, not just those in Heaven but also the earth. And if today we become worshipers and worshipers of the Son of God, it was the right move. It is a folly if all creatures in heaven alone shall worship the Son of God, but we have worshiped other heavenly beings who are obviously lower position, let alone worship a man. Only One worthy to receive all the praise, respect and gratitude to the glory forever, because He is God who creates a universe and all that exists therein. Therefore fear God and glorify Him and fell down and worshiped Him who made heaven and earth, the sea and the fountains of water (Revelation 14:7).

WORSHIP GOD IN SPIRIT AND TRUTH. 

 

 

 

10 September 2010

Percaya pada Anak ( Believe in Children )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Dwi Bahasa ( Daily Bread Bilingual Edition ) By WSB Editorial Staff

second_comingJUM’AT, 10 SEPTEMBER 2010

IBRANI 1:1-4

“Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta ”(ayat 2).  Penulis surat Ibrani masih menjadi misteri hingga saat ini, sebagian ahli theologi berpendapat bahwa Paulus yang menulisnya, sedang sebagian lagi berpendapat yang lain lagi. Memang surat Ibrani sedikit berbeda dengan surat-surat lainnya, istimewa dengan surat-surat Paulus karena tidak ada kepala surat dalam surat Ibrani ini. Akan tetapi pikiran-pikiran Paulus juga tergambar jelas dalam isi surat Ibrani. Surat Ibrani ditujukan bukan hanya kepada satu golongan, tapi kepada orang percaya pada umumnya. Di buka dengan menampilkan sang Anak yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud-Nya yang berhak menerima sgala yang ada. Melalui sang Anak pulalah Allah pada zaman akhir ini berbicara kepada kita orang percaya. Karya sang Anak yang rela mengorbankan diri-Nya sendiri untuk mengadakan penyucian dosa pada akhirnya Ia didudukkan disebelah kanan Yang Maha Besar dan dikaruniakan Nama diatas segala nama. Dan jika Allah telah berbicara melalui Anak-Nya, maka bagian kita adalah percaya kepada sang Anak dan juga mempercayai setiap firman-Nya. Maka sebelum lebih jauh kita menggali isi kitab Ibrani, mari lihat kepada diri sendiri adakah kita telah sungguh-sungguh percaya kepada sang Anak dan kepada Firman-Nya. Dan sekarang kita patut lebih bersyukur lagi bila firman-Nya yang berkuasa itu bisa kita dengar dan terima melalui hamba-hamba yang Ia pilih dan urapi. Jadi Dia adalah Allah yang tidak pernah kehilangan cara untuk menyatakan diri kepada umat-Nya. Injil itu telah dicatat dan segala pekerjaan Yesus yang membuktikan bahwa Ia adalah Mesias, Anak Allah, ada tertulis didalamnya, maka berbahagialah setiap orang yang percaya kepada berita Injil (Yohanes 20:30-31)

BERBAHAGIALAH, BANGSA YANG ALLAHNYA ADALAH TUHAN.

Friday, 10 SEPTEMBER 2010
HEBREW 1:1-4

“And in these last days He has spoken to us by the hand of his Son, which he designated as eligible to receive all that exists. By him God made the universe “(paragraph 2). The writer of Hebrews is still a mystery to this day, some experts argue that Paul’s theological writing, while some others argue anymore. It’s slightly different Hebrew letter with other letters, special with Paul’s letters because there is no head of this letter in the Hebrew letters. But the thoughts of Paul also clearly reflected in the contents of the Hebrew letters. Hebrews is addressed not only to one class, but to believers in general. In the open with a showing of the child who is the light of God’s glory and the exact representation of His glory, that is entitled to receive. Through God’s Son was also the end of this era to speak to us believers. The work of the Son who was willing to sacrifice himself to hold a cleansing of sin in the end he is seated at the right hand and bestowed the Most Great Name above all names. And if God has spoken through His Son, then we are believing in the Son and believe every word. So before we delve further contents of the book of Hebrews, let’s refer to yourself is there anything we have truly believed in the Son and to His Word. And now we should be grateful again when his word of power that we can hear and receive through the servants whom He chose and anointed. So He is the God who never lost a way to express himself to his people. Gospel that has been recorded and all the work of Jesus that proves that he is the Messiah, the Son of God, is written in it, then blessed everyone who believes in the Gospel (John 20:30-31)
 
BLESSED, NATION THAT IS LORD HIS GOD.