Get Adobe Flash player
3 September 2014

Jangan iri hati terhadap sesama (Do Not Envy Others )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 3 September 2014
Baca:  1 Korintus 3:1-9

“Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”  1 Korintus 3:3b

Iri hati adalah sebuah kata yang seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam lingkungan keluarga, tempat tinggal, sekolah, kantor, bahkan juga di gereja.  Di keluarga, seorang adik iri hati kepada kakaknya ketika orangtuanya membelikan sepeda motor baru buat sang kakak.  Seorang teman iri hati ketika melihat rekan sebangku memperoleh nilai tertinggi dalam ujian matematika di kelas.  Di kantor, si A iri hati kepada si B karena B mendapatkan promosi jabatan.  Di gereja rasa iri hati juga melanda orang-orang yang bekerja di ladang Tuhan.  Seorang hamba Tuhan iri hati terhadap rekan sesama hamba Tuhan karena jemaatnya lebih banyak dan pelayanannya lebih berhasil.  Betapa iri hati itu telah merasuki semua kalangan, bukan saja orang awam, tapi pelayan Tuhan pun terkena dampaknya.

Apa itu iri hati?  Iri hati bisa diartikan perasaan kurang senang bila melihat orang lain beruntung atau berhasil dalam hidupnya.  Iri hati juga bisa diartikan rasa cemburu atau sirik terhadap orang lain.  Yang jelas, orang yang iri hati adalah orang yang selalu tidak bisa menerima kenyataan keberhasilan orang lain.  Dalam Yakobus 3:16 dikatakan,  “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”  Jadi iri hati menurut Alkitab adalah sangat berbahaya:  mengakibatkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.  Seseorang yang hatinya dipenuhi iri hati dipastikan jarang sekali atau bahkan tidak pernah bisa mengucap syukur kepada Tuhan.  Ia selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain:  “Dia diberkati, mengapa aku tidak?  Tuhan kok tidak adil ya?”  Akibatnya ia pun kehilangan damai sejahtera di hati.

Supaya terlepas dari rasa iri hati kita harus makin mendekat kepada Tuhan, membangun kekariban dengan Tuhan melalui doa.  Jangan sedikit pun memberi celah kepada Iblis!  Iri hati adalah senjata Iblis untuk menghancurkan orang percaya.  Inilah nasihat Paulus“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”  (Filipi 4:8).
Kita harus memenuhi pikiran kita dengan perkara-perkara yang positif!

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Wednesday, September 3, 2014

Read: 1 Corinthians 3: 1-9

“Therefore, if there is among you envy and strife it shows that you are a natural man and that you live humanely?” 1 Corinthians 3: 3b

Envy is a word that we often hear in everyday life, be it in a family environment, housing, schools, offices, and even in the church. In the family, an envious sister brother when his parents bought a new bike for his brother. A friend envy when seeing fellow bench obtaining the highest marks in mathematics in grade exams. At the office, person A to person B jealous because B gain promotion. In the church also struck envy people who work in the fields of the Lord. A servant of God jealous of his fellow servants of God as his church ministry more and more successful. Envy how it has pervaded all walks of life, not only ordinary people, but the servant of the Lord was affected.

What is it envy? Jealousy can mean feeling less happy when seeing other people lucky or successful in life. Jealousy can also mean jealousy or envious of others. Clearly, people who are jealous of people who can not always accept other people’s success. In James 3:16 says, “For where there is jealousy and selfishness, there is confusion and every evil work.” So envy is very dangerous according to the Bible: cause confusion and every evil work. A person whose heart is filled with envy certainly rarely or never able to give thanks to God. He was always comparing himself with others: “He’s blessed, why not me? Lord really is not fair huh?” As a result he lost peace of mind.

In order regardless of jealousy we must come closer to God, build intimacy with God through prayer. Do not give the slightest gap to the devil! Envy is the weapon of Satan to destroy believers. This is Paul’s advice, “Finally, brothers, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, all that nice to hear, all that is excellent or praiseworthy, think about such things.” (Philippians 4: 8).
We must fill our minds with positive cases!

2 September 2014

TETAP SETIA MESKI MELEWATI UJIAN (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Selasa, 2 September 2014

Baca:  Titus 2:1-10

“Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.”  Titus 2:9-10

Di akhir zaman ini kesetiaan mahal harganya.  Sulit sekali menemukan orang yang setia.  “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).  Tidak sedikit dari kita yang menyerah dan berhenti dari apa yang sedang dikerjakan Tuhan dalam hidup kita, hanya sesaat sebelum Tuhan menyatakan pertolongan dan kuasaNya.  Sayang sekali, bukan?  Jadi selama masa ujian kita harus tetap setia, sebab kita tidak pernah tahu kapan kita akan menuai hasilnya.

Orang yang setia adalah orang yang layak dipercaya dan konsisten.  Selalu ada upah bagi orang-orang yang setia.  Karena itu kita harus setia di mana pun Tuhan menempatkan kita.  Terhadap orang-orang yang memiliki otoritas kita harus belajar menghormati dan taat kepadanya, sebagai ujian yang nyata atas kesetiaan dan ketaatan kita.  Kita bisa belajar dari pribadi Daud.  Meski terus diburu dan dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya, Daud tidak menaruh dendam dan sakit hati kepada Saul.  Daud tetap setia dan taat kepada Saul sebagai pemilik otoritas di atasnya.  Bahkan ketika ia memiliki kesempatan membalas semua perbuatan Saul terhadapnya, ia tidak melakukannya.  “‘Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.’  Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu;  ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul.”  (1 Samuel 24:7-8).  Daud sangat menghargai dan menghormati urapan Tuhan dalam diri Saul.  Ia belajar untuk tetap mengandalkan Tuhan dan menantikanNya dengan setia.  Ia tidak bangkit melawan Saul.

Mari kita belajar setia meski tidak ada orang yang tahu atau memperhatikan apa yang sedang kita alami.  Walaupun banyak tantangan dan ujian jangan menjadi lemah dan kecewa, tetapi setia mengerjakan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita, karena Tuhan sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang besar di dalam hidup kita.  Ia sedang membentuk karakter di dalam hidup kita dan memperlengkapi kita untuk jangka panjang.

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,”  Mazmur 18:26

1 September 2014

TETAP SETIA MESKI MELEWATI UJIAN (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Senin, 1 September 2014

Baca:  1 Timotius 3:8-13

“Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.”  1 Timotius 3:10

Untuk menjadi orang-orang yang berkualitas kita harus melewati proses atau ujian demi ujian.  Hal inilah yang disadari Ayub:  “Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).

Itulah sebabnya rasul Paulus menyampaikan pesan penting kepada Timotius bahwa pemilik jemaat atau pun diaken (pelayan Tuhan) bukanlah sembarangan orang, tetapi haruslah orang yang telah teruji hidupnya dan memiliki kualitas hidup yang lebih dibanding lainnya.  Maka dari itu tak seorang pun dari kita yang akan luput dari ujian dan masing-masing orang akan mengalami ujian yang berbeda, dengan kadar yang berbeda pula.  Kita tidak akan beroleh promosi sebelum kita lulus dari ujian yang ada.  Contohnya adalah syarat-syarat bagi calon diaken:  “…haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.”  (1 Timotius 3:8-9).  Namun, inti dari kesemua persyaratan itu adalah kesetiaan.  Tanpa kesetiaan, apa pun tugas dan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada seseorang tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.  Jadi kita harus tetap setia mengerjakan tugas-tugas yang diberikan bagi kita meski ada ujian, tantangan dan harus melewati padang gersang sebagaimana bangsa Israel yang harus mengalami ujian di padang gurun selama 40 tahun lamanya.  Selama masa-masa ujian tersebut bangsa Israel memberontak, bersungut-sungut dan mengeluh kepada Tuhan.  Akibat dari ketidaksetiaan mereka menjalani proses ujian, sebagian besar dari mereka mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Mereka tidak dapat menikmati janji Tuhan karena tidak tahan saat harus mengalami kesukaran.  Seberat apa pun ujian yang harus kita lalui, yakinlah bahwa itu adalah bagian dari persiapan yang diberikan Tuhan bagi kita.

Tuhan menghendaki agar kita tidak menyerah ketika berada dalam masa-masa pembentukan itu.  Kondisi inilah yang seringkali dimanfaatkan Iblis untuk melemahkan kita dengan berkata,  “Untuk apa setia?  Percuma.  Tidak ada gunanya kamu melayani Tuhan, toh hidupmu juga tidak diberkati.  Sakitmu belum juga sembuh.  Lebih baik mencari pertolongan lain dan menyerah saja.”  Dan akhirnya, ada banyak orang Kristen yang tidak sabar dan menyerah di tengah jalan.  (Bersambung)

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Monday, September 1, 2014

Read: 1 Timothy 3: 8-13

  “They also have to be tested first and it’s set in service after they turned out to be blameless.” 1 Timothy 3:10

To become qualified people we have to go through the process or one trial after another. This is realized Job: “But he knows the way that I take; suppose he has tested me, I shall come forth as gold.” (Job 23:10).

That is why the apostle Paul to Timothy convey an important message that the owner of the congregation or deacon (servant of God) is not a vain person, but should be someone who has proven his life and have a better quality of life than others. Therefore none of us will escape from the trials and each person will experience different exams, with different levels. We will not hath promotion before we pass the exam. Examples are the requirements for prospective deacons: “… must be a man of honor, not forked tongue, not a wine drinker, do not be greedy, but the mystery of the faith in a pure conscience.” (1 Timothy 3: 8-9). However, the core of all the requirements that is loyalty. Without loyalty, and trust whatever task given by God to man will not produce maximum results. So we must remain faithful in fulfilling the tasks given to us even though there is a test, a challenge and must pass through the arid desert of Israel as a nation must undergo the test in the desert for 40 years. During the test periods of Israel rebelled, grumbled and complained to God. As a result of their unfaithfulness undergo examination process, most of them die in the desert before reaching the Promised Land. They can not enjoy God’s promise because the current can not stand to be experiencing difficulties. Weighing whatever we need to take the exam, be assured that it is part of God’s preparation given to us.

God wants us to not give up when it is in the formation periods. This condition is often used Satan to weaken us by saying, “For what faithful? Useless. No point you serve God, yet also not blessed life. Yet to heal your pain. Better to seek the help of others and just give up.” And finally, there are many Christians who are impatient and give up halfway. (Continued)

30 August 2014

Bekerja Dengan Loyalitas Tinggi ( Working with High Loyality )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Sabtu, 30 Agustus 2014

Efesus 6 : 1 – 9

“dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” Efesus 6 : 7
Bekerja yang bagaimana ? Bekerja dengan asal-asalan atau ‘semau gue’ ? Dalam perumpamaan tentang talenta (baca Matius 25 : 14 – 30). Kita dapat belajar banyak hal, salah satunya adalah bagaimana si tuan memberikan upah atau penghargaan kepada hambanya yang setia menjalankan talentanya. Hamba yang menerima 5 talenta dan 2 talenta beroleh pujian dari tuannya : “Baik sekali perbuatan mu itu, hai hambaku yang baik dan setia ; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25 : 21). Hamba yang rajin bekerja dan setia memperoleh upah dari tuan-Nya sebagaimana tertulis : “Kamu tahu, bahwa Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” (Kolose 3 : 24). Sebaliknya, hamba yang menerima 1 talenta tetapi tidak menjalankannya dikecam sebagai hamba yang jahat dan malas. Dari perumpamaan tentang talenta ini Tuhan Yesus sebenarnya menekankan tentang pentingnya memiliki sikap yang taat kepada majikan sebagai pemberi pekerjaan.

Ukuran ketaatan dirumuskan Paulus dengan sangat tepat ketika berkata. “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3 : 23). Karakter inilah yang harus dimiliki oleh seorang pekerja Kristen. Dalam bekerja, orang Kristen harus memiliki loyalitas yang tinggi. Apapun yang kita kerjakan hendaknya kita melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Dengan melakukan pekerjaan seperti untuk Tuhan berarti kita telah menunjukkan kasih dan ketaatan kepada Tuhan.

Jadi pekerjaan dapat menjadi salah satu media bagi kita untuk bersaksi dan melayani Tuhan. Oleh karena itu jangan pernah menggerutu dalam menjalankan tugas. Jika kita terus menggerutu atau mengomel dalam bekerja, kita tidak akan menjadi berkat bagi orang lain.
MULAI SEKARANG, BEKERJALAH GIAT DAN PENUH KOMITMEN, “JANGAN HANYA DI HADAPAN MEREKA SAJA UNTUK MENYENANGKAN HATI ORANG, TETAPI SEBAGAI HAMBA-HAMBA KRISTUS YANG DENGAN SEGENAP HATI MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH, DAN YANG DENGAN RELA HATI MENJALANKAN PELAYANANNYA SEPERTI ORANG-ORANG YANG MELAYANI TUHAN DAN BUKAN MANUSIA.” (EFESUS 6 : 6 – 7).

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Saturday, August 30, 2014

Ephesians 6: 1-9

“And who are willing to provide services such as those who serve God and not man.” Ephesians 6: 7
Work is how? Working with perfunctory or ‘arbitrarily I’? In the parable of the talents (see Matthew 25: 14-30). We can learn a lot of things, one of which is how the host or awards to reward faithful servants who run the talent. He that had received five talents and two talents have praise of his master: “Well all your deeds, O good and faithful servant; you have been faithful in small matters, I will give you the responsibility of the great things. Come and obey what your master’s happiness. “(Matthew 25: 21). Servants who work diligently and faithfully earned from his master as it is written: “You know, that the Lord you will receive the inheritance as a reward. Is the Lord Christ you are serving. “(Colossians 3: 24). Instead, the servant who received one talent but do not run it condemned as wicked and lazy servant. From the parable of the talents the Lord Jesus is in fact underlines the importance of having an attitude of obedience to the employer as an employer.

Size obedience formulated with very precise when Paul said. “Whatever you do, do it heartily, as to the Lord and not for men.” (Colossians 3: 23). Character is what must be owned by a Christian worker. In the work, the Christian must have a high loyalty. Whatever we do we should do it as unto the Lord and not for men. By doing such work for God means that we have shown love and obedience to God.

So the work can be one medium for us to witness and serve the Lord. Therefore, do not ever complain in performing their duties. If we continue to grumble or rant in the works, we are not going to be a blessing to others.
START NOW, WORK AND FULL COMMITMENT GIAT, “DO NOT JUST BEFORE THEY ARE FUN TO BE PEOPLE, BUT AS A SERVANT OF CHRIST THE SERVANT-WHOLEHEARTEDLY GOD WILL DO, BUT WILL BE RUNNING THE RELA MINISTRY LIKE PEOPLE WHO SERVE GOD AND NOT HUMAN. “(Ephesians 6: 6-7).

29 August 2014

Orang Percaya Harus Bekerja ( Believers should be Working )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Jumat , 29 Agustus 2014

2 Tesalonika 3 : 1 – 15

 

“Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” 2 Tesalonika 3 : 10b
Tuhan Yesus berkata : “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yohanes 5 : 17). Perkataan Yesus yang menyatakan bahwa Dia pun bekerja menunjukkan bahwa Tuhan adalah pribadi pekerja, bukan pribadi yang menganggur atau berpangku tangan saja.

Secara eksplisit Tuhan telah memberikan teladan kepada kita dan sekaligus sebagai perintah agar kita juga turut bekerja dan berkarya. Itulah sebabnya Paulus menegur dengan sangat keras jika ada orang percaya yang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja : “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Paulus tidak asal bicara namun juga memberi contoh bagaimana ia bekerja membuat kemah untuk menyokong kehidupannya (baca Kisah 18 : 3). Juga kepada jemaat di Tesalonika Paulus berkata, “Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” (1 Tesalonika 2 : 9b). Salomo pun juga sangat ‘alergi’ terhadap orang yang malas : “Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaanya sudah menjadi saudara dari si perusak.” (Amsal 18 : 9). Ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bekerja. Dengan bekerja kita dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Memenuhi kebutuhan keluarga adalah sebuah keharusan. Alkitab menyatakan, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Timotius 5 : 8). Artinya, jika ada orang yang menelantarkan keluarganya alias tidak memberi nafkah kepada keluarganya, ia disamakan sebagai orang yang murtad, bahkan dianggap lebih buruk dari orang yang tidak percaya. Oleh karena itu kita harus memiliki semangat untuk bekerja sebagai wujud tanggung jawab kita kepada Tuhan. Adalah sangat memalukan jika ada orang Kristen yang tidak mau bekerja, malas dan selalu mengharapkan belas kasih dari orang lain (menjadi beban bagi orang lain), padahal secara fisik ia sehat dan masih dalam usia produktif.

 

Paulus memerintahkan agar setiap orang yang percaya bekerja dengan giat dan “tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.” (2 Tesalonika 3 : 8).

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Friday, August 29, 2014

2 Thessalonians 3: 1-15

“If someone does not want to work, neither should he eat.” 2 Thessalonians 3: 10b
The Lord Jesus said: “My Father worketh hitherto, and I work too.” (John 5: 17). The words of Jesus who claimed that he was working to show that God is a personal worker, not an unemployed person or just sit on my hands.

God has explicitly setting an example for us as well as the command that we also work and work. That is why Paul rebuked by the very loud if anyone believes that lazy and do not want to work: “If anyone is not willing to work, neither should he eat.” Paul does not talk nonsense, but also gives an example of how it works to make the tent to support life (see Acts 18: 3). Also to the Thessalonians Paul said, “While we were working day and night, so do not be a burden to anyone of you, we preached the gospel of God to you.” (1 Thessalonians 2: 9b). Solomon was also a very ‘allergic’ to those who are lazy: “The person who idled in his work is a brother of the destroyer.” (Proverbs 18: 9). It shows that God’s Word commands us to work. With the work we can provide for the family and not be a burden to others. Meet the needs of the family is a must. The Bible states, “But if anyone does not provide for his relatives, especially his household, he has denied the faith and is worse than an unbeliever.” (1 Timothy 5: 8). That is, if there are people who abandon their families alias does not provide for his family, he equated as an apostate, is considered even worse than people who do not believe. Therefore we must have a passion to work as a manifestation of our responsibility to God. It is very embarrassing if there are Christians who do not want to work, lazy and always expect compassion from others (being a burden to others), but physically he is healthy and still in the productive age.

 

Paul commanded that every person who believes in working hard and “do not eat bread with a useless person, but strive and toil night and day in order not to be a burden to anyone of you.” (2 Thessalonians 3: 8).

28 August 2014

Perubahan sebagai Bukti Nyata

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Kamis , 28 Agustus 2014

 Amsal 27 : 1 – 27
“Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri.” Amsal 27 : 2
Ada banyak orang Kristen yang seringkali menjadi kasak-kusuk banyak orang ; “Orang itu rajin ke gereja, tapi hidupnya kok tidak berubah ya ? Katanya sudah ikut pelayanan, tapi mengapa sifatnya masih seperti itu, tidak beda jauh dengan orang dunia ? “ Hidup Kekristenan sebenarnya adalah suatu proses perubahan hidup, pikiran dan hati. Tutur kata, sikap, tingkah laku atau perbuatan harus berubah ! Ditegaskan : “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12 : 2).

Orang Kristen yang tidak berubah adalah orang Kristen yang mati rohaninya ! Lalu,bagaimana kita tahu bahwa kehidupan kita sudah berubah ? Kita akan tahu jika kita ini sudah berubah ketika orang lain mulai menyadari perubahan yang terjadi dalam diri kita, bukan kita sendiri yang menggembar-gemborkannya. Ini berarti perubahan selalu akan memperlihatkan bukti yang dapat dilihat dengan jelas. Seseorang dikatakan berubah, baik itu ke arah positif ataupun negatif, apabila diganti dengan perbuatan yang berbeda. Contoh : orang yang biasanya keluyuran malam (‘dugem’) kini sudah tidak lagi berbuat seperti itu, hidupnya benar-benar berubah, sekarang malah aktif di persekutuan-persekutuan doa ; orang yang dulunya suka berkata jorok atau suka membicarakan orang lain, kini tidak lagi, kini perkataannya selalu membangun dan menguatkan orang lain. Kita juga banyak mendengar kesaksian dari mantan napi yang hidupnya berubah 180 derajat, dan kini melayani Tuhan dan diurapi Tuhan secara luar biasa.

Perubahan itu memerlukan bukti nyata, bukan hanya melalui perkataan kita, sebelum orang lain bisa mempercayai dan menerima itu sebagai sebuah kebenaran. Jadi orang Kristen dikatakan hidupnya sudah berubah apabila ada bukti lahiriah yang dapat dilihat oleh orang lain dengan jelas sehingga menjadi kesaksian yang baik bagi mereka.

SEBAGAI MANUSIA BARU DI DALAM KRISTUS, “MARILAH KITA MENANGGALKAN PERBUATAN-PERBUATAN KEGELAPAN DAN MENGENAKAN PERLENGKAPAN SENJATA TERANG !” ROMA 13 : 12B

27 August 2014

Jangan Jadi Orang Kikir

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Rabu, 27 Agustus 2014

Amsal 28
“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta dan tidak mengetahui ia akan mengalami kekurangan.” Amsal 28 : 22
Ada kisah tentang seorang yang kaya raya tapi selalu jaid perbincangan di antara tetangga kanan kiri. Bukan karena dia orang kaya yang murah hati atau suka menolong, sebaliknya ia di kenal sebagai orang kaya yang sangat kikir, tidak peduli terhadap orang lain, tidak pernah beramal atau bersedekah.

Kikir dan hemat itu berbeda. Kikir sama artinya dengan pelit, sedangkan hemat memiliki sinonim : ekonomis atau irit. Jelas ada perbedaan antara keduanya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang salah kaprah menerapkan kedua kata sifat ini. Maksud hati ingin berhemat tapi malah menjadi pelit, karena terlalu hemat. Kata kikir berarti terlalu hemat memakai harta bendanya. Berhati-hatilah ! Dalam Amsal 11 : 24 dikatakan : “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Alkitab juga dengan tegas menyatakan bahwa orang yang kikir tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (baca 1 Korintus 6 : 10). Bahkan Rasul Paulus secara terang-terangan melarang orang percaya untuk bergaul dengan orang yang kikir (baca 1 Korintus 5 : 11).

Kikir adalah sifat buruk yang tidak boleh dimiliki oleh orang Kristen, karena kikir justru akan membawa seseorang pada kekurangan, bahkan kemiskinan. Tuhan menghendaki agar kita memiliki sifat murah hati. Orang yang murah hati, yang suka menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan atau kesusahan akan mengalami kelimpahan berkat dari Tuhan. Tertulis : “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan.” (Amsal 11 : 25a). Kunci mengalami kelimpahan bukanlah dengan menghemat begitu rupa, tapi bermurah hati, sebab kapasitas untuk menerima dari Tuhan bergantung penuh dari kapasitas untuk memberi. Jadi kita baru dapat mengalami kelimpahan apabila kita bermurah hati. Orang yang murah hati akan menuai banyak (baca 2 Korintus 9 : 6), sebab tidak mungkin ada tuaian apabila tidak ada benih yang ditabur. Orang yang murah hati menabur banyak, itulah sebabnya ia akan menuai banyak juga.

JANGAN KIKIR ! JADILAH SEORANG YANG MURAH HATI, KARENA “ORANG YANG MURAH HATI BERBUAT BAIK KEPADA DIRI SENDIRI .” AMSAL 11 : 7A

 

26 August 2014

Rasa Takut Jangan Dipelihara

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT. Baithani DEnpasar

Selasa , 26 Agustus 2014

 Mazmur 118 : 1 – 29
“Tuhan dipihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ?”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Rasa takut yang ‘dipelihara’ akan menimbulkan dampak yang buruk tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Ketika hendak berperang melawan bangsa Midian Tuhan memerintahkan Gideon untuk memisahkan tentara yang takut dan gentar. Tuhan berkata, “Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggalah sepuluh ribu orang.” (Hakim-Hakim 7 : 3a). Mengapa ? Karena ketakutan itu bisa menjalar dan mempengaruhi yang lain. Rasa takut juga bisa menjadi penghalang utama dalam merebut kemenangan dan janji-janji Tuhan. Itulah sebabnya tentara yang penakut tidak boleh turut berperang.

Mengapa rasa takut harus dikalahkan ? Karena ketakutan adalah salah satu senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang yang percaya. Karena itu “janganlah beri kesempatan pada Iblis.” (Efesus 4 : 27). Jangan memberi celah sedikit pun kepada Iblis karena ketika kita berkompromi, Iblis akan memasuki wilayah kehidupan kita. Kompromi akan membawa kita kepada kekalahan dan kehancuran karena ketika berada dalam persoalan atau tekanan, rasa takut membuat orang mudah putus asa, kehilangan semangat dan pada akhirnya akan menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman ! Contoh : menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman ! Contoh : ketika dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya, bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga mereka menjadi putus asa, tidak mau melanjutkan perjalanan dan ingin kembali saja ke Mesir.

Bagaimana kita dapat menang atas ketakutan ? Kita harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal (baca Yeremia 17 : 7). Simak penyataan Daud, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu ; kepada Allah, yang firman-Nya ku puji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ?” (Mazmur 56 : 4 – 5). Banyak orang Kristen yang mengandalkan kekayaan yang dimiliki, padahal Alkitab menegaskan bahwa kekayaan itu memiliki sayap dan dapat terbang atau bisa lenyap sewaktu-waktu (baca Amsal 23 : 4 – 5).

JANGAN TAKUT, TUHAN MENYERTAI KITA !

25 August 2014

Sekaranglah Waktunya untuk memberitakan Injil

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Senin , 25 Agustus 2014
  
Matius 4 : 23 – 25
“Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara Bangsa itu.” Matius 4 : 23
Selama berada di bumi Yesus tidak pernah berhenti untuk bekerja. Dia berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yohanes 5 : 17). Sebagaimana dinyatakan dalam ayat nas, Yesus tidak pernah menyia-nyiakan setiap waktu dan kesempatan yang ada : berkeliling, mengajar dan memberitakan Injil serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Bagaimana kita ? Tuhan Yesus telah meninggalkan teladan bagaimana Ia dengan sepenuh hatinya mengerjakan : “segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya aku melaksanakan-Nya.” (Yohanes 5 : 36a). Kini tugas itu ada di pundak kita ! Tuhan Yesus memberi perintah kepada setiap orang percaya untuk memberitakan Injil. Perintah-Nya kepada kita : ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16 : 15).

Sudahkah kita melakukan perintah Tuhan ini ! “Ah nanti saja kalau sudah bekerja aku akan memberitakan Injil. Kalau Tuhan sudah menyembuhkan sakitku aku pasti akan bersaksi dan memberitakan Injil. Nanti kalau usahaku sudah pulih aku akan ikut pelayanan. Ah itu kan tugasnya pendeta atau hamba Tuhan, sedangkan aku hanya jemaat biasa atau orang awam.” dan macam-macam alasan. Banyak orang Kristen yang masih terfokus mengejar materi dan kesibukan. Masih banyak pula yang enggan dan tidak tergerak hati nya untuk memberitakan Injil. Ingat, memberitakan Injil adalah tugas yang tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap orang Kristen. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ? Selagi kita masih hidup dan memiliki tubuh yang sehat, selagi ada waktu dan kesempatan, jangan sia-siakan !

Kepada siapa kita perlu memberitakan Injil ? Mulailah dengan orang-orang yang terdekat (sanak saudara, teman kantor, tetangga). Alkitab jelas menyatakan bahwa memberitakan Injil adalah pekerjaan utama semua orang percaya sebelum Tuhan Yesus datang kali yang kedua (baca Matius 24 : 14). Jangan memiliki perasaan takut ditolak atau diejek sebelum mencoba memberitakan Injil.

“KITA HARUS MENGERJAKAN PEKERJAAN DIA YANG MENGUTUS AKU, SELAMA MASIH SIANG ; AKAN DATANG MALAM, DI MANA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DAPAT BEKERJA.” YOHANES 9 : 4

 

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Sabtu , 23 Agustus 2014

Mazmur 31

“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau simpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kau lakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia !” Mazmur 31 : 20

Takut akan Tuhan adalah unsur penting dalam kehidupan orang yang percaya. Takut yang bagaimana ? Ada banyak diantara kita yang takut akan banyak hal, seperti takut akan hantu, takut akan ketinggian, takut akan keramaian dan sebagainya. Takut akan Tuhan bukanlah hal seperti itu. Pengertian takut akan Tuhan menjadi jelas jika kita mengerti siapa dan seperti apa Tuhan itu.

Secara Alkitabiah takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan di sini adalah wujud rasa takut dalam arti postif. Artinya kita menghormati Dia karena kebesaran-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya dan juga kebenaran-Nya. Tanpa rasa takut akan Tuhan orang Kristen cenderung berpikir, berkata, dan berbuat sesuka hatinya sendiri. Rasa takut akan Tuhan yang seperti ini juga tidak didasari oleh karena takut mengalami hukuman atau takut masuk neraka, karena jika hal ini yang terjadi maka rasa takut semacam ini tidak didasarkan pada kasih kepada Tuhan.

Takut akan Tuhan adalah ketetapan hati dan pikiran orang percaya yang tidak mengecewakan Tuhan melalui pikiran, ucapan dan tindakannya sebagai ekspresi kasih kepada-Nya. Jadi orang yang takut akan Tuhan akan berusaha untuk hidup seturut Firman-Nya, menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan (dosa) dengan kerelaan hatinya sendiri, bukan karena terpaksa atau karena dorongan dari orang lain. Dalam Pengkotbah 12 : 13 dikatakan : “Akhir kata dari segala yang di dengar ialah : takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Ada berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang takut akan Dia : 1. Kita akan hidup dalam kebahagiaan dan ketentraman (baca Mazmur 128 : 1 dan Amsal 14 : 26). 2. Kita tidak akan kekurangan sesuatu pun yan baik dari Tuhan. “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau simpan bagi orang yang takut akan Engkau” (Mazmur 31 : 20a). 3. Kita akan diperhatikan oleh Tuhan (baca Mazmur 33 : 18). 4. Doa kita akan di dengar dan dijawab Tuhan. “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.” (Mazmur 145 : 19).

ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN PASTI AKAN MENGALAMI SEMUA KEBAIKAN TUHAN !

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Saturday, August 23, 2014

Psalm 31

“How abundant goodness have you saved for those who fear you, which you have done for them that trust in thee, in the sight of men!” Psalm 31: 20

The fear of the Lord is an important element in the life of believers. Fear is how? There are many of us who are afraid of many things, such as fear of ghosts, fear of heights, fear of crowds, and so on. The fear of God is not like that. Understanding fear of God becomes clear if we understand who and what God is.

In biblical fear of God speaks of strength, greatness, authority and holiness of God. The fear of the Lord here is a manifestation of fear in a positive sense. This means that we honor Him for His greatness, His holiness, His justice and His righteousness. Without the fear of God Christians tend to think, say, and do as they please themselves. The fear of God is like this is also not based on fear of punishment or fear of having to go to hell, because if this is the case then this kind of fear is not based on love for God.

The fear of the Lord is the determination and mind of the believer who does not disappoint God through thoughts, words and actions as an expression of love for Him. So those who fear the Lord will seek to live according to His Word, abstain from all forms of evil (sin) by expressing his own heart, not out of necessity or because of encouragement from others. In Ecclesiastes 12: 13 says: “The end of all that is heard is: fear God and keep His commandments, because this applies to every person.”

There are blessings the Lord has provided for those who fear him: 1 We will live in happiness and peace (read Psalm 128: 1 and Proverbs 14: 26). 2 We will not lack anything good from God yan. “How abundant goodness have you saved for those who fear thee” (Psalm 31: 20a). 3 We are going to be noticed by the Lord (see Psalm 33: 18). 4 Our prayers will be heard and answered God. “He did the will of those who fear Him, listen to their cry and saves them.” (Psalm 145: 19).

PEOPLE WHO FEAR GOD WILL SURELY WILL HAVE ALL THE GOOD LORD!