Get Adobe Flash player

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Selasa, 12 Agustus 2014

2 Raja-Raja 5 : 1 - 27

“Maka turunlah ia membenamkan dirinya 7 kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulih-lah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.” ( 2 Raja-Raja 5:14 )

Naaman pun tergerak hatinya dan mengikuti anjuran dari hamba kecil itu, Naaman berharap beroleh kesembuhan dengan cara terhormat, misalkan melalui penumpangan tangan, atau mungkin dia berharap kesembuhan itu langsung dari sorga. Namun Naaman kembali dihadapkan pada ujian kerendahan hati, karena ternyata apa yang disampaikan abdi Allah itu dliuar dugaannya. Elisa mengutus seorang utusan kepadanya mengatakan : “ Pergilah mandi 7 kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” ( 2 Raja-Raja 5:10 ) naaman diminta mandi di sungai Yordan ! Hal ini membuatnya tersinggung, sehingga ia menolak perintah Elisa. Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel ? Bukankah aku dapat mandi disana dan menjadi tahir? Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.( 2 Raja-Raja 5:12 ) ada pergumulan hebat dalam diri Naaman,antara ego, keangkuhan dan juga iman. Namun atas desakan pegawai-pegawainya Naaman pun melakukan apa yang diperintahkan Elisa. “Maka turunlah ia membenamkan diri di sungai itu, mujizat terjadi : Naaman sembuh, bahkan”…pulih-lah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.”

Kesaksian seorang budak kecil disertai kerendahan hati dan ketaatan Naaman akhirnya menggerakkan hati Tuhan untuk bertindak. Panglima Raja Aram itu pun disembuhkan dari penyakit kustanya. Kuncinya adalah iman yang disertai dengan perbuatan ! Sebab “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2 : 17)

IMAN SEORANG HAMBA KECIL SANGGUP MEMBAWA DAMPAK BESAR BAGI ORANG LAIN !

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Tuesday, August 12, 2014

2 King 5: 1-27

“So he went down to immerse himself seven times in the Jordan, according to the words of the prophet. Then his body was recovered-back like a child’s body and he was made ​​clean. “(2 Kings 5:14)

Naaman was moved and follow the advice of the little servant, Naaman hope hath healing respectable manner, for example through the laying on of hands, or perhaps he hoped that healing directly from heaven. But Naaman was again faced with the test of humility, because it turns out what the man of God dliuar expected. Elisha sent a messenger to him, saying: “Go and wash seven times in the Jordan, then your body will recover, so you will be clean.” (2 Kings 5:10) Naaman asked to bathe in the Jordan! This makes it hurt, so he refused orders Elisha. Are not Abana and Parpar, rivers of Damascus, better than all the rivers of Israel? Did not I can bathe there and be clean? Then he turned and went with a hot heart. (2 Kings 5:12) there is a great struggle within Naaman, the ego, arrogance and faith. But at the urging of his servants, Naaman was commanded to do what Elisha. “Then he went down the river to immerse themselves in it, a miracle happened: Naaman healed, even” … the one recovered his body back like a child’s body and he will be clean. ”

Testimony of a little slave with humility and obedience of Naaman finally moves the heart of God to act. Commander of the king of Aram was cured of his leprosy. The key is faith that is accompanied by action! Because “If faith without works, then that faith is dead.” (James 2: 17)

SERVANT OF A LITTLE FAITH CAN CARRY A BIG IMPACT FOR OTHERS!

 

11 August 2014

Hamba kecil beriman besar ( Servant who had great faith )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Senin, 11 Agustus 2014

2 Raja-Raja 5 : 1 – 27

“Sekiranya tuanku menghadapi nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” 2 Raja-Raja 5 : 3

Naaman adalah salah satu tokoh di dalam Alkitab, namanya tidak asing di telinga orang Kristen. Ia sangat terkenal, berkuasa, berpengaruh dan dihormati oleh orang banyak. Sebagai Panglima Raja Aram bisa dikatakan sebagai tangan kanan Raja, karena itu ia sangat dikasihi oleh Raja. Naaman bukan hanya seorang jenderal, tapi juga seorang pahlawan perang yang gagah perkasa. Kontribusinya bagi Negara tidak diragukan lagi.

Meski memiliki posisi tinggi dan terpandang ada satu “noda” dalam hidup Naaman, yaitu penyakit kusta yang di deritanya. Siapapun orangnya dan setinggi apapun pangkatnya jika terserang penyakit ini pasti dijauhi banyak orang, apalagi di kalangan orang Ibrani penyakit kusta dianggap najis dan berbahaya karena dapat menular kepada orang lain. Maka dari itu orang yang menderita sakit ini harus diasingkan dari masyarakat luas. Tidak seorangpun yang diperbolehkan bersentuhan dengannya, “Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis, ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” (Imamat 13 : 46)

Di rumah Naaman ada anak perempuan kecil dari Israel yang merupakan tawanan yang dibawa oleh gerombolan orang Aram saat terjadi perang, dan ia dijadikan hamba bagi Isteri Naaman. Melihat tuannya sakit kusta, hamba kecil ini pun memberikan diri menyampaikan usulannya kepada istri Naaman, “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.” (2 Raja-Raja 5 : 3). Nabi yang dimaksudkan adalah Elisa. Sebagai anak Yahudi, ia tahu banyak tentang mujizat-mujizat yang dilakukan Elisa. Ia pun bersaksi kepada majikan perempuannya tentang kedahsyatan kuasa Allah bangsa Israel yang dinyatakan melalui Elisa. Hamba kecil ini sangat percaya jika tuannya mau datang kepada abdi Allah itu pasti akan sembuh. Mungkin orang akan berpikir, “Masakan seorang tuan yang berpangkat jenderal da terpandang harus mendengarkan saran seorang budak kecil?” Memang ini tidak mudah, dibutuhkan kerendahan hati. Namun yang ada di benak Naaman hanyalah bagaimana ia bisa sembuh dari sakit kustanya. Maka Naaman tidak perlu merasa gengsi atau jaim (“Jaga Image”).

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Monday, August 11, 2014

  2 Kings 5: 1-27

“If only my master face prophet in Samaria, then surely the prophet would cure him of his illness.” 2 Kings 5: 3

Naaman is one of the characters in the Bible, the name is familiar in the ears of Christians. He is very well-known, powerful, influential and respected by many people. As Commander of the King of Aram can be regarded as the King’s right hand, because he was loved by the King. Naaman not only a general, but also a mighty man of war. Its contribution to the State no doubt.

Despite having a high and respected position there is a “stain” in the life of Naaman, the leprosy in misery. Whoever the person and however high his rank if this disease must be shunned many people, especially among the Hebrews leprosy was considered unclean and dangerous because it can be transmitted to others. That is why people who suffer from this illness must be isolated from the wider community. No one is allowed to come in contact with him, “As long as she’s illness, he remains unclean, he must live in isolation, his place of residence outside the camp.” (Leviticus 13: 46)

Naaman in the house there is a little girl from Israel who was taken prisoner by the Syrians during a gang war, and he made ​​a servant to Naaman’s wife. Seeing his master leprosy, small servant was also given a self-delivering proposals to Naaman’s wife, “If only my master overlooks the prophet in Samaria, then surely the prophet would cure him of his illness.” (2 Kings 5: 3). Elisha the prophet is intended. As a Jewish child, he knows a lot about the miracles that Elisha has done. He also testified to her employer about the awesomeness of the power of the God of Israel is expressed through Elisha. This very small servant if his master trust will come to the man of God must be cured. Maybe people will think, “Cuisine a gentleman who held the rank of general of da respected should listen to the advice of a little slave?” It is not easy, it takes humility. But that is in the minds of Naaman just how he can recover from his leprosy hospital. So Naaman should not feel pride .
 

9 August 2014

Jangan Berbuat Dosa Lagi ( Do not sin again )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Sabtu , 09 Agustus 2014

MAZMUR 32 : 1 -11
“Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan, aku berkata : “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku.” Mazmur 32 : 5

Dengan segala iming-iming yang menggiurkan : harta kekayaan, nasib baik, usaha laris dan sebagainya, Iblis memasang jerat-nya dan banyak orang terperangkap di dalamnya. Mereka berduyun-duyun datang dan meminta pertolongan kepada Iblis dan bala tentaranya. Mereka pun lebih percaya kepada kuasa-kuasa gelap yang dapat memberikan pertolongan secara instan daripada harus menunggu jawaban dari Tuhan. Jangan berkata bahwa perbuatan semacam ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang belum percaya, ada juga orang Kristen yang turut terlibat meski mereka juga masih aktif menghadiri jam-jam peribadatan. Satu-satunya jalan untuk terlepas dari kuasa kegelapan yang membelenggu adalah membereskannya di hadapan Tuhan Yesus, karena Dia satu-satunya Pribadi yang sanggup membebaskan kita dari kutuk dosa. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis : “Terkutuklah orang yang digantung *ada kayu salib ! Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh Iman kita menerima Roh yang telah dijanjikannya itu.” (Galatia 3 : 13 – 14).

Di dalam Kristus kita bukan lagi menjadi hamba dosa, melainkan hamba kebenaran. Kita tidak lagi berada dalam kegelapan, melainkan telah dipindahkan kepada terang-Nya yang ajaib. Karena itu kita tidak layak untuk berbuat dosa lagi atau turut ambil bagian dalam perbuatan-perbuatan gelap. Selain itu kita disebut juga berbuat dosa jika kita tidak mau berbuat baik, “…Jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4 : 17). Apalah artinya kita hanya berteori tentang hal-hal yang baik dalam pikiran dan hati, bila kita tidak mau melakukannya ?

Jadi setiap anak Tuhan harus berbuat baik, sebab Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati (baca Yakobus 2 : 17). Buang semua pikiran jahat karena itu juga termasuk pelanggaran Firman Tuhan ; meski belum melakukan tetapi jika di dalam pikiran dan hati kita tersimpan segala yang jahat, itu sudah disebut dosa (baca Matius 15 : 19).

TINGGALKAN DOSA, MARI HIDUP SEBAGAI MANUSIA BARU DI DALAM KRISTUS !

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Saturday, August 9, 2014

PSALM 32: 1 -11
“I told my sin unto thee, and I hid not my fault, I said:” I will confess my transgressions to the Lord. “Psalm 32: 5

With all the tempting lure: wealth, good fortune, business demand and so, the devil set his traps and a lot of people caught in it. They flocked in and ask for help to Satan and his armies. They also have more confidence in the powers of darkness that can provide instant relief rather than having to wait for an answer from God. Do not say that this kind of action is only done by people who do not believe, there are also Christians who are involved even though they are still actively attending the hours of worship. The only way to escape from the power of darkness cuff is clean it before the Lord Jesus, because He is the only One who can deliver us from the curse of sin. “Christ redeemed us from the curse of the law by becoming a curse for us: for it is written:” Cursed is everyone who hangs * no cross! Jesus Christ has made in order that the blessing of Abraham might come upon the Gentiles, so that by faith we receive the Spirit that he had promised. “(Galatians 3: 13-14).

In Christ we are no longer a slave to sin, but servants of righteousness. We are no longer in darkness, but have been moved to his wonderful light. Therefore we do not deserve to sin again or take part in a dark deeds. In addition, we are also called sin if we do not want to do good, “… If one knows how he should do good, but he does not do so, he is guilty.” (James 4: 17). What does it mean we only theorize about the good things in your mind and heart, if we do not want to do that?

So every child of God to do good, because Faith without works is dead (read James 2: 17). Discard all evil thoughts because it is also a violation of God’s Word; although not done, but if in the minds and hearts of all the evil stored, it has been called the sin (see Matthew 15: 19).

LEAVE SIN, LET’S LIFE AS A NEW MAN IN CHRIST!

8 August 2014

Jangan Berbuat Dosa lagi ( Do not sin again )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

1029_ht

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Jumat , 08 Agustus 2014

 Yohanes 3 : 1 – 10

“Setiap Orang yang berbuat dosa, melanggar juga Hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” 1 Yohanes 3 : 4

Hari-hari ini adalah masa-masa akhir menjelang kedatangan Tuhan yang kian mendekat. Semakin dekat semakin meningkat pula dosa dan kejahatan manusia. Bukankah saat ini jelas terpampang nyata bahwa moralitas manusia makin merosot ? Hal ini tak jauh beda dengan kehidupan orangg-orang zaman Nuh dahulu, di mana “…Kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,” (Kejadian 6 :5), sampai-sampai “ TUHAN menyesal, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6 : 6).

Haruskah kita turut terbawa arus dunia ini dan menjadi sama dengan orang-orang dunia ? Kita harus menyadari status kita saat ini : “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa , tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Efesus 5 : 8,11). Alkitab dengan keras menyatakan : “…barangsiapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran ; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya !” (Wahyu 22 : 11)

Banyak orang berpikir bahwa dosa dapat ditebus dan ditutupi dengan perbuatan baik atau amal perbuatan kita , atau bisa diselesaikan dengan tata cara manusia. Tidak sama sekali ! Manusia yang berdosa tidak bisa menebus dosanya sendiri, sebab tidak mungkin dosa diselesaikan dengan dosa. Karena dosa inilah manusia harus terpisah dari Allah, sebab dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, yaitu setiap firman yang tertulis dalam Alkitab. Segala perbuatan manusia yang bertentangan atau berlawanan dengan firman Tuhan disebut dosa. Ada tertulis : “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya.” (1 Yohanes 3 : 8). Jadi dosa adalah karakter dasar dari Iblis, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran sama sekali, “Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yohanes 8 : 44).
 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Friday, August 8, 2014

 1 John 3: 1-10
“Everyone who sins breaks the law of God, for sin is lawlessness.” 1 John 3: 4

These days are the last days before the coming of the Lord approaching. The closer also increase the sin and wickedness of man. Is not it obvious that the real plastered human morality is declining? It is not much different from the lives of the people of Noah’s day orangg first, where “… Evil man was great in the earth, and that every imagination of the thoughts of his heart was only evil continually” (Genesis 6: 5), to the extent that “the Lord regret, that he had made man on the earth, and it grieved him at his heart. “(Genesis 6: 6).

Should we also swept the world and be together with the people of the world? We must be aware of our current status: “Indeed formerly you were darkness, but now you are light in the Lord. Walk as children of light. Do not take part in the deeds of darkness are not the fruit of anything, but instead expose the deeds. “(Ephesians 5: 8.11). The Bible strongly states: “… whoever is right, let him continue to do righteousness; he who is holy, let him be sanctified themselves! “(Revelation 22: 11)

Many people think that sin can be atoned for and covered by good works or our deeds, or can be solved with human ordinances. Not at all! Sinful human beings can not make up for his own sin, because sin may not be resolved with sin. Because it is human sin must be separated from God, for sin is the transgression of God’s law, ie every word that is written in the Bible. All human actions are contrary or opposite to the word of God is called sin. It is written: “whosoever committeth sin is of the devil, because the devil sinned from the beginning.” (1 John 3: 8). So sin is the basic character of the devil, because in him there is no truth at all, “He was a murderer from the beginning and do not live in the truth, because there is no truth in him. When he told a lie, he said on his own, for he is a liar and the father of lies. “(John 8: 44).

7 August 2014

Mengoreksi Diri ( Correct Yourself )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

berdoa02_ht

 

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Kamis , 07 Agustus 2014

 Kejadian 3 : 1 – 24

 “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kejadian 3 : 12

Sepenggal ayat nas di atas menggambarkan keadaan manusia saat pertama kali jatuh dalam dosa. Ketika dia ditanya Tuhan, “ Mengapa hal ini bisa terjadi?”, tindakan pertama yang dilakukan adalah menyalahkan orang lain dan saling melempar tanggung jawab atas ketidaktaatan yang mereka perbuat. Adam berusaha membela diri dengan menyalahkan Hawa yang telah memberinya buah dari pohon kehidupan itu. Hawa pun tidak mau jika ia disalahkan sepenuhnya, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (Kejadian 3 : 13). Akhirnya si ular yang merupakan trouble maker pun tak bisa mengelak walau sebenarnya ia hanya sebagai sarana yang dipakai Iblis untuk memperdaya manusia. Jadi bukanlah hal yang mengejutkan bila banyak orang saling mempersalahkan dan melempar tanggung jawab apabila kedapatan melakukan kesalahan atau pelanggaran. Contoh nyata adalah para koruptor di negeri ini. Ketika ada satu orang yang tertangkap, ia pun ‘berkicau’, tidak mau mau disalahkan sendirian, dan bila ternyata ada banyak orang turut terlibat mereka akan saling menuding, melemparkan kesalahan dan ingin ‘cuci tangan’.

Peristiwa serupa sering juga terjadi dalam kehidupan orang percaya. Adalah tidak mudah bagi seseorang untuk legowo atau berjiwa besar mengakui setiap kesalahan atau pelanggaran yang telah diperbuat. Kita cenderung menyalahkan rekan pelayanan dan rekan kerja, suami menyalahkan istri, istri menyalahkan suami, orangtua menyalahkan anak dan juga sebaliknya. Siapa yang menuai keuntungan dalam hal ini ? Tak lain dan tak bukan adalah si Iblis. Iblis akan tertawa lepas karena ia telah berhasil menjalankan misinya : memecah belah dan menghancurkan hidup orang Kristen. Iblis tidak harus memeras keringat dalam bekerja, namun sudah banyak orang yang menjadi korbannya. Padahal Iblis hanya berusaha mencari celah kecil untuk bisa menerobos.

Mari , berhenti saling menyalahkan ! Biarlah masing-masing senantiasa mengoreksi diri dan dengan rendah hati mengakui kesalahan di hadapan Tuhan supaya Iblis tidak menari-nari diatasnya.

“MARILAH KITA MENYELIDIKI DAN MEMERIKSA HIDUP KITA, DAN BERPALING KEPADA TUHAN.” RATAPAN 3 : 41

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Thursday, August 7, 2014

 Genesis 3: 1-24
“The woman You put at my side, she gave me of the tree, and I ate.” Genesis 3: 12

Piece of a paragraph passage above describes the human condition when he first fell into sin. When he asked God, “Why did this happen?”, The first action taken is to blame someone else and throwing responsibility for disobedience they do. Adam tried to defend himself by blaming Eve who had given him the fruit of the tree of life. Eve did not want to if he blamed entirely, “The serpent deceived me, and I ate.” (Genesis 3: 13). Finally the snake which is a trouble maker could not escape even though he was only used as a tool of Satan to deceive humans. So it is not surprising that many people blame each other and throw the responsibility if caught making a mistake or offense. A concrete example is the corruption in this country. When there is one person who was caught, he was ‘singing’, would not want to be blamed alone, and if it turns out there are a lot of people are involved they will accuse each other, throwing error and want to ‘wash your hands’.

Similar events also occur frequently in the lives of believers. It is not easy for a person to willingly or high-minded to admit any fault or offense had done. We tend to blame the ministry colleagues and co-workers, husband blames the wife, the wife blames the husband, the parents blame the child and vice versa. Who would reap the benefits in this case? None other than the devil. The devil will laugh out loud because he has managed to fulfill its mission: to divide and destroy the Christian life. The devil does not have to sweat in the work, but had a lot of people who become victims. Though Satan seeks only to be able to break through the small gap.

Come on, stop blaming each other! Let each one always correcting yourself and humbly confess before God so that Satan will not dance on it.

“INVESTIGATING AND CHECK WE LET OUR LIVES, AND TURN AWAY TO GOD.” LAMENT 3: 41

6 August 2014

MELAYANI SAMPAI GARIS AKHIR ( Serve Until The End )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

cross_on_blue

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Rabu , 06 Agustus 2014

 1 Timotius 4 : 1-16

“Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu,” 1 Timotius 4 : 16a

Dewasa ini makin banyak anak Tuhan yang turut terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Ini adalah berita baik ! Namun menjadi pelayan Tuhan yang benar bukanlah pekerjaan yang mudah. Ada harga yang harus kita bayar ! Kita tidak bisa melayani Tuhan dengan asal-asalan atau sekedar latah karena ikut-ikutan. Melayani Tuhan adalah tugas yang sangat mulia, karena itu kita harus melakukannya dengan kesungguhan hati dan komitmen yang tinggi.

Timotius adalah seorang pemuda yang bertalenta dan memiliki kehidupan rohani yang mumpuni. Komitmennya dalam melayani Tuhan tak diragukan lagi. Itulah sebabnya rasul Paulus tak henti-hentinya berdoa untuk Timotius supaya ia tetap memiliki semangat dalam melayani Tuhan. “…kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.” (2 Timotius 1 : 6). Ada banyak alasan lagi bagi Timotius untuk menjadi lemah dan patah semangat melayani karena banyak tantangan dan ujian menghadang langkahnya dalam mengemban Amanat Agung Tuhan ini. Apalagi saat itu Paulus selaku pembina Rohani Timotius sedang dipenjara oleh karena Injil : secara manusia mental Timotius pasti terpengaruh dan terganggu !

Orang berpendapat bahwa orang muda itu masih ‘Hijau’, minim pengalaman, belum banyak mengenyam asam garam kehidupan , sehingga mereka memandang Timotius dengan sebelah mata. Mereka berpendapat bahwa orang muda belum layak menjadi pemimpin rohani. Belum lagi permasalahan yang ada dalam jemaat di Efesus yang begitu kompleks. Ibarat suatu penyakit, maka penyakit jemaat Efesus itu stadium empat atau sudah kronis. Pada saat itu ada banyak pengajar-pengajar sesat yang menyusup di antara jemaat menebarkan ajarannya yang menyimpang dari kebenaran injil, sehingga jemaat mulai terjebak dengan takhayul dan dongeng-dongeng. Rasul Paulus menasihati Timotius, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4 : 12). Inilah tantangan tersendiri bagi Timotius untuk menunjukkan kualitas hidupnya sebagai pelayan Tuhan muda !

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Wednesday,  August 6, 2014

 1 Timothy 4: 1-16 

“Watch your life and watch it alone doctrine,” 1 Timothy 4: 16a

Nowadays more and more children of God who are involved in the service of the Lord’s work. This is good news! But being a true servant of God is not an easy job. There is a price we have to pay! We can not serve God with perfunctory or just talkative as it went along. Serving God is a very noble task, therefore we must do so with sincerity and commitment.

Timothy is a talented young man and has a qualified spiritual life. Commitment in serving the Lord no doubt. That is why the apostle Paul prayed unceasingly to Timothy that he still has a passion for serving the Lord. “… I remind you to rekindle the gift of God which is in you through the laying on of my hands.” (2 Timothy 1: 6). There are many more reasons for Timothy to be weak and discouraged serve as many challenges and examinations facing step in carrying out the Great Commission of the Lord. Especially when it is as an adviser Spiritual Timothy Paul was imprisoned by the gospel: the man mentally affected and disturbed certainly Timothy!

People found that young people are still ‘green’, lack of experience, not much of a acid salt of life, so they looked at Timothy with one eye. They argue that young people not worthy of being a spiritual leader. Not to mention the problems that exist in the church at Ephesus were so complex. Like a disease, the disease was stage four Ephesian or chronic. At the moment there are a lot of misguided teachers who infiltrate in the congregation to spread his teachings that deviate from the truth of the gospel, so that the congregation began to get stuck with superstition and fairy tales. The Apostle Paul admonished Timothy, “Do not let anyone look down on you because you are young. Be an example for the believers in speech, in life, in love, in faithfulness and in purity. “(1 Timothy 4: 12). This is the challenge for Timothy to demonstrate the quality of life as a young servant of God!

5 August 2014

MILIKI IMPIAN BESAR 2 ( HAVE A BIG DREAM 2 )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

 

bundaran

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Selasa 5 Agustus 2014

Mazmur 107 : 23-32

“Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN , dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam”. Mazmur 107 : 24

Tuhan sudah menyediakan berkat-Nya , tapi perlu upaya keras untuk meraihnya sebab berkat-Nya yang besar tersedia di tempat yang “dalam”. Hanya laut yang dalam para nelayan akan menangkap ikan-ikan besar. Inilah perintah Tuhan kepada Simon Petrus , “Bertolaklah  ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5 : 4).

Ukuran masalah yang kita hadapi biasanya menentukan pula level kerohanian yang akan kita capai , karena Tuhan tahu kemampuan kita , Ia pun mengijinkan masalah terjadi sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Jika kita menyadari akan hal ini kita akan terus melangkah maju bersama Tuhan , karena kita percaya bahwa “…dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang , oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8 : 37). Itulah sebabnya Tuhan pun menghendaki kita untuk memimpikan apa saja dan menginginkan apa saja, “…tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4 : 6). Perlu diingat bahwa mimpi tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa tindakan dan usaha kita mewujudkannya. Orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang mengawalinya dengan sebuah mimpi besar yang membuat mereka menjadi orang-orang yang rajin, tekun, tidak gampang menyerah pada tantangan yang menghambat impiannya. Mereka tidak berpangku tangan, mengharap berkat turun dari langit. Ketika kita melakukan yang terbaik, yakinlah Tuhan akan melakukan yang tidak sanggup kita lakukan. “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa.” (Mazmur 60 : 14).

Mungkin saat ini kita sedang terpuruk dan gagal. Jangan putus asa dan tawar hati. Ayo bangkit ! Sekali lagi, bangkitlah ! Mari kita arahkan mata kita kepada kuasa Tuhan yang tak terbatas itu ! Yosua, karena mengandalkan Tuhan, mampu melewati setiap rintangan dan berhasil membawa bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian.

KUNCI MERAIH IMPIAN BESAR : ANDALKAN TUHAN DALAM SEGALA PERKARA, SEBAB “BAGI DIALAH, YANG DAPAT MELAKUKAN JAUH LEBIH BANYAK DARIPADA YANG KITA DOAKAN ATAU PIKIRKAN,” EFESUS 3 : 20

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Tuesday, August 5, 2014 

Mazmur 107 : 23-32

They see the works of the Lord, and His deeds wonders in the deep”.  (Psalm 107: 24 )

God provided His blessing, but need a strong effort to achieve it because of His great blessings available in place “within”. Only the deep sea fishermen will catch big fish. This is the Lord’s command to Simon Peter, “Put out into the deep and scatter your nets for a catch.” (Luke 5: 4).

The size of the problems we face are usually also determine the level of spirituality that we will achieve, because God knows our abilities, He also allowed the problem occurs in accordance with the capacity we have. If we are aware of this we will continue to move forward with God, because we believe that “… in all these things we are more than those conquerors through him who loved us.” (Romans 8: 37). That is why God also wants us to envision wanting anything and everything, “… but in everything it desires to God in prayer and supplication with thanksgiving.” (Philippians 4: 6). Keep in mind that the dream will never become a reality without the actions and efforts we make it happen. The people who succeed are the ones who start out with a big dream that makes them be the ones who are diligent, persevering, not easily give up on the challenges that hinder their dreams. They do not stand idly by, hoping for a blessing down from the sky. When we do our best, God will do the rest assured that we can not do. “With God we will do mighty deeds.” (Psalm 60: 14).

Maybe this time we are going down and fail. Do not despair and lose heart. Come on rise up! Once again, get up! Let us direct our eyes to the power of the infinite God! Joshua, because it relies on the Lord, capable of passing through every obstacle and managed to bring the Israelites entered into the Promised Land.

The key to achieve big dreams: Rely on God in all things, because “for HE was the one, who can do immeasurably more than all we ask or think,” Ephesians 3: 20

4 August 2014

Milikilah Impian Besar 1 ( Have a Big Dream 1 )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian Edisi Senin, 4 Agustus 2014

Posting oleh : GPT Baithani Denpasar

MILIKILAH IMPIAN BESARdrone
“Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai.” (Amsal 21:22 )

Bermimpi berarti memiliki sesuatu dalam pikiran sebelum diwujudkan menjadi kenyataan. Mimpi jenis ini bukanlah mimpi sebagai ‘kembang tidur’, tetapi mimpi yang didalamnya berisikan cita-cita dan kerinduan untuk menggapai sesuatu , yang terkadang sulit dipahami oleh akal sehat kita. Bermimpi disini artinya berpikir besar mencita-citakan hal-hal yang besar dan hebat dengan memaksimalkan potensi yang ada didalam diri. Segala sesuatu , apa saja yang berhasil diwujudkan oleh seseorang, berawal dari mimpi, cita-cita, angan-angan, yang ditanamkan Tuhan dalam hati dan pikirannya, yang terjadi bukan tanpa rintangan atau masalah. Justru melalui masalah kita dibentuk menjadi pribadi yang kuat sehingga kita tidak menyerah kepada keadaan dan tetap melangkah maju menggapai impian impian tersebut. Namun umumnya setiap kali masalah datang, kebanyakan kita menunjukkan reaksi negatif, mengeluh, frustasi, marah, kecewa dan putus asa. Kita seringkali tidak menyadari bahwa dibalik masalah yang besar itu justru tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita memiliki masa depan yang lebih hebat pula.

Tanpa melalui pergulatan dengan Goliath, Daud tidak akan pernah menjadi Raja ! . Ketika kita berhasil mengalahkan ‘raksasa’ dalam kehidupan ini, kita sedang menapaki anak tangga yang lebih tinggi dalam kehidupan kita. Bermimpi bukanlah menanti badai berlalu, melainkan berani menghadapi badai dengan penuh keberanian. “Ketika orang filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang filistin itu.” ( 1 Samuel 17:48 ). Contoh lainnya, Yusuf juga harus melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya, dijual menjadi budak, difitnah dan dipenjarakan karena mimpinya yang besar. Meski demikian ia tetap berpegang pada visi yang diterima dari Tuhan dengan hidup seturut kehendakNya, sampai saatnya Tuhan bertindak sehingga mimpi yang besar itu menjadi kenyataan dan hidup Yusuf menjadi kesaksian dan berkat bagi orang banyak.

Bagi orang yang ‘kualitas rohaninya’ biasa-biasa saja , menghadapi masalah yang kecil saja sudah mudah kecewa dan putus asa, karena itu hidup mereka pada akhirnya juga biasa-biasa saja; mereka menginginkan berkat yang besar akan tetapi tidak mau menghadapi tantangan yang besar juga, sebaliknya justru lebih memilih lari atau menghindar dari masalah.

 

Daily Bread Edition August 4, 2014 by GPT Baithani Denpasar

HAVE A BIG DREAM
“A wise man can climb town heroes, and knock down the fort in which they believe.” (Proverbs 21:22)

Dreaming means to have something in mind before manifested into reality. This type of dream is not a dream as a ‘flower bed’, but a dream in which contains the ideals and the desire to achieve something, which is sometimes difficult to understand by common sense. Dreaming big here means thinking envisions great things and great to maximize the potential that exists within themselves. Everything, anything that successfully realized by someone, originated from dreams, ideals, dreams, God implanted in his heart and mind, which was not without obstacles or problems. It is precisely through the problems we formed into a strong personal so we do not give in to the situation and keep moving forward to reach that dream dreams. But generally any time a problem comes, most of us show a negative reaction, complaining, frustration, anger, disappointment and despair. We often do not realize that behind the big problem was actually stored opportunity that allows us to have a great future as well.

Without going through the struggle with Goliath, David would never be King! . When we managed to beat the ‘giant’ in this life, we are treading a higher rung in our lives. Dreaming is not about waiting the storm passed, but dare to face the storm with courage. “When the philistine was moved forward to meet David, that David ran quickly to the enemy lines to meet the philistine that.” (1 Samuel 17:48). As another example, Joseph also had to get through the toughest times in his life, sold into slavery, vilified and imprisoned for a big dream. Still sticking to the vision he received from God by living according to His will, until such time as God acts so big dream come true and life of Joseph as a testimony and blessing to many people.

For people who are ‘spiritual qualities’ mediocre, facing a small problem alone is easily disappointed and discouraged, because it is their life ultimately unremarkable; they want a great blessing but did not want to face great challenges as well, instead they prefer to run or escape from problems.

24 March 2013

Oleh admin | Dalam Renungan Harian | Tag

Senin, 25 Maret 2013
PUJI-PUJIAN MENDATANGKAN MUJIZAT

Mazmur 47 “Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah!” Mazmur 47:7
Seringkali orang-orang di luar Tuhan mengatakan, “Orang Kristen itu aneh, kalau sedang beribadah pasti mereka menaikkan puji-pujian dengan keras dan bertepuk tangan. Susah atau senang, punya uang atau tidak, sepertinya mereka selalu memuji-muji Tuhan.” Ketahuilah bahwa memuji-muji Tuhan bagi orang percaya adalah suatu perintah dari Tuhan dan keharusan. Pemazmur menegaskan, “Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!” (Mazmur 150:1, 6). Justru orang Kristen yang tidak suka memuji Tuhan adalah orang Kristen yang aneh dan harus segera bertobat! Ingat! Memuji Tuhan adalah suatu perintah dari Tuhan! Apabila kita taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan ini kita akan merasakan berkat dan mujizat dari Tuhan, karena hati Tuhan sangat disenangkan ketika kita mempersembahkan puji-pujia bagi Dia.
Mengapa kita harus memuji Tuhan? “Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atau seluruh bumi.” (Mazmur 47:3). Siapa yang dapat menandingi kedahsyatan Tuhan? Sebagai ciptaanNya sudah seharusnya kita memberikan pujian bagi Dia, karena kita diciptakan untuk memuliakan namaNya yang dahsyat itu. Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Dalam hal ini Nahum mengakui bahwa “Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.” (Nuhum 1:7). Bila kita sudah mengecap segala kebaikan Tuhan, masakan bibir dan lidah kita tetap terkatup dan tidak ada ucapan syukur? Terhadap sesama kita saja kita tahu berterima kasih, terlebih lagi seharusnya kepada Tuhan.
Memuji Tuhan itu juga baik bagi kita sendiri (baca Mazmur 147:1-6) dan mendatangkan kuasa yang luar biasa bagi kita. Dikatakan, “Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.” (Mazmur 84:5, 7). Hidup yang penuh puji-pujian adalah hidup yag dibentengi oleh kuasa Tuhan, yang di dalamnya terkandung kuasa dan berkat yang melimpah.

Selasa, 26 Maret 2013
LAWAN SEMUA TIPU MUSLIHAT IBLIS!

2 Tesalonika 2:1-12 “Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,” 2 Tesalonika 2:9
Sudah sangat jelas bahwa pekerjaan Iblis adalah menghancurkan manusia, sebagaimana tertulis: “Pencuri (Iblis – Red.) datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;” (Yohanes 10:10a). Kita dapat mengetahuinya dengan jelas melalui peristiwa pencobaan yang dialami Ayub. Sepintas pencobaan yag dialami oleh Ayub ini adalah kesepakatan antara Tuhan dan Iblis, sebab sebelum mencobai Ayub, Iblis terlebih dahulu meminta ijin kepada Tuhan. Bila Tuhan tidak mengijinkan, Iblis pasti tidak mungkin dapat mencobai Ayub.
Satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah berkompromi dengan Iblis. Jika pencobaan itu harus terjadi dalam hidup Ayub, pastilah Tuhan punya rencana yang indah di balik itu semua. Yang harus kita mengerti adalah bahwa Iblis selalu berusaha untuk menyerang dan menghancurkan kehidupan orang percaya. Oleh karena itu “…tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7). Ketahuilah, “…si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8). Pengalaman Ayub ini membuktikan bahwa Iblis tidak dapat ‘menyentuh’ kehidupan orang-orang benar karena ada perlindungan Tuhan secara sempurna bagi mereka. Namun bila kita masih bermain-main dengan dosa dan tidak hidup dalam kekudusan kita akan gampang diserang oleh Iblis. Iblis hanya dapat mengganggu kehidupan orang percaya sejauh itu diijinkan oleh Tuhan, dengan tujuan untuk menguji dan melatih iman kita agar semakin kuat di dalam Dia. Terlebih di hari-hari menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang semakin dekat ini, bala tentara Iblis semakin bekerja ekstra menyesatkan orang percaya dengan segala bentuk tipu dayanya, oleh sebab itu “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun jua!” (Tesalonika 2:3a).
Ada pun yang menjadi benteng bagi kita untuk melawan si penyesat ini adalah iman kita, Iblis bisa menembus hal-hal lain, tapi ia tidak dapat menembus iman. Selama kita memiliki iman yang kuat di dalam Tuhan, semua yang kita miliki ada dalam pagar penjagaan Tuhan. Oleh iman pula kita menyadari selalu ada kehadiran Tuhan di tengah-tengah kita untuk menopang dan menjaga kita!

Rabu, 27 Maret 2013
JADILAH ORANG KRISTEN YANG SABAR!

Roma 12:9-21Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Roma 12:12
Beberapa hari kemarin kita telah membahas tentang kesabaran Tuhan terhadap umatNya. Sebagai manusia, kita sulit sekali menjadi orang yang sabar. Bisa dikatakan di zaman serba canggih seperti sekarang ini kesabaran adalah suatu sifat yang paling sulit ditemukan dan menjadi sesuatu hal yang sangat langka, apalagi jika seseorang sedang mengalami penderitaan atau kesesakan. Tidak sedikit dari kita yang berkata, “Apakah saya disuruh sabar terus? Sabar kan ada batasnya.”
Banyak orang maunya melakukan segala sesuatu serba cepat, tanpa pikir pajang dan terburu-buru. Karena itu kepada jemaat di Roma Paulus menasihati, “…sabarlah dalam kesesakan,…” Apa yang dimaksud dengan sabar dalam kesesakan? Sabar dalam kesesakan artinya ketika sedang dalam masalah, kesulitan, tantangan atau beban hidup, kita tidak lagi bersungut-sungut atau mengeluh. Namun kita selalu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Semua persoalan yang terjadi kita pasrahkan kepada Tuhan di dalam doa.
Sabar dalam kesesakan juga berarti kita mau menunggu waktu Tuhan untuk dinyatakan bagi kita. Jadi kita tidak akan pernah mengambil jalan pintas dan menuruti kemauan kita sendiri. Sebaliknya kita akan rela dan tekun menantikan waktu Tuhan tanpa harus mempersoalkan apakah masa penantian itu cepat atau lamabat. Daud berkata, “…semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu;” (Mazmur 25:3a). Orang yang sabar menantikan waktu Tuhan dalam hatinya selalu ada ucapan syukur; ia mengucap syukur bukan untuk penderitaan atau kesesakan yang menimpanya, tetapi untuk penyertaan dan kasih setia Tuhan yang senantiasa dinyatakan dalam hidupnya. Ketika Tuhan menyertai hidup kita di sepanjang hari, segala perkara dapat kita atasi dan lalui, karena “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan…” (Roma 8:28). Itulah sebabnya firmanNya mengajar kit auntuk tetap bersukacita karena ada pengharapan di dalam Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita ini ada dalam pengawasan dan pemeliharaan Tuhan.
Belajarlah selalu mencukupkan diri dengan berkat-berkat yang ada dan tetap bersabar menantikan kuasa Tuhan dinyatakan, karena segala sesuatu indah pada waktuNya!

Kamis, 28 Maret 2013
KETAKUTAN YANG TIDAK PERLU

Mazmur 112 “Ia (orang yang takut akan Tuhan – Red.) tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada Tuhan.” Mazmur 112:7
Sampai dengan hari-hari awal menapaki tahun 2011 banyak orang masih mengalami ketakutan dalam hidupnya. Memang, jika kita perhatikan keadaan, bencana demi bencana waktu itu datang silih berganti tanpa dapat diduga: mulai dari Mentawai, banjir di Wasior, meletusnya gunung Merapi lalu disusul gunung Bromo dan sebagainya. Secara tidak sadar hal ini telah mempengaruhi dan menguasai hati orang-orang percaya. Di satu sisi mereka percaya bahwa Tuhan itu Mahasanggup dan tidak ada perkara yang mustahil bagiNya; namun di sisi lain mereka diliputi rasa takut akan terjadinya bencana-bencana lain yang mungkin datang yang membuat banyak orang hidup dalam kesesakan dan penderitaan. Tetapi sebagai anak-anak Tuhan kita kembali diingatkan agar tidak takut terhadap keadaan apa pun, karena di dalam hidup orang percaya tidak diberikan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (baca Timotius 1:7).
Roma 8:15a mengatakan: “…kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah.” Jadi, sesungguhnya ketakutan itu bukan sekedar kelemahan manusia tapi adalah roh yang bekerja dalam seseorang. Ketakutan mulai menjadi bagian dalam diri manusia setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Karena dosa, Iblis memperbudak manusia dengan menanamkan roh takut itu. Tapi melalui pengorbanan Kristus di atas Kalvari kita telah dimerdekakan dari roh takut, sebab “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:2).
Jadi, meski dunia bergoncang sekali pun tidak ada alasan bagi orang percaya untuk menjadi takut, sebab Tuhan telah memanggil kita sebagai anak-anaknya, artinya kita beroleh jaminan pemeliharaan dan perlindungan yang sempurna dari Tuhan sebagai Bapa kita. Kuatkan hati dan percayalah akan kuasa Tuhan karena Dia berjanji akan “…menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b). Jangan takut! Tidak sedikit orang menderita bukan karena mengalami masalah yang berat tetapi karena mereka hidup dalam ketakutan yang berlebihan setiap hari, sehingga mereka pun semakin jauh dari persekutuan dengan Tuhan. Kunci menang dari rasa takut adalah melekat kepada Tuhan setiap hari!

Jumat, 29 Maret 2013
PENGHARAPAN DI DALAM TUHAN: Pasti dan Tidak Mengecewakan!

Roma 8:18-25 “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.” Roma 8:25
Banyak orang tidak dapat menerima keadaan yang tidak menyenangkan dalam hidupnya. Mereka mulai mengomel, memberontak dan menyalahkan Tuhan atas apa yang dialami. Hal ini berlanjut pada tindakan dan tekad keluar dari permasalahan yang ada, apa pun caranya, tidak peduli apakah jalan yang ditempuhnya nanti berujung pada kesia-siaan, seperti tertulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 14:12). Mereka mengira bahwa jalan yang ditempuhnya itu sudah benar dan pasti akan memberikan jalan keluar. Alkitab menegaskan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!” (Yeremia 17:5). Sekuat dan sehebat apa pun manusia, kemampuan dan kekuatannya ada batasnya. Tapi jika kita mau menyikapi setiap permasalahan yang ada dengan tetap berharap pada kuasa Tuhan, tidak ada yang perlu diragukan lagi seperti pengakuan Daud, “Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:2).
Penderitaan dan hal-hal yang tidak mengenakkan diibaratkan orang yang sedang sakit bersalin dan menantikan bayinya segera lahir; harus ada perjuangan dan ketekunan dalam menanti sesuatu yang kita harapkan itu, sebab jika kita tekun iman kita akan kuat dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh keadaan apa pun, sehingga pengharapan kita di dalam Tuhan tidak mengecewakan. Seringkali ketika pergumulan terasa berat dan sepertinya tidak ada jalan keluar kita mulai membuat perhitungan dengan Tuhan. Kita berkata, “Aku sudah mengikut Tuhan selama bertahun-tahun; aku sudah terlibat dalam pelayanan dan banyak berkorban harta untuk membantu pekerjaan Tuhan, tapi mengapa Tuhan seakan tidak adil padaku?”
Setiap kita pasti selalu berharap bahwa perjalanan hidup kita baik-baik saja tanpa hambatan yang merintangi. Demikian pun Tuhan selalu ingin kita menjadi kuat seperti rajawali, yang meskipun harus melewati badai tetap mampu terbang tinggi. Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul seorang diri, Dia sangat peduli dan sanggup memberikan pengharapan yang pasti dan tidak pernah mengecewakan!

Sabtu, 30 Maret 2013
MENJADI MURID YESUS YANG KUAT

Lukas 9:22-27 “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.” Lukas 9:24
Menjadi orang Kristen tidaklah mudah karena kita mengemban tugas yang tidak sembarangan. Ketika kita memutuskan untuk percaya kepada Yesus Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, status kita adalah murid Yesus. Sebagai murid Yesus kita wajib melakukan semua perintah-perintah Yesus serta meneladani hidupNya sebagaimana tertulis: “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6), sebab untuk itulah “…kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Petrus 2:21).
Sungguh, untuk mengikut Yesus dibutuhkan komitmen yang tidak boleh dibuat main-main karena banyak tantangan yang akan kita hadapi dan kita pun harus melakukan kehendakNya dengan taat. Ketaatan adalah suatu proses di mana kita bisa dikatakan layak untuk menjadi murid Yesus atau tidak, sebab firman-Nya berkata, “…Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23). Menyangkal diri dan memikul salib adalah syarat mutlak yang harus dijalankan oleh setiap murid Yesus. Melalui penyangkalan diri dan pikul salib kita belajar untuk memiliki kerendahan hati dan punya hati yang teachable (bersedia diajar), supaya kita menjadi murid Yesus yang militan: tidak mudah lemah dan pantang menyerah.
Mengapa kita diijinkan melewati ujian atau tantangan? Ini adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kita beroleh pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya (baca 1 Petrus 1:7). Dalam mengikut Tuhan Yesus kita pun harus memiliki integritas dan jangan sampai ada kepura-puraan. Tidak ada kata setengah-setengah atau suam-suam kuku, sebab jika demikian Tuhan akan berkata, “…Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16). Ada harga yang harus kita bayar! Banyak orang Kristen yang masih berkompromi dengan hal-hal duniawi.
Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Lukas 9:62

16 April 2011

DIKUASAI PANAS HATI

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian GPT.Baithani

SABTU, 16 APRIL 2011

 KEJADIAN 34:1-31   

“Sementara itu anak-anak Yakub pulang dari padang, dan sesudah mendengar peristiwa itu orang-orang ini sakit hati dan sangat marah karena Sikhem telah berbuat noda diantara orang Israel dengan memperkosa anak perempuan Yakub, sebab yang demikian itu tidak patut dilakukan” (ayat 7).  Dalam perjalanannya kembali kerumah ayahnya, Yakub sampai di Sikhem dan tinggal disana untuk sementara waktu dan suatu peristiwa memaksanya untuk segera meninggalkan daerah itu. Marah dan sakit hati menguasai hati anak-anak lelaki Yakub terhadap Sikhem, anak Hemor, raja setempat, dikarenakan Dina, adik perempuan mereka telah diperkosa oleh Sikhem. Sekalipun Sikhem berniat baik untuk mengawini Dina, hal itu tetap tidak menyurutkan amarah mereka, bahkan mereka membuat tipu muslihat untuk membalaskan dendam. Dengan berpura-pura menyetujui, mereka mengajukan syarat, yakni setiap laki-laki diantara orang-orang Sikhem harus disunat sama seperti mereka disunat. Usul itu mereka pandang baik, maka merekapun disunat dan kesempatan saat mereka sedang kesakitan digunakan anak-anak Yakub mengambil Dina dari rumah Sikhem dengan kekerasan, membunuh laki-laki yang bersunat yang sedang kesakitan tersebut dan merampasi harta mereka. Emosi dan kekerasan bukanlah jalan yang baik bagi penyelesaian suatu masalah sekalipun karenanya kita yang dirugikan. Jangan turuti panas hati karena hal itu hanya akan membawa kita pada masalah baru yang seharusnya tidak perlu terjadi. Bila panas hati yang menguasai, pikiran negatiflah yang berperan sehingga niat baikpun akan ditanggapi sebagai ancaman sehingga diri sendirilah yang rugi. Panas hati dan amarah hanya membawa pada keja hatan demi kejahatan, maka adalah bijak bila berhenti marah dan tinggalkan panas hati itu (Mazmur 37:8).

 TANGKASLAH UNTUK MENDENGAR TAPI LAMBAT UNTUK MARAH.