Get Adobe Flash player
8 December 2014

AJARAN FIRMAN TUHAN BAGI JEMAAT (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 8 Desember 2014
Baca:  1 Timotius 4:1-16

“Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.”  1 Timotius 4:13

Mengajar jemaat untuk mendalami firman Tuhan adalah tugas yang tidak boleh diabaikan oleh para hamba Tuhan.  Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang kurang menyadari betapa pentingnya pengajaran tentang firman Tuhan tersebut.  Buktinya?  Kelas-kelas pendalaman Alkitab atau kelas pelayanan sangat jarang dihadiri alias sepi peminatnya.  Jemaat masih harus didorong-dorong!  Berbeda bila ada KKR atau ibadah yang dihadiri oleh hamba Tuhan terkenal atau penyanyi beken, mereka berbondong-bondong hadir.

Karena pengajaran itu sangat penting, sampai-sampai Tuhan harus menunjuk para pengajar atau guru-guru untuk mendidik umatNya seperti tertulis:  “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus baik pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,”  (Efesus 4:11-12).  Pengajar atau guru adalah bagian penting di dalam gereja Tuhan.  Karena itu jemaat harus turut terlibat dan mendukung kegiatan pengajaran yang kuat, jemaat Tuhan akan mudah  “…diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”  (Efesus 4:14).

Agar jemaat Tuhan bertumbuh dengan baik perlu pengajaran yang benar.  Terlebih lagi bagi jiwa baru yang baru bertobat perlu diberikan bimbingan.  Banyak gereja yang gagal membangun jemaatnya mencapai pertumbuhan iman yang semakin dewasa karena mereka tidak memiliki kelengkapan seperti yang diinginkan firman Tuhan atau mengabaikan peranan guru.  Peranan guru atau seorang yang memiliki karunia mengajar tidak kalah penting dengan hamba Tuhan yang memiliki karunia rasul, nabi, penginjil dan juga gembala.  Dalam pembangunan tubuh Kristus mereka merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan;  antara karunia yang satu dengan karunia lainnya saling membutuhkan dan saling melengkapi!  Jemaat adalah ladang yang dipercayakan Tuhan bagi kita.  Karena itu maksimalkan karunia yang ada untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan!

“Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.”  1 Timotius 4:16b

6 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Sabtu, 6 Desember 2014

AJARAN FIRMAN TUHAN BAGI JEMAAT (1)

Baca:  2 Tawarikah 17:1-19“Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat.”  2 Tawarikh 17:9b
Inilah perintah Tuhan Yesus kepada setiap orang percaya,  “…pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”  (Matius 28:19-20a).
Pergi memberitakan Injil dan membawa orang percaya sampai menjadi murid Kristus adalah tugas yang tidak bisa kita abaikan.  Tetapi banyak orang Kristen yang hanya puas sampai memberitakan Injil saja.  Akibatnya banyak orang Kristen baru  (petobat baru)  yang akhirnya mulai lemah dan perlahan mengundurkan diri.  Mengapa?  Karena mereka tidak memiliki bekal yang cukup dalam memahami kebenaran firman Tuhan.  Maka kita harus membimbingnya sampai mereka memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan dan menjadikan mereka sampai ke taraf  ‘murid’  Yesus.  Oleh karena itu penting sekali diadakan pengajaran firman Tuhan atau kelas-kelas pendalaman Alkitab di masing-masing gereja supaya jemaat benar-benar bertumbuh dan makin dewasa rohaninya.  Inilah yang dilakukan oleh jemaat gereja mula-mula,  “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.  Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”  (Kisah 2:42).  Coba perhatikan apa yang dilakukan oleh Yosafat:  “Mereka memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat Tuhan.”  (2 Tawarikh 17:9a).  Tindakan yang dilakukan Yosafat ini hampir tidak pernah dilakukan oleh raja-raja lain di Israel, seorang raja rela  ‘turun gunung’, berkorban waktu dan tenaga untuk mengajar rakyatnya.  Yosafat menyadari bahwa pengajaran akan Taurat Tuhan itu sangat penting bagi rakyatnya supaya mereka memahami hukum-hukum Tuhan dan hidup menurut perintah-perintahNya.  Jika firman Tuhan tidak diajarkan, rakyatnya akan mudah terjerumus ke jalan yang sesat.  Tertulis demikian:  “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat.  Berbahagialah orang yang perpegang pada hukum.”  (Amsal 29:18).

Tindakan Yosafat ini hampir tidak pernah dilakukan oleh raja-raja lain, sehingga karena memperhatikan hukum Tuhan inilah  “…Tuhan mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya.  Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan.  Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.”  (2 Tawarikh 17:5a-6).  (Bersambung).

5 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Jumat, 5 Desember 2014

UPAH KESABARAN DAN KETEKUNAN: AYUB DIPULIHKAN!

Baca:  Ayub 19:1-29“Tetapi aku tahu:  Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.  Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah.”  Ayub 19:25-26

Selain kesabaan dan ketekunan petani yang harus kita teladani, Yakobus juga mengajar kita untuk meneladani hidup Ayub.  Dikatakan,  “…kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.”  (Yakobus 5:11b).  Semua orang Kristen pasti tahu tentang kisah hidup Ayub.  Membicarakan Ayub berarti pula membicarakan masalah dan penderitaan yang dialaminya.

Meski mengalami penderitaan yang hebat, Ayub tetap bersabar dan bertekun di dalam Tuhan.  Ia menderita, padahal ia adalah seorang  “…yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”  (Ayub 1:8b).  Renungan:  apakah kita telah memiliki hidup yang jauh lebih baik dari Ayub?  Apakah penderitaan atau masalah yang kita alami selama ini sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh Ayub?  Sebenarnya, penderitaan yang kita alami ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan yang Ayub alami, tetapi seringkali kita mengeluh, menggerutu, bersungut-sungut dan marah kepada Tuhan, padahal dari segala sisi kita masih lebih beruntung dari Ayub.  Seharusnya kita bisa lebih bersabar dan kuat karena kita masih memiliki keluarga atau rekan-rekan seiman yang senantiasa men-support kita, sedangkan Ayub kehilangan keluarganya, bahkan isterinya mencemooh dan meninggalkan dia.

Mengapa Ayub bisa kuat menghadapi penderitaan yang ada?  Karena Ayub tahu bahwa Tuhan yang dia sembah adalah Sang Penebus hidupnya.  Semua yang terjadi dalam hidupnya, seburuk apa pun jika itu seijin Tuhan, Tuhan pasti sanggup memulihkan…Karena itu Ayub masih bisa berkata,  “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?”  Dalam kesemuanya itu Ayub harus mengalami proses, ia yakin  “…akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).  Itulah sebabnya Ayub tetap mampu bertahan di tengah penderitaan yang dialaminya.

Akhirnya  “…Tuhan memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”  Ayub 42:10

4 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Kamis, 4 Desember 2014

TELADAN SEORANG PETANI: Bersabar dan Bertekun

Baca:  Yakobus 5:7-11“Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.”  Yakobus 5:7b

Saat-saat ini banyak orang Kristen yang mudah mengeluh, bersungut-sungut dan putus asa karena merasa tidak kuat lagi menghadapi permasalahan yang ada.  Sebagai anak-anak Tuhan tidak seharusnya kita bersikap demikian.  Karena itu Yakobus menasihati kita agar tetap bersabar dan bertekun meski berada dalam kesesakan.  Kata bersabar disampaikan sebanyak 4x dan kata bertekun ditulis sebanyak 2x.  Hal ini menunjukkan bahwa bersabar dan bertekun adalah dua karakter penting yang harus menjadi bagian hidup orang percaya.

Tuhan memberikan satu teladan dari kehidupan petani.  Kita tahu bahwa petani selalu bersabar menantikan hasil panennya.  Hari lepas dari petani dengan tekun mengolah tanahnya, mengairi sawahnya dengan air yang cukup dan menaburinya dengan benih terbaik.  Panas terik atau hujan badai tak menjadi penghalang baginya, karena menyadari bahwa kehidupannya sangat bergantung pada hasil panennya.  Dalam suratnya Yakobus juga memberitahu kita bahwa petani akan menghadapi dua macam hujan, yaitu hujan musim gugur dan hujan musim semi.  Apa itu hujan musim gugur?  Hujan musim gugur adalah hujan yang akan merontokkan segala hal:  daun, bunga, ranting-ranting, bahkan pohon-pohon yang tidak memiliki akar yang kuat dipastikan akan bertumbangan.  Jelas bukan suatu pemandangan yang menarik dan menyegarkan karena pohon-pohon tampak undul, tanpa daun, tanpa bunga dan tanpa buah.

Hujan musim gugur adalah masa-masa sulit bagi para petani.  Ini berbicara tentang keadaan yang tidak baik dalam kehidupan kita:  mungkin sakit yang kita derita belum sembuh-sembuh, goncangan dalam rumah tangga, krisis keuangan, usaha bangkrut dan sebagainya.  Meski demikian para petani tidak menjadi kecewa atau putus asa di tengah jalan.  Mereka terus bersabar dan bertekun menanti sampai berlalunya masa hujan musim gugur, karena pada saatnya mereka akan mengalami hujan musim semi, di mana dedaunan dan bunga-bunga kembali bersemi, pohon-pohon didapati mulai menghasilkan buah sehingga pemandangan sekitar tampak hijau dan menyegarkan!  Inilah masa pengharapan karena masa panen akan segera tiba!  Milikilah mental seorang petani yang selalu sabar dan tekun menantikan panen tiba.

“Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.”  2 Timotius 2:6

3 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Rabu, 3 Desember 2014
Baca: Kejadian 19:1-29

“Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara.” Kejadian 19:20

Dari bacaan ini kita tahu bahwa sesungguhnya Lot sudah mengerti perihal Sodom dan Gomora yang penuh kejahatan dan marabahaya, tetapi ia tetap saja memilih tinggal di sana karena tegiur kesuburan dan kekayaan di sana. Seperti tertulis, “…Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap Tuhan.” (Kejadian 13:11-13).

Karena tinggal di dekat Sodom, gaya hidup Lot menjadi berubah sama seperti orang-orang yang tinggal di Sodom dan Gomora, apalagi ia menikah dengan orang yang tidak percaya. Lot sama sekali tidak mencontoh kehidupan Abraham yang senantiasa membangun mezbah bagi Tuhan (membangun kekariban dengan Tuhan). Sejak saat itu kehidupan Lot semakin jauh dari Tuhan. Bahkan ia pun sampai hati menyerahkan kedua anak gadisnya kepada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan (Kejadian 19:8). Sebagai orangtua seharusnya ia menjaga dan melindungi anak-anaknya, bukan malah menjerumuskan mereka. Namun kemudian Lot benar-benar menuai akibat perbuatannya, juga diremehkan oleh kedua bakal menantunya saat mengajak mereka keluar dari Sodom: “…ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.” (Kejadian 19:14). Harga diri Lot benar-benar telah diinjak-injak!

Meski keadaan Lot semakin hancur, Abraham tetap berdoa untuk keselamatan Lot sehingga sebelum malapetaka menimpa kota Sodom dan Gomora Lot telah dituntun oleh malaikat Tuhan untuk ke luar dari kota Sodom. Walaupun demikian Lot tetap merasa bahwa dirinya tidak mungkin mampu ke luar dari kota Sodom karena jaraknya cukup jauh untuk bisa lari dan ke luar dari kota Sodom, sedangkan malapetaka segera akan terjadi. Akan tetapi “…Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.” (Kejadian 19:29).

Pelajaran berharga dari kisah Lot: janganlah kita berkompromi dengan dosa sedikit pun walau kelihatannya sangat menguntungkan, kaena hal itu pada saatnya akan membawa kita kepada kehancuran dan kebinasaan kekal!

2 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Selasa, 2 Desember 2014

PELAYAN TUHAN: Memiliki Reputasi yang Baik!

Baca:  Kisah 6:1-7“Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,”  Kisah 6:3

Melayani Tuhan adalah pekerjaan yang sangat mulia dan itu adalah anugerah Tuhan yang luar biasa.  Karena tugas melayani Tuhan adalah mulia, maka kita yang sudah dipercaya Tuhan untuk terlibat dalam pelayanan, di mana pun berada dan apa pun bentuknya, tidak boleh mengerjakan tugas tersebut sekendak sendiri atau asal-asalan.  Itulah sebabnya Rasul Paulus pun sangat berhati-hati dalam memilih dan menetapkan orang-orang yang hendak dipercaya untuk melayani jemaat Tuhan.  Secara kuantitas orang-orang yang telah bertobat dan percaya kepada Kristus jumlahnya memang banyak sekali, namun tidak semua orang layak dan bisa dipilih untuk menjadi pekerja Tuhan.  Akhirnya dari ribuan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus hanya tujuh orang saja yang terpilih dan layak mengemban tugas sebagai pelayan Tuhan.

Ini menjadi PR yang tidak mudah bagi para hamba Tuhan atau Gembala Sidang agar mereka tidak sembrono atau terlalu menggampangkan dalam memilih para pengerja atau pelayan.  Seringkali Gembala Sidang memilih para pengerjanya berdasarkan faktor like or dislike, ia seorang yang kaya atau menjadi donatur gereja, memiliki hubungan yang sangat dekat dan sebagainya, padahal orang-orang yang dipilihnya itu tidak memenuhi kualitas hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan:  masih hidup dalam keinginan duniawi  (tabiat daging), tidak bisa dipercaya, kurang setia, suka menghakimi, tidak bisa menguasai diri dalam hal perkataan dan tidak suka berdoa  (tidak memiliki kekariban dengan Tuhan secara pribadi).  Apabila ada pelayan Tuhan yang seperti ini, akankah ia bisa menjadi berkat bagi jemaat Tuhan?  Bukankah justru akan menjadi batu sandungan dan makin melemahkan jemaat Tuhan lainnya?

Adapun kualitas hidup seorang pelayan Tuhan itu seharusnya demikian:  1.  Ia haruslah orang yang terkenal baik.  Artinya memiliki reputasi baik di antara jemaat dan juga lingkungan di mana ia tinggal.  2.  Ia memiliki kehidupan yang bisa diteladani oleh semua orang.  Menjadi teladan dalam hal apa?  Nasehat Paulus,  “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  (1 Timotius 4:12b).

Jika kita masih hidup sebagai  ‘manusia lama’  dan tidak bisa menghasilkan buah-buah pertobatan, sia-sialah pelayanan kita di hadapan Tuhan dan juga di hadapan manusia!

 

1 December 2014

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Senin, 1 Desember 2014

MENGAPA TUHAN MEMILIH YOSUA?

Baca:  Yosua 1:1-18“Hamba-Ku Musa telah mati;  sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”  Yosua 1:2

Yosua dipilih Tuhan menggantikan Musa.  Siapakah Yosua?  Yosua adalah keturunan Efraim, anak dari Nun.  Masa mudanya banyak dihabiskan di padang gurun dalam pengembaraan menuju ke Kanaan.  Nama sebenarnya adalah Hosea, yang artinya Keselamatan.  Tetapi Musa memanggilnya Yosua yang artinya Ia akan menyelamatkan atau Keselamatkan dari Yehovah.

Yosua tidak pernah membayangkan suatu saat akan dipilih menjadi pemimpin Israel menggantikan Musa.  Mengapa Tuhan memilih Yosua dan karakter apakah yang ada padanya?  Yosua adalah pelayan Musa yang setia.  Ketika Musa menerima Taurat di gunung Sinai Yosua hadir di situ, menjadi penjaga tenda pertemuan ketika Musa bertemu dengan Tuhan.  Hidup Yosua benar-benar dihabiskan bersama Musa di padang gurun.  Bersama Musa ia mengalami masa-masa yang sulit, penuh ujian dan tantangan.

Kesetiaan Yosua sebagai hamba benar-benar telah teruji.  Itulah sebabnya Tuhan memilihnya.  Alkitab mencatat bahwa orang-orang yang setialah yang dipakai Tuhan dalam hidupnya.  Kesetiaan adalah salah satu karakter Tuhan sendiri, di mana Ia setia melakukan kehendak Bapa, bahkan taat sampai mati di atas kayu salib.  Selain setia, Yosua hidupnya dipenuhi firman Tuhan.  Perintah Tuhan kepadanya,  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (ayat 8).  Dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan siang dan malam Yosua semakin yakin akan kuasa dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya.  Itulah modal utama untuk mengerjakan panggilan Tuhan!  Yosua pun adalah seorang pemberani.  Dari 12 orang yang diutus Musa mengintai Kanaan hanya Yosua dan Kaleb yang memberi laporan positif dan menguatkan iman.  Ini menunjukkan bahwa Yosua pemberani dan memiliki iman yang teguh seperti katanya,  “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”  (Yosua 24:15b).

Karena setia, berani dan memiliki iman yang teguh, Yosua dipakai Tuhan sebagai pemimpin Israel menggantikan Musa!

25 November 2014

PENGAKUAN DOSA MENGHASILKAN PEMULIHAN

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Selasa, 25 Nopember 2014
Baca:  Mazmur 32

“Dosa ku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan;  aku berkata:  ‘Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,’  Dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”  Mazmur 32:5

Mazmur ini ditulis Daud setelah ia ditegur oleh Natan karena dosa perzinahannya dengan Batsyeba dan aksi pembunuhan terhadap Uria, suami Batsyeba.  Dari semula Daud berusaha menutupi dosa dan kesalahannya sehingga ia pun mengira tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini.  Daud berpikir bahwa rahasianya itu akan rapi tertutup dengan matinya Uria.  Seharusnya Daud tidak perlu menyembunyikan dosanya, sebab  “…tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  (Ibrani 4:13).  Kita bisa saja mengelabui pemimpin rohani kita, membohongi suami atau isteri, membohongi rekan sepelayanan dan sebagainya, tetapi tidak seorang pun dapat membodohi atau membohongi Tuhan.  Tidak ada tempat yang sanggup menutupnya sehingga Tuhan tidak dapat melihat atau menjangkaunya.

Tuhan tahu persis kejahatan yang dilakukan Daud, namun Ia menunggu pengakuannya.  Entah berapa tahun Tuhan mendiamkan keadaan ini.  Semakin hidup dalam kebohongan dan kemunafikan, semakin Daud mengalami penderitaan batin yang luar biasa  (Mazmur 32:3-4), sampai Tuhan membawa Daud kepada penyesalan dan tidak dapat berkilah lagi kecuali datang kepada Tuhan dan menyerah.  Tuhan pun mengirim Natan untuk menegur Daud.  Daud pun menyadari kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya, ia segera datang kepada Tuhan, mengakui dosanya dan memohon pengampunan.  “Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah;  sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.”  (Ayub 5:17).

Sebelum kita menerima pengampunan dari Tuhan, kita akan selalu mengalami tekanan dan penderitaan dalam diri kita.  Titik balik terjadi setelah Daud datang kepada Tuhan dan menyesali dosa-dosanya;  Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan memulihkan keadaannya.  Kematian Kristus di atas kayu salib adalah bukti nyata betapa Ia menanggung dosa dan pelanggaran kita.  Pengampunan Tuhan berikan supaya kita diselamatkan.

“Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”  Amsal 28:13

CONFESSION OF SIN PRODUCES RECOVERY

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, 25 November 2014
Read: Psalm 32

“I told my sin to you and not hide my iniquity; I said: ‘I will confess my transgressions to the Lord violations,’ And thou forgive because of my sin.” Psalm 32: 5

This Psalm of David after he was reprimanded by Nathan for his adultery sin with Bathsheba and murder against Uriah, her husband. Of original sin and David tried to cover his mistake that he thinks no one knows about this. David thought that it would be neat secret closed with the death of Uriah. David ought not to hide his sin, because “… there is no creature is hidden in his presence, because all things are naked and open before the eyes of him to whom we must give account.” (Hebrews 4:13). We may fool our spiritual leader, husband or wife lied, lied pastors and so on, but no one can fool or deceive God. There is no place that is able to shut it down so that God can not see or reach them.

God knows exactly crimes committed David, but he waited his confession. God knows how many years of silence this situation. Increasingly live in lies and hypocrisy, the David suffered tremendous anguish (Psalm 32: 3-4), until God brought David to repentance and can not argue anymore unless it comes to God and surrender. God also sent Nathan to reprove David. David was aware of the error and the sin which he has committed, he soon came to the Lord, confess his sins and ask for forgiveness. “Indeed, God blessed man who reprimanded; therefore do not reject the discipline of the Almighty.” (Job 5:17).

Before we receive the forgiveness of God, we will always be under pressure and suffering in ourselves. The turning point came after David came to God and repented of his sins; God forgive their sins and restore him. Christ’s death on the cross is clear evidence of how He bore our sins and transgressions. Forgiveness God has given so that we are saved.

“He who conceals his sins does not prosper, but whoever confesses and forsakes them will have mercy.” Proverbs 28:13

24 November 2014

SOMBONG ROHANI: Penyakit Orang Kristen (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 24 Nopember 2014
Baca:  3 Yohanes 5:15

“Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami.”  3 Yohanes 9

Diotrefes adalah contoh orang yang sombong rohani, karena ia tidak mau mengakui Yohanes dan rekan-rekannya dan merasa dirinya lebih baik dari yang lainnya Dalam bacaan kita jelas dinyatakan bahwa Diotrefes ingin menjadi orang yang terkemuka di antara jemaat sehingga ia menolak sang penatua dan teman-temannya dengan kata-kata kasar.  Ia juga melarang warga jemaat menerima teman-teman sang penatua di dalam rumah mereka.  Jika ada yang menerimanya maka warga jemaat tersebut akan dikucilkan.  Anehnya, Gayus yang menjadi tokoh di dalam jemaat tidak mengetahui sepak terjang Diotrefes, sehingga ketika sang penatua menyampaikan tentang tindakan Diotrefes, Gayus agak meragukan keterangannya.  Gayus justru menyangka Demetrius yang ingin menjadi orang terkemuka.  Oleh karena itu sang penatua meminta Gayus agar tidak salah menilai antara Diotrefes dan Demetrius.

Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa orang yang tinggi hati  (sombong)  bukan hanya salah atau tidak benar, tetapi merupakan kekejian di mata Tuhan seperti tertulis:  “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan;  sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman.”  (Amsal 16:5).  Mengapa sombong rohani itu sangat berbahaya?  Karena orang yang sombong rohani seringkali merasa dirinya paling benar dan paling mengerti sehingga merasa tidak perlu bertobat.  Ketika ibadah di gereja pun tak ubahnya ia seorang kritikus ulung:  mengkritik sana-sini, komentar ini-itu, bahkan ketika pengkhotbah menyampaikan firman, ia menganggap bahwa firman itu cocok untuk orang lain, bukan untuk dirinya.

Kesombongan membuat seseorang tidak pernah tunduk kepada firman.  Adalah sia-sia dan tidak memiliki nilai di hadapan Tuhan apa pun yang kita kerjakan jika didasari dengan kesombongan.  Begitu juga dalam pelayanan, sebesar apa pun kontribusi kita untuk gereja dan pekerjaan Tuhan, jika didasari oleh kesombongan akan menjadi kejahatan di mata Tuhan.  Terlebih lagi jika motivasi kita dalam melayani Tuhan adalah untuk mencari pujian dan hormat untuk diri sendiri, maka pelayanan kita hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.  Pujian dan hormat itu hanyalah milik Tuhan!  Jangan sekali-kali mencuri kemuliaan Tuhan.

“Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan;”  Yesaya 2:11a

ARROGANT SPIRITUAL: Christian Disease (2)

Read: 3 John 5:15 “I wrote something to the church, but Diotrephes, who loves to have the preeminence among them, does not acknowledge us.” 3 John 9

Diotrephes is an example of people who spiritually arrogant, because he does not want to acknowledge John and his colleagues and felt himself better than others in reading we clearly stated that Diotrephes wants to be a leading man in the congregation that he rejects the elder and his friends with harsh words. It also prohibits the congregation receive friends the elders in their homes. If there are those who receive the citizens of the congregation would be ostracized. Surprisingly, Gaius who become leaders in the church do not know lunge Diotrephes, so that when the elders expressed about the action Diotrephes, Gaius somewhat dubious statement. Gaius actually thought Demetrius who wants to be a leading man. Therefore, the elders asked Gaius not to misjudge the Diotrephes and Demetrius.

God’s Word clearly states that people who are proud (pride) is not only wrong or not true, but it is an abomination in the eyes of God as it is written: “Every one that heart is an abomination to the Lord; indeed, he will not go unpunished.” (Proverbs 16: 5). Why it is very dangerous spiritually arrogant? Because the people who often find themselves spiritually arrogant truest and most understand that felt no need to repent. When the church services he was not unlike an eminent critic: criticized here and there, these comments and that, even when the preacher speaks the words, it assumes that the word was suitable for others, not for himself.

Pride makes a person was never subject to the word. Is useless and does not have value before God whatever we do if based on arrogance. So also in the service, at any of our contribution to the church and the work of the Lord, if based on the vanity would be a crime in the eyes of God. Moreover, if the motivation to serve God is to seek praise and respect for ourselves, then our service will only be a stumbling block for others. Praise and respect it only belongs to God! Never steal the glory of God.

“Proud men will be humbled, and the haughtiness of men shall be bowed down;” Isaiah 2: 11a

22 November 2014

SOMBONG ROHANI: Penyakit Orang Kristen (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 22 Nopember 2014
Baca:  1 Korintus 4:6-21

“…supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.”  1 Korintus 4:6b

Gereja di Korintus dikenal sebagai gereja yang memiliki program kerja yang baik, termasuk dalam hal pengajaran dan pengkhotbahnya.  Itulah sebabnya mereka mengalami kemajuan yang pesat dalam menjangkau jiwa-jiwa.  Karena merasa sudah berhasil mereka mulai terlena dan menjadi sombong secara rohani:  merasa lebih baik dari orang percaya lainnya, membanggakan diri dan menganggap rendah yang lain.  Hal inilah yang mendorong Rasul Paulus segera bertindak dan menegur jemaat di Korintus dengan keras,  “Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting?  Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?  Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”  (ayat 7).

Ketika mulai merasa bahwa diri kita lebih baik dan lebih rohani dari orang lain, pelayanan kita lebih berhasil dari orang lain, atau gereja kita lebih besar dan maju dibanding gereja lain, saat itulah kita sedang jatuh dalam dosa kesombongan!  Dalam hal kerohanian, seringkali kesombongan itu tumbuh secara tersembunyi tanpa dapat kita sadari dan kita tetap merasa baik-baik saja dalam hal ini, padahal kesombongan itu adalah ketika kita mulai suka menghakimi dan membanding-bandingkan dengan orang lain.

Orang yang sombong seringkali tidak menyadari kalau dirinya sombong.  Inilah tipu muslihat Iblis!  Ketika gagal mengupayakan segala cara agar kita jatuh dalam segala hal yang jahat di mata Tuhan, Iblis akan mencoba dengan cara yang lebih jitu yaitu membiarkan kita dengan kesibukan pelayanan kita sampai akhirnya kita merasa  ‘lebih’, dan pada saat itulah kita menjadi sombong rohani.  Bukankah banyak orang Kristen dan juga para pelayan Tuhan yang mulai terjangkit  ‘penyakit’  ini?  Seseorang yang berbuat dosa atau terlibat dalam segala jenis kejahatan tidak ada yang dapat mereka sombongkan.  Tetapi orang yang merasa dirinya  ‘baik-baik saja’, apalagi sudah terlibat dalam pelayanan dan dipercaya Tuhan dalam banyak hal, tanpa sadar menjadi sombong dan membanggakan kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan.  Ini juga yang menjadi alasan mengapa Lucifer jatuh, yaitu karena kesombongannya.

Kesombongan adalah dosa terbesar dalam kehidupan kekristenan.