Get Adobe Flash player

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Kamis, 11 September 2014
Baca:  Markus 10:46-52

“‘Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!’  Pada saat itu juga melihatlah ia (Bartimeus), lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.”  Markus 10:52

Ketika Yesus dan murid-muridNya meninggalkan Yerikho banyak orang mengikutiNya.  Di tengah perjalanan terdengar teriakan pengemis buta yang duduk di pinggir jalan.

Pengemis itu adalah Bartimeus.  “Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru:  ‘Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!’”  (ayat 47).  Orang-orang menjadi sangat terganggu mendengar teriakan Bartimeus itu sehingga  “Banyak orang menegurnya supaya ia diam.  Namun semakin keras ia berseru:  ‘Anak Daud, kasihanilah aku!’”  (ayat 48).  Bartimeus tidak menyerah sampai teriakannya didengar oleh Tuhan Yesus.  Tertulis,:  “Lalu Yesus berhenti dan berkata:  ‘Panggillah dia!’  Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya:  ‘Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.’”  (ayat 49).  Yesus bertanya kepada Bartimeus,  “‘Apa yang kau kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?’  Jawab orang buta itu:  ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat!’”  (ayat 51).  Maka mujizat pun terjadi!  Yesus berkata kepada Bartimeus,  “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”  (ayat 52a).  Bartimeus mengalami pertolongan Tuhan karena iman yang ia perkatakan:  “…supaya aku dapat melihat!”

Ketika kita memperkatakan firman, kuasa dilepaskan untuk membuat apa yang kita perkatakan.  Itulah iman.  Walaupun tidak kelihatan, dapat membuat segala sesuatu menjadi nyata dalam hidup kita, karena  “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  (Ibrani 11:1).  Iman ada di dalam hati kita dan ia dilepaskan melalui perkataan kita.  Apa yang Saudara inginkan terjadi dalam hidup ini?  Mulailah menyatakannya dengan iman, sebab segala sesuatu dapat diubahkan melalui kuasa firman yang kita percayai dalam hati, kita perkatakan melalui mulut dan kita praktekkan.  Jadi kita akan mendapatkan apa yang kita katakan ketika kita mempercayai bahwa apa yang kita katakan akan terjadi.  Sebab apa yang kita perkatakan itu mengandung kuasa yang dahsyat.  Jangan sepelekan apa yang kita ucapkan!  Pernyataan iman Bartimeus telah menghasilkan mujizat yang luar biasa.

Mulai hari ini belajarlah memperkatan firman dengan iman;  jadikan itu sebagai gaya hidup, niscaya kita akan mengalami pemulihan yang luar biasa!

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Thursday, September 11, 2014
Read: Mark 10: 46-52

“‘Go, your faith has saved you!’ At the time he received his sight (Bartimaeus), and followed him in his journey. “Mark 10:52

When Jesus and His disciples left Jericho many people followed. Along the way came the cry of the blind beggar sitting by the roadside.

Beggar it is Bartimaeus. “When he heard that it was Jesus of Nazareth, he began to shout: ‘Jesus, Son of David, have mercy on me!’” (Verse 47). People are becoming very disturbed to hear the cry of Bartimaeus that “Many rebuked him so that he is silent. Yet the harder he cried out: ‘Son of David, have mercy on me!’” (Verse 48). Bartimaeus did not give up until her screams heard by the Lord Jesus. Written,: “Then Jesus stopped and said, ‘Call him!’ They call the blind man and said to him: ‘Be strong heart, stand up, he is calling you.’ “(Verse 49). Jesus asked Bartimaeus, “‘What do you want that I do for you?’ He answered: ‘Rabboni, that I may see!’ “(Verse 51). So the miracle had happened! Jesus said to Bartimaeus, “Go, your faith has saved you!” (verse 52a). Bartimaeus had faith that God’s help because he was declaring: “… so that I can see!”

When we speak the word, the power released to make what we declare. That is faith. Although invisible, it can make things real in our lives, because “Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.” (Hebrews 11: 1). Faith is in our hearts and it is released through our words. What do you want to happen in this life? Begin declare with faith, because everything can be changed through the power of the word that we believe in our hearts, we declare through the mouth and we practice. So we will get what we say when we believe that what we said would happen. Because what we declare it contains tremendous power. Do not underestimate what we say! Statement of faith Bartimaeus has produced an incredible miracle.

Starting today learn to discuss the word of faith; make it as a lifestyle, surely we will experience a remarkable recovery!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 10 September 2014
Baca:  Kejadian 12:1-9

“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur;  dan engkau akan menjadi berkat.”  Kejadian 12:2

Pemazmur menegaskan bahwa  “Janji Tuhan adalah janji yang murni bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.  Engkau, Tuhan, yang akan menepatinya,”  (Mazmur 12:7-8a).  Janji Tuhan adalah ya dan amin, tidak ada yang tidak ditepatiNya.  Tuhan tidak hanya berjanji akan memberkati Abraham secara melimpah, tapi juga berjanji hendak menjadikannya berkat bagi bangsa-bangsa, dan janji itu pun tergenapi.  Bahkan setiap kita yang beriman kepada Yesus Kristus disebut sebagai keturunan Abraham dan kita pun berhak menerima janji Allah  (baca  Galatia 3:29).

Kehidupan Abraham sampai pada masa tuanya diberkati Tuhan secara luar biasa.  Sungguh nyata benar apa yang tertulis dalam Yesaya 46:4 bahwa,  “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.  Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus;  Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  Mengapa Abraham mengalami dan menikmati berkat-berkat yang luar biasa dari Tuhan?  Apa yang telah diperbuat olehnya?  Ketika diperintahkan Tuhan untuk pergi dari negerinya dan juga dari sanak saudaranya ke suatu negeri yang belum diketahui secara pasti, Abraham taat:  “…pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya,”  (Kejadian 12:4).

Setiap kita yang rindu masuk ke dalam rencana Tuhan, baik dalam hidup di dunia ini maupun untuk yang akan datang, biarlah kita mau belajar dari apa yang sudah dilakukan oleh Abraham.  Mari kita belajar taat karena ketaatan adalah kunci mengalami terobosan baru!  Namun sebelum memberkati, Tuhan meminta milik Abraham yang paling berharga dan yang terbaik, yaitu anak semata wayangnya.  FirmanNya,  “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”  (Kejadian 22:2).  Abraham tidak kecewa, mengeluh atau membantah dengan Tuhan, dipersembahkanlah Ishak kepada Tuhan.  Sudahkah kita memberi yang terbaik dari hidup kita  (waktu, tenaga, talenta, materi)  untuk Tuhan.

Saudara ingin mengalami terobosan dalam hidup ini?  Belajarlah untuk taat dan persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan.

Daily Bread GPT Baithani Denpasar
Wednesday, September 10, 2014
Read: Genesis 12: 1-9

“I will make you into a great nation, and bless you and make your name famous, and thou shalt be a blessing.” Genesis 12: 2

The Psalmist asserts that “The promise of God is like a promise of pure silver tested, seven times purified in a furnace on the ground. Thou, Lord, which will keep them,” (Psalm 12: 7-8a). God’s promises are yes and amen, nothing to keep. God not only promised to bless Abraham in abundance, but also promises was about to make it a blessing for the nations, and the promise was fulfilled. In fact, each of us who have faith in Jesus Christ is called the seed of Abraham, and we are entitled to receive the promises of God (see Galatians 3:29).

Abraham’s life until old age God blessed tremendously. It’s a real true what is written in Isaiah 46: 4 that, “Until your old age I am he, and until the white hair, I will carry you. I’ve done it and I will bear; bear you and I will rescue you.” Why did Abraham experience and enjoy the blessings of God’s incredible? What has been done by him? When instructed by God to go out of his land and also from his relatives to a country not known for certain, Abraham: “… Abram went as the Lord had said to him,” (Genesis 12: 4).

Each of us who missed entry into the plan of God, both in this life and for the future, let us willing to learn from what has been done by Abraham. Let us learn to obey because obedience is the key to having a breakthrough! But before the blessing, God asked Abraham belongs to the most valuable and the best, the only child. His words, “Take your son, your only son, whom you love, Isaac, go to the land of Moriah and offer him there as a burnt offering on one of the mountains which I will tell thee.” (Genesis 22: 2). Abraham was not disappointed, complain or argue with God, sacrificed Isaac to God. Have we gave the best of our lives (time, energy, talent, materials) to God.

You want to experience a breakthrough in this life? Learn to obey, and offer the best to God.

9 September 2014

Roh Yang Memimpin Pada Ketaatan ( The Spirit Leading in Obedience )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 9 September 2014
Baca: Galatia 5:16-26

“Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,” Galatia 5:25

Sebagai manusia kita memiliki kecenderungan untuk hidup menuruti keinginan daging daripada tunduk kepada Tuhan dan hidup dipimpin oleh Roh. Ada tertulis: “…roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41).

Memang tidak mudah menjauh dari dosa dan melepaskan diri dari ikatan dosa yang selama ini membelenggu hidup. Tanpa adanya pertobatan sejati kita akan selalu ada dalam jerat Iblis. Sia-sia saja membanggakan diri karena status kita sebagai orang Kristen atau anak Tuhan padahal cara hidup kita sama dengan orang-orang dunia yang belum diselamatkan, sebab firmanNya dengan tegas menyatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Kita harus memiliki kualitas hidup yang berbeda sebagai ciri khas yang membedakan kita dengan orang dunia. Kita harus bisa menjadi saksi Kristus, hidup seperti surat terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, sebab dunia membutuhkan bukti. Tuhan menuntut kita untuk menghasilkan buah-buah roh (Galatia 5:22-23). Dan kita hanya bisa berbuah jika kita tinggal di dalam Tuhan dan Dia di dalam kita (baca Yohanes 15:5). Tinggal dalam Tuhan artinya selalu dekat denganNya serta taat melakukan kehendakNya, sehingga Tuhan akan bekerja dalam hidup kita melalui karya Roh Kudus yang akan memimpin kita pada ketaatan: “…Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;” (Yohanes 16:13a).

Kadangkala kita ingin melepaskan diri dari perbuatan daging yang menyesatkan, tapi Iblis yang penuh tipu muslihat tidak menyerah begitu saja. Iblis selalu berusaha melemahkan iman anak-anak Tuhan sehingga banyak dari kita yang masih saja jatuh dalam dosa yang sama dengan melakukan penyembahan berhala, hidup dalam perzinahan, pesta pora dan hawa nafsu, yang tanpa kita sadari telah mengotori Bait Roh Kudus yang ada di dalam kita (baca 1 Korintus 6:19-20). Untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus kita memerlukan Tuhan untuk mengubah hati kita.

“Kamu akan kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.” Yehezkiel 36:26.

Daily Bread GPT Baithani Denpasar
Tuesday, September 9, 2014
Read: Galatians 5: 16-26

“If we live by the Spirit, let us also walk by the Spirit,” Galatians 5:25

As humans we have a tendency to live out the desires of the flesh rather than submit to God and live by the Spirit. It is written: “… the spirit is willing, but the flesh is weak.” (Matthew 26:41).

It is not easy to stay away from sin and break away from the bonds of sin that had been shackled life. Without true repentance we will always be there in the snare of the devil. Vain boast of our status as a Christian or child of God when our lives the same way with people who have not saved the world, because His word clearly states, “Do not be conformed to this world, but be transformed by the renewing of your mind, Where so that you can distinguish the will of God, what is good, pleasing to God and perfect. “(Romans 12: 2). We have to have a different quality of life as a characteristic that separates us from the world. We must be able to bear witness to Christ, to live as an open letter which can be read by everyone, because the world needs proof. God requires us to bear the fruit of the spirit (Galatians 5: 22-23). And we can only bear fruit if we abide in God and He in us (see John 15: 5). Living in God means always close to Him and obedient to do His will, so that God will work in our lives through the Holy Spirit that will lead us to obedience: “… the Spirit of truth, he will guide you into all truth;” (John 16: 13a).

Sometimes we want to break away from the works of the flesh are misleading, but the devil is full of trickery does not give up so easily. The devil is always trying to weaken the faith of God’s children, so many of us who still fall in the same sin by idolatry, living in adultery, debauchery and dissipation, which we unknowingly had fouled temple of the Holy Spirit in us (read 1 Corinthians 6: 19-20). To live in the Holy Spirit we need God to change our hearts.

“You will give a new heart and a new spirit within you, and I will remove from your body the heart of stone and give you a heart of flesh.” Ezekiel 36:26.

8 September 2014

Pelaku Atau Hanya Pendengar ( To Be Doer or Just Hearing )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Senin, 8 September 2014

Baca: Yakobus 1:19-27

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Yakobus 1:22

Kita sering mendengar banyak orang yang berkata, “Kalau cuma ngomong sih semua orang pasti bisa. Coba disuruh melakukan, Tidak mudah!” Adalah lebih mudah untuk mengoreksi, mengomentari atau menghakimi orang lain daripada memberikan teladan hidup yang baik. Kekristenan membutuhkan bukti nyata melalui perbuatan, bukan hanya teori, karena orang Kristen adalah garam dunia dan terang dunia. Artinya kita harus memiliki kehidupan yang berbeda dan berdampak bagi dunia.

Satu perbuatan jauh lebih berharga dari seribu kata-kata. Setiap orang percaya dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah karena dituntut untuk membuktikan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, bukan hanya sekedar fasih mengucapkan firman. Tuhan Yesus menuntut kita untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar! Yakobus berkata, “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17). Jadi, iman itu “…bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yakobus 2:22). Itulah iman yang diwujudkan melalui perbuatan nyata!

Alkitab menasihatkan kita: “…hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata,” (Yakobus 1:19). Tetapi kita memiliki kecenderungan untuk cepat berbicara tapi lamban dalam hal mendengar (mulut aktif, telinga pasif), padahal “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Banyak dari kita yang mungkin aktif menghadiri kebaktian di gereja, acara KKR dan sebagainya, tetapi mengapa kita tidak pernah bertumbuh dan tetap saja tidak mengalami perubahan? Karena kita hanya sebatas mendengarkan saja. Mendengarkan firman Tuhan itu sangat penting, tapi harus disertai dengan melakukan firman yang kita dengar itu. Mengapa masih banyak orang Kristen yang gagal menaati firman Tuhan? Karena kita berpikir bahwa mendengarkan sama halnya dengan melakukan. Perhatikan! Kita bukan hanya dengar, tapi juga harus dengar-dengaran (taat) kepada Firman.

Mendengar janganlah hanya dengan telinga yang kemudian diproses oleh otak, tetapi biarlah sampai masuk ke hati, renungkan dan kemudian wujudkan melalui tindakan (action). Inilah yang dikehendaki Tuhan!

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Monday, September 8, 2014
Read: James 1: 19-27

“But be ye doers of the word and not be hearers only, because otherwise you’re cheating yourself.” James 1:22

We often hear a lot of people who say, “If only everyone would say hell can. Try told to do, not easy!” It is easier to correct, comment on or judge others rather than provide a good living example. Christianity through deeds require real evidence, not just theory, because Christians are salt of the earth and light of the world. This means that we have to have a different life and impact on the world.

One action is far more valuable than a thousand words. Every believer is faced with a difficult challenge because of the word of God is required to prove in real life, not just fluently speak the words. The Lord Jesus requires us to be doers of the word, not just hearers! James says, “If faith without works, then that faith is dead.” (James 2:17). So, faith is “… in cooperation with the deeds and the deeds was faith made perfect.” (James 2:22). That faith is manifested through real action!

The Bible advises us: “… be quick to hear, slow to speak” (James 1:19). But we have a tendency to talk fast but dull of hearing (oral active, passive ear), whereas “… faith cometh by hearing, and hearing by the word of Christ.” (Romans 10:17). Many of us who may actively attend church services, revival meetings and so on, but why do we never grow and it still has not changed? Because we are only limited to listening only. Listening to the word of God is very important, but must be accompanied by the word we hear it. Why are many Christians who fail to obey the word of God? Because we think that listening as well as perform. Note! We not only hear, but also should hear a rumor (obey) the Word.

Just do not hear with the ears which is then processed by the brain, but let it be until it enters the heart, ponder and then applied through the action (action). This is what God wants!

6 September 2014

Manfaat Ibadah Bagi Orang Percaya ( Benefits of Worship for Believers )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 6 September 2014
Baca:  Yesaya 29:9-16

Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,”  Yesaya 29:13 

Tuhan mengecam bangsa Israel karena ibadah yang mereka jalankan selama ini hanyalah rutinitas belaka;  pujian dan penyembahan yang mereka lakukan hanyalah lips service, sementara hatinya sangat jauh dari Tuhan.  Jika ibadah yang kita lakukan selama ini setali tiga uang dengan ibadah bangsa Israel, maka semuanya tidak akan berdampak apa-apa.  Sesungguhnya, ibadah adalah media penginjilan gereja bagi dunia.  Melalui ibadah, gereja, menyampaikan kabar baik kepada dunia tentang kasih Tuhan dan pengharapan yang pasti di dalam Dia.

Rasul Paulus mengatakan bahwa ibadah itu berguna dalam segala hal:

1.  Sebagai penyegaran rohani.  Setiap hari kita diperhadapkan dengan banyak pergumulan dan masalah, karena itu kita membutuhkan kekuatan dan penghiburan.  Dan ibadah menjadi jawaban atas itu semua.  Melalui firman Tuhan kita diingatkan kembali betapa kita memiliki Tuhan yang heran dan ajaib.  Masalah yang kita alami tidak sebanding dengan kebesaran dan kuasa Tuhan.  Hal ini memberikan ketenangan hidup bagi kita.  Namun kita perlu ingat bahwa motivasi kita dalam beribadah akan mempengaruhi seluruh hidup kita.  Bila kita beribadah dengan tujuan agar Tuhan mengabulkan doa-doa kita dan memberkati kita, maka kita akan mudah kecewa dan stres.  Namun bila kita bertekad untuk menyenangkan hati Tuhan, hidup kita akan penuh dengan ketenangan.  Sesungguhnya, ibadah menolong orang percaya untuk tetap memiliki pengharapan kepada Tuhan sehingga lebih sabar menghadapi kesulitan hidup.

2.  Pelayanan.  Dalam ibadah kita berkumpul dengan keluarga besar Kerajaan Allah.  Ada tertulis:  “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.”  (Efesus 2:19).

Oleh karena itu kita harus saling mengasihi dan melengkapi satu sama lain.  Dan dalam ibadah inilah kita memiliki kesempatan untuk melayani Tuhan karena melayani itu bukanlah hak istimewa para hamba Tuhan atau profesional di bidang rohani saja;  setiap orang Kristen adalah hamba yang melayani  (baca 1 Petrus 2:9).

Beribadahlah dengan segenap hati dan layanilah Tuhan, karena Dia layak mendapatkan yang terbaik dari hidup kita.
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, September 6, 2014
Read: Isaiah 29: 9-16

“Because this people draw near with their mouth and honor me with their lips, but their heart is far away from Me, and their reverence for Me are just humans who memorized commands,” Isaiah 29:13

God condemned the Israelites for worship that they run so far is just a mere routine; praise and worship that they do is just lip service, while their hearts are very far from God. If worship that we do this for the same money with the worship of Israel, then it will not affect anything. Indeed, worship is evangelical churches for the world media. Through worship, church, preach good news to the world about the love of God and certain hope in Him.

The Apostle Paul said that godliness has value for all things:

1 As a spiritual refreshment. Every day we are faced with many struggles and problems, therefore we need strength and comfort. And worship the answer to it all. Through God’s word we are reminded again of how we have the wonder and miracle of God. The problem we experience is not comparable with the greatness and power of God. This gives peace of life for us. But we need to remember that our motivation in worship will affect all of our lives. When we pray in order for God to grant our prayers and bless us, then we will easily upset and stress. However, if we are determined to please God, our lives will be filled with peace. Indeed, worship helping believers to continue to have hope in the Lord so much patience with the difficulties of life.

2. Service. In worship we gather with the family of the Kingdom of God. It is written: “So then you are no longer strangers and aliens, but fellow citizens with the saints and members of God’s family.” (Ephesians 2:19).

Therefore we should love one another and complement one another. And in worship, that we have the opportunity to serve the Lord because it is not the privilege of serving the Lord’s servants or professionals in the field of their soul; every Christian is a servant serving (read 1 Peter 2: 9).

 Be Worship wholeheartedly serve the Lord, for He deserves to get the best out of our lives.

5 September 2014

jangan Sepelekan Ibadah! ( Do not Ignore Worship )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 5 September 2014
Baca:  Mazmur 100

“Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapanNya dengan sorak-sorai!”  Mazmur 100:2

Tak henti-hentinya melalui renungan ini kita kembali diingatkan agar kita memperhatikan jam-jam ibadah yang ada, karena sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang kurang memahami betapa pentingnya ibadah itu, sehingga kita begitu gampangnya meninggalkan ibadah dan lebih memilih pelesir ke luar kota, kerja lembur di kantor atau jaga toko di hari minggu.  Pikir mereka:  “Ah, minggu depan saja ibadah, kan masih banyak waktu.”

Dengan jelas firman Tuhan menyatakan,  “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”  (Ibrani 10:25).

Begitu pentingkah ibadah bagi orang percaya?  Tertulis:  “…ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.”  (1 Timotius 4:8).  Oleh karena itu  “Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar,”  (Mazmur 2:11).  Jadi, ibadah itu suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan orang percaya dan merupakan identitas orang percaya.

Ibadah dalam bahasa Yunani, “latreuo”, dapat diartikan:  dapat bekerja untuk…, menundukkan diri, melayani, mengabdikan seluruh hidup kepada Tuhan.  Melalui ibadah, kita menundukkan diri untuk mengungkapkan rasa hormat dan kekaguman kita kepada Tuhan.  Ini merupakan wujud respons kita kepada Tuhan sebagai Pencipta kita, Penebus kita dan juga Gembala kita;  wujud pernyataan kasih kita kepada Tuhan, karena Dia lebih dulu mengasihi kita, rela turun ke dunia untuk menebus dan menyelamatkan kita yang adalah manusia berdosa.  Dan selayaknya kita sebagai umat ciptaanNya menyembah Dia, menyatakan syukur karena kasihNya dan menyatakan tindakan kasih Allah kepada dunia melalui ibadah kita.

Hal ini ditegaskan Daud dalam mazmurnya,  “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita.  Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya.”  (Mazmur 95:6-7).

Sudahkah kita beribadah kepada Tuhan dengan takut dan gentar?  Ataukah kita menganggap ibadah sebagai hal yang biasa saja dan sepele

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Friday, September 5, 2014 

Read: Psalm 100

“Be Worship to the Lord with gladness, come into his presence with singing!” Psalm 100: 2

Ceaselessly through this insight we are reminded that we pay attention to the hours of worship there, because until now there are many Christians who do not understand the importance of worship, so we leave worship so trivial and prefer to take a trip out of town, working late at the office or watch store on Sunday. They think: “Ah, next week worship,’s still plenty of time.” God’s Word clearly states, “not forsaking the assembling of ourselves together, as the manner of some, but exhorting one another, and all the more as you see the Day approaching.” (Hebrews 10:25).

So important is worship for believers? Written: “… godliness has value for all things, holding promise for both the present life and the life to come.” (1 Timothy 4: 8).

Therefore “Be Worship to God with fear and kiss his feet shakily,” (Psalm 2:11). So, worship is a very important thing for the life of the believer and the believer’s identity.

Worship in Greek, “Latreuo”, can be interpreted: it can work for …, subjecting themselves, serve, whole life devoted to God. Through worship, we are subjecting ourselves to express our respect and admiration to God. It is a form of our response to God as our Creator, our Redeemer and our Shepherd; form of a statement of our love for God, because He first loved us, willing to come down to earth to redeem and save us who are sinful. And we as a people should worship Him His creation, expressed gratitude for the love and declare that God’s love to the world through our worship.

This is confirmed in the psalms of David, “Come, let us bow down, kneel before the Lord who made ​​us. Because He is our God, and we are the people of his pasture, and the flock guidance of His hand.” (Psalm 95: 6-7).

Have we worship the Lord with fear and trembling? Or do we think of worship as a matter of course and trivial

4 September 2014

JANGAN BANGKITKAN SAKIT HATI TUHAN! ( Do not evoke heartache God )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani DEnpasar
Kamis, 4 September 2014
Baca:  Mazmur 85

“Pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami, dan tiadakanlah sakit hati-Mu kepada kami.”  Mazmur 85:5

Saudara pernah mengalami sakit hati?  Tentu jawabannya  “ya”  ketika dikhianati oleh teman dekat, ditinggalkan oleh orang yang dicintai, ditipu kolega dan sebagainya.  Tetapi orang yang menyimpan sakit hati pasti tidak bisa tidur nyenyak, makan pun terasa tidak enak, bahkan segala aktivitas yang kita lakukan pasti terasa tidak comfortable.  Mungkin telinga kita telah sangat familiar dengan lagu dangdut yang didendangkan oleh almarhum Meggy Z., di mana ada liriknya yang mengatakan,  “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.”  Saudara lebih memilih sakit gigi atau sakit hati?  Siapa pun kita pasti tidak akan memilih kedua-duanya.  Bagaimana kalau yang merasakan sakit hati ini adalah Tuhan?

Mengapa Tuhan sampai sakit hati?  Ini semua karena ulah bangsa Israel, bangsa yang sangat dikasihi Tuhan telah mengenyam kebaikan Tuhan tapi mengkhianatiNya dengan melakukan penyembahan berhala dan berpaling kepada ilah-ilah lain.  Itulah sebabnya Daud berdoa memohon pengampunan kepada Tuhan,  “Untuk selamanyakah Engkau murka atas kami dan melanjutkan murka-Mu turun-temurun?”  (Mazmur 85:6).  Di dalam Alkitab dinyatakan bahwa jika orang melakukan penyembahan berhala dan tidak bertobat dari kelakuannya, Tuhan akan menghukum keturunannya sampai kepada keturunan yang ketiga.  Tertulis:  “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,”  (Keluaran 20:5).  Tetapi jika anak atau cucumu bertobat, maka kutuk yang ditimpakan kepada mereka akan terputus.  Sakit hatinya Tuhan jangan samakan dengan sakit hati kita.  Sakit hati Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang sangat membenci dosa dan segala bentuk kenajisan.

Masih adakah berhala dalam hidup kita?  Berhala tidak harus dalam wujud patung atau sesembahan;  segala sesuatu yang membuat hari kita berpaling dari Tuhan adalah berhala.  Bisa berupa hobi, uang (harta), pekerjaan, suami, isteri, anak dan sebagainya.  Jangan bangkitkan sakit hati Tuhan!

“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.”  Keluaran 34:14

 

Daily Bread GPT Baithani DEnpasar
Thursday, September 4, 2014
Read: Psalm 85

“Restore us, O God our savior, and thy tiadakanlah hurt us.” Psalm 85: 5

Have you ever experienced heartache? Of course the answer is “yes” when betrayed by a close friend, abandoned by loved ones, colleagues and so deceived. But those who keep hurt certainly not able to sleep, eat feels uncomfortable, even of all the activities that we do not feel definitely comfortable. Maybe our ears have been very familiar with the songs sung by the late Dangdut Meggy Z, where there are lyrics that say, “It’s better than a toothache hurt.” Brother prefers toothache or hurt? Anyone we certainly would not choose both. What if the pain of it is God?

Why does God get hurt? This is all caused by the nation of Israel, a nation that has received his very beloved Lord God’s goodness but betrayed by the worship of idols and turn to other gods. That is why David prayed to God for forgiveness, “For Thou forever angry at us and continue your wrath from generation to generation?” (Psalm 85: 6). In the Bible it is stated that if people do not repent of idolatry and of his behavior, the Lord will punish his descendants until the third offspring. Written: “Do not bow down to him or worship him, for I, the Lord, your God, am a jealous God, visiting the iniquity of fathers to their children, to the third and fourth offspring of those who hate Me,” (Exodus 20 : 5). But if a child or grandchild repent, then the curse inflicted upon them will be disconnected. Her pain God do not equate to hurt us. Hurt God shows that He is the One who hates all forms of sin and impurity.

Are there any idols in our lives? Idols should not be in the form of a statue or a god; everything that makes the day we turn away from God is an idol. It could be a hobby, money (wealth), job, husband, wife, children and so on. Do not arouse hurt God!

“For thou shalt worship no other god, for the Lord, whose name is Jealous, is a jealous God.” Exodus 34:14

3 September 2014

Jangan iri hati terhadap sesama (Do Not Envy Others )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 3 September 2014
Baca:  1 Korintus 3:1-9

“Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”  1 Korintus 3:3b

Iri hati adalah sebuah kata yang seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam lingkungan keluarga, tempat tinggal, sekolah, kantor, bahkan juga di gereja.  Di keluarga, seorang adik iri hati kepada kakaknya ketika orangtuanya membelikan sepeda motor baru buat sang kakak.  Seorang teman iri hati ketika melihat rekan sebangku memperoleh nilai tertinggi dalam ujian matematika di kelas.  Di kantor, si A iri hati kepada si B karena B mendapatkan promosi jabatan.  Di gereja rasa iri hati juga melanda orang-orang yang bekerja di ladang Tuhan.  Seorang hamba Tuhan iri hati terhadap rekan sesama hamba Tuhan karena jemaatnya lebih banyak dan pelayanannya lebih berhasil.  Betapa iri hati itu telah merasuki semua kalangan, bukan saja orang awam, tapi pelayan Tuhan pun terkena dampaknya.

Apa itu iri hati?  Iri hati bisa diartikan perasaan kurang senang bila melihat orang lain beruntung atau berhasil dalam hidupnya.  Iri hati juga bisa diartikan rasa cemburu atau sirik terhadap orang lain.  Yang jelas, orang yang iri hati adalah orang yang selalu tidak bisa menerima kenyataan keberhasilan orang lain.  Dalam Yakobus 3:16 dikatakan,  “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”  Jadi iri hati menurut Alkitab adalah sangat berbahaya:  mengakibatkan kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.  Seseorang yang hatinya dipenuhi iri hati dipastikan jarang sekali atau bahkan tidak pernah bisa mengucap syukur kepada Tuhan.  Ia selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain:  “Dia diberkati, mengapa aku tidak?  Tuhan kok tidak adil ya?”  Akibatnya ia pun kehilangan damai sejahtera di hati.

Supaya terlepas dari rasa iri hati kita harus makin mendekat kepada Tuhan, membangun kekariban dengan Tuhan melalui doa.  Jangan sedikit pun memberi celah kepada Iblis!  Iri hati adalah senjata Iblis untuk menghancurkan orang percaya.  Inilah nasihat Paulus“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”  (Filipi 4:8).
Kita harus memenuhi pikiran kita dengan perkara-perkara yang positif!

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Wednesday, September 3, 2014

Read: 1 Corinthians 3: 1-9

“Therefore, if there is among you envy and strife it shows that you are a natural man and that you live humanely?” 1 Corinthians 3: 3b

Envy is a word that we often hear in everyday life, be it in a family environment, housing, schools, offices, and even in the church. In the family, an envious sister brother when his parents bought a new bike for his brother. A friend envy when seeing fellow bench obtaining the highest marks in mathematics in grade exams. At the office, person A to person B jealous because B gain promotion. In the church also struck envy people who work in the fields of the Lord. A servant of God jealous of his fellow servants of God as his church ministry more and more successful. Envy how it has pervaded all walks of life, not only ordinary people, but the servant of the Lord was affected.

What is it envy? Jealousy can mean feeling less happy when seeing other people lucky or successful in life. Jealousy can also mean jealousy or envious of others. Clearly, people who are jealous of people who can not always accept other people’s success. In James 3:16 says, “For where there is jealousy and selfishness, there is confusion and every evil work.” So envy is very dangerous according to the Bible: cause confusion and every evil work. A person whose heart is filled with envy certainly rarely or never able to give thanks to God. He was always comparing himself with others: “He’s blessed, why not me? Lord really is not fair huh?” As a result he lost peace of mind.

In order regardless of jealousy we must come closer to God, build intimacy with God through prayer. Do not give the slightest gap to the devil! Envy is the weapon of Satan to destroy believers. This is Paul’s advice, “Finally, brothers, whatever is true, whatever is noble, whatever is right, whatever is pure, whatever is lovely, all that nice to hear, all that is excellent or praiseworthy, think about such things.” (Philippians 4: 8).
We must fill our minds with positive cases!

2 September 2014

TETAP SETIA MESKI MELEWATI UJIAN (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Selasa, 2 September 2014

Baca:  Titus 2:1-10

“Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita.”  Titus 2:9-10

Di akhir zaman ini kesetiaan mahal harganya.  Sulit sekali menemukan orang yang setia.  “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6).  Tidak sedikit dari kita yang menyerah dan berhenti dari apa yang sedang dikerjakan Tuhan dalam hidup kita, hanya sesaat sebelum Tuhan menyatakan pertolongan dan kuasaNya.  Sayang sekali, bukan?  Jadi selama masa ujian kita harus tetap setia, sebab kita tidak pernah tahu kapan kita akan menuai hasilnya.

Orang yang setia adalah orang yang layak dipercaya dan konsisten.  Selalu ada upah bagi orang-orang yang setia.  Karena itu kita harus setia di mana pun Tuhan menempatkan kita.  Terhadap orang-orang yang memiliki otoritas kita harus belajar menghormati dan taat kepadanya, sebagai ujian yang nyata atas kesetiaan dan ketaatan kita.  Kita bisa belajar dari pribadi Daud.  Meski terus diburu dan dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya, Daud tidak menaruh dendam dan sakit hati kepada Saul.  Daud tetap setia dan taat kepada Saul sebagai pemilik otoritas di atasnya.  Bahkan ketika ia memiliki kesempatan membalas semua perbuatan Saul terhadapnya, ia tidak melakukannya.  “‘Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.’  Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu;  ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul.”  (1 Samuel 24:7-8).  Daud sangat menghargai dan menghormati urapan Tuhan dalam diri Saul.  Ia belajar untuk tetap mengandalkan Tuhan dan menantikanNya dengan setia.  Ia tidak bangkit melawan Saul.

Mari kita belajar setia meski tidak ada orang yang tahu atau memperhatikan apa yang sedang kita alami.  Walaupun banyak tantangan dan ujian jangan menjadi lemah dan kecewa, tetapi setia mengerjakan apa yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita, karena Tuhan sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang besar di dalam hidup kita.  Ia sedang membentuk karakter di dalam hidup kita dan memperlengkapi kita untuk jangka panjang.

“Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,”  Mazmur 18:26

1 September 2014

TETAP SETIA MESKI MELEWATI UJIAN (1)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Senin, 1 September 2014

Baca:  1 Timotius 3:8-13

“Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat.”  1 Timotius 3:10

Untuk menjadi orang-orang yang berkualitas kita harus melewati proses atau ujian demi ujian.  Hal inilah yang disadari Ayub:  “Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).

Itulah sebabnya rasul Paulus menyampaikan pesan penting kepada Timotius bahwa pemilik jemaat atau pun diaken (pelayan Tuhan) bukanlah sembarangan orang, tetapi haruslah orang yang telah teruji hidupnya dan memiliki kualitas hidup yang lebih dibanding lainnya.  Maka dari itu tak seorang pun dari kita yang akan luput dari ujian dan masing-masing orang akan mengalami ujian yang berbeda, dengan kadar yang berbeda pula.  Kita tidak akan beroleh promosi sebelum kita lulus dari ujian yang ada.  Contohnya adalah syarat-syarat bagi calon diaken:  “…haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci.”  (1 Timotius 3:8-9).  Namun, inti dari kesemua persyaratan itu adalah kesetiaan.  Tanpa kesetiaan, apa pun tugas dan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepada seseorang tidak akan membuahkan hasil yang maksimal.  Jadi kita harus tetap setia mengerjakan tugas-tugas yang diberikan bagi kita meski ada ujian, tantangan dan harus melewati padang gersang sebagaimana bangsa Israel yang harus mengalami ujian di padang gurun selama 40 tahun lamanya.  Selama masa-masa ujian tersebut bangsa Israel memberontak, bersungut-sungut dan mengeluh kepada Tuhan.  Akibat dari ketidaksetiaan mereka menjalani proses ujian, sebagian besar dari mereka mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Mereka tidak dapat menikmati janji Tuhan karena tidak tahan saat harus mengalami kesukaran.  Seberat apa pun ujian yang harus kita lalui, yakinlah bahwa itu adalah bagian dari persiapan yang diberikan Tuhan bagi kita.

Tuhan menghendaki agar kita tidak menyerah ketika berada dalam masa-masa pembentukan itu.  Kondisi inilah yang seringkali dimanfaatkan Iblis untuk melemahkan kita dengan berkata,  “Untuk apa setia?  Percuma.  Tidak ada gunanya kamu melayani Tuhan, toh hidupmu juga tidak diberkati.  Sakitmu belum juga sembuh.  Lebih baik mencari pertolongan lain dan menyerah saja.”  Dan akhirnya, ada banyak orang Kristen yang tidak sabar dan menyerah di tengah jalan.  (Bersambung)

 

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Monday, September 1, 2014

Read: 1 Timothy 3: 8-13

  “They also have to be tested first and it’s set in service after they turned out to be blameless.” 1 Timothy 3:10

To become qualified people we have to go through the process or one trial after another. This is realized Job: “But he knows the way that I take; suppose he has tested me, I shall come forth as gold.” (Job 23:10).

That is why the apostle Paul to Timothy convey an important message that the owner of the congregation or deacon (servant of God) is not a vain person, but should be someone who has proven his life and have a better quality of life than others. Therefore none of us will escape from the trials and each person will experience different exams, with different levels. We will not hath promotion before we pass the exam. Examples are the requirements for prospective deacons: “… must be a man of honor, not forked tongue, not a wine drinker, do not be greedy, but the mystery of the faith in a pure conscience.” (1 Timothy 3: 8-9). However, the core of all the requirements that is loyalty. Without loyalty, and trust whatever task given by God to man will not produce maximum results. So we must remain faithful in fulfilling the tasks given to us even though there is a test, a challenge and must pass through the arid desert of Israel as a nation must undergo the test in the desert for 40 years. During the test periods of Israel rebelled, grumbled and complained to God. As a result of their unfaithfulness undergo examination process, most of them die in the desert before reaching the Promised Land. They can not enjoy God’s promise because the current can not stand to be experiencing difficulties. Weighing whatever we need to take the exam, be assured that it is part of God’s preparation given to us.

God wants us to not give up when it is in the formation periods. This condition is often used Satan to weaken us by saying, “For what faithful? Useless. No point you serve God, yet also not blessed life. Yet to heal your pain. Better to seek the help of others and just give up.” And finally, there are many Christians who are impatient and give up halfway. (Continued)