Get Adobe Flash player
13 October 2014

SARA: Tuhan Tak Pernah Mengecewakan!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 13 Oktober 2014
Baca:  Kejadian 12:10-20

dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya.”  Kejadian 12:15

Sejak dari semula Tuhan memiliki rencana yang indah atas kehidupan Sara.  Dia merancang kehidupan Sara begitu istimewa:  dianugerahi kecantikan yang luar biasa dan menjadi isteri Abraham, seorang yang dipilih Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa;  bahkan kecantikan Sara tidak luntur di usianya yang sudah lanjut sehingga Abraham pun merasa was-was saat memutuskan untuk pergi ke Mesir.  Tertulis,  “Memang aku tahu, bahwa engkau adalah perempuan yang cantik parasnya.  Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata:  Itu isterinya.  Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup.”  (ayat 11-12).

Sedemikian cantiknya, sampai-sampai Firaun berniat untuk meminang Sara;  dan Abraham mengkompromikan hal ini.  Sesungguhnya hati Sara begitu pilu ketika Abraham, suami yang sangat ia sayangi dan percayai dalam hidupnya, tega  ‘menjualnya’  pada Firaun.  Dari  ‘transaksi’  ini Abraham  “…mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta.”  (ayat 16).  Hal ini menunjukkan betapa Abraham lebih mementingkan dirinya sendiri daripada menjaga perasaan isterinya.

Bagaimana pun juga Abraham adalah manusia biasa, yang bisa saja membuat kesalahan dan juga mengecewakan.  Namun ada satu Pribadi yang tidak pernah mengecewakan yaitu Tuhan.  Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan,  “Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?”  (Yesaya 2:22).  Tidak ada janji yang tidak ditepatiNya!  Alkitab menyatakan,  “Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu.”  (Kejadian 12:17).  Tuhan memberi tulah tersebut bukan sekedar untuk menghukum Firaun.  Bisa dikatakan bahwa Firaun merupakan korban ketidakjujuran Abraham.  Tuhan memberi tulah tersebut juga bukan sekedar untuk mengembalikan Sara pada Abraham, sebab Dia tidak membenarkan perbuatan suami yang  ‘menjual’  isterinya.  Tuhan memberi tulah tersebut untuk menunjukkan tidak ada rencanaNya yang gagal.

Tuhan yang menjanjikan keturunan kepada Sara adalah Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, sekali pun orang yang paling kita kasihi mengecewakan.  (NK)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 13, 2014
Read: Genesis 12: 10-20

“and when the retainer-Pharaoh saw her, they praised her in the presence of Pharaoh, so that the woman was taken to the palace.” Genesis 12:15

Since the beginning God has a wonderful plan over the life of Sarah. He designed life so special Sara: awarded the incredible beauty and became the wife of Abraham, a man chosen by God to be a blessing to the nations; Sara beauty does not fade even at his advanced age that Abraham had misgivings when deciding to go to Egypt. Written, “Indeed, I know that you are a beautiful woman;. When the Egyptians see you, they will say: That his wife. So they will kill me and let you live.” (verses 11-12).

So beautiful, as to Pharaoh intends to woo Sara; and Abraham compromise this. Truly breathtaking Sara so melancholy when Abraham, husband who she loved and believed in life, bear ‘sell’ on Pharaoh. Of ‘transaction’ is Abraham “… had sheep, oxen, male donkeys, male slaves and female, female donkeys, and camels.” (verse 16). This shows how Abraham is more concerned with himself than keep the feeling of his wife.

After all Abraham was an ordinary person, who could have made a mistake and also disappointing. But there is one Person who never disappoint the Lord. That is why the word of the Lord warned, “Do not expect the man, because he is nothing more than a puff of breath, and as if he could be considered?” (Isaiah 2:22). There is no promise that no ditepatiNya! The Bible states, “But the Lord afflicted Pharaoh great, as well as to the household because of Sarai, Abram’s wife.” (Genesis 12:17). God gave these plagues not just to punish the Pharaoh. It could be said that the Pharaoh was a victim of dishonesty Abraham. God gave the plague is not just to restore Sarah to Abraham, because He does not justify the act husband who ‘sell’ his wife. God gave the plagues to show there is no plan that failed.

God promised to the descendants of Sara is God who never disappoints, even people who we love the most disappointing. (NK)

11 October 2014

Hal Yang Tidak Menyenangkan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 11 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 54

“Sesungguhnya, Allah adalah penolongku;  Tuhanlah yang menopang aku.”  Mazmur 54:6

Saudara pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan?  Semua orang tanpa terkecuali pasti pernah merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan.  Pertengkaran dalam rumah tangga, diputus oleh pacar, tidak naik kelas atau tidak lulus sekolah, ditolak saat melamar pekerjaan, diusir dari kontrakan karena tidak bisa bayar ketika jatuh tempo, terbaring sakit dan sebagainya adalah contoh hal-hal yang tidak menyenangkan.  Suatu saat Tuhan ijinkan kita melewati masa-masa sukar dalam hidup ini.  Perkara yang tidak enak itu bisa saja datang dari keluarga, teman, rekan pelayanan, pekerjaan dan lain-lain.  Bagaimana reaksi kita menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut?  Biasanya kita langsung naik pitam  (marah), stress, kecewa, sedih, putus asa, menyalahkan Tuhan dan lalu meninggalkan Dia.

Daud pun tak luput dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan.  Daud harus tinggal di padang gurun atau di tempat-tempat perlindungan karena dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya.  Tertulis:  “Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif.  Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.”  (1 Samuel 23:14b).  Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Daud pada waktu itu:  takut, cemas, kuatir, was-was berkecamuk jadi satu.  Namun, Yonatan sahabatnya menguatkan Daud  (baca  1 Samuel 23:17).  Inilah yang mendasari Daud menuangkan gejolak hatinya dalam Mazmur 54 ini.  Seru Daud,  “Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu!  Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!”  (Mazmur 54:3-4).

Ketika mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan marilah kita belajar untuk menguatkan hati kepada Tuhan.  Berhentilah untuk mengeluh dan menyalahkan Tuhan.  Stop memperkatakan hal yang negatif karena ini adalah siasat yang digunakan Iblis untuk menghancurkan dan melemahkan iman kita.  Hal-hal yang tidak menyenangkan bisa terjadi oleh karena kesalahan kita atau karena Tuhan hendak melatih dan mendewasakan iman kita.

Daud sadar masalah yang ia alami adalah bagian rencana Tuhan;  Dia sedang memproses dan mempersiapkan dirinya menjadi seorang pemimpin!

HINGS THAT DO NOT FUN

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 11, 2014
Read: Psalm 54

“Behold, God is my helper; God who sustains me.” Psalm 54: 6

Have you ever experienced the things that are not fun? Everyone without exception must have felt the things that are not fun. Quarrels in the household, decided by the boyfriend, not the next grade or graduate school, was rejected when applying for a job, evicted from rented because they can not pay when due, bedridden and so on are examples of things that are not fun. One time Lord let us get through the hard times in life. Case is not feeling it could have come from family, friends, fellow service, employment and others. What was the reaction we face things that are unpleasant? Usually we immediately get mad (angry), stress, disappointment, sadness, despair, blame God and then leave him.

David did not escape from situations that are not fun. David had to live in the wilderness or in shelters because of being chased by Saul who wanted to kill him. Written: “He lived in the mountains, in the wilderness of Ziph. And during the time that Saul sought him, but God did not deliver him into his hand.” (1 Samuel 23: 14b). You can imagine how the feeling of David at the time: fear, anxiety, worry, anxiety raged so one. However, strengthening his friend Jonathan David (see 1 Samuel 23:17). This is the underlying volatility of David pours his heart in Psalm 54′s. David exclaimed, “O Allah, save me for thy name, give justice to me because of the might of thy God, hear my prayer, give ear to the words of my mouth!” (Psalm 54: 3-4).

When experiencing things that are not fun, let us learn to be strong in the Lord. Stop to complain and blame God. Stop speak the negative thing because this is a tactic that is used Satan to destroy and weaken our faith. Things that are not fun could occur because of errors or because God wanted us to train and mature our faith.

David was aware of the problems he was experiencing was part of God’s plan; He is processing and preparing himself to be a leader!

10 October 2014

Buktikan, Kalau Saudara Mengasihi Tuhan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 10 Oktober 2014
Baca:  Yohanes 14:15-24

“Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”  Yohanes 14:23

Sebagai orang percaya kita pasti akan tersinggung dan marah jika ada yang mengatakan,  “Kamu tidak mengasihi Tuhan!”  Dengan berbagai alasan kita akan menegaskan bahwa kita ini sangat mengasihi Tuhan, plus menyertakan  ‘bukti-bukti’  untuk menunjukkan bahwa kita benar-benar mengasihi Tuhan:  “Aku sudah melayani Tuhan sebagai guru sekolah Minggu, Worship Leader, singer, tim penginjilan, tim musik di gereja, aktif di persekutuan-persekutuan doa, donatur gereja.”  dan sebagainya.  Bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa kita mengasihi Tuhan?

Tidak sedikit orang Kristen terlibat dalam pelayanan bukan karena ia mengasihi Tuhan, tapi karena ada motivasi lain di balik itu:  ingin mencari nama  (popularitas)  diri sendiri, uang, rutinitas atau juga karena terpaksa.  Ada tertulis:  “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”  (Matius 15:8).  Mengasihi Tuhan tidaklah cukup hanya sekedar diucapkan atau sebatas melalui kegiatan kerohanian yang kita lakukan.  Kita harus membuktikan kasih kita kepada Tuhan melalui perbuatan dan tindakan nyata.  FirmanNya menegaskan,  “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”  (Yohanes 14:15).

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa seseorang mengasihi Tuhan:  1.  Ia bersukacita melakukan firman Tuhan.  Kita menaati firman Tuhan bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati, tapi penuh sukacita.  2.  Ia memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan.  Jika kita mengasihi seseorang, kita akan menyediakan waktu terbaik untuk dia walau hanya sekedar untuk ngobrol atau jalan-jalan.  Tertulis:  “…Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”  3.  Ia tetap kuat di tengah pencobaan.  Seberat apa pun masalah yang dialami, sikap hatinya tetap positif karena dia tahu persis bahwa  “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,…”  (Roma 8:28).  4.  Ia memiliki kehidupan dalam kasih.  Dikatakan,  “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”  (1 Yohanes 4:21).

Kasih yang berkenan kepada Tuhan bukan sekedar diucapkan di mulut saja, tetapi dibuktikan melalui sikap hidup kita yaitu ketaatan.

PROVE, IF YOU LOVE GOD! 

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, October 10, 2014
Read: John 14: 15-24

“If a man love me, he will keep my word, and my Father will love him, and We will come to him and dwell with him.” John 14:23

As believers we must be offended and angry if someone says, “You do not love God!” With a variety of reasons we will affirm that we are a very loving God, plus include the ‘evidence’ to show that we truly love the Lord: “I have served the Lord as a Sunday school teacher, Worship Leader, singer, evangelism team, music team in the church, active in prayer fellowships, church donors. “and so on. Is not this is more than enough to prove that we love God?

Not a few Christians involved in ministry not because he loved the Lord, but because there are other motivations behind it: want to find name (popularity) self, money, as well as routine or forced. It is written: ‘This people honors me with their lips, but their heart is far from Me. “(Matthew 15: 8). Loving God is not enough to simply spoken or merely through spiritual activities that we do. We have to prove our love to God through deeds and action. Word insists, “If you love Me, you will obey my commandments.” (John 14:15).

There are some things that indicate that a person loves God: 1 He delight in doing God’s word. We obey the word of God is not of necessity or with sad hearts, but full of joy. 2 He has a close relationship with God. If we love someone, we will provide the best time for him even just for a chat or a walk. Written: “… We will come to him and dwell with him.” 3 He remains strong in the midst of trials. Weighing any problems experienced, his attitude remained positive because he knows exactly that “… God works in all things for good to them that love God …” (Romans 8:28). 4 It has a life of love. It says, “Whoever loves God must also love his brother.” (1 John 4:21).

Love is pleasing to God is not just spoken in the mouth alone, but evidenced by the attitude of our life is obedience.

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 9 Oktober 2014
Baca:  Matius 5:13-16

“Kamu adalah terang dunia.  Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”  Matius 5:14

Di zaman Tuhan Yesus orang-orang memakai pelita sebagai alat penerangan.  Ada unsur-unsur dalam sebuah pelita yang membuatnya bisa menyala:  harus ada bejana, entah terbuat dari emas, perak atau pun besi, minyak, sumbu dan juga sumber api.  Masing-masing unsur itu melengkapi satu sama lain sehingga menghasilkan cahaya atau terang.  Jika hanya ada sumbu saja tanpa ada bejana atau minyak maka pelita itu tidak akan bisa menyala, bahkan tidak bisa disebut pelita.

2.  Terang Dunia.  Itulah keberadaan orang percaya, harus bisa menjadi terang bagi dunia.  Dikatakan,  “…orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.”  (Matius 5:15).  Artinya terang dari Tuhan itu tidak boleh ditutupi, disembunyikan, terlebih lagi dipadamkan.  Terang dari Tuhan harus dinyatakan kepada seluruh orang, harus diangkat ke tempat yang lebih tinggi sehingga memberi terang kepada dunia sekitar laksana kota yang letaknya di atas bukit, di mana keberadaannya jelas terlihat dan tidak mungkin disembunyikan.  Itulah keberadaan kita sebagai orang percaya yang adalah terang di tengah kegelapan dunia ini.  Orang lain akan melihat kita dengan jelas.  Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa pelita itu tidak boleh ditaruh di bawah gantang, yang artinya dimatikan, sehingga sama sekali tidak memiliki fungsi sebagai pelita lagi.  Atau ditaruh di bawah tempat tidur, artinya disembunyikan, sehingga pelita itu pun tidak akan bisa menerangi seluruh rumah.

Hidup kita tidak boleh menjadi hidup yang ditutupi oleh gantang, melainkan harus transparan, sehingga bisa terlihat oleh orang lain.  Alkitab menyatakan,  “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.  Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,”  (Efesus 5:8-9).  Menjadi terang berarti hidup kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Kesaksian hidup kita berbicara lebih tajam dari perkataan kita.  Kesaksian hidup kita lebih penting daripada kotbah yang kita sampaikan.  Bila di dalam kita ada Kristus, tanpa harus digembar-gemborkan, orang lain akan tahu dari perbuatan kita.

Sudahkah kita menjadi pelita yang menyala dan menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar kita?

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 9, 2014
Read: Matthew 5: 13-16

“You are the light of the world. Town is situated on a mountain can not be hidden.” Matthew 5:14

In Jesus’ day people wear a lamp as lighting equipment. There are elements in a lamp that can be lit making: there must be a vessel, whether made ​​of gold, silver or iron, oil, wick and fire sources. Each of these elements complement each other resulting in a light or bright. If only there axis without any vessel or oil lamp then it will not be lit, not even be called a lamp.

2 Light of the World. That is where people believe, should be a light unto the world. It says, “… people do not light a lamp and put it under a bushel, but on a lampstand so that enlightens everyone in the house.” (Matthew 5:15). This means that the light of God that should not be covered, hidden, especially extinguished. The light of God should be revealed to all people, should be elevated to a higher place that gives light to the world around like a city that is located on top of a hill, where its presence is clearly visible and may not be hidden. That is where we as a people believe that is the light in the darkness of this world. Other people will see us clearly. The Lord Jesus himself said that the lamp should not be put under a bushel, which means it is turned off, so that did not have a function as a lamp again. Or placed under the bed, meaning hidden, so that it would not be a lamp to illuminate the entire house.

Our lives should not be covered live by the bushel, but must be transparent, so that it can be seen by others. The Bible states, “Indeed formerly you were darkness, but now you are light in the Lord. Walk as children of light, for the fruit of goodness and justice and truth,” (Ephesians 5: 8-9). Being light means that our lives are a witness to others. The testimony of our lives speak more sharply than our words. The testimony of our lives is more important than preaching that we deliver. When we are in Christ, without having heralded, others will know of our actions.

Have we become a lamp that lights up and be a living testimony to those around us?

8 October 2014

Orang Kristen Garam Dunia ( The Christian Salt of The World )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 8 Oktober 2014
Baca:  Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia.  Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  Matius 5:13

Saat mengajar orang banyak terkadang Yesus menggunkan perumpamaan sederhana dengan menggunakan hal-hal yang mudah dipahami oleh orang-orang Yahudi, yaitu sesuatu yang biasa mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari agar mereka dapat menangkap makna kebenaran firman yang disampaikanNya itu lebih jelas lagi.

Pada suatu kesempatan Yesus menyampaikan dua hal penting yang harus dipahami oleh setiap orang percaya tentang keberadaannya sebagai garam dunia dan terang dunia.  1.  Garam Dunia.  Pulau Madura di Jawa Timur mendapat julukan sebagai pulau garam.  Mengapa?  Karena di pulau ini dihasilkan banyak garam.  Siapa yang tidak tahu garam?  Dapat dipastikan semua orang, besar kecil, tua muda, kaya miskin, di mana pun mereka tinggal, pernah menggunakan dan mengenal rasa garam, sebab garam selalu tersedia di dapur rumah setiap orang.  Mungkin di rumah kita tidak ada mobil, tidak ada AC, tidak ada kulkas, tetapi minimal pasti ada garam.  Benda ini kelihatannya sangat sepele, berharga murah, tetapi sangat dibutuhkan oleh semua orang.

Apa maksud Tuhan Yesus menyatakan bahwa setiap orang percaya adalah garam dunia?  Pertanyaan Yesus ini adalah sebagai penegasan, bukan himbauan atau perintah, melainkan suatu penegasan bahwa keberadaan orang percaya itu bernilai dan mempunyai fungsi penting bagi lingkungan mereka.  Namun,  “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?  Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  Kita tahu bahwa garam itu baru ada gunanya kalau ada rasa asinnya sehingga makanan yang hambar menjadi berasa, bisa pula membunuh kuman dan mencegah pembusukan.  Namun untuk menjadi garam dunia ada harga yang harus dibayar, diperlukan pengorbanan sebagaimana garam pun mengorbankan dirinya.  Garam harus meleleh, melebur dan tidak terlihat lagi wujudnya, yang tinggal hanya rasanya.  Sanggupkah kita?  Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang belum bisa menjalankan fungsinya sebagai garam dunia karena memiliki hidup yang tak jauh berbeda dari orang-orang di luar Tuhan.

Jika kita tidak bisa menjadi garam dunia atau berkat bagi orang lain, berarti kita telah gagal menjalankan hidup kekristenan kita.

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 8, 2014
Read: Matthew 5: 13-16

“You are the salt of the earth. If the salt loses its saltiness, how can it be restored? There is no longer any point other than the discarded and trampled on.” Matthew 5:13

When Jesus taught the people sometimes use the simple parable using stuff that is easily understood by the Jews, which is something unusual they encounter in everyday life so that they can grasp the meaning of the word which conveys the truth more clearly.

On one occasion Jesus convey two important things that should be understood by every believer about its existence as a salt of the earth and light of the world. 1 Salt of the Earth. Madura Island in East Java got the nickname as the island of salt. Why? Because on this island generated a lot of salt. Who does not know the salt? Certainly all people, great and small, young and old, rich and poor, wherever they live, never used and know the taste of salt, because salt is always available in the kitchen of the house each person. Perhaps in our house no car, no air conditioning, no refrigerator, but there must be a minimum of salt. This thing seems very trivial, lower-priced, but is needed by everyone.

What is the purpose of the Lord Jesus declares that all believers are the salt of the world? This is Jesus’ question as an assertion, not an appeal or a command, but rather an affirmation that where people believe it is worth and have important functions for their environment. However, “if the salt loses its saltiness, how can it be restored? There is no longer any point other than the discarded and trampled on.” We know that the new salt is useless if no salty taste so bland food becomes tasteless, can also kill germs and prevent decay. However, to be salt of the earth there is a price to pay, required sacrifices as salt has sacrificed himself. Salt should melt, melt and not seen again his form, who lived just taste. Can we? Until now there are many Christians who have not been able to function as a salt of the earth because it has a life that is not much different from those outside God.

If we can not be the salt of the earth or a blessing to others, means that we have failed to live our Christian life.

7 October 2014

Uang dan Kekayaan: Tidak dapat memuaskan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 7 Oktober 2014
Baca:  Pengkotbah 5:7-19

“Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya.”  Pengkotbah 5:9a

Banyak orang mengukur dan menilai keberhasilan dan kebahagiaan dengan uang atau kekayaan yang dimiliki.  Bisa dimaklumi, karena dengan memiliki uang seseorang bisa mendapatkan segalanya:  tidur di hotel berbintang, berkeliling dunia, beli rumah di kawasan elite, beli mobil mewah, mendapatkan isteri cantik dan sebagainya.  Apakah dengan uang dan kekayaan orang benar-benar berbahagia dan puas?  Ayat nas jelas menyatakan bahwa  “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tiadak akan puas dengan penghasilannya.”

Orang yang memiliki banyak uang sampai kapan pun tidak akan pernah puas dengan uang yang dimilikinya.  Begitu pula orang kaya, tidak pernah puas akan kekayaannya.  Seringkali kita menganggap bahwa ada hubungan erat antara kepuasan dengan jumlah uang atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.  Kita mengira jika orang mempunyai uang dalam jumlah besar ia akan merasa puas dan berbahagia.  Ketika seseorang mendapatkan gaji 1 juta rupiah/bulan, ia berpikir bahwa hidupnya akan lebih dari cukup dan berbahagia jika gajinya 3 juta rupiah/bulan.  Anggapan ini kelihatannya benar, tapi ketika ia mendapatkan gaji 3 juta rupiah/bulan ia merasakan bahwa masih banyak hal yang tidak bisa dipenuhi dengan gajinya tersebut.  Kita selalu merasa masih kurang dan tidak pernah merasa cukup.

Bolehkah kita memiliki banyak uang dan menjadi kaya?  Tentu saja setiap orang percaya boleh memiliki banyak uang dan menikmati kekayaan yang diperolehnya, hanya saja dengan cara yang bekenan kepada Tuhan.  Dan jangan sampai kita menjadi tamak akan uang!  Uang dan kekayaan itu sendiri tidak membahayakan, tetapi cinta uang dan kekayaan itulah yang berbahaya,  “Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”  (1 Timotius 6:10b).  Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah akar segala kejahatan, tetapi cinta uang itu adalah akar segala kejahatan.  Uang adalah baik, tidak jahat, tetapi manusia yang terperangkap ke dalam ketamakan, kikir, iri hati dan sebagainya inilah yang menyimpang dari firman Tuhan, karena saat ini banyak orang ingin cepat kaya dengan cara yang salah.

Sebanyak apa pun harta kita, tidak sepeser pun kita bawa saat kita meninggalkan dunia ini!

Money And Property: Can not satisfy 

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, October 7, 2014
Read: Ecclesiastes 5: 7-19

“He who loves money will not be satisfied with money, nor he who loves wealth will never be satisfied with his income.” Ecclesiastes 5: 9a

Many people measure and evaluate the success and happiness with money or property owned. Understandable, because the person has money can get everything: sleeping in hotels, traveling the world, buying a house in elite area, buying luxury cars, get a beautiful wife and so on. Whether with money and wealth really happy and satisfied? Nas verse clearly states that “He who loves money will not be satisfied with money, nor he who loves wealth with his income tiadak will be satisfied.”

People who have a lot of money until whenever will never be satisfied with the money he had. Similarly, the rich, wealth is never satisfied. Often we assume that there is a close relationship between satisfaction with the amount of money or property owned by a person. We think if people have a large amount of money he will feel satisfied and happy. When someone gets a salary of 1 million dollars / month, he thought that his life would be more than enough and happy if his salary of 3 million dollars / month. This assumption appears to be true, but when he gets a salary of 3 million dollars / month, he felt that there are still many things that can not be met with the salary. We always felt was lacking and never feel enough.

Can we have a lot of money and become rich? Of course, every believer should have a lot of money and enjoy the wealth he earned, it’s just the way bekenan to God. And let’s not be greedy for money! Money and wealth itself is not harmful, but the love of money and wealth that is dangerous, “because the hunt is money some have strayed from the faith and pierced themselves with many sorrows.” (1 Timothy 6: 10b). The Bible does not say that money is the root of all evil, but the love of money is the root of all evil. Money is good, not evil, but the man who trapped into the greed, miserliness, envy and so on this is that deviate from the word of God, because many people want to get rich quick in the wrong way.

As much as anything else our treasure, not a penny we take when we leave this world!

6 October 2014

Duduk Diam Dibawah Kaki Yesus ( Sit Under The Feet of Jesus )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 6 Oktober 2014
Baca:  Lukas 10:38-42

“Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.”  Lukas 10:39b

Adalah lebih mudah bagi seseorang untuk tampil di muka, berbicara, tampak sibuk dan dikenal oleh banyak orang, karena hampir semua orang ingin pekerjaannya dipuji dan dihargai oleh orang lain.  Tetapi tidak mudah bagi kita untuk duduk di tempat yang ‘rendah’ dan mau menjadi seorang pendengar yang baik.

Inilah yang dilakukan Maria, memilih duduk diam di bawah kaki Tuhan untuk mendengarkan perkataanNya.  Maria menyadari bahwa  “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”  (Roma 10:17).  Ini menunjukkan bahwa Maria telah terbiasa merendahkan diri mencari Tuhan dengan sepenuh hati dalam doa, sehingga mudah baginya duduk tenang berjam-jam mendengarkan apa yang Yesus ajarkan.  Berbeda dengan saudaranya, Marta, yang lebih memilih menyibukkan diri sampai-sampai Yesus menegurnya,  “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,”  (ayat 41).  Orang yang senang duduk diam di bawah kaki Tuhan dan mencari wajahNya adalah orang yang tekun berdoa, bukan hanya berdoa untuk kepentingan diri sendiri, tapi juga tipe orang yang terbeban.

Sesibuk apakah kita sehingga tidak memiliki waktu untuk duduk diam di bawah kaki Tuhan?  Jangankan berdoa syafaat, berdoa untuk diri sendiri saja mungkin kita jarang melakukannya.  Berdoa adalah membangun hubungan dengan Tuhan, sedangkan bersyafaat artinya menghubungkan orang lain dengan Tuhan, atau berdoa untuk kepentingan orang lain.  Mengapa kita harus mendoakan orang lain?  Karena kita ada sebagaimana saat ini juga tidak terlepas dari doa syafaat yang dipanjatkan saudara seiman lainnya.  Yakobus 5:16 mengatakan,  “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.  Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.”  Jadi Tuhan hanya mendengar doa yang dinaikkan oleh orang benar.  Siapa orang benar itu?  Orang yang hidup dalam ketaatan (melakukan firmanNya).  Ada pun kata dengan yakin berarti percaya dengan sungguh dan tidak ragu.  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan  “…melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.”  (2 Tawarikh 16:9a).

Ketekunan Maria dalam doa menghasilkan dampak yang luar biasa:  Tuhan mendengar doanya sehingga Lazarus yang sudah mati selama 4 hari dihidupkan kembali

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 6, 2014
Read: Luke 10: 38-42

“Mary is sitting at Jesus’ feet and heard His word.” Luke 10: 39b

It is easier for a person to perform in advance, talk, look busy and is known by many people, because almost everyone wants to work praised and appreciated by others. But it is not easy for us to sit in a ‘low’ and want to be a good listener.

This is what Mary chose to sit quietly at the feet of the Lord to hear His words. Mary realizes that “… faith cometh by hearing, and hearing by the word of Christ.” (Romans 10:17). It shows that Mary had been accustomed to humble themselves to seek God with all my heart in prayer, making it easy for her to sit still for hours listening to what Jesus taught. Unlike his sister, Marta, who prefer to keep myself busy to the point that Jesus rebuked him, “Martha, Martha, you are anxious and troubled about many things,” (verse 41). People who are happy to sit quietly at the feet of the Lord and seek His face was the one who kept praying, praying not only for its own sake, but also the type of people who are burdened.

How busy are we so do not have the time to sit quietly at the feet of the Lord? Let alone the intercession and pray for yourself alone may we rarely do. Praying is to build a relationship with God, while others intercede means to connect with God, or praying on behalf of others. Why should we pray for others? Because we are there as today is inseparable from the intercession brother said over the other. James 5:16 says, “Therefore be ye confess your sins to each other and pray for each other so that you may be healed. Prayer the right, when the prayed sure is powerful and effective.” So God only hears the prayers were raised by the righteous. Who is righteous? People who live in obedience (doing word). There is also said to believe means to truly believe and not doubt. The Bible states that God “… His power to bestow them whose heart is perfect toward him.” (2 Chronicles 16: 9a).

Mary perseverance in prayer generate tremendous impact: The Lord heard her prayer so that Lazarus who had been dead for 4 days revived.

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 4 Oktober 2014
Baca:  Yesaya 43:8-21

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?  Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  Yesaya 43:19

Pernahkah Saudara mengalami jalan buntu dalam permasalahan?  Apa yang dilakukan seseorang ketika sedang mengahdapi jalan buntu?  Pada umumnya mereka menjadi putus asa dan cenderung mengandalkan kekuatan lain, baik itu kekuatan manusia atau bahkan lari kepada kuasa gelap, yang penting masalahnya segera mendapatkan jalan keluar.

Bangsa Israel juga pernah mengalami jalan buntu.  Tatkala keluar dari Mesir untuk menuju tanah Perjanjian, mereka dikejar-kejar pasukan Firaun.  Sementara di depan mereka terbentang Laut Teberau, dari kanan kiri mereka terhimpit gugusan gunung-gunung.  Secara logika, bangsa Israel benar-benar mengalami jalan buntu.  Bangsa Israel yang adalah bangsa pilihan Tuhan juga diijinkan mengalami masalah, oleh karena itu jangan heran bila kita pun menghadapi masalah meski dalam bentuk berbeda.  Namun Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk lari dari masalah itu, melainkan berani menghadapinya karena Ia menyertai kita.  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).  Saat menghadapi jalan buntu, bangsa Israel menjadi sangat takut, sepertinya mustahil lepas dari kejaran tentara Firaun.  Saat terdesak inilah mereka berseru-seru kepada Tuhan dan Ia menyelamatkan mereka dengan caraNya yang ajaib.  Sungguh benar firmanNya,  “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.”  (Mazmur 50:15).  Milikilah penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan andalkan Dia dalam segala hal.  Jangan menunggu sampai kita berada dalam masalah.  Yakinlah bahwa Tuhan pasti sanggup membuka jalan baru untuk setiap permasalahan yang kita alami.  Reaksi pertama bangsa Israel ketika mengalami jalan buntu adalah ingin kembali ke Mesir.  Mereka berpikir lebih menjadi budak di Mesir daripada harus mati sia-sia di padang gurun.

Adakalanya kita harus mengalami persoalan.  Bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita, justru Dia ingin membentuk dan melatih iman kita supaya makin berakar kuat di dalamNya.  “…Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”  (Ibrani 12:6).  Masalah justru menjadi alat bagi Tuhan menyatakan kuasaNya atas kita.

Selalu ada jalan buat persoalan kita!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 4, 2014
Read: Isaiah 43: 8-21

“See, I want to create something new, which is now grown, Have not you know? Yeah, I was about to make his way in the wilderness and rivers in the wilderness.” Isaiah 43:19

Have you ever reached a stalemate in the problem? What one does when being faces a dead end? In general, they become desperate and tend to rely on other forces, be it human or even run the power to the power of darkness, which is an important problem to find a solution soon.

The Israelites also had reached a stalemate. When out of Egypt towards the Promised Land, they were being chased Pharaoh forces. While in front of them lies the Red Sea, from their left-right cluster of mountains oppressed. Logically, the Israelites actually reached a stalemate. The Israelites were God’s chosen people who are also permitted to have problems, so do not be surprised when we are facing a problem though in different forms. But God never tells us to run away from the problem, but because he dared to deal with us. “Can do all things bear in him who gives me strength.” (Philippians 4:13). When faced with a dead end, the Israelites became very afraid, it seems impossible to escape from the pursuit of Pharaoh’s army. When pressed this they cried out to God and He saved them in one form or miraculous. How true his words, “Cry to Me in the time of trouble, I will deliver thee, and thou shalt glorify me.” (Psalm 50:15). Have a full surrender to God and rely on Him in all things. Do not wait until we are in trouble. Be assured that God must be able to open up new avenues for any problems that we experience. The first reaction of the people of Israel are stalled when the want to go back to Egypt. They think more of a slave in Egypt than to die in vain in the wilderness.

Sometimes we have to experience the problem. Not that God does not love us, instead he wants to establish and exercise our faith to be more firmly rooted in Him. “… The Lord disciplines those he loves, and he punishes everyone he accepts as a son.” (Hebrews 12: 6). The problem would be a vehicle for God reveal His power over us.

There is always a way for our problems!

2 October 2014

Jangan Sedih Hati, Bergembiralah! ( Do Not Be Sad, Cheer Up )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 2 Oktober 2014
Baca:  Amsal 17

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”  Amsal 17:22

Dalam versi The Amplified Bible ayat nas di atas berbunyi demikian:  “Hati yang gembira adalah obat yang manjur dan pikiran yang ceria memberikan kesembuhan.”  Ternyata hati yang gembira dan pikiran yang ceria  (positif)  bisa menjadi obat yang mujarab dan menyembuhkan.  Karena itulah rasul Paulus juga menasihati jemaat di Filipi,  “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!  Sekali lagi kukatakan:  Bersukacitalah!”  (Filipi 4:4).

Mengapa kita harus bersukacita senantiasa?  Karena dengan bersukacita hati kita akan tetap terjaga dalam kondisi yang baik sehingga pikiran dan perkataan kita pun akan positif,  “karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.”  (Matius 12:34b).  Kapan Saudara memiliki hati yang gembira?  Ketika hutang-hutangku sudah terbayar lunas, hati jadi gembira;  hatiku bergembira kala melihat anak-anak tumbuh dengan sehat dan pintar;  hatiku bergembira karena aku lulus dengan nilai memuaskan dan diterima di sekolah favorit.  Bergembira saat kita mengalami dan merasakan hal-hal yang menyenangkan, itu wajar.  Bagaimana jika kita sedang menghadapi masalah, terbaring lemah karena sakit, dapatkah hati kita bergembira?

Banyak cara dilakukan orang untuk menjaga hatinya agar bergembira, salah satunya adalah dengan mendengarkan musik.  Ketika kita mendengarkan musik kita turut bersenandung dan hati pun terhibur.  Jika kita memiliki hati yang gembira tugas yag berat pun terasa ringan untuk dikerjakan, sepertinya ada energi baru yang mengalir.  Sebaliknya jika hati kita suntuk, sedih dan stres, seringan apa pun pekerjaan, terasa berat untuk dikerjakan.  Kita menjadi lemah dan tak berdaya.  Mana yang Saudara pilih:  terus menggerutu dengan muka masam selama menghadapi masalah, atau menghadapi masalah dengan hati tetap gembira?  Jika hati kita semakin gembira kita akan menjadi semakin sehat.  Bahkan di dalam Amsal 15:13 dikatakan:  “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.”  Ternyata selain menjadi obat yang manjur, hati yang gembira membuat muka kita menjadi berseri-seri, dan orang lain pun akan senang melihatnya.

Mari belajar tetap bergembira di segala keadaan sehingga orang di sekeliling kita juga terkena dampak positifnya.  Belajarlah menikmati apa pun yang sedang kita kerjakan dan alami.

Yakinlah bahwa kita tidak sendirian, ada Yesus yang selalu peduli.

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 2, 2014
Read: Proverbs 17

“A joyful heart is good medicine, but a crushed spirit dries the bones.” Proverbs 17:22

In this version of The Amplified Bible verse above passage reads thus: “A joyful heart is good medicine and a cheerful mind to heal.” It turns out that a cheerful heart and a cheerful mind (positive) can be a panacea and cure. That’s why the apostle Paul exhorted the Philippians, “Rejoice in the Lord always! Once again I say: Rejoice!” (Philippians 4: 4).

Why should we rejoice? Due to rejoice our hearts will be maintained in good condition so that the thoughts and words we will be positive, “because of the abundance of the heart the mouth speaketh.” (Matthew 12: 34b). When did you have your heart happy? When my debt has been paid off, the liver so excited; when my heart rejoiced to see the children grow up healthy and smart; my spirit rejoices I graduated with a satisfactory and acceptable in school favorite. Rejoice when we experience and feel things are fun, it’s natural. What if we are facing a problem, weak because of illness, can our hearts rejoice?

Many ways people do to keep her heart to rejoice, one of which is by listening to music. When we listen to music we also humming and heart were entertained. If we have a cheerful heart feels heavy duty yag light to work with, there seems to be a new energy flowing. Conversely, if our hearts all night, sad and stressed, as light as any job, feels heavy to be done. We become weak and powerless. Which do you choose: continue to sputter with a wry face over the face of the problem, or have a problem with the heart remain happy? If our hearts the more excited we will become more healthy. Even in Proverbs 15:13 says: “A joyful heart makes a cheerful face, but the heartache discouraging.” It turns out that in addition to being a potent drug, happy heart makes the face we become radiant, and others will love to see it.

Let’s learn to remain happy in all circumstances so that those around us are also affected by the positive. Learn to enjoy whatever we are doing and experiencing.

Rest assured that we are not alone, there is Jesus who always cares.

27 September 2014

PENDERITAAN: Ujian Menuju Keberkatan! – SUFFERING: Towards Exam Blessed

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 27 September 2014
Baca:  Ayub 7

“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan?”  Ayub 7:1

Sejak jatuh dalam dosa manusia harus menanggung akibatnya:  terusir dari taman Eden dan harus mengalami penderitaan serta kesulitan.  Namun di balik penderitaan yang harus dialami oleh manusia akibat dosa tercipta kesempatan bagi Allah untuk menyatakan kasih dan karyaNya yang agung melalui Yesus Kristus.  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”  (Yohanes 3:16).  Yesus Kristus rela menderita di atas kayu salib demi menebus dosa umat manusia.  Dan karena ketaatannya melakukan kehendak Bapa sampai mati di kayu salib itu Yesus beroleh peninggian.  Dikatakan,  “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,”  (Filipi 2:9).  Di balik penderitaan ada kemuliaan!

Kita harus memahami bahwa setiap masalah atau penderitaan yang terjadi dalam hidup ini pada dasarnya mendatangkan kebaikan bagi diri kita.  Begitu pula karakter yang ada dalam diri seseorang  (ketaatan, ketekunan, kesetiaan, iman dan sebagainya)  dikembangkan melalui proses ujian dan penderitaan.  Selama kita hidup tak henti-hentinya kita akan diuji dan diproses seperti tanah liat di tangan Penjunan.  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Yeremia 18:4).  Jadi sadarilah bahwa setiap saat kita berada dalam perhatian dan pengawasanNya.

Mengapa Tuhan tidak pernah berhenti menguji kita?  Tuhan hendak mengetahui sejauh mana kesetiaan dan ketekunan kita mengiring Dia.  Banyak orang tidak tahan saat berada dalam ujian dan akhirnya berubah sikap terhadap Tuhan:  tidak lagi setia beribadah, tidak lagi tekun berdoa dan tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidupnya.

Untuk mengetahui kesetiaan kita melakukan perkara-perkara yang dipercayakanNya pada kita, untuk mengetahui kemurnian hati kita melayaniNya, dan untuk membuat kehidupan kita semakin berkenan dan indah di hadapanNya, kita terus diujiNya!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, September 27, 2014
Read: Job 7

“Is not man must struggle on earth, and his days like the days of mercenaries?” Job 7: 1

Since the fall into sin man must suffer the consequences: expelled from the Garden of Eden and to suffer and the difficulty. But behind the suffering that must be experienced by humans as a result of sin created an opportunity for God to reveal the great love and His work through Jesus Christ. “For God so loved the world, that he gave his one and only Son, that whoever believes in Him should not perish but have eternal life.” (John 3:16). Jesus Christ willingly suffered on the cross for the sins of mankind. And because of his obedience to do the will of the Father unto death on the cross that Jesus might receive exaltation. It is said, “That is why God has highly exalted Him and given Him the name above every name” (Philippians 2: 9). Behind suffering no glory!

We must understand that any problems that occur or suffering in this life is basically good to us. Similarly, the existing character in a person (obedience, perseverance, loyalty, faith and so on) is developed through the process of examination and suffering. As long as we live we ceaselessly be tested and processed as clay in the hands of Potter. “If the vessel, which is made ​​from clay in his hands, the broken, the potter was doing it again into another vessel, as it seemed good to the landscape.” (Jeremiah 18: 4). So be aware that any time we are in the care and supervision.

Why God never stops testing us? God wishes to determine the extent to which loyalty and perseverance we mengiring him. Many people can not stand when in the exam and finally changed his attitude towards God: no longer faithful to worship, no longer kept praying and no longer puts God first in his life as.

To know we are doing the loyalty that matters entrusted to us, to know the purity of our hearts to serve Him, and to make our lives more beautiful and pleasing before Him, we are constantly tested it!