Get Adobe Flash player
6 November 2014

PUJI-PUJIAN: Menyenangkan Hati Tuhan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 6 Nopember 2014
Baca:  Mazmur 104:1-35

“Aku hendak menyanyi bagi Tuhan selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.”  Mazmur 104:33

Memuji-muji Tuhan bukanlah dikhususkan bagi orang-orang Kristen yang bersuara bagus, sudah rekaman atau memiliki album, atau yang sudah terlibat dalam pelayanan sebagai worship leader atau singer.  Menyanyi, menaikkan pujian bagi Tuhan dan membesarkan namaNya adalah bagian dari ibadah orang percaya tanpa terkecuali, baik itu anak-anak, pemuda atau juga orang dewasa.  Oleh karena itu semua orang yang percaya harus memuji-muji Tuhan dengan segenap hati.  Pemazmur berkata,  “Biarlah segala yang yang bernafas memuji Tuhan!”  (Mazmur 150:6).  Tuhan tidak menilai seberapa bagus suara kita, tapi yang Dia nilai adalah kesungguhan hati kita dalam memuji Tuhan.  Pujian yang keluar dari hati, sekali pun suaranya kurang bagus, tidak menjadi masalah bagi Tuhan.  Di Perjanjian Lama pun umat Tuhan selalu bermazmur bagi Dia dalam puji-pujian.  Dan kitab Mazmur ini adalah buku pujian bagi bangsa Israel.

Ketika bangsa Israel berperang melawan musuh, mereka menyanyi bagi Tuhan dan tampil sebagai pemenang.  Perhatikan!  Setelah bangsa Israel terlepas dari tangan pasukan Firaun dan mengalami mujizat yang luar biasa, di mana Tuhan menuntun mereka menyeberangi Laut Teberau dengan caraNya yang ajaib, mereka bersorak-sorai dan memuji-muji Tuhan.  “Baiklah aku menyanyi bagi Tuhan, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.  Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi ekselamatanku.  Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, ku luhurkan Dia.  Tuhan itu pahlawan perang;  Tuhan itulah nama-Nya.  Kereta Firaun dan pasukannya dibuang-Nya ke dalam laut;  para perwiranya yang pilihan dibenamkan ke dalam Laut Teberau.”  (Keluaran 15:1-4).

Tuhan menghendaki kita agar senantiasa memuji-muji Tuhan.  Daud adalah orang mengerti benar betapa pentingnya pujian bagi Tuhan, di mana dalam pujian ada kuasa!  Itulah sebabnya Daud dengan yakin berkata bahwa di sepanjang umur hidupnya ia akan terus memuji nama Tuhan  (baca  Mazmur 104:33).  Masih banyak orang Kristen yang ogah-ogahan memuji Tuhan, di gereja pun mereka memuji Tuhan dengan setengah hati.

Orang percaya yang penuh dengan Roh Kudus pasti tiada henti memuji dan meninggikan nama Tuhan dengan nyanyian rohani setiap waktu, karena mereka tahu bahwa itu adalah bagian dari ibadah kepada Tuhan.

Praise: Sweet Heart of God

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, 6 November 2014
Read: Psalm 104: 1-35

“I will sing unto the Lord as long as I live; I will sing praise to my God while I was there.” Psalm 104: 33

Praising God is not reserved for Christians who speak good, or have already recorded an album, or who are already involved in ministry as a worship leader or singer. Singing, praising the Lord and raise his name is a part of religious believers without exception, be it children, youth or adults alike. Therefore, all those who believe should praise the Lord with all your heart. The psalmist said, “Let everything that has breath praise the Lord!” (Psalm 150: 6). God does not judge how good our sound, but that he is sincerely value us in praising God. Praise out of the liver, even if his voice is not good, not a problem for God. In the Old Testament God’s people were always sing praises to Him in praise. And the book of Psalms is a book of praise for Israel.

When the Israelites fought against the enemy, they will sing to the Lord and emerged as the winner. Note! After the people of Israel from the hand of Pharaoh’s army and suffered tremendous miracles, where God led them across the Red Sea in one form or miraculous, they shout for joy and praising God. “I will sing to the Lord, for he has triumphed gloriously, the horse and rider cast him into the sea. God is my strength and song, He has become my salvation. He is my God, I praise Him, He is God my father, I glorify Him. God is hero of war; the Lord is his name. Train Pharaoh and his troops dumped into the sea; the officers that option embedded into the Red Sea. “(Exodus 15: 1-4).

God wants us to always praise God. David is the person understood the importance of praise to God, where there is power in praise! That is why David confidently say that throughout his life he will continue to praise the name of God (see Psalm 104: 33). There are many Christians who are reluctant to praise the Lord, in the church they praise God with half a heart.

The believer is filled with the Holy Spirit certainly relentless praise and exalt the name of God with a hymn every time, because they know that it is part of the worship of God.

5 November 2014

HATI YANG SENANTIASA BERSYUKUR

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 5 Nopember 2014
Baca:  Mazmur 50:1-23

“Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku;”  Mazmur 50:32

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang memiliki tradisi khusus yaitu menggelar acara Thanksgiving. atau hari ucapan syukur.  Tradisi ini bermula ketika para pendatang dari Eropa mendarat untuk pertama kalinya di benua Amerika, dan pada waktu itu mereka berhasil meraih keuntungan untuk pertama kalinya di tahun 1623.  Sejak itulah mereka menetapkan suatu hari sebagai tradisi yaitu hari ucapan syukur.

Bagaimanakah hari-hari Saudara?  Apakah dipenuhi oleh ucapan syukur kepada Tuhan setiap waktu atau terus diliputi oleh kekuatiran, keluh kesah dan persungutan?  Perhatikan ayat nas di atas:  “Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku;” Hidup yang dipenuhi oleh ucapan syukur adalah hidup yang memuliakan Tuhan.  Hidup yang bersyukur itulah kunci kepuasan dan kebahagiaan hidup.  Namun jika yang keluar dari mulut kita hanyalah persungutan, mustahil kita merasakan kebahagiaan hidup.  Orang yang terus bersungut-sungut berarti tidak pernah menghargai pertolongan Tuhan dalam hidupnya, meragukan kuasa dan kesanggupan Tuhan.

Mengapa kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan?  Hidup yang selalu bersyukur menunjukkan bahwa kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan adalah Sumber segala berkat.  Alkitab menyatakan,  “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”  (1 Tesalonika 5:18).  Kita harus mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala hal, baik dalam keadaan keberkatan atau pun sedang dalam pergumulan, baik dalam suka maupun duka.  Jadi, bukan hanya ketika segala sesuatu berjalan baik atau lancar.  Bila saat ini kita diijinkan mengalami masalah atau penderitaan sekali pun, tetaplah mengucap syukur, karena semuanya pasti akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

Pastilah Tuhan itu baik, ya Tuhan itu baik adanya:  di dalam Dia ada sukacita, ada damai sejahtera, ada kebahagiaan, ada pengharapan yang pasti, ada masa depan yang baik dan sebagainya.  Dan ucapan syukur terbesar dapat disebabkan karena kita telah diselamatkan!  Alkitab mengajak kita untuk tetap bersyukur meski sedang dalam kesukaran, sebab kesukaran bermanafaat untuk pengemban karakter kita.

Janganlah hidup seperti sembilan orang kusta itu, yang setelah beroleh kesembuhan dari Tuhan berlalu begitu saja dan melupakan kebaikan Tuhan.

ALWAYS THANKFUL HEART

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, November 5, 2014
Read: Psalm 50: 1-23

“Who offereth praise, he honors me;” Psalm 50:32

The United States is one country that has held a special tradition that is Thanksgiving. or day of thanksgiving. This tradition began when the settlers from Europe landed for the first time in the Americas, and in that time they managed to make a profit for the first time in 1623. Since then they appointed a day as the day of thanksgiving tradition.

How the days you? Is filled with gratitude to God at any time or continuously overwhelmed by anxiety, groaning and murmuring? Notice the scripture verse above: “Who offereth praise, he honors me;” Life is filled with gratitude is a life that glorifies God. Life is grateful that the key of life satisfaction and happiness. But if that comes out of our mouths is just murmuring, it is impossible to feel the joy of life. People who continue to grumble means never appreciate God’s help in life, doubting God’s power and ability.

Why we should always give thanks to God? Life is always grateful indicates that we believe and confess that God is the source of all blessings. The Bible states, “Giving thanks in all circumstances, for this is the will of God in Christ Jesus concerning you.” (1 Thessalonians 5:18). We must give thanks to God in all things, both in a state blessed or being in the battle, both in joy and sorrow. So, not only when things are going well or smoothly. If at this time we are allowed to experience problems or suffering once, still give thanks, because everything would be good to us.

Surely God is good, God is good it is: in him no joy, no peace, no happiness, no hope is for sure, there is a good future and so on. And the biggest thanksgiving can be caused because we have been saved! The Bible calls us to be grateful even if I am in trouble, because the difficulty Useful to bearers of our character.

Do not live like the nine lepers, who after the healing of the Lord hath passed away and forget the goodness of God.

4 November 2014

SUDAHKAH KITA TERBEBAS DARI KEBENCIAN?

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 4 Nopember 2014

Baca:  1 Yohanes 3:11-18

“Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia.”  1 Yohanes 3:15a

Apakah Saudara adalah seorang Kristen atau pengikut Kristus?  Jika kita mengaku bahwa diri kita adalah seorang Kristen tapi dalam kenyataannya kita tidak memiliki kasih, berarti kekristenan kita adalah bohong;  sama artinya kita ini tidak mengenal Allah karena Allah adalah kasih  (baca 1 Yohanes 4:8).

Mungkin kita tidak menyadari jika selama ini doa-doa kita tidak beroleh jawaban dari Tuhan;  salah satu penyebabnya adalah karena kita tidak mengasihi sesama saudara seiman.  Bila kita mengakui bahwa di dalam hati kita ada Roh Allah itu Roh Kasih.  Kita tidak perlu gembar-gembor kepada orang lain untuk menegaskan bahwa kita ini adalah orang percaya, karena dari buahnyalah kita mengenal suatu pohon.  Begitu pula dengan kehidupan orang percaya, dari buah-buah kehidupannya  (ucapan, perbuatan atau tindakan)  orang lain akan mengenal kita apakah kita ini seorang percaya atau bukan.  Seorang Kristen yang benar tidak akan pernah menyimpan kepahitan dan kebencian terhadap sesamanya.  Alkitab menyatakan:  “Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita.  Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.  Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia.  Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.”  (1 Yohanes 3:14-15).

Sadarkah kita bahwa yang menjadi penghambat doa untuk beroleh jawaban dari Tuhan adalah ketika kita masih menyimpan kebencian terhadap sesama dan tidak mau mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita?  Ketika kita menolak mengampuni orang lain, akar pahit itu terus bertumbuh dalam hati kita dan semakin mencabik-cabik doa kita.  Bagaimana kita dapat berharap Tuhan akan mencurahkan berkat-berkatNya atas hidup kita kala kita masih menyimpan kebencian terhadap orang lain?  Bukankah Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita yang tak terhitung jumlahnya itu?  Karena itu Dia mengharapkan kita juga mengampuni orang lain sebagaimana dosa kita telah diampuni oleh Tuhan.  Bagaimana kita dapat berdoa kalau kita masih membenci orang lain ?

Apabila kita mengeraskan hati dan tetap membenci orang lain, maka dosa kebencian itulah yang memisahkan kita dari Tuhan, sehingga doa-doa kita pun hanya sampai di langit-langit kamar!

WE HAVE free from HATE?
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, November 4, 2014
Read: 1 John 3: 11-18 “

Everyone who hates his brother is a murderer.” 1 John 3: 15a

Are you are a Christian or a follower of Christ? If we confess that we are a Christian but in reality we do not have love, we mean Christianity is a lie; it means we did not know God because God is love (see 1 John 4: 8).

Perhaps we do not realize if during the prayers we do not receive an answer from the Lord; one reason is because we do not love each other brother. When we recognize that in our hearts that God’s Spirit is the Spirit of Love. We do not need the fanfare to others to assert that we are believers, because of their fruits we know a tree. Similarly, the believer’s life, from the fruit of life (sayings, deeds or actions) of others will recognize us if we are a believer or not. A true Christian would never save bitterness and hatred towards each other. The Bible states: “We know that we have passed from death to life, because we love the brethren. Whoever does not love, she remains in death. Everyone who hates his brother is a murderer. And you know that no murderer has eternal life abiding in him. “(1 John 3: 14-15).

Do we realize that constrain a prayer to receive an answer from God is when we still keep the hatred towards each other and do not want to forgive others who wrong us? When we refuse to forgive others, bitter roots continue to grow in our hearts and the rending of our prayers. How can we expect God will pour out His blessings upon our lives when we still keep the hatred towards others? Is not God has forgiven our sins countless that? Therefore He also expects us to forgive others as our sins have been forgiven by God. How can we pray if we are still hate others?

If we harden and keep hating other people, then that’s hatred of sin that separates us from God, so that our prayers were only up to the ceiling!

3 November 2014

DAUD: Mengalahkan Ketakutan (2)

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 3 Nopember 2014
Baca:  Mazmur 56:1-14

“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu.”  Mazmur 56:9a

Ketika ketakutan datang menyerang kita dan tidak segera kita lawan, ia akan menjajah pikiran kita.  Itulah sebabnya Daud berkata,  “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu;  kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.  Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”  (Mazmur 56:4,5).  Dengan percaya kepada Tuhan, kita melawan rasa takut itu.

Banyak orang yang selalu memikirkan masalah dan penderitaan yang dialaminya.  Dan semakin kita memikirkan penderitaan dan masalah yang ada, kita akan semakin lemah, stres dan kecewa.  Bawa dan serahkan semua permasalahan itu kepada Tuhan.  Jangan biarkan ketakutan itu menghalangi langkah kita untuk meraih janji-janji Tuhan.  Di akhir zaman ini Iblis melepaskan ‘panah ketakutan’ ke segala aspek kehidupan orang percaya, bisa saja melalui persoalan ekonomi, persoalan rumah tangga  (antara suami isteri), persoalan anak, bahkan persoalan dalam hal pelayanan di gereja, dengan tujuan agar kita menjadi takut dan tidak lagi mempercayakan hidup ini kepada Tuhan sepenuhnya.  Akhirnya banyak orang mulai tidak tahan menantikan pertolongan dari Tuhan dan lebih memilih pergi ke dukun atau orang pintar yang dirasa dapat memberikan pertolongan secara instan.  Ketakutan semakin menjajah kita apabila arah pandangan kita hanya tertuju pada masalah dan situasi-situasi yang ada.  Ingat, kita adalah anak-anak Tuhan, artinya adalah warga Kerajaan Allah yang secara otomatis mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan dari Tuhan.  Oleh karena itu kita harus memandang ke atas yaitu kepada Tuhan, yang akan menjadi pembela kita, yang berperang ganti kita.

Tuhan kita adalah Allah yang besar, jauh melebih semua masalah yang ada.  Daud pun menjadi kuat sehingga ia dapat berkata,  “kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.  Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”  Di dalam Amsal 23:7a dikatakan,  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  Artinya, hidup ini sesungguhnya tergantung dari pikiran kita.  Kadangkala pikiran kita yang menjajah diri kita sendiri.

Terkadang pikiran kita sendirilah yang mengecilkan dan meragukan Tuhan.

DAVID: Defeating Fear (2)

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, November 3, 2014
Read: Psalm 56: 1-14

  “Thou affliction tallying, put a my tears into thy wineskins.” Psalm 56: 9a

When fear comes upon us and we immediately opponent, he will invade our minds. That is why David says, “When I am afraid, I believe thee; to God, His Word kupuji, in God I trust, I’m not afraid. What can man do to me? “(Psalm 56: 4,5). With trust in God, we fight that fear.

Many people who are always thinking about the problem and the suffering they experienced. And the more we think about suffering and problems that exist, we will be more weak, stressed and disappointed. Take it and submit it to the Lord all the problems. Do not let the fear that hinders our steps to achieve the promises of God. In these last days the Devil release ‘arrow of fear’ to all aspects of life of the believer, it could be through economic issues, domestic issues (between husband and wife), the issue of children, even in the case of service problems in the church, in order for us to be afraid, and no longer entrust this life to God completely. Finally, many people started to not stand looking forward to help from God and prefer to go to a shaman or wise man feels can provide instant relief. Fear the colonizing us if we simply gaze focused on the problems and situations that exist. Remember, we are the children of God, citizens of the Kingdom of God means that automatically get the protection and preservation of God. Therefore we have to look up to God, namely, that will be our advocate, who fought on our behalf.

Our Lord is a great God, far exceeds all existing problems. David became so strong that he can say, “God, that His Word kupuji, in God I trust, I’m not afraid. What can man do to me? “In Proverbs 23: 7a says,” For as he thinketh in his heart, so is he. “That is, real life is dependent on our minds. Sometimes we thought colonizing ourselves.

Sometimes our minds shrink themselves and doubt God.

29 October 2014

AKANKAH IA MENGABAIKAN DOA KITA?

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Rabu, 29 Oktober 2014
Baca:  Lukas 18:1-8

 

Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?  Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”  Lukas 18:7

Sebagai manusia kita cenderung mudah putus asa dan tidak sabar menantikan jawaban doa kita.  Itulah sebabnya Yesus mengajar kita berdoa tak putus-putusnya.  “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.”  (ayat 1).  Kita wajib berdoa setiap hari dan setiap saat, karena jika tidak, kita tidak akan memiliki hubungan harmonis dengan Bapa.  Kadangkala kita kecewa dan kehilangan semangat, kita berpikir seolah-olah doa kita tidak akan didengar Bapa.  Sorga nampak seolah-olah mempunyai pintu baja yang menghalangi doa kita mencapai Allah.  Tetapi Yesus menghendaki kita senantiasa berdoa sekalipun belum ada tanda-tanda jawaban atas doa kita.

Jika kita menyerahkan hidup dalam tangan Yesus, Bapa kita bukan hanya mendengar doa-doa kita, tetapi Ia juga akan menjawab doa-doa kita.  “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?  Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Allah Bapa kita tidak berlambat-lambat dalam membalas doa kita, tetapi kitalah yang harus bersabar dan belajar menerima segala sesuatunya sejalan dengan rencana dan jadwal Allah.  Sesungguhnya apa yang kita butuhkan telah tersedia, tetapi hal itu akan dinyatakan kepada kita pada waktu yang tepat.  Ketika kita menabur benih, benih itu tidak bertumbuh dalam waktu semalam;  ia membutuhkan waktu beberapa hari untuk tumbuh.  Dan kita akan menuainya setelah beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.  Demikian juga dengan doa-doa kita.  Kadang kita harus berdoa untuk jangka waktu yang lama baru kita dapat menikmati hasilnya.

Janganlah tawar hati karena Yesus berkata,  “Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Lukas 11:10).  Jadi barangsiapa belum juga menerima jawaban doa-doanya, bersabarlah dan nantikanlah waktuNya.  Mungkin Ia menghendaki engkau membuktikan kesetiaan dan kesabaranmu dalam masa-masa kesukaranmu.  Atau mungkin saja Allah ingin membangun karaktermu melalui ujian yang kauhadapi sehingga engkau memiliki karakter Anak.

Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya;  dan tak peduli apa masalahmu, bagi Allah, jawabannya amat mudah!  Jadi, jangan berhenti berdoa!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, October 29th, 2014
Read: Luke 18: 1-8

“Did God would justify the choice of his cry day and night unto him? And is he stalling before helping them?” Luke 18: 7

As humans we tend to be easily discouraged and impatient waiting for an answer to our prayers. That is why Jesus taught us to pray incessantly. “Jesus spoke a parable to them to assert, that they should always pray and not lose heart.” (verse 1). We should pray every day and every moment, because otherwise, we would not have a harmonious relationship with the Father. Sometimes we are disappointed and demoralized, we think as if our prayers will not be heard Father. Heaven seems as though having a steel door that hinder our prayers reach God. But Jesus wants us to always pray even though there is no sign of the answers to our prayers.

If we put lives in the hands of Jesus, our Father not only hear our prayers, but He will answer our prayers. “Did God would justify the choice of his cry day and night unto him? And is he stalling before helping them?” God our Father without delay in replying to our prayers, but we have to be patient and learn to accept everything in line with God’s plan and schedule. Surely what we need is already available, but it will be revealed to us in a timely manner. When we sow the seed, the seed does not grow overnight; it takes a few days to grow. And we will reap after a few months or even several years later. Likewise with our prayers. Sometimes we have to pray for a long period of time then we can enjoy the results.

Do not lose heart because Jesus said, “For everyone who asks receives, and everyone who seeks finds, and to him who knocks, the door will be opened.” (Luke 11:10). So anyone who has not yet received an answer to his prayers, be patient and wait for His timing. Perhaps He wants you to prove loyalty and patience in times of difficulties. Or maybe God wants to build character through the exam so that you have a character you’re up against Children.

Any problems there must be a way out; and no matter what your problem is, for God, the answer is very easy! So, do not stop praying!

28 October 2014

Kesatuan Iman

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 28 Oktober 2014
Baca:  Efesus 4:1-16

“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”  Efesus 4:13

Berbicara tentang kedewasaan adalah berkenaan dengan karakter, cara berpikir, berperilaku dan sikap hati alam merespons segala hal.  Mengukur kedewasaan rohani seseorang berbeda dengan jika menerka atau menduga berapa usia orang tersebut.  Mungkin kita akan lebih mudah menebak usia seseorang dilihat dari tampilan fisik dan juga ciri-ciri biologis lainnya, apakah dia masih tergolong kanak-kanak, remaja atau sudah berusia lanjut.  Namun untuk melihat kedewasaan rohani seseorang itu tidaklah gampang, kita harus mengenal pribadi orang itu lebih dalam dan bergaul dekat dengan dia dalam kurun waktu yang tidak singkat, itu pun belum bisa menjamin sepenuhnya kita bisa tahu kedewasaan rohaninya;  jadi membutuhkan banyak waktu.

Menduga usia kedewasaan rohani seseorang memang tidaklah mudah karena kehidupan kekristenan adalah dinamis, bukan statis;  harus terus bertumbuh dari hari ke sehari.  Tuhan menghendaki, setiap orang percaya mencapai kedewasaan penuh,  “…bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”  (ayat 14).

Kedewasaan dalam hal apa yang harus menjadi target hidup kita?  Salah satunya adalah harus dewasa dalam firman.  “…makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”  (Ibrani 5:14).  Orang yang dewasa rohani pasti mencintai firman Tuhan, hatinya terus merasa haus dan lapar terhadap firman Tuhan.  Segala pikiran dan tindakan terarah kepada firman Tuhan yang direnungkannya dengan sungguh-sungguh.  Ia tidak akan mudah tersinggung atau marah jika tertegur oleh firman Tuhan yang keras.  Jika kita masih marah, menyalahkan hamba Tuhan dan mogok ke gereja hanya karena firman, berarti kita masih Kristen kanak-kanak.  Simak pernyataan Paulus:  “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.  Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.”  (1 Korintus 13:11).

Dewasa berarti tidak lagi seperti kanak-kanak, tetapi berubah dan hidup seturut dengan firman Tuhan!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, October 28th, 2014
Read: Ephesians 4: 1-16

“until we all reach unity in the faith and of the knowledge of the Son of God and become mature, attaining to the fulness of Christ.” Ephesians 4:13

Speaking of maturity with regard to the character, way of thinking, behavior and attitudes of the heart respond to all things natural. Measuring a person’s spiritual maturity is different from if guess or surmise how old the person is. Perhaps it is easier to guess the age of a person seen from the physical appearance as well as other biological characteristics, if he is still considered a child, teenager or elderly. But to see someone’s spiritual maturity is not easy, we must get to know him more deeply and hung close to him within a period not shorter, it also can not fully guarantee we can know the spiritual maturity; so it takes a lot of time.

Predicting the age of a person’s spiritual maturity is not easy because the Christian life is dynamic, not static; should continue to grow from day to day. God wants every believer reaches full maturity, “… no longer children tossed about by every wind of doctrine, by human cunning fake game they were misleading,” (verse 14).

Maturity in terms of what should be the target of our lives? One of them is to be the adult in the word. “… solid food is for the mature, who because of practice have their senses trained to discern good from evil.” (Hebrews 5:14). People who are spiritually mature sure loves the word of God, his heart continues to feel thirsty and hungry for the word of God. All thoughts and actions directed to the Word of God in his reflection in earnest. He will not easily offended or upset if tertegur by the word of God is hard. If we are still angry, blaming ministers and strike to church just because of the word, means that we are still a Christian child. Consider Paul’s statement: “When I was a child, I spoke like a child, I felt like a child, I reasoned like a child. But when I became an adult, I left it childish.” (1 Corinthians 13:11).

Adult means no longer as a child, but change and live according to the Word of God!

27 October 2014

MERENUNGKAN FIRMAN: Kunci Keberhasilan Dalam Segala Hal !

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 27 Oktober 2014
Baca:  Mazmur 1:1-6

“tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”  Mazmur 1:2

Apakah Saudara membaca Alkitab setiap hari?  Masih banyak orang Kristen yang menjawab,  “Jujur, saya jarang baca Alkitab.  Mana sempat?  Pulang kerja sudah larut malam, jadi cuma sempat berdoa saja.  Saya membaca Alkitab kalau pas hari Minggu di gereja.  Untung di tas kerja saya ada AIR HIDUP, bisa dibawa kemana-mana.  Itu saja yang kubaca.”  Membaca firman Tuhan melalui renungan-renungan harian memang bagus karena di situ ada tuntunan ayat-ayat yang kita baca, tapi kita tidak boleh melupakan sumbernya yaitu Alkitab  (firman Tuhan).

Seseorang yang memiliki kehidupan doa pribadi setiap hari pasti hidupnya tidak dapat dipisahkan dari firman Tuhan, karena ia sadar bahwa  “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  (Matius 4:4).  Oleh karena itu kita harus menyediakan waktu secara khusus untuk membaca, mendengar dan merenungkan firman Tuhan setiap hari.  Sebagaimana tubuh jasmani kita membutuhkan makanan setiap hari, begitu pula dengan manusia roh kita, harus makan makanan rohani  (firman Tuhan)  secara teratur setiap hari.  Orang yang suka merenungkan firman siang dan malam adalah orang yang memiliki kekariban dengan Tuhan.  Dan terhadap orang yang karib,  “…perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”  (Mazmur 25:14).  Pentingkah firman Tuhan bagi kehidupan Saudara?  Kita harus menyadari bahwa firman Tuhan adalah pegangan dan pedoman hidup orang percaya, karena itu  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

Jika kita rindu mengalami kuasa Tuhan, rindu pelayanan kita berhasil, rindu mengalami berkat-berkat Tuhan, kita pun harus mencintai firman Tuhan setiap hari.  Sayang, masih banyak orang Kristen yang menyepelekan firman Tuhan, Alkitab yang adalah buku kehidupan yang cuma dijadikan pajangan di dalam lemari, padahal isi Alkitab itu benih hidup yang kekal dan perkataan Tuhan sendiri yang penuh kuasa.

Tidaklah mengherankan banyak orang Kristen mengalami kegagalan dalam hidup dan menjadi seperti tanah kering karena mereka tidak suka firman Tuhan

CONTEMPLATE WORD: Keys to Success In All Things!
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, October 27th, 2014
Read: Psalm 1: 1-6

  “but the favorite is the law of the Lord and his law he meditates day and night.” Psalm 1: 2

Do you read the Bible every day? There are many Christians who replied, “Honestly, I rarely read the Bible. Which was? Home from work it was late, so only had time to pray. I read the Bible that fit in the church Sundays. Fortunately in my briefcase there WATER OF LIFE, could to carry anywhere. that’s all I read. “Reading the word of God through daily reflections are good because there is no guidance verses we read, but we should not forget its source, namely the Bible (God’s word).

Someone who has a personal prayer life every day of his life certainly can not be separated from the word of God, because he realized that “Man shall not live by bread alone, but by every word that proceeds from the mouth of God.” (Matthew 4: 4). Therefore we must make time specifically for reading, listening and meditating on the Word of God every day. Just as our physical bodies need food every day, as well as our spirit man, must eat spiritual food (God’s word) regularly every day. People who like to meditate on the Word day and night are the people who have intimacy with God. And to the person who intimates, “… told his covenant unto them.” (Psalm 25:14). Important is the word of God for your life? We must realize that God’s Word is the grip and guide the lives of believers, because it is “Do not forget this Book of the Law, but meditate on it day and night, that you may observe to do according to all that is written therein: for then the journey will succeed and you will be lucky. “(Joshua 1: 8).

If we desire to experience the power of God, we managed to miss the service, longs to experience the blessings of God, we must love the Word of God every day. Unfortunately, there are many Christians who disregard God’s word, the Bible is the book of life is only used as a display in a cabinet, when the contents of the Bible is the seed of eternal life and God’s own words of power.

It’s no surprise many Christians have failed in life and become as dry land because they do not like the word of God

25 October 2014

MENJADI BERKAT OLEH ANUGERAHNYA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 25 Oktober 2014
Baca:  Roma 4

Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham,…”  Roma 4:16a

Alkitab mencatat,  “Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.”  (Yosua 24:2).  Melalui ayat ini jelas dinyatakan bahwa Terah, ayah Abraham, adalah penyembah berhala.  Ini menunjukkan bahwa pada awalnya Abraham bukanlah orang percaya.  Seperti orang-orang sezamannya, ia adalah penyembah berhala yang memuja berhala di Ur-Kasdim.  Namun dalam Kejadian 12:1 Tuhan mengatakan padanya,  “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;”  (Kejadian 12:1).  Inilah awal Abraham menjadi orang percaya.

Tuhan menyatakan diriNya secara pribadi kepada Abraham karena Dia memiliki rencana besar atas kehidupan Abraham, hendak menjadikannya bapa bagi bangsa-bangsa.  Hidup Abraham dipakai Tuhan bukan karena ia orang benar, tetapi karena anugerahNya semata.  “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri,…”  (2 Timotius 1:9).  Abraham merespons panggilan Tuhan ini dengan ketaatan.  Ketika diperintahkan pergi ke suatu negeri yang belum diketahuinya, dengan konsekuensi harus meninggalkan sanak keluarga dan tanah leluhurnya, Abraham taat.  Ini bukanlah perkara mudah, apalagi perintah itu ia terima dari Tuhan yang baru saja dikenalnya.  Namun respons Abraham telah menghasilkan keselamatan bagi seluruh umat manusia, di mana melalui keturunan Abraham inilah Allah menggenapi janjiNya dengan mengutus Yesus Kristus datang ke dunia.

Prinsip pemilihan Tuhan terhadap Abraham sama dengan prinsip Tuhan memilih kita.  Kita yang sebelumnya adalah orang-orang berdosa, ditebus melalui darah Kristus yang kudus sehingga kita menjadi orang-orang yang dibenarkan, lalu diangkat sebagai anak-anakNya, artinya kita juga ahli waris Kerajaan Allah.

Mari introspeksi diri:  adakah kita memiliki ketaatan seperti Abraham?  Berani mengambil keputusan untuk mengikuti dan melayani Tuhan dengan segenap hati serta rela meninggalkan segala kenyamanan yang ada selama ini?

 

BE A BLESSING BY GRACE
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, October 25th, 2014

Read: Romans 4 “Therefore it is of faith that is grace, so that the promise applies to all the descendants, …” Romans 4: 16a

The Bible records, “Once upon a time beyond the Euphrates River, is where silent ancestors, that Terah, the father of Abraham and father of Nahor, and they served other gods.” (Joshua 24: 2). Through this verse clearly states that Terah, Abraham’s father, was an idolater. It shows that at the beginning of Abraham was not a believer. Like many of his contemporaries, he was a pagan who worships idols in Ur of the Chaldeans. But in Genesis 12: 1 The Lord said to him, “Go from your country and from your relatives and from your father’s house to the land that I will show thee;” (Genesis 12: 1). This was the beginning of Abraham became a believer.

God reveals Himself personally to Abraham because He has great plans for the life of Abraham, the father wanted to make it to the nations. Abraham’s life was used by God not because he was righteous, but because of His grace alone. “He saved us and called us with a holy calling, not according to our works, but according to the purpose and grace of his own, …” (2 Timothy 1: 9). Abraham responded to God’s call to obedience. When instructed to go to a land that is not yet known, the consequences of having to leave the land of their ancestors and relatives, Abraham. It is not easy, especially the order he received from the Lord who had just met. However, Abraham’s response has resulted in salvation for all mankind, where through the seed of Abraham that God fulfilled His promise by sending Jesus Christ came into the world.

The principle of God’s choice of Abraham together with the principles of God’s choosing us. We previously were sinners, redeemed by the blood of Christ is holy so that we become people who are justified, and appointed as his children, it means we are also heirs of the kingdom of God.

Let introspection: are we going to have obedience like Abraham? Brave decision to follow and serve the Lord with all your heart and willing to leave all the comforts that have so far?

24 October 2014

HIDUP KEKRISTENAN: Terpisah dari Dosa!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 24 Oktober 2014
Baca:  Keluaran 19

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus.  Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.”  Keluaran 19:6

“Kekudusan lagi!  Topik itu melulu, bosan ahh!”  Mungkin itu reaksi kita.  Kekudusan adalah topik yang sangat tidak disukai dan sebisa mungkin dihindari oleh orang Kristen.  Mengapa?  Karena berbicara tentang kekudusan berarti jemaat akan ditegur, dikoreksi, di  ‘ditelanjangi’  dosa-dosanya.  Namun, mau tidak mau, suka tidak suka, topik itu harus tetap disampaikan kepada orang percaya sampai Tuhan datang kali kedua, karena kekudusan adalah syarat mutlak untuk dapat melihat Tuhan.  “…kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14).  Jadi kekudusan adalah sasaran hidup setiap orang percaya.

Apakah sebenarnya kekudusan itu?  Secara umum kudus berarti tak berdosa.  Siapa manusia yang tidak berdosa, selain Yesus?  Kata kudus dalam bahasa Ibrani adalah qodosh, yang memiliki arti dasar pemisahan.  Kepada Musa Tuhan berfirman demikian:  “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka:  Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus.”  (Imamat 19:2).  Ini menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan adalah kudus dan tidak bisa diganggu gugat!  Dia tidak bisa disamakan dengan ilah-ilah lain.  Karena itu Tuhan melarang bangsa Israel menyembah ilah-ilah lain karena hanya Tuhan saja yang layak disembah.  Tuhan memanggil bangsa Israel untuk dikuduskan atau dipisahkan dari bangsa-bangsa lain dan diangkat menjadi umat pilihanNya.  Begitu juga Tuhan Yesus datang ke dunia untuk mencari dan menyelamatkan kita orang-orang berdosa dan memisahkan kita dari dunia ini, serta menjadikan kita sebagai  “…bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil keluar dai kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib;”  (1 Petrus 2:9).

Alkitab menyatakan bahwa melalui karya kudusNya di kayu salib Yesus membenarkan, menguduskan, menebus kita  (baca  1 Korintus 1:30).  Karena telah dipisahkan dari dosa, Tuhan menghendaki kita juga  ‘berbeda’  dari dunia dan tidak turut dalam perbuatan-perbuatan mereka.

Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.”  (2 Korintus 6:17).

ON CHRISTIANITY: Separate from Sin!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, October 24th, 2014
Read: Exodus 19

“Ye shall be unto me a kingdom of priests and a holy nation. These are the words which you shall speak to the Israelites.” Exodus 19: 6

“Holiness again! The topic was merely, bored ahh!” Maybe it was our reaction. Holiness is a topic that is very unpopular, and as much as possible be avoided by Christians. Why? Because talking about holiness means the church will be reprimanded, corrected, in ‘stripped’ sins. However, like it or not, like it or not, the topic should still be submitted to the believers until the Lord comes the second time, because holiness is the necessary condition to be able to see God. “… pursue holiness, for without holiness no one will see the Lord.” (Hebrews 12:14). So holiness is a life goal of every believer.

Is it true holiness? In general, means holy innocent. Who innocent human being, other than Jesus? Holy word in Hebrew is qodosh, which has the basic meaning of separation. Thus the Lord said to Moses: “Speak to the entire assembly of Israel and say to them: You shall be holy, for I, the Lord your God, am holy.” (Leviticus 19: 2). This shows that the existence of God is holy and inviolable! He can not be equated with other gods. Therefore God forbid the Israelites worshiped other gods because only God is worthy of worship. God called Israel to be sanctified or separated from other nations, and was named a chosen people. Likewise, the Lord Jesus came into the world to seek and save us sinners and separated us from this world and make us as “… a nation that is selected, a royal priesthood nations find holy, people belonging to God himself, that ye proclaim the great deeds of him who has called out of darkness into light propagators his wonderful; “(1 Peter 2: 9).

The Bible declares that through His work on the cross of Jesus to justify, sanctify, redeem us (see 1 Corinthians 1:30). Since it has been separated from sin, God wants us too ‘different’ from the world and do not participate in their deeds.

“Come out from among them, and be ye separate, saith the Lord, and touch not the unclean thing; and I will receive you.” (2 Corinthians 6:17).

23 October 2014

JANGAN BIARKAN KESEMPATAN ITU LEWAT!

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 23 Oktober 2014
Baca:  Galatia 6:1-10

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”  Galatia 6:10

Ada kata bijak yang menyatakan bahwa kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya.  Oleh karena itu jangan pernah sia-siakan setiap kesempatan yang ada.  Banyak orang yang menyesal begitu rupa saat kesempatan itu tidak digunakan dengan baik.  Yang ada tinggallah penyesalan.

Tuhan memberikan kesempatan kepada orang-orang di zaman Nuh selama 120 tahun untuk bertobat, tapi mereka tidak mempergunakannya dengan baik dan akhirnya penyesalan pun tiada guna.  Dan saat Tuhan menenggelamkan bumi dengan air bah, binasalah mereka semua kecuali Nuh dan keluarganya yang selamat.  Begitu juga seluruh penduduk kota Sodam dan Gomora yang dibumihanguskan oleh Tuhan.  Selama masih hidup mereka menyia-nyiakan kesempatan yang ada dan tetap hidup di dalam dosa.  Juga kisah orang kaya dan Lazarus  (baca  Lukas 16:19-31). Saat di dunia si kaya hidup dalam gelimangan harta , tapi ia lupa diri dan tidak pernah menabur atau memperhatikan orang-orang lemah.  Akhirnya ia mengalami kebinasaan kekal.  Ia lupa bahwa hidup di dunia ini adalah kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan hidup di dalam kekekalan.

Berapa lama kita memiliki kesempatan hidup di dunia ini?  Selamanyakah?  Dalam mazmurnya Daud berkata,  “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan;  sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”  (Mazmur 90:10).  Menyadari bahwa kesempatan itu sangatlah terbatas, Daud pun berdoa,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12).  Jadi tugas kita menemukan kesempata dalam setiap situasi yang ada, sebab jika hidup ini berakhir tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat.  Sesudah mati tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik bagi diri sendiri atau sesama sehingga raja Salomo menasihati,  “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, kemana engkau akan pergi.”  (Pengkotbah 9:10).

Selagi Tuhan memberi kesempatan, gunakan sebaik mungkin supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari!

DO NOT LET OPPORTUNITY THROUGH IT!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, October 23, 2014
Read: Galatians 6: 1-10

“Therefore, as long as we have opportunity, let us do good to all people, but especially to our friends in the faith.” Galatians 6:10

There is a proverb that states that the opportunity does not come a second time. Therefore you should never waste any opportunity. Many people regret so much when the opportunity was not used properly. That there lived remorse.

God gave the opportunity to the people of Noah’s day for 120 years to repent, but they do not use them properly and ultimately regret was useless. And when God drowning the earth with a flood, they all perished except Noah and his family survived. Likewise all the men of Sodam and Gomorrah were burned by God. While still alive they wasted the opportunities that exist and live in sin. Also the story of the rich man and Lazarus (see Luke 16: 19-31). When in the rich world who live in abundant wealth, but he forgot himself and never sow or pay attention to those weak. Finally he suffered everlasting destruction. He forgets that life in this world is an opportunity for us to prepare for life in eternity.

How long do we have a chance to live in this world? Forever? In the psalm, David says, “days of our lives seventy years and if we are strong, eighty years old, and his pride is hardship and suffering, for the passage of a hurry, and we drift away.” (Psalm 90:10). Realizing that it is very limited opportunity, David prayed, “Teach us to number our days, that we may gain a heart of wisdom.” (Psalm 90:12). So the task we find occasion, in every situation, because if life ends no more opportunity to repent. After death there is no more chance to do good for themselves or others that King Solomon advises, “Everything that your hand finds to do, do it with your might; for there is no work or device or knowledge or wisdom in the grave, where you are will go. “(Ecclesiastes 9:10).

While God gives opportunity, to use as possible so there are no regrets in the future!