Get Adobe Flash player
1 April 2011

PANDANG JAUH KEDEPAN ( Look for the Future )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) By WSB Editorial staff

JUM’AT, 1 APRIL 2011

KEJADIAN 26:1-35

Tinggallah dinegeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau,sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu” (ayat 3). Peristiwa yang sama seperti yang terjadi pada jaman Abraham kembali terjadi di negeri dimana Ishak tinggal, yakni kelapa ran. Dan sebagaimana yang diperbuat Abraham dulu, demikianlah Ishak menghadapinya, yakni pergi kepada Abimelekh, raja orang Filistin di Gerar. Dan Tuhan sendiri berfirman kepada Ishak supaya ia tidak pergi ke Mesir, tapi tetap tinggal di Gerar sebagai orang asing karena itulah negeri yang akan diberikan Allah kepadanya dan kepada keturunannya, dan Tuhan sendiri berjanji akan menyertai dan memberkatinya. Ishak taat, maka terjadilah seperti yang difirmankan Tuhan, Ishak menabur disana dan menuai hasil seratus kali lipat dan ia makin lama makin kaya sehingga Abimelekh sendiri menjadi takut dan memintanya untuk meninggalkan daerahnya sebab Ishak telah menjadi jauh lebih berkuasa daripada nya. Abimelekh tidak mempergunakan kekerasan melainkan dengan jalan damai, yakni mengikat perjan jian damai seperti yang dilakukannya dulu dengan Abraham. Pandanglah rencana dan rancangan Allah jauh kedepan, sekalipun sepertinya sekarang kita hanya mendengar janji dan belum melihat kenyataan nya, tapi yakinlah, dengan bermodalkan kepercayaan dan ketaatan, kita pasti akan menikmati kegenapan nya. Waktu dan saat ada ditangan Tuhan sendiri, tapi yang pasti Dia menyertai sekalipun kita tidak melihat-Nya secara kasat mata. Jangan lepaskan kepercayaan kita kepada-Nya, besar upah yang menan tinya, bertekunlah dalam kepercayaan kepada-Nya dan kita akan memperoleh apa yang dijanjikan-Nya (Ibrani 10:35-36).

PANDANGLAH PADA JANJI-JANJI-NYA YANG KEKAL.

Friday, 1 APRIL 2011

26:1-35 EVENTS

Stay in this country as strangers, then I will be with thee and bless thee, for thee and to thy seed will I give the whole country, and I will fulfill my oath that has been declared the to Abraham, your father” (verse 3). Same event as happened at the time of Abraham back in the country where Isaac lived, namely hunger. And, as Abraham had done, so is Isaac face it, that went to Abimelech, king of the Philistines in Gerar. And God himself said to Isaac, so he did not go to Egypt, but remained in Gerar as an alien because that country will be given by God to him and to his descendants, and God himself promised to be with and bless him. Isaac obeyed, then there like that spoken of the Lord, Isaac sowing and reaping there a hundred times and he grew rich that Abimelech himself became frightened and asked him to leave the area because Isaac has become far more powerful than him. Abimelech did not use violence but by peaceful means, ie binding peace agreement as he did first with Abraham. Look to God’s plan and design far ahead, though it seems now we only hear the promise and reality have not seen it yet, but rest assured, to capitalize the trust and obedience, we will surely enjoy her fullness. Time and time is in the hands of God himself, but who would accompany him even if we do not see Him by naked eye. Do not remove our trust in Him, waiting for him big wages, was devoted to Him in faith and we will get what is promised (Hebrews 10:35-36).

LOOK ON HIS PROMISES ETERNAL.

31 March 2011

Alat bagi rancangan-Nya ( His tools for the design )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

KAMIS, 31 MARET 2011

KEJADIAN 25:19-34

“Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda” (ayat 23). Abraham telah mengambilkan seorang istri yang tepat bagi Ishak, anaknya, yakni dari kalangan kaum keluarganya. Tapi tidak jauh berbeda dengan orang tuanya, ternyata Ribka, istrinya juga adalah seorang yang mandul. Kuasa Tuhan tidak terbatas, oleh sebab Ia sudah berjanji akan menjadikan Abraham sebagai bangsa yang besar, maka sesuai dengan doa Ishak, Tuhan membuka rahim Ribka sehingga iapun mengandung. Masalahnya, anak yang ada dalam kandungannya bertolak-tolakan yang ternyata anak kembar didalamnya.  Kedua anak itupun Tuhan persiapkan menjadi dua bangsa yang besar, tapi anak yang bungsu akan lebih kuat bangsanya dari anak yang sulung. Demikianlah Esau dan Yakub hadir didunia, dan sesuai dengan apa yang telah Tuhan firmankan, tanda-tanda bahwa Yakub akan lebih kuat dari Esau nampak dari sikap Esau yang memandang ringan hak kesulungan hanya demi semangkuk sup kacang merah. Sedang Yakub dengan kecerdikannya akhirnya beroleh berkat dari hak kesulungan karena baginya itu adalah berkat yang besar. Dua contoh sikap dalam memandang kasih karunia Allah dengan akibatnya. Ketidakmampuan kita dalam menghargai kasih karunia Allah hanya akan menghasilkan kegagalan hidup sekalipun Tuhan sudah memperlengkapi dan menyiapkan rancang an-Nya yang besar atas kita. Sebaliknya, sikap menghargai kasih karunia Allah akan menghasilkan kebahagiaan dan keberhasilan sekalipun kecil kekuatan kita. Rencana dan rancangan Allah digenapi atas kita bukan karena kekuatan dan kemampuan atau apapun yang kita miliki, tapi karena kepercaya an, ketaatan dan penundukkan kita pada firman-Nya, maka jadilah penurut-penurut Allah (Efesus 5:1).

JADILAH ALAT TUHAN BAGI KEGENAPAN RANCANGAN-NYA.

THURSDAY, 31 MARCH 2011

25:19-34 EVENTS

Two nations are in your womb, and two tribal nations will be split up from inside your womb; tribes which one will be stronger than others, and older children will become slaves to young children” (verse 23). Abraham had the right to pick a wife for Isaac, his son, from among the family. But not much different from their parents, turned out to Rebekah, his wife also was a barren. God’s power is not unlimited, so He has promised to make Abraham a great nation, then in accordance with the prayer of Isaac, God opened the womb of Rebecca, so she began to conceive. The problem is that there is a child in her womb-repulsion that was contrary to twins in it. Second child of God and even then prepare to be two great nation, but the youngest child will be more powerful nation than the first-born child. Thus Esau and Jacob present world, and in accordance with what has God says about the signs that Jacob would be stronger than is apparent from the attitude of Esau Esau who despised his birthright for a bowl of soup just red bean. Who’s Jacob with cleverness finally obtain the blessing of his birthright because it is a great blessing. Two examples of the attitude of looking at the grace of God with the consequences. Our inability to appreciate the grace of God will only result in failure to live even if God has been equipping and preparing the design of his great on us. Conversely, respect for God’s grace will produce happiness and success despite our small strength. Plan and design of God was fulfilled upon us not because of the strength and ability, or whatever we have, but because of trust, obedience and submission we are in his words, then be imitators of God (Ephesians 5:1).

BE A DESIGN TOOL LORD FOR HIS FULNESS.

30 March 2011

Dalam kuasa Allah

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian

RABU, 30 MARET 2011

KEJADIAN 25:12-18

“Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya” (ayat 16).  Tepat seperti  yang Allah katakan kepada Abraham ketika Ia membuat tanda perjanjian dengan mengadakan sunat, demikianlah akhirnya Ismael benar-benar memperanakkan dua belas orang yang pada perkembangannya menghadirkan dua belas raja diatas bumi. Kedar dan Nebayot menjadi keturunan yang paling menonjol dan sering ditulis dalam Alkitab mewakili saudara-saudaranya yang lain. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka. Dan Allahpun juga setia akan janji-Nya terhadap Abraham untuk mem berkati Ismael dan keturunannya dan siapa yang diberkati Tuhan tetaplah orang yang terberkati, tidak peduli dari manapun asal muasalnya. Demikianlah pada akhirnya keturunan Ismael juga menjadi bangsa yang besar dan diberkati Tuhan oleh karena Abraham. Menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mengang gap bahwa hanya kitalah orang, kelompok, suku bangsa atau bahkan agama sebagai satu-satunya yang diberkati Tuhan. Dia bukan hanya Tuhannya satu kelompok, suku bangsa atau agama tertentu, tapi Dia adalah Tuhan atas segala yang ada ini dan Dia tetap memberkati siapapun yang Ia kehendaki. Sebalik nya kita akan menjadi orang yang seharusnya patut dikasihani jika menganggap Tuhan itu hanya milik suku bangsa atau agama kita padahal kita sendiri tidak taat pada kehendak dan firman-Nya, hidup jauh dari-Nya dan hanya memuliakan Dia dengan bibir padahal hati kita jauh daripada-Nya. Allah berkuasa penuh untuk memberkati siapa saja yang dikehendaki-Nya, Ia mau memperlihatkan kuasa-Nya dan memasyhurkan nama-Nya karenanya, maka jangan merasa diri sebagai yang paling dikasihi Tuhan (Roma 9:15-18).

TUHAN ITU SETIA DAN TIDAK PERNAH MEMANDANG MUKA.  

29 March 2011

Warisan yang berharga

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian

SELASA, 29 MARET 2011

KEJADIAN 25:7-11             

“Setelah Abraham mati, Allah memberkati Ishak, anaknya itu; dan Ishak diam dekat sumur Lahai-Roi” (ayat 11).  Abraham telah hidup dalam kepercayaan dan ketaatan akan firman Tuhan dan dalam masa tuanya ia juga telah menjadi seorang yang diberkati Tuhan luar biasa, bahkan ia masih bisa melihat anak kandungnya sendiri, ahli warisnya yang lahir pada masa tuanya, berumah tangga. Dalam hidupnya ia telah menanamkan ketaatan dan kepercayaannya akan Tuhan kepada anaknya, Ishak. Maka ketika tiba waktunya bagi Abraham untuk dikumpulkan kepada kaum leluhurnya, iapun pergi meninggalkan dunia dalam damai, sudah putih rambutnya, tua dan suntuk umurnya. Allah setia dengan janji-Nya, Ia member kati Ishak karena Abraham dan Ishakpun hidup sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan diteladankan bapanya kepadanya. Ishak telah mengalami sendiri dan melihat ketaatan bapanya ketika ia sendiri telah siap untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai korban sesuai dengan perintah-Nya kepada Abraham, bapanya. Jadi Ishakpun juga telah siap ketika bapanya itu harus dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Setiap orang tua pasti merindukan anak-anaknya hidup dalam suasana kelimpahan berkat dan untuk itu menjadi peran orang tua untuk mempersiapkannya. Bukan semata persiapan perkara jasmani, yang lebih penting adalah mempersiapkan mentalnya melalui ajaran dan juga keteladanan hidup orang tua yang percaya dan takut akan Tuhan. Dengan demikian ketika orang tua sudah sampai pada waktunya untuk kembali kepada penciptanya, ia bisa pergi dalam damai dan anak-anakpun juga kedapatan telah siap untuk menghadapi hidup tanpa bimbingan orang tua. Wariskanlah sesuatu yang berharga, yakni sikap hidup yang takut akan Tuhan yang menghasilkan jaminan berkat Tuhan atas anak cucu kita (Mazmur 25:12-13).

 WARISKAN “SUMBER” DARI SEGALA BERKAT KEPADA ANAK CUCU.

28 March 2011

Jadi hak ahli waris ( Heirs are entitled to )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SENIN, 28 MARET 2011

 KEJADIAN 25:1-6

“Abraham memberikan segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada anak-anaknya yang dipero lehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia menyuruh mereka – masih pada waktu ia hidup – meninggalkan Ishak, anaknya dan pergi kesebelah timur, ke Tanah Timur” (ayat 5-6).  Menjadi bapa banyak bangsa, itulah proses yang sedang terjadi atas Abraham, karena selain bangsa-bangsa yang hadir dari Ismael, anaknya dari Hagar, hamba Sara, bangsa-bangsa juga lahir dari keturu nan yang ia peroleh dari gundiknya, yakni dari ketura. Akan tetapi ahli warisnya, yakni orang yang berhak menerima segala harta yang ia miliki termasuk berkat yang ia terima dari Allah sendiri, tetap satu orang yakni Ishak dan keturunannya, sementara kepada anak-anaknya yang lain Abraham hanya mem berikan sekedar pemberian dan merekapun harus meninggalkan sang ahli waris dan pergi kesebelah timur, ke Tanah Timur. Itulah perbedaan nyata kehidupan seorang yang mendapat hak sebagai ahli waris dengan mereka yang hanya terhisab dalam suatu keluarga. Sekarangpun banyak yang menyebut dirinya sebagai keturunan Abraham, tapi pertanyaannya, apakah mereka juga mempunyai hak sebagai ahli waris dari berkat Abraham? Dan bagi kita, secara lahiriah kita juga bukan keturunan Abraham, tapi secara rohani, oleh Roh Allah, berkat-berkat Abraham juga menjadi bagian kita. Berkat Abraham juga bukan hanya soal perkara jasmani, berkat Abraham juga perihal bagaimana kita bisa menjadi berkat. Maka, bila kita percaya bahwa kita juga adalah keturunan Abraham secara rohani, sudah seharusnya pula kita yakin bahwa kita adalah ahli waris dari suatu janji dan berkat yang luar biasa, yang jauh lebih berharga dari segala yang ada didunia ini. Bersyukurlah bahwa karena Berita Injil, kita sekalipun bukan orang Yahudi turut menjadi ahli waris, anggota tubuh Kristus dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus (Efesus 3:6).

JADILAH AHLI WARIS YANG MENGERTI AKAN HAKNYA.

MONDAY, 28 MARCH 2011

 25:1-6 EVENTS

“Abraham gave all his possessions to Isaac, but to his children which he gets from his various mistresses he gave a gift, then he told them – are still at the time of his life – leaving his son Isaac and climb over the fence east, into East Land” (verse 5-6). Being a father of many nations, that process is going on Abraham, because in addition to the nations in attendance from Ishmael, son of Hagar, the servant of Sarah, the nations are also born of the seed he obtained from his mistress, from Keturah. However, their heirs, the person entitled to receive any property he owned, including the blessings he received from God himself, remains one of Isaac and his descendants, while the other children of Abraham just to give just a gift and they should leave the heirs and climb over the fence east, to the Eastern Land. That’s the real difference in the life of a man who gets rights as the heirs to those who simply alter the fact in a family. Today many who call themselves as descendants of Abraham, but the question is, do they also have rights as an heir of the blessing of Abraham? And for us, outwardly we are not descendants of Abraham, but spiritually, by the Spirit of God, the blessings of Abraham also became our part. Blessing of Abraham is also not just about physical matter, thanks to Abraham also about how we can be a blessing. So, if we believe that we too are spiritual descendants of Abraham, we should also believe that we are heirs of the promise and tremendous blessing, which is far more valuable than everything that exists in this world. Be thankful that because of the gospel, we are even not Jewish heirs, members of the body of Christ and the participants in the promise in Christ Jesus (Ephesians 3:6).

BE UNDERSTAND HEIRS OF THEIR RIGHTS.

 

26 March 2011

ARAHKAN TUJUAN HIDUP

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian
SABTU, 26 MARET 2011

KEJADIAN 24:1-67              

TUHAN, yang dihadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku” (ayat 40).  Allah memberkati Abraham dalam segala hal dan Abraham sendiri hidup dalam tanda penyertaan Allah. Dalam masa tuanya, sebelum ia kembali kepada pencipta nya, Abraham merasa berkewajiban untuk mempersiapkan masa depan anaknya, Ishak, dan dalam hal ini adalah seorang pendamping hidup, yakni seorang istri. Abraham tidak bertindak sembarangan, Ishak tidak boleh memperisterikan seorang perempuan Kanaan, maka iapun menyuruh hamba kepercayaannya kepada sanak saudaranya, di negeri asalnya, untuk mengambil istri bagi Ishak. Itu adalah tindakan yang benar dan bijaksana dihadapan Tuhan, maka Iapun menyertai dan membuat berhasil perjalanan hamba Abraham tersebut dengan mempertemukannya dengan Ribka, cucu dari Nahor, saudara Abraham. Atas kehendak Tuhan pula Ribka bersedia untuk diperistri Ishak sehingga hati Ishak juga dihiburkan setelah ia ditinggal ibunya. Orang tua bertanggungjawab mengarahkan anak panah ditangannya, yakni anak-anaknya untuk menuju masa depan yang lebih baik, dan termasuk didalamnya adalah masalah pasangan hidup. Memang sekarang bukan jamannya lagi bagi orang tua untuk menentukan pasangan hidup anak-anaknya, tapi tetaplah menjadi peranya untuk mengarahkan anaknya mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan penyerahan, penyertaan dan pertolongan Tuhan, seorang anak bisa di pimpin Tuhan menemukan pasangan hidupnya yang tepat. Arahkanlah anak-anak pada jalan ang patut bagi mereka, maka pada masa tuapun mereka tidak akan menyimpang dari jalan itu (Mazmur 22:6).

DIDIKLAH ANAK-ANAK  DALAM TAKUT AKAN TUHAN SELAGI ADA HARAPAN.   

25 March 2011

HIDUP DENGAN BIJAKSANA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian

JUM’AT, 25 MARET 2011

KEJADIAN 23:1-20

“Tuanku ini seorang raja agung ditengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburan nya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu” (ayat 6).  Umur manusia terbatas,demikian pula dengan Sara, istri Abraham, hanya mencapai usia seratus dua pulus tujuh tahun, lalu mati. Sebagai seorang asing, seorang pendatang dinegeri yang sebenarnya telah dijanjikan Allah kepadanya, Abraham berhasil membina hubungan yang baik dengan penduduk setempat. Hal itu nampak nyata ketika ia membutuhkan kuburan untuk Sara, ia tidak mendapat kesulitan untuk mendapatkannya. Bahkan justru penyertaan Allah membuat ia begitu dihormati oleh penduduk setempat, dianggap sebagai seorang raja agung ditengah-tengah-tengah mereka. Tidak ada yang menolak untuk Sara dikuburkan ditengah-tengah mereka, maka iapun dikuburkan dalam damai didalam gua,diladang Makhpela yang dibeli Abraham dari orang Het. Janji-janji Tuhan yang luar biasa yang dinyatakan pada kita, hendaknya tidak membuat kita besar kepala, demikian pula dengan berkat-berkat-Nya. Mungkin kita adalah orang yang dihormati, baik dilingkungan maupun usaha dan pekerjaan, tapi itu juga bukan alasan untuk membesarkan diri, justru sebaliknya kita harus hidup bijaksana. Kita masih hidup didunia sekalipun memiliki janji-janji Allah, dan sebagai makhluk sosial kita tidak bisa hidup sendiri, kita juga membutuhkan orang lain. Dan hubu ngan kita dengan orang luar tergantung bagaimana kita membawa diri ditengah-tengah masyarakat. Biar lah mereka disekitar kita juga turut merasakan berkat dan kasih Allah yang dilimpahkan-Nya atas kita. Perhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup, milikilah cara hidup yang baik ditengah-tengah dunia ini sehingga mereka memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka (1 Petrus 2:11-12).

MULIAKANLAH ALLAH SELAMA KITA HIDUP.

24 March 2011

SUDAH DIPERSIAPKAN-NYA

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian

KAMIS, 24 MARET 2011

KEJADIAN  22:20-24

“Dan Betuel memperanakkan Ribka. Kedelapan orang inilah dilahirkan Milka bagi Nahor, saudara Abraham itu” (ayat 23).  Suka duka kehidupan telah Abraham alami, ada saat dimana ia mengalami kuasa dan pembelaan Tuhan, menikmati berkat-berkat-Nya. Tapi ada saatnya pula dia harus pergi meninggalkan tempat yang dia diami karena bahaya kelaparan disana, bahkan ada saat dimana ia diuji kepercayaannya oleh Tuhan untuk melepaskan miliknya yang paling berharga. Hidup sebagai orang asing, sendirian di negeri yang dijanjikan Tuhan menjadi miliknya dan milik keturunannya, bukanlah hal yang mudah, tapi semua Abraham jalani dalam tanda ketaatan dan kepercayaan kepada Tuhan. Maka menjadi suatu penghiburan bagi Abraham ketika mendengar kabar bahwa Nahor, saudaranya, telah dikaruniai Allah delapan orang anak laki-laki dan masih ditambah empat orang lagi dari gundiknya. Dan secara khusus nama Ribka telah dimunculkan disini sebagai persiapan dirinya masuk dalam sejarah hadirnya bangsa pilihan Allah dimuka bumi. Dialah Ribka yang dikemudian hari menjadi istri Ishak, anak Abraham. Hidup kita ada dalam tangan Tuhan, Ia tahu apa yang Ia lakukan terhadap kita, bahkan telah dipersiapkan-Nya rancangan yang indah, yakni rancangan damai sejahtera untuk memberikan hari esok yang penuh pengharapan. Tapi untuk itu semua waktu dan saat ada ditangan Tuhan sendiri, dan Dia tahu kapan memunculkan kita. Penyerahan diri menjadi dasar untuk hidup dalam rancangan Tuhan samp ai Ia menganggap sudah waktunya untuk mengangkat dan menampilkan kita sebagai alat bagi kemuliaan –Nya. Kita memang tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir, tapi yakinlah bahwa sekalipun melalui proses menyakitkan, semua akan dibuatnya indah pada waktu nya (Pengkhotbah 3:11).

RANCANGAN-NYA INDAH BAGI YANG MEMPERCAYAI-NYA.

23 March 2011

Ujian kepercayaan

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

RABU, 23 MARET 2011

KEJADIAN 22:1-19

“Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaku” (ayat 12).  Ketaatan Abraham telah teruji, ia telah meninggalkan sanak saudaranya dan juga negerinya sesuai dengan panggilan Allah atas dirinya dan Allah sendiri juga sudah memberkatinya bukan hanya kelimpahan berkat jasmani, tapi juga janji akan hadirnya seorang anak laki-laki yang menjadi ahli warisnya. Dan setelah semua yang ia terima, Allah kembali menguji kepercayaan dan ketaa tan Abraham, Ia meminta miliknya yang paling berharga yakni anak satu-satunya, ahli warisnya, untuk dipersembahkan kepada-Nya. Semua berasal daripada-Nya, tanpa berbantah Abraham melakukan apa yang diperintahkan Allah kepadanya. Sebagai sosok yang sedang dipersiapkan Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, Allah benar-benar memproses Abraham untuk itu, dan ternyata Abraham lulus dalam kesemuanya itu sampaipun harus mengorbankan anaknya sendiri. Kemuliaan yang dari atas, dari Allah, adalah kemuliaan yang dihasilkan melalui proses yang seringkali menyakitkan bagi kedaging an. Sementara bagi kita yang sedang dipersiapkan Allah dan harus mengalami proses, dituntut ketaatan dan kepercayaan kita kepadaNya, sampaipun pada titik harus kehilangan sesuatu milik yang kita anggap paling berharga. Tapi tidak akan mampu kita melepaskan milik yang paling berharga jika kita tidak benar-benar percaya kepada-Nya. Jika kita percaya kepada Tuhan, maka kita juga harus melakukan perintah-perintah-Nya yang membawa kepada hidup (Mazmur 119:66).

 SIAPA YANG PERCAYA KEPADA TUHAN TIDAK AKAN GELISAH.  

22 March 2011

Bukti penyertaan Tuhan ( Proof investments in GOD )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan harian edisi dwi bahasa ( Daily bread bilingual edition ) by WSB editorial staff

SELASA, 22 MARET 2011

KEJADIAN 21:22-34

“Oleh sebab itu bersumpahlah kepadaku disini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah engkau harus berlaku kepadaku…”(ayat 23).  Allah memberkati Abraham dalam segala hal dengan limpahnya, baik lembu sapi dan kambing dombanya, bahkan juga orang-orangnya, sehingga kelihatanlah bahwa ia telah menjelma menjadi suatu kelompok dengan kekua tan yang besar. Hal itu membuat Abimelekh, raja Gerar di tanah Negeb, negeri dimana saat itu Abraham tinggal sebagai orang asing, segera mengambil inisiatif untuk mengadakan perjanjian damai denganya. Abimelekh sadar bahwa Abraham adalah pribadi yang disertai dan diberkati Allah. Sebagai orang yang tahu berterimakasih, maka sekalipun Abimelekh yang datang dan meminta perjanjian damai,  Abraham lah yang memberikan domba dan lembu sebagai tanda perjanjian. Kesempatan itu juga menjadi waktu yang tepat bagi Abraham untuk menyampaikan keberatanya perihal sumur yang digalinya tapi dirampas oleh hamba-hambanya Abimelekh. Jika Allah dipihak kita, siapakah lawan kita? Dia  adalah Allah yang setia dengan janji dan firman-Nya, Dia juga pasti akan menggenapinya. Tapi ingatlah juga bahwa jika Tuhan sudah menggenapi janji-Nya, memberkati kita dengan berkelimpahan, jangan menjadi arogan dan memandang rendah yang lain, ingat Dia yang memberi Dia juga bisa mengambilnya kembali. Inilah sikap yang seharusnya kita kedepankan, yakni biarlah nama Tuhan dipermuliakan dalam segala kebera daan kita sehingga dunia melihat bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha kuasa. Hidup lah dalam takut akan Tuhan dan dalam tanda penyertaan-Nya, dengan demikian Ia akan menyempurna kan segala pekerjaan baik yang kita lakukan sehingga nama Tuhan dimuliakan didalam kita (1 Tesalonika 1:11-12).

SETIAP LIDAH AKAN MENGAKU BAHWA YESUS ADALAH TUHAN.  

TUESDAY, 22 MARCH 2011

21:22-34 EVENTS

“Therefore, swear to me here by God that you will not cheat me, or my children, or to my grandchildren, according to the friendship that I do unto you, so you must apply to me …” (verse 23). God blessed Abraham in all things in abundance, both cattle and sheep, even people, so it appears that he has been transformed into a group with great strength. It made Abimelech king of Gerar in the land of the Negev, the land where Abraham was living as a foreigner, immediately took the initiative to convene a peace treaty with him. Abimelech knew that Abraham was a person who accompanied and blessed by God. As someone who knows grateful, so even if Abimelech who came and asked for peace treaty, Abraham was the one who gives the sheep and cattle as a sign of the covenant. The opportunity was also a good time for Abraham to submit objections regarding the dug wells but seized by his servants Abimelech. If God is on our side, who are our opponents? He is faithful to the promises of God and His Word, He will surely fulfill. But remember also that if God had fulfilled His promise, bless us with abundance, do not be arrogant and look down on others, remember the One who gives He can also take it back. This is the attitude that we should show, which let the name of the Lord be glorified in all our existence so that the world sees that the God we worship is God Almighty. Life is the fear of God and in His inclusion marks, thus he will not perfected all our good work so that the name of the Lord be glorified in us (1 Thessalonians 1:11-12).

EVERY TONGUE WILL CONFESS THAT JESUS IS LORD