Get Adobe Flash player
29 August 2014

Orang Percaya Harus Bekerja ( Believers should be Working )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Jumat , 29 Agustus 2014

2 Tesalonika 3 : 1 – 15

 

“Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” 2 Tesalonika 3 : 10b
Tuhan Yesus berkata : “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yohanes 5 : 17). Perkataan Yesus yang menyatakan bahwa Dia pun bekerja menunjukkan bahwa Tuhan adalah pribadi pekerja, bukan pribadi yang menganggur atau berpangku tangan saja.

Secara eksplisit Tuhan telah memberikan teladan kepada kita dan sekaligus sebagai perintah agar kita juga turut bekerja dan berkarya. Itulah sebabnya Paulus menegur dengan sangat keras jika ada orang percaya yang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja : “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Paulus tidak asal bicara namun juga memberi contoh bagaimana ia bekerja membuat kemah untuk menyokong kehidupannya (baca Kisah 18 : 3). Juga kepada jemaat di Tesalonika Paulus berkata, “Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” (1 Tesalonika 2 : 9b). Salomo pun juga sangat ‘alergi’ terhadap orang yang malas : “Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaanya sudah menjadi saudara dari si perusak.” (Amsal 18 : 9). Ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan memerintahkan kita untuk bekerja. Dengan bekerja kita dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Memenuhi kebutuhan keluarga adalah sebuah keharusan. Alkitab menyatakan, “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” (1 Timotius 5 : 8). Artinya, jika ada orang yang menelantarkan keluarganya alias tidak memberi nafkah kepada keluarganya, ia disamakan sebagai orang yang murtad, bahkan dianggap lebih buruk dari orang yang tidak percaya. Oleh karena itu kita harus memiliki semangat untuk bekerja sebagai wujud tanggung jawab kita kepada Tuhan. Adalah sangat memalukan jika ada orang Kristen yang tidak mau bekerja, malas dan selalu mengharapkan belas kasih dari orang lain (menjadi beban bagi orang lain), padahal secara fisik ia sehat dan masih dalam usia produktif.

 

Paulus memerintahkan agar setiap orang yang percaya bekerja dengan giat dan “tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.” (2 Tesalonika 3 : 8).

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Friday, August 29, 2014

2 Thessalonians 3: 1-15

“If someone does not want to work, neither should he eat.” 2 Thessalonians 3: 10b
The Lord Jesus said: “My Father worketh hitherto, and I work too.” (John 5: 17). The words of Jesus who claimed that he was working to show that God is a personal worker, not an unemployed person or just sit on my hands.

God has explicitly setting an example for us as well as the command that we also work and work. That is why Paul rebuked by the very loud if anyone believes that lazy and do not want to work: “If anyone is not willing to work, neither should he eat.” Paul does not talk nonsense, but also gives an example of how it works to make the tent to support life (see Acts 18: 3). Also to the Thessalonians Paul said, “While we were working day and night, so do not be a burden to anyone of you, we preached the gospel of God to you.” (1 Thessalonians 2: 9b). Solomon was also a very ‘allergic’ to those who are lazy: “The person who idled in his work is a brother of the destroyer.” (Proverbs 18: 9). It shows that God’s Word commands us to work. With the work we can provide for the family and not be a burden to others. Meet the needs of the family is a must. The Bible states, “But if anyone does not provide for his relatives, especially his household, he has denied the faith and is worse than an unbeliever.” (1 Timothy 5: 8). That is, if there are people who abandon their families alias does not provide for his family, he equated as an apostate, is considered even worse than people who do not believe. Therefore we must have a passion to work as a manifestation of our responsibility to God. It is very embarrassing if there are Christians who do not want to work, lazy and always expect compassion from others (being a burden to others), but physically he is healthy and still in the productive age.

 

Paul commanded that every person who believes in working hard and “do not eat bread with a useless person, but strive and toil night and day in order not to be a burden to anyone of you.” (2 Thessalonians 3: 8).

28 August 2014

Perubahan sebagai Bukti Nyata

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Kamis , 28 Agustus 2014

 Amsal 27 : 1 – 27
“Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kau kenal dan bukan bibirmu sendiri.” Amsal 27 : 2
Ada banyak orang Kristen yang seringkali menjadi kasak-kusuk banyak orang ; “Orang itu rajin ke gereja, tapi hidupnya kok tidak berubah ya ? Katanya sudah ikut pelayanan, tapi mengapa sifatnya masih seperti itu, tidak beda jauh dengan orang dunia ? “ Hidup Kekristenan sebenarnya adalah suatu proses perubahan hidup, pikiran dan hati. Tutur kata, sikap, tingkah laku atau perbuatan harus berubah ! Ditegaskan : “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12 : 2).

Orang Kristen yang tidak berubah adalah orang Kristen yang mati rohaninya ! Lalu,bagaimana kita tahu bahwa kehidupan kita sudah berubah ? Kita akan tahu jika kita ini sudah berubah ketika orang lain mulai menyadari perubahan yang terjadi dalam diri kita, bukan kita sendiri yang menggembar-gemborkannya. Ini berarti perubahan selalu akan memperlihatkan bukti yang dapat dilihat dengan jelas. Seseorang dikatakan berubah, baik itu ke arah positif ataupun negatif, apabila diganti dengan perbuatan yang berbeda. Contoh : orang yang biasanya keluyuran malam (‘dugem’) kini sudah tidak lagi berbuat seperti itu, hidupnya benar-benar berubah, sekarang malah aktif di persekutuan-persekutuan doa ; orang yang dulunya suka berkata jorok atau suka membicarakan orang lain, kini tidak lagi, kini perkataannya selalu membangun dan menguatkan orang lain. Kita juga banyak mendengar kesaksian dari mantan napi yang hidupnya berubah 180 derajat, dan kini melayani Tuhan dan diurapi Tuhan secara luar biasa.

Perubahan itu memerlukan bukti nyata, bukan hanya melalui perkataan kita, sebelum orang lain bisa mempercayai dan menerima itu sebagai sebuah kebenaran. Jadi orang Kristen dikatakan hidupnya sudah berubah apabila ada bukti lahiriah yang dapat dilihat oleh orang lain dengan jelas sehingga menjadi kesaksian yang baik bagi mereka.

SEBAGAI MANUSIA BARU DI DALAM KRISTUS, “MARILAH KITA MENANGGALKAN PERBUATAN-PERBUATAN KEGELAPAN DAN MENGENAKAN PERLENGKAPAN SENJATA TERANG !” ROMA 13 : 12B

27 August 2014

Jangan Jadi Orang Kikir

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Rabu, 27 Agustus 2014

Amsal 28
“Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta dan tidak mengetahui ia akan mengalami kekurangan.” Amsal 28 : 22
Ada kisah tentang seorang yang kaya raya tapi selalu jaid perbincangan di antara tetangga kanan kiri. Bukan karena dia orang kaya yang murah hati atau suka menolong, sebaliknya ia di kenal sebagai orang kaya yang sangat kikir, tidak peduli terhadap orang lain, tidak pernah beramal atau bersedekah.

Kikir dan hemat itu berbeda. Kikir sama artinya dengan pelit, sedangkan hemat memiliki sinonim : ekonomis atau irit. Jelas ada perbedaan antara keduanya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang salah kaprah menerapkan kedua kata sifat ini. Maksud hati ingin berhemat tapi malah menjadi pelit, karena terlalu hemat. Kata kikir berarti terlalu hemat memakai harta bendanya. Berhati-hatilah ! Dalam Amsal 11 : 24 dikatakan : “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Alkitab juga dengan tegas menyatakan bahwa orang yang kikir tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (baca 1 Korintus 6 : 10). Bahkan Rasul Paulus secara terang-terangan melarang orang percaya untuk bergaul dengan orang yang kikir (baca 1 Korintus 5 : 11).

Kikir adalah sifat buruk yang tidak boleh dimiliki oleh orang Kristen, karena kikir justru akan membawa seseorang pada kekurangan, bahkan kemiskinan. Tuhan menghendaki agar kita memiliki sifat murah hati. Orang yang murah hati, yang suka menolong orang lain yang hidup dalam kekurangan atau kesusahan akan mengalami kelimpahan berkat dari Tuhan. Tertulis : “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan.” (Amsal 11 : 25a). Kunci mengalami kelimpahan bukanlah dengan menghemat begitu rupa, tapi bermurah hati, sebab kapasitas untuk menerima dari Tuhan bergantung penuh dari kapasitas untuk memberi. Jadi kita baru dapat mengalami kelimpahan apabila kita bermurah hati. Orang yang murah hati akan menuai banyak (baca 2 Korintus 9 : 6), sebab tidak mungkin ada tuaian apabila tidak ada benih yang ditabur. Orang yang murah hati menabur banyak, itulah sebabnya ia akan menuai banyak juga.

JANGAN KIKIR ! JADILAH SEORANG YANG MURAH HATI, KARENA “ORANG YANG MURAH HATI BERBUAT BAIK KEPADA DIRI SENDIRI .” AMSAL 11 : 7A

 

26 August 2014

Rasa Takut Jangan Dipelihara

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT. Baithani DEnpasar

Selasa , 26 Agustus 2014

 Mazmur 118 : 1 – 29
“Tuhan dipihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ?”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata takut berarti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana. Rasa takut yang ‘dipelihara’ akan menimbulkan dampak yang buruk tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Ketika hendak berperang melawan bangsa Midian Tuhan memerintahkan Gideon untuk memisahkan tentara yang takut dan gentar. Tuhan berkata, “Siapa yang takut dan gentar, biarlah ia pulang, enyah dari pegunungan Gilead. Lalu pulanglah dua puluh dua ribu orang dari rakyat itu dan tinggalah sepuluh ribu orang.” (Hakim-Hakim 7 : 3a). Mengapa ? Karena ketakutan itu bisa menjalar dan mempengaruhi yang lain. Rasa takut juga bisa menjadi penghalang utama dalam merebut kemenangan dan janji-janji Tuhan. Itulah sebabnya tentara yang penakut tidak boleh turut berperang.

Mengapa rasa takut harus dikalahkan ? Karena ketakutan adalah salah satu senjata yang digunakan Iblis untuk menghancurkan kehidupan orang yang percaya. Karena itu “janganlah beri kesempatan pada Iblis.” (Efesus 4 : 27). Jangan memberi celah sedikit pun kepada Iblis karena ketika kita berkompromi, Iblis akan memasuki wilayah kehidupan kita. Kompromi akan membawa kita kepada kekalahan dan kehancuran karena ketika berada dalam persoalan atau tekanan, rasa takut membuat orang mudah putus asa, kehilangan semangat dan pada akhirnya akan menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman ! Contoh : menyerah pada keadaan. Inilah yang menjadi musuh iman ! Contoh : ketika dikejar-kejar oleh Firaun dan pasukannya, bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa sehingga mereka menjadi putus asa, tidak mau melanjutkan perjalanan dan ingin kembali saja ke Mesir.

Bagaimana kita dapat menang atas ketakutan ? Kita harus mengandalkan Tuhan dalam segala hal (baca Yeremia 17 : 7). Simak penyataan Daud, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu ; kepada Allah, yang firman-Nya ku puji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ?” (Mazmur 56 : 4 – 5). Banyak orang Kristen yang mengandalkan kekayaan yang dimiliki, padahal Alkitab menegaskan bahwa kekayaan itu memiliki sayap dan dapat terbang atau bisa lenyap sewaktu-waktu (baca Amsal 23 : 4 – 5).

JANGAN TAKUT, TUHAN MENYERTAI KITA !

25 August 2014

Sekaranglah Waktunya untuk memberitakan Injil

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Senin , 25 Agustus 2014
  
Matius 4 : 23 – 25
“Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea. Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara Bangsa itu.” Matius 4 : 23
Selama berada di bumi Yesus tidak pernah berhenti untuk bekerja. Dia berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yohanes 5 : 17). Sebagaimana dinyatakan dalam ayat nas, Yesus tidak pernah menyia-nyiakan setiap waktu dan kesempatan yang ada : berkeliling, mengajar dan memberitakan Injil serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Bagaimana kita ? Tuhan Yesus telah meninggalkan teladan bagaimana Ia dengan sepenuh hatinya mengerjakan : “segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya aku melaksanakan-Nya.” (Yohanes 5 : 36a). Kini tugas itu ada di pundak kita ! Tuhan Yesus memberi perintah kepada setiap orang percaya untuk memberitakan Injil. Perintah-Nya kepada kita : ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Markus 16 : 15).

Sudahkah kita melakukan perintah Tuhan ini ! “Ah nanti saja kalau sudah bekerja aku akan memberitakan Injil. Kalau Tuhan sudah menyembuhkan sakitku aku pasti akan bersaksi dan memberitakan Injil. Nanti kalau usahaku sudah pulih aku akan ikut pelayanan. Ah itu kan tugasnya pendeta atau hamba Tuhan, sedangkan aku hanya jemaat biasa atau orang awam.” dan macam-macam alasan. Banyak orang Kristen yang masih terfokus mengejar materi dan kesibukan. Masih banyak pula yang enggan dan tidak tergerak hati nya untuk memberitakan Injil. Ingat, memberitakan Injil adalah tugas yang tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap orang Kristen. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ? Selagi kita masih hidup dan memiliki tubuh yang sehat, selagi ada waktu dan kesempatan, jangan sia-siakan !

Kepada siapa kita perlu memberitakan Injil ? Mulailah dengan orang-orang yang terdekat (sanak saudara, teman kantor, tetangga). Alkitab jelas menyatakan bahwa memberitakan Injil adalah pekerjaan utama semua orang percaya sebelum Tuhan Yesus datang kali yang kedua (baca Matius 24 : 14). Jangan memiliki perasaan takut ditolak atau diejek sebelum mencoba memberitakan Injil.

“KITA HARUS MENGERJAKAN PEKERJAAN DIA YANG MENGUTUS AKU, SELAMA MASIH SIANG ; AKAN DATANG MALAM, DI MANA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DAPAT BEKERJA.” YOHANES 9 : 4

 

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Sabtu , 23 Agustus 2014

Mazmur 31

“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau simpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kau lakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia !” Mazmur 31 : 20

Takut akan Tuhan adalah unsur penting dalam kehidupan orang yang percaya. Takut yang bagaimana ? Ada banyak diantara kita yang takut akan banyak hal, seperti takut akan hantu, takut akan ketinggian, takut akan keramaian dan sebagainya. Takut akan Tuhan bukanlah hal seperti itu. Pengertian takut akan Tuhan menjadi jelas jika kita mengerti siapa dan seperti apa Tuhan itu.

Secara Alkitabiah takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan di sini adalah wujud rasa takut dalam arti postif. Artinya kita menghormati Dia karena kebesaran-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya dan juga kebenaran-Nya. Tanpa rasa takut akan Tuhan orang Kristen cenderung berpikir, berkata, dan berbuat sesuka hatinya sendiri. Rasa takut akan Tuhan yang seperti ini juga tidak didasari oleh karena takut mengalami hukuman atau takut masuk neraka, karena jika hal ini yang terjadi maka rasa takut semacam ini tidak didasarkan pada kasih kepada Tuhan.

Takut akan Tuhan adalah ketetapan hati dan pikiran orang percaya yang tidak mengecewakan Tuhan melalui pikiran, ucapan dan tindakannya sebagai ekspresi kasih kepada-Nya. Jadi orang yang takut akan Tuhan akan berusaha untuk hidup seturut Firman-Nya, menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan (dosa) dengan kerelaan hatinya sendiri, bukan karena terpaksa atau karena dorongan dari orang lain. Dalam Pengkotbah 12 : 13 dikatakan : “Akhir kata dari segala yang di dengar ialah : takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Ada berkat-berkat yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang takut akan Dia : 1. Kita akan hidup dalam kebahagiaan dan ketentraman (baca Mazmur 128 : 1 dan Amsal 14 : 26). 2. Kita tidak akan kekurangan sesuatu pun yan baik dari Tuhan. “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kau simpan bagi orang yang takut akan Engkau” (Mazmur 31 : 20a). 3. Kita akan diperhatikan oleh Tuhan (baca Mazmur 33 : 18). 4. Doa kita akan di dengar dan dijawab Tuhan. “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.” (Mazmur 145 : 19).

ORANG YANG TAKUT AKAN TUHAN PASTI AKAN MENGALAMI SEMUA KEBAIKAN TUHAN !

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Saturday, August 23, 2014

Psalm 31

“How abundant goodness have you saved for those who fear you, which you have done for them that trust in thee, in the sight of men!” Psalm 31: 20

The fear of the Lord is an important element in the life of believers. Fear is how? There are many of us who are afraid of many things, such as fear of ghosts, fear of heights, fear of crowds, and so on. The fear of God is not like that. Understanding fear of God becomes clear if we understand who and what God is.

In biblical fear of God speaks of strength, greatness, authority and holiness of God. The fear of the Lord here is a manifestation of fear in a positive sense. This means that we honor Him for His greatness, His holiness, His justice and His righteousness. Without the fear of God Christians tend to think, say, and do as they please themselves. The fear of God is like this is also not based on fear of punishment or fear of having to go to hell, because if this is the case then this kind of fear is not based on love for God.

The fear of the Lord is the determination and mind of the believer who does not disappoint God through thoughts, words and actions as an expression of love for Him. So those who fear the Lord will seek to live according to His Word, abstain from all forms of evil (sin) by expressing his own heart, not out of necessity or because of encouragement from others. In Ecclesiastes 12: 13 says: “The end of all that is heard is: fear God and keep His commandments, because this applies to every person.”

There are blessings the Lord has provided for those who fear him: 1 We will live in happiness and peace (read Psalm 128: 1 and Proverbs 14: 26). 2 We will not lack anything good from God yan. “How abundant goodness have you saved for those who fear thee” (Psalm 31: 20a). 3 We are going to be noticed by the Lord (see Psalm 33: 18). 4 Our prayers will be heard and answered God. “He did the will of those who fear Him, listen to their cry and saves them.” (Psalm 145: 19).

PEOPLE WHO FEAR GOD WILL SURELY WILL HAVE ALL THE GOOD LORD!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar  
Jumat, 22 Agustus 2014
Amsal 21

“Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.”

Saudara pernah memiliki utang ? Utang seringkali menjadi sumber pertengkaran dan bebab berat dalam kehidupan rumah tangga : utang juga menjadi penghalang untuk bisa memberi atau menabur. Oleh karena itu Alkitab mengingatkan kita untuk hidup sesuai dengan kemampuan atau penghasilan yang ada. Ketika seseorang memiliki penghasilan yang masih minim dia masih bisa mencukupkan diri karena kebutuhannya juga masih sedikit (tidak berpikir ‘macam-macam’). Namun meningkatnya pendapat seseorang seringkali diikuti pula dengan peningkatan kebutuhan, bahkan sampai lepas kontrol, ‘besar pasak daripada tiang’. Siapa pun kita bisa terbebas dari jerat utang jika kita sangat menginginkan hal itu. Dan kita bisa memulainya sejak saat ini juga.

Utang adalah suatu kewajiban atau tanggung jawab untuk membayar atau mengembalikan sesuatu yang dipinjam kepada orang lain yang memilikinya. Memiliki utang seringkali sebagai akibat dari ketidakmampuan kita mengelola keuangan dengan baik, padahal kemampuan kita mengelola uang akan menentukan kepercayaan Tuhan kepada kita atas kekayaan-Nya. Setelah mengembalikan persepuluhan banyak dari kita yang berpikir bahwa sisa yang 90% adalah milik kita sendiri. Sesungguhnya kita ini hanyalah bendahara-Nya saja, ketidakmengertian inilah yang akhirnya mendorong orang Kristen hidup boros. Salomo menyebut orang yang boros sebagai orang yang bebal. Perhatikanlah : yang penting bukanlah seberapa banyak uang yang kita miliki, melainkan seberapa bijak kita mengendalikan pengeluaran. Mengapa banyak orang Kristen tidak dapat mengelola uang mereka dengan bijak ? Karena kita memiliki gaya hidup konsumtif. Seringkali kita mengeluarkan uang bukan untuk hal-hal yang penting dan yang benar-benar dibutuhkan, tetapi hanya sekedar memuaskan mata.

Mari berubah ! Milikilah sikap hidup hemat dan sederhana. Pikirkan masak-masak sebelum membeli segala sesuatu, apakah barang tersebut benar-benar kita butuhkan atau tidak ? Dan berhentilah membandingkan diri kita dengan orang lain ! Karena itu buatlah anggaran keuangan sesuai dengan prioritas yang benar. Prioritas yang benar adalah : persepuluhan, lalu kebutuhan hidup yang utama, lalu benih untuk di tabur, dan terakhir tabungan.

JIKA DAPAT MENGELOLA UANG DENGAN BENAR KITA PASTI TIDAK LAGI BERUTANG !

Daily Bread GPT Baithani Denpasar
Friday, August 22, 2014

  Proverbs 21
“Beautiful treasure and oil in the dwelling of the wise, but the foolish waste it.”

Have you ever had a debt? Debt is often a source of contention and heavy bebab in domestic life: debt can also be a hindrance to give or sow. Therefore, the Bible reminds us to live in accordance with the existing ability or income. When someone has a minimal income still he can still suffice himself because his needs are also still a little (do not think ‘kinds’). However, increasing one’s opinion is often followed by an increase in demand, even out of control, ‘big unbalanced’. Anyone we can get rid of debt trap if we really want it. And we can start from today.

Debt is an obligation or responsibility to pay for or return something borrowed to others who have it. Having debt is often as a result of our inability to manage finances well, but our ability to manage money will determine our confidence in God to his property. After returning tithe many of us who think that the rest of the 90% is ours alone. Indeed, we are only His treasurer course, ignorance is what ultimately encourage Christians to live lavishly. Solomon calls the wasteful as one of the fools. Note: the important thing is not how much money we have, but how we control spending wise. Why do many Christians can not manage their money wisely? Because we have a consumptive lifestyle. Often we spend money not on things that are important and that is really needed, but merely to satisfy the eye.

Let’s turn! Have an attitude of life-saving and simple. Think carefully before buying everything, whether the goods we really need it or not? And stop comparing ourselves with others! Because it make financial budget according to the right priorities. The right priorities are: tithing, then the main necessities of life, then the seed for sowing, and the last saving.

IF MONEY COULD MANAGE CORRECTLY WE WILL NO LONGER OWE!

 

 

 

 

 

 

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar 

Kamis, 21 Agustus 2014
Amsal 10

“Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.” Amsal 10 : 4
Adakah kita menemukan orang yang malas dan lamban berhasil dalam hidupnya ? Mustahil bila ada. Alkitab jelas menyatakan bahwa “Tangan yang lamban membuat miskin.” tidak hanya itu, “Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak,dan orang yang lamban akan menderita lapar.” (Amsal 19 : 15), bahkan Alkitab mengkategorikan orang yang malas sebagai perusak. Tertulis : “Orang yang bermalas-malasan dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara si perusak.” (Amsal 18 : 9). Dimana pun berada, baik itu di kantor, di sekolah, di rumah, di gereja atau pelayanan, seorang pemalas hanya akan menjadi pengganggu atau perusak bagi yang lain. Itulah sebabnya Firman Tuhan menasihatkan agar kita mau belajar dari kebiasaan semut. “Pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak, biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring ? Bisakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk berbaring” – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang bersenjata.” (Amsal 6 : 6 – 11).

Seorang pemalas biasanya suka menunda-nunda pekerjaan atau tugas sehingga pekerjaannya kian menumpuk. Prinsip mereka : “Besok masih ada waktu, sekarang santai dulu saja !” Orang yang lamban dan pemalas selalu menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada seperti yang diperbuat oleh orang yang menerima satu talenta, sehingga tuannya menjadi sangat marah. “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, dan campak-kan hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Matius 25 : 26, 30). Jadi kemalasan dapat dikategorikan sebagai kejahatan. Langkah untuk mengalahkan kemalasan adalah keharusan hidup disiplin dan bekerja lebih keras lagi.

Kerja keras adalah faktor penting penentu keberhasilan ! Maka belajarlah menggunakan waktu sebaik mungkin, jangan lagi menunda-nunda mengerjakan tugas yang ada supaya tidak semakin menumpuk. Kemalasan dan kelambanan hanya akan membawa kita kepada kegagalan.

KARENA ITU JADILAH SEORANG YANG RAJIN !

Daily Bread GPT Baithani Denpasar

Thursday, August 21, 2014
 Proverbs 10

“Hands were slow to make the poor, but the hand of the diligent makes rich.” Proverbs 10: 4

Do we find people who are lazy and slow to succeed in life? Impossible if any. The Bible clearly states that “slow hand made ​​poor.” Does just that, “Laziness brings on deep sleep, and the idle person will suffer hunger.” (Proverbs 19: 15), even the Bible categorizes people lazy as a destroyer. Written: “The person who idled in his work is a brother of the destroyer.” (Proverbs 18: 9). Wherever they are, be it at the office, at school, at home, at church or ministry, a slacker would only be a nuisance or destructive to others. That is why the Word of God advises us to learn from the habits of ants. “Go to the ant, consider its ways and be wise, having no chief, officer or ruler, it prepares its food in summer and gathers its food at harvest. Hi slacker, how long will you lie? Could you will wake up from your sleep? “A little sleep, a little slumber, a little folding hands in a moment to lie down” – hence poverty come to you as an invader, and like shortage of armed men. “(Proverbs 6: 6-11).

Usually a slacker procrastinator jobs or tasks that work piling up. Their principles: “Tomorrow there is still time, first just relax now!” People are slow and slacker always wasted time and opportunities like that done by the person who received the one talent, so his master became very angry. “O ye wicked and lazy servant, and measles-the useless servant into the outer darkness. That’s where there will be weeping and gnashing of teeth. “(Matthew 25: 26, 30). So laziness can be categorized as a crime. Steps to overcome laziness is a necessity of life of discipline and work harder.

Hard work is the important factor determining the success! So learn to use the time as best as possible, no more procrastinating existing tasks that are not accumulating. Laziness and inaction will only lead us to failure.

Therefore be the diligent people !

Renungan harian GPT Baithani Denpasar

Rabu 20 Agustus 2014

Yesaya 43: 8-21

“ Kamu ini lah saksi-saksiKu dan hamba-Ku yang telah kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia..” ( yesaya 43:10 a )

Tuhan menghendaki agar setiap orang Kristen berperan menjadi saksi di tengah dunia. Alkitab menyatakan bahwa setiap orang percaya adalah garam dunia dan terang dunia ( baca Matius 5: 13-14 ) dengan demikian kita harus memiliki kehidupan yang berbeda dari orang-orang dunia.

Saksi tidak sama dengan reporter, seorang reporter memiliki tugas menyampaikan informasi tentang orang lain, sedangkan tugas saksi adalah memberikan kesaksian tentang apa yang dialami, dilihat dan dirasakannya secara pribadi, bukan menceritakan pengalaman orang lain. Itulah sebabnya Roh Kudus dicurahkan kepada para rasul agar mereka memperoleh kuasa untuk menjadi saksi.
“.. Kamu akan menerima kuasa , kalau Roh Kudus turun keatas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai keujung bumi.” ( Kisah 1:8 )

Kita masih melihat bahwa masih banyak orang kristen yang hidupnya tidak menjadi saksi yang baik bagi orang lain. Mungkin kita pandai merangkai kata saat bersaksi didepan jemaat, tetapi sesungguhnya kita belum sepenuhnya menjadikan hidup kita benar-benar sebagai saksi. Jadi banyak orang kristen pandai bersaksi, tetapi tidak menjadikan hidupnya sebagai saksi. Menjadi saksi bukan dengan perkataan semata akan tetapi harus melalui kehidupan kita secara nyata. Jadi orang lain dapat melihat kehidupan kristen itu nyata didalam kehidupan kita setiap hari. Ucapan dan perbuatan kita selaras, tidak ada perbedaan dan semuanya itu mencerminkan bahwa ada Kristus di dalam kita. Seorang saksi, tentu akan sangat antusias untuk bersaksi kepada orang-orang disekitar tentang pengalaman hidupnya didalam Tuhan, sehingga orang lain boleh mengenal Kristus melalui hidupnya, jika kekristenan kita biasa-biasa saja dan tidak jauh berbeda dengan orang dunia, maka kita akan mengalami kesulitan bersaksi, karena menjadi saksi berarti iman dan juga nilai-nilai kebenaran kristus tidak disembunyikan , tetapi justru dinyatakan melalui sikap, perkataan dan perbuatan. Ternyata tidak mudah menjadi saksi bagi dunia!

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya didepan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan bapamu yang di sorga.” ( Matius 5:16 )

Daily Bread GPT Baithani Denpasar
Wednesday, August 20, 2014

Isaiah 43: 8-21

“You are the one witnesses-witnesses and my servant whom I have chosen, that you may know and believe me and understand that I am He ..” (Isaiah 43:10 a)

God wants every Christian to be a witness in the central role the world. The Bible states that every believer is the salt of the earth and light of the world (read Matthew 5: 13-14) so we should have a different life from the world.

Witnesses are not the same as a reporter, a reporter has the task of conveying information about other people, whereas the task of witness is to testify about what they experienced, seen and felt in person, instead of telling other people’s experiences. That is why the Holy Spirit is poured out upon the apostles to give them the power to be a witness.
“.. You will receive power when the Holy Spirit come upon you, and ye shall be witnesses unto me both in Jerusalem and in all Judea and Samaria and to the ends of the earth.” (Acts 1: 8)

We still see that there are many Christians whose lives do not become a good witness for others. Maybe we are good at stringing words when testifying in front of the church, but in fact we have not fully make our lives truly as a witness. So many good Christians testify, but did not make his life as a witness. Being a witness not by words alone but must go through our lives significantly. So other people can see it real Christian life in our lives every day. Our words and actions in harmony, there is no difference and all it reflects that there is Christ in us. A witness, it would be very enthusiastic to witness to people around about his experiences in the Lord, so that others may know Christ through his life, if our Christianity mediocre and not much different from the world, then we will have difficulty testify , because a witness means faith and also the values ​​of truth of Christ is not hidden, but it is expressed through attitudes, words and actions. It was not easy to be a witness to the world!

“Let your light so shine before the people, that they may see your good works and glorify your father which is in heaven.” (Matthew 5:16)

19 August 2014

Melayani sampai garis akhir 2 ( Serve until the end of the line 2 )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpassar
Selasa , 19 Agustus 2014
2 Timotius 4: 1-8

tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaaan pemberita injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu !.” ( 2 Timotius 4:5 )

Tak henti-hentinya rasul paulus mendorong dan menguatkan Timotius supaya terus maju dalam memberitakan injil. Memang seharusnya Timotius meneladani pemimpin rohaninya itu, walau berada didalam penjara tidak surut semangatnya untuk berkarya bagi Tuhan. Paulus sadar bahwa “…penderitaan zaman sekarang ini, tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”( Roma8:18 ), sehingga ia dapat menasehati, “ Beritakanlah firman Tuhan, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” ( 2 Timotius 4:2 )

Selagi masih ada kesempatan, mari tunaikan tugas pelayanan kita sebaik mungkin, jangan sia-siakan . “ Kita harus mengerjakan pekerjaan DIA yang mengutus AKU, selama masih siang;akan datang malam, dimana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.” ( Yohanes 9:4 ).
“ Karena akan datang waktunya orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat.” ( 2 Timotius 4:3 ). Jadi tugas memberitakan injil Kristus dan menyatakan kebenaran secara tegas adalah tugas illahi yang bersifat wajib dan sangat mendesak, karena jemaat akhir jaman ini, kian tertidur rohani dan makin disibukkan oleh perkara-perkara duniawi.. Bukan hanya itu, mereka juga lebih suka “… Mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” ( 2 Timotius 4:3-4 )

Sudahkah kita menjalankan tugas pelayanan kita dengan benar ? Butuh komitmen tinggi, kesetiaan, kesabaran dan kesungguhan hati untuk menjadi seorang pelayan Tuhan! Selain itu kita harus punya dasar iman dan pengajaran yang kuat yang diperoleh dengan cara bertekun membaca, meneliti, dan merenungkan firman Tuhan. Yang paling penting, kita harus hidup didalam firman dan menjadi pelaku firman Tuhan, “… Supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang.” ( 1 Timotius 4:15 ) menjadi pelayan Tuhan berarti terlebih dahulu memberikan teladan hidup bagi orang lain.

Jadilah pelayan Tuhan yang berkenan kepada Tuhan, Motivasi benar, memberi yang terbaik dan hidup dalam kebenaran sampai akhir hidup kita !.

Daily Bread GPT Baithani Denpassar
Tuesday, August 19, 2014
2 Timothy 4: 1-8

“But watch thou in all things, endure afflictions endure afflictions, do evangelists employment and fulfill your ministry.” (2 Timothy 4: 5)

Unrelenting apostle Paul encourages Timothy to strengthen and move forward in preaching the gospel. It is supposed to imitate Timothy’s spiritual leader, despite being in prison is not recede zeal to work for the Lord. Paul realized that “… sufferings of this present time, can not be compared with the glory that will be revealed to us.” (Roma8: 18), so that he can advise, “Preach the word of God, prepared in season or not a good time, let it be known what wrong, rebuke and admonish with all patience and teaching. “(2 Timothy 4: 2)

While there’s still a chance, let us exert our best service tasks, do not waste it. “We must work the works of him that sent me, while it is day: the night cometh, wherein no man can work.” (John 9: 4).
“For the time will come when people will not endure sound doctrine.” (2 Timothy 4: 3). So the task of preaching the gospel of Christ and declare the truth of divine task explicitly is mandatory and very urgent, because the church of these last days, growing spiritually asleep and increasingly preoccupied with worldly matters .. Not only that, they also prefer “.. . Collecting teachers at his will to satisfy the desires of his ears. They will turn away from the truth and open ears for a fairy tale. “(2 Timothy 4: 3-4)

Have we run our mission, right? It takes commitment, loyalty, patience and sincerity to be a servant of God! In addition, we must have faith and teaching basic solid obtained by diligent reading, researching, and meditating on the Word of God. Most importantly, we must live within the Word and become doers of the word of God, “… To be real to everyone your progress.” (1 Timothy 4:15) becomes the servant of God means first providing a living example to others.

Be the servant of God who is pleasing to God, true motivation, provide the best and live in righteousness to the end of our lives!.