Get Adobe Flash player

 

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 26 September 2014
Baca:  1 Raja-Raja 17

Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.”  1 Raja-Raja 17:7

Tahun 1998 lalu adalah awal masa-masa sulit bagi bangsa Indonesia karena pada waktu itu terjadi krisis moneter.  Tentunya hal ini berdampak buruk di segala aspek kehidupan;  tidak hanya dialami oleh orang-orang di luar Tuhan, tetapi orang percaya pun juga mengalami akibat dari krisis tersebut.  Meski demikian ada berita baiknya:  walaupun semua orang mengalami masalah yang sama, anak-anak Tuhan tetap berada dalam pemeliharaan Tuhan.  Pemazmur berkata,  “Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semua itu;”  (Mazmur 34:20).

Ketika seluruh negeri mengalami masa-masa sukar karena dilanda bencana kekeringan, Tuhan tetap memperhatikan dan memelihara Elia dengan caraNya yang ajaib.  Tuhan membawa Elia ke sungai Kerit, di  “…sebelah timur sungai Yordan.”  (1 Raja-Raja 17:6).  Dan ketika sungai itu mulai mengering dan sepertinya sudah tidak ada harapan lagi, Tuhan terus melanjutkan karyaNya atas Elia.  Ia diperintahkan Tuhan untuk pergi ke Sarfat karena Tuhan telah memerintahkan seorang janda, untuk memberinya makan.

Untuk bisa mengalami perkara-perkara dahsyat seperti Elia kita harus:  1.  Taat terhadap perintah Tuhan.  Ketika ‘sungai Kerit’ menjadi kering, banyak orang percaya yang akhirnya putus asa dan menyerah pada keadaan.  Sungai Kerit adalah zona nyaman bagi Elia, di situ segala kebutuhannya dicukupi Tuhan.  Namun ketika Tuhan memerintahkan Elia untuk meninggalkan zona itu, Elia tetap taat.  Selama kita tidak mau bayar harga dan tetap menikmati ‘zona nyaman’ yang selama ini meninabobokan kita, kita tidak akan mengalami perubahan.  2.  Jangan takut dan kuatir.  Sesungguhnya Elia punya alasan untuk takut dan kuatir karena ia diperintahkan pergi ke Sarfat, padahal Sarfat berada di wilayah Sidon.  Raja Sidon adalah orangtua Izebel, isteri Ahab yang pernah mengancam hidup Elia.  Meski demikian Elia tetap mengikuti cara Tuhan karena ia tahu bahwa Tuhan menyertainya.  Dan ketika Elia mengikuti cara Tuhan, melalui janda Sarfat yang sederhana, ternyata Tuhan sanggup melakukan perkara yang ajaib!

Tidak hanya diberkati, Elia juga menjadi saluran berkat bagi orang lain.

 

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, September 26, 2014
Read: 1 Kings 17

“But after some time, the river dried up, because there is no rain fell in the country.” 1 Kings 17: 7

Year 1998 was the beginning of hard times for the people of Indonesia because at that time the monetary crisis. Surely this is a negative impact on all aspects of life; not only experienced by those outside God, but believers were also experienced as a result of the crisis. However there is good news: despite everyone having the same problem, the children of God remain in the providence of God. The psalmist said, “Adversity true many people, but God delivered him from all that;” (Psalm 34:20).

When the whole country experiencing hard times due to the drought-stricken, God still maintaining attention and Elijah with miraculous His way. God brought Elijah to Cherith river, in “… east of the Jordan.” (1 Kings 17: 6). And when the river began to dry up and it looks like there is no hope, God continues his work on Elijah. He was instructed by God to go to Zarephath because God had commanded a widow to feed him.

To be able to experience the terrible cases like Elijah we must: 1 Obedience to God’s commands. When ‘river Cherith’ becomes dry, many people believe that eventually despair and give up on the state. Cherith River is a comfort zone for Elijah, there all their needs satisfied God. But when God commanded Elijah to leave the zone, Elijah remained obedient. As long as we do not want to pay the price and still enjoy the ‘comfort zone’ that during this lull us, we will not change. 2 Do not fear and worry. Indeed, Elijah had no reason to be afraid and worried because he was ordered to go to Zarephath, when Zarephath was in the region of Sidon. King Sidon is the parent Jezebel, wife of Ahab, Elijah ever life-threatening. Yet Elijah still follow the way of God because he knew that God was with him. And when Elijah followed the way of the Lord, through the widow of Zarephath is simple, it turns out God is able to do things that are magical!

Not only blessed, Elijah also be a channel of blessing to others.

25 September 2014

Mengasihi Tuhan Atau Harta ? ( Love God or Property ? )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 25 September 2014
Baca:  Matius 19:16-26

“Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”  Matius 19:22

Saat ini pikiran banyak orang tertuju kepada materi, bagaimana cara menumpuk harta dan kekayaan.  Siang dan malam membanting tulang demi mewujudkan keinginannya itu.  Tak jarang pula orang menempuh jalan sesat guna mendapatkan uang atau kekayaan dengan cara instan.  Adalah perkara yang sukar bagi manusia untuk merasa puas dengan apa yang dimiliki.  Berapa banyak uang yang harus dimiliki agar kita terpuaskan dan merasa bahagia?  Sampai kapan pun uang tidak pernah dapat membeli kepuasan atau pun kebahagiaan.  Tentunya tidak ada yang salah dengan mencari uang, selama kegiatan mencari uang itu tidak melanggar hukum negara dan prinsip-prinsip firman Tuhan.  Memang, kekayaan bisa menjadi tanda seseorang diberkati Tuhan, tetapi juga bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk beribadah kepada Tuhan.

Ada seorang anak muda yang hebat sekaligus kaya.  Ia datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana supaya bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Orang muda ini sekaligus ingin mencari penegasan apakah semua yang sudah dilakukannya selama ini dapat menjamin dia memperoleh hidup kekal.  “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”  (ayat 20).  Ia berpikir bahwa keselamatan kekal dapat diperoleh melalui usaha manusia, yaitu dengan berbuat baik dan sebagainya.  Alkitab jelas menyatakan bahwa  “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita,…”  (2 Timotius 1:9).  Karena harta kekayaan melimpah, anak muda ini pun memilih bergantung pada apa yang ia miliki, bukannya menjadi saluran berkat seperti perintah Tuhan, sehingga ketika Tuhan memerintahkan:  “…pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,…”  (Matius 21:22) pergilah ia dengan sedih.  Ia mencintai hartanya daripada harus mengikut Kristus.

Manakah yang Saudara pilih:  menumpuk kekayaan yang bersifat sementara di dunia ataukah mempersiapkan kekayaan rohani untuk kehidupan kekal mendatang?  Rasul Paulus berpesan kepada Timotius agar ia memperingatkan orang-orang kaya supaya  “…mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi  (1 Timotius 6:18).

Tuhan memberkati kita supaya kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain, bukannya semakin mencondongkan hati kita menjauh dari Tuhan.

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, September 25, 2014
Read: Matthew 19: 16-26

When the young man heard these words, he went with sad, because a lot of his property.” Matthew 19:22

 

Currently the minds of many people drawn to the material, how to accumulate possessions and wealth. Toiling day and night in order to realize his desire. Not infrequently the crooked path to take in order to obtain money or property by means of instant. Is a case that is difficult for humans to feel satisfied with what they have. How much money should be held so that we feel satisfied and happy? Anytime the money can never buy happiness or satisfaction. Surely there is nothing wrong with making money, making money for activities that do not violate state law and the principles of God’s word. Indeed, the wealth could be a sign of a person blessed by God, but also can be a barrier for a person to worship God.

There is a great young man and rich. He came to Jesus and asked how to get into the kingdom of God. The young people at the same time want to look for affirmation if all that has been done so far to ensure he gained eternal life. “Everything that has been done, what lack I yet?” (verse 20). He thinks that eternal salvation can be obtained through human effort, by doing good and so on. The Bible clearly states that “He saved us and called us with a holy calling, not according to our works, …” (2 Timothy 1: 9). Because of abundant wealth, this young man chose to rely on what he had, instead of being a channel of blessing as God commands, so that when the Lord commands: “… go, sell your possessions and give to the poor, .. . “(Matthew 21:22) he went sadly. He loves his property rather than having to follow Christ.

Which one you choose: to accumulate wealth in the world is temporary or prepare for the spiritual riches of eternal life to come? The Apostle Paul told Timothy that he warned the rich that “… they that do good, to be rich in good deeds, love to give and share (1 Timothy 6:18).

God blesses us so that we can be a channel of blessing to others, rather than the more inclined our hearts away from God.

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 24 September 2014
Baca:  2 Timotius 4:1-8

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”  2 Timotius 4:2

Sebagaimana dinyatakan dalam renungan kemarin, Yesus  “…datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Matius 9:13).  Jadi Yesus turun ke dunia dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa manusia.  Inilah amanat yang harus diemban oleh Yesus.

Dengan kesadaran penuh Dia menyelesaikan tugas dari Bapa ini sampai tuntas tanpa keluh kesah atau persungutan.  “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”  (Filipi 2:8).  Tanpa keraguan sedikit pun Yesus mengorbankan nyawaNya, karena Ia tahu bahwa tidak ada jalan lain bagi manusia untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Hanya melalui kematianNya di atas kayu salib inilah manusia memiliki pengharapan hidup kekal karena kutuk maut telah dipatahkan!  Ketika Yesus naik ke sorga, amanat itu pun diserahterimakan kepada murid-muridNya.  Yesus berkata,  “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.  Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”  (Markus 16:15-16), dan  “…kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”  (Kisah 1:8).  Perkataan Yesus ini bukan sekedar kata-kata perpisahanNya kepada para muridNya, melainkan suatu Amanat Agung yang harus dilaksanakan.

Saat ini tidak semua orang Kristen terpanggil untuk mengerjakan amanat ini.  Mereka pasti berpikir bahwa memberitakan Injil Keselamatan itu penuh resiko:  menantang segala macam kesukaran, penderitaan, penolakan, ejekan, cemoohan dan mungkin juga aniaya.  Berbeda dengan hamba-hamba Tuhan di masa lalu yang dengan gigih berjuang memberitakan Injil Kristus;  mereka rela mempertaruhkan hidup demi Injil.  Dan tak terbilang banyaknya jumlah orang yang bertobat, percaya dan dipulihkan hidupnya melalui pelayanan mereka.  Bagaimana kita?  Ingatlah, memberitakan Injil tidak selalu harus pergi ke tempat yang jauh, terpencil, ke pelosok atau di pedalaman.  Memberitakan Injil bisa dilakukan di lingkungan terdekat kita sendiri.  Maukah kita melakukannya?

Tuhan mengukur keberhasilan pemberitaan Injil kita bukan pada jumlah orang yang diselamatkan, tetapi pada seberapa besar kerelaan hati kita.

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Wednesday, September 24, 2014
Read: 2 Timothy 4: 1-8

“Preach the word, be ready in season and well-timed or not, let it be known what is wrong, rebuke and exhort with all longsuffering and teaching.” 2 Timothy 4: 2

As stated in yesterday’s devotional, Jesus “… came not to call the righteous, but sinners.” (Matthew 9:13). So Jesus came down to earth with a purpose to save lives. This is the message that must be carried by Jesus.

With full awareness of the Father He completed this task through to completion without any complaints or grumbling. “And being found in human form he humbled himself and became obedient unto death, even death on a cross.” (Philippians 2: 8). Without the slightest doubt Jesus sacrificed His life, because He knew that there was no other way for man to enter into the kingdom of heaven. Only through His death on the cross this man has the hope of eternal life because death curse has been broken! When Jesus ascended into heaven, that the mandate was handed over to his disciples. Jesus said, “Go into all the world and preach the gospel to every creature. Whoever believes and is baptized will be saved, but he who does not believe will be condemned.” (Mark 16: 15-16), and “… you will receive power when the Holy Spirit comes on you, and you will be my witnesses in Jerusalem and in all Judea and Samaria and to the ends of the earth.” (Acts 1: 8). The words of Jesus is not just his parting words to His disciples, but a Great Commission to be implemented.

Currently not all Christians are called to work on this mandate. They must have thought that preach the full gospel Safety risk: challenging all sorts of hardship, suffering, rejection, ridicule, scorn and possibly persecution. In contrast to the servants of God in the past who fiercely fought the gospel of Christ; willing to risk their lives for the Gospel. And the countless number of people who repent, believe and restored her life through their service. How do we? Remember, preaching the gospel does not always have to go to distant places, remote, to the corners or in the interior. Preaching the Gospel can be done in our own immediate neighborhood. Will we do it?

Measure the success of the preaching of the Gospel of the Lord we are not on the number of people rescued, but on how much of our eagerness.

23 September 2014

Tuhan Mengasihi Orang Berdosa ( God Loves The Sinner )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar

Selasa, 23 September 2014
Baca:  Wahyu 1:4-8

“Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, -dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerjaan,”  Wahyu 1:5b-6a

Alkitab menyatakan semua manusia berdosa.  Siapa pun dan apa pun warna kulit kita, tanpa terkecuali,  “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak.”  (Roma 3:10);  semua telah kehilangan kemuliaan Allah.  Pemazmur menegaskan bahwa di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan Allah  (baca  Mazmur 143:2).  Namun kita patut bersyukur karena Yesus berkata,  “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Matius 9:13).

Apa yang diperbuat Yesus terhadap kita orang yang berdosa?  Pertama,  Tuhan Yesus mengasihi kita.  Dikatakan,  “Bagi Dia, yang mengasihi kita…”  Kita tidak perlu mengerjakan sesuatu terlebih dahulu untuk menarik kasihNya karena Ia adalah kasih.  “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”  (Roma 5:8).  Ia mengasihi kita apa adanya, kasih yang tak bersyarat dan berisikan pengorbanan.  Dan kematian Kristus di Kalvari adalah bukti nyata bahwa Ia rela mati untuk menebus dosa-dosa kita.  Kedua,  Tuhan Yesus melepaskan kita dari dosa oleh darahNya.  Tertulis:  “…yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.”  Arti kata melepaskan di sini adalah menyucikan.  Dalam Yesaya 1:18 dinyatakan bahwa  “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju;  sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”  Tuhan Yesus melepaskan kita dari dosa dengan jalan memberikan diriNya sendiri melalui cucuran darahNya  (baca  1 Petrus 1:18-19).  Ketiga,  Tuhan  Yesus mengangkat kita keluar dari dosa kita,  “dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya,;”  (Wahyu 1:6)  Melalui karya kudusNya di atas kayu slaib kita tidak hanya dipulihkan, tapi status kita juga diubahkan, dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran.  Kita dibawa dari hidup dalam dosa ke suatu dimensi hidup yang baru yaitu hidup dalam kebenaran.  Tidak hanya itu,  “…kamu bukan lagi hamba, melainkan anak;  jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.”  (Galatia 4:7).  Ada pun dampak dari semua ini sungguh luar biasa, di mana kita berhak mengalami dan menikmati berkat-berkat rohani di dalam sorga  (baca  Efesus 1:-3).

Tanpa pengorbanan Kristus di kayu salib, kita semua tidak memiliki masa depan dan pengharapan!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, September 23, 2014
Read: Revelation 1: 4-8

“To Him who loved us and washed us from our sins by His blood,-and that has made ​​us a job,” Revelation 1: 5b-6a

The Bible declares all men sinned. Whoever and whatever the color of our skin, without exception, “There is none righteous, no, not one.” (Romans 3:10); all have lost the glory of God. The Psalmist asserts that among the living no one is righteous before God (see Psalm 143: 2). But we can be thankful that Jesus said, “I came not to call the righteous, but sinners.” (Matthew 9:13).

What did Jesus do to us the sinner? First, the Lord Jesus loves us. It says, “To Him who loves us …” We do not need to do something first to draw his love because He is love. “God demonstrates His own love toward us, in that Christ died for us, while we were still sinners.” (Romans 5: 8). He loves us as we are, unconditional love and sacrifice contained. And death of Christ on Calvary is clear evidence that he was willing to die to atone for our sins. Secondly, the Lord Jesus redeemed us from sin by His blood. Written: “… who has washed us from our sins by his blood.” Meaning of the word here is a cleanse release. In Isaiah 1:18 states that “Though your sins be as scarlet, will be as white as snow; though red like crimson cloth, will be white as wool.” Lord Jesus redeemed us from sin by giving Himself through His blood stream (read 1 Peter 1: 18-19). Third, Jesus lifts us out of our sin, “and that has made ​​us a kingdom, priests to be God, His Father,;” (Revelation 1: 6) Through the work of His saints on wood crusaders we not only restored, but we also changed status, from the servants of sin be the slaves of righteousness. We carried on living in sin to a new dimension of life that is lived in truth. Not only that, “… you are no longer a slave, but a son; unless you child, then are ye heirs, by God.” (Galatians 4: 7). There is also the impact of all of these truly extraordinary, where we have the right to experience and enjoy the spiritual blessings in the heavenly places (see Ephesians 1: -3).

Without the sacrifice of Christ on the cross, we all do not have a future and a hope!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Senin, 22 September 2014
Baca:  1 Yohanes 5:1-5

“Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”  1 Yohanes 5:5

Dari 12 orang pengintai yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan, 10 orang di antaranya membawa kabar buruk.  Kata mereka,  “Negeri yang telah kamu lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya.  Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami.”  (Bilangan 13:32-33).  Mereka sangat pesimis bisa masuk ke Kanaan!  Adalah mustahil untuk bisa mengalahkan ‘raksasa-raksasa’, pikirnya.  Tetapi Kaleb berkata,  “Tidak!  Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya.”  (Bilangan 13:30).

Apa yang timbul di pikiran jika mendengar kata ‘raksasa’?  Yang kita bayangkan sosok makhluk tinggi besar dan sangat menakutkan!  Ketika harus menghadapi Goliat, pahlawan bangsa Filistin yang tingginya enam jengkal, raja Saul dan rakyatnya mengalami ketakutan yang luar bisa.  Tetapi Daud, orang muda yang disertai Tuhan itu berkata,  “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia;  hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.”  (1 Samuel 17:32).

Raksasa berbicara tentang masalah dan pergumulan yang sedang kita hadapi.  Seringkali kita pun menjadi takut, tawar hati dan putus asa oleh karena permasalahan yang ada dan masalah itu sepertinya sulit terselesaikan, bak raksasa yang siap menerkam kita.  Bagaimana supaya kita menang terhadap raksasa?  1.  Tahu siapa Tuhan itu bagi kita.  Pengenalan akan Tuhan secara benar akan menjadi kunci penting bagi kemenangan setiap orang percaya.  Daud berkata,  “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna;  janji Tuhan adalah murni;  Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.”  (Mazmur 18:31).  2.  Tahu siapa kita di dalam Tuhan.  Tertulis:  “…dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37).  Oleh karena itu  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).

Tak perlu takut menghadapi persoalan yang ada karena kita memiliki Tuhan yang berkuasa dan di dalam Dia kita lebih dari pemenang, dan bersama Yesus kita dapa melakukan perkara yang besar!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Monday, September 22, 2014
Read: 1 John 5: 1-5

“Who is the one who overcomes the world, except the one who believes that Jesus is the Son of God?” 1 John 5: 5

Of the 12 spies that Moses sent to spy out the land of Canaan, 10 of whom have some bad news. They said, “State that you have to go through to staked is a country that takes its inhabitants, and all the people that we saw in it are men tall stature. Also there we saw the giants, Enak Ethnic, which come of the giants, and we were in our own sight as grasshoppers, and so we were in their sight. “(Numbers 13: 32-33). They are very pessimistic can go to Canaan! It is impossible to beat ‘giants’, he thought. But Caleb said, “No, we will go forward and occupy the land, because we will definitely beat him.” (Numbers 13:30).

What arises in the mind when you hear the word ‘giant’? We imagine this being a great height and very scary! When should face Goliath, the Philistine hero six-inch height, King Saul and his people fear that outsiders can. But David, a young man who accompanied Lord said, “Let no man’s heart fail because of him; servant will go and fight with this Philistine.” (1 Samuel 17:32).

Giant talking about the issues and struggles that we are facing. Often we become afraid, discouraged and desperate because of existing problems and it seems difficult unresolved problems, like a giant ready to pounce on us. How can we win against the giants? 1 Know who God is for us. The true knowledge of God will be the key to victory every believer. David said, “As for God, his way is perfect; promise of God is pure: he became a shield for all who take refuge in Him.” (Psalm 18:31). 2 Know who we are in God. Written: “… in all these things we are more than the people who are conquerors through him who loved us.” (Romans 8:37). Therefore “can do all things in Him bear who gives me strength.” (Philippians 4:13).

No need to be afraid to face the problems that exist because we have the power of God and in Him we are more than conquerors, and with Jesus which we can do great things!

20 September 2014

Daud, Hidup Yang Diurapi ( David; Live Anointed )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Sabtu, 20 September 2014
Baca:  1 Samuel 16:14-23

Berkatalah Saul kepada hamba-hambanya itu:  ‘Carilah bagiku seorang yang dapat main kecapi dengan baik, dan bawalah dia kepadaku.’”  1 Samuel 16:17

Dari semula Tuhan telah disembah dengan musik dan puji-pujian.  Musik adalah kekuatan yang penuh kuasa yang diciptakan Tuhan untuk menggugah hati seseorang secara khusus.  Tertulis:  “Bermazmurlah bagi Tuhan dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni Tuhan!”  (Mazmur 98:5-6).

Jadi alat musik adalah bagian penting dalam pujian dan penyembahan.  Coba bayangkan jika di zaman sekarang ini suatu ibadah tidak diiringi oleh alat musik, pasti terasa kurang semarak atau khidmat.  Begitu juga di zaman Daud, salah satu alat musik yang sangat terkenal pada waktu itu adalah kecapi.  Dan Alkitab mencatat bahwa Daud sangat mahir memainkan alat musik ini:  “…salah seorang anak laki-laki Isai, orang Betlehem itu, yang pandai main kecapi.  Ia seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya;  dan Tuhan menyertai dia.”  (1 Samuel 16:18).  Pada waktu itu pasti ada orang lain juga yang bisa memainkan kecapi, tapi mengapa hanya ketika Daud yang memainkan kecapi itu maka roh jahat lari dari raja Saul?  Apakah karena kecapinya sangat istimewa dan belinya di luar negeri?  Tidak.  Bukan karena kualitas kecapinya yang membuat roh jahat itu pergi.  Tetapi semua tergantung pada siapa yang memainkan alat tersebut.  Selain karena memang mahir memainkannya, Daud diurapi Tuhan.  Karena itulah kuasa Tuhan menyertai dia.  Itulah kuncinya!  “Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya;  Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur daripadanya.”  (1 Samuel 16:23).

Roh jahat tidak takut dengan apa pun yang besifat lahiriah, tapi roh jahat takut dan mati kutu bila berhadapan dengan kuasa Tuhan.  Dan kuasa Tuhan yang bekerja di dalam diri Daud membuat apa saja yang dikerjakan Daud menjadi berhasil dan membawa dampak yang luar biasa bagi orang lain.  Untuk mengalami lawatan kuasa Tuhan tidak semudah membalik telapak tangan, itu adalah buah dari ketekunan dan kedekatan Daud dari Tuhan.

Ketika seseorang karib dengan Tuhan, urapan dan kuasaNya diimpartasikan pada orang tersebut sehingga hidupnya berbeda dan berdampak!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Saturday, September 20, 2014
Read: 1 Samuel 16: 14-23

“And he said Saul to his servants was: ‘Seek me a harp that can play well, and bring him to me.’” 1 Samuel 16:17

From the beginning God has been worshiped with music and praise. Music is a powerful force that is created by God to arouse one’s heart in particular. Written: “Sing to the Lord with the harp, with the harp and loud song, with trumpets and loud trumpet Shout out in the presence of the King, the Lord!” (Psalm 98: 5-6).

So the instrument is an important part in the praise and worship. Just imagine if in this day and age is not a worship accompanied by musical instruments, definitely feels less lively or solemn. So also in the time of David, one of the very famous musical instrument at the time it was a harp. And the Bible records that David is very good at playing a musical instrument is: “… one of the sons of Jesse of Bethlehem who knows how to play the lyre. He was a mighty hero, a warrior, a smooth-talking, handsome; and the Lord was with him. “(1 Samuel 16:18). At that time there must be other people who can play the harp, but why only when David played the harp, the evil spirit fled from King Saul? Is it because the harp is very special and bought overseas? Not. Not because the quality of the harp that makes the evil spirit away. But it all depends on who plays the instrument. Besides being good at playing it, David, God’s anointed. That’s why the power of the Lord was with him. That’s the key! “And every time when the spirit of God that rested on Saul, David took the lyre and played it; Saul felt relieved and comfortable, and the evil spirit departed from it.” (1 Samuel 16:23).

Not afraid of evil spirits besifat anything outwardly, but the evil spirits are afraid and helpless when faced with the power of God. And the power of God that works in David makes what is done David was successful and brought tremendous impact to others. To experience the power of God’s visitation is not as easy as turning the palm of the hand, it is the fruit of perseverance and David closeness of God.

When someone intimate with the Lord, anointing and power imparted on different people so that their lives and have an impact!

19 September 2014

Seburuk Apapun, Tuhan Sanggup Ubahkan ( Bad It Is, God Can Transform )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Jumat, 19 September 2014
Baca:  Hakim-Hakim 11:29-40

“Lalu Roh Tuhan menghinggapi Yefta;  ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye,”  Hakim-Hakim 11:29

Alkitab mencatat bahwa Yefta adalah salah satu saksi iman seperti tertulis:  “Dan apakah lagi yang harus aku sebut?  Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat.”  (Ibrani 11:32-34a).

Mengapa iman Yefta bisa dipersamakan dengan Gideon, Barak, Simson, Daud, Samuel dan para nabi lainnya?  Bukankah Yefta memiliki latar belakang hidup yang tidak baik dan sangat tidak mendukung untuk dia menyandang predikat sebagai saksi iman seperti nabi-nabi lain?  Perlu kita ketahui Yefta adalah keturunan dari seorang perempuan sundal yang tidak jelas asal-usulnya.  Ada pun ayah Yefta adalah Gilead yang juga termasuk keturunan dari suku yang terendah moralnya.  Sesungguhnya Gilead memiliki isteri yang sah, tetapi ia selingkuh dengan perempuan sundal hingga lahirlah si Yefta ini.  Setelah dewasa keberadaan Yefta tidak diinginkan oleh keluarga Gilead, maka terusirlah ia dari mereka dan ia pun melarikan diri di tanah Tob,  “di sana berkumpullah kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia.”  (Hakim-Hakim 11:3).

Ayat nas menyatakan bahwa Roh Tuhan menghinggapi Yefta.  Mengapa Tuhan memakai Yefta?  Bukankah kehidupan Yefta banyak sisi negatifnya?  Kita harus ingat bahwa Tuhan memiliki kedaulatan penuh untuk memilih seseorang yang hendak dipakai sebagai alat kemuliaanNya.  Dan apabila Tuhan memilih seseorang.  Ia tidak pernah melihat latar belakangnya  (kaya, miskin, pintar, bodoh), termasuk Yefta yang mendapat anugerah dari Tuhan.

Siapakah kita ini?  Kita juga adalah orang-orang berdosa yang beroleh kemurahan karena iman kita kepada Tuhan Yesus.  Tuhan Yesus rela mati untuk kita;  Dia memilih kita tanpa mempedulikan seburuk apa pun latar belakang hidup kita.  Asal kita mau bertobat dengan sungguh, Tuhan sanggup mengubahkan hidup kita dari yang hina menjadi mulia, yang tidak berarti menjadi berarti dan dijadikannya kita berharga di mataNya.

Maka dari itu jangan pernah membatasi kuasa Tuhan yang sedang bekerja dalam kehidupan kita karena tidak ada yang mustahil bagi Dia!

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Friday, September 19, 2014
Read: Judges 11: 29-40

“Then the Spirit of the Lord came upon Jephthah, and he passed through Gilead and Manasseh,” Judges 11:29

The Bible records that Jephthah was one of the witnesses of faith as it is written: “And what more shall I say? Because I’m short on time, when I was about narrating about Gideon, Barak, Samson, Jephthah, of David and Samuel and the prophets, who through faith have conquered kingdoms, worketh righteousness, obtain promises, shut the mouths of lions, put out the fire that is devastating. “(Hebrews 11: 32-34a).

Why Jephthah faith can be equated with Gideon, Barak, Samson, David, Samuel and the other prophets? Did Jephthah has a background that is not a good life and was not supportive to him the title as a witness to faith as the other prophets? We need to know Jephthah was a descendant of a harlot unclear origin. There is also the father of Jephthah of Gilead, which also includes descendants of the tribe of the lowest moral. Indeed, Gilead has a legitimate wife, but he was having an affair with a prostitute until the Jephthah was born. After adult presence is not desired by the family Jephthah of Gilead, the terusirlah it from them and he fled in the land of Tob, “there gathered to him the adventurers who went raiding together with him.” (Judges 11: 3).

Nats verse states that the Spirit of the Lord came upon Jephthah. Why God used Jephthah? Is not the life of Jephthah much downside? We must remember that God has full sovereignty to choose someone who is going to be used as an instrument of His glory. And if God choose someone. He never saw his background (rich, poor, smart, stupid), including Jephthah who is blessed by God.

Who we are? We also are sinners that hath mercy because our faith in the Lord Jesus. The Lord Jesus was willing to die for us; He chose us no matter how bad it is the background of our lives. Originally we wanted to truly repent, God can transform our lives from abject to be noble, that does not mean to be mean and maketh us precious in His sight.

Hence, do not ever limit God’s power at work in our lives because nothing is impossible for Him!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Kamis, 18 September 2014
Baca:  Matius 10:16-32

“…Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”  Matius 10:16

Sebagai orang percaya kita telah dipilih dan dipanggil Tuhan untuk masuk ke medan peperangan.  Dan setiap orang yang hendak berperang pasti mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, baik dalam hal kekuatan, strategi, maupun senjata yang harus dibawa, sebab kita tidak dapat berperang dengan tangan kosong.  Jadi,  “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;”  (Efesus 6:11).

Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu di dunia yang gelap, dan melawan roh-roh jahat di udara  (baca  Efesus 6:12).  Seringkali yang menjadi musuh utama kita adalah ego yang ada di dalam diri kita sendiri.  Maka dari itu diperlukan adanya penguasaan diri.  Banyak kejahatan atau konflik terjadi di sekitar kita karena seseorang tidak mampu menahan emosinya di saat mereka menghadapi suatu tantangan, dan semua itu bersumber dari hati.  Iblis begitu licik dalam membuat strategi untuk menghancurkan anak-anak Tuhan.  Adalah penting bagi kita untuk menjaga hati agar iman kita tidak mudah goyah.  Jadi,  “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”  (Amsal 4:23).

Ayat di atas menegaskan bahwa keberadaan kita  (orang percaya)  adalah seperti domba yang berada di tengah-tengah serigala.  Domba adalah binatang yang sangat lemah jika dibandingkan dengan serigala.  Karena itu ia membutuhkan seorang gembala untuk membimbing dan membawanya ke padang rumput serta melindunginya dari serangan musuh, terutama dari serangan binatang buas  (serigala).  Dari sini kita tahu bahwa musuh kita bukanlah sembarangan, kita harus dengar-dengaran  (karib)  akan suara gembala kita dan memiliki hati yang taat untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh gembala kita.

Tuhan mengutus kita ke tengah-tengah serigala bukan bermaksud mencelakakan, tapi untuk membuktikan bahwa Dia adalah gembala yang baik;  Dia pasti menopang dan senantiasa memberi kekuatan kepada kita melawan si jahat.
Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Thursday, September 18, 2014
Read: Matthew 10: 16-32

“… I am sending you out like sheep among wolves, be ye therefore wise as serpents and harmless as doves.” Matthew 10:16

As believers we have chosen and called by God to go to the battlefield. And every person who wanted to fight must prepare everything as well as possible, both in terms of strength, strategy, and weapons to be carried, because we can not fight with his bare hands. So, “Put on the whole armor of God, that ye may be able to stand against the wiles of the devil;” (Ephesians 6:11).

Our battle is not against flesh and blood, but against the rulers, authorities, the powers in this dark world, and against evil spirits in the air (see Ephesians 6:12). Often, our main enemy is the ego that is within ourselves. Thus the need for self-control. Many crimes or conflicts going on around us because the person is unable to contain her emotions when they face a challenge, and all of it comes from the heart. The devil is so cunning in making a strategy to destroy God’s children. It is important for us to keep that heart of our faith is not easily shaken. So, “Keep your heart with all vigilance, for from it flow the springs of life.” (Proverbs 4:23).

The above verse confirms that where we (believers) are like sheep who are in the midst of wolves. Sheep are animals that are very weak when compared with the wolf. Therefore he needs a shepherd to guide and bring it out to pasture as well as protect it from enemy attack, especially from the attacks of wild animals (wolves). From this we know that our enemies are not random, we should hear a rumor (intimates) will voice our pastor and has a heart of flesh to do what they’re told by our pastor.

God sent us into the midst of wolves is not intended to harm, but to prove that He is the good shepherd; He must sustain and continue to give us strength to fight the evil.

17 September 2014

Percaya Sudah Menerima ( Believe Has Received )

Oleh victor anusa indra | Dalam Renungan Harian | Tag

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Rabu, 17 September 2014
Baca:  Markus 11:20-26

“Karena itu Aku berkata kepadamu:  apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”  Markus 11:24

Sering khotbah mengingatkan kita agar percaya akan kuasa Tuhan tapi seringkali kita lupa dan mengabaikannya begitu saja.  Terlebih saat masalah dan penderitaan menimpa kita, entah itu sakit, krisis keuangan dan sebagainya, kita panik, stres, kecewa dan mengeluh kepada Tuhan.  Dalam Ibrani 11:1 tertulis:  “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”  Namun, sudahkah kita memahami dan mengaplikasikan iman tersebut dalam kehidupan kita secara nyata?  Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati  (baca  Yakobus 2:17).

Iman perlu adanya tindakan yang membuktikan bahwa kita benar-benar percaya pada kuasa Tuhan.  Jadi  “…manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”  (Yakobus 2:24).  Saat kita berada di lingkungan gereja, di pertemuan-pertemuan ibadah atau bersekutu dengan saudara seiman, iman kita diteguhkan melalui doa, kesaksian, puji-pujian yang kita naikkan ke hadirat Tuhan;  terlebih saat pemberitaan Firman Tuhan disampaikan, iman kita pun mulai menyala-nyala.  Tetapi saat kita dihadapkan pada masalah yang silih berganti, sakit-penyakit yang belum kunjung sembuh, anak-anak yang memberontak pada orang tua dan berbagai doa meminta pertolongan dari Tuhan yang belum juga beroleh jawaban, iman kita mulai lemah dan keraguan menguasai hati dan pikiran kita:  “Apakah mungkin masalahku terselesaikan?  Dokter sudah memvonis bahwa sakitku tidak bisa disembuhkan.  Apa Tuhan sanggup menyembuhkan?”  FirmanNya menyatakan,  “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23).  Arti percaya di sini adalah penyerahan diri secara total kepada Tuhan.  Bagian kita hanya percaya, dan bagian Tuhan adalah melakukan apa yang kita percayai.  Tuhan berkata,  “…Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini:  Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut!  Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.”  (Markus 11:23).

Segala sesuatu yang tidak mungkin dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia, itulah yang Tuhan lakukan atas hidup kita, asal iman kita tidak goyah dan tetap teguh.  Namun sering kita tidak sabar dalam menanti pertolongan Tuhan.

Sungguh kuasa Tuhan itu tidak terbatasi oleh apa pun juga!

 

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar 

Wednesday, September 17, 2014
Read: Mark 11: 20-26

“Therefore I tell you, whatever you ask for in prayer, believe that you have received it, and it shall be given unto you.” Mark 11:24

Often sermon reminds us that believe in the power of God but we often forget and ignore it. Especially when the problems and suffering upon us, whether it’s illness, financial crisis and so on, we panic, stress, upset and complained to God. In Hebrews 11: 1 says: “Faith is the substance of things hoped for, the evidence of things not seen.” However, have we understand and apply the faith tangible in our lives? James asserts that faith without works is dead (see James 2:17).

Faith is necessary to prove that the actions that we truly believe in the power of God. So “… a man is justified by works and not by faith alone.” (James 2:24). When we were in the neighborhood of the church, at church meetings or fellowship with brothers and sisters, our faith is strengthened through prayer, testimonies, praise we raise to God; especially when the preaching of the Word of God delivered, our faith began burning. But when we are faced with problems that come and go, pain and disease that have not healed, the children are rebellious to parents and various prayer for help from God also hath not the answer, we start weak faith and doubt control our hearts and minds : “Is it possible my problem resolved? Doctors have pronounced that my pain can not be cured. What God is able to heal?” His Word declares, “Nothing is impossible for those who believe!” (Mark 9:23). Meaning believe here is total surrender to God. Section we only believe, and the Lord is doing what we believe. God says, “… whoever says to this mountain, ‘Be taken up and cast into the sea! Origin does not doubt in his heart, but shall believe that what he says will happen, it will happen for him.” (Mark 11:23).

Everything that is not possible and not affordable by the human mind, that’s what God does for our lives, our faith does not waver origin and remain firm. But often we are impatient in waiting for God’s help.

It was the power of God is not limited by anything!

Renungan Harian GPT Baithani Denpasar
Selasa, 16 September 2014
Baca:  Lukas 14:7-11

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”  Lukas 14:11

Segala sesuatu yang ada di dunia ini selalu menawarkan kemewahan, kenikmatan dan popularitas sehingga banyak orang tergiur dengan tawaran dunia.  Namun semua itu tidak ada yang free, melainkan ada harga yang harus dibayar dan semua dinilai dengan uang.

Selagi kita memiliki uang banyak atau harta kekayaan kita pun dapat memiliki apa yang kita mau.  Dan tanpa disadari, tidak sedikit orang Kristen yang merasa diri kaya, pandai, punya kedudukan mapan, sukses dalam bisnis dan sebagainya, tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, lebih mengandalkan kekuatan dan kemapuan diri sendiri.  Firman Tuhan dengan keras menyatakan,  “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!”  (Yeremia 17:5).  Ingatlah, berapa pun kekayaan yang kita miliki, sepandai apa pun kita dan sehebat apa pun manusia,  “…hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;  apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.”  (Mazmur 103:15-16).  Di dunia ini tidak ada yang abadi;  jadi kalau kita mengandalkan apa yang kita miliki, meskipun harta kita tidak habis sampai tujuh turunan, adalah sia-sia belaka.  Dan apabila suatu saat semua itu diambil Tuhan, kita pun tidak dapat berbuat apa-apa.  Kita harus ingat bahwa semua kesuksesan, kekayaan dan kejayaan yang kita raih itu adalah anugerah dari Tuhan dan kita tidak patut membanggakan diri.

Rasa ingin dihargai dan dipuji adalah awal kesombongan.  Terlebih lagi saat Tuhan mempercayakan kita untuk melayaniNya.  Dengan karunia-karunia yang kita miliki, jika kita tidak mampu menjaga hati, kita bisa mencuri kemuliaan Tuhan.  Lucifer adalah malaikat sorga yang cantik rupawan yang selalu memuji Tuhan, namun ketika merasa dia paling diperhatikan Tuhan timbullah rasa sombong sehingga ia pun berpikir untuk menyamai Tuhan.  Karena kesombongannya Lucifer diusir dan dibuang ke bumi.  Saat ini banyak orang ingin unjuk kebolehan dan gila hormat, bahkan memandang orang lain dengan sebelah mata.  Pujian dan penghargaan manusia yang mereka cari.  Tuhan sangat membenci mansia yang tinggi hati.

“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”  Amsal 22:4

Daily Devotional GPT Baithani Denpasar
Tuesday, September 16, 2014
Read: Luke 14: 7-11

 “For whoever exalts himself will be humbled, and he who humbled himself, he will be exalted.” Luke 14:11

Everything that exists in this world always offers luxury, pleasure and popularity of so many people are tempted to offer the world. But all that nothing is free, but there is a price to be paid and all money’s worth.

While we have a lot of money or possessions we too can have what we want. And without realizing it, not a few Christians who feel themselves rich, intelligent, have a well-established position, success in business and so on, no longer relying on God in his life, relying on strength and Traffic yourself. God’s Word declares loudly, “Cursed is the man who trusts in man, who relied on his strength, and whose heart turns away from the Lord!” (Jeremiah 17: 5). Remember, whatever wealth we have, whatever we are as smart and as good as any man, “… his days are like grass, like a flower of the field so he flowering; where the wind pass through, it is no longer he, and where no know him again. “(Psalm 103: 15-16). In this world nothing is eternal; so if we rely on what we have, even though we do not run out treasure to seven generations, is futile. And if one day all of God was taken, we were not able to do anything about it. We must remember that all success, wealth and glory that we achieve it is a gift from God and we should not boast.

Curiosity is rewarded and praised early arrogance. Moreover, when God entrusts us to serve Him. With the gifts that we have, if we are not able to keep the heart, we can steal the glory of God. Lucifer is a pretty good-looking, heavenly angels are always praising the Lord, but he feels the most attention when God arises the pride that he was thought to emulate God. Because of his pride Lucifer was expelled and banished to earth. Today many people want to show ability and snobby, even looking at others with one eye. Praise and awards man they are looking for. God hates high mansia heart.

“The reward of humility and the fear of the Lord are riches, honor and life.” Proverbs 22: 4