Dunia pelayanan pekerjaan Tuhan bukanlah yang menjadi cita-citaku ataupun doaku. Tapi sejak aku melanjutkan pendidikan di STM Negeri Malang Jurusan Bangunan Gedung, aku terlibat lebih nyata dalam pelayanan. Tugas di Sekolah Minggu, Kaum muda bahkan di kebaktian Umum aku laksanakan dengan tanggung jawab sungguh-sungguh tentunya dengan sebatas kemampuanku, Aku mengakhiri pendidikan STM tahun 1963 dan langsung bekerja di sebuah perusahaan di kota Malang. Inilah pekerjaan yang kucita-citakan dan amat kusenangi. Di saat yang tidak pernah kubayangkan, Tuhan memanggilku dengan panggilan yang jelas pada 1 Mei 1966. Enam bulan sesudah itu aku harus meninggalkan pekerjaan yang kusenangi karena DIA. Lembaga Pendidikan Elkitab (Lempin – El) membentukku sebagai abdi Tuhan.
Akhir tahun 1969 beserta isteri yang kunikahi 9 Desember 1967 kami berangkat ke Gorontalo, Sulawesi Utara. Sebuah kota kecil Bumbulan Kecamatan Paguat Kabupaten Gorontalo, sekelompok jemaat kecil sebanyak 3 keluarga menanti kedatangan kami. Sebagai Gembala Muda, Tuhan mendidik kami untuk melayani domba-domba-Nya. Dalam keterbatasan kami, mereka kami layani baik di doa Pagi, Sekolah Minggu, Kaum Muda, Kebaktian Doa, Kebaktian PA, dan tentunya Kebaktian Umum. Kebutuhan sehari-hari melimpah, Tuhan membuktikan janji-Nya untuk tidak meninggalkan kami. Sekali lagi, kami harus meninggalkan pelayanan yang sangat kami senangi.
Tahun 1972, kami melanjutkan pelayanan di kota Malang, sebuah cabang pelayanan yang kecil. Di tengah-tengah pelayanan, nikah kami terguncang. Aku berniat meninggalkan pelayanan tanpa kompromi. Namun kasih Tuhan berbicara lain, Dia ijinkan aku jatuh di sumur di kedalaman 12 meter. Tali yang kupegang putus sehingga bagaikan terjun bebas tanpa hambatan sampai di dasar sumur yang sudah tidak ada airnya. Tuhan menyadarkanku kembali. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Agustus 1974. DIA menegorku dengan keras, “KAMU YANG BANYAK BICARA DI MIMBAR PRAKTEK DULU!”. Aku segera minta ampun kepada isteriku karena terlalu egois, otoriter, kasar kata-kata dan masih banyak hal sikapku yang melukai hati isteriku. Isteriku menerimanya dengan cucuran air mata dan dari situlah pemulihan nikahku terjadi.
Seorang pemimpin harus lebih dahulu mengalami pemulihan sebelum jemaat yang dipimpinnya dipulihkan. Ini terjadi ketika kami memulai pelayanan di tempat yang baru, Denpasar, Bali.
Awal Maret 1975 kami mulai pelayanan di Bali dan awal 1976 kami pindah menetap di Denpasar-Bali. Kurang lebih selama 30 (tiga puluh) tahun di Denpasar Dia semakin nyata di dalam pelayanan kami, Dia membentukku dan membaharuiku melalui berbagai kisah dan peristiwa nyata. Pengajaran Tabernakel yang memuncak pada Mempelai Anak Domba yang menjadi sentral Pembinaan ditengah-tengah jemaat dengan Kuasa Roh Kudus-Nya membuat pelayanan ini berhasil. Didampingi para aktivis dan Majelis Jemaat yang bertanggungjawab maka pelayanan ini terus berkembang. 14 cabang jemaat sudah lahir dari pelayanan ini dan semua hanya karena Dia dan untuk Dia. Ketika pelayanan ini sedang berkembang, Dia mengambil pendampingku yang setia 5 Agustus 2003. Aku hanya bisa katakan “Selamat jalan sayang, kita pasti akan bertemu kembali di Jerusalem Baru”, Dia tetap membuatku tabah, Aku tetap menyerahkan diriku sampai kapanpun tentunya sesuai dengan rencana-Nya. Dan aku katakan kepada-Nya : “TUHAN JUSTRU ENGKAU ANGKATKU DARI SEBUAH KAMPUNG KEClL DI MALANG SELATAN, SITIARJO, TAPI AKU TIDAK MAU JADI HAMBA TUHAN KAMPUNGAN SEBAB ENGKAU YANG MEMANGGIL ITU SETIA DAN AMAT SANGAT BERTANGGUNG JAWAB : KAULAH YANG MENJADIKAN LANGIT DAN BUMI”. Doaku, biarlah hidup ini senantiasa berguna bagi Dia Amien.
Gembala Sidang GPT BAITHANI
Pdt. Otniel Firmanyo Osiyo, Bc,M
Pastoral Ministry
The ministry of God’s work is not my ambition to be or my prayers. But since I continue education in STM Negeri Malang, Building Department, I was involved more obvious in the ministry. The task in Sunday school, youth and even the general service I have done with the responsibility seriously of course with limited ability, I ended STM education in 1963 and went to work at a company in the city of Malang. This work became my goal and so I love. At the time that was never imagined, the Lord called me with obvious invited on May 1, 1966. Six months after that I had to leave the job that I love because of HER. Education Institutions Elkitab (Lempin – El) to form my personality as a servant of God.
End of the year 1969 I married my wife and December 9, 1967 we went to Gorontalo, North Sulawesi. A small town Bumbulan Sub District Paguat Gorontalo, a group of small churches as much as 3 families waiting for us. As Shepherd Young, God raised us to serve the sheep of His. Within our limitations, we serve them well in the morning prayer, Sunday School, Youth, Worship Service of Prayer, Service PA, and of course Worship Service. Everyday needs abundant, God proved His promise to not leave us. Once again, we had to leave the service so we enjoy.
In 1972, we continued service in the city of Malang, a small branch of service. In the midst of ministry, our marriage was shaken. I intend to leave the service without compromise. Yet another spoke of God’s love, He allowed me to fall in the well at a depth of 12 meters. I held the rope broke, so like skydiving without a hitch until the bottom of the well that had no water. God woke me again. The incident occurred on August 17, 1974. HE spoke loudly, “YOU ARE MUCH TALK IN FRONT OF ALTAR PRACTICE FIRST!”. I immediately asked for forgiveness of my wife for being too selfish, authoritarian, harsh words and still many things that hurt my attitude my wife. My wife took it with tears and that’s where my wedding recovery occurs. A leader must first experience before the church restoration led restored. This happened when we started this ministry in a new place, Denpasar, Bali.
Beginning in March 1975 we began the service in Bali and the beginning of 1976 we moved settled in Denpasar, Bali. Less is more for 30 (thirty) years in Denpasar He was more evident in our ministry, He set me and update me through the various stories and real events. Teaching Tabernacle which culminated in the Bride of the Lamb who became central guidance amidst the congregation with the power of His Holy Spirit to make this ministry successful. Accompanied by the activists and the Church Council is responsible for these services continues to grow. 14 branch of the church was born of this Church and all just because of Him and for Him.
When this service is growing, God is faithful to take MY WIFE on August 5, 2003. I can only say “Good-bye My dear, we’ll meet again in the New Jerusalem”, She still made me strong, I still give myself up at any course in accordance with His plan. And I say to him: “LORD JUST YOU RAISE ME OF A SMALL VILLAGE IN SOUTH MALANG, SITIARJO, BUT I DO NOT WANT TO BE” GOD SERVANT PLEBEIAN “, BECAUSE YOU CALLED ME THAT IS VERY LOYAL AND RESPONSIBILITY: You’re what MAKES SKY AND EARTH “.
My prayer,Let LIFE IS ALWAYS USEFUL TO HIM, Amen.
Shepherd Senior GPT BAITHANI Assemblies
Pdt. Otniel Firmanyo Osiyo, Bc.M








